Anda di halaman 1dari 28

Kejang demam

DISUSUN OLEH KENNY


ALFREDO
Definisi

 Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu mencapai >38°C). kejang demam dapat terjadi karena proses
intracranial maupun ekstrakranial. Kejang demam terjadi pada 2-4% populasi
anak berumur 6 bulan sampai dengan 5 tahun (Amid dan Hardhi, NANDA NIC-
NOC, 2013).
 Kejang demam merupakan gangguan transien pada anak yang terjadi
bersamaan dengan demam. Keadaan ini merupakan salah satu gangguan
neurologik yang paling sering dijumpai pada anak-anak dan menyerang sekitar
4% anak. Kebanyakan serangan kejang terjadi setelah usia 6 bulan dan
biasanya sebelum usia 3 tahun dengan peningkatan frekuensi serangan pada
anak-anak yang berusia kurang dari 18 bulan. Kejang demam jarang terjadi
setelah usia 5 tahun. (Dona L.Wong, 2008)
Kejang demam adalah serangan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu
tubuh suhu rektal di atas 38°C. (Riyadi dan Sujono, 2009)
 Dari pengertian diatas bisa dapat disimpulkan bahwa kejang demam adalah
keadaan dimana kenaikan suhu tubuh mencapai 38°C ke atas.
Anatomi dan Fisiologi
1. Cerebrum (otak besar)
Merupakan bagian terbesar yang mengisi daerah anterior dan superior rongga tengkorak di mana cerebrum ini mengisi cavum cranialis
anterior dan cavum cranialis media.
Cerebrum terdiri dari dua lapisan yaitu : Corteks cerebri dan medulla cerebri. Fungsi dari cerebrum ialah pusat motorik, pusat bicara, pusat
sensorik, pusat pendengaran / auditorik, pusat penglihatan / visual, pusat pengecap dan pembau serta pusat pemikiran.
Sebagian kecil substansia gressia masuk ke dalam daerah substansia alba sehingga tidak berada di corteks cerebri lagi tepi sudah berada
di dalam daerah medulla cerebri. Pada setiap hemisfer cerebri inilah yang disebut sebagai ganglia basalis.
Yang termasuk pada ganglia basalis ini adalah :
a) Thalamus
Menerima semua impuls sensorik dari seluruh tubuh, kecuali impuls pembau yang langsung sampai ke kortex cerebri. Fungsi thalamus
terutama penting untuk integrasi semua impuls sensorik. Thalamus juga merupakan pusat panas dan rasa nyeri.
b) Hypothalamus
Terletak di inferior thalamus, di dasar ventrikel III hypothalamus terdiri dari beberapa nukleus yang masing-masing mempunyai kegiatan
fisiologi yang berbeda. Hypothalamus merupakan daerah penting untuk mengatur fungsi alat demam seperti mengatur metabolisme, alat
genital, tidur dan bangun, suhu tubuh, rasa lapar dan haus, saraf otonom dan sebagainya. Bila terjadi gangguan pada tubuh, maka akan
terjadi perubahan-perubahan. Seperti pada kasus kejang demam, hypothalamus berperan penting dalam proses tersebut karena
fungsinya yang mengatur keseimbangan suhu tubuh terganggu akibat adanya proses-proses patologik ekstrakranium.
c) Formation Reticularis
Terletak di inferior dari hypothalamus sampai daerah batang otak (superior dan pons varoli) ia berperan untuk mempengaruhi aktifitas
cortex cerebri di mana pada daerah formatio reticularis ini terjadi stimulasi / rangsangan dan penekanan impuls yang akan dikirim ke
cortex cerebri.
2. Serebellum
Merupakan bagian terbesar dari otak belakang yang menempati fossa cranial posterior. Terletak di superior dan inferior dari cerebrum yang berfungsi sebagai pusat koordinasi
kontraksi otot rangka.
System saraf tepi (nervus cranialis) adalah saraf yang langsung keluar dari otak atau batang otak dan mensarafi organ tertentu.
Nervus cranialis ada 12 pasang :
 N. I : Nervus Olfaktorius
 N. II : Nervus Optikus
 N. III : Nervus Okulamotorius
 N. IV : Nervus Troklearis
 N. V : Nervus Trigeminus
 N. VI : Nervus Abducen
 N. VII : Nervus Fasialis
 N. VIII : Nervus Akustikus
 N. IX : Nervus Glossofaringeus
 N. X : Nervus Vagus
 N. XI : Nervus Accesorius
 N. XII : Nervus Hipoglosus.

