Anda di halaman 1dari 170

SELAMAT PAGI ……

180 Menit Kedepan


Kita Memasuki Sesi IV (Keempat)

MATA KULIAH
PERENCANAAN BANGUNAN SIPIL

MATERI : BENDUNGAN

1
DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim, 1974, Design of Small Dam, USBR…..
2. Sosrodarsono S. dan Kensaku Takeda, 1989, Bendungan
Tipe Urugan, Jakarta; Pradnya Paramita.
3. Sudibyo, 1993, Teknik Bendungan, Pradnya Paramita,
Jakarta.
4. Masrevaniah, A. 2010, Konstruksi Bendungan Urugan,
Volume I , Penerbit CV. Asrori Malang.
5. UU no 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air
6. PP No 37 Tahun 2010 tentang Bendungan
7. Beberapa buku Pedoman dari Federal Emergency Management
Agency (FEMA) – USA
8. NSPM (Norma Standar Peraturan Manual) Bendungan
Indonesia…

2
PEMBANGUNAN WADUK DI INDONESIA
Pembangunan waduk-waduk besar di Indonesia pada umumnya
berlangsung sebelum dan selama masa pemerintahan Orde Baru pada
tahun 1960-1997. Hampir lebih dari 70% waduk di Indonesia dibangun
pada saat itu (Buku Bendungan Besar Indonesia, 1990).

Namun seiring dengan keterpurukan ekonomi akibat krisis yang


berkepanjangan pada masa akhir Orde Baru (tahun 1998), pembangunan
waduk dapat dikatakan hampir tidak ada atau kalaupun ada jumlahnya
sangat terbatas.

Sudjarwadi (1989), mengidentifikasi persoalan dalam membangun waduk


antara lain:
1. kesulitan lahan akibat besarnya luasan lahan yang harus disediakan,
2. adanya alih fungsi lahan,
3. adanya ketimpangan daerah hulu dan hilir dalam aspek pemanfaatan
waduk,
4. dan akibat dari dampak lingkungan yang merugikan seperti
penghilangan sebagian hutan di daerah hulu yang mengancam
sumber air.

3
1. PENGENALAN
BENDUNGAN

4
BENDUNGAN
1. Bendungan adalah bangunan yang dibangun melintang
sungai untuk meninggikan muka air dan membuat
tampungan air yang lazim disebut WADUK.
2. Dengan tujuan :
1. Single Purpose
2. Multi Purpose
3. Sejarah Bendungan
Dam atau Bendungan dibuat ± 5.000 tahun lalu.
dengan bukti Prasejarah di Persia, Mesir, China,
Mesopotamia, Romawi… teknologi sederhana
Tahun 1850 an dibangun rockfill dam di Inggris

Abad 20 –
a. 1926 Ner Axchequer Dam USA 146 m
b. 1968 orovile Dam USA 200 m
c. 1989 Rogun Dam Rusia 335 m tertinggi
5
BENDUNGAN di DUNIA
Bendungan di Indonesia : ± 500 buah,

Dunia :44.645 buah,


terbanyak
1. China : 23.034 buah.
2. selanjutnya :USA
3. India
4. Spanyol
5. Jepang
6. Kanada
7. Korea
8. Turki
9. Brazil
10.Perancis
1. Jatiluhur (Ir. H. Juanda) di Jawa Barat dibangun tahun 1957 –
1967
2. Karangkates (Ir. Sutami) di Jawa Timur dibangun tahun 1975 –
1977
3. Sigura-gura (Sungai Asahan) Sumatera Utara dibangun tahun
1978-1981
4. Batutegi Lampung
5. Gajahmungkur Jawa Tengah
6. Wonorejo Jawa Timur
7. Riam Kanan Kalsel
8. Batujai NTB
9. Tilong NTT
10. Bili-Bili Sulawesi Selatan
Bendungan Bendungan
Jatiluhur karangkates
Jawa Barat Malang

Bendungan Bendungan
Sigura-Gura Wonorejo
Asahan Tulungagung
Medan

Bendungan Bendungan
Barutegi Gajahmungkur
Lampung Wonogiri
SPILL WAY BENDUNGAN
JATILUHUR
(MORNING GLORY)
Gambar Bangunan Pengeluaran dan Pelimpah Bendungan
Serba guna Juanda
10
Bendungan Benel di Kabupaten Jembrana Bali
11
BENDUNGAN SAGULING MANFAAT UTAMA PLTA
H = 99 m, V = 982 juta m3

12
BENDUNGAN BALAMBANO TIPE RCC (ROLLER COMPACTED BENDUNGAN BATU BESI / LARONA TIPE
CONCRETE H=99m, V=32 juta m3 URUGAN BATU H=35 m, V=585 juta m3

BENDUNGAN KAREBBE,
BENDUNGAN PENAMPUNG SEDIMEN FIONA TIPE BETON GRAVITI
TIPE URUGAN BATU

13
MATERIAL TAILING,
CAMPURAN BUBUK
BATU, AIR , SIANIDA

14
BAGIAN – BAGIAN BENDUNGAN

15
16
17
2. PRINSIP PERENCANAAN
BENDUNGAN URUGAN

18
DAFTAR ISI
1. PENDAHULUAN
2. TAHAP PERENCANAAN BENDUNGAN
3. STUDI KELAYAKAN
4. TUJUAN PEMBANGUNAN, PEMILIHAN LOKASI
dan TIPE
5. KRITERIA POKOK DAN STRATEGI DESAIN
6. SURVEI DAN INVESTIGASI
7. DESAIN FONDASI BENDUNGAN URUGAN
8. DESAIN TUBUH BENDUNGAN URUGAN
9. ANALISIS DESAIN
10. INSTRUMENTASI
11. BANGUNAN PELENGKAP
19
BENDUNGAN (BESAR)
1. H>15m, S>100.000
m3
RISIKO ATAU
2. H > 10~15m, IKUTI PENUH
TEKNOLOGI ATURAN
dengan:
TINGGI KEAMAMAN
- L >500m, atau
BENDUNGAN
- S >500.000 m3, atau
H < 10 m
- Q max >1000 m3/dt
H =2,5 ~10 m;
BANGUNAN S<500.000 m3 ?
PENAHAN AIR
RISIKO RENDAH?
PEMBANG
KRETERIA DESAIN?
dan REHAB,
(Q=500~1000 th; W>1,0 m)
LAPORKAN
BENDUNGAN KE MENTERI
EMBUNG KECIL
LAIN DTA<1 km2 ,off stream PU /KKB
H= Tinggi bendunan diukur
dari dasar galian pondasi Tipe Urugan H <10 m OK
S= Storage Pasangan/beton H<6m
L= Panjang puncak bendungan
KRETERIA DESAIN:
Q=50~100 th;
BAGAN KONSEP PENGATURAN W>0,5 m + settlemen 0,25m
KEAMANAN BENDUNGAN UNTUK
BERBAGAI UKURAN BENDUNGAN EMBUNG PERTANIAN
dan TINGKAT RISIKO H =2,5 ~3m; S<500m3

20
I. PENDAHULUAN

Bendungan disamping memiliki manfaat yang


besar, juga menyimpang potensi bahaya yang
besar pula.
Bendungan yang runtuh akan menimbulkan banjir
bandang yang akan mengakibatkan timbulnya
korban jiwa, harta benda dan kerusakan
lingkungan yang sangat parah di daerah hilir.

Oleh karenanya desain bendungan bendungan


harus aman atau layak teknis.

21
Causes of Failure
Historically 1% of dams built have failed
Average 10 significant failures each
decade
Major causes of breaching:
 overtopping during flood (26%)
 internal erosion (39%)
 piping through embankment
 piping through foundations
 external erosion (17%)
 sliding, deformation (embankment
slopes, dam foundation) (12%)
22
Bendungan Teton (Amerika Serikat) runtuh 5 Juni
1976
Lembah hilir dan beberapa bangunan fasilitas di hilir bendungan tergenang banjir
akibat runtuhnya bendungan. (Foto oleh Mrs. Eunice Olson, 5 Juni 1976).

23
Situ Gintung Dam Failure

24
II. TAHAP PERENCANAAN
BENDUNGAN
2.1 Umum
Agar diperoleh desain bendungan yang aman:
1). Perencana dan pengawas pekerjaan desain harus benar-
benar memahami :
 filosofi desain bendungan, serta
 konsepsi dan kaidah-kaidah keamanan bendungan yang
tertuang dalam berbagai NSPM.
2). Perencanaan bendungan harus dilaksanakan tahap demi
tahap sesuai dengan peraturan yg berlaku:
- PP 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi
- UU 7/2004 tentang Sumber Daya Air
- PP 37/2010 tentang Bendungan
3). Kerangka acuan kerja harus rinci, jelas dan lengkap
4). Perencana dan pelaksana mau belajar dari pengalaman
kegagalan bendungan2 lain, dll.
25
 PP No.29 th 2000, PS 26: Ayat 1:
“Dalam perencanaan pekerjaan konstruksi dengan pekerjaan risiko
tinggi harus dilakukan :
- Pra Studi Kelayakan,
- Studi Kelayakan,
- Perencanaan umum, dan
- Perencanaan Teknik”.

SANKSI : PELANGGARAN TERHADAP ATURAN TSB OLEH PEMILIK,


KONSULTAN, ATAU KONTRAKTOR, AKAN MENDAPAT SANKSI
SEBAGAIMANA DIATUR PADA PASAL 57, 58, 59 PP TSB, MULAI DARI:
- PERINGATAN TERTULIS,
- PENGHENTIAN KEGIATAN, PEMBEKUAN IZIN SAMPAI
- PENCABUTAN USAHA ATAU PROFESI.

26
2.3 TAHAP PERENCANAAN BENDUNGAN
menurut UU 7/2004 tentang SDA
Pembangunan bendungan adalah merupakan salah satu upaya
dalam pengembangan dan pengusahaan SDA yang pelaksanaannya
harus:
- mengacu pada “pola pengelolaan SDA” (ayat 1 ps 26);
- tanpa merusak keseimbangan lingkungan hidup (ayat 2 ps 34);
dan
- berdasar pada “rencana pengelolaan SDA” (ayat 3 ps 34).
Pelaks pembangunan SDA sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilakukan melalui:
- konsultasi publik,
- tahapan survei,
- investigasi, dan
- perencanaan,
- serta berdasar pada kelayakan teknis, ekonomi dan lingkungan
hidup.

27
TAHAPAN UMUM PERENCANAAN BENDUNGAN
SESUAI PP 29 TH 2000 DAN UU 7/2004

ps 26 PP 29/200
ps 26 UU SDA ps 34 UU SDA (bagi bendungan
berisiko tinggi)

STUDI KELAYAKAN
POLA PENGE- RENCANA PENGE- PRA Studi (TEKNIK, EKONOMI, LINGKUNGAN)
LOLAAN SDA LOLAAN SDA Kelayakan
+ PERENCANAAN UMUM
+ BASIC DESIGN

Perlu bendungan/ tidak?


