Anda di halaman 1dari 43

SIFAT

FISIS
MINER
AL

sifat fisis mineral - 1


BERAT JENIS
Densitas (density) suatu zat adalah massa tiap satuan volume (g/cm3 atau
lbs/ft3).
Berat Jenis (specific gravity) adalah angka yang menyatakan berapa kali
berat suatu benda dibandingkan dengan berat air yang mempunyai dimensi
yang sama (pada 4oC), atau perbandingan antara densitas benda tersebut
dengan densitas air. Berat jenis merupakan bilangan murni tanpa satuan.
Di beberapa negara malah pengertiannya terbalik, seperti di Jerman
Specifisches Gewicht diartikan sebagai massa tiap satuan volume,
sedangkan Dichte sama pengertiannya dengan berat jenis.

Berat jenis suatu mineral terutama ditentukan


oleh struktur kristal dan komposisi kimianya 
akan berubah dengan perubahan suhu dan
tekanan.
Mis. mineral kuarsa SiO2 (trigonal)
pada T & P normal  BJ=2,65
polimorf SiO2 yang lain
kristobalit (isometrik) BJ=2,32
tridimit (hexagonal)  BJ=2,26.
Tridymite -SiO2
sifat fisis mineral - 2
Pengaruh komposisi kimia ditunjukkan pada solid solution mineral olivin
BJ forsterit Mg2SiO4 murni  3,22 sedangkan BJ fayalit Fe2SiO4 murni  4,41
(terjadi substitusi atom Mg yang lebih ringan oleh atom Fe yang lebih berat).

Hal yang serupa dijumpai pada sekelompok persenyawaan isomorf.


Berat jenis mineral yang bersangkutan menunjukkan hubungan langsung
dengan massa atom yang terkandung di dalamnya,

NAMA MINERAL KOMPOSISI BERAT


KIMIA JENIS
Aragonit CaCO3 2,93
Strontianit SrCO3 3,78
Witherit BaCO3 4,31
Serusit PbCO3 6,58

aragonite strontianite witherite cerussite sifat fisis mineral - 3


Berat jenis suatu mineral dapat menggambarkan sifat atom-atom yang
terkandung dalam strukturnya dan tata cara ikatan yang mempersatukan
atom-atom tersebut. Apabila dimensi unit sel dapat diukur (penentuan
formula unit, Z) dan jumlah serta jenis-jenis atom yang terkandung di dalam
sel (rumus mineral) diketahui, maka berat jenis dapat dihitung.

Kristalografi sinar-X dapat dipakai untuk menghitung suatu faktor yang


dikenal sebagai packing index yang dapat merepresentasikan struktur
kristalnya.
Volume ion-ion
Packing Index = ––––––––––––– x 10
Volume sel unit

Konsep packing index menganggap bahwa ion-ion yang terdapat di dalam


struktur kristal bertindak sebagai bola-bola yang saling mendukung satu
sama lain. Persenyawaan ion mempunyai packing index yang berkisar
antara 3 sampai 7, yang berarti 30 s/d 70% volume kristal ditempati oleh
atom- atomnya.

sifat fisis mineral - 4


Hubungan antara packing index dan berat jenis dapat dilihat pada
polimorf mineral-mineral berikut ini :

NAMA MINERAL DAN BERAT PACKIN


SISTEM KRISTALNYA JENIS G INDEX
TiO2 rutil (tetragonal) + 4,25 6,6
brookit (orthorhombik) 4,14 6,4
rutile anatas (tetragonal) - 3,90 6,3
Al2SiO5 kianit (triklin) 3,63 7,0
silimanit (orthorhombik) + 3,24 6,2
andalusit (orthorhombik) - 3,15 6,0

brookite

sillimanite andalusite

anatase kyanite
sifat fisis mineral - 5
PENENTUAN BERAT JENIS

Masalah yang mungkin timbul pada penentuan berat jenis ini antara lain :
- ketidakhomogenan conto (terdapat beberapa inklusi mineral asing),
- mineral dengan butir halus dan berpori seperti lempung
(diatasi dengan mendidihkan conto),
- pemilihan metode yang kurang sesuai, dan ketelitian/kecermatan
pengamat.

