Anda di halaman 1dari 10

Kreatinin Darah (Serum)

 Kreatinin merupakan produk penguraian keratin.


Kreatin disintesis di hati dan terdapat dalam
hampir semua otot rangka yang berikatan
dengan dalam bentuk kreatin fosfat (creatin
phosphate, CP), suatu senyawa penyimpan
energi. Dalam sintesis ATP (adenosine
triphosphate) dari ADP (adenosine
diphosphate), kreatin fosfat diubah menjadi
kreatin dengan katalisasi enzim kreatin kinase
(creatin kinase, CK). Seiring dengan pemakaian
energi, sejumlah kecil diubah secara ireversibel
menjadi kreatinin, yang selanjutnya difiltrasi oleh
glomerulus dan diekskresikan dalam urin
 Jumlah kreatinin yang dikeluarkan
seseorang setiap hari lebih bergantung
pada massa otot total daripada aktivitas
otot atau tingkat metabolisme protein,
walaupun keduanya juga menimbulkan
efek. Pembentukan kreatinin harian
umumnya tetap, kecuali jika terjadi cedera
fisik yang berat atau penyakit degeneratif
yang menyebabkan kerusakan masif pada
otot.
 Nilai Rujukan
DEWASA : Laki-laki : 0,6-1,3 mg/dl. Perempuan
: 0,5-1,0 mg/dl. (Wanita sedikit lebih rendah
karena massa otot yang lebih rendah daripada
pria).
ANAK : Bayi baru lahir : 0,8-1,4 mg/dl. Bayi :
0,7-1,4 mg/dl. Anak (2-6 tahun) : 0,3-0,6 mg/dl.
Anak yang lebih tua : 0,4-1,2 mg/dl. Kadar agak
meningkat seiring dengan bertambahnya usia,
akibat pertambahan massa otot.
LANSIA : Kadarnya mungkin berkurang akibat
penurunan massa otot dan penurunan produksi
kreatinin
 Masalah Klinis
Kreatinin darah meningkat jika fungsi
ginjal menurun. Oleh karena itu kreatinin
dianggap lebih sensitif dan merupakan
indikator khusus pada penyakit ginjal
dibandingkan uji dengan kadar nitrogen
urea darah (BUN). Sedikit peningkatan
kadar BUN dapat menandakan terjadinya
hipovolemia (kekurangan volume cairan);
namun kadar kreatinin sebesar 2,5 mg/dl
dapat menjadi indikasi kerusakan ginjal.
Kreatinin serum sangat berguna untuk
mengevaluasi fungsi glomerulus.
 Keadaan yang berhubungan dengan peningkatan
kadar kreatinin adalah : gagal ginjal akut dan
kronis, nekrosis tubular akut, glomerulonefritis,
nefropati diabetik, pielonefritis, eklampsia, pre-
eklampsia, hipertensi esensial, dehidrasi,
penurunan aliran darah ke ginjal (syok
berkepanjangan, gagal jantung kongestif),
rhabdomiolisis, lupus nefritis, kanker (usus,
kandung kemih, testis, uterus, prostat), leukemia,
penyakit Hodgkin, diet tinggi protein (mis. daging
sapi [kadar tinggi], unggas, dan ikan [efek
minimal]).
 Obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar
kreatinin adalah : Amfoterisin B, sefalosporin
(sefazolin, sefalotin), aminoglikosid (gentamisin),
kanamisin, metisilin, simetidin, asam askorbat,
obat kemoterapi sisplatin, trimetoprim,
barbiturat, litium karbonat, mitramisin, metildopa,
triamteren.

Penurunan kadar kreatinin dapat dijumpai pada :


distrofi otot (tahap akhir), myasthenia gravis
 Untuk menilai fungsi ginjal, permintaan pemeriksaan
kreatinin dan BUN hampir selalu disatukan (dengan
darah yang sama). Kadar kreatinin dan BUN sering
diperbandingkan. Rasio BUN/kreatinin biasanya berada
pada kisaran 12-20. Jika kadar BUN meningkat dan
kreatinin serum tetap normal, kemungkinan terjadi
uremia non-renal (prarenal); dan jika keduanya
meningkat, dicurigai terjadi kerusakan ginjal
(peningkatan BUN lebih pesat daripada kreatinin). Pada
dialisis atau transplantasi ginjal yang berhasil, urea turun
lebih cepat daripada kreatinin. Pada gangguan ginjal
jangka panjang yang parah, kadar urea terus meningkat,
sedangkan kadar kreatinin cenderung mendatar,
mungkin akibat akskresi melalui saluran cerna.
 Rasio BUN/kreatinin rendah (<12)>20)
dengan kreatinin normal dijumpai pada
uremia prarenal, diet tinggi protein,
perdarahan saluran cerna, keadaan
katabolik. Rasio BUN/kreatinin tinggi (>20)
dengan kreatinin tinggi dijumpai pada
azotemia prarenal dengan penyakit ginjal,
gagal ginjal, azotemia pascarenal
 Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil
Laboratorium
 Obat tertentu (lihat pengaruh obat) yang dapat
meningkatkan kadar kreatinin serum.
 Kehamilan
 Aktivitas fisik yang berlebihan
 Konsumsi daging merah dalam jumlah besar
dapat mempengaruhi temuan laboratorium.