PERENC TEKNIS /
DESAIN RINCI

- Inventarisasi potensi SDA ps 26 UU SDA:


- Daya dukung SDA pembangunan SDA
dilakukan melalui
- Rencana tata ruang konsultasi publik
-Inventarisasi kebutuhan air
Ps 34: tanpa merusak
-Kemampuan dana keseimbangan lingkungan
- Kelestarian hayati air Ps 7 PP 37/2010 Tahapan
pembangunan Bendungan

28
BAHASAN :
- Kondisi umum : Informasi yg hrs dikumpulkan konsultan a.l : lokasi,
iklim, fisiografi (geologi, topografi, tanah/land suitability), DAS, tata
guna lahan, pemanfaatan SDA, tata pengaturan air, sosekbud,
pertanian, program pendukung pertanian dll.
- Perumusan alternatif : pengembangan alt,  3 alt  1 alt.

- Tinjauan teknik : lokasi, tipe, tinggi, manfaat, pola operasi.

- Tinjauan ekonomi : tujuan, kriteria investasi, tes sensitivitas.

- Tinjauan lingkungan : tujuan, daerah yg distudi, hasil studi.

- Perencanaan umum : cakupan  gambaran umum, viability konstr,


dasar pemilihan tipe & dimensi, tata letak, dll.

TUJUAN STUDI KELAYAKAN


- KELAYAKAN TEKNIK
- EKONOMI
- LINGKUNGAN.

29
3.2. LANGKAH PEMILIHAN ALTERNATIF:
1. PELAJARI SEMUA ALT YG DPT DIKEMBANGKAN, BERDASAR PERTIMB
UTAMA: ASPEK TEKNIK TERKAIT DG: LOKASI, TIPE, TINGGI,
MANFAAT, POLA OPERASI, DLL.
2. DARI BERBAGAI ALTERNATIF TERSEBUT, KEMUDIAN PILIH MINIMAL 3
ALTERNATIF TERBAIK BERDASAR TINJAUAN AWAL ASPEK: TEKNIK,
EKONOMI DAN LINGKUNGAN,
DENGAN FOKUS PADA PERTIMBANGAN: KEMUDAHAN
PELAKSANAAN, TERKAIT DENGAN MASALAH:
- PEMBEBASAN LAHAN,
- MATERIAL,
- SKILL DAN PENGALAMAN TENAGA, DLL.
MASING-MASING ALTERNATIF, LENGKAPI DENGAN:
GAMBAR TATA LETAK, SKET BANGUNAN PENTING, SISTEM OPRS DAN
ANALASIS AWAL TEKNIK, EKONOMI DAN LINGKUNGAN
3. LAKUKAN PILIHAN AKHIR BERDASAR EVALUASI KOMPREHENSIF DR
ASPEK: TEKNIK, EKONOMI, LINGKUNGAN (DAMPAK NEGATIF),
MANFAAT, ASPIRASI MASYRKT  BAGI ALT YG DIPILIH LENGKAPI
DENGAN RENCANA UMUM DAN BASIC DESIGN

30
3.3. TINJAUAN TEKNIK:
1. LOKASI: TINJAU BERDASAR KONDISI TOPOGRAFI, GEOLOGI
PONDASI DAN VOL TAMPUNGAN.
2. TIPE : TINJAU BERDASAR: KETERSEDIAAN MATERIAL,
KEAHLIAN & PENGALAMAN TENAGA PELAKSANA,
KEMUDAHAN PELAKSANAAN, DLL.
3. TINGGI: TINJAU BERDASAR: VOLUME TAMPUNGAN, GEOLOGI
PONDASI, TOPOGRAFI, HIDROLOGI, DLL.
4. MANFAAT: YG DPT DIKEMBANGKAN: IRIGASI, PLTA,
PENGENDALI BANJIR, AIR BAKU, DLL.
5. POLA OPERASI WADUK: WADUK HARIAN, TAHUNAN,
PENGENDALI BANJIR, PEMENUHAN AIR IRIGASI, AIR BAKU,
PLTA BEBAN NORMAL / BEBAN PUNCAK, DLL.

31
TINJAUAN DILAKUKAN UTK MENILAI ALTERNATIF PROYEK THD MANFAAT DAN
BIAYA BERDASAR HARGA FINANSIAL DAN EKONOMI (SHADOW PRICE).

 KRITERIA INVESTASI:
PILIHAN DILAKUKAN BERDASAR ARUS BIAYA DAN MANFAAT Y.A.D SELAMA
UMUR EKONOMI BENDUNGAN BERDASAR 3 PENDEKATAN:
- NPV  HARUS POSITIF,
- IRR (EIRR & FIRR)  LAZIMNYA > 12%
- BCR  >1

CATATAN : DALAM ANALISIS, HARGA FINANSIAL PRODUK PERTANIAN


MENGGUNAKAN PREDIKSI HARGA YANG DIKELUARKAN OLEH FAO ATAU BANK
DUNIA

 TES SENSITIVITAS:
UTK PROYEK YG TERKAIT DG PERTANIAN, LAZIM DILAKUKAN TES SENSITIVITAS
DG PERUBAHAN PARAMETR SBB:
1). BERTAMBAHNYA BIAYA
2). MUNDURNYA PELAKSANAAN
3). TURUNNYA HASIL/PRODUKSI.
4). TURUNNYA HARGA PRODUKSI

32
 DILAKUKAN UNTUK : MENGKAJI DAMPAK PENTING
YG AKAN TERJADI AKIBAT INTERAKSI ANTARA
KOMPONEN KEGIATAN YG DIRENCANAKAN DENGAN
KOMPONEN LINGKUNGAN HIDUP, YG PERLU
DIKELOLA DAN DIPANTAU AGAR DAMPAK NEGATIF
DPT DITEKAN SEKECIL MUNGKN, DAN DAMPAK
POSITIF YG TERJADI DPT LEBIH DIKEMBANGKAN
 TINJAUAN DILAKUKAN MELALUI STUDI AMDAL
 HASIL STUDI HRS DPT MEMBERI MASUKAN THD
DESAIN DAN PELAKS KEGIATAN PROYEK.

33
3.8. DESAIN AWAL (BASIC DESIGN ) :
BASIC DESIGN, ADALAH DESAIN (DEFINITIF) YANG
MENCAKUP DESAIN BANGUNAN-BANGUNAN POKOK
SEPERTI: TUBUH BENDUNGAN, PELIMPAH, BANGUNAN
PENGAMBILAN, PENGELAK, DLL, YG DIDUKUNG DG SURVIN

SURVAI DAN INVESTIGASI (SURVIN):


1). HIDROLOGI : KETERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN AIR, OPERASI
WADUK, BANJIR RENCANA, PENELUSURAN BANJIR.
2). TOPOGRAFI : PENGADAAN PETA DAS; PENGUKURAN DAERAH
GENANGAN, LOKASI BENDUNGAN, SUMBER MATERIAL, DLL.
3). GEOTEKNIK: PEMETAAN GEOTEK SEKITAR BENDUNGAN,
PENYELIDIKAN PONDASI BENDUNGAN/BORING SEKITAR 6
TITIK, TESPIT BORROW AREA MINIMAL 3 TTK, BORING DI
QUARRY, PENDUGAAN GEOFISIK SEKITAR 7 JALUR (bila
perlu), DLL.

34
35
36
V. KRITERIA POKOK DAN STRATEGI
DESAIN
5.1 KONSEPSI KEAMANAN BENDUNGAN
Bendungan dianggap aman apabila pembangunan dan pengelolaan
bendungan dilaksanakan sesuai dengan konsepsi dan kaidah-
kaidah/NSPM keamanan bendungan. Konsepsi Keamanan Bendungan
memiliki 3 pilar sebagai berikut:
1). Pilar I : Keamanan struktur / bangunan
Bendungan harus kokoh, aman pada segala kondisi dan kombinasi beban
yang bekerja dan aman dioperasikan pada segala kondisi operasi (kondisi
normal maupun luar biasa)  harus memenuhi kriteria desain.
2). Pilar II: Pemantauan dan pemeliharaan
Bendungan harus selalu dipantau shg dpt diketahui sedini mungkin setiap
problem yg sedang berkembang sebelum menjadi ancaman yg nyata
dan selalu dipelihara shg selalu siap dioperasikan pada segala kondisi
operasi.
3). Pilar III :Konsepsi tindak darurat  Pemilik/Pengelola bendungan harus
selalu siap menghadapi kondisi terburuk dari bendungan yang dimiliki
/dikelolanya. Penanganan pada kondisi darurat tidak dibenarkan
dilakukan dengan cara ”improvisasi”/coba-coba tetapi harus berdasarkan
RENCANA TINDAK DARURAT yang telah disiapkan secara matang.

37
KONSEPSI KEAMANAN BENDUNGAN

38
5.2 Kriteria Pokok Desain Bendungan :
1). Aman thd kegagalan stuktur (structural failure)
 bendungan harus aman pada segala kondisi
dan kombinasi beban kerja dan dalam segala
kondisi operasi
2). Aman thd kegagalan hidraulik (hydraulic failure)
3). Aman thd kegagalan rembesan (seepage failure)

39
1). Bendungan harus selalu aman pada segala kondisi
dan kombinasi beban kerja dalam segala kondisi
operasi.
Bendungan secara keseluruhan, termasuk tubuh
bendungan, pondasi, abutment (bukit tumpuan)
dan lereng sekeliling waduk, harus selalu stabil
dalam kondisi apapun termasuk kondisi gempa
bumi dan segala kondisi operasi (rembesan
tetap, surut cepat dan luar biasa) selama umur
bendungan.

2). Harus tersedia prasarana dan sarana operasi yang


dapat dioperasikan pada kondisi normal maupun
darurat, dan sarana untuk keperluan pemantauan,
perbaikan dan rehabilitasi.

40
AMAN TERHADAP KEGAGALAN STRUKTUR :
BENDUNGAN HARUS AMAN PADA SEGALA KONDISI DAN
KOMBINISI BEBAN YANG BEKERJA
DAN AMAN DIOPERASIKAN PADA KONDISI NORMAL
MAUPUN DARURAT/LUAR BIASA
41
AKSES MENUJU
PINTU PELIMPAH
KURANG AMAN
KHUSUSNYA PADA
KONDISI BEBAN
LUAR BIASA

TIDAK TERSEDIA
AKSES MENUJU
INTAKE TOWER
TIDAK AMAN UTK
DIOPERASIKAN

42
1). PELIMPAH HARUS MAMPU MELEWATKAN BANJIR DESAIN DG
AMAN. Kapasitas bangunan pelimpah harus cukup untuk
mengalirkan banjir desain sesuai SNI 03-3432-1994, dan alirannya
tidak boleh membahayakan terhadap bangunan pelimpah sendiri
maupun tubuh bendungan.

