Anda di halaman 1dari 83

Askep pada anak Difteri, Sindrom Neprotik,

dan Prosedur Pemeriksaan Diagnostik & Lab

Disusun oleh : Kelompok 2


1. Anshari 8. Guvika Julnisa
2. Bertha Silvia J 9. Ika Ulya Cahyani
3. Desi Natalia 10. M. Dilah Rasyid
4. Devy Diantie 11. Nurul F. O
5. Eka Setya Pratama 12. Rony Irawan
6. Elsi Soleka 13. Syifa Rizky
7. Evi Salawati 14.Yohanes Tedi
Askep Pada Anak Difteri

 Defenisi Difteri :
Difteri adalah infeksi saluran pernafasan yang
disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae
dengan bentuk basil batang gram positif
(Jauhari,nurudin. 2008).
Klasifikasi
1. Infeksi ringan : bila pseudomembran hanya
terdapat pada mukosa hidung dengan gejala
hanya nyeri menelan.
2. Infeksi sedang : bila pseudomembran telah
menyaring sampai faring (dinding belakang
rongga mulut), sampai menimbulkan
pembengkakan pada laring.
3. Infeksi berat : bila terjadi sumbatan nafas
yang berat disertai dengan gejala
komplikasi seperti miokarditis (radang otot
jantung), paralysis (kelemahan anggota
gerak) dan nefritis (radang ginjal).
Lanjutan....

Berdasarkan Letaknya :
1. Difteri hidung
2. Difteri faring dan tonsil (Difteri Fausial)
3. Difteri laring dan trakea
4. Difteri kutaneus dan vaginal
5. Diphtheria Kulit, Konjungtiva, Telinga
Anatomi Sistem Pernapasan

 Saluran Pernapasan Bagian Atas:


1. Rongga hidung
2. Faring
3. Laring
 Saluran Pernapasan Bagian Bawah
1. Trakhea
2. Bronkus
3. Bronkus
4. Paru
Etiologi

Penyebabnya adalah Corynebacterium


diphteriae. Bakteri ini ditularkan melalui percikan
ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda
maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh
bakteri. Biasanya bakteri ini berkembangbiak pada
atau disekitar selaput lender mulut atau
tenggorokan dan menyebabkan peradangan.
Lanjutan.....

Bakteri ini dapat mati pada pemanasan 60º C


selama 10 menit, tahan beberapa minggu dalam es,
air, susu dan lendir yang telah mengering. Terdapat
tiga jenis basil yaitu bentuk gravis, mitis, dan
intermedius atas dasar perbedaan bentuk
koloni dalam biakan agar darah yang mengandung
kalium telurit.
Lanjutan.....

 Basil Difteria mempunyai sifat:


1. Membentuk psedomembran yang sukar dianggkat,
mudah berdarah, dan berwarna putih keabu-abuan
yang meliputi daerah yang terkena.terdiri dari fibrin,
leukosit, jaringan nekrotik dan kuman.
2. Mengeluarkan eksotoksin yang sangat ganas dan
dapat meracuni jaringan setelah beberapa jam
diserap dan memberikan gambaran perubahan
jaringan yang khas terutama pada otot jantung, ginjal
dan jaringan saraf.
Manifestasi Klinis

1. Demam, suhu tubuh meningkat sampai 38,9


derjat Celcius,
2. Batuk dan pilek yang ringan.
3. Sakit dan pembengkakan pada tenggorokan
4. Mual, muntah , sakit kepala.
5. Adanya pembentukan selaput di tenggorokan
berwarna putih ke abu abuan kotor.
6. Kaku leher
Patofisiologi

Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah dari batuk


penderita atau benda maupun makanan yang telah
terkontaminasi oleh bakteri. Ketika telah masuk dalam
tubuh, bakteri melepaskan toksin atau racun. Toksin ini
akan menyebar melalui darah dan bisa menyebabkan
kerusakan jaringan di seluruh tubuh, terutama jantung
dan saraf. Akibat yang ditimbulkan oleh penyakit ini
banyak bergantung pada efek eksotoksin yang diproduksi.
Toksin menghambat pembuatan protein sel sehingga sel
mati. Basil hidup dan berkembang biak pada traktus
respiratorius bagian atas, terlebih bila terdapat
peradangan kronis pada tonsil, sinus dan lain-lain.
Komplikasi

1. Miokarditis
2. Kolaps perifer
3. Obstruksi jalan nafas dengan segala akibatnya,
bronkopneumonia dan atelektasis
4. Urogenital : dapat terjadi nefritis

