Anda di halaman 1dari 29

MIOPI

1. AgustinaMandaSabil
2. Diah Nova Arum P
3. FeraNurma Sari
4. WahyuPurnomo A
5. Hartatik
6. Wulandari
Definisi

Miopia merupakan kelainan refraksi dimana berkas


sinar sejajar yang memasuki mata tanpa akomodasi,
jatuh pada fokus yang berada di depan retina. Dalam
keadaan ini objek yang jauh tidak dapat dilihat secara
teliti karena sinar yang datang saling bersilangan pada
badan kaca, ketika sinar tersebut sampai di retina sinar-
sinar ini menjadi divergen, membentuk lingkaran yang
difus dengan akibat bayangan yang kabur.
Etiologi
Miopia tidak diketahui secara pasti dan pada Pertengahan tahun
1900 SM, para dokter ahli mata dan ahli pemeriksa mata ( ahli
kacamata ) percaya bahwa miopia menjadi hereditas utama. Di antara
peneliti-peneliti dan para professional peduli mata, mereka
mengatakan bahwa miopia sekarang telah menjadi sebuah kombinasi
genetik dan merupakan salah satu faktor lingkungan.Ada 2
mekanisme dasar yang dipercaya menjadi penyebab myopia yaitu:
Hilangnya bentuk mata( juga diketahui sebagai hilangnya pola mata
), terjadi ketika kualitas gambar dalam retina
berkurang.Berkurangnya titik fokus mata, terjadi ketika titik fokus
cahaya berada di depan atau di belakang retinaMyopia Terjadi karena
bola mata tumbuh terlalu panjang saat bayi. Dikatakan pula, semakin
dini mata seseorang terkena sinar terang secara langsung, maka
semakin besar kemungkinan mengalami miopi.Ini karena organ mata
sedang berkembang dengan cepat pada tahun-tahun awal
kehidupan.akibatnya para penderita miopi umumnya merasa
bayangan benda yang dilihatnya jatuh tidak tepat pada retina
matanya, melainkan didepannya (Curtin, 2002).
Klasifikasi

1. Miopia Axial
Dalam hal ini, terjadinya miopia akibat panjang sumbu bola
mata (diameter Antero-posterior), dengan kelengkungan kornea
dan lensa normal, refraktif power normal dan tipe mata ini
lebih besar dari normal.
2. Miopia Kurvatura
Dalam hal ini terjadinya miopia diakibatkan oleh perubahan
dari kelengkungan kornea atau perubahan kelengkungan dari
pada lensa seperti yang terjadi pada katarak intumesen dimana
lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat,
dimana ukuran bola mata normal.
3. Perubahan Index Refraksi
Perubahan indeks refraksi atau miopia refraktif, bertambahnya
indeks bias media penglihatan seperti yang terjadi pada
penderita Diabetes Melitus sehingga pembiasan lebih kuat.
Next
4. Perubahan Posisi Lensa
Perubahan posisi lensa kearah anterior setelah tindakan
bedah terutama glaucoma berhubungan dengan terjadinya
miopia.
 Miopia ringan : 0,25 – 3,00D
 Miopia sedang : 3,00 – 6,00D
 Miopia berat / tinggi : >6,00D)
Pemanjangan bola mata yang biasa terjadi pada
penderita miopia terbatas pada kutub posterior, sedang
setengah bagian depan bola mata relatif normal. Bola mata
membesar secara nyata dan menonjol kebagian posterior,
segmen posterior sclera menipis dan pada keadaan ekstrim
dapat menjadi seperempat dari ketebalan normal.
Patofisiologi
Terjadinya elongasi sumbu yang berlebihan pada
myopia patologi masih belum diketahui.Sama halnya
terhadap hubungan antara elongasi dan komplikasi
penyakit ini, seperti degenerasi chorioretina, ablasio retina
dan glaucoma.Columbre dan rekannya, tentang penilaian
perkembangan mata anak ayam yang di dalam
pertumbuhan normalnya, tekanan intraokular meluas ke
rongga mata dimana sklera berfungsi sebagai
penahannya.Jika kekuatan yang berlawanan ini merupakan
penentu pertumbuhan ocular post natal pada mata
manusia, dan tidak ada bukti yang menentangnya maka
dapat pula disimpulkan dua mekanisme patogenesa
terhadap elongasi berlebihan pada myopia.Menurut
perjalanan miopia dikenal bentuk.
Next
1.Myopia stasioner, myopia yang menetap setelah dewasa
2.Myopia progresif, myopia yang bertambah terus pada
usia dewasaakibat bertambah panjangnya bola mata.
3.Myopia maligna,myopia yang berjalan progresif,yang
dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan atau
sama dengan myopia pernisiosa sama dengan myopia
maligna sama dengan myopiadegenerative.
4.Myopia degenertif atau myopia maligna biasanya bila
myopia lebih dari 6 dioptri disertai kelainan pada fundus
okuli dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk
stafiloma postikum yang terletak pada bagian temporal
papil disertai dengan atrofi karioretina.
Manifestasi klinis