2). SETELAH SELESAINYA PROSES SETTLEMENT TUBUH


BENDUNGAN, TINGGI JAGAAN HARUS MASIH CUKUP UNTUK
MENAHAN: KENAIKAN MUKA AIR WADUK AKIBAT ANGIN, SERTA
HEMPASAN DAN RAYAPAN GELOMBANG YANG TIMBUL AKIBAT
TIUPAN ANGIN DAN GEMPA .

3). LERENG BENDUNGAN HARUS TERLINDUNG DAN TAHAN


TERHADAP EROSI PERMUKAAN.

4). PD KONDISI DARURAT, SARANA PENGELUARAN BAWAH MAMPU


MENURUNKAN MUKA AIR WADUK DENGAN CEPAT SESUAI
KEBUTUHAN (KRITERIA INI BELUM MENJADI KEHARUSAN).

5). DLL.

43
SNI 03-3432-1994

44
45
Ditinjau berdasar 3 kondisi, kemudian dipilih yang terbesar:
A. Konsekuensi besar:
1). Kondisi muka air waduk normal,
H1 = (0,75 Hw + Hs + Hr + He + hu) + hc

2). Kondisi banjir 1000 tahunan atau 0,5 PMF,


H2 = (0,75 Hw + HS + Hr +hu) + hc

3). Kondisi banjir maksimum PMF,


H3 > 0,75 m (untuk pelimpah tanpa pintu)

Keterangan :
 Hw = tinggi gelombang akibat angin (menurut Molitor Stevenson)
 Hs = peningkatan tinggi muka air akibat angin (wind set up),
 Hr = tinggi rayapan gelombang (wave run-up),
 He = tinggi gelombang akibat gempa,
 hu = tinggi cadangan ketidak pastian, diambil 0,5 – 1,0 m,
 hc = tinggi cadangan akibat konsolidasi.

B. Konsekuensi kecil: Cukup ditinjau H1 dan H2 seperti di atas

46
H1 = ¾ Hw + Hs + Hr + He + hu
H2 = ¾ Hw + Hs + Hr + hu
hc = tinggi cadangan konsolidasi Hw = tinggi gelombang karena angin,
He = tinggi gelonbang akibat gempa Hr = tinggi rayapan gelombang (wave run-up)
Hs = kenaikan mujka air karena angin (wind set up)
.hu =cadangan ketidak pastian, untuk muka air normal: hu > 1,0 m
untuk Q1000 atau ½ BMB: hu>0,50m bagi pelimpah tak berpintu; hu> 1,0 bagi yang berpintu
47
Hubungan Kesetaraan Konsekuensi Daerah Hilir Bendungan dengan Klasifikasi Bahaya

Konsekuensi Daerah Hilir *) Tingkat Bahaya

Rendah
Kecil
Sedang
Tinggi
Besar
Sangat tinggi
*) Berdasarkan SNI 03-3432-1994

Matriks Jumlah Penduduk (Orang) Terkena Risiko Keruntuhan Bendungan


untuk masing-masing Kelas Bahaya Bendungan

Jarak dari Bendungan (km)


Jumlah PenRis
(Orang)(Kumulatif ) 0-5 0 - 10 0 - 20 0 - 30 0 - >30

0 1 1 1 1 1
1 - 100 3 3 2 2 2
101 - 1000 4 4 4 3 3
>1000 4 4 4 4 4 48
Tidak boleh terjadi tekanan pori dan rembesan yang berlebihan
pada tubuh bendungan dan pondasi yang mengakibatkan
terjadinya erosi internal, erosi buluh (piping), sembulan/didih
pasir, likuifaksi, arching, retak hidraulik, dll.
Perlu dilakukan analisis rembesan yang mencakup:
-Pengaruh rembesan terhadap stabilitas
-Debit rembesan
-Teknik pengendalian rembesan yang tepat
Keruntuhan bendungan urugan akibat rembesan, dpt terjadi karena:
- Erosi buluh (piping) dan erosi internal
- Tekanan rembesan dan penjenuhan
- Pelarutan
- Piping  bila erosi mulai terjadi dari tempat keluarnya air rembesan
pada urugan atau pondasi berkembang ke hulu membentuk buluh
(pipa).
- Erosi internal  bila erosi terjadi pada tanah halus melalui ruang pori
antar butir kasar pada massa urugan atau pondasi

49
Faktor keamanan terhadap erosi buluh, biasanya dinyatakan
sebagai nilai perbandingan antara gradien kritis (Ic) dengan
komponen vertikal dari gradien keluaran. Gradien ini diperoleh
dari perhitungan atau pembacaan langsung pada instrumen
pisometer di lapangan, dan dapat dihitung dengan persamaan :

Ic ' G 1
FK   4 Ic   s I= h/l
w 1 e
Ie

dengan :
FK : faktor keamanan (tanpa dimensi);
Ic : gradien keluaran kritis (tanpa dimensi);
Ie : gradien keluaran dari hasil analisis rembesan atau
pembacaan
instrumen pisometer (tanpa dimensi);
’ : berat isi efektif (terendam) (t/m3);
w : berat isi air (t/m3);
Gs : berat spesifik (tanpa dimensi);
e : angka pori (tanpa dimensi);

50
51
AGAR KAMANAN BENDUNGAN TERPENUHI, PERLU DIPERHATIKAN
STRATEGI PENYIAPAN DESAIN SBB:
1). TEAM DESAIN DAN SUPERVISI KONSTRUKSI: DIKETUAI OLEH
TEAM LEADER DENGAN KEAHLIAN SEBAGAI ”DAM ENGINEER
GENERALIST” YG MAMPU MENGKOORDINASI SELURUH TENAGA
AHLI YANG TERLIBAT, DAN MENJEMBATANI KEMUNGKINAN
TIMBULNYA “GAP” DARI BERBAGAI SPESIALISASI/BIDANG
KEAHLIAN TERSEBUT.(bersertifikat ahli bendungan besar)
2). HINDARI KONSEP STRUKTUR YANG RUMIT DAN TIDAK PERLU.
3). DESAIN HARUS SESUAI (COMPATIBLE) DENGAN KEAHLIAN
TENAGA PELAKSANAN KONSTRUKSI, TEKNOLOGI DAN
PERALATAN YG TERSEDIA.
4). HATI-HATI DG KONSEP DESAIN BARU YANG DIDASARKAN PADA
TEORI DAN “EXPERIMENTAL INVESTIGATION” BAIK YG TIDAK/
MENGGUNAKAN MATERIAL DAN METODE NON KONVENSIONAL.

52
5). HARUS TERSEDIA “ACCESS” YG BAIK MENUJU KE SETIAP KOMPONEN
BENDUNGAN GUNA KEPERLUAN OP, PEMANTAUAN, PERBAIKAN DAN
REHABILITASI AREA YG KRITIS
6). TATA LETAK STRUKTUR HARUS DIATUR DG BAIK YG MAMPU
MEMFASILITASI KEBUTUHAN PERBAIKAN DAN/ATAU
PENGGANTIAN PERALATAN MEKANIKAL DAN LISTRIK DIMASA Y.A.D.
7). HARUS TERSEDIA VENTILASI (DAN PENERANGAN) YANG CUKUP
PADA GALLERY, SHAFT, TEROWONG ATAU TEMPAT-TEMPAT
TERTUTUP LAIN YANG PERLU INSPEKSI ATAU PADA TEMPAT-TEMPAT
YANG MENGANDUNG GAS YG MUDAH TERBAKAR.
8). BENDUNGAN SEDAPAT MUNGKIN DIDESAIN DENGAN PERTIMBANGAN
DAPAT DIOPERASIKAN DAN DIPELIHARA DENGAN MUDAH.
9). BAGI BENDUNGAN LIMBAH TAMBANG, PADA SAAT PENYIAPAN
DESAIN SUDAH HARUS MEMPERHITUNGKAN KONSEP/RENCANA
PENGHAPUSAN FUGSI SETELAH TAMBANG TUTUP.

53
.
TEAM LEADER
DAM ENGINEER
GENERALIST

DAM STRUCTURE
HYDROLOGIST GEODETIC ENG GEOLOGIST ENGINEER ENGINEER

54
SECARA GARIS BESAR DIKELOMPOKKAN MENJADI:
 SURVAI TOPOGRAFI
MENCAKUP: LOKASI BENDUNGAN, KOLAM WADUK,
DAERAH GALIAN MATERIAL, FASILITAS PENDUKUNG,
PEMBEBASAN LAHAN, PEMUKIMAN KEMBALI,
PENGUKURAN PADA SAAT PELAKS KONSTRUKSI, DLL.
 INVESTIGASI GEOTEKNIK
MENCAKUP: PONDASI, BAHAN TIMBUNAN, KOLAM WADUK
 INVESTIGASI HIDROLOGI:
MENCAKUP: KEBUTUHAN AIR, KETERSEDIAAN AIR, DEBIT
BANJIR, SEDIMENTASI.
DILIHAT DARI TAHAP PELAKSANAANNYA, DIKELOMPOKKAN
MENJADI:
- INVESTIGASI AWAL,
- INVESTIGASI DETIL,
- INVESTIGASI SAAT PELAKSANAAN KONSTRUKSI

55
Tujuan:
 Memperkirakan calon volume waduk
 Menentukan tipe dan kedudukan calon
bendungan dan bangunan pelengkap
 Menentukan luas daerah yang akan
dibebaskan
 Memperkirakan volume cadangan bahan
timbunan.
 Memperkirakan luas DAS (dari peta 1:50.000
~ 1:25.000 Bakosurtanal)

56
Untuk mengetahui sifat dan parameter teknik :
a) Daerah rencana bendungan, utk mengetahui kondisi fondasi
b) Daerah genangan waduk, untuk mengetahui potensi
longsoran dan bocoran
c) Daerah sumber galian, utk mengetahui ketersediaan material
timbunan.
6.2.1 INVESTIGASI PONDASI
Dilakukan untuk: pondasi bendungan dan bangunan-
bangunan pelengkap seperti pelimpah, bangunan intake,
terowong, dll.
Kegiatan yang dilakukan, secara garis besar antara lain :
Pengumpulan dan pengkajian data dan hasil studi yang telah
ada
 Investigasi geologi permukaan
 Investigasi bawah permukaan
 Uji insitu geoteknik
 Uji laboratorium
 Pengolahan dan penyajian hasil investigasi
57
6.2.1 INVESTIGASI GEOLOGI PERMUKAAN
Merupakan dasar untuk melakukan investigasi geologi rinci
1). Kegiatan: pengkajian data yang ada; pengenalan lapangan;
pengamatan singkapan dg bantuan peta 1:500 ~ 1000;
pembuatan peta geologi dg cara analogi thd kondisi bawah
permukaan. Bila perlu dibantu dg pembuatan paritan uji.
2). Data yang diperoleh:
Dari observasi singkapan: jenis dan sifat lapisan dan batuan,
pola perlapisan (keselarasan/tidak, struktur geologi),
hidrogeologi, orientasi bidang diskontinyuitas (seperti struktur
sesar, kekar, dll), longsoran, lokasi sumber material, sumber
mata air, alur, ketebalan lapisan penutup, adanya fosil dll.
Dari obsevasi topografi : bentuk sungai dan lembah, jenis
dataran (dataran banjir, vulkanik, teras); bentuk spesifik (karst,
longsoran, gelinciran, gawir, sesar, lembah sesar, dll).
 hasil invst geologi permukaan bersama invest geotek lain (bor,
paritan, adit, dll) kemudian dituangkan dalam Peta Geoteknik
berdasar klasifikasi geologi.
(BUKAN SEKEDAR PETA GEOLOGI UMUM, TAPI HRS DPT MEMBERI
INFORMASI YANG DIBUTUHKAN PERENCANA)

