Anda di halaman 1dari 40

Qara Syifa Fachrani

1610211039
 Imunitas
Sebagai pertahanan terhadap penyakit,
terutama penyakit infeksi.
 Sistem Imun
Kumpulan sel-sel, jaringan dan molekul-
molekul yang berperan dalam pertahanan
infeksi.
 Respon Imun
Reaksi terkoordinasi sel-sel dan molekul
tersebut dalam pertahanan terhadap infeksi.
 Imunologi
Ilmu yang mempelajari sistem imun,
termasuk respons terhadap mikroba patogen,
dan kerusakan jaringan serta peranannya
pada penyakit.
 Spesies
 Keturunan dan usia
 Hormon
 Suhu
 Nutrisi
 Flora normal bakteri
 Imunitas Alami (Native Immunity)
Selalu ada pada individu-individu sehat, dan
disiapkan untuk menghambat masuknya
mikroba dan untuk mengeliminasi mikroba
yang berhasil memasuki host secara cepat.
 Imunitas Adaptif (Imunitas Spesifik)
Memerlukan ekspansi dan diferensiasi
limfosit sebagai respons terhadap mikroba
sebelum memberikan pertahanan yang
efektif; imunitas beradaptasi terhadap
adanya invasi mikroba.
 Pertahanan Humoral
1. Komplemen
Mengaktifkan fagosit dan membantu destruksi
bakteri dengan jalan opsonisasi.
2. Interferon
Suatu glikoprotein yang dihasilkan berbagai
sel manusia yang mengandung nukleus dan
dilepas sebagai respons terhadap infeksi virus.
Interferon mempunyai sifat antivirus dengan
jalan menginduksi sel-sel sekitar sel yang
telah terserang virus tersebut. Interferon
dapat mengaktifkan NK untuk membunuh
virus.
3. C Reactive Protein (CRP)
Dibentuk tubuh pada keadaan infeksi.
Perannya ialah sebagai opsonin dan dapat
mengaktifkan komplemen.
4. Lisozim
Perannya ialah merusak dinding sel bakteri.
5. Interleukin 1
Antimikroba dan induktor berbagai protein
saat inflamasi akut.
 Pertahanan Seluler
1. Monosit
Sel mononuklear yang merupakan sel utama
yang berperan pada pertahanan non spesifik.
Monosit akan menjadi makrofag yang
fagositik.
2. Makrofag
Sel mononuklear yang fungsinya
memfagositosis dan membunuh
mikroorganisme intraseluler atau
ekstraseluler.
3. Neutrofil
Sel polimorfonuklear yang perannya dalam
menelan dan membunuh mikroorganisme
secara intraseluler.
4. Basofil
Bertanggung jawab untuk memberi reaksi
alergi dan antigen dengan jalan mengeluarkan
histamin kimia yang menyebabkan
peradangan.
5. Eosinofil
Terutama berhubungan dengan infeksi parasit,
dengan demikian meningkatnya eosinofil
menandakan banyaknya parasit.
6. Sel NK
Dapat menghancurkan sel yang mengandung
virus atau sel neoplasma interferon
mempercepat pematangan dan meningkatkan
efek sitolitik sel NK.
 Imunitas Humoral
Diperantarai oleh protein yang dinamakan
antibodi, yang diproduksi oleh sel-sel yang
disebut limfosit B.
 Imunitas Seluler
Diperantarai oleh sel-sel yang disebut sel
limfosit T untuk pertahanan terhadap
mikroba intraseluler.
 ImunitasHumoral
5 tipe imunoglobulin :
1. IgG
Antibodi utama, melindungi tubuh dari
bakteri, virus dan menetralkan toksin bakteri.
1. IgM
Antibodi yang pertama dibentuk dan
imunoglobulin dengan ukuran terbesar. IgM
tidak masuk dalam jaringan dan tetap berada
di saluran peredaran darah.
3. IgA
Antibodi terbanyak dalam tubuh, fungsinya
untuk mencegah penempelan mikroba
patogen terutama bakteri dan virus pada
permukaan mukosa.
3. IgD
Diduga reseptor antigen utama pada
permukaan sel B yang mengawali respon imun.
3. IgE
Berperan melindungi tubuh terhadap parasit
dan parasit yang diikat IgE lebih mudah
dibunuh oleh eosinofil.
 Imunitas Seluler
4 tipe sel T :
1. Sel T sitotoksik
Menghancurkan sel pejamu yang mengandung
apapun yang asing dan karenanya mengandung
antigen asing.
2. Sel T helper
Berperan penting dalam respon imun seluler, bila
teraktivasi sel T helper akan berdiferensiasi menjadi
:
a. Sel Th1
Mengaktifkan makrofag, sel CD8+ dan sel NK.
b. Sel Th2
Merangsang sel B untuk memproduksi eosinofil, IgM
dan IgE.