Catatan:
Penderita difteri (10%) akan mengalami komplikasi yg mengenai sistem susunan
saraf terutama sistem motorik. Terjadi pada akhir minggu pertama perjalanan
penyakit.
Penatalaksanaan

 Pengobatan Umum (Buku kuliah ilmu kesehatan anak


FKUI, 1999) :
 Anti Diphteri Serum (ADS) diberikan sebanyak
20.000U/hari selam 2 hari berturut-turut,dengan
sebelumnya dilakukan uji kulit dan mata.
 Antibiotika, penicillin prokain 50.000U/kgBB/hari
sampai 3 hari bebas panas. Pada penderita yang
dilakukan trakeostomi, ditambahkan kloramfenikol 75
mg/kgBB/hari, dibagi 4 dosis.
Lanjutan.....

 Kortikosteroid, dimaksudkan untuk mencegah timbulnya


komplikasi miokarditis yang sangat berbahaya. Dapat diberikan
prednisone 2mg/kgBB/hari selama 3 minggu yang kemudian
dihentikan secara bertahap
 Menurut Ngastiyah (1997), : Penatalaksanaan keperawatan
pada pasien difteri yaitu pasien dirawat dikamar isolasi yang
tertutup. Petugas harus memakai skort (celemek) dan masker
yang harus diganti tiap pergantian tugas atau bila kotor. Harus
disediakan pula perlengkapan cuci tangan, desinfektan sabun,
lap atau handuk yang kering. Juga tempat untuk merendam alat
makan yang diisi dengan desinfektan.
Pemeriksaan Penunjang

1. Schick test : Tes kulit ini di gunakan untuk


menentukan status imunitas penderita
2. Pemeriksaan laboratorium
a. Pada pemeriksaan darah : penurunan hemoglobin
(Hb), penurunan jumlah leukosit, eritrosit, dan
kadar albumin.ada urine terdapatnya albuminuria
ringan.
b. Pada urine terdapatnya albuminuria ringan.
Asuhan Keperawatan Teoritis (Difteri)

1. Pengkajian
a. Identitas Klien
b. Riwayat Kesehatan
 Riwayat Kesehatan Dahulu
 Riwayat Kesehatan Sekarang
 Riwayat Kesehatan Keluarga
 Riwayat Perinatal dan Neonatal
 Riwayat pertumbuhan dan perkembangan
 Riwayat imunisasi anak dan kesehatan keluarga
Lanjutan.....

2. Pemeriksaan Fisik
a. Secara TTV didapatkan :
 Suhu tubuh < 38,9 º c
 Pernafasan : 26 x/menit (meningkat)
 Tekanan darah : 100/70 mmHg (menurun)
 Nadi : 94x/menit (meningkat)
Lanjutan.....

b. Secara head to toe:


1. Inspeksi
2. Palpasi
3. Auskultasi
4. Perkusi
Lanjutan.....

2. Diagnosa
1. Pola nafas napas tidak efektif b/d edema laring.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b/d anoreksia.
3. Nyeri akut b/d proses inflamasi.
Intervensi Keperawatan

1. Pola nafas napas tidak efektif b/d edema laring


 NOC :
a. Respiratory status :Airway patency.
b.Vital sign status
 Tujuan : Pola nafas pasien kembali normal
 Kriteria hasil :
Frekuensi pernafasan dlm rentang normal
Irama nafas sesuai dengan yang diharapkan
Pengeluaran sputum pada jalan nafas
Tidak ada suara nafas tambahan
Bernafas mudah
Tidak ada dyspnea
Lanjutan.....

a. Respiratory status : Airway patency


 Akitifitas Keperawatan :
Observasi tanda – tanda vital.
Posisikan pasien semi fowler.
Anjurkan pasien agar tidak terlalu banyak bergerak.
Ajarkan pasien untuk melakukan batuk efektif
Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi Oxygen
Lanjutan.....

2. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


b/d anoreksia.
 NOC :
a. Nutritional status :Adequacy of nutrient
b. Nutritioal status : food and fluid intake
 Tujuan : Nutrisi klien dapat terpenuhi.
 Kriteria hasil :
Klien dapat mengetahui tentang penyakit yang dideritanya.
Adanya minat dan selera makan.
Porsi makan sesuai kebutuhan
BB meningkat.
Lanjutan.....

a. Nutritional status : food and fluid intake


 Aktivitas Keperawatan :
Monitor intake kalori dan kualitas konsumsi
makanan.
Berikan porsi kecil dan makanan lunak/lembek.
Berikan makan sesuai dengan selera.
Timbang BB tiap hari
Lanjutan.....