58
Luas minimal areal investigasi geologi pada tapak bendungan
= (L+2H) x 8H  L = perkiraan panjang puncak bendungan
H = perkiraan tinggi bendungan

59
Areal investigasi untuk bendungan beton gaya berat

60
6.2.2. Investigasi Geologi bawah permukaan
a. Metode:
- pendugaan geofisik; survai seismik, geolistrik, dll.
- pemboran; efektif utk mengetahui kondisi geologi secara langsung
- sumuran uji (shaft/test pit), terowong uji (adit); utk sampling, insitu
test,dll
1). Pendugaan geofisik: utk melengkapi data diantara titik-titik pemboran.
Survai Seismik merupakan metode yang sering digunakan, guna
mengetahui dengan cepat ketebalan dan kedalaman lapisan tanah dan
batuan, lokasi rekahan, struktur sesar, ketebalan pelapukan.
2). Pemboran: cara yang paling efektif untuk mengetahui secara langsung
kondisi geologi bawah permukaan calon lokasi bendungan. Pemboran
dilakukan sampai menembus batuan dasar > 5m, atau sekitar 2/3~1H.
Selama pemboran, dilakukan berbagai uji a.l:
- penetrasi standar (SPT), dilakukan setiap interval 2 m, atau pergantian
lapisan
- permeabilitas (k, atau Lu) setiap 1,5~3 m, metode disesuaikan kondisi
batuan.
- uji beban lobang bor (modulus deformasi); cepat rambat gelombang
elastis; kekerasan batuan; derajat konsolidasi dan porositas; dll

61
Hasil Pemboran:
Core pemboran harus disimpan dg baik (core box), disusun berurutan
sesuai kedalaman pemboran.
Diskripsi sample bor dicatat dlm format log bor, yang memuat:
nama pelaksana, tanggal, nomor dan lokasi titik bor, elevasi, jenis dan
diskripsi batuan, perolehan inti (core recovery), RQD (Rock Quality
Designation = % inti yang panjangnya >10cm), N-SPT, permeabilitas (k,
Lu), dll
b. Lokasi pemboran:
ditetapkan dengan mempertimbangkan titik-titik pemboran
sebelumnya. Jumlah dan lokasi tergantung pada kondisi geologi
setempat. Sebaiknya untuk bendungan dengan tinggi H=20~50 m:
pada poros bendungan jarak lobang bor 20~30 m.
 Pada tahap FS: pd lokasi terpilih biasanya diperlukan 2 lobang di
tumpuan kanan kiri, 2~3 dilembah sungai, 1~2 lobang di pelimpah. Bila
lembah-nya sempit dan diduga ada sesar perlu dibuat bor miring dari
tebing menembus formasi batuan di bawah sungai. Untk melengkapi
data bor, kadang perlu pendugaan geofisik (survai seismik, geolistrik)
 Pada tahap DED: untuk melengkapi data studi sebelumnya yang
dianggap kurang, mengklasifikasi batuan berdasar sifat-sifat teknik,
fisik dan sifat hidrolik, yang diperlukan untuk pembuatan DED termasuk
perbaikan pondasi, dll . Lihat contoh: core box, bore log, lokasi titik bor, klasifksi
batuan, peta & penampang geologi

62
63
64
65
66
67
c. Uji lapangan/insitu:
Uji lapangan yang sering dilakukan pada sumuran atau
terowong uji berupa : uji cepat rambat gelombang elastis
(utk mengklasifikasi formasi batuan), uji deformasi, uji
geser, dll.
Untuk mengetahui stratigrafi dan karakteristik perlapisan
tanah di lapangan, selain uji SPT seperti yg dibahas di
atas, ada beberapa uji lain seperti:
o uji sondir (CPT): untuk mengetahui tekanan konus qc
dan friksi fc lempung sangat lunak ~ lempung padat
(sering dilakukan)
o uji dilatometer (DMT): modulus elastisatas, kuat geser
pasir, lanau, lempung.
o pressure meter (PMT): koefisien tekanan tanah kondisi
diam K0
o uji geser baling (VST): kuat geser tak terdrainasi
lempung lunak, kaku dan lanau.
68
69
d. Uji laboratorium:
Untuk mengetahui sifat fisik dan sifat teknik, dikelompokkan
menjadi dua, yaitu: lab mekanika tanah dan mekanika batuan

1). Uji laboratorium mekanika tanah


Sample tanah yang akan diuji untuk investigasi pondasi
adalah tanah tak terganggu/asli. Lingkup uji meliputi :

Sifat fisik, antara lain : berat spesifik (Gs), berat isi (n), kadar
air (Wn), analisis butiran (m%), batas-batas Atterberg,
hidrometer.

Sifat mekanik / teknik antara lain : uji geser langsung (c,D),


konsolidasi (Cc, Cv, Es), triaksial : consolidated undrained,
unconsolidated, consolidated drained. Uji permeabilitas, dan
bila perlu uji Erodibility atau slake durability test.

70
2). Uji laboratorium mekanika batuan
 Sifat fisik dan kimiawi:
 selalu : berat spesifik Gs, berat isi γn, porositas, serap air,
permeabilitas k;
 sering kali : modulus elastisitas dinamis, nilai poison dinamis;
uji serap air (utk mengetahui ketahanan batuan thd air);
besarnya pengembangan (swelling), uji sifat kimiawi batuan
(utk mengetahui kandungan mineral yg merugikan seperti:
opal, holohyline, apatite, illite dpt merusak beton dg reaksi
alkali; sulfida besi, pyrite mudah teroksidasi yang hasilnya
bersama asam belerang dpt merusak daya rekat beton dan
mencemari sungai.
 Sifat mekanik :
 selalu : uji desak bebas (unconfined compressive strength),
modulus deformasi (elastis), nilai poison
 sering kali : triaksial (c, ), modulus deformasi, nilai poison;
geser langsung;
 bila perlu : uji kekerasan restitusi (Shore Hardness test atau
Schmid Hammer test).

71
Pengolahan hasil
1). Klasifikasi Teknis: berdasar karakteristik
geologi, sifat mekanik jenis dan massa batuan,
faktor lain seperti core recovery, RQD  lihat
klasifikasi Tanaka

2). Penyajian : dalam bentuk peta cekungan


waduk, lokasi bdgn, penampang lintang &
memanjang bendungan, log bor, peta adit dan
test pit

72
Klasifikasi batuan pondasi bendungan menurut Tanaka

73
Dilakukan untuk mengetahui dan
menentukan:
 Kualitas matrial timbunan dan agregat
beton, yang mencakup klasifikasi teknik,
sifat fisik, sifat teknik.
 Ketersediaan cadangan material yang
memenuhi syarat.
 Kondisi yang berkaitan dengan: penggalian,
lokasi, jalan masuk, jarak, status, perlunya
konservasi, dll.

74
KLASIFIKASI TANAH MENURUT UKURAN BUTIRAN

KARAKTERISTIK TANAH BERBUTIR HALUS, SANGAT DIPENGARUHI OLEH


BATAS CAIR & PLASTIS)
KARAKTERISTIK TANAH BERBUTIR KASAR (PASIR DAN KERIKIL) SANGAT
DIPENGARUHI OLEH UKURAN BUTIRAN DAN GRADASINYA

75

.
BATAS CAIR (LL): KADAR AIR TANAH PD BATAS ANTARA KEADAAN CAIR
DAN KEADAAN PLASTIS/BTS ATAS DAERAH PLASTIS, DPT DIKETAHUI DG
UJI LAB.
BATAS PLASTIS (PL): KADAR AIR TANAH PADA BATAS BAWAH DAERAH
PLASTIS. DPT DIKETAHUI DG UJI  INDEK PLASTIS PI = LL – PL
BATAS ATTERBERG MERUPAKAN FAKTOR PENTING UTK MENGETAHUI
SIFAT TEKNIS TANAH BERBUTIR HALUS. HASIL ANALISIS BATAS
ATTERBERG SEBAIKNYA DIPLOT PD GRAFIK PLASTISITAS USCS DAN
DIKAJI SIFAT TEKNISNYA
76
77
a. Beban gempa yang harus diperhitungkan dalam penyiapan desain
bendungan:
- Gempa Dasar Operasi (Operating Basis Earthquacke = OBE):
yaitu tingkat gempa yang menimbulkan goncangan tanah (ground
motion) pada lokasi bendungan dengan kemungkinan 50% tidak
terlampaui selama 100 tahun. Berdasar definisi tersebut, kemudian
OBE ditetapkan secara probabilistik (berdasar periode ulang 50~100
tahun tergantung kelas risiko bendungan. Pada gempa OBE bendungan
tidak boleh mengalami kerusakan.
- Gempa desain maksimum (Maximum Design Earthquacke = MDE):
yaitu tingkat gempa yang menimbulkan goncangan terbesar di lokasi
bendungan yang akan dipakai untuk penyiapan desain. Periode ulang
gempa MDE berkisar 1000 ~ 10.000 tahun. Pada gempa MDE
bendungan hanya boleh mengalami sedikit kerusakan (small damage),
untuk bendungan urugan hanya boleh mengalami penurunan kurang
dari ½ tinggi jagaan.
- Gempa imbas waduk (Reservoir Induce Earthquacke = RIE);
yaitu gempa bumi yang terjadi akibat pengisian waduk yang
mengakibatkan tingkat goncangan permukaan maksimum di lokasi
bendungan. Gempa RIE hanya diperhitungkan bagi bendungan yang
memiliki tinggi>100 m dan tampungan> 500 juta m3.

78
b. Penetapan parameter gempa desain
Dapat ditetapkan dari hasil studi gempa atau dari Peta Zona
Gempa.

Studi gempa : dilakukan untuk penetapan parameter gempa


desain bagi bendungan yang tinggi, atau yang terletak di daerah
yang memiliki kondisi geologi khusus seperti sesar besar yang
aktif, atau terletak pada zona E dan F pada Peta Zona Gempa.
Bagi bendungan yang di luar kondisi di atas, parameter gempa
desainnya dapat ditetapkan dari peta zona gempa. Dari peta
gempa Indonesia diperoleh:
- percepatan gempa ad = z x ac x v
- koefisien gempa dasar k = ad/g  k tergantung periode
ulang T.
Koefisien gempa dasar, kemudian harus dikoreksi dengan:
- α1 koreksi pengaruh daerah bebas (free field)
untuk bendungan urugan=0,7; bendungan beton=1
- α2 koreksi pengaruh jenis struktur untuk bendungan
urugan=0,5, bendungan beton=1

79
- Setelah gempa dasar k dikoreksi dengan α1dan α2 akan diperoleh K0 yaitu
“koefisien gempa desain terkoreksi” pada permukaan tanah.

