Anda di halaman 1dari 66

QUALITY CONTROL (PENGENDALIAN

MUTU)
PEKERJAAN KONSTRUKSI JALAN

OLEH : ZAINAL HOLIS. YE


Suatu kebutuhan atau persyaratan suatu
produk yang dihasilkan dan sesuai dengan
persyaratan atau spesifikasi
Zainal Holis. YE
DEFINISI
Mutu dapat didefinisikan juga sebagai:

 Kesesuaian dengan persyaratan/tuntutan


 Kecocokan dengan pemakaian
 Bebas dari kerusakan/cacat
 Pemenuhan kebutuhan pelanggan sejak awal
dan setiap saat
 Sesuatu yang membahagiakan pelanggan
Zainal Holis. YE
PENGENDALIAN MUTU (QUALITY CONTROL)
PEKERJAAN PERKERASAN JALAN

a.Tujuan :
- Agar seluruh hasil pelaksanaan pekerjaan perkerasan
jalan sesuai dengan mutu (kualitas) yang telah
disyaratkan dalam kontrak dan dapat diterima oleh
owner (pemberi pekerjaan)

- Tercapainya kinerja hasil pekerjaan perkerasan jalan


sesuai dengan yang diinginkan yaitu :
Kuat, Indah, Aman, Awet dan Nyaman

- Agar pembayaran dapat terealisir sesuai dengan


kontrak dan mempunyai kekuatan hukum, tidak
berlarut-larut karena mutu pekerjaan belum dapat
diterima kuasa pengguna anggaran / owner / pemilik
pekerjaan
Zainal Holis. YE
b. Faktor dalam pengendalian mutu
Faktor - faktor yang harus diperhatikan dalam
pengendalian mutu antara lain :
- Spesifikasi
- Material
- Peralatan
- Tenaga
- Prosedur Kerja
- Metode Kerja

Zainal Holis. YE
B1. SPESIFIKASI
Pengertian
 Acuan yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan
sesuai dengan keinginan atau tujuan pemberi tugas

 Mengandung pengertian yang sangat mendalam dan


sangat menentukan hasil pekerjaan

 Spesifikasi memuat hal-hal sebagai berikut:


 Ketentuan teknik tentang pekerjaan yang harus dilaksanakan
 Mengandung perintah dan larangan serta ketentuan teknik
yang harus dilakukan, dilaksanakan dan dipenuhi oleh
pelaksana pekerjaan
 Bila tidak dicermati dan dilaksanakan sesuai dengan
perintah maka akan berdampak kesalahan dalam
pelaksanaan atau kerugian pada saat menyusun analisa
harga satuan, menentukan kebutuhan jumlah dan komposisi
peralatan serta perhitungan volume pekerjaan yang salah
Zainal Holis. YE
SPESIFIKASI

Tujuan

 Dihasilkannyamutu pekerjaan atau


produk yang sesuai dengan
persyaratan (mutu) atau diharapkan
oleh pemberi tugas

 Mutu pekerjaan adalah kebutuhan


atau persyaratan suatu produk yang
dihasilkan dan sesuai dengan
persyaratan
Zainal Holis. YE
b.2 Pengadaan Material
- Material untuk tanah dasar (timbunan),
pondasi bawah, pondasi atas dan untuk lapisan
permukaan terlebih dahulu harus diuji
kualitasnya berdasarkan pengujian laboratorium
- Sumber material yang akan digunakan sudah
ditinjau dan ditetapkan
- Jumlah masing-masing kebutuhan material untuk
setiap jenis pekerjaan harus mencukupi kebutuhan
dan pengiriman ke lapangan dijamin lancar.
- Cara penimbunan / penyimpanan material harus
sesuai dengan ketentuan dan dijamin tidak terjadi
kerusakan, terkontaminasi atau segregasi.
Zainal Holis. YE
b.3 Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam
melaksanakan pekerjaan harus sesuai
dengan fungsinya dan dalam jumlah
yang cukup sesuai kebutuhan.

b.4 Tenaga
Jumlah tenaga kerja (mandor, tukang,
pekerja) yang melaksanakan pekerjaan
harus sesuai dengan kebutuhan dan
memiliki sertifikat ketrampilan sesuai
Zainal Holis. YE bidangnya masing-masing.
b5. Prosedur Kerja
Kegiatan prosedur kerja meliputi :
- Rapat Pendahuluan
- Peninjauan Bersama (sudah terima lapangan)
- Koordinasi dengan instansi terkait
- Peninjauan ke lokasi, meliputi :
* Quary / Sumber Bahan, antara lain :
^ Sirtu
^ Tanah Timbunan
^ Lime Stone
* Crusing Plant (khusus agregat / batu)
* Asphalt Mixing Plant (AMP)
* Batching Plant
Zainal Holis. YE
- Pengujian material di laboratorium yang telah
disetujui / disepakati oleh owner dan konsultan
supervisi