 Aktivitas Keperawatan :
Monitor intake kalori dan kualitas konsumsi
makanan.
Berikan porsi kecil dan makanan lunak/lembek.
Berikan makan sesuai dengan selera
Timbang BB tiap hari
Lanjutan.....

3. Nyeri akut b/d proses inflamasi


 NOC :
a. Pain level
b. Pain control
 Tujuan : nyeri berkurang atau hilang.
 Kriteria hasil :
Pasien dapat mengatakan nyeri yang dirasakan
Nyeri berkurang
Wajah tidak meringis
Skala nyeri berkurang.( 0-2 )
TTV normal
Lanjutan.....

1. Pain level
 Aktifitas Keperawatan :
- Lakukan pengkajian nyeri secara menyeluruh
meliputi lokasi, durasi, frekuensi, kualitas,
keparahan nyari dan factor pencetus nyeri
- Observasi ketidaknyamanan non verbal
Lanjutan.....

2. Pain control
 Akitivitas Keperawatan :
- Ajarkan untuk menggunakan teknik non
farmakologi misal relaksasi, guided imageri, terapi
musik dan distraksi
- Kendalikan factor lingkungan yang dapat
mempengaruhi respon pasien terhadap
ketidaknyamanan misal suhu, lingkungan, cahaya,
kegaduhan
- Kolaborasi: pemberian analgetik sesuai indikasi
Implementasi Keperawatan

1. Pola nafas napas tidak efektif b/d edema


laring.
a. Mengobservasi tanda – tanda vital.
b. Memposisikan pasien semi fowler.
c. Menganjurkan pasien agar tidak terlalu
banyak bergerak.
d. Mengajarkan pasien untuk melakukan batuk
efektif
e. Mengkolaborasi dengan tim medis lain, dalam
pemberian terapi Oxygen
Lanjutan.....

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan


tubuh b/d anoreksia.
a. Memonitor intake kalori dan kualitas konsumsi
makanan.
b. Memberikan porsi kecil dan makanan
lunak/lembek.
c. Memberikan makan sesuai dengan selera.
d. Menimbang BB tiap hari
Lanjutan.....

3. Nyeri akut b/d proses inflamasi


a. Melakukan pengkajian nyeri secara menyeluruh meliputi
lokasi, durasi, frekuensi, kualitas, keparahan nyari dan
factor pencetus nyeri
b. Mengobservasi ketidaknyamanan non verbal
c. Mengajarkan untuk menggunakan teknik non
farmakologi misal relaksasi, guided imageri, terapi musik
dan distraksi
d. Mengendalikan factor lingkungan yang dapat
mempengaruhi respon pasien terhadap
ketidaknyamanan misal suhu, lingkungan, cahaya,
kegaduhan.
e. Mengkolaborasi: pemberian analgetik sesuai indikasi
Evaluasi

Setelah di lakukan implementasi, maka evaluasi kita


kepada pasien yaitu :
1. Pola nafas pasien kembali normal, dan pasien tidak
mengalami dypnea lagi
2. Nutrisi pasien dapat terpenuhi, dan berat badan
dapat bertambah
3. Nyeri yang di alami pasien dapat berkurang, dan juga
bisa nyerinya akan hilang
Askep Pada Anak Sindrom Neprotik

Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan


gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia,
dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang
terdapat hematuria, hipertensi dan
penurunan fungsi ginjal
Epidemiologi

 Sindroma nefrotik biasanya lebih sering


menyerang anak laki-laki dari pada anak
perempuan dengan perbandigan 2 : 1 dan
paling banyak pada umur 2 sampai 6 tahun.
Etiologi/ faktor predisposisi

1. Sindroma nefrotik primer yang atau disebut


juga Sindroma nefrorik Idiopatik,yang diduga
ada hubungan dengan genetik, imunoligik dan
alergi.
2. Sindroma nefrotik sekunder yang
penyebabnya berasal dari ekstra renal (diluar
ginjal).
3. SN bawaan : Diturunkan sebagai resesif
autosomal atau karena reaksi maternofetal.
Resisten terhadap suatu pengobatan.
Patofisiologi

 Manifestasi primer sindrom nefrotik adalah


hilangnya plasma protein, terutama albumin, ke
dalam urine.Meskipun hati mampu meningkatkan
produksi albumin, namun organ ini tidak mampu
untuk terus mempertahankannya jika albumin
terus menerus hilang melalui ginjal.Akhirnya
terjadi hipoalbuminemia. Hipotesis menunjukan
kehilangan albumin mengakibatkan penurunan
tekanan onkotik dalam saluran darah.Ini
mengakibatkan kebocoran cairan dari dalam darah
ke intestitium.
Lanjutan.....

