Anda di halaman 1dari 34

PRESENTASI

KASUS PSIKOTIK

Faerus Soraya 20050310185

Pembimbing: dr. Widiatmoko, Sp.KJ

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
IDENTITAS PASIEN
• Nama : Sdr. R
• No. CM : 54895
• Usia : 20 thn
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Pendidikan : SD (tidak tamat)
• Status : Belum Kawin
• Agama : Islam
• Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
• Pekerjaan : Belum bekerja
• Alamat : Jaraksari RT. 09 RW. 02, Kecamatan
• wonosobo, Kabupaten Wonosobo.
• Datang ke IGD RSJ Prof. dr. Soeroyo Magelang pada tanggal 25
November 2010 Jam 13.46 WIB
ALLOANAMNESIS
I
Nama Tn. S
Usia 55 tahun
Pendidikan SD
Status Kawin
Agama Islam
Pekerjaan Buruh
Hubungan dengan Ayah kandung
pasien
Alamat Jaraksari RT. 09 RW.02
kec/kabupaten
Wonosobo
SEBAB DIBAWA KE RSSM

Keluhan utama :
Pasien mengamuk dan memukuli ayahnya.
• 8 bulan SMRS, pasien mengalami kecelakaan, saat itu pasien sedang
mengendarai sepeda motor saat hendak menyalip mobil yang ada
dihadapannya tiba-tiba dari sisi yang berlawanan ada mobil yang sedang
melaju kencang. Akibat kecelakaan itu pasien mengalami patah pada kaki
kiri, sempat di bawa ke RS, semenjak kejadian itu pasien lebih sering
berada di rumah. Karena merasa malu dengan keadaan dirinya yang
mengalami kesulitan untuk berjalan pasien sudah tidak pernah lagi
bergaul dengan teman-teman sebayanya. Pasien merasa teman-temannya
mengejek keadaanya saat ini.
• 5 bulan SMRS, pasien bisa berjalan lagi, namun pasien tetap merasa
teman-temannya menjauhinya. Pada dasarnya pasien merupakan remaja
yang pemalu dan jarang mengungkapkan masalah yang sedang
dihadapinya. Sejak saat itu pasien mulai tertarik untuk belajar ilmu agama,
menurut ayahnya pasien rajin pergi ke masjid, dan rajin solat malam.
• 1 minggu SMRS, pasien membeli sebuah kitab, hampir setiap hari pasien
membaca kitab tersebut, sejak saat itu pasien berkata pada keluarganya
kalau dirinya memiliki kesaktian dan mengaku dirinya sebagai imam
nahdi. Sering kali pasien juga berbicara seperti orang kesurupan. Saat
pasien mendengar suara adzan, pasien langsung berlari ke masjid dan
melarang orang lain untuk mengumandangkan adzan.
• dua hari SMRS, Pasien mencoba bunuh diri dengan cara memotong
lehernya dengan golok, namun kejadian tersebut dapat dicegah oleh kakak
pasien. Malam harinya pasien mulai sulit untuk tidur, lebih senang keluar
rumah. kadang bicara dan tertawa sendiri. Sesekali menangis tanpa sebab.
• Hari masuk rumah sakit, pasien mengamuk dan mencoba memukuli
ayahnya. Lalu keluarga membawa pasien ke RSSM. Saat di IGD, pasien
datang dalam keadaan kaki dan tangan terikat.
• Saat diperiksa pada tanggal 26 November 2010, pasien
menyatakan bahwa dia menyesal telah memukuli ayahnya,
pasien mengatakan bahwa dia melakukan hal itu karena
mendengar suara-suara yang menyuruhya melakukan hal
tersebut, selain itu alasanya juga untuk menyebarkan agama
kadang suara tersebut mengingatkan akan dosa-dosa yang
sudah dia lakukan. namun saat ini suara tersebut sudah
menghilang. Pasien masih merasa sedih dan bersalah tetapi
dia sudah dapat tidur. Pasien mengatakan dia ingin pulang
dan sudah tidak ada keinginan untuk bunuh diri.
RIWAYAT GANGGUAN SEBELUMNYA
• Psikiatri
Pasien sakit pertama dan mondok untuk pertama kali.
• Medis Umum
Tidak didapatkan riwayat demam tinggi, tidak terdapat riwayat
kejang, dan terdapat riwayat trauma kapitis.
• Penyalahgunaan NAPZA
Pasien merokok tetapi tidak didapatkan riwayat penyalahgunaan
obat dan konsumsi alkohol.
RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI

• Masa Prenatal dan Perinatal


• Masa Kanak Awal (0-3 tahun)
• Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)
• Masa Kanak Akhir dan Remaja (11-18 tahun)
GRAFIK PERJALANAN PENYAKIT
M
E
N
T
A C
L
D
A B
P
E
R
A
N

Keterangan :
A: Keadaan premorbid pasien.
B: ± 8 bulan yang lalu, saat pasien mengalami kecelakaan yang menyebabkan kaki kanannya
patah
C: ± 2 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mulai berperilaku aneh sering tertawa dan
berbicara sendiri,kadang tiba-tiba menangis, puncaknya pasien mencoba bunuh diri.
D: Pasien dirawat di RSSM dan mulai menyadari bahwa tindakan percobaan bunuh diri dan
memukuli ayahnya merupakan tindakan yang salah.
RIWAYAT PSIKOSOSIAL

• Kepribadian Premorbid
– Pasien pendiam, tidak mudah mengungkapkan keingian
dan permasalahannya. Tidak punya teman akrab, jarang
bergaul, pemalu. Takut dijadikan bahan ejekan oleh teman
karena kekurangan yg ada pada dirinya.
• Faktor keluarga
– Komunikasi kurang terbuka
• Faktor lingkungan
– Pasien merasa semua orang disekitarnya menganggap
dirinya cacat sebelum pasiennya akhirnya bisa berjalan
lagi.
RIWAYAT KELUARGA

a. Pola asuh Keluarga


b. Silsilah Keluarga
c. Genogram

20
PEMERIKSAAN FISIK
(Tgl 30 Mei 2009 Jam 20.00)
A. Status Internis
KU : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign
TD : 110/70 mm Hg Nadi : 84 x/menit
Suhu : 36,5° C RR : 24 x/menit
Kepala : Mesochepal
Mata : CA (-), SI (-), Pupil kanan/kiri Isokor
Lidah : Tidak hiperemis, Tidak kotor
Leher : JVP tidak meningkat, massa (-)
Dada
Paru-paru : Simetris, vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-)
Jantung : Ictus cordis tidak nampak, S1-S2 reguler
Abdomen : Supel, Hepar dan Lien tidak teraba, bising usus (+)
normal.
Ekstremitas : Tonus dan pergerakan normal.
B. Status Neurologik
Reflek-reflek
a. Reflek Fisiologis.
• Reflek Patella : (+) DBN
• Reflek Bisep : (+) DBN
• Reflek Trisep : (+) DBN
• Reflek Brachioradialis : (+) DBN
• Reflek Tendo Achiles : hiperefleks
b. Reflek Patologis : (-)
• Sensorik : DBN
• Motorik : (hoffmen-trommer (kiri)= +)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Laboratorium darah rutin, faal hati, faal ginjal,
GDS, Elektrolit dalam batas normal.
• EKG tidak ada kelainan
PEMERIKSAAN STATUS MENTAL