Beberapa cara penentuan berat jenis benda-benda padat :


1. Metode langsung, berat mineral diukur secara langsung, dan
volumenya diukur berdasarkan prinsip Archimedes.
2. Metode piknometer, berat mineral diukur secara langsung, volumenya
diukur melalui berat cairan yang digantikan di dalam piknometer.
3. Metode suspensi, berat jenis diukur dengan cara perbandingan
langsung dengan cairan-cairan berat.

sifat fisis mineral - 6


METODE LANGSUNG

Volume mineral ditentukan dengan cara mengukur kehilangan berat fragmen


mineral jika dimasukkan ke dalam suatu cairan tertentu. Fragmen mineral
tersebut memindahkan cairan dengan volume yang sama dan beratnya
seolah-olah berkurang sebesar berat cairan yang dipindahkan.

dimana :
W1 W1 = berat fragmen di udara
Berat jenis (G) =  x L W2 = berat fragmen mineral di
W 1 – W2 dalam air
L = berat jenis cairan.

Air sering digunakan sebagai cairan pengganti, karena mudah diperoleh dan
mempunyai berat jenis 1 (1). Hanya sayangnya air mempunyai surface
tension tinggi (sukar membasahi benda padat)  gelembung-gelembung
udara sering melekat pada permukaan benda padat tersebut, sehingga
akan memberikan berat jenis yang rendah.
Untuk menghindarinya digunakan cairan-cairan organik seperti toluene atau
carbon tetra chlorida yang mempunyai surface tension hanya 1/3 sampai
1/4 surface tension air.
sifat fisis mineral - 7
Beberapa timbangan
khusus telah dibuat
untuk penentuan
berat jenis secara
langsung dan cepat
dengan metode
Archimedes,
diantaranya yang
terbaik adalah
timbangan Jolly
(Jolly balance) yang
telah disempurnakan
oleh Kraus.

Timbangan Bergman yang merupakan torsion


microballance dapat menimbang sampai dengan
25 mg dengan ketelitian sampai 0,01 mg.
Butiran mineral dengan berat beberapa mg dapat
diperiksa kemurniannya di bawah mikroskop dan
di timbang dengan timbangan ini. Dengan
demikian masalah homogenitas conto sudah
dapat diatasi.

sifat fisis mineral - 8


METODE PYCNOMETER

Piknometer yang berbentuk sebuah botol gelas kecil yang ditutup dapat
menampung sejumlah cairan dengan volume tertentu. Volume benda padat
yang beratnya telah diketahui ditentukan dari berat cairan yang dipindahkan.

dimana :
(W2-W1 ) G = berat jenis conto
G = ––––––––––––––– x L L = berat jenis cairan
(W4-W1 ) - (W3-W2) W1 = berat piknometer kosong
W2 = berat piknometer setelah
berisi conto
W3 = berat piknometer setelah berisi conto dan cairan
W4 = berat piknometer setelah berisi cairan
(W2-W1) = berat benda padat di udara
(W4-W1)-(W3-W2) = berat benda padat di dalam cairan

Metode penentuan BJ dengan piknometer ini membutuhkan kecermatan


dan ketelitian yang tinggi, selain juga dibutuhkan sejumlah conto yang
homogen dalam jumlah yang cukup.
Untuk beberapa conto mineral tertentu seperti lempung halus, maka
metode piknometer ini merupakan methode satu-satunya yang dapat
digunakan secara baik.
sifat fisis mineral - 9
METODE SUSPENSI

Prinsip metode ini adalah memasukkan butiran mineral ke dalam suatu


cairan berat yang sudah diketahui berat jenisnya, dengan cara
mengencerkan atau menambah cairan berat, sehingga tercapai suatu
keseimbangan (butiran tidak tenggelam dan tidak terapung).
Selanjutnya berat jenis larutan ditentukan dengan mempergunakan sebuah
timbangan Westphal atau dengan cara menimbang batu duga di udara, air,
dan larutan tersebut.
Keuntungan metode ini dapat dipergunakan pada butiran mineral yang
halus dan apabila didalamnya masih terdapat butiran lain, maka akan
segera dapat diketahui karena perbedaan berat jenisnya.
Larutan yang sesuai untuk dipergunakan pada penentuan BJ mineral
adalah : - bromoform CHBr3 BJ=2,9
- acetylene tetrabromide (tetrabromethane) C2H2Br4 BJ=2,96
- methylene iodide CH2I2 BJ=3,3
- larutan clerici (larutan thallous molonate dan thallous formate
pekat dalam jumlah yang sama) BJ=4,2
Sebagai pengencer larutan-larutan organik ini diperlukan aceton dan hanya
larutan clerici yang dapat diencerkan dengan air.

sifat fisis mineral - 10


Mis. Conto urat (BJ=3,8) yang terdiri dari kuarsa (BJ=2,65) dan pirit
(BJ=5,01), akan kadar besi sebagai berikut :