Isi dari cairan yang berkurang dalam saluran darah seterusnya


akan mengaktifkan renin- angiotensin- aldosteron sistem. Hormon
vasopresin(ADH) akan dirembes untuk menstabilkan kandungan
cairan dalam saluran darah seperti sediakala. Meskipun demikian,
pengumpulan cairan ini menyebabkan kehilangan cairan yang
terus- menerus ke interstitium karena protein terus – menerus
hilang kedalam urin diikuti dengan kerusakan pada membran basal
glomerulus.Ini menyebabkan penumpukan cairan secara berlebih
dalam jaringan dan mengakibatkan edema.Hilangnya protein
dalam serum menstimulasi sintesis lipoprotein di hati dan
peningkatan konsentrasi lemak dalam darah(hiperlipidemia) hal ini
menyebabkan intake nutrisi berkurang sehingga menyebabkan
terjadinya malnutrisi
Klasifikasi

 Sindrom Nefrotik Lesi Minimal ( MCNS :


minimal change nephrotic syndrome).
 Sindrom Nefrotik Sekunder
 Sindrom Nefrotik Kongenital
Gejala klinis

a. Proteinuria > 3,5 g/hari pada dewasa atau


0,05 g/kg BB/hari pada anak-anak
b. Hipoalbuminemia< 30 g/l
c. Edema anasarka. Edema terutama jelas pada
kaki, di sekitar mata (periorbital), asites, dan
efusi pleura.
d. Hiperlipidemia
e. Hiperkoagulabilitas, yang akan meningkatkan
risiko trombosis arteri dan vena
Pemeriksaan diagnostic

a. Urinalisa (protein, eritrosit, silinder)


b. Clearance kreatinin (BUN / SC)
c. Uji darah
d. Biopsi ginjal
Diagnosis / kriteria diagnosis
 Kelebihan volume cairan
 Ketidakefektifan pola napas
 Resiko infeksi
 Kerusakan integritas kulit
 Penurunan curah jantung berhubungan
dengan perubahan afterload, kontraktilitas
dan frekuensi jantung
 Ketidakefektifan bersihan jalan napas.
 Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
 Hambatan mobilitas fisik
 Keterlambatan pertumbuhan dan
perkembangan.
Penatalaksanaan

 Sindrom nefrotik serangan pertama.


Perbaiki keadaan umum penderita
1. Diet tinggi kalori, tinggi protein, rendah garam,
rendah lemak. Rujukan ke bagian gizi
diperlukan untuk pengaturan diet terutama
pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal.
2. Tingkatkan kadar albumin serum, kalau perlu
dengan transfusi plasma atau albumin
konsentrat.
3. Berantas infeksi.
Lanjutan...

b. Sindrom nefrotik kambuh (relapse)


1. Berikan prednison sesuai protokol relapse,
segera setelah diagnosis relapse ditegakkan.
2. Perbaiki keadaan umum penderita.
Lanjutan...

c. Sindrom nefrotik kambuh tidak sering


1. Induksi
 Prednison dengan dosis 60 mg/m2/hari (2 mg/kg
BB/hari) maksimal 80 mg/hari, diberikan dalam 3
dosis terbagi setiap hari selama 3 minggu
2. Rumatan
 Setelah 3 minggu, prednison dengan dosis 40
mg/m2/48 jam, diberikan selang sehari dengan
dosis tunggal pagi hari selama 4 minggu. Setelah 4
minggu, prednison dihentikan.
Lanjutan...

d. Sindrom nefrotik kambuh sering


1. Induksi
 Prednison dengan dosis 60 mg/m2/hari (2 mg/kg BB/hari)
maksimal 80 mg/hari, diberikan dalam 3 dosis terbagi
setiap hari selama 3 minggu.
2. Rumatan
 Setelah 3 minggu, prednison dengan dosis 60 mg/m2/48
jam, diberikan selang sehari dengan dosis tunggal pagi hari
selama 4 minggu. Setelah 4 minggu, dosis prednison
diturunkan menjadi 40 mg/m2/48 jam diberikan selama 1
minggu, kemudian 30 mg/m2/48 jam selama 1 minggu,
kemudian 20 mg/m2/48 jam selama 1 minggu, akhirnya 10
mg/m2/48 jam selama 6 minggu, kemudian prednison
dihentikan.
Prognosis