System saraf otonom ini tergantung dari system sistema saraf pusat dan system saraf otonom dihubungkan dengan urat-urat saraf aferent dan efferent. Menurut fungsinya
system saraf otonom ada 2 di mana keduanya mempunyai serat pre dan post ganglionik yaitu system simpatis dan parasimpatis.
Yang termasuk dalam system saraf simpatis adalah :
 Pusat saraf di medulla servikalis, torakalis, lumbal dan seterusnya
 Ganglion simpatis dan serabut-serabutnya yang disebut trunkus symphatis
 Pleksus pre vertebral : Post ganglionik yg dicabangkan dari ganglion kolateral.

System saraf parasimpatis ada 2 bagian yaitu :


 Serabut saraf yang dicabangkan dari otak atau batang otak
 Serabut saraf yang dicabangkan dari medulla spinalis
KLASIFIKASI

2. Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi )


a. Kejang absens
Gangguan kewaspadaan dan responsivitas
Ditandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung kurang dari 15 detik
Awitan dan akhiran cepat, setelah itu kempali waspada dan konsentrasi penuh
b. Kejang mioklonik
Kedutan – kedutan involunter pada otot atau sekelompok otot yang terjadi secara mendadak.
Sering terlihat pada orang sehat selaam tidur tetapi bila patologik berupa kedutan keduatn sinkron dari bahu, leher, lengan atas dan kaki.
Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik dan terjadi dalam kelompok
Kehilangan kesadaran hanya sesaat.
c. Kejang tonik klonik
Diawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik, kaku umum pada otot ekstremitas, batang tubuh dan wajah yang berlangsung kurang dari 1 menit
Dapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemih
Saat tonik diikuti klonik pada ekstrenitas atas dan bawah.
Letargi, konvulsi, dan tidur dalam fase postictal
d. Kejang atonik
Hilngnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak mata turun, kepala menunduk,atau jatuh ke tanah.
Singkat dan terjadi tanpa peringatan.
Etiologi

Hingga kini belum diketahui dengan pasti. Semua jenis infeksi yang bersumber di luar susunan saraf
pusat yang menimbulkan demam dapat menyebabkan kejang demam.

Demam sering disebabkan Infeksi saluran pernafasan atas, Otitis media, Pneumonia, Gastroenteritis
dan Infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang-kadang demam
yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang.

1) Intrakranial
Asfiksia : Ensefolopati hipoksik – iskemik
Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid, subdural, atau intra ventrikular
Infeksi : Bakteri, virus, parasit
Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri, sindrom zelluarge, Sindrom Smith – Lemli – Opitz.
2) Ekstra kranial
Gangguan metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia, hipomognesemia, gangguan elektrolit (Na dan K)
Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat.
Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam amino, ketergantungan dan kekurangan
produksi kernikterus.
3) Idiopatik
Kejang neonatus fanciliel benigna, kejang hari ke-5 (the fifth day fits)
Patofisiologi