KOMPOSISI BERAT
VOLUME
(%-berat) JENIS
pirit 100-x 5,01 (100-x)/5,01
kuarsa x 2,65 x/2,65
conto urat 100 3,80 100/3,80

Jumlah volume pirit dan kuarsa harus sama dengan volume campuran
keduanya (conto urat), maka :
100-x x 100
––––– + –––– = –––– sehingga diperoleh x = 35,8 %-berat
5,01 2,65 3,80
Apabila rumus kimia kedua mineral diketahui, maka komposisi conto batuan
urat tersebut dapat dihitung. Komposisi batuan urat tersebut adalah 35,8 %
SiO2 dan 64,2 % FeS2  maka kadar besi dalam urat bijih tersebut adalah :
BA Fe 55,85
 x 64,2% =  x 64,2% = 29,88 %Fe
BM FeS2 55,85+(2x32,07)
sifat fisis mineral - 11
SIFAT OPTIK Sifat optik mineral meliputi refleksi & refraksi, kilap (luster),
warna (color), dan gores (streak), dan luminescence.

REFLEKSI dan REFRAKSI


Suatu sinar yang dipantulkan selalu mengikuti hukum pemantulan berikut ini,
sudut pantul r sama dengan sudut datang i dan kedua sinar tersebut
terletak dalam satu bidang.
Prof. Wiellebrod Snellius
(matematikawan di Leyden, Belanda)
pada tahun 1621 menemukan hukum
pembiasan (law of refraction) atau
hukum Snellius
Sin i
 = n n = indeks bias
Sin r
Indeks bias adalah perbandingan antara V
kecepatan cahaya di udara (V) dan n=
kecepatan cahaya di dalam benda (v) v
Mis. Kecepatan cahaya di udara adalah 300.000
km/detik dan kecepatan cahaya di dalam suatu
benda adalah 200.000 km/detik, maka indeks
bias n = 1,5 (pada umumnya benda padat
mempunyai indeks bias antara 1,4 dan 2,0).
sifat fisis mineral - 12
Hubungan densitas (G) dengan indeks bias (n) adalah :
n -1
 = K K adalah konstanta yang tergantung dari
G komposisi mineral termaksud.

Zat yang bersistem kristal isometrik dan zat yang nir-kristalin mempunyai
kecepatan rambat cahaya yang sama besar ke semua arah, akibat indeks
bias yang sama besar ke semua arah. Zat semacam ini secara optik disebut
isotrop (optically isotropic). Zat yang mempunyai kecepatan cahaya
bervariasi menurut arah getar di dalam kristalnya secara optik disebut
anisotrop.

Suatu sinar yang merambat pada zat anisotrop akan terurai menjadi
menjadi dua sinar dalam arah rambat yang tegak lurus satu sama lain,
dengan kecepatan rambat yang tidak sama (sesuai dengan besarnya indeks
bias). Perbedaan dalam indeks bias tersebut dikenal dengan birefringence.

Harga birefringence ini biasanya sangat


kecil (mis. untuk kuarsa 0,009), akan tetapi
pada kalsit perbedaan tersebut cukup besar
(0,172), sehingga bila kita mengamati suatu
titik melalui bagian belahannya akan
tampak menjadi dua titik.
sifat fisis mineral - 13
Hubungan antara sifat optik dan kristalografi dapat diekspresikan dalam
gambar yang dikenal sebagai indikatriks.

n Untuk zat yang nir- kristalin atau yang


mempunyai sistem kristal isometrik,
n
indikatriksnya berbentuk bola akibat
n
indeks bias yang sama ke segala
arah (isotrop)

isotrop

indikatriks mineral dgn sistem kristal



tetragonal dan hexagonal akan berbentuk
elipsoida, yang jika diputar berimpit dengan
sumbu C kristal membentuk suatu lingkaran.

Bentuk ini terjadi karena semua sinar yang

merambat searah sumbu C akan mempunyai
kecepatan yang sama ( bisa lebih besar
atau lebih kecil dari ).
Mineral-mineral dengan sistem kristal ini
uniaxial disebut uniaxial.
sifat fisis mineral - 14
Indikatriks mineral dengan kristal sistem
orthorombik, monoklin, dan triklin akan berbentuk

elipsoida bersumbu tiga (triaxial  untuk n-
terkecil,  untuk n-sedang, dan  untuk n-terbesar).

 Elipsoida ini hanya mempunyai dua buah
penampang berbentuk lingkaran, sedangkan
penampang lainnya akan berbentuk elips.
Dua buah garis yang melalui inti kristal dan tegak
lurus terhadap penampang lingkaran tersebut
biaxial
dikenal sebagai sumbu optik  biaxial atau
A B
bersumbu optik dua

 penampang 
 AA dan BB adalah sumbu optik yang
tegak lurus pada dua penampang
lingkaran dengan jari-jari .

