Anda di halaman 1dari 10

*

Fiffy andriani
Mudzakiroh
Muh. Yusuf
Reonaldi aprizal
*
* cedera kepala yang sinonimnya adalah trauma kapitis/head
injury/ trauma kranio serebral/ traumatic brain injury
merupakan trauma mekanik terhadap kepala baik secara
langsung ataupun tidak langsung yang menyebabkan gangguan
fungsi neurologis yaitu gangguan fisik, kognitif,
fungsi psikososial baik bersifat temporer maupun permanen.
Trauma Brain Injury adalah salah satu bentuk trauma yang
dapat mengubah kemampuan otak dalam menghasilkan
keseimbangan fisik, intelektual, emosional, gangguan traumatik
yang dapat menimbulkan perubahan-perubahan fungsi otak
Klasifikasi menurut GCS yaitu:
*
* Ringan
* Sedang
* Berat
Klasifikasi menurut morfologi yaitu :
* Trauma kepala terbuka
* Trauma kepala tertutup
* Jatuh
* Kecelakaan saat olahraga
* Cedera akibat kekerasan.
* Benda tajam
* Benda tumpul
* Peluru.
* Kecelakaan lalu lintas

*
*
* Cedera memegang peranan yang sangat besar dalam menentukan berat
ringannya konsekuensi patofisiologis dari suatu trauma kepala. Cedera
percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang bergerak
membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat pukulan benda
tumpul, atau karena kena lemparan benda tumpul. Cedera perlambatan
(deselerasi) adalah bila kepala membentur objek yang secara relatif tidak
bergerak, seperti badan mobil atau tanah. Kedua kekuatan ini mungkin
terjadi secara bersamaan bila terdapat gerakan kepala tiba-tiba tanpa
kontak langsung, seperti yang terjadi bila posisi badan diubah secara
kasar dan cepat. Kekuatan ini bisa dikombinasi dengan pengubahan posisi
rotasi pada kepala, yang menyebabkan trauma regangan dan robekan
pada substansi alba dan batang otak. Cedera primer, yang terjadi pada
waktu benturan, mungkin karena memar pada permukaan otak, laserasi
substansi alba, cedera robekan atau hemoragi. Sebagai akibat, cedera
sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan autoregulasi serebral
dikurangi atau tak ada pada area cedera. Konsekuensinya meliputi
hiperemi (peningkatan volume darah) pada area peningkatan
permeabilitas kapiler, serta vasodilatasiarterial, semua menimbulkan
peningkatan isi intrakranial, dan akhirnya peningkatan tekanan
intrakranial (TIK).
* Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cedera otak
sekunder meliputi hipoksia, hiperkarbia, dan hipotensi.
Genneralli dan kawan-kawan memperkenalkan cedera kepala
“fokal” dan “menyebar” sebagai kategori cedera kepala berat
pada upaya untuk menggambarkan hasil yang lebih khusus.
Cedera fokal diakibatkan dari kerusakan fokal yang meliputi
kontusio serebral dan hematom intraserebral, serta kerusakan
otak sekunder yang disebabkan oleh perluasan massa lesi,
pergeseran otak atau hernia. Cedera otak menyebar dikaitkan
dengan kerusakan yang menyebar secara luas dan terjadi
dalam empat bentuk yaitu: cedera akson menyebar, kerusakan
otak hipoksia, pembengkakan otak menyebar, hemoragi kecil
multipel pada seluruh otak. Jenis cedera ini menyebabkan
koma bukan karena kompresi pada batang otak tetapi karena
cedera menyebar pada hemisfer serebral, batang otak, atau
dua-duanya.
*
* Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih
* Kebingungan
* Iritabel
* Pucat
* Mual dan muntah
* Pusing kepala
* Terdapat hematoma
* Kecemasan
* Sukar untuk dibangunkan
* Bila fraktur, mungkin adanya cairan serebrospinal yang keluar
dari hidung (rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur
tulang temporal.
* Spinal X ray
* CT
* Myelogram
* MRI
* Thorax X ray
* Analisa Gas Darah

*
* Observasi 24 jam
* Jika pasien masih muntah sementara dipuasakan
terlebih dahulu
* Berikan terapi intravena bila ada indikasi
* Pasien diistirahatkan atau tirah baring
* Profilaksis diberikan bila ada indikasi
* Pemberian obat-obat untuk vaskulasisasi
* Pemberian obat-obat analgetik
* Pembedahan bila ada indikasi.

*
* Kebocoran cairan serebrospinal dapat disebabkan oleh rusaknya
leptomeningen dan terjadi pada 2-6 pasien dengan cedera kepala
tertutup
* Fistel karotis kavernosus ditandai oleh trias gejala: eksolftalmos,
kemosis dan bruit orbital, dapat timbul segera atau beberapa hari
setelah cedera.
* Diabetes insipidus dapat disebabkan oleh kerusakan traumatik pada
tangkai hipofisis, menyebabkan penghentian sekresi hormon
antideuretik.
* Kejang pasca trauma dapat terjadi segera (dalam 24 jam pertama),
dini (minggu pertama) atau lanjut (setelah satu minggu). Kejang
segera tidak merupakan predisposisi untuk kejang lanjut; kejang dini
menunjukan resiko meningkat untuk kejang lanjut dan pasien ini
harus dipertahankan dengan antikonvulsan.