Anda di halaman 1dari 35

MANAGEMENT

DISASTER
ARNI ISNAINI. A
SEBANYAK-BANYAKNYA
KORBAN MASSAL
KORBAN SELAMAT

Masalah : Tergantung :
Hasil yang diharapkan
1. Jumlah korban 1. Organisasi
Angka morbiditas dan
2. Keadaan korban 2. Fasilitas
Mortalitas rendah
3. Keadaan Geografis 3. Komunikasi
4. Fasilitas yang tersedia 4. Dokumentasi/data
5. SDM di lokasi 5. Tata kerja
UPAYA PENANGGULANGAN BENCANA
Risk reduction phase before a disaster

Disaster
Impact

Preparedness Response

Mitigation Rehabilitation

Reconstruction
Recovery phase after a disasters

TAHAPAN-TAHAPAN PENANGGULANGAN BENCANA


Pemerintah telah menetapkan bahwa yang memiliki
tanggungajawab terhadap pengelolaan bencana adalah
lembaga pemerintah non departemen (LPND) yaitu
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di
tingkat pusat.
Tingkat daerah ada 29 buah BPBD di tingkat provinsi dan
171 BPBD di tingkat Kabupaten / Kota. Untuk provinsi DKI,
Papua dan Riau belum ada BPBD Kabupaten / Kota.
Sedangkan yang bertanggungjawab terhadap masalah
kesehatan pada korban bencana adalah kementerian
kesehatan : Krisis Center (Critical Center). Terdapat 9
regional (Jakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar,
Palembang, Medan, Banjarmasin, Makasar dan Manado)
dan 2 subregional ( Padang dan Jayapura) krisis center.
Model Manajemen Bencana
• Disaster management continuum model. Model ini
mungkin merupakan model yang paling popular karena
terdiri dari tahap-tahap yang jelas sehingga lebih mudah
diimplementasikan. Tahap-tahap manajemen bencana di
dalam model ini meliputi emergency, relief, rehabilitation,
reconstruction, mitigation, preparedness, dan early
warning.

• Pre-during-post disaster model. Model manajemen


bencana ini membagi tahap kegiatan di sekitar bencana.
Terdapat kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan sebelum
bencana, selama bencana terjadi, dan setelah bencana.
Model ini seringkali digabungkan dengan disaster
management continuum model.
• Contract-expand model. Model ini berasumsi bahwa seluruh tahap-tahap
yang ada pada manajemen bencana (emergency, relief, rehabilitation,
reconstruction, mitigation, preparedness, dan early warning) semestinya
tetap dilaksanakan pada daerah yang rawan bencana. Perbedaan pada
kondisi bencana dan tidak bencana adalah pada saat bencana tahap
tertentu lebih dikembangkan (emergency dan relief) sementara tahap
yang lain seperti rehabilitation, reconstruction, dan mitigation kurang
ditekankan.

• The crunch and release model. Manajemen bencana ini menekankan


upaya mengurangi kerentanan untuk mengatasi bencana. Bila masyarakat
tidak rentan maka bencana akan juga kecil kemungkinannya terjadi
meski hazard tetap terjadi.

• Disaster risk reduction framework. Model ini menekankan upaya


manajemen bencana pada identifikasi risiko bencana baik dalam bentuk
kerentanan maupun hazard dan mengembangkan kapasitas untuk
mengurangi risiko tersebut.
Assesment
• serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
medapatkan informasi dan data yang berguna
untuk melakukan tindakan intervensi.
• assessment dilakukan di setiap tahap dalam
siklus bencana: sebelum kejadian (fase
preparedness), pasca kejadian (fase tanggap
darurat) dan pada fase recovery
Tujuan Assessment Tiap Tahap
 Pre event  menggambarkan potensi bahaya, status
masyarakat, ketersediaan kemampuan dan sumbar
daya untuk menghadapi kejadian dan lain sebagainya
 Event  pada fase tanggap darurat, menggambarkan
kerusakan yang terjadi, perubahan fungsi sosial
masyarakat dan kebutuhan masyarakat terdampak
 Post event  dapat dilakukan beberapa kali selama
proses tanggap darurat dan berlanjut selama proses
recovery (rehabilitasi dan rekonstruksi).
Sumber informasi assessment

a. Sumber sekunder, misalnya Laporan


Instansi/Lembaga terkait, media massa,
masyarakat dan internet
b. Sumber primer, misalnya survey lapangan.
ASSESSMENT TANGGAP DARURAT
BENCANA