B A
sifat fisis mineral - 15
KILAP (luster)
Kilap merupakan sifat optik mineral yang berhubungan dengan refleksi dan
refraksi cahaya pada permukaan mineral akibat adanya perbedaan indeks
bias udara dengan mineral tersebut.
Kilap dihasilkan oleh cahaya yang dipantulkan oleh permukaan mineral.
Intensitas kilap tergantung dari kualitas cahaya yang dipantulkan oleh
permukaan mineral tersebut.

Kilap dalam mineral meliputi :


KILAP LOGAM (metallic luster)  n>3
umum pada mineral yang mengabsorbsi radiasi sinar secara kuat, dalam
sayatan tipis hampir/tak tembus cahaya (dengan sinar infra merah akan
transparan).
mis. native metal dan sebagian besar mineral sulfida.

native gold Au pyrite FeS2 arsenopyrite FeAsS


native copper Cu
sifat fisis mineral - 16
KILAP SUB-LOGAM (sub-metallic luster)  n = 2,6-3
Mineral dalam kelompok ini sebagian besar semi opaque - opaque.
mis. mineral dalam kelompok ini adalah kuprit, sinabar, dan hematit.

cuprite Cu2O cinnabar HgS hematite Fe2O3

sifat fisis mineral - 17


KILAP NON-LOGAM (non-metallic luster)

Kilap kaca (vitreous luster)  n = 1,3-1,9


menyerupai kilap yang dihasilkan oleh gelas. ±70 % mineral mempunyai
kilap kaca, meliputi hampir semua silikat, sebagian besar oxysalts (karbonat,
fosfat, sulfat dll.), halida, serta oksida dan hidroksida dari unsur-unsur ringan
seperti Al dan Mg.
mis. kuarsa, turmalin, topas.

quartz SiO2 topaz Al2SiO4(F,OH)2

tourmaline (Na,Ca)(Mg,Fe+2,Fe+3,Al,Mn,Li)3Al6(BO3)3 (Si6O18)(OH,F)4

sifat fisis mineral - 18


Kilap intan (adamantine luster)  n = 1,9-2,6
menggambarkan jenis kilap mineral intan.
mis. sirkon, intan, rutil, kasiterit, sfalerit, belerang.

cassiterite SnO2

Zircon ZrO2 diamond C rutile TiO2

sphalerite (Zn,Fe)S

Kombinasi warna coklat dan kuning


dengan indeks bias dalam selang ini
akan menghasilkan suatu kilap damar
(resinous luster), yaitu kilap seperti
Sulfur S resin atau damar.
mis. belerang.
sifat fisis mineral - 19
Kilap lilin (greasy, waxy, silky, pearly luster)
nepheline (Na,K)AlSiO4
Merupakan jenis-jenis kilap non-logam yang
disebabkan oleh perbedaan sifat pencerminan
terhadap permukaan. Kilap lilin merupakan kilap
seperti pada permukaan yang dilapisi minyak.
mis. nefelin.

Mineral dengan kristal halus


(cryptocrystalline) dan mineral
amorf seperti kalsedon dan opal,
biasanya mempunyai kilap waxy.

opal SiO2.nH2O
chrysoprase  Ni-chalsedony SiO2 sifat fisis mineral - 20
Mineral seperti lempung menghamburkan
semua sinar yang jatuh ke padanya, sehingga
nampak tidak mempunyai kilap dan
digambarkan sebagai dull atau earthy.

montmorillonite
(Na,Ca)0.33(Al,Mg)2Si4O10(OH)2.nH2O

Kilap sutera (silky luster) dihasilkan oleh mineral-mineral yang


berserabut/berserat seperti pada asbes, krisotil, dan beberapa jenis
gipsum.

gypsum CaSO4 2H2O

Chrysotile Mg3Si2O5(OH)4
sifat fisis mineral - 21
Mineral transparan dengan struktur kisi
yang berlapis dan diikuti oleh belahan
lamela yang sempurna akan
mempunyai kilap mutiara (pearly luster)
yang dihasilkan oleh refleksi
permukaan belahan tersebut,
mis. talk, mika, dan gipsum yang
berkristal kasar.

biotite K(Mg,Fe)3(Al,Fe) - Si3O10(OH,F)

talc Mg3Si4O10(OH)2

muscovite KAl3Si3O10(OH)2 flogofit


sifat fisis mineral - 22
WARNA (color)

Warna mineral umumnya ditimbulkan oleh penyerapan beberapa panjang


gelombang cahaya putih, dengan kata lain warna timbul sebagai hasil dari
cahaya putih yang dikurangi beberapa panjang gelombang yang terserap.
Mineral berwarna gelap adalah mineral yang dapat menyerap semua
panjang gelombang pembentuk cahaya putih.

