Anda di halaman 1dari 14

Disusun oleh :

Dr.Linerin
Apendisitis adalah peradangan yang terjadi
pada apendiks vermiformis, dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering. Pada
masyarakat umum,sering juga disebut dengan
istilah radang usus buntu. Akan tetapi, istilah
usus buntu yang selama ini dikenal dan
digunakan di masyarakat kurang tepat, karena
yang merupakan usus buntu sebenarnya adalah
sekum (caecum).
Sedangkan apendiks atau yang sering disebut
juga dengan umbai cacing adalah organ
tambahan pada usus buntu. Umbai cacing atau
dalam bahasa Inggris, vermiform appendix (atau
hanya appendix) adalah ujung buntu tabung
yang menyambung dengan caecum.
Apendiks merupakan organ yang berbentuk
tabung panjang dan sempit. Panjangnya kira-kira
10cm (kisaran 3-15cm) dan pada orang dewasa
umbai cacing berukuran sekitar 10 cm.
Apendiks memiliki lumen sempit dibagian
proximal dan melebar pada bagian distal. Saat
lahir, apendiks pendek dan melebar
dipersambungan dengan sekum.
Pada apendiks terdapat 3 tanea coli yang
menyatu dipersambungan caecum dan bisa
berguna dalam menandakan tempat untuk
mendeteksi apendiks.
Organ apendiks pada awalnya dianggap sebagai
organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi.
Tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks
adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif
berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu
kekebalan tubuh). Immunoglobulin sekretoal
merupakan zat pelindung yang efektif terhadap
infeksi (berperan dalam sistem imun). Dan
immunoglobulin yang banyak terdapat di dalam
apendiks adalah Ig-A. Namun demikian, adanya
pengangkatan terhadap apendiks tidak
mempengaruhi sistem imun tubuh. Ini dikarenakan
jumlah jaringan limfe yang terdapat pada apendiks
kecil sekali bila dibandingkan dengan yang ada
pada saluran cerna lain.
1. Apendisitis Akut, dibagi atas :
a. Apendisitis akut fokalis atau segmentalis,
yaitu setelah sembuh akan timbul striktur
lokal.
b. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah
bertumpuk nanah.
2. Apendisitis Kronis, dibagi atas :
a. Apendisitis kronis fokalis atau parsial, yaitu
setelah sembuh akan timbul striktur lokal.
b. Apendisitis kronis obliteritiva, yaitu
appendiks miring dimana biasanya
ditemukan pada usia tua.
• Adanya sumbatan pada saluran apendiks.
Sumbatan tersebut adalah fekalit. Fekalit
terbentuk dari feses yang terperangkap di
dalam saluran apendiks.
• Adanya cacing atau benda asing yang
tertelan dan masuk ke apendiks.
• Kebiasaan makan makanan rendah serat
• Karena infeksi bakteri atau kuman. Infeksi
kuman dari colon yang paling sering adalah
E. Coli
• Ulserasi mukosa apendiks oleh parasit E.
Histolytica.
1. Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri
viseral) yang beberapa waktu kemudian
menjalar ke perut kanan bawah.
2. Muntah dan mual
3. Suhu tubuh meningkat dan nadi cepat
4. Rasa sakit hilang timbul
5. Diare atau konstipasi
6. Tungkai kanan tidak dapat atau terasa sakit
jika diluruskan
7. Perut kembung
8. Badan lemah
9. Kurang nafsu makan
10. Hasil pemerikasaan leukosit meningkat
1. Pada anak-anak
Gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak
mau makan. Seringkali anak tidak bisa
menjelaskan rasa nyerinya. Dan beberapa jam
kemudian akan terjadi muntah-muntah dan anak
menjadi lemah. Sering apendisitis diketahui
setelah perforasi.

2. Pada orang tua berusia lanjut


Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas,
sehingga lebih dari separuh penderita baru
dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi.
3. Pada wanita
Gejala apendisitis sering
dikacaukan dengan adanya
gangguan yang gejalanya serupa
dengan apendisitis, yaitu mulai dari
alat genital (proses ovulasi,
menstruasi), radang panggul, atau
penyakit kandungan lainnya.
1. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
b. Palpasi
c. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator
d. Pemeriksaan colok dubur

2. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
b. Radiologi
• Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan
cermat dan teliti, diagnosis klinis
apendisitis masih mungkin salah pada
sekitar 15-20% kasus (khususnya pada
wanita).
• Ultrasonografi dan laparoskopi bisa
meningkatkan akurasi diagnosis pada
kasus yang meragukan.
• Bila dari hasil diagnosis positif apendisitis
akut, maka tindakan yang paling tepat
adalah segera dilakukan apendektomi.
• Penatalaksanaan standar untuk apendisitis
adalah operasi. Pernah dicoba pengobatan
dengan antibiotik, walaupun sembuh namun
tingkat kekambuhannya mencapai 35 %.
Pembedahan dapat dilakukan secara terbuka
atau semi-tertutup (laparoskopi). Setelah
dilakukan pembedahan atau apendektomi, harus
diberikan antibiotika selama 7 – 10 hari.
• Pembedahan segera dilakukan, untuk mencegah
terjadinya ruptur (pecah), terbentuknya abses
atau peradangan pada selaput rongga perut
(peritonitis).
• Perforasi dengan pembentukan abses.
• Peritonitis generalisata, masuknya kuman usus
ke dalam perut, menyebabkan peritonitis, yang
bisa berakibat fatal.
• Masuknya kuman ke dalam pembuluh darah
(septikemia), yang bisa berakibat fatal.
• Pada wanita, indung telur dan salurannya bisa
terinfeksi dan menyebabkan penyumbatan pada
saluran indung telur yang bisa menyebabkan
kemandulan.
• Pieloflebitis dan abses hati, tapi jarang terjadi.