• Assessment yang dilakukan selama fase tanggap


darurat bencana.
• Assessment dapat menggunakan teknik Rapid
Assessment (dilakukan secara cepat, kurang dari
1 pekan setelah kejadian) dan Detiled
Assessment (data lebih detail) yang dilanjutkan
dengan Continual Assessmen (dilakukan secara
berkelanjutan untuk mendapatkan gambaran
perubahan yang terjadi).
Pelaksanaan Assessment
• Tugas dan tanggungjawab Unit kerja Assesment
yang merupakan bagian integral dari tugas pokok
Tim Tanggap Darurat.
• Unit kerja Assesmen dipimpin oleh Koordinator
yang ditunjuk dan disepakati ketua Tanggap
Darurat
• Bencana yang beranggotakan orang – orang /
relawan yang mempunyai keahlian pemetaan,
analisa medis, dan mengerti kondisi lingkungan
serta karakter wilayah yang terkena bencana.
Tugas dan tanggung jawab Unit kerja
Assesment:
1.Melakukan Assessment.
2.Melaporkan hasil assessment kepada Ketua Tanggap
darurat bencana.
3.Bekerjasama dengan unit lain dalam tim tanggap
darurat dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya.
4.Mencari dan berkomunikasi dengan Pimpinan
Wilayah/Daerah/Cabang dan ranting sesuai dengan
jenis dan lokasi bencana yang terjadi untuk mendukung
tugas assesmen dan penanganan tanggap darurat
bencana.
Tahap Pelaksanaan Assessment
1. Menyusun perencanaan kegiatan assesment
2. Mengumpulkan data primer dan/atau sekunder
3. Membuat pemetaan lokasi kejadian bencana dan peta
camp pengungsian
4. Membuat kajian dan analisis kondisi lokasi bencana
secara tepat dan cepat
5. Menetukan titik lokasi pendampingan dan menentukan
jenis bantuan yang akan diberikan
6. Melaporkan hasil assessment kepada Ketua Tanggap
darurat bencana
7. Mempersiapkan assessment berikutnya jika diperlukan
Alat dan Perlengkapan
1. Formulir Rapid Assessment, Detiled Assessment dan
Continual Assessment
2. Buku Pedoman Assessment
3. Komunikasi : telpon, telpon satelit, mesin fax, radio
komunikasi (jarak dekat dan jarak jauh)
4. Seperangkat computer dan multimedia Laptop, desk top,
printer, website, e-mail
5. Televisi, radio
6. Alat transportasi : mobil, motor, perahu karet
7. Alat tulis kantor
8. Meja kursi kantor
Lanjut…..
9. Media presentasi : LCD projector
10. Papan data dan informasi
11. Peta Induk kegiatan PosKo
12. Peta lokasi geografi, peta wilayah topografi
13. Data logistik : perncanaan, ketersediaan,
distribusi, dan stok barang
14. Data personil / relawan
15. Data Peralatan
16. Jadwal tugas dan lokasi masing – masing anggota
unit
KESIAPSIAGAAN ( PREPAREDNESS)
Kesiapsiagaan pada hakekatnya merupakan upaya upaya
untuk menurunkan risiko bencana .Upaya upaya tersebut
dapat berupa :
• Mencegah hazard menjadi suatu kejadian
• Melakukan penyanggahan terhadap paparan kejadian
• Menghindar dari paparan kejadian
• Tanggap darurat terhadap korban/dampak kejadian
• Tanggap darurat medis :
a. Penyelamatan diri
b. Penyelamatan orang lain oleh penduduk setempat
c. Penyelamatan oleh petugas kesehatan
d. Tanggap darurat Kesehatan Masyarakat.
kesiapsiagaan institusi pelayanan kesehatan
(Kesiapsiagaan Puskesmas)

• Mengenali hazard, perkiraan kejadian serta


kemungkinan resiko akibat kejadian yang ada
diwilayahnya
• Memperkirakan kejadian apa yang mungkin timbul
dan petakan kemungkinan wilayah paparannya,
Memperkirakan dampak yang mungkin timbul,
Mempersiapkan sumberdaya (tenaga, sarana, biaya,
p-rosedur kerja dan rencana kerja)
• Mempersiapkan sumberdaya (tenaga, sarana, biaya)
• Mempersiapkan prosedur kerja
• Mempersiapkan rencana kerja
Komando Pelayanan

Kelompk Pelayanan Petugas Logistik


( Triase,resusitasi, transport )