Warna suatu mineral tergantung dari


berbagai hal antara lain :
1. komposisi kimianya
mis. warna hijau dan biru pada mineral
tembaga (Cu) sekunder malachite Cu2CO3(OH)2
mineral malasit dan azurit
2. struktur kristal dan ikatan atom
mis. polimorf karbon seperti intan yang
tak berwarna, transparan dan
grafit yang berwarna hitam, opak
(tak tembus cahaya).
3. pengotor (inpurities) pada mineral azurite Cu3(CO3)2(OH)2
mis. kalsedon yang berwarna.
sifat fisis mineral - 23
Mineral yang mempunyai warna tetap dan tertentu disebut idiochromatic,
sedangkan yang dapat berubah-ubah disebut allochromatic.

Ada kalanya warna mineral diperkuat


oleh adanya unsur dengan dua valensi,
Vivianite seperti mineral besi dengan satu valensi
(fero atau feri) memberikan warna yang
pucat, tetapi jika terdapat bersamaan
akan memberikan warna hijau tua
hingga hitam.
Perubahan ion fero menjadi feri pada
proses oksidasi akan menimbulkan
perubahan warna, mis. vivianit
Fe3(PO4)2 8H2O ketika baru ditambang
tidak berwarna, tetapi setelah kontak
dengan udara (teroksidasi) menjadi
berwarna biru tua atau hijau tua.

Ion-ion atau kelompok ion yang dapat menimbulkan warna khas pada
mineral disebut khromofor (chromophores).
sifat fisis mineral - 24
GORES (streak)

Gores (streak) adalah warna mineral dalam bentuk tepung (serbuk).


Gores dapat diperoleh melalui penghancuran, pengikiran, atau
penggoresan mineral pada keping porselen gores putih (streak plate).
Warna gores suatu mineral dianggap sebagai salah satu unsur pemeri
yang baik, karena lebih kostan dari warna mineralnya.

Mineral yang tembus cahaya (transparant dan translucent) mempunyai


gores berwarna
Azurit putih;
mineral berwarna gelap dengan kilap non-logam memberikan gores
yang lebih terang dari warna mineralnya,
sedangkan mineral dengan kilap logam kadang-kadang mempunyai
gores yang lebih gelap dari warna mineralnya.

sifat fisis mineral - 25


BELAHAN (cleavage) dan PECAHAN (fracture)

Fracture adalah sifat fisik suatu mineral yang mempunyai kecenderungan


untuk pecah tidak beraturan (setelah melalui batas-batas elastis dan plastis).
Cleavage adalah sifat fisik suatu mineral yang mempunyai kecenderungan
untuk membelah atau pecah sepanjang bidang tertentu yang searah dengan
kohesi terkecil. Belahan ini umumnya sejajar dengan permukaan kristal.
Sifat belahan dinyatakan dengan :
- sempurna (perfect) mineral yang mudah terbelah melalui bidang belah
nya dan sukar terbelah memotong bidang belah
nya,
misal : kalsit, muskovit.
- baik (good) mudah terbelah melalui bidang belah nya, tetapi
masih dapat terbelah memotong bidang belah nya,
misal : felspar
- jelas (distinct) dapat terbelah dengan mudah melalui bidang
belahnya, tetapi dapat juga pecah dengan mudah
melalui arah-arah lain,
misal : skapolit (scapolite)
- tidak jelas (indistinct) kemungkinan untuk pecah (fracturing) sama dengan
kemungkinan untuk membelah (ceavage).
sifat fisis mineral - 26
Belahan dapat dipakai untuk menentukan sistem kristal suatu mineral
- mineral dengan satu belahan tidak mungkin bersistem kristal isometrik,
- mineral dengan tiga arah belahan yang tidak sama satu sama lainnya mungkin
mempunyai sistem kristal orthorhombik, monoklin, atau triklin; sedangkan jika
ketiga arah tersebut saling tegak lurus, maka sistem kristalnya adalah
orthorhombik.
- tiga belahan yang sama menunjukkan kubus (belahan membentuk sudut 90o),
prisma heksagonal (belahan sudut 60o), atau rhombohedral.
- empat belahan yang sama menunjukkan oktahedral atau kadang- kadang
tetragonal maupun orthorhombik bipiramidal.
- enam belahan yang sama adalah dodekahedral.

