Anda di halaman 1dari 77

NAPZA dan Penyalahgunaannya

dr. Anati Purwakanthi


Bagian Farmakologi
Program Studi Kedokteran
FKIK UNJA
NAPZA
 (Narkotika, Psikotropika dan zat adiktif
lainnya)
 bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan
mempengaruhi tubuh terutama susunan saraf
pusat/otak, sehingga menyebabkan gangguan
fisik, psikis dan fungsi sosial.
NAPZA
 mengacu kepada Narkotika dan Psikotropika
 Undang-undang No.5 tahun 1997 tentang
Psikotropika dan
 Undang-undang No.22 tahun 1997 tentang
Narkotika
Jenis NAPZA
 dibagi berdasarkan
 Undang-Undang
 Efeknya terhadap Susunan Syaraf Pusat
 Yang terdapat di masyarakat serta akibat pemakaiannya
 Penggunaan dalam Bidang Medik
UU No 22 tahun 1997
tentang Narkotika
 Zat atau obat yang berasal dari tanaman
atau bukan tanaman
 baik sintetis maupun semisintetis
 menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi
sampai menghilangkan rasa nyeri, dan
dapat menimbulkan ketergantungan.
Penggolongan
 Golongan I :
 digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan,
 tidak ditujukan untuk terapi
 potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan
 SAKAU
 Contoh: heroin/putauw, kokain, ganja
Heroin, putauw
Kokain
Ganja, hashis, kanabis
 Golongan II:
 berkhasiat pengobatan, sebagai pilihan terakhir
 digunakan dalam terapi atau pengembangan ilmu
pengetahuan
 potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan
 Contoh: morfin, petidin
Morfin, petidin
 Golongan III:
 berkhasiat pengobatan
 banyak digunakan dalam terapi atau
pengembangan ilmu pengetahuan
 potensi ringan mengakibatkan ketergantungan
 Contoh: kodein
Narkotika yang sering disalahgunakan:
 Opiat: morfin, heroin (putauw),
petidin, candu, dan lain-lain
 Ganja atau kanabis, mariyuana,
hashis
 Kokain
UU No. 5 tahun 1997
tentang Psikotropika
 Zat atau obat, alamiah maupun sintetis bukan
narkotika
 berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas
mental dan perilaku.
Penggolongan:
 GOLONGAN I:
 digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan
 tidak digunakan dalam terapi
 potensi amat kuat mengakibatkan ketergantungan.
 Contoh: ekstasi, shabu, LSD
 GOLONGAN II:
 tujuan ilmu pengetahuan
 berkhasiat pengobatan, dapat digunakan dalam
terapi,
 potensi kuat mengakibatkan ketergantungan.
 Contoh: amfetamin, metilfenidat atau ritalin
 GOLONGAN III :
 berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan
dalam terapi
 tujuan ilmu pengetahuan
 potensi sedang mengakibatkan ketergantungan
 Contoh: fenobarbital, flunitrazepam
 GOLONGAN IV
 berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan
dalam terapi
 untuk tujuan ilmu pengetahuan
 potensi ringan mengakibatkan ketergantungan
 Contoh: diazepam, bromazepam, fenobarbital,
klonazepam, klordiazepoxide, nitrazepam, seperti
pil BK, pil Koplo, Rohipnol, Dumolid, Mogadon
Psikotropika yang sering disalahgunakan
 Psikostimulansia: amfetamin, ekstasi, shabu
 Sedatif dan Hipnotika (obat penenang dan obat
tidur): Mogadon (MG), BK, Dumolid (DUM),
Rohypnol (Rohyp), Lexotan (Lexo), Pil koplo dan
lain-lain
 Halusinogen: Lysergic Acid Diethylamide (LSD),
Mushroom
ZAT ADIKTIF LAIN
 bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif selain yang disebut
Narkotika dan Psikotropika, meliputi:
 Alkohol
 Keppres No. 3 tahun 1997 tentang Pengawasan
dan Pengendalian Minuman Beralkohol.
 mengandung etanol (etil alkohol), menekan
susunan syaraf pusat.
 Merupakan gaya hidup atau bagian dari budaya.
3 golongan minuman beralkohol

