Anda di halaman 1dari 30

DETEKSI DINI KANKER

NASOFARING
Dr. dr. Nani Iriani Djufri, Sp. T.H.T.K.L (K) FICS
PENDAHULUAN

Karsinoma nasofaring  tumor yang


berasal dari epitel pada permukaan
nasofaring, predileksi di fossa
Rossenmuller dan atap nasofaring.

Lokasinya tersembunyi di belakang


hidung  pasien/dokter sering
terlambat  pasien >> stadium lanjut.

Lokasinya dekat dengan dasar tengkorak


& saraf kranial  strategi
penatalaksanaannya berbeda dengan
keganasan lain di kepala & leher
EPIDEMIOLOGI
ETIOLOGI
Kerentanan
Genetik
(HLA-A2,
HLA-B.sin)

KNF Multi-
faktorial
Infeksi Virus Faktor Lingkungan
Eipstein-Barr (Nitrosamin, asap
(DNA pada kayu bakar,
epitel sel tumor, herbal tea,
Antibodi Anti higiena buruk,
EBV) ventilasi buruk )
EPSTEIN-BARR VIRUS DAN KNF

Virus Epstein-Barr termasuk


famili virus herpes. Pada sel
KNF terdapat salinan genom
EBV dan ekspresi beberapa
antigen spesifik EBV

Pada KNF, kadar IgA sebagai


respon terhadap early
intracellular antigen (EA) dan viral
capsid antigen (VCA) jauh lebih
tinggi dibandingkan populasi
normal.

Apabila pemeriksaan DNA


EBV dilakukan bersama
pemeriksaan IgA anti VCA
akan meningkatkan
sensitivitas dalam deteksi dini
KNF.
FAKTOR RESIKO

INFEKSI EBV

FAKTOR
LINGKUNGAN KARSINOGEN NITROSAMIN
K
N GEN
F VIRUS
FAKTOR GENETIK
GEN
PENJAMU
PATOFISIOLOGI

- GENETIK INVASI LOKAL


-LINGKUNGAN SILENT PERIOD - Mukus campur darah
- VIRAL - Sumbatan tuba
eustachus

Kelenjar limfe
retrofaringeal/ penyebaran
PENYEBARAN lokoregional
SISTEMIK (paranasofaringeal/
parafaringeal, erosi dasar
tengkorak
HISTOPATOLOGI

Klasifikasi gambaran histopatologi KNF (Shanmugaratnam)


yang direkomendasikan oleh WHO terdiri dari 3 tipe, yaitu:
1. Karsinoma sel skuamosa berkeratin (WHO tipe I)
2. Karsinoma sel skuamosa tidak berkeratin (WHO tipe II)
3. Karsinoma tidak berdiferensiasi (WHO tipe III).
T = Tumor Tumor Primer (T)
TX - tumor primer tidak dapat dinilai
T0 - Tidak ada bukti tumor primer
Tis - Karsinoma in situ
T1 - Tumor terbatas pada nasofaring yang
T2 - Tumor meluas ke jaringan lunak orofaring dan /
atau hidung
T3 - Tumor menginvasi struktur tulang dan / atau sinus
paranasal
T4 - Tumor dengan ekstensi intrakranial dan atau
keterlibatan SSP, fossa infratemporal, hypopharynx,
atau orbita.
STADIUM KARSINOMA NASOFARING
STADIUM KARSINOMA NASOFARING

M = Metastasis
Mx = Adanya Metastasis jauh yang tidak
ditentukan.
M0 Tidak ada metastasis jauh
M1 Terdapat metastasis jauh
STADIUM KARSINOMA
NASOFARING
STADIUM T N M
I 1 0 0
II 1 1 0
2 0 0
2 1 0
III 1 2 0
2 2 0
3 0 0
3 1 0
3 2 0

IV A 4 0 0
4 1 0
4 2 0
IV B SETIAP T 3 0
IV C SETIAP T SETIAP N 1
GEJALA KLINIS (GEJALA DINI)

Gejala pada hidung


Gejala pada telinga
 mimisan, biasanya
 rasa penuh di
berulang, jumlahnya
telinga, rasa dengung
sedikit, seringkali
kadang-kadang
bercampur dengan
disertai dengan
ingus, serta
gangguan
sumbatan hidung
pendengaran.
yang menetap
GEJALA KLINIS (GEJALA
cefalgia
LANJUT) hebat
Tumor colli yang timbul di
bawah daun telinga dan
tidak nyeri  merupakan
gejala utama yang
mendorong pasien datang
ke dokter.