Belahan merupakan refleksi struktur dalam suatu mineral, hal ini tergantung dari
ikatan dalam atom yang membentuk mineral tersebut. Belahan mempunyai
hubungan langsung dengan struktur mineralnya, tetapi hanya mempunyai
hubungan yang tidak langsung dengan komposisi kimianya.
Beberapa mineral dapat menunjukkan gejala parting yang mirip dengan cleavage
karena selalu sejajar dengan permukaan kristal. Parting ini dapat dipakai sebagai
tanda/ciri mulai adanya ubahan/alterasi melalui bidang- bidang tertentu.
sifat fisis mineral - 27
KEKERASAN (hardness)

Secara umum kekerasan mineral diartikan sebagai daya tahan mineral


terhadap goresan (scratching). Tahun 1822 Mohs (sarjana mineralogi Australia)
menyusun Skala Kekerasan Relatif mineral.

SKA NAMA talc gypsum


LA MINERAL quartz
1 talk orthoclase

2 gipsum
3 kalsit
calcite topaz
4 fluorit
apatite
5 apatit
6 orthoklas
7 kuarsa diamond
fluorite
8 topas
9 korundum
10 intan corundum
sifat fisis mineral - 28
Setiap mineral dengan skala Mohs yang lebih tinggi dapat menggores
mineral-mineral dengan skala Mohs yang lebih rendah.

Secara kuantitatif interval skala tersebut hampir sama besar, hanya pada
korundum dan intan mempunyai interval skala yang lebih besar dari interval-
interval lainnya.

Pengukuran sederhana kekerasan suatu mineral dapat dilakukan dengan


mengacu pada kekerasan kuku (H=2,5) dan pisau lipat (H=5,5)
sebagai berikut :
mineral dengan H=1 mempunyai rasa lemak bila diraba,
H=2 dapat digores dengan kuku,
H=3 dapat dipotong dengan pisau,
H=4 agak mudah digores dengan pisau,
H=5 agak sukar digores, dan
H>6 tidak dapat digores dengan pisau bahkan dapat
menggores kaca.

sifat fisis mineral - 29


Ditinjau dari hubungannya dengan struktur kristal, kekerasan merupakan daya tahan
struktur kristal terhadap deformasi mekanis (mechanical deformation).
Hubungan antara kekerasan dan struktur kristal dapat dinyatakan sebagai berikut.
Kekerasan akan makin besar apabila :
1. atom-atom/ion-ion makin kecil
- isomorf kalsit (CaCO3, trigonal, H=3) dan magnesit (MgCO3, trigonal, H=4,5)
Ca dan Mg mempunyai jari2 0,99Å dan 0,66Å.
- hematit (Fe2O3, H=6, jari2 Fe2+=0,74Å) dan korundum (Al2O3, H=9, jari2 Al3+=0,51Å)
2. valensi/muatan makin besar
kalsit dan soda niter (NaNO3) mempunyai struktur yang sama (trigonal-rhombohedral,
jari2 Na+=0,79Å Ca2+=0,99Å) karena valensi Ca > Na  Hkalsit=3 dan Hsoda niter=2
3. packing density makin besar
- polimorf kalsit (CaCO3; trigonal; BJ=2,71; H=3) dan aragonit (CaCO3;
orthorhombik; BJ=2,93; H=4),
- polimorf kuarsa (SiO2; trigonal; BJ=2,65; H=7) dan tridimit (SiO2; heksagonal;
BJ=2,65; H=6,5).

Kekerasan mineral berubah menurut arah sumbu kristalografinya


misal permukaan belahan (100) mineral kyanit
arah sumbu-c kekerasannya H=4,5
arah sumbu-b kekerasannya H=6,5.

Permukaan (111) kristal intan merupakan permukaan terkeras yang diketahui manusia.
sifat fisis mineral - 30
SIFAT KEMAGNETAN MINERAL
Beberapa mineral di alam
seperti magnetit (Fe3O4),
phyrotit (Fe1-nS), dan
polimorf magnetit bersifat
ferro magnetik.
Kadang-kadang magnetit
dan maghemit dapat
berbentuk magnet alam
magnetite pyrrhotite
yang dikenal senagai
lodestone.