 A : etanol 1-5%, (Bir)


 B : etanol 5-20%,
(Jenis-jenis
minuman anggur)
 C : etanol 20-45%,
(Wiski, Vodka, TKW,
Manson House,
Johny Walker,
Kamput)
 Jenis alkohol lain
 metanol:
 spiritus  desinfektan, zat pelarut
atau pembersih
 disalahgunakan  berakibat fatal
meskipun dalam konsentrasi rendah.
 Inhalansia (gas yang dihirup) Solven (zat
pelarut)
 mudah menguap
 senyawa organik (benzil alkohol),
 terdapat pada:
 barang keperluan rumah tangga,
 kantor
 pelumas mesin,
 sering disalah gunakan
 Contoh: Lem, tiner, penghapus cat kuku,
bensin.
 Tembakau
 Pemakaian sangat luas di masyarakat.
 Kadar nikotin yang bisa diserap oleh tubuh per batangnya
1-3 mg.
 Dosis letal: 60 mg nikotin sekali pakai.

 Pemakaian ROKOK dan ALKOHOL terutama


pada remaja, pintu masuk penyalahgunaan
NAPZA
 Kafein
 zat stimulansia
 dapat menimbulkan ketergantungan jika dikonsumsi
melebihi 100 mg /hari atau lebih dari dua cangkir kopi
 ketergantungan psikologis.
 Minuman energi sering kali menambahkan kafein dalam
komposisinya.
Klasifikasi lain:
 Sama sekali dilarang
 narkotika golongan I dan psikotropika golongan I
 Penggunaan dengan resep dokter
 amfetamin, sedatif hipnotika
 Diperjual belikan secara bebas
 lem, tinner, rokok dan lain-lain
BERDASARKAN EFEKNYA TERHADAP SUSUNAN
SYARAF PUSAT
 Golongan Depresan
 mengurangi aktifitas fungsional tubuh
 merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya
tertidur dan tidak sadarkan diri.
 Opioida (morfin, heroin/putauw, kodein),
 Sedatif (penenang),
 hipnotik (obat tidur),
 tranquilizer (anti cemas),
 alkohol dalam dosis rendah,
 dan lain-lain.
 Golongan Stimulan
 merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan
kegairahan kerja.
 menjadi aktif, segar dan bersemangat .
 Golongan ini
 Kokain, Amfetamin (shabu, ekstasi), Kafein.
 Golongan Halusinogen
 menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah
perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan
daya pandang yang berbeda sehingga seluruh
perasaan dapat terganggu.
 Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis.
 Golongan ini termasuk
 Kanabis (ganja),
 LSD,
 Mescalin,
 Pensiklidin (PCP),
 berbagai jenis jamur,
 tanaman kecubung
NAPZA YANG TERDAPAT DI MASYARAKAT
SERTA AKIBAT PEMAKAIANNYA
 OPIOIDA
 Opioida dibagi 3 golongan besar yaitu:
 Opioida alamiah (opiat ): morfin, opium, kodein
 Opioida semi sintetik: heroin/ putauw, hidromorfin
 Opioida sintetik: meperidin, propoksipen, metadon

 Nama jalanannya: putauw, ptw, black heroin,


brown sugar
MORFIN
 Bekerja dalam otak dengan mempengaruhi
sistem modulasi peptid endogen
 Merupakan analgesik yang dahsyat yang dapat
mengilangkan rasa nyeri baik berasal dari
organogen maupun psikogen bahkan
menggantinya dengan perasaan nyaman atau
euforia
 Merupakan induk dari heroin atau putau
HEROIN
 Heroin murni: bubuk putih
 Heroin yang tidak murni: putih keabuan
 Getah opium poppy yang diolah menjadi morfin
 proses  putauw > 10 morfin.
 Opioid sintetik: > 400 kali dari morfin.
 Guna: analgetik kuat, berupa pethidin,
methadon, Talwin, kodein dan lain-lain
 Cara penyalahgunaan:
 disuntik (ngipe, nyipet, iv, cucau)
 dihisap (ngedrag, dragon)
 Reaksi: sangat cepat rasa ingin
menyendiri
 taraf kecanduan
 hilang rasa percaya diri,
 tidak ingin bersosialisasi, membentuk dunia mereka
sendiri.
 Lingkungan musuh
 Berbohong
 penipuan/pencurian atau tindak kriminal lainnya.
KOKAIN
 bentuk:
 kokain hidroklorid
 berupa kristal putih, rasa sedikit pahit dan lebih mudah
larut dari free base.
 free base.
 tidak berwarna/ putih, tidak berbau dan rasanya pahit