- Melaksanakan percobaan pemadatan (proktor) dan


CBR Laboratorium terhadap bahan / material yang
akan digunakan untuk :
* Timbunan Tanah Dasar (Subgrade)
* Bahan Pondasi Bawah (Sub Base)
* Bahan Pondasi Atas (Base)

Zainal Holis. YE
- Membuat Mix Design / Job Mix Formula campuran
aspal beton sekaligus Trial Mix di AMP dan Trial
Compaction di lapangan
- Menguji campuran beton semen hasil dari
“batching plant” (slump, Fs, dan Tbk) dengan
benda uji kubus, silinder dan balok
- Permohonan / request sebelum melaksanakan
setiap tahapan masing-masing pekerjaan.
- Melaksanakan pengujian mutu (Quality Control )
setiap hasil tahapan / jenis pekerjaan yang
selesai dilaksanakan
- Melaksanakan instruksi, teguran dan peringatan
-Zainal Holis.
Melaksanakan
YE
PHO dan FHO
B.6 METODE KERJA

Metode kerja dibutuhkan sebagai


pedoman untuk
melaksanakan pekerjaan di lapangan yang
efektif dan efisien (sesuai time schedul)
dalam menentukan penggunaan peralatan,
bahan dan mengatur tenaga kerja .

Zainal Holis. YE
PRINSIP “5 W”SANGAT BERMANFAAT UNTUK
MENENTUKAN METODE KERJA TERSEBUT ANTARA LAIN :
 What (Apa) : Apa yang akan harus dikerjakan dan apa
sasaran yang jelas yang harus ditetapkan
 Where (Dimana) : Dimana lokasi tempat pekerjaan,
bagaimana kondisi lalu lintas, keadaan lingkungan, luas
areal untuk Direksi Keet, Gudang Bahan, tempat
Pekerja danTempat alat berat dll.
 Who (Siapa) : Siapa pekerja yang akan melaksanakan
pekerjaan dan keahlian / keterampilan apa yang harus
dimiliki oleh pekerja tersebut
 Why (Mengapa) : Mengapa pekerjaan itu dilakukan.
 When (Kapan) : Kapan pekerjaan mulai dilaksanakan
dan kapan pekerjaan harus diselesaikan.
Prioritas mana yang harus dikerjakan lebih dahulu.
Zainal Holis. YE
C. PELAKSANAAN PENGENDALIAN MUTU

c.1 Sebelum dan selama proses pelaksanaan


pekerjaan, meliputi :
* Pekerjaan Pengujian Kualitas material
antara lain material untuk:
- Tanah dasar ( Sub grade )
- Pondasi bawah ( Sub base )
- Pondasi atas ( Base )

Zainal Holis. YE
C.2 PENGETESAN LABORATORIUM UNTUK
MATERIAL TERSEBUT DIATAS, ANTARA LAIN :
- Kadar air
- Batas cair
- Batas plastis
- Berat jenis dan Penyerapan air
- Analisa saringan
- Abrasi
- Gumpalan lempung dan batu-batu mudah pecah
- Percobaan pemadatan di laboratorium (Proktor)
- CBR Laboratorium
- Kadar lempung
- Indeks kepipihan
Zainal Holis. YE
C.3 PENGAWASAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

c.3.1 Pekerjaan Tanah Dasar (Sub grade)


i. Sub grade pada galian tanah
- Setelah galian permukaaan sub grade sesuai
rencana lalu dipadatkan dengan alat yang
telah disetujui direksi antara lain
alat pemadat penggilas roda baja atau
penggilas roda karet / TR sesuai dengan
kebutuhan di lapangan
- Permukaan Sub grade setelah dipadatkan harus
berbentuk sesuai dengan penampang yang
tercantum dalam gambar rencana

Zainal Holis. YE
- Penyimpangan terhadap elevasi maksimum 2 cm
- Pemadatan tanah dilaksanakan pada rentang
kadar air  3% di bawah kadar air optimum
sampai 1% di atas kadar air optimum
- Pemadatan dilaksanakan dengan mesin gilas yang
cocok dan memadai yang disetujui pengawas
- Hasil tes pemadatan pada permukaan s/d
ketebalan 30 cm sebesar 100 % dan di bawah
ketebalan 30 cm minimal 95 %

