Anda di halaman 1dari 23

AKUNTANSI PERPAJAKAN

PSAK 46
AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN
oleh :
Dr. H. HERU TJARAKA, SE, MSi, BKP, Ak, CA

Slide 1
PENGHITUNGAN PENGHASILAN
NETTO DALAM RUGI LABA
FISKAL
1. Penghasilan netto dihitung dari pembukuan.
• Penghasilan netto yang dihitung dari pembukuan dilakukan
dengan menghitung semua penghasilan yang diperoleh wajib
pajak dan dikurangi dengan harga pokok serta biaya biaya
yang berhubungan kegiatan wajib pajak untuk memperoleh
penghasilan
• Penghasilan netto merupakan penjumlahan dari laba usaha
dengan berbagai penghasilan lainnya baik didapat di
Indonesia maupun penghasilan yang diperoleh dari luar
negri.
PENGHITUNGAN PENGHASILAN
NETTO DALAM RUGI LABA
FISKAL

2. Penghasilan netto dihitung dengan norma.


• Penghasilan netto pada wajib pajak perorangan yang
memimlih menggunakan norma penghitungan
penghasilannetto dihitung dari peredaran bruto dikalikan
dengan prosentase tertentu, yang untuk setipa jeis kegiatan
besarnya telah ditentukan.
• Biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh wajib pajak orang
pribadi yang memilih norma penghasilan netto untuk
penghitungan penghasilan nettonya, tidak dapat dikurangkan
sebagai biaya untuk mengurangi penghasilan kotor/bruto.
OBJEK PAJAK
Pasal 4 ayat (1)

PENGHASILAN

SETIAP TAMBAHAN KEMAMPUAN EKONOMIS YANG :

- Diterima atau diperoleh Wajib Pajak,


- Berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia,
- Dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk
menambah kekayaan Wajib Pajak,

DENGAN NAMA DAN DALAM


BENTUK APAPUN
OBJEK PAJAK
Pasal 4 ayat (1)

penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima
atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus,
gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain
dalam Undang-undang ini

hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan;

Laba usaha

Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk :


1. keuntungan krn pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan lainnya sbg
pengganti saham/penyertaan modal;
2. keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan badan lainnya krn pengalihan harta
kpd pemegang saham, sekutu atau anggota yg diperoleh perseroan, persekutuan, dan
badan lainnya;
3. keuntungan krn likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan,
pengambilalihan usaha atau reorg dng nama dan dalam bentuk apa pun ;
4. keuntungan krn pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan, kec. yang diberikan
kpd keluarga sedarah dlm garis keturunan lurus satu derajat, dan bdn keagamaan,bdn pddkn
badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan
usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan
OBJEK PAJAK
Pasal 4 ayat (1)

keun kr penjl/pengalih sebag/slrh hak penamb, tnda turut srt dlm pembia/permdl dlm persh pertamb

Pnrman kbl pbyrn pjk yg tlh dibebankan sbg biaya dan pbyrn tambahan pengembl pjk

bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang

Dividen, dgn nama dan dlm bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi kpd
pemegang polis, dan pembagian SHU koperasi

Royalti, sewa dan penghasilan lain sehubungan dgn penggunaan harta

Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala

Keuntungan krn pembebasan utang, kecuali sampai dgn jumlah tertentu ditetapkan dgn PP (PP
No.130 Tahun 2000)

Keuntungan krn selisih kurs mata uang asing, selisih lebih karena penilaian kembali aktiva, premi
asuransi, iuran yg diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yg terdiri dari WP yg
menjalankan usaha / pekerjaan bebas, penghsl yg blm dikenakan pajak, Penghsl dr ush berbasis
syariah, imbalan bunga dr UU KUP, surplus BI,
OBJEK PPh bersifat final
Pasal 4 ayat (2)

bunga depo, tab lainnya, obl & SUN, simp yg dibyr o/ kop kpd ang kop OP

hadiah undian

penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif


yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham
atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang
diterima oleh perusahaan modal ventura

penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau


bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan
persewaan tanah dan bangunan; dan

penghasilan tertentu lainnya yang diatur dengan atau


berdasarkan Peraturan Pemerintah
TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK
Pasal 4 ayat (3)

bantuan atau sumbangan, termasuk zakat


yang diterima oleh bdn amil zakat atau lembaga amil zakat yg dibentuk
atau disahkan oleh pem. dan yang diterima oleh penerima zakat yg berhak
a/ sumb. keagamaan yg sftnya wjb bg pemeluk agama yg diakui di Ind.,
yg diterima oleh lembaga keagamaan yg dibentuk atau disahkan oleh pem.
dan yg diterima oleh penerima sumbangan yang berhak,yang
ketentuannya diatur dng atau berdasarkan Peraturan Pemerintah

harta hibahan
yg diterima o/ keluarga sedrh dlm grs keturunan lurus 1derajat,
badan keagamaan, badan penddkan, badan sos. termasuk yayasan, kop.,
atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil,
yg ketentuannya diatur dng atau berdsrkan Per. Men. Keu. sepanjang
tdk ada hub. dng usaha, pek., kepem., a/ penguasaan di antara pihak2 ybs.
warisan
TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK
Pasal 4 ayat (3)

penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa


yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan
dari Wajib Pajak atau Pemerintah,
kecuali
yg diberikan oleh bukan WP, WP yang dikenakan pajak secara final
atau WP yg menggunakan norma penghitungan khusus
(deemed profit) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15

pembyran dari persh asuransi kpd OP sehub. dng asuransi kesehatan,


asuransi kecelakaan, jiwa, dwiguna, & asuransi bea siswa

dividen a/ bagian laba yg diterima a/ diperoleh PT sbg WP DN, kop., BUMN,


a/ BUMD, d/ penyertaan modal pd badan usaha yg didirikan &
bertempat kedudukan di Ind dengan syarat:
dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
bagi PT, BUMN dan BUMD yg menerima dividen, kepemilikan saham
pd bdn yg memberikan dividen paling rendah 25% dr juml modal yg disetor
TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK
Pasal 4 ayat (3)

g. iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja
maupun pegawai

penghasilan dr modal yg ditanamkan o/ dana pensiun sebagaimana


dimaksud pd huruf g, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dg KMK

bagian laba yg diterima a/ diperoleh anggota dr perseroan komanditer


yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan,
firma, & kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif

penghslan yg diterima a/ diperoleh persh modal ventura brp bagian laba dr


badan pasangan usaha yg didirikan & menjalankan usaha a/ kegiatan di Ind.,
dengan syarat badan pasangan usaha tersebut:
1. mrpkn persh kecil, menengah, a/ yg menjlnkn keg. dlm sektor2 ush
yg dittpkn dng KMK; dan
2. sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia
KMK No.250/KMK.04/1995
TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK
Pasal 4 ayat (3)

Surplus Bank Indonesia slm jangka waktu 5 th sejak berlakunya ketentuan ini

Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya


diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan (KMK)

Sisa lebih yang diterima atau diperoleh yayasan atau badan nirlaba yang
bergerak dalam bidang pendidikan formal, yang ditanamkan kembali paling
lama dalam jangka waktu 4 (empat) tahun yang ketentuannya diatur
lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Keuangan.
BIAYA-BIAYA YANG BOLEH DIKURANGKAN
DARI PENGHASILAN BRUTO
Pasal 6 ayat (1)

a. biaya yg scr langsung a/ tdk langsung berkaitan dng keg. usaha, antara lain: 1) biaya pembelian
bahan, 2) biaya berkenaan dng pekerjaan a/ jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus,
gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang, 3) bunga, sewa, dan royalti, 4)
biaya perjalanan 5) biaya pengolahan limbah 6) premi asuransi 7) biaya promosi & penjualan
yg diatur dng a/ berdsrkn Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 8) biaya administrasi; dan 9)
pajak kecuali Pajak Penghasilan;
b. penyusutan & amortisasi sbgmn dimaksud dlm Pasal 11 dan Pasal 11A ;
c. iuran kpd dana pensiun yg pendiriannya tlh disahkan o/ Menteri Keuangan ;
d. kerugian krn penjualan a/ pengalihan harta yg dimiliki & digunakan dlm persh a/ yg dimiliki u/
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan ;
e. kerugian selisih kurs mata uang asing;
f. biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;
g. biaya beasiswa, magang, dan pelatihan;
h. piutang yang nyata-nyata tidak dapat.ditagih.
i . sumbangan dlm rangka penanggulangan bencana nas. yg ditetapkan dg PP;
j. sumbangan dlm rangka penelitian &n pengembangan yg dilakukan di Ind yg diatur dgn PP;
k. biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan PP ;
l. sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP);
m. sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dalam PP.
PSAK 46 : PAJAK KINI DAN PAJAK
TANGGUHAN
Pajak kini (current tax) adalah jumlah pajak yang
harus dibayar oleh Wajib Pajak.
Jumlah pajak kini harus dihitung sendiri oleh Wajib
Pajak berdasarkan penghasilan kena pajak
dikalikan dengan tarif pajak, kemudian dibayar
sendiri dan dilaporkan dalam Surat
Pemberitahuan (SPT) sesuai dengan
peraturan perundang-undangan pajak yang
berlaku.

