Anda di halaman 1dari 57

Direktorat Pengukuran dan Pemetaan Dasar

DIREKTORAT JENDERAL INFRASTRUKTUR KEAGRARIAAN


KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/BADAN PERTANAHAN NASIONAL

Pelaksanaan Pekerjaan Pengukuran oleh


SURVEYOR KADASTER BERLISENSI
Melalui Swakelola Baik Rutin Maupun PTSL

Bandung, 30 November 2017


BAGIAN PERTAMA
SEKILAS MENGENAI
SURVEYOR KADASTER BERLISENSI
PERATURAN
1. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/
Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 33
Tahun 2016 tentang Surveyor Kadaster
Berlisensi
2. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/
Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 11
Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan
Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 33 Tahun 2016
tentang Surveyor Kadaster Berlisensi
LATAR BELAKANG
Pelaksanaan program percepatan pendaftaran tanah di seluruh
wilayah Republik Indonesia:

• Volume Pekerjaan meningkat secara signifikan


• Jumlah Petugas Ukur PNS terus berkurang karena:
• Pensiun
• Mutasi/Promosi
• Belum ada pengangkatan PNS baru (Moratorium)

Sehingga untuk mengatasi permasalahan SDM, diperlukan


penambahan SDM di bidang survei dan pemetaan yang direkrut dari
masyarakat, yang dikenal dengan
Surveyor Kadaster Berlisensi
DEFINISI-DEFINISI
Surveyor Kadaster Berlisensi (SKB)
adalah mitra kerja Kementerian Agraria dan
Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional yang
diangkat dan diberhentikan oleh Menteri
Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan
Pertanahan Nasional, yang terdiri dari
Surveyor Kadaster dan Asisten Surveyor
Kadaster.
SURVEYOR KADASTER (SK)
adalah seseorang yang mempunyai
keahlian dan ketrampilan dalam
menyelenggarakan proses survei dan
pemetaan pertanahan dalam rangka
pendaftaran tanah dan bertanggung jawab
mutlak dihadapan hukum atas data survei
dan pemetaan yang dihasilkan.
ASISTEN SURVEYOR KADASTER (ASK)
adalah seseorang yang mempunyai
keterampilan dalam menyelenggarakan
proses survei dan pemetaan pertanahan
dalam rangka pendaftaran tanah di bawah
supervisi seorang Surveyor Kadaster dan
bertanggung jawab mutlak atas data
survei dan pemetaan yang dihasilkan.
Lisensi
adalah pendelegasian kewenangan yang
diberikan oleh Menteri kepada Surveyor
Kadaster dan Asisten Surveyor Kadaster untuk
membantu Kementerian dalam melaksanakan
kegiatan survei, pengukuran dan pemetaan
dalam rangka pelayanan pertanahan
Kantor Jasa Surveyor Kadaster
Berlisensi (KJSKB)

adalah Surveyor Kadaster Berlisensi yang


berbentuk Badan Usaha, baik Perorangan
maupun Firma.
Pemimpin atau Pemimpin Rekan

adalah Surveyor Kadaster yang bertindak


selaku Pimpinan KJSKB
Protokol KJSKB
adalah kumpulan dokumen yang harus
disimpan dan dipelihara oleh Surveyor
Kadaster Berlisensi dalam KJSKB yang terdiri
dari daftar pekerjaan yang telah dilakukannya,
dokumen hasil-hasil survei pengukuran dan
pemetaan, data dan warkah pendukung,
laporan, agenda, dan surat-surat lainnya.
Dalam melaksanakan pekerjaannya, SKB
dapat:
• bertindak selaku Perorangan;
• bergabung atau membentuk Badan Usaha,
yaitu Kantor Jasa Surveyor Kadaster
Berlisensi (KJSKB); atau
• bergabung atau membentuk Badan Hukum
Perseroan (BHP) yang bergerak dalam
industri survei dan pemetaan serta informasi
geospasial.
SKB PERORANGAN
 Dalam hal SKB bertindak selaku Perorangan maka
SKB tersebut melaksanakan pekerjaannya secara
personal dan mandiri, tidak membentuk atau
bergabung dengan KJSKB atau BHP