 Nama jalanan : koka, coke, happy dust,


charlie, srepet, snow/salju, putih.
 Biasanya dalam bentuk bubuk putih
 Cara penyalahgunaan:
 cara menghirup bubuk dengan penyedot atau
gulungan kertas,
 di bakar bersama tembakau yang sering disebut
cocopuff.
 bentuk padat : dihirup asapnya (freebasing).
 Penggunaan dengan menghirup akan
berisiko luka pada sekitar lubang hidung
bagian dalam.
 Efek dari pemakaian kokain ini membuat
pemakai merasa segar, hilang nafsu
makan, menambah rasa percaya diri, juga
dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.
CANNABIS
 Nama jalanan: grass, cimeng, ganja, gelek,
hasish, marijuana, bhang
 Ganja berasal dari tanaman cannabis sativa
dan cannabis indica.
 Terkandung 3 zat utama yaitu tetrahidro
cannabinol (THC), cannabinol (CBN) dan
cannabidiol (BHC)
 zat aktif D9 Cannabinol (THC) bekerja dengan
cara mempengaruhi sistem saraf pusat.
 THC bersifat lipofilik, sehingga mudah larut dalam
membran plasma, dan dapat berdistribusi di
dalam otak.
 THC merangsang A2 fosfolipase, meningkatkan
produksi asam arachdonic, diasilgliserol (DAG),
dan inositol trifosfat. Mungkin, sistem ini
bertanggung jawab untuk inhibisi Ca2+ voltage-
dependent channel yang mengatur pelepasan
neurotransmitter oleh THC
 THC digambarkan sebagai zat neuromodulator,
bekerja melalui reseptor yang terletak di
membran sel dengan cara mengubah produksi
second messenger yang diatur oleh
neurotransmitter lain.
 THC menyebabkan perubahan bifasik, euphoria
(stimulating phase) and sedasi (depressive
phase)
 Cara penyalahgunaan: dihisap dengan
cara dipadatkan menyerupai rokok atau
dengan menggunakan pipa rokok.
 Efek:
 cenderung merasa lebih santai
 rasa gembira berlebih (euforia),
 sering berfantasi,
 aktif berkomunikasi,
 selera makan tinggi,
 sensitif,
 kering pada mulut dan tenggorokan.
AMFETAMIN
 Nama generik: D-pseudo epinefrin yang
disintesa tahun 1887, dan dipasarkan tahun
1932 sebagai dekongestan
 Nama jalanan: speed, meth, crystal, uppers,
whizz dan sulphate
 Bentuk: bubuk warna putih dan keabu-abuan
 Ada dua jenis amfetamin:
 MDMA (methylene dioxy methamphetamin)
 mulai dikenal sekitar tahun 1980 dengan nama Ectacy
atau Ekstasi.
 Nama lain: xtc, fantacy pils, inex, cece, cein, e.
 tidak selalu berisi MDMA karena merupakan designer
drugs  campur zat lain (disain) untuk mendapatkan
efek yang diharapkan/dikehendaki:
 white doft, pink heart, snow white, petir yang dikemas
dalam bentuk pil atau kapsul.
 Methamfetamin
 lama kerja lebih panjang dibanding MDMA (dapat
mencapai 12 jam) dan efek halusinasinya lebih kuat.
 Nama lainnya shabu-shabu, SS, ice, crystal, crank.
 Cara penggunaan :
 Dalam bentuk pil di minum peroral
 Dalam bentuk kristal, dibakar dengan menggunakan kertas
aluminium foil dan asapnya dihisap (intra nasal) atau dibakar
dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus
(bong).