Pada keadaan demam, kenaikan suhu 10C akan menyebabkan kenaikan


metabolisme basal (jumlah minimal energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan
fungsi vital tubuh) sebanyak 10-15% dan kebutuhan oksigen meningkat 20%. Pada anak
balita aliran darah ke otak mencapai 65% dari aliran darah ke seluruh tubuh, sedangkan
pada orang dewasa aliran darah ke otak hanya 15%. Jadi, pada balita dengan
kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel
neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun natrium
melalui membran sel neuron tadi, sehingga mengakibatkan terjadinya pelepasan
muatan listrik. Besarnya muatan listrik yang terlepas sehingga dapat meluas/menyebar
ke seluruh sel maupun ke membran sel lainnya dengan bantuan bahan yang disebut
neurotransmitter. Akibatnya terjadi kekakuan otot sehingga terjadi kejang.
Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi
rendahnya ambang kejang seorang anak. Ada anak yang ambang kejangnya rendah,
kejang telah terjadi pada suhu 380C, sedangkan pada anak dengan ambang kejang
tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 400C.
Basal Metabolic Rate ( BMR ) adalah kebutuhan kalori minimum yang dibutuhkan
seseorang hanya untuk sekedar mempertahankan hidup, dengan asumsi bahwa orang
tersebut dalam keadaan istirahat total, tidak melakukan aktivitas sedikitpun.
Lanjutan
Faktor – factor yang mempengaruhi tingkat metabolisme basal seseorang :
1. Genetik, sebagian orang dilahirkan dengan tingkat metabolisme basal (BMR) tinggi , dan sebagian
lagi BMR lebih rendah.
2. Gender, laki – laki cenderung memiliki massa otot lebih besar daripada perempuan, sehingga BMR
laki – laki lebih besar dari pada perempuan.
3. Usia, BMR cendererung berkurang seiring dengan bertambahnya usia. BMR seseorang dapat
turun sekitar 2% per dekade.
4. Berat tubuh, semakin berat massa tubuh seseorang , BMRnya akan lebih tinggi.
5. Body surface area atau Luas permukaan tubuh, ini berkaitan dengan tinggi dan berat seseorang.
Sehingga orang yang lebih tinggi dan besar cenderung memiliki BMR yang lebih tinggi.
6. Pola makan, dalam keadaan lapar BMR seseorang bisa turun hingga 30%
7. Suhu tubuh, setiap kenaikan suhu tubuh 0.5 °C, BMR bisa meningkat hingga 7%
8. Suhu Lingkungan, suhu lingkungan juga berpengaruh pada tingkat BMR seseorang. Ini berkaitan
dengan upaya penstabilan suhu tubuh. Semakin rendah suhu lingkungan, BMR akan cenderung lebih tinggi.
9. Hormon, hormon yang mempengaruhi tingkat BMR adalah hormon tiroksin. Hormon tiroksin sebagai
regulator BMR, yang mengatur kecepatan metabolisme tubuh. Semakin banyak homon tiroksin yang
disekresikan, maka akan semakin tinggi BMRnya.
Tanda dan Gejala
Serangan kejang biasanya terjadi 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat
bangkitan kejang dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti
sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun sejenak tapi setelah beberapa detik atau
menit anak akan sadar tanpa ada kelainan saraf.
Disub bagian Anak FKUI RSCM Jakarta, kriteria Livingstone dipakai sebagai pedoman membuat diagnosis
kejang demam sederhana, yaitu :
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun
2. Kejang berlangsung tidak lebih dari 15 menit
3. Kejang bersifat umum
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertamam setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya satu minggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan
7. Frekuensi kejang bangkitan dalam satu tahun tidak melebihi empat kali
Lanjutan

1. Kejang parsial ( fokal, lokal )


a. Kejang parsial sederhana :
Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal berikut ini :
Tanda – tanda motoris, kedutan pada wajah, atau salah satu sisi tubuh;
umumnya gerakan setipa kejang sama.
Tanda atau gejala otonomik: muntah, berkeringat, muka merah, dilatasi pupil.
Gejala somatosensoris atau sensoris khusus : mendengar musik, merasa seakan
ajtuh dari udara, parestesia.
Gejala psikis : dejavu, rasa takut, visi panoramik.
b. Kejang parsial kompleks
Terdapat gangguankesadaran, walaupun pada awalnya sebagai kejang parsial
simpleks
Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik : mengecap – ngecapkan
bibir,mengunyah, gerakan menongkel yang berulang – ulang pada tangan dan
gerakan tangan lainnya.
Dapat tanpa otomatisme : tatapan terpaku
Lanjutan

