Anda di halaman 1dari 34

OLEH :

Andi Pratama HS
G1A214053

PEMBIMBING :
dr. Kuswaya, Sp.M
Laporan Kasus
Identitas :
 Nama : Tn. M
 Umur : 65 tahun
 Jenis Kelamin : Lakilaki
 Pekerjaan : Petani
 Alamat : Muaro Tebo
 MRS : 28 April 2016 / kamis

 Keluhan Utama :
Mata kananterasa kabur sejak 10 hari yang lalu
 Anamnesa Khusus

 Dua minggu SMRS os mengaku mata kanannya


kemasukan pasir. Pada saat kejadian, os mengaku matanya
nyeri dan kemudian os mengucek-ngucek mata yang
terkena percikan tersebut, kemudian baru os mencuci
matanya dengan air. Setelah dicuci dengan air, nyeri pada
mata tidak hilang, ada rasa mengganjal, dan mata os juga
semakin merah.
 Keesokan harinya os berobat ke mantri desa dan diberikan
obat tetes mata, setelah itu os mengaku tidak ada perubahan
pada mata os, bahkan os mengaku mata kanan os semakin
nyeri. Nyeri pada mata disertai rasa mengganjal (+), berair
(+), silau (+), kabur (+), sekret berlebih (+), gatal (-),
beberapa hari kemudia os juga mengaku semakin kurang
jelas dalam melihat, seperti ada yang menutupi, demam (+).
Kemudian os memutuskan untuk ke IGD RSU Rd Mattaher
Jambi, karna rasa nyeri pada mata semakin bertambah.
 Riwayat penyakit yang lalu : Tidak pernah
mengalami penyakit yang sama sebelumnya
 Hipertensi (-), DM (-)
 Anamnesa Keluarga :
Keluarga pasien tidak ada yang mengalami
keluhan yang sama
 Status gizi : Baik
Penyakit sistemik
 Tractus Respiratorius : Tidak Ada Keluhan
 Tract digestivus : Tidak Ada Keluhan
 Cardio Vasculer : Tidak Ada Keluhan
 Endokrin : Tidak Ada Keluhan
 Neurologi : Tidak Ada Keluhan
 Kulit : Tidak Ada Keluhan
 THT : Tidak Ada Keluhan
 Gigi dan Mulut : Tidak Ada Keluhan
 Lain-lain : Tidak Ada Keluhan
OD OS

I. Pemeriksaan Visus dan refraksi


1/∞ Visus: 6/9
II. Muscle Balance
Versi: baik Versi: baik
Duksi: baik Duksi: baik

III. Pemeriksaan Eksternal

Infiltrat/
Ulkus kornea
Palpebra superior: Hip (+), edema (+) hiperemis (-), Edema (-)
Palpebra inferior : Hip (+), edema (+) Hiperemis (-), Edema (-)
Cilia : trikiasis (-) trikiasis (-)
Aparatus lacrimalis: sumbatan (-) sumbatan (-)
Conj. tarsalis superior: papil (-), folikel (-) papil (-), folikel (-)

Conj. tarsalis inferior: papil (-), folikel (-) papil (-), folikel (-)
Conjungtiva bulbi: Inj. siliar dan Inj. siliar dan konjungtiva (-), kemosis (-)
konjungtiva (+), kemosis (+)
Kornea : Keruh, terdapat infitrat berbentuk jernih
tidak teratur berwarna putih di daerah
sentral

COA : Sedang, hipopion (+) Sedang, hipopion (-)

Pupil : Sukar dinilai bulat


Diameter : Sukar dinilai 3 mm

Reflek cahaya: Sukar dinilai (+)


warna coklat, kripta jelas
Pemeriksaan Slit Lamp
Silia Trikiasis (-) Trikiasis (-)
Conjungtiva tarsus Papil (-), folikel (-). Papil (-), folikel (-)
Conjungtiva bulbi Injeksi (+), hiperemis (+) Injeksi (-), hiperemis (-)
Kornea Keruh, terdapat infitrat Jernih

berwarna putih di daerah


tengah kornea

Bilik mata depan Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai


Lensa Tidak bisa dinilai Jernih
Tekanan Intra Okuler
Palpasi / Digital Normal Normal

Tonometer Schiotz Tidak dilakukan Tidak dilakukan

FUNDUSKOPI
Tidak dilakukan
VIII. Pemeriksaan Umum:
- Tekanan darah : 120/80 mmHg
- Nadi : 84x/menit
- Suhu : Afebris