Untuk analisis stabilitas bendungan, nilai K0 harus dikoreksi terhadap efek


“cambuk” dimana semakin tinggi tempat yang ditinjau goncangan gempa
akan semakin besar. berdasar pada ketinggian titik yang ditinjau,
sehingga menjadi koefisien gempa K yang dihitung dengan rumus sbb:
- untuk y/H < 0,4  K= K0 x {2,5-1,85 (y/H)}
- untuk y/H > 0,4  K= K0 x {2,0-0,60 (y/H)};
dimana y tinggi titik yg ditinjau diukur dari atas puncak bendungan;
H=tinggi bendungan.
Beban gempa diperhitungkan sebagai gaya horisontal sebesar F=K.W 
W=berat tubuh bdgn
F=KW

y/H

80
PETA ZONA GEMPA INDONESIA MENURUT PEDOMAN ANALISIS DINAMIK BENDUNGAN
SK DIRJEN SDA No. 27/KPTS/D/2008
81
6.5.1 UMUM
Analisis dilakukan untuk mendapatkan besaran mengenai:
1). Kebutuhan air
2). Ketersediaan air : 80% (irigasi), 90% (PLTA), 98% (air baku)
3). Banjir desain: PMF, Q1000 , Q100, Q50, Q20, Q10, dan Q2 tergantung
keperluan  dalam bentuk hidrograf banjir
4). Laju sedimentasi waduk, dll

Jenis data yang harus dikumpulkan antara lain :


 debit sungai, mencakup debit minimum, rata-rata, dan maksimum.
 Kualitas air, terkait dengan syarat / baku mutu untuk masing-
masing pengguna, dll.
 Sedimentasi, terkait dengan umur layanan waduk.
 Curah hujan, periode jam-jaman, harian, bulanan dan tahunan.
 Kelembapan udara dan penguapan, terkait dengan perhitungan
ketersediaan air.
 Suhu / temperatur, terkait dengan perhitungan ketersediaan air.
 Kecepatan angin, terkait dengan perhitungan ketersediaan air dan
tinggi jagaan.

82
83
a. Data yang diperlukan : data hujan dengan panjang data >
20 th (untuk banjir PMF disarankan panjang data> 30 th).
b. Langkah analisis:
1). Pengolahan data
2). Perhitungan curah hujan desain:
untuk hujan kala ulang 2 ~ 1000, berdasar analisis
frekwensi
untuk hujan PMP menggunkan metode Hersfield
3). Perataan hujan
4). Cari koefisien reduksi (DAD atau ARF)
5). Hitung hujan DAS
6). Hitung distribusi hujan jam-jaman dan durasi hujan
kritis
7). Tetapkan hujan desain
8). Hitung hujan efektif
9). Buat hidrograf satuan sintetik berdasar kondisi DAS
10). Hitung debit banjir inflow
11). Lakukan resevoir routing
12). Cari debit terbesar  debit banjir desain outflow
84
85
6,0

HSS Nakayasu
5,0
DEBIT ( m3/dt/mm )

HSS Snyder
4,0

HSS SCS
3,0
HSS Gam a I

2,0

1,0

0,0
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24
WAKTU ( jam )

CONTOH HIDROGRAF SATUAN SINTETIS (HSS) DARI


BERBAGAI METODE UNTUK DURASI 24 JAM

86
Titab

87
7.1 Umum
Syarat yang harus dimiliki tanah/batuan pondasi bendungan
adalah:
- Harus memiliki daya dukung yang cukup sehingga mampu mendukung
bendungan dengan aman;
- Harus cukup kedap dan aman terhadap kegagalan akibat rembesan
(perlu pengendalian rembesan untuk mencegah terjadinya erosi
internal, piping, sand boil, uplift yang berlebih, debit rembesan yang
berlebih, likuifaksi, pelarutan, dll).
Pondasi bendungan dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:
- pondasi material berbutir halus / tanah
- pondasi pasir dan kerikil
- pondasi batuan.
- pondasi campuran
Masing-masing jenis pondasi tersebut memiliki kekurangan dan
kelebihan. Perbaikan pondasi dilakukan agar persyaratan pondasi di
atas terpenuhi. Perbaikan pondasi dilakukan pada permukaan pondasi
dan di bawah permukaan pondasi.

88
7.2 Pondasi berbutir halus / tanah
Lapisan fondasi ini biasanya berupa lempung dan lanau.
Kelebihannya: umumnya cukup kedap air.
Kekurangannya: daya dukung (kuat geser) rendah sehingga sering
timbul deformasi yang cukup besar dan tekanan pori yang
berlebihan.
Masalah utama pada pondasi tanah adalah stabilitas, untuk
mengatasi hal tersebut lereng timbunan sering dibuat landai atau
dibuat berem pada lereng hulu dan hilir.
Masalah lain, apabila tidak dilakukan perbaikan yang tepat dapat
terjadi:
- differential settlement yang besar
- settlement yang besar yang berakibat berkurangnya tinggi
jagaan, retakan, longsoran, kerusakan pada sistem
instrumentasi, dll
- Munculnya daerah basah pada daerah yang lunak dipondasi,
sehingga timbul piping atau bocoran yang membawa material
pondasi atau bendungan.
Lapisan pondasi berupa lanau dengan kepadatan rendah dpt
mengalami likuifaksi saat terjadi gempa, disamping itu lanau juga
mudah tererosi. Untuk mengatasinya, pada kaki bendungan perlu
dilengkapi dengan filter dan drainasi yang baik.

89
Berbagai retakan pada bendungan akibat
differential settlement yang timbul karena
fondasi yang compressive dan tidak
beraturan 90
Pada daerah rawa atau yang selalu terendam air, tanahnya sering berupa
tanah lunak (N-SPT = 3~5) sampai sangat lunak (N-SPT < 3) yang kuat
gesernya sangat kecil. Untuk kondisi tersebut perlu penelitian yang
mendalam dan metode perbaikan yang khusus yaitu dengan cara:
displacement atau replacement, percepatan konsolidasi dengan drainasi
vertikal, pembebanan awal atau pre-loading

91
PERBAIKAN PONDASI PADA
BENDUNGAN MERANCANG (ATAS)
DAN MANGGAR (BAWAH)

Timbunan baru, lempung lanauan, plastisitas PP = Pneumatic Piezometer


Sedang – tinggi coklat kemerahan (CH – MH)
SP = Stand Pipe Piezometer

Filter drain PS = Settlement Plate

Tanah fondasi N < 10, lempung campur organik TS = Toe Stakes


Plastisitas tinggi, abu-abu (OH)

Tanah fondasi N > 10, pasir halus lanauan,


abu-abu muda (SP)
BENDUNGAN MANGGAR
92
93
18
16
14
Tinggi Timbunan (m)

12
10
8
6
4
2
0
1 2 2 4 5 8 20 21 22 23 24 27 30 40 42 42 44 45 48 60 61 62 63 64 67 70 80
Waktu (Hari)

94
7.3. Pondasi pasir kerikil
Pondasi ini biasanya berupa endapan aluvial yang tersusun atas
pasir halus~kasar dan kerikil yang lulus air.
Permasalahan yang dihadapi adalah:
- Daya dukung cukup, namun harus di-verifikasi berdasar investigasi
dan pengujian.
- Rembesan berlebihan
- Erosi buluh dan sembulan (sand boil)
- Likuifaksi bagi pasir halus berbutir seragam dengan kepadatan
relatif < 50%.
- Lapisan pasir sangat urai dapat runtuh karena penurunan dengan
cepat saat pengisian waduk karena jenuh air.
Perbaikan pondasi yang diperlukan sangat tergantung pada
ketebalan dan penyebaran lapisan lulus air. Pada pondasi ini, sangat
diperlukan pengendalian rembesan yang baik, jenisnya diantaranya
sbb:
- Parit halang yang diisi kembali dengan lempung
- Dinding halang (diaphragm wall): lempung bentonite, semen
bentonite, beton plastis.
- Blanket kedap air hulu
- Toe drain
- Relief well dan campuran
95
1 Zona inti 6 Selimut drainase
1A Parit halang 7 Drainase kaki (toe drain)
2 Zona shell hulu 8 Parit drainase (terbuka atau tertutup)
2A Zona transisi 9 Sumur pelepas tekanan (relief wells)
3 Zona drainase hilir (chimney drain) 10 Selimut kedap air
3A Filter 11 Diaphragm wall (cut-off wall )
4 Rip-rap 12 Grouting tirai
5 Zona shell hilir 13 Berm

Contoh macam-macam pengendalian rembesan air pada bendungan tipe urugan

96
7.4 Pondasi batuan
Kelebihan : daya dukung kuat
Kekurangan: sangat jarang dijumpai batuan yang masif dan segar,
kenyataannya, batuan sering memiliki rekahan, sambungan (joint),
celah-celah, diskontinyuitas, sesar, zona remasan lapisan lulus air di
sepanjang bidang, dll.
Lapisan batu lempung, batu lanauan dan serpih (shale) biasanya
mempunyai sifat yang tidak menguntungkan ditinjau dari aspek
stabilitasnya. Batu lempung sering bersifat slacky (perlu diuji). Batu
serpih pada kondisi terbuka akan hancur; bila berada di kedalaman
pondasi dapat diperbaiki dengan grouting atau cut-off.
Adanya zona lemah, sisipan atau perlapisan harus diperhatikan
secara hati-hati dalam desain perbaikan pondasi.
Perbaikan pondasi: mencakup perbaikan permukaan pondasi dan di
bawah permukaan pondasi, yang mencakup:
Perbaikan permukaan berupa: reshaping, penutupan celah dan
retakan dengan slush grouting, dental concrete, dll.
Perbaikan di bawah permukaan pondasi a.l. : curtain grouting,
consolidation grouting, blanket grouting, parit halang (utk pondasi
batu pasir yang porous), filter dan drainasi (toe/horizontal drain)
untuk mengendalikan rembesan di pondasi atau tubuh bendungan.

