Anda di halaman 1dari 11

aini, SKM

Secara teoritis, dalam terminologi


psikologi kesehatan, stres adalah kondisi
di mana individu mempersepsikan
adanya kesenjangan antara tuntutan
fisiologis maupun psikologis dari
lingkungan dengan sumber daya yang
dimiliki individu untuk memenuhi
kebutuhan tuntutan tersebut.
 Baum et al (1984) “Stres sudah menjadi
konsep yang populer untuk menjelaskan
variasi luas dari hasil akhir, yang
kebanyakan negative, yang sebenarnya
tidak membutuhkan penjelasan”.
 Stres digunakan sebagai label untuk gejala
psikologis yang mendahului penyakit,
reaksi ansietas, ketidaknyamanan dan
banyak keadaan lain.
 Cox(1978) membagi model stres
menjadi model yang mempunyai
konsep bahwa:
• Fenomena stres berdasarkan stimulus;
individu memberi respon dengan cara
tertentu
• Konsep stres berdasarkan respon;
stres lebih merupakan respon terhadap
stimulus yang berbahaya.
 Hans Selye (1935) mempelajari efek
penyuntikan hormon pada tikus. Hasilnya
tikus menderita ulkus (tukak lambung),
pembengkakan glandula adrenal(kelenjar
anak ginjal) dan penyusutan timus dan
nodus limpe.
 Hans Selye (1956), menyebut hal ini sebagai
“sindroma stres” dan menyatakan bahwa
sindrom ini sebagai respon terhadap
stimulus yang mengakibatkan stres.
1. Reaksi peringatan;
efek aktivitas sistem syaraf autonom dan
mempunyai karakteristik adanya
penurunan resistensi tubuh terhadap stres.
Medul adrenal sebaliknya mensekresi
adrenalin dan nora adrenalin. Hormon
adrenokortikotropik (ACTH) dihasilkan
oleh glandula hipofisis, yang menstimulasi
korteks adrenal untuk melepaskan
glukokortikoid. Jika stres terlalu berat,
organisme dapat mati pada tahap ini.
2. Tahap Resistensi;
Hipofisis terus mengeluarkan ACTH,
yang kemudian merangsang korteks
adrenal untuk mensekresi
glukokortikoid, yang penting untuk
resistensi terhadap stres karena
glukokortikoid merangsang konversi
lemak dan protein menjadi glukosa
yang menghasilkan energi untuk
mengatasi stres. Selama tahap ini,
resistensi trhadap stres yang khusus
meningkat dan kemudian respons yang
sifatnya sama akan hilang.
3. Tahap kelelahan;
Jika stres yang khusus tersebut terus
berlanjut, kemampuan tubuh untuk
menahannya dan untuk menghindari
stres yang lain pada akhirnya akan
gagal.
Perspektif psikologis menekankan pada
peran interprestasi dari stresor terhadap
respons stres. Serangkaian studi (Speisman
et al 1964; Lazarus et al 1965) menghasilkan
dukungan untuk interprestasi psikologis
dari stres. Dalam satu studi, memperlihatkan
pada subjek penelitian film kecelakaan
pada bidang industri “Seharusnya tidak
terjadi.” Film ini menggambarkan tiga
kecelakaan. Yang pertama memperilhatkan
seorang pria yang ujung jari-jarinya
terpotong oleh gergaji pemotong kayu;
yang kedua seorang pria kehilangan
jarinya; kecelakaan yang ketiga
memperlihatkan seorang pekerja yang
terhantam potongan kayu yang
terlempar keluar dari mesin.
satu kelompok subjek (kontrol) tidak
diberikan penjelasan sama sekali
tentang kejadian dalam
Contoh;
Tertekan menghadapi tiga buah ujian dalam
hari satu yang sama karena merasa belum
menguasai bahan; mengeluh karena harus
melakukan rangkaian gerak senam lantai
sementara rasanya koordinasi gerak
motorik diri tidak mendukung; tidak
percaya diri saat harus memimpin sebuah
organisasi; dan merasa tidak cukup menarik
untuk mendapatkan hati gebetan adalah
beberapa contoh implikasi pemahaman
stres tersebut. (Folkman dan
Lazarus,1984).