 2. Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi )


a. Kejang absens
Gangguan kewaspadaan dan responsivitas
Ditandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung kurang dari 15 detik
Awitan dan akhiran cepat, setelah itu kempali waspada dan konsentrasi penuh
 b. Kejang mioklonik
Kedutan – kedutan involunter pada otot atau sekelompok otot yang terjadi secara mendadak.
Sering terlihat pada orang sehat selaam tidur tetapi bila patologik berupa kedutan keduatn
sinkron dari bahu, leher, lengan atas dan kaki.
Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik dan terjadi dalam kelompok
Kehilangan kesadaran hanya sesaat.
 c. Kejang tonik klonik
Diawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik, kaku umum pada otot ekstremitas,
batang tubuh dan wajah yang berlangsung kurang dari 1 menit
Dapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemih
Saat tonik diikuti klonik pada ekstrenitas atas dan bawah.
Letargi, konvulsi, dan tidur dalam fase postictal
 d. Kejang atonik
Hilngnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak mata turun, kepala
menunduk,atau jatuh ke tanah.
Singkat dan terjadi tanpa peringatan.
Komplikasi

Menurut Lumbantobing ( 1995: 31) Dan Staff Pengajar Ilmu


Kesehatan Anak FKUI (1985: 849-850).
Komplikasi kejang demam umumnya berlangsung lebih dari 15 menit
yaitu :
1. Kerusakan otak
Terjadi melalui mekanisme eksitotoksik neuron saraf yang aktif sewaktu
kejang melepaskan glutamat yang mengikat resptor MMDA ( M Metyl
D Asparate ) yang mengakibatkan ion kalsium dapat masuk ke sel
otak yang merusak sel neuoran secara irreversible.
2. Retardasi mental
Dapat terjadi karena deficit neurolgis pada demam neonatus.
Pemeriksaan Penunjang

1.Laboratorium
2.Pungsi Lumbal
3.Elektroensefalografi
4.Neuroimaging
Penatalaksanaan
1. Memberantas kejang Secepat mungkin
Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih dalam keadaan kejang, ditunggu
selama 15 menit, bila masih terdapat kejang diulangi suntikan kedua dengan dosis yang
sama juga secara intravena. Setelah 15 menit suntikan ke 2 masih kejang diberikan suntikan
ke 3 dengan dosis yang sama tetapi melalui intramuskuler, diharapkan kejang akan
berhenti. Bila belum juga berhenti dapat diberikan fenobarbital atau paraldehid 4 % secara
intravena.
2. Pengobatan penunjang
Sebelum memberantas kejang tidak boleh Dilupakan perlunya pengobatan penunjang
Semua pakaian ketat dibuka
Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung
Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen, bila perlu
dilakukan intubasi atau trakeostomi.
Penghisapan lendir harus dilakukan secara tertur dan diberikan oksigen.
 3. Pengobatan rumat
Profilaksis intermiten
Untuk mencegah kejang berulang, diberikan obat campuran anti konvulsan dan
antipietika. Profilaksis ini diberikan sampai kemungkinan sangat kecil anak mendapat
kejang demam sederhana yaitu kira – kira sampai anak umur 4 tahun.
Profilaksis jangka panjang
Diberikan pada keadaan
Epilepsi yang diprovokasi oleh demam
Kejang demam yang mempunyai ciri :
– Terdapat gangguan perkembangan saraf seperti serebral palsi, retardasi
perkembangan dan mikrosefali
– Bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit, bersifat fokal atau diikiuti kelainan saraf
yang sementara atau menetap
– Riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik
– Kejang demam pada bayi berumur dibawah usia 1 bulan
4. Mencari dan mengobati penyebab
Pathway
Asuhan Keperawatan
Pengkajian :
 Data subyektif

a) Biodata/Identitas

1) Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang ditanyakan


2) Apakah disertai demam ?
3) Lama serangan
4) Pola serangan
5) Frekuensi serangan
6) Keadaan sebelum, selama dan sesudah serangan
7) Riwayat penyakit sekarang yang menyertai
8) Riwayat penyakit dahulu
9) Riwayat kehamilan dan persalinan
10) Riwayat imunisasi
11) Riwayat perkembangan
12) Riwayat kesehatan keluarga
13) Riwayat social
14) Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan
15) Pola nutrisi
16) Pola eliminasi
17) Pola aktivitas dan latihan
18) Pola tidur/istirahat
Pengkajian
 Data Obyektif
 Pemeriksaan Umum
Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat kesadaran, tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu. Pada kejang demam
sederhana akan didapatkan suhu tinggi sedangkan kesadaran setelah kejang akan kembali normal seperti sebelum kejang tanpa
kelainan neurologi.