 SKB Perorangan, baik Surveyor Kadaster maupun


Asisten Surveyor Kadaster dapat bekerja secara
mandiri dan tidak saling tergantung. Surveyor
Kadaster dapat melaksanakan pekerjaan survei dan
pemetaan tanpa Asisten Surveyor Kadaster. Demikian
pula Asisten Surveyor Kadaster dalam melaksanakan
pekerjaan survei dan pemetaan dapat secara mandiri
dan tidak di bawah supervisi Surveyor Kadaster.
 SKB Perorangan melaksanakan pekerjaan survei
dan pemetaan berdasarkan penugasan dari
Kepala Kantor Wilayah BPN, Kepala Kantor
Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk dalam
mekanisme pekerjaan swakelola oleh Kantor
Wilayah atau Kantor Pertanahan.

 Hasil pekerjaan survei dan pemetaan oleh SKB


Perorangan mendapat supervisi dan disahkan
oleh pejabat yang berwenang di Kantor Wilayah
BPN atau Kantor Pertanahan.
 Mempunyai
kewenangan sebatas
menandatangani
Gambar Ukur (GU)

 Peta Bidang Tanah


(PBT) dan Surat Ukur
(SU) ditandatangani
oleh Pejabat BPN
KJSKB
 KJSKB adalah Surveyor Kadaster Berlisensi yang
berbentuk Badan Usaha baik Perorangan
maupun Firma.
 Secara umum bisa diartikan bahwa KJSKB
merupakan wadah bagi kelompok Surveyor
Kadaster Berlisensi yang berbentuk badan usaha
dan bergerak di bidang jasa survei dan pemetaan
dalam rangka pelayanan pertanahan, yang telah
mendapatkan izin usaha dari pihak yang
berwenang dan telah memperoleh Surat Izin
Kerja dari Menteri ATR/BPN.
 KJSKB sebagai Badan Usaha Perorangan atau
KJSKB Perorangan didirikan oleh seorang Surveyor
Kadaster yang sekaligus bertindak sebagai
Pemimpin, dan beranggotakan paling sedikit 1
(satu) orang Asisten Surveyor Kadaster.

 KJSKB sebagai Badan Usaha Persekutuan atau


KJSKB Firma didirikan oleh paling sedikit 2 (dua)
orang Surveyor Kadaster, masing-masing sekutu
merupakan Rekan dengan salah seorang sekutu
bertindak sebagai Pemimpin Rekan, dan
beranggotakan paling sedikit 2 (dua) orang Asisten
Surveyor Kadaster.
 KJSKB sebagai Badan Usaha belum bisa
langsung melaksanakan pekerjaan di lingkungan
Kementerian ATR/BPN
 Untuk dapat melaksanakan pekerjaan di
lingkungan Kementerian, KJSKB harus memiliki
Surat Izin Kerja

Pemimpin atau Pemimpin Rekan dapat


mengajukan permohonan secara tertulis kepada
Menteri untuk mendapatkan Surat Izin Kerja
LAMPIRAN PERMOHONAN SURAT IZIN KERJA :

1. Fotocopy Akta Pendirian atau Perjanjian Pendirian KJSKB yang dibuat


oleh dan dihadapan Notaris;
2. Surat Keterangan Domisili KJSKB yang diterbitkan oleh instansi yang
berwenang atau pengelola gedung perkantoran;
3. Fotocopy kartu identitas penduduk Pemimpin atau Pemimpin Rekan;
4. Fotocopy kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Pemimpin atau
Pemimpin Rekan
5. Fotocopy kartu NPWP KJSKB;
6. Fotocopy kartu Lisensi Surveyor Kadaster dan Asisten Surveyor
Kadaster; dan
7. Daftar peralatan survei dan pemetaan yang dimiliki, disewa dan/atau
dikerjasamakan sekurang-kurangnya 2 (dua) unit alat ukur berupa GPS
Geodetik atau Total Station atau Teodolit Dijital.
8. Bukti pembayaran PNBP sesuai ketentuan
NAMA KJSKB

