Anda di halaman 1dari 21

Retensio Sisa Plasenta

Nama Kelompok 6:

Sonya Puspita (P07124215032)


Wisik Candra Padmasari (P07124215037)
Yunita Ananda Pri Utami (P07124215038)
Zikrul Aqidah (P07124215039)
Zulfi Retnaning Utami (P07124215040)
Aunana Finnajakh (P07124215044)
Ellis Tio Cindi Saputri (P07124215047)
Endah Dwi Yulianingrum (P07124215048)
Zuhalnie Yunita Ratri (P07124215078)
NY. DA Umur 28 Tahun P2 AB0 AH2
Post Partum 40 hari dengan Retensio Sisa
Plasenta
Di RS Nur Hidayah
Pendahuluan
Kematian ibu adalah kematian wanita yang terjadi saat hamil, bersalin, atau
42 hari setelah persalinan dengan penyebab yang berhubungan langsung
atau tidak langsung terhadap persalinan. Menurut WHO di Indonesia, angka
kematian ibu adalah 359/100.000 kelahiran hidup. Perdarahan
menyebabkan 25% Kematian ibu di dunia dan paling banyak disebabkan
oleh Perdarahan Pasca Persalinan (PPP), yang mana menurut Rukiyah
(2010), diantaranya Atonia Uteri (50- 60%), Retensio Plasenta (16-17%),
Laserasi Jalan Lahir (4-5%), dan Rest Plasenta atau Retensio Sisa Plasenta (23-
24%).
Masa nifas

Masa nifas adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan


dan plasenta keluar lepas dari rahim, sampai 6 minggu
berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ
yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami
perubahan seperti perlukaan dan laik sebagainya
berkaitan saat melahirkan. (Suherni dkk, 2009)
Tahapan masa nifas

menurut Suherni (2009) adalah :

1. Puerperium dini : Masa kepulihan, yakni saat – saat ibu


dibolehkan berdiri dan berjalan – jalan.

2. Puerperium Intermedial : Masa kepulihan menyeluruh dari organ –


organ genital, ± antara 6 – 8 minggu.

3. Remote Puerperium : Waktu yang diperlukan untuk pulih dan


sehat sempurna terutama apaila ibu selama hamil atau
persalinan mempunyai komplikasi.
Perubahan fisiologis pada masa nifas

1. Perubahan pada sistem reproduksi

a. Uterus

b. Vagina, vulva, dan perineum

c. Lochea

d. Endometrium

2. Perubahan pada sistem pencernaan

3. Perubahan pada sistem perkemihan

4. Perubahan berat badan


Perdarahan post partum

Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 500cc


yang terjadi setelah bayi lahir per vaginam atau lebih dari 1000
ml setelah persalinan abdominal.

Menurut Joseph dan Nugroho, 2010. Perdarahan tidak normal


adalah perdarahan yang menyebabkan perubahan tanda
vital, seperti pasien mengeluh lemah, limbung, berkeringat
dingin, menggigil, hiperapnea, tekanan darah sistolik < 90
mmHg, denyut nadi > 100x/ menit, kadar Hb < 8 g/dL
Perdarahan post partum

1. Perdarahan post partum primer (Early Postpartum Hemorrhage)

Perdarahan Post Partum primer adalah Perdarahan yang terjadi


dalam 24 jam pertama dengan jumlah 500 cc atau lebih setelah kala
III.

2. Perdarahan post partum sekunder (Late Postpartum Hemorrhage)

Perdarahan yang terjadi sesudah 24 jam pertama dengan jumlah 500


cc atau lebih. Penyebab perdarahan post partum sekunder, antara
lain adalah retensio sisa plasenta, inversio uteri, endometritis, dan
hematoma.
Retensio sisa plasenta

Retensio sisa plasenta adalah tertinggalnya potongan-potongan plasenta


seperti kotiledon dan selaput plasenta yang menyebabkan terganggunya
kontraksi uterus sehingga sinus – sinus darah tetap terbuka dan menimbulkan
perdarahan post partum. (Prawiroharjo, 2008)
Etiologi