 Pemeriksaan Fisik

 Kepala
Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali? Adakah dispersi bentuk kepala? Apakah tanda-tanda kenaikan tekanan intrakarnial, yaitu ubun-ubun
besar cembung, bagaimana keadaan ubun-ubun besar menutup atau belum ?

Rambut
Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik lain rambut. Pasien dengan malnutrisi energi protein mempunyai rambut yang jarang, kemerahan
seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menyebabkan rasa sakit pada pasien.

Muka/ wajah
Paralisis fasialis menyebabkan asimetri wajah; sisi yang paresis tertinggal bila anak menangis atau tertawa, sehingga wajah tertarik ke sisi sehat. Adakah
tanda rhisus sardonicus, opistotonus, trimus ? Apakah ada gangguan nervus cranial ?

Mata
Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil dan ketajaman penglihatan. Apakah keadaan sklera, konjungtiva ?

Telinga
Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya infeksi seperti pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga, keluar cairan dari
telinga, berkurangnya pendengaran.

Hidung
Apakah ada pernapasan cuping hidung? Polip yang menyumbat jalan napas? Apakah keluar sekret, bagaimana konsistensinya, jumlahnya ?
 Mulut
Adakah tanda-tanda sardonicus? Adakah cynosis? Bagaimana keadaan lidah? Adakah stomatitis? Berapa jumlah gigi yang tumbuh?
Apakah ada caries gigi?

 Tenggorokan
Adakah tanda-tanda peradangan tonsil ? Adakah tanda-tanda infeksi faring, cairan eksudat ?

 Leher
Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar tiroid ? Adakah pembesaran vena jugulans ?

 Thorax
Pada infeksi, amati bentuk dada klien, bagaimana gerak pernapasan, frekwensinya, irama, kedalaman, adakah retraksi intercostale?
Pada auskultasi, adakah suara napas tambahan ?

 Jantung
Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya ? Adakah bunyi tambahan ? Adakah bradicardi atau tachycardia ?

 Abdomen
Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen ? Bagaimana turgor kulit dan peristaltik usus ? Adakah tanda
meteorismus? Adakah pembesaran lien dan hepar ?

 Kulit
Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya? Apakah terdapat oedema, hemangioma ? Bagaimana keadaan
turgor kulit ?

 Ekstremitas
Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah terjadi kejang? Bagaimana suhunya pada daerah akral ?

 Genetalia
Adakah kelainan bentuk oedema, sekret yang keluar dari vagina, tanda-tanda infeksi ?
Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan patofisiologi penyakit, dan manifestasi klinik yang muncul maka diagnosa
keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan kejang demam menurut Riyadi &
Sukarmin (2013) adalah:
1) Risiko tinggi obstruksi jalan nafas berhubungan dengan penutupan faring oleh lidah,
spasme otot bronkus.
2) Risiko gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan oksigen darah.
3) Hipertermi berhubungan dengan infeksi kelenjar tonsil, telinga, bronkus atau pada
tempat lain.
4) Risiko gangguan pertumbuhan (berat badan rendah) berhubungan dengan
penurunan asupan nutrisi.
5) Risiko gangguan perkembangan (kepercayaan diri) berhubungan dengan
peningkatan frekwensi kekambuhan.
6) Risiko cidera (terjatuh, terkena benda tajam) berhubungan dengan penurunan respon
terhadap lingkungan.
Intervensi Askep
A. Risiko tinggi obstruksi jalan nafas berhubungan dengan penutupan faring oleh lidah, spasme otot
bronkus.
Hasil yang di harapkan: Frekwensi pernapasan meningkat 28-35 x/menit, irama pernafasan regular dan tidak
cepat, anak tidak terlihat terengah-engah.