Gejala subjektif miopia antara lain:


a. Kabur bila melihat jauh
b. Membaca atau melihat benda kecil harus dari jarak
dekat
c. Lekas lelah bila membaca ( karena konvergensi yang
tidak sesuai dengan akomodasi )
Next
Gejala objektif miopia antara lain:
a. Miopia simpleks :
Pada segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam dan pupil yang
relative lebar. Kadang-kadang ditemukan bola mata yang agak menonjol.
Pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau
dapat disertai kresen miopia (myopic cresent) yang ringan di sekitar papil
saraf optik.
b. Miopia patologik :
1. Gambaran pada segmen anterior serupa dengan miopia simpleks
2. Gambaran yang ditemukan pada segmen posterior berupa kelainan-
kelainan pada
3. Badan kaca : dapat ditemukan kekeruhan berupa pendarahan atau
degenerasi yang terlihat sebagai floaters, atau benda-benda yang
mengapung dalam badan kaca. Kadang-kadang ditemukan ablasi badan
kaca yang dianggap belum jelas hubungannya dengan keadaan myopia
Next
4. Papil saraf optik : terlihat pigmentasi peripapil, kresen miopia,
papil terlihat lebih pucat yang meluas terutama ke bagian temporal.
Kresen miopia dapat ke seluruh lingkaran papil sehingga seluruh
papil dikelilingi oleh daerah koroid yang atrofi dan pigmentasi
yang tidak dapat diatur
5. Makula : berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang
ditemukan perdarahan subretina pada daerah makula.
6. Retina bagian perifer : berupa degenersi kista retina bagian
perifer.
7. Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid
dan retina. Akibat penipisan ini maka bayangan koroid tampak
lebih jelas dan disebut sebagai fundus tigroid.
Pengobatan