 Menderita untuk pertamakalinya pada umur di


bawah 2 tahun atau di atas 6 tahun.
 Disertai oleh hipertensi.
 Disertai hematuria.
 Termasuk jenis sindrom nefrotik sekunder.
 Gambaran histopatologik bukan kelainan
minimal.
Konsep dasar Askep Sindrom Neprotik
1. Pengkajian
a. Aktivitas / Istirahat
- Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise
- Tanda : Kelemahan otot, kehilangan tonus
b. Sirkulasi
Tanda:
- Hipotensi/ hipertensi( termasuk hipertensi malignan,
hipertensi akibat kehamilan/ eklampsia)
- Disritmia jantung
- Nadi lemah/halus, hipotensi ortostatik( hipovolemia)
- Nadi kuat( hipervolemia)
- Edema jaringan umum( termasuk area periorbital,
mata kaki, sakrum)
- Pucat, kecenderungan perdarahan
Lanjutan...

 Eleminasi
Gejala:
1. Perubahan pola berkemih biasanya : peningkatan
frekuensi, polyuria (kegagalan dini), atau penurunan
frekuensi/ oliguria(fase akhir)
2. Disuria, ragu- ragu, dorongan, dan retensi( inflamasi,/
obstruksi, infeksi).
3. Abdomen kembung, diare, atau konstipasi
Tanda:
1. Perubahan warna urine contoh kuning pekat, merah,
coklat, berawan
2. Oliguria( biasanya 12-21 hari); poliuria(2-6 L/hari)
Lanjutan...

 Makananan/ Cairan
Gejala : Peningkatan berat badan(edema), penurunan berat
badan ( dehidrasi), mual, muntah, anoreksia, nyeri ulu hati.
Tanda :
1. Perubahan turgor kulit,/ kelembaban
2. Edema( umum, bagian bawah)
3. Neurosensori
Gejala :
1. Sakit kepala, pengelihatan kabur
2. Kram otot/ kejang; sindrom” kaki gelisah”
Tanda :
1. Gangguan status mental, contoh penurunan lapang perhatian,
ketidak mampuan berkonsentrasi,hilang memori, kacau, penurunan
tingkat kesadaran( azotemia, ketidakseimbangan elektrolit/ asam/
basa)
2. Kejang, aktivitas kejang, faskikulasi otot.
Lanjutan...

 Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Nyeri tubuh, sakit kepala.
Tanda : Perilaku berhati- hati, gelisah
 Pernafasan
Gejala : Nafas pendek
Tanda :
1. Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi, kedalaman
pernafasan Kussmaul); nafas amonia.
2. Batuk produktif dengan sputum kental merah muda (
edema paru).
Lanjutan...

 Keamanan
Gejala :Adanya reaksi transfusi
Tanda :
1. Demam(sepsis, dehidrasi)
2. Pretekie, area kulit ekimosis
3. Pruritus, kulit kering
 Penyuluhan/ Pembelajaran
Gejala : Riwayat penyakit polikistik keluarga,
nefritis herediter, batu urinarius, malignansi.
Diagnosa keperawatan

 Kelebihan volume cairan berhubungan dengan


kehilangan protein sekunder akibat peningkatan
permiabilitas glomerulus ditandai dengan pasien
mengalami edema
 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap
kehilangan protein dan kurangnya intake nutrisi
 Kelelahan berhubungan dengan penurunan
produksi energi metabolik.
 Kurang pengetahuan kondisi, prognosis dan
kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
kurangnya sumber informasi.
 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunitas
tubuh yang menurun.
Perencanaan keperawatan/ intervensi

a. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan


kehilangan protein sekunder akibat peningkatan
permiabilitas glomerulus ditandai dengan pasien
mengalami edema.
 Tujuan: Menunjukan keseimbangan cairan adekuat
 Kriteria hasil:
1. Menunjukan haluaran urine tepat dengan berat
jenis/ hasil laboratorium mendekati normal
2. Berat badan stabil
3. TTV dalam batas normal
4. Tidak ada edema
Lanjutan...