Zainal Holis. YE
II. SUB GRADE PADA TIMBUNAN TANAH
* Bahan tanah timbunan
a. Tanah timbunan biasa :
- Hasil test CBR Laboratorium rendaman selama
4 hari, minimal 6 %
- Indeks Plastis
b. Tanah timbunan pilihan
- Hasil Test CBR Laboratprium rendaman selama
4 hari, minimal 10 %
- Indeks Plastis
- Tidak termasuk tanah expansive, memiliki
nilai aktif > 1,25
Catatan :
Nilai aktif adalah perbandingan antara Indeks
Zainal Holis. YE Plastis dengan kadar lempung.
* Pemadatan Sub Grade
- Pilihan alat untuk pemadatan sama dengan alat
yang digunakan pada pekerjaan pemadatan sub-
grade pada tanah galian
- Permukaan Sub grade setelah dipadatkan
harus berbentuk sesuai dengan penampang
yang tercantum pada gambar rencana
- Tebal setiap lapisan tanah yang dipadatkan
maksimal 20 cm
- Pemadatan tanah dilaksanakan pada rentang kadar
air + 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1 %
di atas kadar air optimum.

Zainal Holis. YE
- Hasil tes pemadatan pada permukaan akhir s/d
ketebalan 30 cm sebesar 100 % dan di bawah
ketebalan 30 cm minimal 95 %
- Untuk menjaga kualitas bahan timbunan tanah,
bahan harus diuji lengkap dilaboratorium setiap
1000 m3

Zainal Holis. YE
C.3.2 PEKERJAAN PONDASI BAWAH (SUB
BASE)
i. Persyaratan Bahan
Bahan harus bebas dari bahan organis
dan gumpalan lempung atau bahan-
bahan lain yang tidak dikehendaki.
Agregat kasar yang tertahan pada
ayakan 4,75 mm harus terdiri dari
pecahan batu atau kerikil yang keras
dan awet.

Zainal Holis. YE
SYARAT GRADASI AGREGAT SUB BASE
Ukuran Ayakan Prosen Berat yang lolos
ASTM ( mm ) ( Agregat Kelas B )
2 inc 50 100
1 ½ inc 37,5 88 – 95
1 inc 25 70 – 85
3/8 inc 9,50 30– 65
No. 4 4,75 25 – 55
No. 10 2,0 15 – 40
No. 40 0,425 8 – 20
No. 200 0,075 2-8
Zainal Holis. YE
II. SYARAT SIFAT-SIFAT AGREGAT SUB BASE

Sifat - Sifat Agregat Kelas


B
Abrasi dari agregat kasar (SNI – 03 – Maksimal 40 %
2417 – 1990 )
Index plastis (SNI – 03 – 1966 – 1990 ) 0 – 10
Hasil index plastis dengan % lolos
ayakan No. 200 -
Batas cair (SNI – 03 – 1967 – 1990 ) 0 – 35
Bagian yang lunak (SK-SNI-M.01-1994- 0–5%
03)
CBR laboratorium (SNI. 03-1744-1989) Minimal 60 %
Zainal Holis. YE
III.PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN
- Agregat harus dihampar jangan sampai
terjadi segregasi partikel agregat kasar
dan halus
- Tebal padat maksimum tidak lebih 20 cm
Setiap lapis harus dipadatkan dengan
mesin gilas yang cocok dan memadai
yang disetujui direksi.
- Bila mesin gilas roda baja dapat
mengakibatkan kerusakan atau degradasi
yang berlebihan, sebaiknya digunakan
mesin gilas roda karet.
Zainal Holis. YE
- Hasil tes pemadatan paling sedikit 100 %
dari kepadatan kering maksimum modified
(SNI.03-1743-1989)
- Pemadatan dilakukan pada kadar air bahan
dalam rentang + 3 % di bawah kadar air
optimum dan 1 % di atas kadar air
optimum.
- Toleransi tinggi permukaan yang telah
dipadatkan sebesar2 cm.

Zainal Holis. YE
C.3.3 PEKERJAAN PONDASI ATAS (BASE)
i. Persyaratan Bahan
- Bahan harus bebas dari bahan organik
dan gumpalan lempung atau bahan-bahan
lain yang tidak dikehendaki.

- Agregat kasar yang tertahan pada ayakan


4,75 mm harus terdiri dari pecahan batu
atau kerikil yang keras dan awet.