 Dalam bentuk kristal yang dilarutkan, dapat juga melalui intra
vena.
LSD (Lysergic acid)
 Termasuk dalam golongan halusinogen
 Nama jalanan : acid, trips, tabs
 Bentuk: seperti kertas berukuran kotak
seperempat perangko dalam banyak warna dan
gambar; berbentuk pil, kapsul
 Cara: letakkan di permukaan lidah dan bereaksi
setelah 30-60 menit sejak pemakaian dan hilang
setelah 8-12 jam.
 Efek: tripping, yang biasa digambarkan seperti
halusinasi terhadap tempat, warna dan waktu.
SEDATIF-HIPNOTIK (BENZODIAZEPIN)
 Digolongkan zat sedatif (obat penenang)
dan hipnotika (obat tidur),
 Nama jalanan dari Benzodiazepin : BK,
Dum, Lexo, MG, Rohyp.
 Cara: oral, intra vena dan rectal.
 Di bidang medis:
 pengobatan kecemasan (ansietas),
 panik
 hipnotik (obat tidur)
SOLVENT / INHALANSIA
 Uap dari bahan mudah menguap yang dihirup.
 Contohnya: aerosol, aica aibon, isi korek api
gas, cairan untuk dry cleaning, tinner, uap
bensin.
 Biasanya digunakan secara coba-coba oleh
anak dibawah umur golongan kurang
mampu/anak jalanan
 Efek:
 pusing,
 kepala terasa berputar,
 halusinasi ringan,
 mual,
 muntah,
 gangguan fungsi paru, liver dan jantung.
 Kronis kerusakan fungsi intelektual.
ALKOHOL
 sering digunakan
 proses fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi-
umbian.
 proses penyulingan kadar alkohol tinggi mencapai
100%.
 Nama jalanan alkohol: booze, drink
 Kadar dalam darah maksimum dicapai 30-90
menit
ALKOHOL
 Bekerja dengan menekan SSP
 Penekanan SSP tergantung dari dosis alkohol yang
dikonsumsi
 Efek stimulasi dari SSP hanya terjadi jika
menggunakan dosis moderate
 Dibawah pengaruh alkohol korteks dibebaskan dalam
peran integratifnya, sehingga dapat menyebabkan
kebingungan, pikiran kacau serta gangguan kontrol
fungsi motorik
 Konsentrasi tinggi dari ethanol dapat menurunkan
transport elektron dari Na+ K+/ ATPase pump,
sehingga mengganggu konduksi listrik dari sel- sel
saraf
ALKOHOL
 Inhibisi dari neurotransmitter gamma-
aminobutyric acid (GABA).
 Intoksikasi “in vivo” ethanol menginhibisi reseptor
NMDA
 Dalam konsentrasi 25mM, alkohol menghambat
aliran calsium dalam channel ion, sehingga
menurunkan pelepasan neurotransmitter
PENGGUNAAN NAPZA DALAM
BIDANG MEDIK
 terapi medik  pasien lebih baik atau bila
mungkin sembuh dari penyakit atau
gangguannya.
 Psikofarmaka
 Antipsikotik, Antiansietas, Antidepresan,
Antiinsomnia, Antimanik
 tergolong Psikotropika dan sebagian kecilnya
tergolong narkotika.
Narkotika
 Morfin, Petidin
 digunakan untuk mengatasi nyeri yang di derita
pasien kanker stadium terminal, nyeri kepala atau
nyeri lainnya yang sukar dihentikan dengan
analgetika lainnya, nyeri akibat pembedahan.
 Kodein: simptom batuk.
Psikotropika
 digunakan untuk mengatasi gangguan mental
dan perilaku. Untuk mengatasi nyeri lambung,
nyeri haid, nyeri dada atau proses
psikosomatik lainnya (golongan
benzodiazepine)
Anti psikotik
 Chlorpromazin, haloperidol, trifluoperazin,