A. Deskripsi Umum
– Penampilan: laki-laki sesuai umur, perawatan diri baik,
status gizi cukup, sering melamun
– Kesadaran: Compos Mentis
– Perilaku & aktivitas psikomotor: hipoaktif
– Pembicaraan: spontan dg volume suara agak rendah
– Sikap terhadap pemeriksa: kooperatif
B. Keadaan afektif (mood), perasaan, ekspresi afektif, empati
– Mood : disforik; afek: menyempit
– Ekspresi afektif : appropriate
– Roman muka : sedikit mimik
– Empati : mudah ditarik, mudah dicantum
C. Fungsi intelektual (kognitif)
– Taraf pendidikan, pengetahuan dan kecerdasan: tidak
tamat SD (kelas 5)
– Daya konsentrasi: cukup
– Orientasi W/O/T/S: baik
– Daya ingat (segera, jangka pendek, jangka panjang):
baik, akibat hendaya daya ingat pada pasien tidak
terganggu
– Pikiran abtrak: baik
– Bakat kreatif: bercocok tanam
– Kemampuan menolong diri sendiri: mampu melakukan
activity daily living
D. Gangguan persepsi
– Halusinasi & ilusi
• Halusinasi visual (-)
• Halusinasi auditorik (+), riwayat
• Halusinasi olfaktori (-)
• Halusinasi taktil (-)
• Ilusi (-)
– Depersonalisasi & derealisasi (-)
E. Proses pikir
– Arus pikiran
• Produktifitas: remming
• Kotinuitas: relevan
• Hendaya bahasa: (-)
– Isi pikiran
• Preokupasi: ada (gagasan bunuh diri)
• Obsesi: (-)
• Gangguan pikir:
– Waham bizarre(-)
– Waham non bizarre; waham curiga (+), waham
kebesaran (-), waham kejar (-), waham cemburu (-),
waham berdosa/bersalah (+), waham somatik (-),
waham tidak berguna (-)
– Bentuk pikir: nonrealistik
F. Pengendalian impuls
– Pasien dapat mengendalikan impuls
G. Daya nilai
– Norma sosial terganggu, uji daya nilai tidak terganggu,
penilaian reaitas terganggu
H. Persepsi pasien tentang diri & kehidupannya
– Merasa ingin pulang, kembali beraktifitas, cita-cita menjadi
tentara
I. Tilikan (insight) : derajat 1
J. Taraf dapat dipercaya: cukup dapat dipercaya
IKHTISAR PENEMUAN YG BERMAKNA
• Pasien laki-laki, berumur 20 tahun, belum menikah, tinggal bersama
orang tua dan adik kandungnya, dengan pendidikan terakhir tamat SD.
Pasien dibawa ke RSSM oleh keluarga karena mengamuk dan memukuli
ayahnya serta mencoba bunuh diri di rumah sejak 2 hari sebelum masuk
rumah sakit.
• Pasien mulai membatasi diri dari lingkungan rumah sejak 8 bulan SMRS
karena kaki kirinya patah akibat kecelakaan. Pasien merasa minder dengan
keadaannya pada saat itu. setelah kejadian kecelakaan itu, pasien mulai
sering mengurung diri di kamarnya dan beberapa bulan setelahnya saat
pasien sudah mulai bisa berjalan, pasien mulai belajar agama dan
menganggap dirinya memiliki ilmu kekebalan. Pasien sering mendengar
bisikan-bisikan yang menyuruhnya menyebarkan agama, selain itu pasien
juga mengaku dirinya sebagai imam nahdi. Dua hari SMRS, Pasien sama
sekali tidak bisa tidur sejak saat ini sampai masuk rumah sakit, pasien
mencoba bunuh diri dengan golok, namun dapat dicegah oleh adik pasien.
Hari masuk rumah sakit, pasien mengamuk dan memukuli ayahnya karena
pasien mendengar ada suara yang menyuruhnya melakukan hal itu dengan
tujuan menyebarkan agama. Lalu keluarga membawa pasien ke RSSM.
• Pasien belum pernah berobat sebelumnya, pada riwayat keluarga tidak
ditemukan riwayat gangguan kejiwaan. Pasien tidak memiliki riwayat
kejang dan mempunyai trauma kapitis sebelumnya.
• Gejala yg didapat
– Perilaku dan aktivitas psikomotor: hipoaktif
– Keadaan afektif; afek menyempit, mood disforik,
roman muka sedikit mimik
– Gangguan persepsi: halusinasi auditorik (+) riwayat
– Proses pikir: produktifitas remming
– Isi pikir; preokupasi ada (gagasan bunuh diri), waham
curiga (+), waham berdosa/ bersalah (+)
– Bentuk pikir: non realistik
– Tilikan diri: derajat 1
SINDROM YANG DIDAPAT