- Bila agregat kasar berasal dari kerikil,


maka tidak kurang dari 100 % harus
mempunyai satu bidang pecah
Zainal Holis. YE
II.SYARAT GRADASI AGREGAT BASE
Ukuran Ayakan Proses berat yang
lolos
ASTM mm Agregat Kelas A
1 ½ inc 37,5 100
1inc 25 79 – 85
3/8 inc 9,50 44 – 58
No. 4 4,75 29 – 44
No. 10 2,0 17 – 30
No. 40 0,425 7 – 17
No. 200 0,075 2-8
Zainal Holis. YE
III.SYARAT SIFAT-SIFAT AGREGAT BASE
Sifat – Sifat Agregat Kelas A

Abrasi dari agregat kasar ( SNI 03-2417- Maksimum 40 %


1990)
Index Plastis ( SNI-03-1996-1990) 0–6
Hasil Index plastisdgn % lolos ayakan Maksimum 25
No. 200
Batas cair (SNI-03-1967-1990) 0 – 25
Bagian yang lunak (SK-SNI-M.01.1994- 0–5
03)
CBR Laboratorium Minimum 90 %

Zainal Holis. YE
IV.SYARAT GRADASI AGREGAT UNTUK BAHU JALAN
Ukuran Ayakan Proses berat yang
lolos
ASTM mm Agregat Kelas S
1 ½ inc 37,5
1inc 25 89 - 100
3/8 inc 9,50 55 – 90
No. 4 4,75 40 – 75
No. 10 2,0 26 - 59
No. 40 0,425 12 – 33
No. 200 0,075 4 - 22
Zainal Holis. YE
III.SYARAT SIFAT-SIFAT AGREGAT UNTUK
BAHU JALAN
Sifat – Sifat Agregat Kelas S

Abrasi dari agregat kasar ( SNI 03-2417- Maksimum 40 %


1990)
Index Plastis ( SNI-03-1996-1990) 4 - 15
Hasil Index plastisdgn % lolos ayakan Maksimum 25
No. 200
Batas cair (SNI-03-1967-1990) 0 – 35
Bagian yang lunak (SK-SNI-M.01.1994- 0–5
03)
CBR Laboratorium Minimum 50 %

Zainal Holis. YE
III.PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN
- Agregat harus dihampar jangan sampai
terjadi segregasi partikel agregat kasar
dan agregat halus.
- Tebal padat maksimum tidak lebih 20 cm
Setiap lapis harus dipadatkan dengan
mesin gilas yang cocok dan memadai
yang disetujui direksi.
- Bila mesin gilas roda baja dapat
mengakibatkan kerusakan atau degradasi
yang berlebihan, sebaiknya digunakan mesin
gilas roda karet.
Zainal Holis. YE
C.3.4 PEKERJAAN LAPIS PERMUKAAN (SURFACE COURSE)
Untuk pelaksanaan pekerjaan lapis permukaan dengan
campuran beraspal panas (hot mix), beberapa tahapan yang
harus dilaksanakan antara lain :
i. Pengujian bahan (agregat kasar dan halus)yang akan digunakan
antara lain :
- Analisa saringan
- Berat jenis dan penyerapan air
- Abrasi
- Sand Equvalent
- Soundness Test
- Kelekatan agregat terhadap aspal

ii. Mineral Filler


- Analisa saringan
- Kadar Air
- Batas Cair
- Batas Plastis
- Indeks Plastis

Zainal Holis. YE
iii. Pengujian Aspal Keras Per 60 / 70
- Penetrasi
- Titik lembek
- Daktilitas
- Berat Jenis
- Kelarutan dalam Trichlor Ethylen
- Penurunan Berat (dengan TFOT)
- Penetrasi setelah penurunan berat
- Daktilitas setelah penurunan berat

Bilamana menggunakan aspal modifikasi, maka


jenis pengujian di laboratorium disesuaikan
dengan jenis aspal yang akan diperiksa (Aspal
Polimer, Aspal Multi Grade atau Aspal modifikasi
dengan Asbuton)
Zainal Holis. YE
iv. Membuat Mix Design Job Mix Formula campuran
beraspal panas dengan bahan yang ada berdasarkan
spesifikasi teknis dalam kontrak
* Pengujian campuran beraspal panas antara lain :
- Uji “Marshall” lengkap
- Stabilitas setelah perendaman 24 jam
- Wheel Tracking (bilamana diperlukan)
- Rongga dalam campuran pada kepadatan membal
/ Refusal (untuk gradasi kurva fuller)

Zainal Holis. YE
V. PEMERIKSAAN UNIT ASPHALT MIXING PLANT (AMP)
Pemeriksaan dimaksudkan untuk mengecek apakah kondisi AMP
yang akan digunakan masih layak untuk produksi.

Pemeriksaan unit AMP meliputi :


- Kondisi dan fungsi kerja masing-masing komponen
- Kapasitas dan kualitas hasil produksi
- Kalibrasi seluruh timbangan dan termometer

Pemeriksaan alat penunjang, meliputi :


- Peralatan laboratorium
- Wheel loader
- Generator
- Timbangan truk (truck scale)
Zainal Holis. YE
Pemeriksaan Stock Pille agregat, meliputi :
- Sistim Drainase
- Cara penimbunan
- Pengamanan timbunan agregat dari hujan (diberi atap atau
ditutup terpal)
- Sekat pemisah antara jenis agregat
- Volume yang tersedia harus cukup sesuai kebutuhan.