 tidak menimbulkan ketergantungan dan sangat


jarang disalahgunakan pasien.
Antidepresan
 Amitriptilin, Imipramin, Fluoxetin, Sertralin, dll

 tidak menimbulkan ketergantungan dan


sangat jarang disalahgunakan.
Golongan benzodiazepin
 efek sedasi seperti: diazepam, clobazam,
lorazepam, alprozolam
 efek hipnotik (tidur) seperti: midazolam,
triazolam, estazolam, nitrazepam

 sering disalahgunakan.
Golongan Barbiturat
 fenobarbital untuk menginduksi tidur yang
bersifat long acting,

 juga dapat disalahgunakan.


Methylphenydate (Ritalin)
 derivat amphetamin
 stimulansia susunan saraf pusat
 obat pilihan bagi anak dengan gangguan
pemusatan perhatian dan hiperaktivitas

 sering disalahgunakan.
PENYALAHGUNAAN
 Penggunaan di luar tujuan medis, berulang
kali, tendensi berlebihan berakhir dengan
gangguan pekerjaan, pendidikan, masyarakat.
 Faktor yg memungkinkan: tersedia, toleransi
masy., mobilitas, pemberitaan, disharmoni
keluarga dan tekanan komunitas
 Pengaruh pada tubuh: habituasi, toleransi,
adiksi, dependensi.
Kenapa orang menggunakan
napza?
 Untuk mengurangi anxietas dan rasa depresi
 Untuk meningkatkan sensasi tubuh untuk menimbulkan
kepuasan sensorik dari estetika, khususnya, kebutuhan seksual.
Beberapa pengguna narkoba mengatakan bahwa selama
penggunaan obat pilihan mereka, musik terdengar lebih indah,
warnanya lebih terang dan orgasme yang lebih intens.
 Untuk meningkatkan performa psikofisik dengan mengurangi
sensasi tubuh yang kurang menyenangkan seperti rasa nyeri,
insomnia, rasa lelah, atau dengan mengatasi kebutuhan fisik
seperti tidur dan lapar.
 Sebagai cara untuk melampaui keterbatasan tubuh dan waktu,
memberikan kekuatan khusus (kemampuan spiritual) meski
hanya sementara
Mekanisme Kerja Napza pada
Otak
 Otak kita memiliki 10 juta neuron dengan
milyaran interaksi elektrokimiawi yang terus
menerus berlangsung antar sel saraf yang
tersusun dan tersistem kedalam kelompok
fungsional
 Kelompok fungsional  sebagai pusat pengatur
aktivitas fisiologis dan psikologis
 Sistem limbik  pusat fungsi konatif  menerima
sinyal- sinyal neurotransmitter dari Reticular
Activating System (RAS)
 Antar neuron terdapat celah sinaps. Impuls saraf
diteruskan melalui sinyal- sinyal molekul zat kimia
yang ditransmisikan dari ujung saraf presinaps ke
saraf postsinaps yang disebut neurotransmitter.
 Mekanisme napza yaitu dengan cara
mempengaruhi elektrofisiologi membran saraf,
mengubah keberadaan konstalasi
neurotransmitter dan berperan sebagai agonis
atau antagonis sesuai konstalasi
neurotransmitter.
Clinical Manifestations of Drug Abuse

DSM (Diagnostic and Statistic Manual), disturbances related to


substances can be divided in two groups:

1. Substance use disorders


1.a Substance dependence
1.b Substance abuse
2. Substance-induced disorders
2.a Substance intoxication
2.b Substance withdrawal
2.c Substance-induced delirium
2.d Substance-induced persisting dementia
2.e Substance-induced persisting amnestic disorder
2.f Substance-induced psychotic disorder
2.g Substance-induced mood disorder
2.h Substance-induced anxiety disorder
2.i Substance-induced sexual dysfunction
2.j Substance-induced sleep disorder
Diagnostic Criteria for Substance Abuse

A. A maladaptive pattern of substance use leading to clinically significant impairment or distress, as manifested by
one (or more) of the following, occurring within a 12-month period:

