Anda di halaman 1dari 22

INFARK MIOKARD

AKUT

DUTA : 4
Infark miokard adalah suatu proses dimana
jaringan miokard mengalami kerusakan (nekrosis)
dalam region jantung yang mengurangi suplai
darah adekuat karena penurunan aliran darah
koroner (margareth, 2012).
Infark miokard akut adalah suatu keadaan
kematian jaringan otot jantung akibat
ketidakseimbangan antara kebutuhan dan
suplai oksigen yang terjadi secara mendadak.
Penyebab paling sering adalah adanya
sumbatan pembuluh jantung sehingga terjadi
gangguan aliran darah yang diawali dengan
hipoksia miokard (setianto, et. Al, 2013) dalam
kasron, 2012
1. Berkurangnya suplai oksigen ke miokard
 Faktor pembuluh darah (atherosklerosis,
spasme, arteritis)
 Faktor sirkulasi (hipotensi, stenosus aorta,
insufisiensi)
 Faktor darah (anemia, hipoksemia,
polisitemia)

2. Meningkatnya kebutuhan oksigen tubuh


PATOFISIOLOGI INFARK MIOKARD
AKUT.docx
1. Obat-obatan Trombolitik
contoh : Streptokinase ( diberikan 1 jam setelah
timbul gejala pertama, tidak boleh lebih dari 12
jam pasca serangan, tidak boleh diberikan pada
pasien >75 th
2. Beta Blocker
- Cardioslective, contoh : Metoprolol, Atenolol,
Acebutol
- Non Cardioslective, contoh : Propanolol,
Pindolol, Nadolol
3. Angiotensin – Converting enzyme (ACE)
inhibitor
contoh : Captropil
4. Obat-obatan Antikoagulan
contoh: Heparin dan Enoksaparin
5. obat-obatan Antipatelet
contoh : Asprin dan Clopidogrel
1. Penkes dirumah sakit
 Diet makanan

 Pengaturan posisi

2. Penkes dirumah
 Olahraga

 Pembatasan aktivitas fisik

 Discharge planning-method
Ny. N berumur 45 tahun, dalam keadaan pingsan datang bersama
keluarga ke IGD RSUD dr. Zainoel Abidin dengan keluhan nyeri hebat di
dada. Pada saat perawat melakukan pengkajian klien sadar dan mengeluh
nyeri di dadanya, seperti di cengkeram menjalar dari tengah (sternum) ke
dada kiri, rahang dan lengan kiri. Nyeri muncul saat istirahat maupun
beraktivitas. Biasanya di pagi hari disertai mual muntah, napas
pendek dan cepat (30 x/menit), tekanan darah 120/80 mmHg, suhu 270C
dan nadi 100 x/menit. Klien mangatakan sering mengeluhkan rasa nyeri di
dadanya sehingga klien tidak bisa beraktivitas. Wajah klien pucat, klien
tampak lemah dan merasa tidak nyaman. Pada pemeriksaan EKG
didapatkan elevasi segmen ST dan gelombang T yang terbalik. Pada
pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan enzim SOGT, CPK, dan
LDK. Pada pemeriksaan auskultasi jantung didapatkan irama gallop
dengan bunyi jantung kedua yang pecah parakdosal. Pada pemeriksaan
lain didapatkan adanya infark karena thrombus arteri koroner. Sebagai
penatalaksanaan farmakologis diberikan streptokinase.
 Data Subjektif:
Ny. N mengatakan nyeri di dadanya, seperti di
cengkeram menjalar dari tengah (sternum) ke dada
kiri, rahang dan lengan kiri. Nyeri muncul saat
istirahat maupun beraktivitas. Biasanya di pagi hari
disertai mual muntah
 Data Objektif:
napas pendek dan cepat (30 x/menit), tekanan darah
120/80 mmHg, pemeriksaan laboratorium didapatkan
peningkatan enzim SOGT, CPK, dan LDK, pada
pemeriksaan auskultasi jantung didapatkan irama
gallop dengan bunyi jantung kedua yang pecah
parakdosal. Pada pemeriksaan lain didapatkan adanya
infark karena thrombus arteri koroner
 Data Subjektif:
Klien mangatakan sering mengeluhkan rasa
nyeri di dadanya sehingga klien tidak bisa
beraktivitas.
 Data Objektif:
Wajah klien pucat, klien tampak lemah dan
merasa tidak nyaman
 Nyeri (akut) berhubungan dengan iskemia
jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri
koroner
 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
adanya iskemia /nekrotik jaringan miokard
Diagnosa Intervensi Rasionalisasi
Keperawatan
Nyeri (akut) Mandiri
1. Lakukan pengkajian nyeri klien
berhubungan dengan yang mencangkup lokasi, 1. Mengidentifikasi faktor pencetus
iskemia jaringan karakteristik, awitan, durasi, atau pemicu dan faktor yang
frekuensi, kualitas, intensitas
sekunder terhadap mengurangi
sumbatan arteri 1. Pantau tanda-tanda vital selama 2. Tekanan darah, frekuensi
episode nyeri
koroner pernapasan, dan frekuensi jantung
1. Gunakan skala penilaian nyeri biasanya berubah pada nyeri aku
sesuai dengan usia dan kognisi
3. Gunakan skala penilaian nyeri
sesuai dengan usia dan kognisi
(misalnya skala 0-10 ekspresi
wajah atau skala nyeri wajah
Wong-Baker/pediatric, nonverbal,
adolocent pediatric pain tool/APPT,
PACSLACT, BPS)
4. Observasi isyarat non verbal 4. Misalnya bagaimana klien
berjalan, menahan tubuh,
prilaku berhati-hati, tidak
dapat tidur, prilaku distraksi,
focus menyempit, menangis,
letargi pada bayi, dan
pemberian makan yang buruk