Seluruh material yang ditimbun harus memenuhi syarat


berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.

Zainal Holis. YE
VI. PENGENDALIAN MUTU PEKERJAAN JALAN
DENGAN CAMPURAN BERASPAL
Bahan dan Pengujian Frekuensi Pengujian
Aspal :
Aspal berbentuk drum 3 dari jumlah drum
Aspal curah Setiap tangki aspal
Jenis aspal drum dan curah
mencakup Penetrasi dan Titik
Lembek
Asbuton butir / Aditif Asbuton 3 dari jumlah kemasan
- Kadar air
- Ekstrasi (kadar aspal)
- Ukuran butir maksimum
- Penetrasi aspal buton
Zainal Holis. YE
VII. TOLERANSI TEBAL, KERATAAN DAN HASIL
PEMADATAN PEKERJAAN PERKERASAN JALAN

No Jenis Material Jenis Toleransi


Lapisan Pemeriksaan
1 Pondasi Agregat Kelas B Ketebalan Tidak boleh kurang 2 cm
Bawah dari tebal rencana
( Sub base )
Kerataan Arah melintang dan
memanjang tidak boleh
kurang 1 cm dicek dgn
mistar panjang 3 m.

Kepadatan 100 % Kepadatan kering


maksimum modifikasi
proktor tiap 200 m

Zainal Holis. YE
2 Pondasi Atas Agregat kelas A Ketebalan Tidak boleh kurang 1 cm
( base ) dari tebal rencana

Kerataan Arah melintang dan


memanjang tidak boleh
kurang 1 cm dicek dengan
mistar panjang 3 m.

Kepadatan 100 % Kepadatan kering


maksimum modifikasi
proktor tiap 200 m

Zainal Holis. YE
3 Lapisan Aus Campuran Ketebalan  3 mm, untuk tebal
(wearing beraspal panas nominal minimal 4,0
course) cm

Kerataan Arah melintang 10


mm, dicek dgn mistar
panjang 3 m arah
memanjang 5 mm
dicek dgn mistar
panjang 3 m

Kepadatan Minimal 97 %
Kepadatan
laboratorium,
tiap 350 m2

Zainal Holis. YE
4 Lapisan Campuran Ketebalan 4 mm, untuk tebal
Pengikat/antara beraspal panas nominal minimal 5,0
(Binder Course) cm

Kerataan Arah melintang 10


mm, dicek dgn mistar
panjang 3 m arah
memanjang 5 mm
dicek dgn mistar
panjang 3 m

Kepadatan Minimal 97 %
Kepadatan
laboratorium,
tiap 350 m2

Zainal Holis. YE
VIII. KETENTUAN KEPADATAN CAMPURAN BERASPAL
( WEARING, BINDER DAN BASE )

Kepadatan yg Jumlah Kepadatan Nilai minimum


disarankan benda uji Minimum rata-rata Setiap pengujian
( % ) JSD Per pengujian ( % JSD ) Tunggal ( % JSD )