1. Penggunaan Kacamata
Pembuatan kacamata untuk Miopia membutuhkan keahlian
khusus.Bingkai kacamata haruslah cocok dengan ukuran
mata.Bingkainya juga harus memiliki ukuran lensa yang
kecil untuk mengakomodasi resep kacamata yang tinggi.
Pengguanaan indeks material lensa yang tinggi akan
mengurangi ketebalan lensa. Semakin tinggi indeks lensa,
semakin tipis lensa. Pelapis antisilau pada lensa akan
meningkatkan pengiriman cahaya melalui material lensa
dengan indeks yang tinggi ini sehingga membuat resolusi
yang lebih tinggi.
Next
2. Penggunakan Lensa Kontak
Banyak jenis lensa kontak yang tersedia meliputi lensa
kontak sekali pakai yang sekarang telah tersedia lebih dari -
16.00 dioptri.Lensa kontak ada dua macam yaitu lensa
kontak lunak (soft lens) serta lensakontak keras (hard
lens).Pengelompokan ini didasarkan pada bahan
penyusunnya.Lensa kontak lunak disusun oleh hydrogels,
HEMA (hydroksimethylmetacrylate) dan vinyl copolymer
sedangkan lensa kontak keras disusun dari PMMA
(polymethylmetacrylate).
Next
c. Operasi (Refractive Surgery)
Tindakan operasi untuk mengoreksi kelainan refraksi
sudh sangat dikenal.
1. Radial keratotomy (RK)
Melakukan insisi dalam (90 persen dari ketebalan)
pada bagian perifer dari kornea dengan meninggalkan
4 mm di sentral pada zona optic. Insisi ini pada
penyembuhannya: mendatarkan kornea sentral
sehingga mengurangi kemampuan refraktif. Prosedur
ini memberikan koreksi yang sangat baik pada miopia
ringan hingga moderate.
2. Photorefractive keratectomy (PRK)
Pada tehnik ini, untuk melakukan koreksi miopia, zona
optic sentral dari stroma kornea anterior difotoablasikan
menggunakan excimer laser (193-nm UV flash) untuk
mendatarkan kornea sentral. Seperti pada RK, RPK juga
memberikan koreksi yang sangat bagus untuk miopia
dengan -2 sampai -6 D.
3. Lasik
Lasik adalah suatu tindakan koreksi kelainan refraksi mata
yang menggunakan teknologi laser dingin (cold/non
thermal laser) dengan cara merubah atau mengkoreksi
kelengkungan kornea. Setelah dilakukan tindakan lasik,
penderita kelainan refraksi dapat terbebas dari kacamata
atau lensa kontak, sehingga secara permanen
menyembuhkan rabun jauh (miopia), rabun dekat
(hipermetropia), serta mata silinder (astigmatisme).
4.Extraction of cler crystalline lens (Fucala’s operation)
Ini dianjurkan pada miopia dengan -16 sampai -18 D,
khusunya pada kasus unilateral.Baru-baru ini, clear lens
extraction dengan implant lensa intraocular pada kekuatan
yang tepat direkomendasikan pada operasi refraksi untuk
myopia dengan -12.
5. Phakic intraocular lens (implant lensa kontak intraocular)
Tehnik ini juga baik untuk mengoreksi myopia lebih dari -
12
6. Intercorneal ring (ICR) implantation
Implant intercorneal ring pada kornea perifer kira-kira 2/3
kedalaman stroma. Hasilnya sentral kornea lebih datar,
dan mengurangi miopia.
Pemeriksaan penunjang
Foto fundus/retina Pemeriksaan lapang pandang /
campimetri / perimetri
Pemeriksaan kwalitas retina( E.R.G = electro retino gram)
Pemeriksaan kelainan otak / brain berkaitan dengan
kelainan mata ( E.E.G = electro – ence falogramEVP
(evoked potential examination)USG ( ultra – sono – grafi )
bola mata dan keliling organ mata missal pada
tumor,panjang bola mata,kekentalan benda kaca
(vitreous)Retinometri ( maksimal kemungkinan tajam
penglihatan mata yang tersisa)
CT scan dengan kontras / MRI. VI. Penatalaksanaa.
Komplikasi

Komplikasi lain dari miopia sering terdapat pada miopia


tinggi berupa ablasio retina, perdarahan vitreous, katarak,
perdarahan koroid dan juling esotropia atau juling ke
dalam biasanya mengakibatkan mata berkonvergensi
terus-menerus. Bila terdapat juling ke luar mungkin fungsi
satu mata telah berkurang atau terdapat ambliopia
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian Fisik
1. Pengkajian Ketajaman Penglihatan dilakukan di kamar
yang tidak terlalu terang dengan kartu Snellen.
a. Pasien duduk dengan dengan jarak 6 meter dari kartu Snellen
dengan satu mata ditutup.
b. Pasien diminta membaca huruf yang tertulis pada kartu, mulai
dari baris paling atas kebawah,dan tentukan baris terakhir yang
masih dapat dibaca seluruhnya dengan benar.
2. Pengkajian Gerakan Mata

