Anda di halaman 1dari 19

Assalamu’alaikum Wr.

Wb
NON ALKOHOLIK FATTY LIVER DISEASE

Oleh : Dyantika Qodar Rahmayati S.Ked

Preceptor : dr.Juspeni Kartika Sp.PD


Definisi
• kelainan hati mirip dengan penyakit hati
alkoholik yang terjadi pada seseorang bukan
peminum alkohol, dengan spektrum kelainan
hati meliputi perlemakan hati saja (simple
steatosis), perlemakan dengan keradangan hati
(NASH), sampai dengan fibrosis dan sirosis.
• Batasan nilai atas dari ‘non alkoholik’ adalah
jumlah konsumsi alkohol untuk wanita 20
gram/hari dan untuk laki-laki 30 gram/hari.
• Dikatakan sebagai perlemakan hati apabila
kandungan lemak dihati (sebagian besar terdiri
dari trigliserida) melebihi 5% dari seluruh berat
hati. Karena pengukuran berat hati sangat sulit
dan tidak praktis, diagnosis dibuat berdasarkan
analisis spesimen biopsi jaringan hati, yaitu
didapatkannya minimal 5-10% sel lemak dari
keseluruhan hepatosit
Etiologi
• Nutrisi: Protein-Kalori-Malnutrisi (PKM), Kelaparan
Nutrisi Parenteral Total, Berat badan turun cepat,
Operasi bedah pintas untuk kegemukan
• Obat: Glukokortikoid, Estrogen sintetis, Calsium-
blocker, Amidarone, Taxomifen, Tetrasiklin,
Metotreksat, Perheksilin – maleat, Asam Valproic,
Cocain, Obat anti-virus: Zidofudin, Didanosin, Fialudin.
• Metabolik atau Genetik: Lipodistropia,
Disbetalipoproteinemia, Peny. Weber-Christian,
Penyakit Wolman Kolesterol Ester-Storage Perlemakan
hati akut pada kehamilan
• Lain-lain: Penyakit Peradangan Usus
Divertikulosis Usus Halus + bacterial
overgrowht Infeksi HIV, Hepatotoksin
lingkungan: Fosfor, Petrokemikal, Jamur
beracun, Bahan organik Toksin Bacillus –
cercus.
Epidemiologi
• Beberapa dekade belakangan ini prevalensi
NAFLD di seluruh dunia meningkat dengan
pesat. Hal ini berhubungan dengan
meningkatnya kasus obesitas dan DM tipe 2.
NAFLD merupakan penyakit hati yang banyak
dijumpai di negara-negara industri di Barat,
yakni mengenai 20% - 40% dari populasi umum.
• Studi pada suatu populasi urban di Indonesia
didapatkan prevalensi NAFLD sebanyak 30%
dengan faktor resiko terbesar adalah obesitas.
Faktor resiko
• Faktor resiko penting yang dilaporkan adalah
obesitas, diabetes mellitus (DM) tipe 2 dan
hipertrigliseridemia. Steatohepatitis non
alkoholik dapat terjadi pada semua usia,
termasuk anak-anak, walaupun penyakit ini
dikatakan paling banyak pada dekade ke empat
dan kelima kehidupan. Jenis kelamin yang
dominan berbeda-beda, namun umumnya
terjadi pada perempuan.
• Faktor lingkungan, faktor kepekaan seseorang
dan atau faktor genetik tampaknya termasuk
faktor yang mempengaruhi keparahan NAFLD.
• Faktor lingkungan antara lain: dietetik (asupan
lemak berlebihan, kekurangan asupan anti-
oksidan), aktifitas fisik (exercise), dan
kemungkinan pertumbuhan bakteri usus
berlebihan, dianggap berperan dalam patogenesis
NAFLD
Patogenesis
• ‘Hit’ pertama adalah terbentuknya perlemakan hati atau steatosis,
kemudian terjadi peningkatan sensitifitas hati terhadap ‘hit’ kedua, dimana
terjadi inflamasi dan kerusakan sel hati, yang selanjutnya terjadi fibrosis
hati. ‘First Hit’ pada jaringan hati adalah penumpukan lemak di hepatosit
yang disebabkan oleh beberapa keadaan seperti dislipidemia, diabetes dan
obesitas. Dalam keadaan normal, asam lemak bebas masuk kehati melalui
sirkulasi darah, kemudian dalam hati akan dimetabolisir lebih lanjut
seperti re-esterifikasi menjadi trigliserid atau digunakan untuk
pembentukan lemak lainnya. Adanya lemak dalam tubuh yang berlebih,
misalkan peningkatan jaringan lemak tubuh, khususnya obesitas sentral
akan meningkatkan penglepasan asam lemak bebas yang kemudian
menumpuk dalam hepatosit. Hal ini akan diikuti peningkatan oksidasi dan
esterifikasi lemak. Proses ini terfokus pada mitokondria sel hati sehingga
akhirnya terjadi kerusakan mitokondria. Proses tersebut merupakan
‘Second Hit’.
• Peningkatan stress oksidatif sendiri dapat juga terjadi
karena resistensi insulin, serta terjadi berbagai
peningkatan antara lain: kadar endotoksin dihati, aktifitas
un-copling protein mitokondria, aktifitas sitokrom P-450
2E1, cadangan besi. Disamping itu juga terjadi penurunan
aktifitas dari anti-oksidan. Karena stress oksidatif yang
terjadi melebihi kemampuan perlawanan dari anti-
oksidan, maka terjadi aktifasi sel stelata dan sitokin pro-
inflamasi yang akan berlanjut dengan inflamasi yang
progresif, pembengkakan sel hati dan kematian sel,
pembentukan badan Mallory, serta fibrosis.
Perjalanan penyakit
• Perjalanan alamiah NAFLD dimulai dari
perlemakan hati sederhana (steatosis),
kemudian berkembang menjadi steatohepatitis
(NASH), selanjutnya terjadi peningkatan
peradangan dan fibrosis, dan dapat menjadi
sirosis hati.
Manifestasi klinik
• Pada populasi umum sebagian besar penderita NAFLD
bersifat tanpa gejala dan tanda penyakit hati
(asimtomatik).
• Pada sebagian penderita NAFLD, terdapat keluhan
seperti sakit kepala, rasa lelah/ mudah capai dan
perasaan tidak nyaman pada perut kuadran kanan
atas. Sebagian pasien datang dengan komplikasi
sirosis seperti asites, perdarahan varises bahkan sudah
berkembang menjadi hepatoma. Pada pemeriksaan
fisik kelainan yang paling sering didapatkan adalah
obesitas
DIAGNOSIS NAFLD