98 3–4 98,1 95
5 98,3 94,9
6 98,5 94,8
97 3–4 97,1 94
5 97,3 93,9
6 97,5 93,8

Catatan : Kepadatan maksimum 108 % JSD


Zainal Holis. YE
IX. KESALAHAN YANG SERING TERJADI SAAT PELAKSANAAN
PEKERJAAN CAMPURAN ASPAL BETON
No Kesalahan yang Akibat yang terjadi Cara
dilakukan Mengatasinya
1 Agregat yang ditimbun Hasil campuran tdk Setiap fraksi
di Stock Pille atau yang konsisten, kadang- agregat satu
masuk ke bin dingin kadang kelebihan sama lain di
tidak tetap (berubah – aspal (basah) atau tempatkan
ubah) kekurangan aspal terpisah
(kering)
2 Agregat yang ditimbun Gradasi campuran Setiap material
di Stock Pille atau yang tidak memenuhi agregat yang
masuk ke bin dingin spesifikasi, campuran datang harus
tidak tetap (berubah – tidak konsisten ditempatkan
ubah) kadang-kadang kasar pada tempat
atau halus yang telah
ditetapkan
Zainal Holis. YE
3 Waktu pengambilan Kelekatan agregat dgn Dasar tempat
agregat di Stock aspal kurang, timbunan
Pille,Bucket Wheel sehingga kualitas diperluas, sistim
Loader terlalu campuran tidak bisa drainase harus
bawah sehingga terpelihara
dipertanggung
agregat jadi kotor Waktu mengambil
tercampur tanah /
jawabkan
agregat bucket
lempung wheel loader
harus jangan
terlalu bawah apa
lagi saat musim
hujan
4 Bucket Wheel Agregat sebagian Agar
Loader lebih lebar jatuh ke bin dingin menggunakan
dari hoper bin sebelahnya dan Wheel Loader
dingin terjadi segregasi dengan lebar
bucket lebih
Hasil gradasi
kecil dari lebar
campuran tidak
hoper bin dingin
konsisten, kadang
kasar kadang halus
5 Formula campuran Formula Formula
yang sudah campuran tidak campuran dapat
ditetapkan di rubah sesuai dgn diambil / dibuat
rencana sehingga lagi bilamana
sifat-sifat material agregat
campuran akan ada perubahan
berubah
6 Penimbangan agregat Hasil campuran Operator waktu
panas dari hot bin tidak konsisten menimbang
tidak sesuai dengan kadang-kadang harus hati-hati
formula campuran kekasaran atau dan harus sesuai
semula (kadang- kehalusan dgn proporsi
kadang berubah) setiap agregat
pada hotbin
yang telah
ditentukan
7 Suhu agregat dan Mutu campuran Lakukan
aspal waktu tdk baik, agregat pencampuran
pencampuran di AMP tidak terselimuti pada temperatur
terlalu rendah aspal dengan yg sesuai dengan
sempurna spesifikasi
(Temperatur aspal
tergantung jenis
aspal
8 Suhu agregat dan Aspal menjadi Lakukan
aspal waktu hangus, daya lekat pencampuran
pencampuran di AMP aspal sehadap pada temperatur
terlalu panas agregat berkurang yg sesuai dengan
spesifikasi
(Temperatur aspal
tergantung jenis
aspal
Zainal Holis. YE
9 Setiap hasil campuran Kualitas Inspektur
tidak diteliti / campuran tidak (Pengawas )
diperiksa oleh bisa diusulkan untuk
inspektur (pengawas ) dipertanggung diganti
antara lain sifat-sifat jawabkan
campuran Marshal,
kadar aspal dan
gradasi
10 Suhu campuran pada Pemadatan tidak Sebelum
hamparan saat akan sempurna, dilaksanakan
dipadatkan terlalu permukaan penghamparan /
rendah lapisan kasar dan pemadatan
kepadatan campuran harus
hamparan tidak diadakan
tercapai percobaan
pemadatan
Zainal Holis. YE
11 Jumlah lintasan Jika lintasan Sebelum
tidak ditetapkan kurang, dilaksanakan
dengan hasil kepadatan tidak penghamparan /
percobaan tercapai dan pemadatan
pemadatan (trial lintasan berlebih campuran harus
compaction) pada hamparan diadakan
akan terjadi percobaan
retak-retak pemadatan

12 Tidak dilakukan Kualitas Agar suhu


pengecekan saat pemadatan tidak campuran dicek
campuran dihampar terkontrol saat dihampar
dan dipadatkan dengan baik dan pada setiap
tahapan
pemadatan

Zainal Holis. YE
13 Permukaan jalan Lapisan aspal Genangan air
yang akan beton baru tidak dihilangkan dari
dihampar basah, akan melekat permukaan jalan
tampak ada dengan baik yang basah dan
genangan air dikeringkan
dengan
kompresor

14 Cuaca waktu Kualitas Pada waktu


penghamparan pemadatan kurang hujan / lembab
hujan / lembab baik penghamparan
dihentikan

Zainal Holis. YE
15 Alat pemadat pada Hamparan terjadi Alat pemadat
Finisher tidak segregasi dan pada finisher di
berfungsi bergelombang fungsikan

16 Alat pemanas Permukaan Alat pemanas


Screed pada hamparan akan Screed pada
finisher tidak tertarik, campuran Finisher agar
berfungsi cenderung kasar difungsikan
dan retak-retak

Zainal Holis. YE
17 Sisa campuran Hamparan tidak Sisa hamparan
disamping homogen, pada di buang
hamparan permukaan
dikembalikan / hamparan
ditabur dgn sekop terjadi segregasi
ke hamparan yang
sudah terpasang

Zainal Holis. YE
X. PENGENDALIAN MUTU BETON
Sebelum Pada saat Setelah
pelaksanaan pelaksanaan pelaksanaan

PENAKARAN
SELEKSI MATERIAL PERAWATAN
(Berat atau volume) (waktu, cara)