97
CONTOH BERBAGAI BENTUK DIFFERENTIAL SETTLEMENT

98
CONTOH BERBAGAI BENTUK DIFFERENTIAL SETTLEMENT

99
8.1 Umum
Bendungan urugan tanah homogen, biasanya digunakan untuk
ketinggian bendungan kurang dari 40 m. Untuk bendungan yang
lebih tinggi biasa digunakan bendungan urugan zonal yang bagian
“shell” nya menggunakan material batuan yang berfungsi untuk
mendukung stabilitas bendungan.
8.2 Pemilihan tipe bendungan
- Pertimbangan dalam pemilihan tipe : geologi, material, biaya
- Bendungan zonal : inti tegak, inti miring
- Bendungan urugan batu

8.3 Alignment tubuh bendungan


Alignment tubuh bendungan ditetapkan berdasar pertimbangan :
- Biaya konstruksi yang rendah
- Hindari kondisi geologi yg merugikan seperti diskontinyuitas,
longsoran dll
- Bidang kontak antara zona inti dg pondasi usahakan sedikit
mungkin galian pondasi

10
0
Analisis yang dilakukan:
1. Stabilitas
2. Deformasi/settlement
3. Rembesan

CONTOH BENDUNGAN URUGAN TANAH HOMOGEN DENGAN BERBAGAI


KETINGGIAN DAN SISTEM DRAINASINYA
10
1
8.4 Bagian-Bagian Tubuh Bendungan
8.4.1 Puncak bendungan
a. Lebar puncak:
Ditetapkan berdasar pertimbangan:
- Lebar minimal utuk keamanan terhadap rembesan air.
- Kebutuhan untuk lalulintas/peralatan di atas puncak bendungan
- Kemudahan konstruksi
- Pertimbangan stabilitas khususnya di daerah gempa
- Rencana kebutuhan jangka panjang
Secara praktis dapat, dapat diestimasi dengan rumus: B=5/3 (√H),
atau
B = 3,6 * H1/3 – 3,0
b. Drainasi:
Agar air hujan tidak menggenang, permukaan puncak perlu diberi
kemiringan ke arah hulu sekitar 2%, dan untuk keamanan dipasang
pagar di kedua sisinya.
c. Camber atau timbunan ekstra: diperlukan untuk antisipasi
settlement.

10
2
8.4.2 Pelindung Lereng Bendungan
a. Lereng hulu
Lereng hulu harus aman thd fluktuasi air waduk (termasuk surut
cepat) dan hempasan gelombang. Oleh karenanya lereng hulu perlu
diberi pelindung.
Jenis-jenis pelindung lereng yang lazim: hamparan batu/rip-rap,
pasangan batu kosong, blok beton. Jenis lain: soil cement, aspal, plat
baja.
Faktor yang harus dipertimbangkan dalam desain pelindung lereng
batu:
- Batu harus keras dan tahan lekang (durable)
- Ukuran dan berat cukup untuk menahan gelombang
- Lapisan pelindung cukup tebal, shg gelombang tidak merusak filter
dan timbunan di bawahnya
b. Lereng hilir
Lereng hilir harus aman terhadap erosi permukaan akibat aliran air
hujan, khususnya bagi lereng hilir yang berupa timbunan tanah, pasir
atau kerikil, perlu diberi pelindung lereng .
Cara yang digunakan untuk perlindungan lereng hilir:
- Memasang gebalan rumput pada lereng
- Membuat bahu/berm pada lereng untuk menahan aliran air dari atas
- Memasang sistim drainasi pada lereng dan drainasi pengumpul
pada berm dan kaki bendungan 10
3
10
4
10
5
Pengendalian rembesan pd tubuh bendungan/urugan dpt dilakukan dg
sistem drainasi dan atu filter.
Drainasi :berfungsi utk mengurangi tekanan air pori, merendahkan
atau memotong garis preatik.
Filter, ditempatkan diantara dua jenis material yang berbeda dengan
fungsi: untuk mencegah erosi (melindungi material inti agar tidak
tererosi terbawa masuk ke zona transisi/urugan batu).
Transisi, berfungsi untuk melindungi material filter agar tidak
bergerak masuk ke zona timbunan batu
Disamping itu filter dan transisi juga berfungsi sebagai drainasi dan
juga merupakan zona peralihan dari zona timbunan tanah yang lebih
commpressible dengan zona timbunan batu yang tidak
commpressible.
Persyaratan desain filter:
- Harus bergradasi baik sesuai dengan kriteria desain filter yang berlaku
- harus dapat mencegah terjadinya pengangkutan butir tanah oleh
rembesan.
- Permeabilitas filter k = 20 ~ 100 x perbeabilitas inti

10
6
10
7
Zona urugan biasanya terdiri atas zona inti yang dilindungi
dengan drainase saring (filter dan transisi) dan zona
pendukung/pelindung untuk stabilitas.
Penggunaan inti lempung akan lebih ekonomis bila
material tersedia di dekat lokasi dan konisi iklim sesuai.

Syarat material inti kedap air:


- Koefisien permeabilitas < 1x10-5 cm/dt.
- Kuat geser cukup tinggi dan deformasi rendah.
Kuat geser dipengaruhi oleh kadar air, tkt kepadatan,
gradasi.
Tingkat kepadatan untuk bendungan rendah sekitar
90~95%;
bendungan tinggi 95~98%, dengan Indek plastis 15~30%.
- Tahan terhadap erosi
- Mudah pelaksanaannya.
- Tidak mengandung zat organik dan material yang mudah
terurai

10
8
 Lebar zona inti:
zona inti dengan lebar 30~50% tekanan air cukup mampu berfungsi
dengan baik, namun tetap harus diperiksa keamanannya terhadap
rembesan yang mencakup erosi buluh dan tekanan pori berlebih.
 Faktor keamanan terhadap erosi buluh:  Fk > 4
biasa dinyatakan sebagai:
a). nilai banding antara gradien kritis (Ic) dengan komponen vertikal dari
gradien keluaran (Ie).
I  '
Gs  1
FK  c  4 Ic  
Ie  w 1 e
FK : faktor keamanan (tanpa dimensi);
Ic : gradien keluaran kritis (tanpa dimensi);
Ie : gradien keluaran dari hasil analisis rembesan/flow net atau
pembacaan instrumen pisometer (tanpa dimensi);
’ : berat isi efektif (t/m3);
I= h/l
w : berat isi air (t/m3);
Gs : berat spesifik (tanpa dimensi);
e : angka pori (tanpa dimensi);
b). nilai banding antara kecepatan kritis (Vc) dan kecepatan keluaran Vx
(exit velocity), Fk = Vc/Vx > 4
Vc dpt dihitung dengan rumus Justin Vc= √ (s.g/ w.A); Vx= k.Ie

10
9
9.1 Beban
9.1.1 Beban yang bekerja pada bendungan urugan
• Berat sendiri tubuh bendungan
• Tekanan hidrostatis
• Tekanan pori
• Beban gempa
9.1.2 Berat sendiri tubuh bendungan
Analisis stabilitas lereng tubuh bendungan, dihitung pada:
- kondisi akhir konstruksi berdasar density material basah,
- kondisi m.a.w max dan m.a.w rendah berdasar density
material basah dan jenuh untuk bagian atas dan bawah
garis freatis.
G=WxV
dimana : G = Berat tubuh bendungan (bagian yang ditinjau)
W = Berat basah / jenuh air
V = Volume tubuh bendungan (bagian yang
ditinjau)
11
0
9.1.3.Tekanan hidrostatis
Diperhitungkan bekerja tegak lurus pada
permukaan tubuh bendungan.

p = w0 x h
dimana : p = tekanan hidrostatis
w0 = berat satuan
9.1.4 Tekanan Air Pori
Tekanan air pori diperhitungkan bekerja tegak lurus bidang gelincir.
Pada analisis stabilitas tubuh bendungan, tekanan pori setidak-tidaknya
diperhitungkan pada tiga kondisi, yaitu: akhir konstruksi, muka air
normal dan surut cepat.
Pada akhir konstruksi, tekanan pori lazim diasumsi = 50% berat
material di atas titik yang ditinjau, pada m.a.n. sesuai rembesan yang
berkembang dan pada surut cepat diperhitungkan tekanan pori
residual.

9.1.5 Beban gempa


Diperhitungkan sebagai gaya yang bekerja horizontal, sebesar berat
tubuh bendungan dikalikan koefisien gempa.

F=gxk
dimana : F = gaya gempa
g = berat tubuh bendungan
k = koefisien gempa 11
1
9.2. Analisis Statik
Umum
Perhitungan stabilitas timbunan tanah dapat dilakukan
dengan 2 cara, yaitu :
 Cara keseimbangan batas (limit equilibrium method)
circular slip surface / sliding circle, wedge
 Cara elemen hingga (Finite Elemen Method)
Pada cara keseimbangan batas, perlu diperhatikan pola-
pola keruntuhan yang terjadi, yaitu :
 Daya dukung (bearing capacity)
 Keruntuhan internal (internal stability)
 Keruntuhan fondasi (fondation stability)
 Keruntuhan keseluruhan (overall stability)
Untuk pondasi tanah lunak, keempat pola keruntuhan
tersebut dapat terjadi, sedang untuk pondasi tanah keras
atau batuan biasanya hanya terjadi keruntuhan pada
timbunan.

11
2
Faktor Keamanan

11
3
11
4
Gambar Bidang longsor sirkular dengan penampang-penampang irisannya 11
5
11
6
S u n g a i M a ra n g k a yu , D e s a S e b u n ta l
2 20 H kr iti s 2.0 0

1 4 4 M itte l p u n kte d e fi n ie r t.
3 4 9 8 sl ip c ir cl e s w e re in ve s tig a te d . 1.8 8

D IN 4 0 8 4 (o l d )
m i n = 1 .2 8 1.7 6
2 00
x m = 4 6 .6 7 m
y m = 1 4 2 .6 9 m 1.6 4
R = 5 4 .2 4 m
C o n so l id a tio n tim e = 5 0 .0 d a ys
1.5 2
1 80 C o n s o lid a t io n la y e r 1 : ve r tic a l d r a in / d e = 1 .3 1 / rw = 0 .0 7 / E s = 5 0 0 .0 / k = 8 .5 8 E - 7 / S e ttle m e n t d u ra ti o n = 1 .0

c pw 1.4 0
S o il D
Dee s ig n a ti o n
[°] [kN /m ² ] [kN /m ³ ] [- ]
2 1 .5 7 2 5 .7 2 1 8 .0 7 0 .0 0 T im b u n a n 1.2 8
1 60 9 .5 0 5 .5 0 1 5 .3 6 0 .0 0 CH
2 2 .0 0 0 .0 0 1 9 .0 0 0 .0 0 P a si r
1.1 6

1. 28
1.0 4
1 40

0.9 2

0.8 0
1 20

0.6 8

0.5 6

1 00 w Geos 2/ µ: 0.30/ mx t:T:30.


90.0
Geos 1/ µ:0. 30/m xt:
06/m xT :90. 0/T: 90.0
xT:5
34.20/
4.0 mx T: 54.0/ T: 54.0 w
55. 0(1)

55. 0(1)
0.4 4

0.3 2

80
0.2 0

w w

0 20 40 60 80 10 0 12 0 14 0 16 0 18 0 2 00 2 20

11
7
Ada dua macam analisis yg dilakukan :
o Analisis deformasi utk memperkirakan
besarnya penurunan akibat konsolidasi
(analisis penurunan).
o Analisis deformasi akibat gempa.