Semua mineral sebenarnya sudah dipengaruhi


oleh magnet bumi. Mineral yang bersifat sedikit
ditolak oleh magnet disebut diamagnetis,
sedangkan yang sedikit ditarik oleh magnet
dikatakan paramagnetis.
Semua mineral yang mengandung besi bersifat
paramagnetis, tetapi ada juga mineral seperti
beril [Be3Al2(SiO3)6] dapat juga bersifat beryl
paramagnetis.
sifat fisis mineral - 31
SIFAT KEMAGNETAN MINERAL

Berdasarkan sifat-sifat magnetis ini dapat


dilakukan pemisahan mineral-mineral
paramagnetis dengan mineral-mineral
diamagnetis, atau bahkan antar mineral
paramagnetis dengan cara melalukan
mineral tersebut pada sebuah medan
magnet yang diatur kekuatannya dengan
alat elektromagnet
(prinsip ini dipakai pada pengolahan bahan galian
atau mineral dressing).

sifat fisis mineral - 32


SIFAT KEMAGNETAN MINERAL

Sifat-sifat magnetis mineral yang mempengaruhi medan


magnet bumi telah banyak dimanfaatkan dalam eksplorasi
mineral. Penyelidikan dengan menggunakan alat
magnetometer ini sangat berguna untuk mencari cebakan
bijih, untuk mengetahui perubahan-perubahan jenis batuan,
dan untuk mengikuti formasi-formasi batuan yang
mempunyai sifat magnetis tertentu, baik dilakukan di darat
ataupun secara cepat dengan mempergunakan pesawat
udara.

sifat fisis mineral - 33


SIFAT KELISTRIKAN MINERAL

Berdasarkan sifat listriknya mineral dapat dibagi atas mineral konduktor dan
mineral non konduktor . Mineral konduktor terdiri dari mineral-mineral yang
mempunyai ikatan logam, mineral logam murni, dan beberapa mineral sulfida.
Konduktivitas listrik suatu mineral sangat tergantung dari arah kristalografinya
(mis. konduktivitas hematit pada arah tegak lurus sumbu-c besarnya dua kali
dari konduktivitas pada arah yang sejajar sumbu-c.

Pada beberapa mineral non konduktor dapat diinduksikan muatan listrik


dengan jalan mengadakan perubahan temperatur (pyroelectricity) atau
memberikan tekanan terarah (piezoelectricity).

Gejala piroelektrisitas dapat diperlihatkan pada cooling crystal yang ditaburi


tepung belerang (S) dan timbal (Pb) yang terlebih dahulu diberi muatan listrik
(melalukan pada kain sutra). Partikel belerang yang bermuatan negatif
menempel pada ujung kristal positif sedangkan partikel timbal yang bermuatan
positif tertarik pada ujung kristal yang negatif.

sifat fisis mineral - 34


SIFAT KELISTRIKAN MINERAL

Sifat piezoelektrisitas ditemukan oleh Piere dan Jacques Curie (1881) ketika
mengobservasi kristal kuarsa yang diberi tekanan terarah, yang ternyata
menjadi bermuatan positif dan negatif pada ujung-ujung sumbu-a nya. Tahun
berikutnya G. Lippman mengemukakan, bahwa kristal kuarsa akan mengalami
perubahan mekanis jika dipengaruhi oleh medan listrik (hal ini dibenarkan oleh
Curie). Penyelidikan terus dikembangkan pada pemancaran dan penerimaan
gelombang suara di dalam air memakai pelat kuarsa, sifat ini kemudian
digunakan pada radio yaitu melalukan suatu medan listrik bolak-balik pada
pelat kuarsa yang dipotong, diletakkan, dan diukur sedemikan rupa sehingga
memberikan resonansi yang sesuai dengan frekuensi getran mekanik alam
(frekuensi pancaran dan penerimaan dapat dikontrol kestabilan dan
kecepatannya).

Secara teoritis setiap zat yang tidak mempunyai pusat simetri akan bersifat
piezoelektris. Mineral kuarsa umum digunakan karena memiliki sifat kimia dan
fisika yang stabil, elastisitas tinggi, dan mudah diperoleh.

sifat fisis mineral - 35


SIFAT PERMUKAAN MINERAL

Sifat permukaan mineral yang penting dalam bidang teknik antara lain adalah
sifat kebasahan relatif (wetability) permukaan mineral. Menurut sifat ini mineral
dibagi dalam dua kelompok :
- mineral-mineral lyophyle, yaitu mineral-mineral yang dapat dengan mudah
dibasahi air,
- mineral-mineral lyophobe, yaitu mineral-mineral yang tidak dapat dengan
mudah dibasahi air.

