Anda di halaman 1dari 16

TEORI PERKEMBANGAN

SIGMUN FREUD
 A. Tahap Infantil
1. Fase Oral (usia 0 – 1 tahun)
Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamik atau

daerah kepuasan seksual yang dipilih oleh insting seksual. Makan/minum

menjadi sumber kenikmatannya. Kenikmatan atau kepuasan diperoleh dari

rangsangan terhadap bibir-rongga mulut-kerongkongan, tingkah laku menggigit

dan menguyah (sesudah gigi tumbuh), serta menelan dan memuntahkan

makanan (kalau makanan tidak memuaskan).

Kenikmatan yang diperoleh dari aktivitas menyuap/menelan (oral

incorforation) dan menggigit (oral agression) dipandang sebagai prototip dari

bermacam sifat pada masa yang akan datang. (Alwisol, 2008)


1. Fase Oral (usia 0 – 1 tahun)
Konflik selama tahap oral berpusat tentang apakah bayi menerima

kepuasan oral yang cukup atau tidak (Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Ratus, Beverly

Greene, 2005). Kepuasan yang berlebihan pada masa oral akan membentuk

oral incorporation personality pada masa dewasa, yakni orang menjadi

senang/fiksasi mengumpulkan pengetahuan atau mengumpulkan harta benda,

atau gampang ditipu (mudah menelan perkataan orang lain) (Alwisol,2008).

Sedang pada bayi akan menyebabkan bayi berharap bahwa segala

sesuatu dalam hidup dapat terberi dengan sedikit atau tanpa usaha dari sendiri

(Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Ratus, Beverly Greene, 2005).


1. Fase Oral (usia 0 – 1 tahun)
Sebaliknya, ketidakpuasan pada fase oral, sesudah dewasa
orang menjadi tidak pernah puas, tamak (memakan apa saja)
dalam mengumpulkan harta. Oral agression personality ditandai
oleh kesenangan berdebat dan sikap sarkatik, bersumber dari
sikap protes bayi (menggigit) terhadap perlakuan ibunya dalam
menyusui (Alwisol).
1. Fase Oral (usia 0 – 1 tahun)
Mulut sebagai daerah erogen, terbawa sampai dewasa dalam
bentuk yang lebih bervariasi, mulai dari menguyah permen karet,
menggigit pensil, senang makan, mengisap rokok, menggunjing orang
lain, sampai berkata-kata kotor/sarkastik.
Tahap ini secara khusus ditandai oleh berkembangnya perasaan
ketergantungan, mendapat perindungan dari orang lain, khususnya ibu.
Perasaan tergantung ini pada tingkat tertentu tetap ada dalam diri
setiap orang, muncul kapan saja ketika orang merasa cemas dan tidak
aman pada masa yang akan datang. (Alwisol, 2008;Syamsu Yusuf IN dan
Juntika Nuriichsan .2007)
2. Fase Anal (usia 1 – 3 tahun)
Pada fase ini dubur merupakan daerah pokok aktivitas dinamik,

kateksis dan anti kateksis berpusat pada fungsi eliminer pembuangan kotoran)

(Alwisol, 2008). Wilayah anal menjadi focus ketertarikan seksual mereka. Anak-

anak jadi semakin sadar akan sensasi menyenangkan yang dihasilkan gerakan

isi perut di membrane selaput lendir daerah anal.

Ketika sudah dapat mengontrol otot-otot dubur ini kadang-kadang

mereka belajar untuk menahan gerakan perut sampai detik terakhir untuk

kemudian meningkatkan tekanan di dubur yang membawa kesenangan tertinggi

saat feses akhirnya terlepas (Crain,W, 2007).


2. Fase Anal (usia 1 – 3 tahun)
Anak mulai belajar bahwa ia dapat menunda pemenuhan kebutuhan

untuk pembuangan ketika merasa ada keinginan untuk melakukan (Jeffrey S.

Nevid, Spencer A. Ratus, Beverly Greene, 2005), dengan latihan defekasi (toilet

training) memaksa anak untuk belajar menunda kepuasan bebas dari tegangan

anal.