Petugas Komunikasi , Humas dll

Struktur Organisasi Pelayanan Medis di Tempat Kejadian


Kesiapsiagaan masyarakat
Upaya kesiapsiagaan dimulai dengan :
– Membentuk organisasi masyarakat terlatih.
Menyiapkan rencana kontijensi
• Sarana tempat pengungsian atau tempat tinggal penampungan sementara
• Persediaan makanan termasuk air minum
• Persediaan listrik /energi/ bahan bakar
Mengadakan sarana untuk masyarakat
• Sarana komunikasi Radio dua arah
• Sarana transportasi
– Selanjutnya kelompok-kelompok kerja yang terorganisasikan tersebut
mengidentifikasi hazard dan kejadian yang berpotensi menimbulkan
bencana di wilayahnya.
– Dengan teridentifikasnya kejadian yang berpotensi untuk timbul, maka
dapat diperkirakan dampak apa yang akan terjadi.
– Dengan dapatnya diperkirakan dampak yang bisa timbul maka dapat
dipersiapkan rencana orang dan alat-alat pertolongan yang diperlukan.
Mitigasi
• Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko
bencana, baik melalui pembangunan fisik
maupun penyadaran dan peningkatan
kemampuan menghadapi ancaman bencana
(UU 24/2007)
• Upaya yang dilakukan untuk meminimalkan
dampak yang ditimbulkan oleh bencana.
Tanggap atau Respons Pada Saat
dan Pasca Kejadian
• Upaya yang dilakukan segera padasaat kejadian bencana,
untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama
berupa penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi
dan pengungsian.
- Penyelamatan diri sendiri dan tindakan pada saat
dan segera setelah kejadian
- Pertolongan kepada para korban bencana oleh
penduduk setempat
- Pertolongan oleh petugas Kesehatan Pada Saat
Kejadian (ACTTT di tempat kejadian, yaitu :
Anticipation, Control, Triage, Treatment and
Transport)
Tingkat respons atas bencana.
Akan menentukan petugas dan sarana apa yang diperlukan
ditempat kejadian :

a. Respons Tingkat I : Bencana terbatas yang dapat dikelola


oleh petugas sistim gawat darurat dan penyelamat lokal
tanpa memerlukan bantuan dari luar organisasi.
b. Respons Tingkat II : Bencana yang melebihi/membebani
petugas sistim gawat darurat dan penyelamat lokal hingga
membutuhkan pendukung sejenis serta koordinasi antar
instansi. Khas dengan banyaknya jumlah korban.
c. Respons Tingkat III : Bencana yang melebihi kemampuan
sumber sistim gawat darurat dan penyelamat baik lokal atau
regional. Korban yang tersebar pada banyak lokasi sering
terjadi. Diperlukan koordinasi luas antar instansi.
TRIAGE
• proses khusus memilah pasien berdasar
beratnya cedera atau penyakit (berdasarkan
yang paling mungkin akan mengalami
perburukan klinis segera) untuk menentukan
prioritas perawatan gawat darurat medik serta
prioritas transportasi (berdasarkan ketersediaan
sarana untuk tindakan)
Triase dan pengelompokan berdasar Tagging

• Prioritas Nol (Hitam) : Pasien mati atau cedera fatal


yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi.

• Prioritas Pertama (Merah) : Pasien cedera berat


yang memerlukan penilaian cepat serta tindakan
medik dan transport segera untuk tetap hidup
Lanjut…
• Prioritas Kedua (Kuning) : Pasien memerlukan bantuan,
namun dengan cedera yang kurang berat dan
dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam
waktu dekat.
Pasien mungkin mengalami cedera dalam jenis
cakupan yang luas (misal : cedera abdomen tanpa
shok, cedera dada tanpa gangguan respirasi, fraktura
mayor tanpa shok, cedera kepala atau tulang belakang
leher tidak berat, serta luka bakar ringan).
Lanjut…

• Prioritas Ketiga (Hijau) : Pasien dengan cedera


minor yang tidak membutuhkan stabilisasi segera,
memerlukan bantuan pertama sederhana namun
memerlukan penilaian ulang berkala (cedera
jaringan lunak, fraktura dan dislokasi ekstremitas,
cedera maksilo-fasial tanpa gangguan jalan nafas,
serta gawat darurat psikologis).
TINDAKAN DAN EVAKUASI MEDIK

• Tim Medik dari Tim Tanggap Pertama (bisa saja


petugas yang selesai melakukan triase) mulai
melakukan stabilisasi dan tindakan bagi korban
berdasar prioritas triase, dan kemudian
mengevakuasi mereka ke Area Tindakan Utama
sesuai kode prioritas. Kode merah dipindahkan
ke Area Tindakan Utama terlebih dahulu.
Lanjut…
• Koodinator Transportasi mengatur kedatangan
dan keberangkatan serta transportasi yang
sesuai. Koordinator Transportasi bekerjasama
dengan Koordinator Medik menentukan rumen
sakit tujuan, agar pasien trauma serius
Yg diperhatikan
• control, breathing, circulation and hemorrhage
control, disability, exposure/environment).
Jalan nafas merupakan prioritas
Rehabilitasi
• Upaya langkah yang diambil setelah kejadian
bencana untuk membantu masyarakat
memperbaiki rumahnya, fasilitas umum dan
fasilitas sosial penting, dan menghidupkan
kembali roda perekonomian.
Rekontruksi
• Program jangka menengah dan jangka
panjang guna perbaikan fisik, sosial dan
ekonomi untuk mengembalikan kehidupan
masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih
baik dari sebelumnya.