BAHAN DAN PENCAMPURAN


TEMPAT KERJA (homogenitas, kapasitas) Pembongkaran
acuan
TRANSPORTASI
RANCANGAN (cara, alat,
CAMPURAN waktu perjalanan)

PENGECORAN
(jenis konstruksi, waktu
PERALATAN
Setting)
(JUMLAH,
KONDISI)
PEMADATAN, FINISHING

Zainal Holis. YE PEMBUATAN BENDA UJI


Ir. Lanny Hidayat, MSi
WORKABILITY
Adukan beton segar harus mudah dikerjakan tanpa terjadi
bleeding dan atau segregasi

KEKUATAN / STRENGTH
Setelah keras beton harus memiliki kekuatan minimum
terhadap beban
K atau fc’ …. ?
Faktor-faktor :
- Faktor air-semen
- Derajat kepadatan
- Umur beton
- Mutu dan kondisi bahan
Zainal Holis. YE
XI. KETENTUAN SIFAT CAMPURAN BETON

Kuat Tekan Karakteristik Min (kg/cm2)


“SLUMP” (mm)

Mutu Benda Uji Kubus Benda Uji Silinder


Tidak
Beton 15 x 15 x 15 cm3 15 cm x 30 cm Digetarkan
Digetarkan

7 hari 28 hari 7 hari 28 hari


K600 390 600 325 500 20 – 50 -
K500 325 500 260 400 20 – 50 -
K400 285 400 240 330 20 – 50 -
K250 250 350 210 290 20 – 50 50 – 100
K300 215 300 180 250 20 – 50 50 – 100
K250 180 250 150 210 20 – 50 50 – 100
K225 150 225 125 190 20 – 50 50 – 100
K175 115 175 95 145 30 – 60 50 – 100
K125 80 125 70 105 20 – 50 50 - 100
Zainal Holis. YE
XII. BATASAN PROPORSI TAKARAN CAMPURAN
Mutu Ukuran Agregat Rasio Air / Kadar Semen
Beto Maks Min (mm) Semen Maks Min (kg/m3 dari
n (Terhadap berat) campuran)
K600 - - -
K500 - 0,375 450
37 0,45 356
K400 25 0,45 370
19 0,45 400
37 0,45 315
K350 25 0,45 335
19 0,45 365
K300 37 0,45 300
25 0,45 320
19 0,45 350
K250 37 0,50 290
25 0,50 310
19 0,50 340
K175 - 0,57 300
K125 - 0,60 250
Zainal Holis. YE
XIII. KONVERSI KEKUATAN BENDA UJI BETON

KUBUS 15 X 15 X 15 (K) :1
KUBUS 20 X 20 X 20 : 0,95
KUBUS 10 X 10 X 10 : 1,07
SILINDER 15 X 30 (fc’) : 0,83
Contoh :
fc’30 ~ K (1/0,83).300 = K361
K250 ~ fc’ (0,83/1).250 = fc’20,75
Catatan :
fc’ dinyatakan dalam satuan MPa
K dinyatakan dalam satuan kg/cm2
1 MPa ~ 10 kg/cm2

Zainal Holis. YE
XIV. SLUMP
Percobaan slump dilakukan untuk mengetahui tingkat kemudahan
pekerjaan, nilai slump identik dengan nilai plastisitas beton.
Semakin plastis beton, semakin mudah pengerjaannya.

Alat untuk pengujian slump berbentuk kerucut terpancung,


tinggi 30 cm, diameter atas 10 cm dan diameter bawah 20
cm. Dilengkapi kuping untuk alat pengangkat. Tongkat untuk
pemadat diameter 16 mm dan panjang 60 cm.

Proses pengujian slump dibuat 3 lapis dengan jumlah tiap lapis sebanyak 25 kali.
Biarkan 60 detik setelah lapisan terakhir dikerjakan.
Angkat alat slump, hati-hati jangan sampai miring.
Letakkan alat slump disisi campuran beton.
Ukur rata-rata tinggi slump diukur dari permukaan alat sampai tinggi
permukaan beton yang jatuh.
Zainal Holis. YE
XV. REKOMENDASI NILAI SLUMP

Jenis Pekerjaan Maks Min :


- Dinding, pelat fondasi dan 12,5 5,0
fondasi telapak bertulang
- Fondasi telapak tidak bertulang, 9,0 2,5
kaison dan konstruksi di bawah
tanah
- Pelat, balok, kolom dan dinding 15,0 7,5
- Pengerasan jalan 7,5 5,0
- Pembetonan masal 7,5 2,5

Sumber : PBI ’71, dalam cm


Zainal Holis. YE
XVI. UMUR BETON

Konversi kekuatan beton berdasarkan umur :