1. Pemeriksaan Laboratorium
Peningkatan kadar aspartate aminotransferase
(AST), alanine aminotransferase (ALT), ataupun
keduanya biasa terdapat pada penderita NAFLD,
dengan peningkatan kurang 4 kali batas normal
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada penderita
NAFLD adalah meliputi aspartate aminotransferase
(AST), alanine aminotransferase (ALT), gamma
glutamyl transpeptidase (GGT), albumin, bilirubin,
international normalized ratio (INR), dan platelet.
• 2. Pencitraan
Metode pencitraan yang umum digunakan untuk
mendeteksi NAFLD adalah ultrasonografi
(USG), computerized tomography (CT) dan
magnetic resonance imaging (MRI). Untuk
diagnosis NAFLD, pemeriksaan USG hati adalah
pilihan pencitraan yang umum dan paling
banyak digunakan
• Pada pemeriksaan USG, perlemakan hati
memberikan gambaran peningkatan ekogenik
difus yang disebut ‘bright liver’ dengan atenuasi
posterior dibandingkan dengan ekhogenitas
ginjal. Pada umumnya perlemakan hati bersifat
difus, tetapi pada beberapa kasus dapat bersifat
setempat (localized) yang mengenai sebagian
parenkhim hati
Derajat perlemakan hati secara
Ultrasonografi
• Derajat Ringan (Mild)
• Peningkatan ekogenitas difus parenkim hati dibandingkan
dengan korteks ginjal, tetapi pembuluh darah intrahepatik
masih tervisualisasi normal.
• Derajat Sedang (Moderate)
• Peningkatan ekogenitas difus moderat parenkim hati dengan
visualisasi pembuluh darah intrahepatik sedikit kabur.
• Derajat Berat (Severe)
• Peningkatan ekogenitas hati nyata dengan sulitnya
visualisasi dari dinding vena porta dan diafragma. Bagian
hati yang lebih dalam juga mungkin sulit di visualisasikan.
• 3. Biopsi Hati
• Hasil histopatologi dari biopsi hati merupakan ‘gold
standart’ untuk diagnosis NAFLD. Biopsi hati adalah
satu-satunya metoda diagnosis NAFLD yang dapat
membedakan berbagai derajat NAFLD dari steatosis
sederhana, steatohepatitis, dengan dan tanpa fibrosis
dan sirosis. Hasil biopsi hati tidak dapat digunakan
untuk membedakan antara NAFLD dengan penyakit
perlemakan hati alkoholik karena keduanya memiliki
gambaran histologi yang sama.
• Gambaran biopsy antara lain berupa steatosis, infiltrasi
sel radang hepatosit ballooning dan nekrosis, nucleus
glikogen, mallorys hyaline dan fibrosis.

Penatalaksanaan
1. Pengontrolan faktor resiko
Mengurangi berat badan dengan diet dan latihan
jasmani.
2. Terapi farmakologis
a. antidiabetik dan insulin sensitizer :metformin,
tiazolidindion
b. Antihiperlipidemia : gemfibrozil,statin
c. Antioksidan :vitamin E, vitamin C,betain dan N-
astilsistein
d. Hepatoprotektor :ursodeoxycholic acid (UDCA)
Terimakasih