5. Menggunakan agens 5. Manajemen farmakologis


farmakologis untuk menggunakansimtomatologi
mengurangi atau klien dan mekanisme nyeri
menghilangkan nyeri dan toleransi terhadap nyeri
dan analgesik.
Diagnosa Intervensi Rasionalisasi
Keperawatan
Intoleransi Mandiri: 1. Kecendrungan menentukan
1. Catat/dokumentasi frekuensi respons pasien terhadap
aktivitas jantung, irama dan perubahan aktivitas dan dapat
berhubungan TD sebelum, selama, sesudah mengindikasikan penurunan
aktivitas sesuai indikasi oksigen miokardia yang
dengan adanya memerlukan penurunan
iskemia /nekrotik tingkat aktivitas /kembali
tirah baring, perubahan
jaringan miokard program obat, penggunaan
2. Catat adanya penyakit akut oksigen tambahan
atau kronis. Seperti gagal 2. Banyak faktor yang
jantung, hipotiroidisme dll. menyebabkan atau
berkontribusi terhadap
keletihan, tetapi intoleran
aktivitas menunjukkan
bahwa klien tidak dapat
mempertahankan dan
beradaptasi dengan
peningkatan kebutuhan
energy atau oksigen yang
disebabkan oleh aktivitas
3. Pantau TTV sebelum dan 3. TTV meningkat selama
selama aktivitas dengan beraktivitas dan seharusnya
mengobservasi perubahan tekanan kembali ke nilai dasar dalam
darah, frekuensi waktu 5-7 menit setelah aktivitas
jika responterhadap aktivitas
normal
4. Tingkatkan istirahat (tempat 4. Menurunkan kerja
tidur/kursi). Batasi aktivitas miokardia/konsumsi oksigen,
pada dasar nyeri/respon menurunkan resiko
hemodinamik. komplikasi

5.Berikan aktivitas senggang 5. Pembicaraan yang panjang


yang tidak berat sanagnat mempengaruhi
Batasi pengunjung dan/atau pasien namun priode
kunjungan oleh pasien kinjungan yang tenang
bersifat terapeutik
6. Anjurkan pasien 6. Aktivitas yang memerlukan
menghindari peningkatan menahan napas dan menunduk
tekanan abdomen (maneuver valsava) dapat
mengakibatkan bradikardia
juga menurunkan curah
jantung dan takikardia dengan
peningkatan TD
7. Jelaskan pola peningkatan 7. Aktivitas yang maju
bertahap dari tingkat aktivitas memberikan kotrol jantung,
meningkatkan regangan dan
mencegah aktivitas berlebihan
8. Kaji ulang tanda/gejala yang 8. Palpasi nadi tak teratur,
menunjukkan tidak toleran adanya nyeri dda atau dispnea
terhadap aktivias atau dapat mengindikasikan
memerlukan pelaporan pada kebutuhan perubahan program
perawat/dokter olahraga atau obat
Kolaborasi
9. Rujuk ke program 9. Memberikan
rehabilitasi jantung dukungan/pengawasan
tambahan berlanjut dan
partisipasi proses penyemuhan
S: Klien mengatakan nyeri di dada berkurang dan dapat
bangun dari tempat tidur
O: wajah klien tersenyum, klien dapat berespon dengan
baik, TD: 120/70 mmHg, T: 270C, RR: 20 kali/menit, N:
80 kali/menit,
A: Kondisi pasien membaik dengan berkurangnya rasa
nyeri dan kemampuan untuk beraktivitas
P: pantau aktivitas klien dan derajat nyeri
I: melakukan aktivitas ringan dan tidak melakukan
pekerjaan yang berat, anjurkan keluarga untuk
memantau aktivitas klien
E: nyeri berkurang dan pasien dapat dipulangkan
R: manajemen nyeri seperti relaksasi nafas dalam serta
tirah baring tetap dilakukan di rumah