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan


berhubungan dengan malnutrisi sekunder
terhadap kehilangan protein dan kurangnya
intake nutrisi
 Tujuan: Nutrisi pasien terpenuhi
 Kriteria hasil:
Mempertahankan/ meningkatkan berat badan
seperti yang diindikasikan oleh situasi individu,
bebas edema.
Lanjutan...

c. Kelelahan berhubungan dengan penurunan


produksi energi metabolik
 Tujuan : Menunjukan kemampuan untuk
mempertahankan aktivitas yang biasa/ normal
 Kriteria hasil:
1. Melaporkan perbaikan rasa berenergi
2. Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan
Lanjutan...

 Kurang pengetahuan kondisi, prognosis dan kebutuhan


pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber
informasi.
 Tujuan: Pasien mengetahui tentang penyakit dan
pengobatannya
 Kriteria hasil:
 Menyatakan pemahaman kondisi/ proses penyakit,
prognosis, dan pengobatannya
 Mengidentifikasi hubungan tanda/ gejala proses
penyakit dan gejala yang berhubungan dengan faktor
penyebab
 Melakukan perubahan perilaku yang perlu dan
berpartisipasi pada program pengobatan.
Lanjutan...

e. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan


imunitas tubuh yang menurun
 Tujuan: Daya imunitas tubuh normal, tidak
terjadi tanda/ gejala infeksi
 Kriteria :
Tidak mengalami tanda/ gejala infeksi
Implementasi

 Implementasi disesuaikan dengan intervensi


Evaluasi

 Dx 1 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan


dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan
kurangnya intake nutrisi
 Evaluasi: Nutrisi pasien terpenuhi
 Dx 2 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan protein sekunder akibat peningkatan permiabilitas
glomerulus ditandai dengan pasien mengalami edema
 Evaluasi: Menunjukan keseimbangan cairan adekuat
 Dx 3 : Kelelahan berhubungan dengan penurunan
produksi energi metabolik.
 Evaluasi : Menunjukan kemampuan untuk mempertahankan
aktivitas yang biasa/ normal
Lanjutan...

 Dx 4 : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan


imunitas tubuh yang menurun.
 Evaluasi : Daya imunitas tubuh normal, tidak terjadi
tanda/ gejala infeksi
 Dx 5: Kurang pengetahuan kondisi, prognosis
dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
kurangnya sumber informasi
 Evaluasi: Pasien mengetahui tentang penyakit dan
pengobatannya
Pemeriksaan Diagnostik & Lab

Pemeriksaan diagnostik adalah penilaian klinis


tentang respon individu, keluarga dan
komunikan terhadap suatu masalah kesehatan
dan proses kehidupan aktual maupun potensial.
Lanjutan...

 Terdapat 3 faktor utama yang dapat


mengakibatkan kesalahan hasil laboratorium
yaitu :
1. Pra instrumentasi
2. Interpretasi Data
3. Validasi Data
Jenis-jenis pemeriksaan diagnostik

1. Ultrasonografi (USG)
2. Rontgen
3. Pap Smear (Papanicolaou Smear)
4. Endoskopi
5. Colonoskopi
6. CT Scan
7. Mamografi
8. Elektroensefalografi (EEG)
9. Elektrokardiografi (EKG)
Persiapan untuk pemeriksaan diagnostik

1. Persiapan alat
2. Pengambilan darah
3. Penampungan urin
4. Penampung khusus
Persiapan pengambilan spesimen
1. Darah
 Tempat pengambilan darah untuk berbagai macam pemeriksaan
laboratorium: perifer, vena, arteri, pada orang dewasa
diambil pada ujung jari atau daun telinga bagian bawah,
Pada bayi dan anak kecil dapat diambil pada ibu jari kaki
atau tumit.
a. Bentuk pemeriksaan
b. Persiapan alat
 Lanset darah atau jarum khusus, Kapas alcohol, Kapas kering,
Alat pengukur Hb/kaca objek/botol pemeriksaan, tergantung
macam pemeriksaan, Bengkok, Hand scoon, Perlak dan pengalas.
Lanjutan...

 Urine
Kegunaan
1. Menafsirkan proses-proses metabolisme
2. Mengetahui kadar gula pada tiap-tiap waktu
makan (pada pasien DM)
Jenis pemeriksaan
1. Urine sewaktu
2. Urine pagi
3. Urine pasca prandial
4. Urine 24 jam
Lanjutan...