a. Uji Menutup, salah satu mata pasien di tutup dengan


karton atau tangan pemeriksa, dan pasien di minta
memfokuskan mata yang tidak tertutup pada satu benda
diam sementara mata yang di tutup karton/tangan tetap
terbuka. Kemudian karton atau tangan tiba-tiba di
singkirkan, dan akan nampak gerakan abnormal mata.
Bila mata, saat di tutup bergeser ke sisi temporal, akan
kembali ke titik semula ketika penutup di buka.
Sebaliknya, bila bergeser ke sisi nasal, fenomena
sebaliknya akan terjadi. Kecenderungan mata untuk
bergeser, ketika di tutup, ke sisi temporal, di namakan
eksoforia; kecenderungan mata untuk bergeser ke sisi
nasal di sebut esoforia.
b.Lirikan Terkoordinasi, benda di gerakkan ke lateral ke
kedua sisi sepanjang sumbu horizontal dan kemudian
sepanjang sumbu oblik. Masing-masing membentuk
sumbu 60 derajat dengan sumbu horizontal. Tiap posisi
cardinal lirikan menggambarkan fungsi salah satu dari
keenam otot ekstraokuler yang melekat pada tiap mata.
Bila terjadi diplopia (pandangan ganda), selama
transisi dari salah satu posisi cardinal lirikan,
pemeriksa dapat mengetahui adanya salah satu atau
lebih otot ekstraokuler yang gagal untuk berfungsi
dengan benar. Keadaan ini bias juga terjadi bila salah
satu mata gagal bergerak bersama dengan yang lain.
3. Pengkajian Lapang Pandang
Pemeriksa dan pasien duduk dengan jarak 1 sampai 2 kaki,
saling berhadapan. Pasien di minta menutup salah satu mata dengan
karton, tanpa menekan, sementara ia harus memandang hidung
pemeriksa. Sebaliknya pemeriksa juga menutup salah satu matanya
sebagai pembanding.Bila pasien menutup mata kirinya, misalnya,
pemeriksa menutup mata kanannya. Pasien di minta tetap melirik pada
hidung pemeriksa dan menghitung jumlah jari yang ada di medan
superior dan inferior lirikan temporal dan nasal. Jari pemeriksa di
gerakkan dari posisi luar terjauh ke tengah dalam bidang vertical,
horizontal dan oblik.Medan nasal, temporal, superior dan inferior di kaji
dengan memasukkan benda dalam penglihatan dari berbagai titik perifer.
Pada setiap manuver, pasien memberi informasi kepada pemeriksa saat
ketika benda mulai dapat terlihat sementara mempertahankan arah
lirikannya ke depan.
B. PEMERIKSAAN FISIK MATA
a. Kelopak Mata, harus terletak merata pada
permukaan mata
b. Buku Mata, posisi dan distribusinya
c. Sistem lakrimal, struktur dan fungsi
pembentukan dan drainase air mata.
d. Pemeriksaan Mata Anterior, sclera dan
konjungtiva bulbaris diinspeksi secara bersama.
e. Pemeriksaan Kornea, normalnya kornea tampak
halus dengan pantulan cahaya seperti cermin,
terang, simetris dan tunggal
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan persepsi diri berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori/gangguan status organ indera
2. Ansietas/ketakutan berhubungan dengan perubahan status
kesehatan (nyeri pada kepala, kelelahan pada mata)
3. Kurang pengetahuan/informasi tentang kondisi, prognosis
dan pengobatan
INTERVENSI

DX I :Gangguan persepsi diri berhubungan dengan gangguan


penerimaan sensori/perubahan status organ indera.
1.Kaji derajat dan durasi gangguan visual
Rasional: Meningkatkan pemahaman perawat tentang kondisi klieN
2.Orientasikan klien pada lingkungan yang baru.
Rasional: Memberikan peningkatan kenyamanan, kekeluargaan serta
kepercayaan klien-perawat.
3.Dorong klien mengekspresikan perasaan tentang gangguan penglihatan.
Rasional: meningkatkan kepercayaan klien-perawat dan penerimaan diri
4. Lakukan tindakan untuk membantu klien menangani gangguan
penglihatannya.
Rasional: Menurunkan kemungkinan bahaya yang akan tejadi
sehubungan dengan gangguan penglihatan
DX II : Ansietas/ketakutan berhubungan dengan
perubahan status kesehatan (nyeri pada kepala,
kelelahan pada mata)
1.Orientasikan klien pada lingkungan yang baru.
Rasional: Membantu mengurangi ansietas dan meningkatkan
keamana.
2.Beritahu klien tentang perjalanan penyakitnya Rasional:
Memberikan informasi kepada klien tentang penyakitnya dan
mengurangi ansietas.
3.Beritahu klien tentang tindakan pengobatan yang akan dilakukan.
Rasional: Mengurangi ansietas klien.
DX III: Kurang pengetahuan/informasi tentang kondisi,
prognosis dan pengobatan
1.Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis dan
pengobatan
Rasional: Meningkatkan pemahaman perawat tentang kondisi
klien
2. Beritahu klien tentang perjalanan penyakitnya serta pengobatan
yang akan dilakukan.
Rasional: Memberikan informasi kepada klien tentang
penyakitnya.
3. Anjurkan klien menghindari membaca terlalu lama dan membaca
dengan posisi tidur, menonton TV dengan jarak terlalu dekat.
Rasional: Membaca terlalu lama dan membaca dengan posisi tidur,
menonton TV dengan jarak terlalu dekat dapat mengakibatkan
kelelahan pada mata.
IMPLEMENTASI
Melakukan tindakan sesuai dengan yang direncanakan.
EVALUASI
 Menyatakan penerimaan diri sehubungan dengan perubahan sensori
 Mampu memakai metode koping untuk menghilang ansietas
 Menyatakan pemahaman tentang kondisi, prognosis dan pengobatan
Terimakasih