Anda di halaman 1dari 23

KELOMPOK 2

Artha Dewi Nurani H (P1337430216143)


Ary Nova S (P1337430216144)
Audrey Devina B (P1337430216145)
Budi Andayani (P1337430216146)
Budi Noor Saleh (P1337430216147)
LATAR BELAKANG
Kedokteran nuklir adalah bidang kedokteran yang
memanfaatkan materi radioaktif untuk menegakkan
diagnosis, terapi penyakit serta penelitian.
Salah satu pemeriksaan kedokteran nuklir yaitu pada
pemeriksaan hepatobiliari yang terdiri dari organ seperti
hati, limpa, kandung empedu, dan duktus-duktusnya. Dengan
pemerikasaan kedokteran nuklir menggunakan
radiofarmaka Tc-99m dapat mendeteksi indikasi-indikasi
pada hepatobilier seperti lesi, massa, obstruksi, atresia
biliari dll. Pemeriksaan ini disebut scintigrafi hepatobiliari.
TUJUAN PENULISAN
Mengetahui teknik scanning hepatobiliari pada pemeriksaan
kedoktern nuklir.
MANFAAT PENULISAN
Manfaat teoritis
Diharapkan mampu memberikan wacana teori tentang teknik
scanning hepatobiliari pada pemeriksaan dengan menggunakan
teknik dan modalitas kedokteran nuklir.
Manfaat praktis
Dapat membantu menentukan tindakan optimal dalam scanning
hepatobilari pada pemeriksaan menggunakan kedokteran nuklir
dengan lebih memperhatikan proteksi radiasi dan segi efisiensi.
PROSEDUR KEDOKTERAN NUKLIR
HEPATOBILIARI
Scintigrafi adalah teknik yang menggambarkan secara grafis
distribusi radioaktivitas di dalam organ /seluruh tubuh.
Scintigrafi hepatobilari untuk mengevaluasi parenkim hepar dan
mendiagnosa atresia bilier yang berguna untuk melihat sistem
bilier ekstra hepatik .
Bertujuan untuk mengetahui uptake pada hepar, sistem bilier ke
usus sehingga dapat digunakan untuk membedakan atresia bilier
dari kolestasis oleh karena non obstruksi.
INDIKASI DAN KONTRA INDIKASI
Indikasi

- Kolesistitis akut atau kronik.


- Kebocoran sistem biliaris.

- Obstruksi traktus biliaris dan membedakan ikterus ‘

obstruksi dari non obstruksi.


- Atresia biliaris.

- Deteksi refluks cairan empedu ke arah gaster

- Hepatoma

- SOL/tumor inraparenkim hepar

Kontra Indikasi
- Wanita hamil / menyusui
RADIOFARMAKA
Radiofarmaka Tc-99m HIDA (Hepatobiliary Iminodiacetic Acid)
PERALATAN
• Persiapan
Peralatan dan Energy Window :
Gamma Camera : LEHR
Collimator : Low Energy,
Window width : 20% dipusatkan pada 140 kev
Siapkan Radiofarmaka Tc-99m HIDA spuit dengan aktivitas 5mCi
• Tindakan
Suntikan Radiofarmaka Tc-99m HIDA intra vena pada vena cubiti.
Lakukan static scan daerah liver gambaran anterior, posterior, lateral kanan
kiri, RAO, LPO, LAO, RPO, selama 500Kcount. SPECT-CT bila di perlukan.
POSISI PASIEN
TEKNIK SIDIK
Persiapan Pasien
Persiapan pasien puasa selama 2-4 jam sebelum
injeksi radiofarmaka.
Pasien Neonatus dianjurkan pemberian
phenobarbital 5mg/kg/hr selama 5 hari sebelum
pemeriksaan ditujukan untuk menguji gerakan
peristaltik usus.
• 99m Tc – HIDA, dosis 2-4 mCi secara IV. Dengan
menggunakan spuit 3 cc, suntikkan eluat Tc 99m dengan volume
sesuai petunjuk tiap-tiap kit, (maksimal aktivitas 50 m Ci).
Sebelum mencabut spuit dari vial, hisap udara ke dalam spuit
sesuai volume injeksi. Goyang atau bolak-balik vial selama 10
detik untuk penandaan kit dengan Tc 99m (HIDA).
• Ukur aktivitas, volume dan tuliskan pada etiket vial beserta saat
pengukuran.
• Biarkan 20 menit sebelum injeksi. Preparat ini dapat disimpan
pada suhu 2o-20oC.
• Penggunaan maksimal 6 jam setelah selesai elusi. Radiofarmaka
99m Tc-HIDA 5 mCi yang diambil dengan cara elusi dari
generator, 99m Tc kemudian diukur dengan dose kalibrator
sampai dihasilkan jumlah yang diinginkan.
CONT’
• Keadaan normal
setelah penyuntikan
5 menit penangkapan radiofarmaka maksimal.
30-40 menit duktus sistikus, duktus biliaris
komunikus dan kandung empedu
• Pada kolesistitis akut
setelah 4 jam kandung empedu tidak akan terlihat,
sedangkan hati dan duktus biliaris komunikus tampak normal.
• Pada kolesistitis kronis
2 jam kemudian atau 4 jam terlihat kandung empedu.
Pada atresia, duktus biliaris akan terlihat terhenti pada
ketinggian atresia, radiofarmaka akan diekskresikan melalui
ginjal, sehingga pada pencitraan akan tampak jelas
penangkapan radioaktivitas di kedua ginjal. Bila terjadi refluks,
aliran radiofarmaka akan tampak berjalan ke arah cranial
(masuk ke duodenum pars transversum bahkan bisa ke gaster
menimbulkan bile gastritis).