 Persiapan alat
1. Formulir khusus untuk pemeriksaan
urine
2. Wadah urine dengan tutupnya
3. Hand scoon
4. Kertas etiket
5. Bengkok
6. Buku ekspedisi untuk pemeriksaan
laboratorium
 Faeces
Menyiapkan feses untuk pemeriksaan
laboratorium dengan cara pengambilan yang
tertentu
 Tujuan
1. Untuk menegakkan diagnosa
2. Pemeriksaan tinja untuk pasien dewasa
3. Untuk pemeriksaan lengkap meliputi warna,
bau, konsistensi, lendir, darah, dan telur
cacing.Tinja yang diambil adalah tinja segar.
Lanjutan...

 persiapan alat
Hand scoon bersih, vasseline, botol bersih
dengan penutup, lidi dengan kapas lembab
dalam tempatnya, bengkok, perlak pengalas,
tissue, tempat bahan pemeriksaan, sampiran
 Cairan pervaginam
Persiapan alat: kapas lidi steril, objek gelas, bengkok, sarung
tangan, spekulum, kain kassa, kapas sublimat, bengkok, perlak
• Sputum
Sputum atau dahak adalah bahan yang keluar dari bronchi
atau trakhea, bukan ludah atau lendir yang keluar dari mulut,
hidung atau tenggorokan.
 Tujuan
Untuk mengetahui basil tahan asam dan mikroorganisme yang
ada dalam tubuh pasien sehingga diagnosa dapat ditegakkan.
 Indikasi
Pasien yang mengalami infeksi/peradangan saluran pernafasan
(apabila diperlukan).
 Persiapan alat : sputum pot (tempat ludah) yang bertutup,
botol bersih dengan penutup, hand scoon, formulir dan etiket,
perlak pengalas, bengkok, tissue
PERSIAPAN UNTUK PEMERIKSAAN RADIOLOGI
 USG Abdomen dan Gynecologi – Obstetri
Adalradiologi dengan memanfaatkan gelombang suara atau ultrasound yang
dipancarkan melalui transducer ke organ abdomen.
 Tujuan
1. suatu tehnik pemeriksaan Untuk memperlihatkan struktur morfologis organ-
organ abdomen, seperti : hati, kandung empedu, pankreas, lien, ginjal, vesica
urinaria, prostas, adneksa, struktur vascular termasuk arteri dan vena, serta
kelenjar sekitarnya (mesenterium, para aorta, para iliaka), keadaan usus-usus,
keadaan uterus.
2. Penilaian dalam pemeriksaan ini meliputi struktur masing-masing organ abdomen,
struktur vasculer dan bilier (apakah terdapat batu atau endapan, SOL atau kista,
hematoma), pembesaran kelenjar atau bendungan pada sistem urinarius (apakah
terdapat cairan bebas atau ascites)
3. Untuk melihat dan mengamati kehidupan fetus sebelum kelahiran
4. Penilaian kehamilan meliputi : posisi janin, letak plasenta, cairan amnion, kelainan
mayor janin, jumlah janin, umur kehamilan, taksiran partus, berat janin, jenis
kelamin, lilitan talipusat
5. Untuk melihat dugaan adanya kehmailan di luar uterus dan kehmailan ektopik
terganggu (KET) terutama ditujukan untuk melihat cauran bebas di dalam cavum
douglassi atau dalam rongga abdomen, kadang-kadang dapat dilihat janin
Lanjutan...

 Ruang lingkup
Pemeriksaan ini dilakukan seumur hidup, untuk
pemeriksaan USG Gynecologi – Obstetri
dilakukan pada wanita dewasa
 Langkah-langkah
1. Persiapan alat
2. Persiapan pasien
 Rontgen atau Pemotretan Schedell
Suatu pemeriksaan yang dilakukan pada tulang kepala
atau tengkorak dengan menggunakan tehnik radiografi
 Tujuan
1. Untuk mendiagnosa kelainan atau fraktur pada
tulang kepala atau tengkorak
 Ruang lingkup
1. Pemeriksaan ini dilakukan untuk semua umur
 Prosedur pemeriksaan
1. Antero Posterior (AP)
 Posisi pasien :
1. Supine di atas bed atau meja pemeriksaan
2. Mid Sagittal Plane (MSP) : tubuh diatur tegak lurus
terhadap pertengahan bed atau meja pemeriksaan
Lanjutan...

 Posisi obyek :
Posisi kepala diatur menunduk sehingga Infraorbitomeatal Line
(IOML) tegak lurus terhadap bed atu meja pemeriksaan dan
diatur true AP
 Posisi sinar :
FFD : 90 cm
CR : vertikal tegak lurus kaset
CP : pada glabella
 Lateral
Posisi pasien :
1. Supine atau semiprone di atas bed atau meja pemeriksaan
2. Untuk pasien dengan cedera kepala berat, dilarang
memenipulasi pasien terutama bila diduga adanya fraktur
cervical. Dalam hal ini dibuat foto lateral dengan sinar
horizontal
Lanjutan...