Slide 11
PSAK 46 : PAJAK KINI DAN PAJAK
TANGGUHAN
Pajak tangguhan pada prinsipnya merupakan
dampak PPh di masa yang akan datang yang
disebabkan oleh perbedaan temporer (waktu)
antara perlakuan akuntansi dan perpajakan
serta kerugian fiskal yang masih dapat
dikompensasikan di masa datang (tax loss
carry forward) yang perlu disajikan dalam
laporan keuangan dalam suatu periode
tertentu

Slide 11
CONTOH PERHITUNGAN
• Diketahui laba akuntansi/komersial sebesar Rp. 9.282.150.000
• Tabel penyusutan menurut Komersial dan fiskal sebagai berikut :
• Aktiva Tetap Beban Penyusutan Beban Penyusutan
KOMERSIAL FISKAL

• Bangunan 562.500.000 1.125.000.000


• Mesin 3.333.333.333 5.000.000.000
• Kendaraan 1.500.000.000 1.875.000.000
• Peralatan 500.000.000 625.000.000
• Jumlah 5.895.833.333 8.625.000.000

• Selisih Rp 2.729.166.667
• Beban pajak tangguhan :
Rp 2.729.166.667 X 25% = Rp 682.291.666
Lanjutan
• Berdasarkan tabel perhitungan penyusutan
dengan metode garis lurus di atas, dapat
diketahui bahwa telah terjadi perbedaan
temporer antara perlakuan pajak dengan
akuntansi.
• Mengingat bahwa beban penyusutan secara
fiskal lebih besar daripada beban penyusutan
secara akuntansi, perusahaan akan melakukan
koreksi negatif.
• Akibatnya, koreksi tersebut dapat
menyebabkan terjadinya pengurangan laba
fiskal, sehingga beban PPh tahun berjalan
menjadi lebih kecil
Lanjutan
• Perhitungan koreksi negatif yang dapat
memperkecil laba fiskal tersebut adalah
sebagai berikut :
• Laba akuntansi Rp 9.282.150.000
• Koreksi fiskal
- penyusutan akuntansi(+) 5.895.833.333
- penyusutan fiskal (-) (8.625.000.000)
- Laba fiskal Rp 6.552.983.333
Lanjutan
Perhitungan Pajak Penghasilan
Akuntansi Fiskal
Laba 9.282.150.000 6.552.983.333

PPh Terutang :
25% % x 9.282.150.000 6.552.983.333
PPh 2.320.537.500 1.638.245.833
Lanjutan
Taksiran Pajak Penghasilan
• Beban Pajak ini Rp 1.638.245.833
• Beban Pajak Tangguhan Rp 682.291.667
• Jumlah Beban Pajak Rp 2.320.537.500
Lanjutan
PSAK 46 ini sebenarnya tidak ada
hubungannya dengan koreksi yang
terdapat di rugi laba fiskal, karena PSAK
46 letaknya adalah setelah penghasilan
kena pajak, kegunaan perhitungan pajak
kini dan pajak tangguhan diantaranya
adalah untuk mengetahui kemungkinan di
masa yang akan datang apakah kewajiban
pajaknya lebih rendah atau lebih
tinggi(future tax effect)
Lanjutan
• Pencatatannya sebagai berikut :
DR
Beban Pajak Kini 1.638.245.833 ---
Beban Pajak tangguhan 682.291.667 ---

CR
Hutang PPh 29 --- 1.638.245.833
Kewajiban Pjk Tangguhan --- 682.291.667
TUGAS
PT HERIKO di Sidoarjo merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan sepeda
pancal untuk anak-anak dan dewasa yang dipimpin oleh Tuan Heriko (NPWP : 25.432.765.8-
609.000) yang telah berdiri sejak September 2008. Berikut data pembukuan selama tahun 2013
: (dalam Rp)
Penjualan neto 1.156.548.000 ; HPP 499.241.300
Gaji/upah/tunjangan 246.728.000 ; Transportasi 21.870.000
Asuransi 1.930.000 ; Pemeliharaan kendaraan 22.325.000
Penyusutan harta 46.108.000 ; Konsultan pajak dan audit fee 17.500.000
Lain-lain 43.587.000 ; Sewa kendaraan 15.000.000
Representasi 42.653.000 ; Pemasaran 68.700.000
PPh 25 18.000.000 ; PPh 23 12.000.000
Tagihan PDAM, PLN & Telkom10.245.700
Hasil pemeriksaan pajak yang telah dilakukan oleh KPP Pratama Surabaya Wonocolo pada
tanggal 8-9-2014 menerbitkan SKPN untuk tahun pajak 2013 dengan data-data sebagai berikut :
Penjualan menjadi sebesar Rp 983.728.500,00 ; HPP dikoreksi negatif sebesar Rp
53.219.700,00 ; Menurut hasil pemeriksaan, biaya transportasi menjadi sebesar Rp
23.186.000,00 ; PDAM, PLN & Telkom dikoreksi positif sebesar Rp 722.700,00 ; pemeliharaan
kendaraan dikoreksi positif sebesar Rp 2.150.000,00 ; penyusutan harta yang diperkenankan
menurut fiskal sebesar Rp 39.572.000,00 ; biaya lain-lain yang didukung dengan bukti Rp
13.240.000,00. Biaya representasi yang ada daftar nominatifnya hanya 85%.
Gaji/Upah/tunjangan terdapat komponen natura/kenikmatan Rp 92.500.000,00. Kredit pajak
tahun 2012 telah sesuai dengan laporan SPT WP.
Diminta :
Buatlah Rekonsiliasi laporan L/R komersial dan fiskal tahun pajak 2013 dan tentukan besarnya
PPh KB/LB tahun pajak 2013 serta tentukan Pajak tangguhannya.
MATUR NUWUN