Untuk menentukan kebocoran sistem traktus biliaris pencitraan


dilakukan sampai 4 jam, kemudian dilakukan pencitraan ulangan
pada 12 dan 24 jam setelah penyuntikan .
SCANNING HATI DAN LIMPA

Indikasi
• Mengevaluasi bentuk, ukuran dan letak hati dan limpa.
• Menedeteksi lesi fokal, seperti keganasan primer,
keganasan sekunder, abses, kista, dll.
• Mendeteksi lesi difus, seperti : sirosis hati.
• Mengevaluasi massa di abdomen, seperti: abses
subfrenik dan massa retroperitoneal.
CON’T
Pemeriksaan
Menggunakan isotop Tc-99m mikrokoloidal dengan dosis 1-2
mCi secara IV.
Diberikan 1-2 mCi Tc-99m mikrokoloidal IV, scanning dilakukan
20 menitsetelah suntikan.
Digunakan kamera gamma dengam energi rendah, kolimator
paralel, dan window 25-30%
Tiap citra paling sedikit mencatat 300.000 counts.
CON’T
Untuk hati dilakukan dari sisi kanan, sedangkan untuk limpa dilakukan dari
belakang dan samping kiri.
Posisi umbilicus, processus xypois, arcus costae dan batas bawah hati, limpa,
serta massa abdomen yang lain, diberi tanda.
Normalnya up-take radiofarmaka di hati dan limpa adalah merata. Citra
dari belakang akan menunjukkan densitas yang sama antara aktivitas di hati
dan limpa. Variasi normal dapat terjadi berupa penurunan aktivitas fokal,
misal di hilus dan tempat keluarnya vena hepatika atau penekanan ginjal dan
tertutupnya permukaan kaudoventral hati oleh kandung empedu. Defek fokal
terjadi pada keganansan primer atau sekunder, abses, trauma, defek
kongenital, sikatrik, dan kista.Perubahan ukuran terjadi pada sirosis hati,
limfoma, leukemis, bendungan, dll. Kekurangan pemeriksaan ini adalah tidak
spesifik karena lesi kecil yang dapat dinilai sekitar 2,5 – 3 cm, tidak dapat
membedakan jinak atau ganas.
SCANNING HATI DAN EMPEDU

INDIKASI
• Membedakan ikterus obstruktif dan non-
obstruktif, obstrusi parsial atau non-parsial.
• Membedakan lobus kiri hati dari limpa, karena
dengan radiofarmaka tipe koloid (seperti
pada teknik scanning hati dan limpa), tidak
dapat dibedakan.
CON’T

Pemeriksaan
Menggunakan isotop Tc-99m HIDA dengan dosis 2-4 mCi secara
IV.
Scanning I : 15 menit setelah injeksi, dilakukan dari depan dan
samping kanan untuk menilai kedaan hati.
Scanning II : 15 – 30 menit setelah injeksi, hanya dari depan
untuk menilaisaluran dan kandung empedu.
Scanning III : 60 menit setelah injeksi, menilai kandung empedu
dan aktivitas di usus-usus.
CON’T
Bila diperlukan, scanning IV : 20 jam setelah injeksi, menunjukkan
aktivitas di usus besar.
Kerusakan parenkim hati akan tampak sebagai hole (lubang).
Bendungan atau pelebaran ditunjukkan dengan saluran empedu yang
akan tampak jelas. Kolesisitis ditunjukkan dengan tak tampaknya
aktivitas di kandung empedu. Obstrusi total pada usus dapat
ditegakkan bila pada scanning IV tetap tidak tampak aktivitas usus
halus. Kekurangan pemeriksaan ini adalah tidak mutlak dapat
membedakan jenis ikterus. Sukar dibedakan antara aktivitas ginjal
pada kasus-kasus obstruksi hati dengan aktivitas dalam usus.Bila
bilirubin darah > 10mg %, maka tidak dapat menilai citra hati.
CITRA HASIL PEMERIKSAAN
(I.M LESKIV, RADIOLOGICAL EXAMINATION OF THE LIVER, BILIARY TRACT AND PANCREAS)

a b

a) Scan HIDA normal, terisi radiofarmaka yang terlihat jelas pada gallbladder.
Aktifitasnya juga terjadi di duodenum dan small bowel
b) Obstruksi Cyst Duct. Scan HIDA dilakukan pada pasien dengan acute right upper
quadrant pain menunjukkan sistem duktus tetapi gall bladder tidak terisi
CON’T

Hasil scanning kandung empedu dengan cholocystitis (Kenneth M. Montini & Tulchinsky MD,
Applied hepatobiliary scintigraphy in acute cholocystitis)
KESIMPULAN
Kedokteran nuklir adalah bidang kedokteran yang memanfaatkan
materi radioaktif untuk menegakkan diagnosis, terapi penyakit serta
penelitian.Salah satu pemeriksaan kedokteran nuklir yaitu pada
pemeriksaan hepatobiliari yang terdiri dari organ seperti hati, limpa,
kandung empedu, dan duktus-duktusnya.
Pemeriksaan tersebut menggunakan radionuklida Tc-99m. Dapat
digunakan dalam mendeteksi indikasi-indikasi pada hepatobilier
seperti lesi, massa, obstruksi, atresia biliari dll. Seperti digunakannya
pemeriksaan dengan scintigrafi hepatobiliari. Pemeriksaan
scintigrafi hepatobilier merupakan pemeriksaan yang tepat untuk
mendiagnosa atresia bilier yang berguna untuk melihat sistem bilier
ekstra hepatik dengan menggunakan radiofarmaka 99m Tc – HIDA
dengan cara dimasukkan melalui intravenous