1. KJSKB Perorangan menggunakan nama Surveyor Kadaster yang


bersangkutan.
2. KJSKB Firma menggunakan nama salah seorang yang merupakan
Surveyor Kadaster dan ditambahkan frasa “dan Rekan” atau “&
Rekan”.
3. Dalam hal nama Surveyor Kadaster lebih dari 1 (satu) kata, nama KJSKB
harus menggunakan paling sedikit 1 (satu) kata yang merupakan bagian
dari nama lengkap Surveyor Kadaster.
4. Nama KJSKB dilarang menggunakan singkatan nama maupun gelar.
5. Apabila Surveyor Kadaster yang namanya digunakan sebagai nama
KJSKB meninggal dunia, maka nama KJSKB wajib diganti.
6. Apabila Surveyor Kadaster yang namanya digunakan sebagai nama
KJSKB sudah bukan merupakan anggota dari KJSKB dimaksud, maka
nama KJSKB wajib diganti.
7. Nama KJSKB dapat dipergunakan setelah memperoleh persetujuan dari
Menteri
RUANG LINGKUP PEKERJAAN KJSKB

• perencanaan survei dan pemetaan;


• pengorganisasian dan pelaksanaan survei
dan pemetaan; dan
• penyimpanan dan pengelolaan dokumen
hasil pelaksanaan pekerjaan survei dan
pemetaan dalam Buku Protokol.
Pekerjaan survei dan pemetaan yang
dilaksanakan meliputi :
• pendaftaran tanah untuk pertama kali;
• pemeliharaan data pendaftaran tanah;
• pengadaan tanah; dan
• layanan dan kegiatan pertanahan lainnya.
SUMBER PEMBIAYAAN
Sumber pembiayaan survei dan pemetaan
dapat berasal dari :
a. Pemerintah ;
b. Pemerintah Daerah ; atau
c. masyarakat
Pembiayaan yang bersumber dari anggaran
Pemerintah dan Pemerintah Daerah

dilakukan melalui mekanisme Pengadaan Barang/Jasa


Pemerintah

• Lelang; atau
• Pengadaan langsung
Pembiayaan yang bersumber dari masyarakat
dapat berupa:
• swadaya masyarakat (perorangan); atau
• bantuan dari badan usaha swasta dan badan usaha
pemerintah/daerah dalam bentuk tanggungjawab sosial
kepada pelanggan atau customer social responsibility (CSR);

Pembiayaan pekerjaan survei dan pemetaan yang bersumber


dari masyarakat didasarkan kepada tarif pelayanan yang
disepakati oleh para pihak dengan berpedoman kepada azas
kepatutan dan keterbukaan
Dalam hal pekerjaan survei dan pemetaan yang berasal
dari masyarakat, KJSKB dapat secara langsung
menerima permohonan dari masyarakat yang datang
ke KJSKB yang bersangkutan dengan luasan maksimal
10 hektar

Selanjutnya dalam rangka proses pelayanan pertanahan,


KJSKB wajib mendaftarkan permohonan dari
masyarakat tersebut ke Kantor Pertanahan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
Hasil pekerjaan survei dan pemetaan
bidang tanah adalah:

• Gambar Ukur, baik dalam bentuk analog maupun


digital;
• Peta Bidang Tanah dan produk pelayanan survei
dan pemetaan lainnya sesuai peraturan
perundang-undangan.

.
Gambar Ukur ditandatangani oleh:
• Surveyor Kadaster, dalam hal pengukuran
dilaksanakan oleh Surveyor Kadaster;
• Asisten Surveyor Kadaster, dalam hal pengukuran
dilaksanakan oleh Asisten Surveyor Kadaster

Gambar ukur dibuat rangkap 2 (dua), satu lembar asli disimpan


pada protokol KJSKB, satu lembar salinan yang dilegalisir oleh
Pemimpin atau Pemimpin Rekan diserahkan kepada Kantor
Pertanahan.

.
Peta Bidang Tanah dan produk pelayanan survei dan
pemetaan lainnya yang dilaksanakan oleh KJSKB
ditandatangani oleh Pemimpin atau Pemimpin Rekan
KJSKB

Peta Bidang Tanah di buat 3 (tiga) lembar, 1 (satu) lembar di simpan


pada Protokol KJSKB, 1 (satu) lembar digunakan untuk proses
pelayanan pertanahan dan 1 (satu) lembar diserahkan kepada
Pemohon
WILAYAH KERJA
KJSKB dan SKB mempunyai wilayah kerja dalam wilayah 1
(satu) Provinsi
Apabila dalam 1 (satu) wilayah provinsi tidak cukup atau tidak
terdapat KJSKB atau Surveyor Kadaster Berlisensi, maka
Menteri atau pejabat yang ditunjuk dapat menetapkan wilayah
kerja KJSKB dan Surveyor Kadaster Berlisensi untuk lebih dari
1 (satu) Provinsi.