Sindroma psikotik
• Adanya hendaya berat dalam kemampuan daya menilai realita
• Adanya hendaya berat dalam fungsi-fungsi mental (muncul gejala
positif seperti wahan dan halusinasi; dan gejala negatif seperti
afek menyempit, menarik diri dari hubungan sosial.
• Adanya hendaya yang berat pada fungsi peran
Sindroma skizofrenia
• Non realistik
• Waham yang menetap yaitu waham non bizarre: waham
paranoid termasuk di dalamnya waham kebesaran
• Halusinasi yaitu auditori
Sindrom Paranoid:
• Penarikan sosial (social withdrawl), tidak menyukai orang
lain dan menganggap orang lain tidak menyukai dirinya
sehingga hubungan sosialnya terganggu
DIAGNOSIS BANDING

– Gangguan skizofrenia tak terinci (F.20.3)


– Gangguan skizofrenia Paranoid (F 20.0)
PEMBAHASAN
A. Pedoman diagnostik skizofrenia Tak Terinci (F 20.3)

No Pedoman diagnostic Pada pasien

1 Memenuhi kriteria umum untuk Terpenuhi


diagnosis skizofrenia
2 Tidak memenuhi kriteria untuk Terpenuhi
diagnosis skizofrenia paranoid,
hebefrenik atau katatonik
3 Tidak memenuhi kriteria untuk Terpenuhi
skizofrenia residual atau depresi
pasca skizofrenia
B. gangguan skizofrenia paranoid (F 20.0)

NO Kriteria Diagnostik Pada Pasien


1 Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia terpenuhi
2 Halusinasi dan atau waham yang harus menonjol terpenuhi

(a) suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi


perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal yang
berupa whistling, humming, atau laughing
(b) halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat
seksual, atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual
mungkin ada tapi jarang menonjol
(c) waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan,dipengaruhi, atau ”pasivity”, dan keyakinan
dikejar-kejar yang beraneka ragam adalah yang paling khas.
3 Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta Tidak
gejala katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol terpenuhi
DIAGNOSIS KERJA

• Aksis I : Gangguan Skizofrenia Yang Tak Terinci (F 20.3)


• Aksis II : Gangguan kepribadian
paranoid (F60.0)
• Aksis III : curiga terdapat lesi pada intrakranial (lateralisasi)
• Aksis IV : Masalah dengan orang-orang sekitarnya/ lingkungan.
• Aksis V : GAF 60-51 (gejala sedang/moderate, disabilitas
sedang)
TERAPI

1. Farmakoterapi
– Antipsikosis atipikal
• Risperidone 2 x 2 mg
2. Psikoterapi: terapi suportif (problem solving,
persuasi, edukasi, dan reedukatif)
PROGNOSIS
No. PROGRAM BAIK BURUK
PREMORBID
1. Pola asuh keluarga: baik +
2. Riwayat natal dan prenatal +
3. Faktor kepribadian premorbid : paranoid +

4. Sosial ekonomi pendidikan keluarga +


5. Faktor organik: tidak ada +
6. Faktor pencetus: ada +
7. Riwayat penyakit keluarga: tidak ada +
MORBID
1. Onset > 5 tahun : tidak +
2. Perjalanan penyakit: kronik +
3. Jenis penyakit: psikotik +
4. Respon terhadap terapi +
5. Riwayat penyerangan +
6. Riwayat percobaan bunuh diri +

Kesimpulan prognosis : Dubia ad Malam


KESIMPULAN PROGNOSIS
• Prognosis at vitam : dubia at bonam
• Prognosis at sanam : dubia at malam
• Prognosis at fungsionam : dubia at malam