IX. Diagnosa: Ulkus kornea OD ec suspek Bakterial

X. Anjuran pemeriksaan:
- Pewarnaan zat floresensi
- Scrapping kornea untuk dilakukan pewarnaan
Gram
 XI. Pengobatan:
moxifloxacin 0,5 % ED tetes mata 4x1 tts/ hari OD
natamycin 5% ED 4x1 tts/hari OD
Asam mefenamat 3 x 500 mg

 XII. Prognosa: Dubia ad malam


TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN
 Ulkus kornea adalah suatu kondisi yang
berpotensi menyebabkan kebutaan yang
membutuhkan penatalaksanaan secara
langsung
 Ulkus kornea yang sembuh akan
menimbulkan kekeruhan kornea dan
merupakan penyebab kebutaan nomor lima
di Indonesia
ANATOMI MATA
 Kornea terdiri dari 5 lapisan :
1. lapisan epitel
2. Membran bowman
3. Jaringan Stroma
4. Membran descement
5. Endotel
1. Infeksi 2. Non infeksi
 Bahan kimia, bersifat asam
bakteri: P. aeraginosa,
Streptococcus pneumonia atau basa tergantung PH.
dan spesies Moraxella  Radiasi atau suhu
(paling sering)  Sindrom sjorgen
 Jamur: Candida, Fusarium,  Defisiensi vitamin A
Aspergilus, Cephalosporium,  Obat-obatan
dan spesies mikosis  Kelainan dari membran
fungoides. basal, misalnya karena
 Virus: Herpes simplex, trauma.
varicella-zoster, variola,  Pajanan (exposure)
vacinia (jarang)
 Neurotropik
 Acanthamoeba
3. Sistem Imun (Reaksi
Hipersensitivitas)
 Granulomatosa wagener
 Rheumathoid arthritis
3. Jenis
Berdasarkan lokasi, dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea, yaitu:
1. Ulkus kornea sentral
 Ulkus kornea bakterialis
 Ulkus kornea fungi
 Ulkus kornea virus
 Ulkus kornea acanthamoeba