Provinsi sebagai wilayah kerja tambahan adalah Provinsi yang


letaknya berbatasan langsung dengan Provinsi wilayah
kerja pertama / yang mempunyai kemudahan akses
KJSKB mempunyai wilayah kerja dalam 1 (satu) Propinsi, sehingga
dalam pelaksanaannya wajib berkantor pada 1 (satu)
Kabupaten/Kota dalam wilayah kerjanya dan apabila dibutuhkan
dapat membuka kantor cabang pada Kabupaten/Kota dalam wilayah
kerjanya.

Pembukaan kantor cabang ini harus memperhitungkan aspek


kecepatan pelayanan kepada masyarakat mengingat produk dari
KJSKB yaitu Peta Bidang Tanah atau produk layanan pertanahan
lainnya ditandatangani oleh Pemimpin atau Pemimpin Rekan.

Sehingga letak kantor cabang diupayakan pada kabupaten/kota yang


berbatasan langsung dengan kantor induknya / mempunyai
kemudahan akses dari kantor induknya.
WILAYAH KERJA

Dalam rangka melaksanakan program prioritas


pemerintah, Surveyor Kadaster Berlisensi
dapat melaksanakan pekerjaan di seluruh
wilayah Republik Indonesia
LAIN-LAIN
KJSKB dapat melaksanakan terlebih dahulu pekerjaan
survei dan pemetaan dalam rangka pendaftaran tanah
perorangan atau kelompok masyarakat maupun dalam
rangka persiapan pendaftaran tanah lengkap dalam suatu
desa/kelurahan

Produknya : Peta Dasar Pendaftaran

Peta Bidang Tanah dan Surat Ukur


dapat dikutip dari Peta Dasar Pendaftaran produk KJSKB
setelah disahkan penggunaannya oleh Kepala Kantor
Wilayah atau Kepala Kantor Pertanahan
BADAN HUKUM PERSEROAN
Selain KJSKB, Badan Hukum Perseroan (BHP) yang
bergerak di bidang industri survei, pemetaan dan
informasi geospasial dapat melaksanakan pekerjaan
survei dan pemetaan dalam rangka pendaftaran tanah.

Pekerjaan survei dan pemetaan yang dilaksanakan oleh


Badan Hukum Perseroan adalah pekerjaan yang
bersifat massal atau sistematik atau yang mempunyai
volume banyak, misalnya pekerjaan survei dan
pemetaan lengkap dalam satu desa/kelurahan.
SUMBER PEMBIAYAAN
Sumber pembiayaan survei dan pemetaan
dapat berasal dari :
a. Pemerintah ;
b. Pemerintah Daerah ; atau
c. masyarakat
Pembiayaan yang bersumber dari anggaran
Pemerintah atau Pemerintah Daerah

dilakukan melalui mekanisme Pengadaan Barang/Jasa


Pemerintah

Lelang
(massal/volume besar)
Pembiayaan yang bersumber dari masyarakat
dapat berupa:
• swadaya masyarakat; atau
• bantuan dari badan usaha swasta dan badan usaha
pemerintah/daerah dalam bentuk tanggungjawab sosial
kepada pelanggan atau customer social responsibility (CSR);

Pekerjaan survei dan pemetaan yang bersifat massal


( Desa/kelurahan lengkap)
Dalam rangka pekerjaan survei dan pemetaan massal (desa/kelurahan
lengkap), Pemimpin BHP wajib berkoordinasi dengan Kepala Kantor
Wilayah BPN atau Kepala Kantor Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk,
untuk mengetahui:
• informasi peta dasar;
• informasi tentang tanah yang sudah terdaftar dan/atau tanah yang
belum terdaftar; dan/atau
• informasi lainnya, yang menyangkut bidang tanah seperti sengketa
tanah, sita jaminan atau hak tanggungan.

Peta produk BHP (Peta Dasar Pendaftaran) dapat dipergunakan untuk


pelayanan pertanahan setelah diperiksa oleh Pejabat yang berwenang dan
disahkan penggunaannya oleh Kepala Kantor Wilayah BPN atau Kepala
Kantor Pertanahan.