Secara umum, penurunan total adalah jumlah


penurunan pada pondasi (bagi pondasi tanah
lunak) ditambah penurunan pada tubuh
bendungan yang terjadi saat pemadatan dan
penurunan yang terjadi kemudian secara
perlahan-lahan sesuai umur bendungan dan
fluktuasi muka air waduk.
Penurunan/settlement total St:
St = Sp + Ss

Rumus empiris untuk estimasi settlement awal S


total =0,001 H
1,5
11
8
9.5.1. Gradien Keluaran Berlebihan
Jika gradien keluaran (Ie) yang terukur berlebihan,
maka butiran tanah di bagian kaki bendungan
akan terapung dan terlepas dari ikatannya. Hal ini
terutama terjadi akibat berkurangnya gaya
gravitasi yang tergantung dari jenis tanahnya,
sehingga menimbulkan gejala-gejala:
- erosi buluh
- erosi internal
- didih pasir (sand boil)
- likuifaksi statis

11
9
Estimasi kapasitas drainasi horisontal tanpa adanya tekanan, dapat
menggunakan rumus Cedergren (1972) :

q1 = kh2/2 L
dimana :
k = permeabilitas dari material drain,
L = panjang drain,
q1 = debit rembesan per meter lebar drain( diukur melintang sungai).
drainase
vertikal
permukaan air Zona hilir lebih
kedap dari drain

drainase
horisontal
Muka air
freatik

Pondasi semi kedap


BENDUNGAN HOMOGEN DENGAN KAPASITAS DRAINASI CUKUP
 AIR FREATIK TURUN

12
0
KAPASITAS DRAINASI VERTIKAL (q2):
Kapasitas drainase vertikal harus diperiksa dengan rumus di bawah.

k 2 h2 w
q2 =
L2
Dimana :
k2 : permeabilitas vertikal drain pada tinggi h2 ,
L2 : panjang horisontal drain, seperti pada gambar 5.3,
w : lebar drainase

12
1
Urugan tanah
Permukaan air drainase vertikal

Muka freatik
Urugan batu
rembesan

drainse horisontal

BENDUNGAN HOMOGEN DENGAN KAPASITAS DRAINASI KURANG


ATAU SAAT TERJADI PEMBUNTUAN (CLOGGING)
 AIR FREATIK DI ATAS DRAINASI HORISONTAL

12
2
12
3
9.5.2. Tekanan Air Pori Berlebihan
Apabila di dalam fondasi dan tubuh bendungan terjadi tekanan air pori
berlebihan (exccessive pore water pressure), dapat terjadi berbagai jenis
kegagalan, antara lain : ketidakstabilan, deformasi, dan tekanan angkat
yang berlebihan.
1).Ketidakstabilan lereng timbunan dan deformasi berlebihan
Tekanan air pori dan gaya perembesan air merupakan penyebab utama
ketidakstabilan pada bendungan tipe urugan. Petunjuk untuk analisis
stabilitas lereng bendungan urugan dapat dilihat pada Pedoman
Perencanaan Bendungan dan SNI. No.1731-1989-F.
2).Tekanan air pori di dalam fondasi
Tekanan air pori berlebihan di dalam fondasi bendungan dapat
menyebabkan terjadinya tekanan angkat yang tinggi pada bangunan
fasilitasnya.
3).Tekanan air pori yang tinggi di hilir bendungan
Tekanan air pori yang tinggi di hilir fondasi bendungan dapat
menimbulkan tekanan angkat yang tinggi, sehingga terjadi
pengangkatan atau peletusan (upheavel atau blowup). Kondisi ini
terjadi, jika terdapat lapisan fondasi lulus air dibawah lapisan kedap air
dalam kondisi aliran terkekang di bawah tubuh bendungan
12
4
Faktor keamanan terhadap pengaruh tekanan angkat yang tinggi,
dihitung dengan menggunakan persamaan.

 nt Gs t
FK   >2
 w h (1  e) h

dengan :
n : berat isi material lapisan penutup kedap air (t/m3);
t : tebal lapisan tanah penutup (m);
h : tinggi tekanan pisometrik (m).
e : angka pori ;
Gs : berat spesifik;
w : berat isi air (t/m3).

12
5
 Untuk mengetahui perilaku tubuh bendungan dan pondasi, di
dalam tubuh bendungan dan pondasi dipasang instrumentasi.
 Tujuan pemasangan: ada tiga macam yaitu untuk:
- pengendalian pelaksanaan konstruksi (khususnya untuk
pondasi tanah lunak)
- pemantauan perilaku bendungan jangka panjang pada masa
O&P.
- penelitian
 Jenis instumen: Secara garis besar dikelompokkan menjadi:
- pemantau tekanan pori (berbagai jenis pisometer)
- pemantau deformasi (inklinometer, multi layer settlement,
patok geser, strain meter, joint meter, dll)
- pemantau rembesan (V notch)

Selain itu di bendungan tinggi juga sering dipasang instrumen


untuk memanatau “ancaman dari luar” berupa pemantau
gempa SMA dan hidro-meteorologi

12
6
12
7
 Jenis dan jumlah: disamping pertimbangan
di atas, jenis instrumen dipilih yang tahan
lama, mudah pengoperasiannya sesuai
keahlian SDM.
Jumlah se-efisien mungkin karena jumlah
yang terlalu banyak akan menjadikan beban
berat bagi petugas pemantau, disamping
itu harganya cukup mahal.
 Penempatan: Paling tidak satu potongan
melintang untuk memantau fluktuasi
tekanan pori pada inti dan pondasi. Juga
pada pondasi yang memiliki kondisi khusus
seperti patahan; di dekat pertemuan
timbunan dengan pasangan, 12
8
1 ). Alat pengukur tekanan air pori, jenisnya adalah :
- Pisometer pipa tegak (standpipe piezometer)
- Pisometer hidraulik (hydraulic piezometer)
- Pisometer pneumatic (pneumatic piezometer)
- Pisometer elektrik (vibrating wire piezometer)

Jenis Respons Pengope Perawa- Umur Harga


Pisometer rasian tan

Pipa Sangat Sangat Mudah Panjang Sangat


Tegak Lambat Lama Murah

Hidraulik Lambat Lama Sulit Panjang Mahal

Pneumatic Sedang Sedang Sedang Sedang Mahal

Elektrik Cepat Mudah Sedang/Sulit Pendek Sangat


Mahal 12
9
2) Alat pengukur muka air tanah atau sumur pengamatan
(observation well), berupa :
- Perforated pipe
- Slotted pipe
3) Alat pengukur deformasi atau pergerakan di dalam tubuh
bendungan, yaitu :
- Inklinometer, untuk mengetahui pergerakan
horisontal
- Alat pengukur pergerakan vertikal (penurunan) :
• Settlement cell
• Multi laver settlement device
• Automatic double fluid settlement
• dll

13
0
4) Alat pengukur pergerakan permukaan arah vertikal dan
horisontal, yaitu patok geser (surface marker)
5) Alat pengukur tekanan tanah total (earth pressure cell)

Catatan : Penting dilakukan!


Semua alat ukur tekanan dan pergerakan harus
dikalibrasi di lapangan sebelum dipasang,
meskipun dari pabrik sudah ada sertifikatnya.

13
1
11.1 Bangunan Pengelak
Saluran pengelak diperlukan untuk mengalihkan
aliran sungai selama periode pelaksanaan
konstruksi bendungan.
11.2 Bangunan Pelimpah
Berfungsi untuk melewatkan banjir desain
dengan aman.
11.3 Bangunan Intake
Berfungsi untuk menyadap air dari
bendungan guna memenuhi berbagai
kebutuhan

13
2
 Umum
Beberapa jenis pengelak
 Pengelakan seluruh lebar sungai dengan
kombinasi cofferdam dan konduit atau
terowong pengelak.
 Pengelakan dengan saluran terbuka.
 Pengelakan pada sebagian lebar sungai

13
3
 Umum
Pertimbangan pemilihan metode pengelakan:
 Karakteristik aliran sungai.

 Banjir desain  sesuai risiko yang dihadapi.


 Metode pengelakan sungai.
 Spesifikasi yang diperlukan.

13
4
 Pemilihan Debit Banjir Rencana
Pertimbangan pemilihan besarnya debit
banjir rencana:
 Waktu konstruksi yang diperlukan.
 Biaya yang ditimbulkan akibat kerusakan
bila terjadi banjir.
 Biaya akibat tertundanya pekerjaan.
 Keselamatan pekerja dan daerah banjir di
hilir.

13
5
Desain sistem pengelak harus
mempertimbangan:
 Karakteristik sifat aliran sungai.
 Debit banjir yang direncanakan.
 Metode pengelakan sungai.

 Spesifikasi teknis harus dicantumkan


tanggung jawab kontraktor untuk
melaksanakan.

13
6
 Metode Pengelakan Sungai.
Cara praktis mengelakan sungai adalah
menggunakan salah satu atau kombinasi dari
cara berikut:
 Terowong yang digali melalui bukit
tumpuan.
 Konduit yang digali melalui fondasi
bendungan.

13
7
 Metode Pengelakan Sungai.
Terowong Pengelak:
 Sesuai untuk suatu lembah sungai yang
sempit.
 Diterapkan pada kondisi fondasi yang cukup
baik.
 Terowong pengelak dapat dimanfaatkan
sebagai bangunan pengeluaran atau
bangunan pelimpah  dapat menekan biaya
proyek keseluruhan.

13
8
13
9
14
0
Terowongan pengelak disatukan dengan pelimpah (Bendungan Batutegi, Lampung)

14
1
Terowongan pengelak dan pelimpah Bendungan Cirata, Jawa Barat

14
2
Konduit:
 Sesuai untuk suatu lembah sungai yang lebar.
 Sesuai diterapkan pada kondisi fondasi yang kurang
baik.
 Konduit dibangun di daerah kering di bagian hilir
cofferdam dan bila sudah siap, aliran sungai dialihkan
melalui konduit dan sistim penutupan dapat dilakukan
seperti penutupan pada terowong.
 Bila kebutuhan pengelakan lebih besar dari kapasitas
bangunan outlet yang sudah jadi, peningkatan
kapasitas dapat dilakukan dengan melakukan
penundaan terhadap pemasangan pintu, katup, pipa
atau trashrack sampai kebutuhan tersebut selesai

14
3
Gambar Pengelakan sungai menggunakan konduit, Bendungan Benel, Bali

14
4
 Cofferdam didesain guna memindahkan aliran sungai
dari badan sungai menuju saluran pengelak.
 Pemilihan jenis Cofferdam yang paling aman dan
ekonomis tergantung pada faktor:
o kondisi topografi dan geologi lokasi bendungan,
o kondisi dasar sungai, debit banjir.
o menggunakan material yang ada di lokasi.
o besarnya biaya konstruksi.
 Tinggi Cofferdam harus direncanakan sesuai dengan
kapasitas saluran pengelak.

14
5
 Tinggi cofferdam harus didesain sesuai dengan dimensi
terowong/konduit, sehinga tercapai kondisi yang
optimum, ditinjau dari keamanan dan ekonominya.
 Cofferdam harus didesain dengan mempertimbangkan
pengaruh penggalian dan pengeringan serta
stabilitasnya.
 Kriteria desain cofferdam  mengikuti kriteria
bendungan utama jika cofferdam ini nantinya menyatu
dengan bendungan utama.