diplopia, anestesi atau


hipestesi didaerah wajah
sampai akhirnya timbul
kelumpuhan lidah, leher dan
gangguan pendengaran serta
gangguan penciuman.
KELUMPUHAN SARAF KRANIAL

 Tumor primer dapat tumbuh ke superior menginfiltrasi


basis kranii menimbulkan nyeri kepala.
 Jika tumor mengenai sinus cavernous dan dinding
lateralnya, saraf kranial III, IV, dan VI dapat terlibat dan
timbul diplopia.
 Ekstensi tumor ke foramen ovale dapat mengenai saraf
kranial V yang menyebabkan nyeri wajah serta baal.
DIAGNOSIS BANDING

• Penyakit saluran nafas bagian atas

• Limfoma non-Hodgkin

• Limfoma Hodgkin’s

• Rhabdomyosarcoma nasofaring

• Angiofibroma juvenil

• Rhabdomyoma germinal

• Tumor hemangioma
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Endoskopi: bertujuan menilai nasofaring untuk
memprediksi kemungkinan KNF
Penampakan endoskopi daerah nasofaring yang normal (gambar kiri)
Penampakan endoskopi kanker nasofaring (gambar kanan)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 CT Scan: Dapat menunjukkan ekstensi ke daerah
parafaring, mendeteksi erosi tulang dan keterlibatan
intrakranial.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Serologi:
- Imunoglobulin A anti-viral capsid antigen (Ig anti-VCA)
- Ig G anti-early antigen (EA)
- Imunohistokimia
- Polymerase chain reaction (PCR)
DIAGNOSIS
Anamnesis

Pemeriksaan fisis

Pemeriksaan penunjang : CT scan,


MRI, PET scan, Nasoendoskopi,
Pemeriksaan serologis

Biopsi nasofaring
TERAPI
 Radioterapi merupakan pilihan utama khususnya KNF tidak
berdiferensiasi (WHO tipe III), karena bersifat radiosensitif.
Radioterapi dilakukan pada stadium dini (stadium I dan II)
 Indikasi kemoterapi pada KNF antara lain stadium lanjut
(stadium III dan IV), disertai atau dicurigai ada metastasis
jauh, tumor persisten, dan rekuren.
 Pembedahan dilakukan untuk membuang kelenjar getah
bening yang menetap atau kambuh apabila tumor primer di
nasofaring hilang setelah pemberian radioterapi dan
kemoterapi
TERAPI

 Manajemen KNF stadium lanjut (stadium III dan IV)


adalah kemoterapi kombinasi dengan radioterapi.
 Kemoterapi dapat diberikan sebelum, selama, atau
setelah radiasi yang dinamakan kemoterapi neoadjuvan,
konkuren, dan adjuvan.
RADIASI
External Beam Radiation Therapy (EBRT)
PARTIAL OR
SELECTIVE
NECK
DISSECTION

PEMBEDAHAN

MODIFIED
RADICAL
RADICAL
NECK
NECK
DISSECTION
DISSECTION
Pembedahan
kemoterapi
PROGNOSIS

Secara umum tergantung


pada pertumbuhan lokal
dan metastasenya.

scc berkeratinasi
cenderung lebih agresif
daripada yang non
keratinasi dan tidak
berdiferensiasi

Prognosis buruk bila dijumpai


limfadenopati, stadium lanjut, tipe
histologik scc berkeratinasi, dekade
4-5, laki-laki dari pada perempuan
dan ras Cina daripada ras kulit
putih.
KESIMPULAN
Diagnosis KNF dilakukan dengan anamnesis gejala dan tanda
klinis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang

Endoskopi dapat menilai kelainan mukosa nasofaring dan


menunjang biopsi

Biopsi merupakan cara definitif menegakkan diagnosis KNF.

Modalitas pencitraan, seperti MRI dan CT scan, mencari tumor


yang tidak tampak oleh endoskopi dan menilai ekstensi tumor

Pemeriksaan serologi dapat digunakan sebagai alat skrining pada


populasi berisiko tinggi.

Deteksi dan diagnosis KNF tahap awal sangat bermanfaat untuk


mendapatkan hasil terapi yang lebih baik