Anda di halaman 1dari 16

Refleksi Kasus

Varisela
Oleh:
Winda Ayu Purnamasari

Pembimbing
dr. M. Darwis Toena, Sp.KK. FINSDV, FAADV
Abstrak
 Varisela adalah suatu penyakit infeksi akut primer oleh virus Varicella Zoster yang
menyerang kulit, mukosa dan selaput lendir. Varisela merupakan penyakit infeksi
virus akut dan cepat menular. Gejala klinis dimulai dengan gejala prodromal,
yakni demam yang tidak terlalu tinggi, malese dan nyeri kepala, kemudian disusul
timbulnya erupsi kulit berupa papul eritematosa yang dalam waktu beberapa jam
berubah menjadi vesikel. Vesikel akan berubah menjadi keruh menyerupai pustul
dan kemudian menjadi krusta. Sementara proses ini berlangsung, timbul lagi
vesikel-vesikel baru sehingga pada satu saat tampak gambaran polimorf.
Penyebaran terutama di daerah badan, kemudian menyebar secara sentrifugal ke
wajah dan ektremitas Pengobatan biasanya bersifat simptomatik. Pada laporan
kasus berikut dipaparkan seorang pasien perempuan, usia 24 tahun datang ke
RS. Abdul Wahab Sjahranie dengan keluhan adanya vesikel kemerahan disertai
gatal pada punggung, wajah, tangan dan kaki sejak 3 hari sebelum datang ke
rumah sakit. Vesikel tersebut terasa gatal, timbul didahului demam selama 2 hari.
Pada pemeriksaan fisik dermatologik terdapat vesikel multipel sirkumskripta
generalisata, pustul multipel sirkumskripta dan krusta. Pasien ini didiagnosis
varisela. Pasien diberikan terapi antibiotik, antihistamin, dan terapi topikal.

 Kata kunci varisela, Virus Varisela-Zoster, vesikel


Pendahuluan
 Varisela adalah suatu penyakit infeksi akut primer oleh virus
Varicella Zoster yang menyerang kulit, mukosa dan selaput
lendir.
Pendahuluan
 Varisela merupakan penyakit yang tersebar luas diseluruh dunia
menyerang terutama anak-anak, namun dapat pula menyerang
orang dewasa.
 Epidemik varisela terjadi pada musim dingin dan musim semi,
tercatat lebih dari 4 juta kasus, 11.000 rawat inap, dan 100
kematian tiap tahunnya.
 Di Indonesia, insidennya cukup tinggi dan terjadi secara
sproradis sepanjang tahun.
 Varisela merupakan penyakit serius dengan persentasi
komplikasi dan angka kematian tinggi pada dewasa, serta
dengan imunokompromise. Pada rumah tangga, presentasi
penularan dari virus ini berkisar 65%-86
pendahuluan
 Virus ini dapat pula menyebabkan herpes zoster. Kedua
penyakit ini mempunyai manifestasi klinis yang berbeda.
 Varisela pada umumnya menyerang anak, sedangkan
herpes zoster atau shingles merupakan suatu reaktivasi
infeksi endogen pada periode laten.
 Bila terjadi varisela pada orang dewasa, umumnya gejala
konstitusi lebih berat.
Kasus

Seorang pasien perempuan berusia 24 tahun datang ke rumah


sakit dengan keluhan terdapat bintil-bintil kemerahan pada
punggung, wajah, tangan, dan kaki sejak 3 hari sebelum datang
ke rumah sakit. Keluhan tersebut disertai gatal, didahului demam
selama 2 hari. Awalnya timbul bintik kemerahan di punggung,
kemudian berubah menjadi bintil-bintil berisi cairan jernih yang
menyebar ke wajah, tangan dan kaki. Sebelumnya pasien belum
pernah mengalami keluhan penyakit seperti ini. Pasien tidak
memiliki riwayat menderita cacar air. Pasien tidak memiliki alergi
makanan dan alergi obat. Pasien pernah mengobati keluhan ini
dengan obat asiklovir yang didapat dari dokter IGD 3 hari yang
lalu dan belum ada perubahan.
Dari pemeriksaan fisik, pasien dalam keadaan umum tampak
sakit sedang, kesadaran komposmentis, nadi 80 kali/menit,
frekuensi napas 18 kali/menit, suhu 37.6°C, berat badan 60 kg,
dan tinggi badan 157 cm.

status dermatologi didapatkan


• pada wajah, punggung, tangan dan kaki,
• terdapat vesikel multipel sirkumskripta generalisata, pustul
multipel sirkumsripta dan krusta.