Selanjutnya dalam rangka pelayanan pertanahan, Peta Bidang Tanah dan


Surat Ukur dapat dikutip dari Peta produk BHP tersebut.
Hasil pekerjaan survei dan pemetaan
bidang tanah adalah:

• Gambar Ukur, baik dalam bentuk analog maupun


digital;
• Peta Bidang Tanah dan produk pelayanan survei
dan pemetaan lainnya sesuai peraturan
perundang-undangan.

.
Gambar Ukur ditandatangani oleh:
• Surveyor Kadaster, dalam hal pengukuran
dilaksanakan oleh Surveyor Kadaster;
• Asisten Surveyor Kadaster, dalam hal pengukuran
dilaksanakan oleh Asisten Surveyor Kadaster

Gambar ukur dibuat 1 (satu) rangkap dan diserahkan kepada


Kanwil BPN / Kantor Pertanahan.

.
Peta Bidang Tanah dan produk pelayanan survei dan
pemetaan lainnya yang dilaksanakan oleh BHP
ditandatangani oleh SK yang ditunjuk oleh
Pemimpin BHP

Peta Bidang Tanah di buat 2 (dua) lembar, 1 (satu) lembar digunakan


untuk proses pelayanan pertanahan dan 1 (satu) lembar diserahkan
kepada Pemohon
BAGIAN KEDUA
MEKANISME SWAKELOLA PADA PEKERJAAN YANG
DILAKSANAKAN OLEH
SURVEYOR KADASTER BERLISENSI
Pada prinsipnya, pekerjaan survei dan
pemetaan dapat berasal dari:

Pemerintah (misalnya PTSL); atau


Masyarakat melalui mekanisme PNBP
(rutin)
 Pekerjaan survei dan pemetaan tersebut dalam
pelaksanaannya dapat dikerjakan :
• secara swakelola; atau
• oleh pihak swasta, yaitu KJSKB atau BHP

 Pemilihan pelaksanaan kegiatan survei dan


pemetaan, yaitu apakah akan dikerjakan secara
swakelola atau oleh pihak swasta tentunya melalui
analisa yang matang, terutama ketersediaan
petugas ukur (PNS) maupun SKB pada suatu
wilayah kerja.
Pilihan ini harus tepat karena pekerjaan
tersebut dibatasi oleh waktu.

Pilihan tersebut juga harus direncanakan


dengan matang, sehingga dapat berjalan
lancar dalam pelaksanaannya :
• Perencanaan Anggaran
• Perencanaan Lokasi
Permen ATR/BPN No.11/2017
Pasal 9A (2) :
“Surveyor Kadaster Berlisensi Perorangan
melaksanakan pekerjaan survei dan pemetaan
berdasarkan penugasan dari Kepala Kantor
Wilayah BPN, Kepala Kantor Pertanahan atau
pejabat yang ditunjuk dalam mekanisme
pekerjaan swakelola oleh Kantor Wilayah atau
Kantor Pertanahan”
SWAKELOLA PADA KANWIL ATAU KANTAH