3 hari : 0,40
7 hari : 0,65
14 hari : 0,88
21 hari : 0,95
28 hari : 1,00
90 hari : 1,20
365 hari : 1,35

Zainal Holis. YE
XVII. PENGENDALIAN MUTU AGREGAT

SAMPLING :
Pengambilan sampel (contoh) agregat yang merupakan tipikal
sifat-rata-rata agregat (representatif)

MUTU DAN KONDISI AGREGAT BERPENGARUH


TERHADAP SIFAT-SIFAT KEKUATAN (strength),
LEKATAN (bonding), KEAWETAN (durability)

BAHAN TAMBAHAN/BAHAN PEMBANTU/ADMIXTURE

Bahan berupa bubukan atau cairan yang dibubuhkan ke dalam


campuran beton selama pengadukan dalam jumlah tertentu
untuk mengubah sifatnya
Zainal Holis. YE
Tipe-tipe bahan tambahan untuk
beton
TIPE PENGARUH THD CAMPURAN BETON

ACCELERATING Mempercepat waktu pengikatan dan


menambah kekuatan awal
RETARDING Memperlambat waktu pengikatan

NORMAL WATER-REDUCING Mengurangi jumlah air campuran dengan


konsistensi yang ditetapkan
Mengurangi jumlah air campuran dengan
ACCELERATING WATER-REDUCING konsistensi yang ditetapkan serta
mempercepat pengikatan
Mengurangi jumlah air campuran dengan
RETARDING WATER-REDUCING konsistensi yang ditetapkan serta

memperlambat pengikatan
Mengurangi jumlah air campuran dengan
SUPERPLASTICISER
konsistensi sangat rendah
Membentuk gelembung udara dalam
AIR ENTRAINMENT campuran beton

Zainal Holis. YE
XVIII. TAHAPAN PEMBETONAN DAN PENGENDALIAN MUTU
1 2 3

Sebelum Pelaksanaan Saat Pelaksanaan Setelah Pelaksanaan

SELEKSI MATERIAL PENAKARAN PERAWATAN


(hasil pemeriksaan bahan (dalam berat/volume, koreksi (teknik/cara, waktu)
vs spesifikasi) penakaran bila kondisi
RANCANGAN agregat tidak SSD)
CAMPURAN PENCAMPURAN
(criteria mutu beton segar (homogenitas, kapasitas
dan mutu beton keras) mixer, mixing time)
PERALATAN TRANSPORTASI
(jenis, jumlah dan kondisi) (teknik/cara, alat, Travel time)
UJI KELECAKAN +
PEMBUATAN BENDA UJI
PENGECORAN
(jenis konstruksi, final setting)
PEMADATAN
(jenis, alat, cara, waktu, initial
setting)
FINISHING

Zainal Holis. YE
PERCOBAAN CAMPURAN
(TRIAL MIX)

>> DI LABORATORIUM DAN DI


PROYEK
TUJUAN : UNTUK MEMASTIKAN
APAKAH MUTU BETON BASAH DAN
MUTU BETON KERAS YANG
DIRENCANAKAN TERCAPAI ATAU
TIDAK
Zainal Holis. YE
SKEMATIS PROSES PENGENDALIAN MUTU

Q Q Q Q Q Q
C C C C C C

OUT
KEGIATAN PEKERJAAN KONTRUKSI
PUT

BAWASKO, BAWASDA, BPK, BPKP, WASMAS, AUDITOR YG LAIN

Zainal Holis. YE
DAFTAR PUSTAKA

1.Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No. 108 Tahun 2003 tentang
“Tata Cara Pelaksanaan APBD Propinsi DKI Jakarta”

2.Proyek Jalan, Teori & Praktek oleh : Athur Wignall, Peter. S, Kendrick,
Roy Ancill, Malcolm Copson, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2003 ;

3.Manajemen Produksi untuk Jasa Kontruksi, oleh : Ir. Asiyanto. MBA, IPM,
PT. Pradnya Paramita, Jakarta 2005 ;

4.Spesifikasi Teknis, Subdin Bintek Jalan DPU, Provinsi DKI Jakarta 2005

5. Pengawasan & Perawatan Jalan Beton Semen oleh Ir Mohamad Anas


Aly, Bimbingan Teknis DPU Kerjasama dengan PT. Indocement
Tunggal Perkasa Tbk, Jakarta, 2006

6.Penyelenggaraan Uji Mutu Di Lingkungan DPU – Provinsi DKI Jakarta,


Keputusan Ka DPU – DKI Jakarta, Januari 2006

7. Beton Segar, Karakteristik dan Penanganan, Rustaman, Puslitbang


Jalan dan Jembatan Badan Penelitian dan Pengembangan, Dept. PU
2009

Zainal Holis. YE