Freud yakin toilet training adalah bentuk mulai dari belajar

memuaskan id dan superego sekaligus, kebutuhan id dalam bentuk kenikmatan

sesudah defakasi dan kebutuhan superego dalam bentuk hambatan sosial atau

tuntutan sosial untuk mengontrol kebutuhan defakasi.


3. Fase Falik (usia 3 – 5/6 tahun)
Pada fase ini alat kelamin merupakan daerah rogen terpenting.
Mastrubasi menimbulkan kenikmatan yang besar. Pada saat yang sama terjadi
peningkatan gairah seksual anak kepada orang tuanya yang mengawali berbagai
pergantian kateksis obyek yang penting. Perkembangan terpenting pada masa
ini adalah timbulnya Oedipus complex, yang diikuti fenomena castration
anxiety (pada laki-laki) dan penis envy (pada perempuan).
3. Fase Falik (usia 3 – 5/6 tahun)
 Odipus kompleks adalah kateksis obyek kepada orang tua yang
berlawanan jenis serta permusuhan terhadap orang tua sejenis.
Anak laki-laki ingin memiliki ibunya dan menyingkirkan ayahnya;
sebaliknya anak perempuan ingin memilki ayahnya dan
menyingkirkan ibunya.
 B. Tahap Latent (usia 5/6 – 12/13 tahun)
4. Usia 5/6
Dari usia 5 atau 6 tahun sampai remaja, anak mengalami
periode peredaan impuls seksual, disebut periode laten
(Alwisol,2008), suatu periode pada masa kanak-kanak akhir
dimana impuls-impuls seksual tetap berada dalam keadaan laten,
minat menjadi lebih diarahkan pada sekolah dan aktivitas bermain
(Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Ratus, Beverly Greene).
4. Usia 5/6
Menurut Freud, penurunan minat seksual itu akibat dari tidak adanya

daerah erogen baru yang dimunculkan oleh perkembangan biologis. Jadi fase

laten lebih sebagai fenomena biologis, bagian dari perkembangan psikoseksual.

Pada fase laten ini anak mengembangkan kemampuan sublimasi, yakni

mengganti kepuasan libido dengan kepuasan nonseksual, khususnya bidang

intelektual, atletik, keterampilan dan hubungan teman sebaya.


4. Usia 5/6
Fase laten juga ditandai dengan percepatan pembentukan superego,
orang tua bekerjasama dengan anak berusaha merepresi impuls seks agar
energi dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk sublimasi dan pembentukan
superego. Anak menjadi lebih mudah mempelajari sesuatu dibandingkan
dengan masa sebelum dan sesudahnya (masa pubertas) (Alwisol, 2008).
5. Tahap Genital (usia 12/13 – dewasa)
Fase ini dimulai dengan perubahan biokimia dan fisiologi dalam diri

remaja. Sistem endoktrin memproduksi hormon-hormon yang memicu

pertumbuhan tanda-tanda seksual sekunder (suara, rambut, buah dada, dll) dan

pertumbuhan tanda seksual primer. Impuls pragenital bangun kembali dan

membawa aktivitas dinamis yang harus diadaptasi, untuk mencapai

perkembangan kepribadian yang stabil.


5. Tahap Genital (usia 12/13 – dewasa)
Pada fase falis, kateksis genital mempunyai sifat narkistik; individu
mempunyai kepuasan dari perangsangan dan manipulasi tubuhnya sendiri, dan
orang lain diinginkan hanya karena memberikan bentuk-bentuk tambahan dari
kenikmatan tubuh bagi anak (Supratiknya,1999;Alwisol, 2008).

Pada fase genital, impuls seks itu mulai disalurkan ke obyek di luar, seperti;
berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, menyiapkan karir, cinta lain jenis,
perkawinan dan keluarga. Terjadi perubahan dari anak yang narkistik menjadi
dewasa yang berorientasi sosial, realistik dan altruistik (Supratiknya).