Dalam rangka pelaksanaan pekerjaan survei


dan pemetaan, mengingat keterbatasan
petugas ukur (PNS) pada Kanwil BPN atau
Kantah, maka dapat dilakukan penugasan
kepada :
– PNS di luar bidang/seksi Infrastruktur
Pertanahan, yang telah mendapat pelatihan
singkat dibidang survei dan pemetaan
– SKB, baik SK maupun ASK.
Selanjutnya, khusus terhadap penugasan
kepada SKB dapat dilakukan per bidang /
per bulan / per desa/ kelurahan
(Petunjuk Teknis Nomor: 04/JUKNIS-300/VIII/2017 tanggal 23 Agustus
2017 tentang Surveyor Kadaster Berlisensi)
Tahapan pekerjaan Swakelola oleh SKB (1)
1. Kantor Wilayah BPN atau Kantor Pertanahan mengumumkan
pekerjaan survei dan pemetaan pada wilayah kerjanya.
2. SKB Perorangan yang berminat dapat mendaftar ke Kantor Wilayah BPN atau
Kantor Pertanahan.
3. Kepala Kantor Wilayah BPN atau Kepala Kantor Pertanahan menerbitkan
Surat Keputusan tentang SKB Perorangan sebagai Pelaksana Pekerjaan
Survei dan Pemetaan yang memenuhi persyaratan.
4. Surat Keputusan tersebut menjadi dasar Kepala Bidang atau Kepala Seksi
untuk menyampaikan Nota Dinas kepada PPK perihal Daftar Pekerjaan
Survei dan Pemetaan yang akan dilaksanakan oleh SKB Perorangan per
bidang tanah atau per bulan atau per desa/kelurahan.
5. PPK Kantor Wilayah BPN atau Kantor Pertanahan membuat Surat Perintah
Kerja pelaksanaan Pekerjaan Survei dan Pemetaan oleh SKB Perorangan.
6. Surat Perintah Kerja tersebut menjadi dasar Kepala Bidang atau Kepala
Seksi menerbitkan Surat Tugas Survei dan Pemetaan kepada SKB
Perorangan.
Tahapan pekerjaan Swakelola oleh SKB (2)
7. SKB Perorangan melaksanakan pekerjaan survei, dan pemetaan sesuai
peraturan perundang-undangan dan menyerahkan hasil pekerjaan kepada
Kepala Bidang atau Kepala Seksi dengan Berita Acara Penyelesaian
Pekerjaan.
8. Kepala Kantor Wilayah BPN atau Kepala Kantor Pertanahan menunjuk
pejabat di lingkungannya untuk melakukan pemeriksaan kualitas/kendali
mutu terhadap hasil pekerjaan survei dan pemetaan dari SKB Perorangan.
9. Dalam hal hasil pekerjaan dinyatakan telah memenuhi syarat teknis yang
ditentukan, maka dibuatkan Berita Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan.
10. Dalam hal hasil pekerjaan dinyatakan tidak memenuhi syarat teknis yang
ditentukan, maka SKB Perorangan wajib melakukan perbaikan terhadap hasil
pekerjaan dimaksud paling lambat 7 (tujuh) hari kerja.
11. Dalam hal Berita Acara telah ditandatangani, Kepala Bidang atau Kepala
Seksi menyampaikan Nota Dinas perihal Daftar Pekerjaan Survei dan
Pemetaan yang telah selesai kepada PPK.
12. Nota dinas tersebut menjadi dasar PPK memerintahkan Bendahara untuk
melakukan pembayaran secara langsung ke rekening sesuai dengan
penugasan disertai kuitansi kepada SKB Perorangan sebesar yang diterima
oleh Petugas Ukur di lingkungan Kementerian dan dipotong Pajak
Penghasilan (PPh) sesuai peraturan perundang-undangan.
RESUME
TABEL PERBEDAAN SKB PERORANGAN,
KJSKB DAN BHP
SKB Perorangan KJSKB BHP
Sumber Pembiayaan Pemerintah atau PEMDA dengan 1. Pemerintah atau PEMDA 1. Pemerintah atau PEMDA
mekanisme Swakelola dengan mekanisme PBJ dengan mekanisme PBJ
2. Swadaya Masyarakat 2. Swadaya Masyarakat

Pengesahan Produk
1. Gambar Ukur 1. Gambar Ukur : SKB 1. Gambar Ukur : SKB anggota 1. Gambar Ukur : SKB anggota
2. Peta Bidang Tanah Perorangan (SK atau ASK) KJSKB sebagai pelaksana BHP sebagai pelaksana
2. Peta Bidang Tanah : Pejabat pekerjaan (SK atau ASK) pekerjaan (SK atau ASK)
ATR/BPN 2. Peta Bidang Tanah : Pemimpin 2. Peta Bidang Tanah : SK yang
atau Pemimpin Rekan ditunjuk oleh Pemimpin BHP

Jenis Pekerjaan
1. Pendaftaran Pertama Kali 1. Pendaftaran Pertama Kali 1. Pendaftaran Pertama Kali
2. Pemeliharaan Data 2. Pemeliharaan Data 2. Pengadaan Tanah
Pendaftaran Tanah Pendaftaran Tanah
3. Pengadaan Tanah 3. Pengadaan Tanah
4. Layanan Pertanahan Lainnya 4. Layanan Pertanahan Lainnya

Arsip (GU atau PBT) Di Kanwil/Kantah Di Protokol KJSKB dan di Di Kanwil/Kantah


Kanwil/Kantah
TERIMA KASIH