Pasien ini didiagnosis varisela dengan infeksi sekunder.


Terapi
Terapi nonmedikamentosa
 edukasi tentang informasi penyakit yang dialami pasien
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan,
 menjelaskan cara penularan,
 istirahat yang cukup
 makan makanan yang bergizi
 menjaga kebersihan diri.

Terapi medikamentosa
 obat antibiotik kapsul sefadroksil 2 x 500 mg,
 tablet klorfeniramin maleat 3 x 4 mg,
 Krim asam fusidat
 bedak salisil 2% pada lesi.
Prognosis pada kasus pasien ini adalah
• quo ad vitam bonam,
• quo ad sanationam bonam, dan
• quo ad kosmetikam dubia.
Pembahasan
Diagnosis varisela pada kasus ini berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik.
Dari anamnesis, pasien perempuan dengan usia 24 tahun.
Berdasarkan kepustakaan disebutkan bahwa varisela pada
umumnya menyerang anak, sedangkan herpes zoster atau
shingles merupakan suatu reaktivasi infeksi endogen pada
periode laten. Bila terjadi pada orang dewasa, umumnya gejala
konstitusi lebih berat.
 Keluhan pasien ini sesuai dengan teori yang didahului
dengan gejala prodromal yaitu demam yang tidak terlalu
tinggi dan malaise. Lalu disusul dengan timbul erupsi kulit
berupa papul eritematosa yang dalam waktu beberapa jam
berubah menjadi vesikel, kemudian menjadi pustul dan
krusta.
 Dari pemeriksaan fisik status dermatologi
 wajah, punngung, tangan dan kaki
 terdapat vesikel multiple sirkumskripta generalisata, pustul
multiple sirkumsripta dan krusta.

Gambaran ini sesuai dengan teori pada stadium erupsi yaitu


didapatkan erupsi kulit berupa papul eritematosa yang dalam waktu
beberapa jam berubah menjadi vesikel kemudian menjadi pustul dan
krusta. Sementara proses ini berlangsung, timbul lagi vesikel-vesikel
baru sehingga pada satu saat tampak gambaran polimorf .
Penyebarannya terutama di daerah badan, kemudian menyebar
secara sentrifugal ke wajah dan ektremitas.
 Pada kasus ini, tidak dilakukan pemeriksaan penunjang
karena diagnosis dapat ditegakkan hanya dengan anamnesis
dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang dapat
dilakukan tes Tzanck dengan membuat hapusan dan
menggunakan pewarnaan Giemsa. Bahan diambil dari
kerokan dasar vesikel dan akan didapati sel datia berinti
banyak.
Diagnosis banding dari varisela adalah variola. Sejak tahun
1984, WHO menyatakan seluruh dunia telah bebas dari
penyakit ini. Meskipun demikian kita harus waspada terhadap
munculnya kembali penyakit ini. Variola secara klinis lebih
berat dan memberi gambaran monomorf. Penyebaran dimulai
dari bagian akral tubuh yakni telapak tangan dan telapak kaki.
Sedangkan pada pasien ini bentuknya polimorf dan
penyebaran dimulai dari punggung.
Terapi medikamentosa yang diberikan kepada pasien
• obat antibiotik kapsul sefadroksil 2 x 500 mg yang merupakan obat
antibiotik golongan sefalosporin spektrum luas dan jarang menimbulkan
reaksi alergi,
• tablet klorfeniramin maleat 3 x 4 mg merupakan obat golongan
antihistamin H1 generasi pertama yang memiliki efek sedasi sehingga
pasien dapat istirahat ,
• krim asam fusidat 2% merupakan krim yang mengandung antibiotik
steroid
• bedak salisil 2% yang mengandung asam salisilat dan pada konsentrasi
1-2% mempunyai efek keratoplastik dan antipruritus ringan.

Pengobatan ini sesuai dengan teori yang bersifat simptomatik. Anti


histamin oral diberikan untuk menghilangkan rasa gatal. Terapi topikal
ditujukan untuk mencegah agar vesikel tidak pecah terlalu dini, karena itu
diberikan bedak yang ditambah dengan zat anti gatal. Pada kasus ini
terjadi infeksi sekunder sehingga diberikan antibiotik oral dan krim. Krim
asam fusidat merupakan jenis antibiotik topikal yang dapat digunakan
sebagai profilaksis maupun terapi infeksi bakteri pada kulit.