1.recurrent substance use resulting in a failure to fulfill major role obligations at work, school, or home (e.g.,
repeated absences or poor work performance related to substance use; substance-related absences,
suspensions, or expulsions from school; neglect of children or household)
2.recurrent substance use in situations in which it is physically hazardous (e.g., driving an automobile or operating
a machine when impaired by substance use)
3.recurrent substance-related legal problems (e.g., arrests for substance-related disorderly conduct) ]
4.continued substance use despite having persistent or recurrent social or interpersonal problems caused or
exacerbated by the effects of the substance (e.g., arguments with spouse about consequences of intoxication,
physical fights)
Table from DSM-IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, ed 4. Copyright American Psychiatric Association, Washington, 1994..

B. The symptoms have never met the criteria for substance dependence for this class of substance.
Diagnostic Criteria for Substance Dependence

A maladaptive pattern of substance use, leading to clinically significant impairment or distress, as manifested by
three (or more) of the following, occurring at any time in the same 12-month period:
(1) tolerance, as defined by either of the following:
(a) a need for markedly increased amounts of the substance to achieve intoxication or desired effect
(b) markedly diminished effect with continued use of the same amount of the substance
(2) withdrawal, as manifested by either of the following:
(a) the characteristic withdrawal syndrome for the substance (refer to criteria A and B of the criteria sets for
withdrawal from the specific substances)
(b) the same (or a closely related) substance is taken to relieve or avoid withdrawal symptoms
(3) the substance is often taken in larger amounts or over a longer period than was intended
(4) there is a persistent desire or unsuccessful efforts to cut down or control substance use
(5) a great deal of time is spent in activities necessary to obtain the substance (e.g., visiting multiple doctors or
driving long distances), use the substance (e.g., chain-smoking), or recover from its effects
(6) important social, occupational, or recreational activities are given up or reduced because of substance use
(7) the substance use is continued despite knowledge of having a persistent or recurrent physical or psychological
problem that is likely to have been caused or exacerbated by the substance (e.g., current cocaine use despite
recognition of cocaine-induced depression, or continued drinking despite recognition that an ulcer was made
worse by alcohol consumption)