Rencana tindakan:
1. Monitor jalan nafas, frekwensi pernafasan, irama pernafasan tiap 15 menit saat penurunan kesadaran.
Rasional: frekwensi pernapasan yang meningkat tinggi dengan irama yang cepat sebagai salah satu indikasi
sumbatan jallan nafas oleh benda asing, contohnya lidah.
2. Tempatkan anak pada posisi semifowler dengan kepala ekstensi.
Rasional: posisi semifowler akan menurunkan tahanan intra abdominal terhadap paru-paru. Hiperekstensi
membuat jalan nafas dalam posisi lurus dan bebas dari hambatan.
3. Pasang tongspatel saat timbul serangan kejang.
Rasional: mencegah lidah tertekuk yang dapat menutupi jalan nafas.
4. Bebaskan anak dari pakaian yang ketat
Rasional: mengurangi tekanan terhadap rongga thorax sehingga terjadi keterbatasan pengembangan paru.
5. Kolaborasi pemberian anti kejang (diazepam dengan dosis rata-rata 0,3 Mg/KgBB/kali pemberian.
Rasional: diazepam bekerja menurunkan tingkat fase depolarisasi yang cepat di sistem persyarafan pusat
sehingga dapat terjadi penurunan pada spasma otot dan persyarafan perifer.
B. Risiko gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan oksigen darah.
Hasil yang di harapkan: jaringan perifer (kulit) terlihat merah dan segar, akral teraba hangat.