Implantasi plasenta
abnormal

Kala uri
Plasenta
berlangsung tidak
suksenturiatus
lancar
Faktor Predisposisi

• Plasenta previa

• Umur (semakin meningkatnya umur semakin meningkatnya resiko)

• grandemultipara

• Riwayat SC

• Riwayat kuret

• Riwayat kehamilan ganda


Patofisiologi

Plasenta tertanam pada desidua uteri

Janin lahir, uterus berkontraksi untuk mengeluarkan plasenta secara spontan

Penciutan kavum uteri

Adanya faktor predisposisi menjadi penyebab retensi sisa plasenta

Sisa plasenta mengakibatkan subinvolusi uteri

Menghambat penekanan pembuluh darah yang terbuka dan mengganggu


hemostasis
Gejala klinis/ laboratorium

Penemuan awal kasus retensio sisa plasenta hanya


dimungkinkan dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan
plasenta setelah dilahirkan. Pemeriksaan lebih lanjut juga
diperlukan pada kasus ini seperti pemeriksaan keadaan fisik,
keadaan umum, pemeriksaan laboratorium (Hb dan golongan
darah) serta pemeriksaan USG untuk melihat kemungkinan
adanya retensi sisa plasenta, gumpalan darah, atau selaput
ketuban yang tertinggal (Kemenkes RI, 2013).
Komplikasi

Komplikasi bergantung pada jumlah perdarahan yang dikeluarkan


akibat retensio sisa plasenta. Apabila perdarahan yang terjadi minimal
maka tidak menimbulkan kematian maternal. Faktor lain yang
mempengaruhi adalah kecepatan penanganan yang didapatkan
pasien dengan efisien dan aman. Retensio sisa plasenta yang masih
terdapat di dalam uterus pada masa nifas akan menyebabkan
perdarahan karena mengakibatkan kontraksi uterus tidak efektif
sehingga tidak dapat mengikat pembuluh darah.
Observasi keadaan Tanda-tanda vital, perdarahan
umum pervaginam, kontraksi uterus

penatalaksaan Input cairan infus

Aspirasi vakum
manual
Kolaborasi dengan
Eksplorasi
dokter SpOG

kuretase
Pemberian
antibiotik dan
terapi uterotonika
Kuretase pascasalin

 Kuretase adalah serangkaian proses dengan memanipulasi jaringan dan


instrumen untuk melepas jaringan yang melekat pada dinding uteri, dengan
jalan mengerok jaringan tersebut secara sistematis. Kuretase pascapersalinan
menjadi khusus karena dilakukan setelah lahir dan sebagian dari jaringan
plasenta masih melekat pada dinding kavum uteri.

 Indikasi :

 Sisa plasenta (pascapersalinan)

 Sisa selaput ketuban


SOP Kuretase
NY. DA Umur 28 Tahun P2 AB0 AH2
Post Partum 40 hari dengan Retensio Sisa Plasenta
Di RS Nur Hidayah
Pembahasan

Ny. DA menunjukkan adanya nyeri tekan bawah, kemudian pengeluaran darah dari
jalan lahir saat itu sebanyak satu pembalut penuh, dan didukung pula dengan hasil
laboratorium Hb 10.0 g% serta hasil pemeriksaan USG yang menunjukkan adanya sisa
jaringan plasenta. Hal tersebut juga sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh
Prawiroharjo (2008) yang menyatakan bahwa retensio sisa plasenta menimbulkan
perdarahan post partum. Hal ini dimungkinkan karena sisa plasenta menyebabkan
adanya pembuluh darah yang terbuka.
Pada kasus retensio sisa plasenta penatalaksanaan yang dapat dilakukan
yaitu eksplorasi digital atau dengan aspirasi vakum manual atau dilatasi dan
kuretase seperti yang dijelaskan oleh Kemenkes RI (2013), Oleh karena itu,
penatalaksanaan pada kasus Ny. DA yang merupakan ibu dengan
postpartum hari ke 40 dan serviks hanya dapat dilalui oleh instrument maka
penatalaksanaan yang tepat adalah kuretase dengan advice dokter SpOG.
TERIMAKASIH