Anda di halaman 1dari 8

KELOMPOK 7

1. ASTIAN ARTININGSIH 15312241002


2. HUSNADIAN NIKEN N 15312241024
3. SONIA SUKMA P 15312241033
KELAS IPA A
 Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984

 Dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang

Sistem Pendidikan Nasional.

 Berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan

mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan (satu tahun


menjadi tiga tahap) diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa
untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.

 Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-

kurikulum sebelumnya.
Pendidikan dasar diwajibkan menjadi 9 tahun (SD dan SMP). Berdasarkan
strukturnya, kurikulum 1994 berusaha menyatukan kurikulum sebelumnya,
yaitu kurikulum 1975 dengan pendekatan tujuan dan kurikulum 1994
dengan tujuan pendekatan proses.Terdapat ciri-ciri yang menonjol pada
kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut :
1. Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sIstem caturwulan.
2. Pembelajaran disekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup
padat.
3. Bersifat populis, yaitu memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua
siswa diseluruh Indonesia.
4. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru memilih dan menggunakan strategi
yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik dan
sosial.
5. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya
disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan
dan perkembangan berpikr siswa.
6. Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak,
dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dari hal yang
sederhana ke hal yang kompleks.
7. Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit
perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa.
1. Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran
dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran.
2. Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan
dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang
bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-
hari.
3. Proses pembelajaran bersifat klasikal dengan tujuan menguasai
materi pelajaran, guru sebagai pusat pembelajaran. Target
pembelajaran pada penyampaian materi.
4. Evaluasi atau sistem penilaian menekankan pada kemampuan
kognitif. Keberhasilan siswa diukur dan dilaporkan atas dasar
perolehan nilai yang dapat diperbandingkan dengan nilai siswa
lain. Ujian hanya menggunakan teknik paper and pencil test.
Penyempurnaan kurikulum 1994 dengan diberlakukannya Suplemen Kurikulum
1994 yang dinamakan suplemen 1999. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan
tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu:
1. Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan
kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
tuntutan kebutuhan masyarakat.
2. Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat
antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan
keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya.
3. Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi
materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
4. Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek terkait, seperti
tujuan materi, pembelajaran, evaluasi, dan sarana/ prasarana termasuk buku
pelajaran.
5. Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam
mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan
sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah.
6. Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah
dilaksanakan bertahap, yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan
penyempurnaan jangka panjang.
 Terlepas dari kesederhanaan yang ditunjuk dalam struktur, kurikulum
SMP/MTs 1994 memberikan beban belajar yang lebih tinggi kepada peserta
didik dengan jumlah mata pelajaran sebanyak 10, lebih sedikit dibandingkan
Kurikulum SMP 1984 (yang terbanyak dalam bidang studi) dan Kurikulum SMP
1975.
 Jam belajar peserta didik dalam Kurikulum SMP/MTs 1994 lebih tinggi yaitu 42
jam setiap semester dibandingkan Kurikulum SMP/MTs 1975 yang 37 jam
setiap semester dan Kurikulum SMP/MTs 1984 yang dimulai dengan 38 jam di
kelas I kemudian menurun ke 37 jam di kelas II dan menurun lagi menjadi 36
jam di kelas III.
 Kurikulum 1994 berisi tentang kewenangan pengembangan yang seluruhnya
berada ditangan pusat dan daerah sehingga sekolah tidak begitu terlibat,
kemudian tidak terjadi penataan materi, jam pelajaran serta struktur program
siswa hanya dianggap sebagai siswa yang harus menerima semua materi dan
tanpa mempraktekannya. Pembelajaran hanya dilakukan di dalam kelas dan
ketrampilan hanya dikembangkan melalui latihan soal. Mulyasa (Muhammad
Joko,2007:102-104)
 Dalam Kurikulum SMP/MTs 1994 mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam tidak dipecah menjadi Biologi dan Fisika
seperti yang dilakukan pada kurikulum SMP/MTs 1984.
 Dari sebelumnya terlihat bahwa kurikulum ini tidak atau kurang
mengena pada siswa untuk pendidikan IPA, mengingat bahwa
pendidikan IPA tidak sekedar mengajarkan konsep namun
membutuhkan proses ketrampilan. Sebagai contoh meneliti,
mengalanalisis dan membuat rancangan prosedur sehingga
kurikulum ini dirasa kurang baik dan akhirnya terjadi perubahan
kurikulum yang disebut KBK atau Kurikulum Berbasis
Kompetensi (kurikulum 2004).