Specify if:
With physiological dependence: evidence of tolerance or withdrawal (i.e., either item 1 or 2 is present)
Without physiological dependence: no evidence of tolerance or withdrawal (i.e., neither item 1 nor 2 is present)
PENATALAKSANAAN
PENYALAHGUNAAN OBAT
 Pengobatan pasien pecandu terdiri dari terapi
farmakologis dan psikoterapi yang bertujuan
membantu mereka untuk membentuk kembali
perilaku mereka.
 Pengobatan farmakologi paling sering digunakan
untuk detoksifikasi
 Prinsip detoksifikasi: mengganti dengan obat yang
mempunyai masa kerja panjang, aktif per oral, secara
farmakologis sama efektifnya dengan obat yang
disalahgunakan, mantapkan pasien dengan obat
tersebut dan secara bertahap menghentikannya
 Contoh: metadon, naltrekson
Uji Penyalahgunaan Napza
1. Preliminary test /tes awal adalah sebuah tes yang hasilnya digunakan
sebagai deteksi awal
2. Tes konfirmasi adalah tes kedua yang memberikan metode kimia yang
lebih spesifik untuk mendeteksi napza. Metode konfirmasi yang
disarankan adalah Gas Chromatography/Mass Spectrometry (GC/MS).
 Tujuan dari konfirmasi adalah untuk menyisihkan hasil false positif yang
mungkin berasal dari proses deteksi awal karena tes konfirmasi ini
lebih spesifik dan lebih sensitif. Perlu diingat, bahwa tes konfirmasi
tidak sama dengan tes ulang dalam pengujian yang sama untuk kedua
kalinya dan tidak menghilangkan kesalahan karena sistem. Tes
konfirmasi lebih spesifik digunakan untuk mengidentifikasi
penyalahgunaan obat umumnya dikelompokkan menjadi 3:
 1. Gas kromatografi cair (GC)
 2. Kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC)
 3. Kromatografi gas dengan spektrometri massa (GC / MS)
Substance Abuse and Mental Health Services
Administration (SAMHSA, formerly NIDA)
Mandatory Guidelines for Federal Workplace
Drug Testing Programs
Kesalahan pada Hasil Tes
False positif kemungkinan disebabkan oleh:
 Administrasi/ human error seperti salah
memberi label
 Kesalahan mencatat atau merekam
 Kesalahan penanganan zat
 Potensi reaksi silang zat
Oleh karena itu tes konfirmasi diperlukan saat
tes awal dilakukan didapatkan hasil positif.
Pemeriksaan urin untuk pasien
penyalahgunaan napza bertujuan;
 Untuk membantu membedakan gejala
 untuk memastikan bahwa pasien bersih dari napza sebelum menjalani
prosedur medis.
 untuk mendidik dan membantu panduan pengobatan bayi baru lahir
(wanita hamil dengan riwayat penyalahgunaan napza).
 Untuk menguji fisik pegawai atau belum pegawai
 Untuk membebaskan para pekerja dari beberapa pekerjaan
- seperti penegakan hukum dan transportasi, secara
periodik,acak, dan pasca insiden pemeriksaan napza.
- Pemeriksaan napza pada pekerja di industri transportasi,
termasuk sopir bus, sopir truk, karyawan maskapai penerbangan,
dan masinis.
- Pemerintah menganjurkan tes harus harus dilakukan oleh
laboratorium bersertifikat oleh BNN
Pemeriksaan urin untuk penyalahgunaan
napza hanya mendeteksi jenis zat secara
umum
 amfetamin, barbiturat, benzodiazepin, atau
opiat.
 juga pengujian untuk kokain, ganja, dan
phencyclidine (PCP).
- Tes pemeriksaan untuk mendeteksi kokain
benzoil ecgonine (metabolit utama kokain)
- Uji Marijuana mendeteksi D-9-
tetrahydrocannabinol, (produk aktif dalam
asap ganja).
 Tes pemeriksaan urin tidak bisa
membedakan antara obat-obatan terlarang
dan obat resep dari kelas yang sama.
- Seorang pasien menggunakan kodein dan
orang yang menggunakan heroin keduanya
akan memiliki tes pemeriksaan positif untuk
opiat.
- Beberapa obat bebas dapat menyebabkan
hasil pemeriksaan positif. Misalnya,
pseudoefedrin dan fenilpropanolamin dapat
menyebabkan hasil positif amfetamin yang
salah.
- Orang yang baru saja menghisap asap ganja,
biasanya tidak menyebabkan tes
pemeriksaan positif untuk ganja. Karena D-9-
tetrahydrocannabinol, sangat larut dalam
lemak, tetap dalam tubuh untuk jangka waktu
yang lama dan dapat dideteksi dalam urin
berminggu-minggu setelah ganja dihisap.
Pengambilan Sampel Urin
 Hasil pemeriksaan napza dalam urin dapat digunakan untuk
bekerja atau tindakan hukum
 Untuk menghindari pemalsuan spesimen urin diperlukan prosedur
untuk meminimalkan kemungkinan pemalsuan. Yaitu dengan cara
mengukur suhu atau pH urin segera urin diambil dan menggunakan
wadah penampung anti rusak (tamper-proof container).
(See The United States Substance Abuse and Mental Health Services
Administration (SAMHSA))
Metode Tes
 Metode pengujian : immunoassay.
 Radioimmunoassays dapat digunakan untuk kumpulan sampel
yang banyak .
 Perkembangan yang lebih baru adalah penggunaan rambut
sebagai sampel. Sampel rambut mendeteksi lebih baik untuk
penggunaan narkoba kronis.
 Semua tes pemeriksaan positif urin untuk napza harus
dikonfirmasi, terutama jika ada konsekuensi medis, hukum, atau
pekerjaan.
 Tes konfirmasi yang dapat diterima untuk
semua obat adalah gas chromatography-
mass spectrometry (GC-MS), yang dapat
mengidentifikasi zat yang telah dicerna secara
spesifik, mengenali tidak hanya struktur
molekul dari senyawa asli tapi juga produk
metabolit.
Terima Kasih