 Posisi obyek :
1. Kepala dirotasikan dengan sisi yang akan difoto dekat dengan
kaset
2. Kepala diatur true lateral, dengan cara mid line dari kepala
diatur sejajar dengan bed atau meja periksaan, atur
interpopullary tegak lurus dengan kaset
 Posisi sinar :
FFD : 90 cm
CR : vertikal tegak lurus kaset
CP : pada daerah sella tursica
 Faktor eksposi
Untuk anak-anak : Untuk Dewasa :
1. KV : 60 – 70 KV : 70 – 85
2. mAS : 10 – 15 mAS : 15 - 25
 Sarana
1. Kaset dan film ukuran 24 x 30 cm
2. Pesawat rontgen, control table dan marker
 Pap Smear (Papanicolaou Smear)
Pap smear merupakan pemeriksaan sitologi yang digunakan untuk
mendeteksi adanya kanker serviks atau sel prakanker, mengkaji efek
pemberian hormon seks serta mengkaji respons terhadap
kemoterapi dan radiasi.
 Persiapan dan pelaksanaan :
1. Lakukan informed consent
2. Tidak ada pembatasan makanan dan cairan
3. Anjurkan pasien untuk tidak melakukan irigasi vagina
(pembersihan vagina dengan zat lain) memasukan obat melalui
vagina atau melakukan hubungan seks sekurang-kurangnya 24 jam
4. Spekulum yang sudah dilumasi dengan air dengan air megalir
dimasukan ke vagina.
5. Pap stick digunakan untuk mengusap serviks kemudian pindahkan
ke kaca mikroskop dan dibenamkan ke dalam cairan fiksasi.
6. Berikan label nama dan tanggal pemeriksaan
 Mammografi
Merupakan pemeriksaan dengan bantuan sinar x yang
dilakukan pada bagian payudara untuk mendeteksi
adanya kista / tumor dan menilai payudara secara
periodik.
 Persiapan dan Pelaksanaan :
1. Lakukan informed consent
2. Tidak ada pembatasan cairan dan makanan
3. Baju dilepas sampai pinggang dan perhiasan pada
leher
4. Gunakan pakaian kertas / gaun bagian depan terbuka
5. Anjurkan pasien untuk duduk dan letakan payudara
satu per satu diatas meja kaset sinar x.
6. Lalu lakukan pemeriksaan
Lanjutan...

 Prosedur pemeriksaan
1. Untuk anastesi lokal
Untuk laparoskopi yang tidak memerlukan waktu lama dan
intervensi berat dapat dilakukan dengan anastesi lokal (seperti
pemasangan cincin/klip tuba pada tindakan sterilisasi)
2. Untuk anastesi regional
Hanya digunakan apabila anastesi inhalasi merupakan kontra
indikasi.
Efek samping : dapat terjadi vasodilatasi dan hipotensi yang
mendadak
3. Untuk anastesi umum
 Aman dilakukan oleh spesalis anastesi.
 Posisi pasien :
 Posisi yang digunakan yaitu posisi trendelenburg, dengan sudut
kemiringan 15 – 250 (150 biasanya sudah cukup). Selain itu bokokng
pasien harus lebih menjorok ke depan, melewati ujung bed atau
meja pemeriksa agar hidrotubator yang telah dipasang dapat
digerakkan bebas.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
 PENGERTIAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur
tindakan dan pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau
sample dari penderita dapat berupa urine (air kencing), darah,
sputum ( dahak ), atau sample dari hasil biopsy.

 TUJUAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM


 Adapun beberapa tujuan dari pemeriksaan laboratorium antara
lain sebagai berikut.
1. Mendeteksi penyakit
2. Menentukan risiko
3. Skrining/uji saring adanya penyakit subklinis; dll
 PRA INSTRUMENTASI
Pada tahap ini sangat penting diperlukan kerjasama antara
petugas, pasien dan dokter. Hal ini karena tanpa kerjasama yang baik
akan mengganggu/mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.

Yang termasuk dalam tahapan pra instrumentasi meliputi:

1) Pemahaman Instruksi dan Pengisian Formulir.

2) Persiapan Penderita.

3) Persiapan Alat yang Akan Dipakai.

4) Cara pengambilan sample.

5) Penanganan Awal Sampel dan Transportasi.