2. Ulkus kornea perifer


 Ulkus marginal
 Ulkus mooren (ulkus serpenginosa kronik/ulkus roden)
 Ulkus cincin (ring ulcer)
Ulkus kornea sentralis
 Ulkus Kornea Bakterialis
1. Ulkus Streptokokus
 Tanda Khas: ulcus menjalar dari tepi ke tengah kornea
(serpinginous).
 Berwarna kuning keabu-abuan bentuk cakram dengan tepi
menggaung.
 Cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea,
karena eksotoksin dari Streptokokus pneumonia.
2. Ulkus Stafilokokus 3. Ulkus Pseudomonas
 Awalnya: ulkus yang  Lesi dari sentral dapat ke
bewarna putih kekuningan samping dan dalam
disertai infiltrat berbatas kornea.
tegas tepat dibawah defek  Penyerbukan ke dalam
epitel. mengakibatkan perforasi
 Bila tidak diobati secara kornea dalam 48 jam.
adekuat, terjadi abses  Gambaran: ulkus berwarna
kornea yang disertai abu-abu dengan kotoran
edema stroma dan yang dikeluarkan berwarna
infiltrasi sel leukosit. kehijauan.
 Walaupun terdapat  Dalam bilik mata depan
hipopion ulkus seringkali dapat terlihat hipopion
indolen yaitu reaksi yang banyak.
radangnya minimal.
Ulkus Kornea
Pseudomonas
Ulkus Kornea Bakterialis
4. Ulkus Pneumokokus :
 Ulkus kornea sentral yang dalam.
 Tepi ulkus terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga
disebut Ulkus Serpen.
 Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel yang penuh dan berwarna
kekuning-kuningan.
 Penyebaran ulkus sangat cepat dan sering terlihat ulkus yang
menggaung dan di daerah ini terdapat banyak kuman.
 Ulkus ini selalu di temukan hipopion yang tidak selamanya
sebanding dengan beratnya ulkus yang terlihat.
 Diagnosa lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis.
 Ulkus Kornea Fungi
 Pada permukaan terlihat bercak putih dengan warna keabu-
abuan yang agak kering.
 Tepi lesi berbatas tegas, irregular dan terlihat penyebaran
seperti bulu pada bagian epitel yang baik.
 Terlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral
sehingga terdapat satelit-satelit disekitarnya.
 Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan
naik.
 Dapat terjadi neovaskularisasi akibat rangsangan radang.
 Terdapat injeksi siliar disertai hipopion.
 Ulkus Kornea Virus 2. Ulkus Kornea Herpes
1. Ulkus Kornea Herpes Zoster simplex
 Biasanya diawali dengan  Awalnya dimulai injeksi
perasaan lesu, timbul 1-3 hari siliar disertai terdapatnya
sebelum timbul gejala kulit. dataran sel di permukaan
epitel kornea bentuk dendrit
 Pada mata: vesikel dan edem
atau bintang infiltrasi.
palpebra, konjungtiva
hiperemis, kornea keruh.  Terdapat pembesaran
kelenjar preaurikel.
 Infiltrat berbentuk dendrit
berwarna abu-abu kotor dengan  Bentuk dendrit kecil,
fluoresin yang lemah. ulceratif, jelas diwarnai
dengan fluoresin dengan
 Kornea hipestesi tapi dengan
benjolan diujungnya
rasa sakit.
 Ulkus Kornea Acanthamoeba
 Awal: sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya,
kemerahan dan fotofobia.
Ulkus kornea perifer
 Ulkus Marginal  Ulkus Mooren
 Bentuk simpel: ulkus superfisial  berjalan progresif dari perifer
yang berwarna abu-abu kornea ke sentral.
terdapat pada infeksi  T.u pada usia lanjut.
stafilococcus, toksik atau alergi  Penyebabnya belum diketahui
dan gangguan sistemik pada diduga hipersensitivitas
influenza disentri basilar tuberculosis, virus, alergi,
gonokok arteritis nodosa, dan autoimun.
lain-lain.
 Sering menyerang seluruh
 Bentuk cincin atau multiple dan
permukaan kornea dan kadang
lateral pada leukemia akut, meninggalkan satu pulau yang
sistemik lupus eritromatosis sehat pada bagian yang sentral.
dan lain-lain.
Manifestasi klinis
Gejala Subjektif Gejala Objektif
 Eritema kelopak mata dan  Injeksi siliar
konjungtiva
 Hilangnya sebagian jaringan
 Sekret mukopurulen kornea, dan adanya infiltrat
 Merasa ada benda asing di mata
 Hipopion
 Pandangan kabur
 Mata berair
 Bintik putih pada kornea
 Silau
 Nyeri
 Infiltat dapat menimbulkan
sedikit nyeri.
Diagnosis
 Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan klinis
 Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan
diagnostik seperti :
 Ketajaman penglihatan
 Tes refraksi
 Pemeriksaan slit-lamp
 Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.
 Goresan ulkus untuk analisa atau kultur
Pewarnaan gram ulkus
kornea fungi
Kornea ulcer dengan
fluoresensi
Pewarnaan gram ulkus Pewarnaan gram ulkus
kornea herpes simplex kornea herpes zoster
6. Penatalaksanaan
 Pengobatan ulkus pada umumnya:
1. Pengobatan konstitusi
2.Terhadap Keadaan Lokal
3. Untuk menghindari penjalaran ulkus dapat
dilakukan kautrisasi atau bisa dilakukan
pengerokan epitel yang sakit.
Komplikasi
 Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat
singkat
 Prolaps iris
 Sikatrik kornea
 Katarak
 Glaukoma sekunder

Prognosis
 Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan
dan cepat lambatnya mendapat pertolongan, jenis
mikroorganisme penyebabnya, dan ada tidaknya
komplikasi yang timbul.
 Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya
mendapat pertolongan serta timbulnya komplikasi, maka
prognosisnya menjadi lebih buruk.
PEMBAHASAN
Pasien datang pada tanggal 28 April 2016 dengan keluhan
Mata kanan nyeri dan kabur sejak 10 hari SMRS. . Pasien
merasakan kondisi matanya semakin memburuk dengan adanya
rasa nyeri dan penglihatannya menjadi semakin kabur. .
sebelumnya pasien sering terpapar debu dan sering menggosok
matanya dengan tangan .
Visus mata kanan pasien 1/∞ dan mata kiri 6/9. Pasien
mengalami penurunan tajam penglihatan pada mata kiri, dengan
pinhole test tidak maju. Sehingga dapat disimpulkan penurunan
tajam penglihatan pasien bukan disebabkan karena kelainan
refraksi.
Terdapat hipopion di kamera okuli anterior (COA) dan
banyak sekret menutupi mata sehingga palpebra sulit digunakan
untuk membuka mata. Hipopion sebagai suatu keadaan dimana
terjadi penimbunan sel radang di bilik mata depan, yang pada
kasus ini menutupi hampir seluruh kamera okuli anterior hingga
menyebabkan iris, pupil, serta lensa sukar dinilai.
Untuk penatalaksaan pada pasien ini sebaiknya dilakukan
pemberian antibiotik, anti jamur, atau dapat pula diberikan
kombinasi antibiotik dan anti jamur. Pada pasien ini juga
sebaiknya diberikan obat penghilang rasa nyeri serta dilakukan
pemeriksaan kultur
TERIMA KASIH