Pada umumnya mineral-mineral dengan ikatan ion bersifat lyophyle, sedangkan


yang mempunyai ikatan logam atau ikatan kovalen bersifat lyophobe.

sifat fisis mineral - 36


SIFAT PERMUKAAN MINERAL

Pemakaian utama perbedaan sifat permukaan mineral adalah dalam teknologi


pengolahan bahan galian (mineral dressing) yang dikenal sebagai floatasi.
Flotasi terutama dipakai untuk memisahkan mineral-mineral sulfida yang
umumnya bersifat lyophobe dari mineral-mineral gangue (kuarsa, kalsit, dll.)
yang bersifat lyophile.

sifat fisis mineral - 37


RADIOAKTIVITAS

Radioaktivitas suatu mineral dihubungkan dengan adanya unsur uranium


dan thorium yang terkandung di dalam mineral tersebut (beberapa unsur lain
seperti kalium dan rubidium dapat juga memperlihatkan radioaktivitas lemah
bila diukur dengan alat yang peka).

Atom-atom uranium dan thorium terurai (desintegrasi) dengan kecepatan


tetap tanpa dipengaruhi suhu, tekanan, maupun sifat persenyawaan yang
mengelilinginya. Desintegrasi ini dsertai dengan tiga jenis radiasi yaitu
radiasi sinar alfa, yang terdiri dari inti atom helium bermuatan positif; radiasi
sinar beta yang terdiri dari elektron bermuatan negatif; dan radiasi sinar
gamma yang berbentuk sinar-X.

Radioaktivitas dapat diketahui dengan memperhatikan radiasi yang


dipancarkan, baik dengan melihatnya pada sebuah film (effect on photo-
graphic film), maupun dengan alat geigercounter atau scintillometer.

sifat fisis mineral - 38


RADIOAKTIVITAS

Timbal (lead) merupakan hasil desintegrasi uranium dan thorium sebagai


berikut :
U238 menjadi Pb206 + 8 He4
U235 menjadi Pb207 + 7 He4
Th232 menjadi Pb208 + 6 He4.

Kecepatan reaksi-reaksi tersebut di atas telah diketahui, sehingga umur


radioaktif mineral dapat dihitung apabila kandungan uranium, thorium, dan
timbal diketahui dan selain itu harus diperhatikan, bahwa mineral
termaksud sebelumnya tidak mengandung timbal (primary lead) serta tidak
mengalami alterasi maupun pelindian (leaching). Suatu spesimen segar
(fresh) yang mengandung mineral-mineral radioaktif dapat sangat berguna
bagi penentuan umur spesimen termaksud.

Prospeksi mineral-mineral radioaktif biasanya dilakukan dengan memper-


gunakan Scintillometer dan Geigercounter.

sifat fisis mineral - 39


KELIATAN (tenacity)

Keliatan adalah tingkat ketahanan suatu mineral untuk hancur atau


melentur
Sifat-sifat ini dapat dibedakan menjadi :
a. Tegar (brittle), mudah hacur
b. Lentur (elastic), dapat dibentuk dan dapat kembali ke posisi semula
c. Liat (flexible), dapat dibentuk tapi tidak dapat kembali ke posisi semula
d. Malleable, dapat dibelah menjadi lebaran
e. Sectille, dapat dipotong dengan pisau
f. Ductille, dapat dibentuk menjadi tipis

sifat fisis mineral - 40


SIFAT FISIS MINERAL
Suatu mineral dapat dibedakan dengan mineral lain berdasarkan sifat-
sifat fisik tertentu, yaitu :
1. Habit
2. Belahan dan Pecahan (cleavage and fracture)
3. Kekerasan (hardness)
4. Sifat Kemagnetan
5. Sifat Kelistrikan
6. Sifat Permukaan
7. Keliatan (tenacity)
8. Berat Jenis (density)
9. Sifat Optik
10. Kilap
11. Warna dan Gores (color and streak)
12. Radioaktivitas

sifat fisis mineral - 41


Habit atau perawakan adalah bentuk khas dari kristal tunggal maupun
kumpulan pada mineral

Jenis-jenis habit yang penting yaitu :


a. Kristal tunggal b. Kelompok kristal
1. Merambut (fibrous) 1. Menyebar (radial)
2. Menjarun (acicular) 2. Menyerat (fibrous)
3. Membilah
3. Membulat (pisolitic)
4. Memapan (banded)
4. Menjari (dendritik)
5. Memika (micaceous)
5. Pejal (masive)
6. Meniang (lacocular)
7. Membutir, dll 6. dll

Pejal, Merambut (fibrous), Riebeckite


Stibarsen

sifat fisis mineral - 42


Menjarum (acicular), Milerite
Menyebar (radial), Atacamite
Menjari (dendritik), psilomelange

Memika (micaceous), Muscovite

Membutir, Tenorite Vesuvianite


Meniang (lacocular), Natrolite

sifat fisis mineral - 43