Sifat Kemaknaan Fungsional
Spesifisitas Memastikan bahwa antigen yang berbeda menimbulkan
respons spesifik
Keragaman Memungkinkan sistem imun untuk memberi respons
terhadap berbagai macam antigen
Memori Menyebabkan peningkatan respons pada paparan ulangan
dengan antigen yang sama
Ekspansi klonal Meningkatkan jumlah limfosit spesifik antigen yang berasal
dari limfosit naif yang berjumlah sedikit
Spesialisasi Menimbulkan respons yang optimal untuk pertahanan
terhadap berbagai jenis mikroba
Kontraksi dan Memungkinkan sistem imun untuk memberi respons
homeostasis terhadap antigen yang baru ditemui
Tidak bereaksi Mencegah cedera pada host selama berlangsungnya respons
terhadap diri terhadap antigen asing
sendiri
Qara Syifa Fachrani
1610211039
 Hipersensitivitas
Refleksi dari respons imun yang berlebihan.
 Reaksi Hipersensitivitas
Reaksi imun yang menimbulkan cedera
jaringan atau patologik.
1. Respons terhadap antigen asing yang dapat
menyebabkan kerusakan jaringan, khususnya
bila reaksinya berulang dan tidak terkontrol.
2. Respons imun dapat bekerja langsung terhadap
antigen diri sendiri sebagai kegagalan toleransi
diri.
 Autoimunitas
Respons terhadap antigen diri sendiri.
 Penyakit Autoimun
Kelainan yang disebabkan oleh respons
tersebut.
 Hipersensitivitas Segera (Hipersensitivitas Tipe
I)
Tipe reaksi patologis yang disebabkan oleh
pelepasan mediator-mediator sel mast. Reaksi ini
kebanyakan dipicu oleh produksi antibodi IgE
terhadap antigen lingkungan dan ikatan IgE
dengan sel mast pada berbagai jaringan.
 Hipersensitivitas Tipe II
Antibodi selain IgE yang bekerja langsung pada
antigen sel atau jaringan dapat merusak sel atau
jaringan dapat mengganggu fungsinya.
 Hipersensitivitas Tipe III
Antibodi terhadap antigen terlarut
membentuk kompleks dengan antigen, dan
kompleks imun terkumpul pada pembuluh
darah pada berbagai jaringan, menyebabkan
inflamasi dan cedera jaringan.
 Hipersensitivitas Tipe IV
Beberapa penyakit akibat dari reaksi limfosit
T, seringkali terhadap antigen diri di
jaringan.
Adalah reaksi yang diperantarai antibodi IgE
dan sel mast, terhadap antigen tertentu yang
menyebabkan kebocoran vaskuler cepat dan
sekresi mukosa, sering diikuti dengan
inflamasi.
 Rangkaian kejadian
1. Aktivasi sel Th2 dan produksi antibodi IgE
Pada individu yang cenderung terkena alergi,
paparan beberapa antigen mengakibatkan
aktivasi sel Th2 dan sel Tfh serta produksi
antibodi IgE.
2. Aktivasi sel mast dan sekresi mediator
1. Antibodi IgE dihasilkan sebagai respons terhadap
alergen yang berikatan dengan reseptor Fc
berafinitas tinggi spesifik untuk rantai berat ε,
yang diekspresikan pada sel mast.
2. Pada waktu sel mast yang tersensitisasi IgE
terpapar alergen, sel diaktivasi mensekresi
mediator-mediatornya.
3. Mediator paling penting yang diproduksi oleh sel
mast adalah amine vasoaktif dan protease yang
disimpan dan dilepaskan dari granula, dan produk
yang baru dibentuk dan disekresikan dari
metabolisme asam arakidonat, dan sitokin.
4. Sitokin yang diproduksi oleh sel mast merangsang
pengerahan leukosit, yang menyebabkan reaksi
fase lambat.
Sindrom Klinis Manifestasi Klinis dan Patologis
Rinitis alergi, sinusitis (hay Peningkatan sekresi mukus;
fever) inflamasi saluran napas atas
Alergi makanan Peningkatan peristaltik karena
kontraksi otot intestinal
Asma bronkial Obstruksi jalan napas disebabkan
oleh hiperaktivitas otot polos
bronkial; inflamasi dan
kerusakan jarinagn disebabkan
oleh reaksi fase lambat
Anafilaksis (mungkin disebabkan Penurunan tekanan darah (syok)
oleh obat, sengatan lebah, disebabkan oleh vasodilatasi;
makanan) obstruksi jalan napas karena
bronkokonstriksi dan edema
laring
Antibodi selain IgE dapat menyebabkan
penyakit dengan mengikat antigen target di
sel dan jaringan atau dengan membentuk
kompleks imun yang terdeposit dalam
pembuluh darah.
 Mekanisme Kerusakan Jaringan dan
Penyakit
Antibodi spesifik untuk sel dan antigen
jaringan dapat terdeposit dalam jaringan dan
menyebabkan kerusakan dengan
mencetuskan inflamasi lokal, atau
merangsang fagositosis dan merusak sel, atau
mengganggu fungsi seluler normal.
 Mekanisme Kerusakan Jaringan
Pada penyakit yang diperantarai sel T yang
lain, kerusakan jaringan disebabkan oleh
inflamasi yang dicetuskan oleh sitokin yang
dihasilkan oleh sel T CD4+ atau oleh
pembunuhan sel inang oleh CTLs CD8+.
 Imunologi Dasar Abbas