14
6
Gambar Desain Tipikal Potongan Melintang Bendungan Pandanduri , NTB

Gambar Desain Cofferdam Hulu Bendungan Pandanduri , NTB Gambar Desain Cofferdam Hilir Bendungan Pandanduri , NTB

14
7
 Tipe aliran pada saluran pengelak dibagi menjadi 2 kondisi :
o Kondisi Aliran Bebas; terjadi ketika perbandingan tinggi muka air
dan tinggi saluran, d/D < 1,2.
o Kondisi Aliran Tekan; Syarat yang harus dipenuhi untuk aliran
tekan (pressure condition) adalah : d/D > 1,2
 Saluran pengelak dapat berupa terowong atau konduit yang
didesain sebagai aliran tekan/tertutup atau aliran bebas/terbuka.
 Terowong/konduit dapat juga direncanakan untuk aliran super kritis.
Loncatan air direncanakan agar terjadi di hilir mulut
terowongan/konduit  perlu peredam energi.
 Banjir pada periode ulang yang berbeda dapat ditentukan dengan
beberapa cara, menurut SNI 03-3412-1994 atau pedoman-
pedoman lainnya.

14
8
 Periode ulang banjir bangunan pengelak ditetapkan
berdasarkan analisis hidrologi.
 Risiko terlampaui banjir desain yang diperbolehkan ≤ 10
%.

R = 1 – {1- (1/T)}L

dimana : R = Risiko terlampaui banjir desain dengan kala ulang T


tahun.
T = periode ulang T tahun
L = lama bendungan pengelak beroperasi.

14
9
 Contoh: bangunan pengelak didesain agar beroperasi
lebih dari periode pelaksanaan 3 tahun dan cofferdam
dibuat untuk menahan banjir Q10, prosentase risiko dari
kegagalan selama periode pelaksanaan adalah:

R = 1 – {1- (1/10)}3 = 0,27 = 27 % > 10 %  (cek periode ulang


debit banjir)
Dicoba debit banjir dengan periode ulang T=30 tahun, maka
R = 1 – {1- (1/30)}3 = 0,097 = 9,7 % < 10 %  (Ok)

15
0
 Risiko terlampaui debit banjir desain yang diperbolehkan 10% ≤, 
kapasitas pengelak harus didesain dengan Q30. Kapasitas bangunan
pengelak didesain dengan melakukan optimasi yang mempertimbangkan
keamanan.
15
1
 Kondisi aliran bebas (Free flow)
Untuk menentukan tinggi muka air dan diameter terowongan
pengelak digunakan rumus Manning:
A R 2 / 3 .S1 / 2
Q = A .V, R n
D P V
Nilai koefisien kekasaran Manning
Bahan Saluran Max Min

Pipa beton jadi atau dicor ditempat 0.014 0.008

Pipa baja dengan sambungan dilas 0.012 0.008


h
Terowongan batuan alami 0.035 0.020

Contoh Penampang Melintang Terowong Pengelak

15
2
 Kondisi aliran tekan (pressure flow)
Syarat yang harus dipenuhi untuk aliran tekan (pressure flow)
adalah: d  1.2 dimana, D = diameter terowong, d = tinggi air di muka inlet
D
Berlaku rumus : Q = A .V, Harga V dihitung berdasarkan persamaan Bernoulli :
HA + ZA = ΣH + ZB
dimana :
HA = tinggi air di atas inlet (m)
ZA-ZB = perbedaan tinggi antara inlet dan outlet
H = total kehilangan tinggi
2 . g . H
2 . g . H
Sehingga, V = f maka, Q = A. f

he

energy gradient hf
HA pressure gradient
hL
hb

Diagram
A
hv Kondisi
Aliran
ZA B
D
Tekan
2
ZB

15
3
 Penelusuran Banjir
Penelusuran banjir lewat waduk didasarkan pada persamaan
kontinuitas sebagai berikut :
ds
I O 
dt
dimana:
I = aliran yang masuk ke waduk (m3/det)
O = aliran yang keluar dari waduk (m3/det)
ds
= perubahan tampungan tiap periode (m3/det)
dt

Dari hasil penelusuran banjir akan didapatkan tinggi air


maksimum di depan entrance. Elevasi puncak cofferdam
ditentukan berdasarkan elevasi air di depan entrance tersebut
ditambah dengan tinggi jagaan.

15
4
 Penutupan akhir bangunan pengelak merupakan tahapan penting
dan harus direncanakan secara hati-hati.
 Setelah penutupan, elevasi muka air akan naik dengan cepat,
sehingga stoplog dan lain-lainnya harus didesain agar dapat
menahan tinggi tekanan air pada elevasi waduk saat penuh
sebelum pekerjaan penutupan permanen selesai dikerjakan.
 Kebutuhan air di hilir juga harus diperhitungkan, sehingga selama
pekerjaan penutupan dilakukan, pelepasan aliran harus diatur
sedemikian rupa, sampai saatnya bangunan permanen mampu
menerima debit aliran.

15
5
Gambar Plugging dan grouting penutupan pengelak, Bendungan Nipah, Madura 2007

Penutupan permanen terowong pengelak dapat dilakukan menggunakan beton


concrete plugging di dalam terowong. Bila terowong pengelak ini juga
digunakan sebagai terowong spillway, plugging biasanya diletakkan di bagian
hulu dari bagian pertemuan terowongan. Kunci penahan terhadap geser dapat
dibuat pada batuan fondasi atau lining terowong. Untuk perkuatan dan
menjamin kekedapannya, di sekeliling penyumbat biasanya di-grouting

15
6
 Umum.
 Fungsi utama pelimpah adalah membuang
kelebihan air waduk, sehingga tidak terjadi
overtopping.
 Kapasitas pelimpah harus didesain dengan kala
ulang tertentu, misalnya, untuk bendungan
dengan tinggi > 40 m dan di hilirnya mempunyai
risiko tinggi, kapasitas pelimpah didesain dengan
QPMF.
 Banyak bendungan tipe urugan tanah yang
runtuh akibat kurangnya kapasitas pelimpah.

15
7
15
8
Hubungan Kesetaraan Konsekuensi Daerah Hilir Bendungan dengan Klasifikasi Bahaya

Konsekuensi Daerah Hilir *) Tingkat Bahaya

Rendah
Kecil
Sedang
Tinggi
Besar
Sangat tinggi
*) Berdasarkan SNI 03-3432-1994

Matriks Jumlah Penduduk (Orang) Terkena Risiko Keruntuhan Bendungan


untuk masing-masing Kelas Bahaya Bendungan

Jarak dari Bendungan (km)


Jumlah PenRis
(Orang)(Kumulatif ) 0-5 0 - 10 0 - 20 0 - 30 0 - >30

0 1 1 1 1 1
1 - 100 3 3 2 2 2
101 - 1000 4 4 4 3 3
15
>1000 4 4 4 4 4 9
 Jenis-Jenis Pelimpah:

 Ogee (berpintu atau tidak berpintu)


 Ambang jatuh bebas (free overfall)
 Syphon
 Shaft atau morning glory
 Side channel
 Terowong

16
0
Gambar Ogee Spillway

Gambar Free overfall spillway

Gambar Bentuk-Bentuk Bendung Pelimpah

16
1
 Tipe-tipe Peredam Energi
A. Kolam Olak Datar
1. Kolam Olak Datar USBR Tipe I
Tipe ini hanya sesuai untuk mengalirkan debit yang kecil
dengan kapasitas peredaman energi yang kecil. Aliran
dengan angka Froude
Fr < 1,7  panjang loncatan hidrolis L = 4 d2
Fr = 1,7 ~ 2,5  panjang loncatan hidrolis L = 5 d2.

TWL

d2
d1

16
2
 Tipe-tipe Peredam Energi

2. Kolam Olak Datar USBR Tipe II

Kolam olakan tipe ini sesuai untuk


aliran dengan tekanan hidrostatis yang
tinggi dan debit besar (Q>45m3/det,
tekanan hidrostatis > 60 m dan angka
Froude < 4.5).
Chute block berfungsi meningkatkan
efektifitas peredaman, sedangkan
dentated sill berfungsi sebagai
penstabil loncatan hidrolis  sesuai
untuk bendungan tipe urugan.
• Panjang loncatan hidrolis, L .
• Tinggi chute block = d1
• Tinggi dentated sill = 0,2 d2

Gambar Kolam olak USBR Tipe II, untuk angka Froude > 4,5

16
3
 Tipe-tipe Peredam Energi

2. Kolam Olak Datar USBR Tipe III

Tipe ini hampir sama dengan dengan


Tipe II tetapi ada beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi :
V1 < 18 m/det
F > 4,5
• L = 2,5 ~ 2,8 d2.
• Tinggi chute block, h1= d1
• Tinggi buffle block, h3
• Tinggi end sill, h4

Gambar Kolam olak USBR Tipe III, untuk angka Froude > 4,5

16
4
 Tipe-tipe Peredam Energi

3. Kolam Olak Datar USBR Tipe IV

• Sistim kerja kolam olakan ini


sama dengan Tipe III tetapi
penggunaannya untuk aliran
dalam kondisi super kritis
dengan angka Fr= 2,5 ~ 4,5.
Bentuk dan karakteristik
hidrolik kolam olakan datar
tipe IV dapat dilihat pada
gambar 
• L = 5 ~ 6 d2.
• Tinggi chute block = 2d1
• Tinggi end sill = 1,25 d1

Gambar Kolam olak USBR Tipe IV, untuk angka Froude 2,5 ~ 4,5

16
5
B. Peredam Energi Tipe Bak Pusaran (Flip Bucket)
Peredam tipe ini berfungsi untuk meredam pusaran air pada kolam.
Kondisi teknis masih belum diketahui seperti efektifitas peredamannya,
kondisi aliran serta aspek lainnya.
Perencanaan tipe ini memerlukan pengujian hidrolika untuk menyesuaikan
dengan kondisi setempat.

Gambar peredam energi Tipe Flip Bucket

16
6
 Intake Tegak.

Gambar Potongan memanjang bangunan pengambilan Bendungan Sempor

16
7
 Intake Miring.

Gambar Intake Miring

Gambar Intake Miring Bendungan Lodan, Jawa Tengah

16
8
Bendungan disamping memiliki manfaat yang
besar, juga menyimpang potensi bahaya yang
besar pula.
Bendungan yang runtuh akan menimbulkan banjir
bandang yang akan mengakibatkan timbulnya
korban jiwa, harta benda dan kerusakan
lingkungan yang sangat parah di daerah hilir.
Agar bendungan aman, desain bendungan harus
memenuhi tiga kriteria pokok :
- Aman terhadap kegagalan struktur
- Aman terhadap kegagalan hidrolik
- Aman terhadap kegagalan rembesan

16
9
TERIMAKASIH ATAS
PERHATIANNYA

17
0