Rencana tindakan:
1. Kaji tingkat pengisian kapiler perifer.
Rasional: kapiler kecil mempunyai volume darah yang relatif kecil dan cukup sensitif sebagai tanda
terhadap penurunan oksigen darah.
2. Pemberian oksigen dengan memakai masker atau nasal bicanul dengan dosis rata-rata 3
liter/menit.
Rasional: oksigen tabung mempunyai tekanan yang lebih tinggi dari oksigen lingkungan sehingga
mudah masuk ke paru-paru. Pemberian dengan masker karena mempunyai prosentase sekitar 35%
yang dapat masuk ke saluran pernafasan.
3. Hindarkan anak dari rangsangan yang berlebihan baik suara, mekanik, maupun cahaya.
Rasional: rangsangan akan meningkatkan fase eksitasi persarafan yang dapat menaikkan kebutuhan
oksigen jaringan.
4. Tempatkan pasien pada ruangan dengan sirkulasi udara yang baik (ventilasi memenuhi ¼ dari
luas ruangan).
Rasional: meningkatkan jumlah udara yang masuk dan mencegah hipoksemia jaringan.
C. Hipertermi berhubungan dengan infeksi kelenjar tonsil, telinga, bronkus atau pada tempat lain.
Hasil yang diharapkan: suhu tubuh perektal 36-37ºC, kening anak tidak teraba panas. tidak terdapat
pembengkakan, kemerahan pada tongsil atau telinga.mleukosit 5.000-11.000 mg/dl
Rencana tindakan:
1. Pantau suhu tubuh anak tiap setengah jam.
Rasional: peningkatan suhu tubuh yang melebihi 39ºC dapat beresiko terjadinya kerusakan saraf pusat karena
akan meningkatkan neurotransmiter yang dapat meningkatkan eksitasi neuron.
2. Kompres anak dengan alkohol atau air dingin.
Rasional: saat di kompres panas tubuh anak akan berpindah ke media yang digunakan untuk mengkompres
karena suhu tubuh relatif tinggi.
3. Beri pakaian anak yang tipis dari bahan yang halus seperti katun.
Rasional: pakaian yang tipis akan memudahkan perpindahan panas dari tubuh ke lingkungan. Bahan katun akan
menghindari iritasi kulit pada anak karena panas yang tinggi akan membuat kulit sensitif terhadap cidera.
4. Jaga kebutuhan cairan anak tercukupi melalui pemberian intravena.
Rasional: cairan yang cukup akan menjaga kelembapan sel, sehingga sel tubuh tidak mudah rusak akibat suhu
tubuh yang tinggi.
5. Kolaborasi pemberian antipiretik (aspirin dengan dosis 60 mg/tahun/kali pemberian), antibiotik.
Rasional: antipiretik akan mempengaruhi ambang panas pada hipotalamus. Antipiretik juga akan mempengaruhi
penurunan neurotransmiter seperti prostaglandin yang berkontribusi timbulnya nyeri saat demam.
D. Risiko gangguan pertumbuhan (berat badan rendah) berhubungan dengan penurunan asupan nutrisi.
Hasil yang di harapkan: orang tua anak menyampaikan anaknya sudah gampang makan dengan porsi makan
di habiskan setiap hari (1 porsi makan)
Rencana tindakan:
1. Kaji berat badan dan jumlah asupan kalori anak.
Rasional: berat badan adalah salah satu indikator jumlah massa sel dalam tubuh, apabila berat badan rendah
menunjukkan terjadi penurunan jumlah dan massa sel tubuh yang tidak sesuai dengan umur.
2. Ciptakan suasana yang menarik dan nyaman saat makan seperti di bawa ke ruangan yang banyak gambar
untuk anak dan sambil di ajak bermain.
Rasional: dapat membantu peningkatan respon korteks serebri terhadap selera makan sebagai dampak rasa
senang pada anak.
3. Anjurkan orangtua untuk memberikan anak makan dengan kondisi makanan hangat.
Rasional: makanan hangat akan mengurangi kekentalan sekresi mukus pada faring dan mengurangi respon mual
gaster.
4. Anjurkan orang tua memberikan makanan pada anak dengan porsi sering dan sedikit.
Rasional: mengurangi massa makanan yang banyak pada lambung yang dapat menurunkan rangsangan nafsu
makan pada otak bagian bawah.
E. Risiko gangguan perkembangan (kepercayaan diri) berhubungan dengan peningkatan frekwensi
kekambuhan.
Hasil yang di harapkan: anak terlihat aktif berinteraksi dengan orang di sekitar saat di rawat di rumah
sakit,frekwensi kekambuhan kejang demam berkisar 1-3 kali dalam setahun.
Rencana tindakan:
1. Kaji tingkat perkembangan anak terutama percaya diri dan frekwensi demam.
Rasional: fase ini bila tidak teratasi dapat terjadi krisis kepercayaan diri pada anak. Frekwensi demam
yang meningkat dapat menurunkan penampilan anak.
2. Berikan anak terapi bermain dengan teman sebaya di rumah sakit yang melibatkan banyak anak
seperti bermain lempar bola.
Rasional: meningkatkan interaksi anak terhadap teman sebaya tanpa melalui paksaan dan doktrin
dari orang tua.
3. Beri anak reward bila anak berhasil melakukan aktivitas positif misalnya melempar bola dengan
tepat, dan support anak bila belum berhasil.
Rasional: meningkatkan nilai positif yang ada pada anak dan memperbaiki kelemahan dan kemauan
yang kuat.
F. Risiko cidera (terjatuh, terkena benda tajam) berhubungan dengan penurunan respon
terhadap lingkungan.
Hasil yang di harapkan: anak tidak terluka atau jatuh saat serangan kejang.
Rencana tindakan:
1. Tempatkan anak pada tempat tidur yang lunak dan rata seperti bahan matras.
Rasional: menjaga posisi tubuh lurus yang dapat berdapak pada lurusnya jalan nafas.
2. Pasang pengaman di kedua sisi tempat tidur.
Rasional: mencegah anak terjatuh.
3. Jaga anak saat timbul serangan kejang.
Rasional: menjaga jalan nafas dan mencegah anak terjatuh.
Pendidikan Kesehatan

 Jika anak anda mengalami kejang demam, cepat bertindak untuk


mencegah luka.
 Letakkan anak anda di lantai atau tempat tidur dan jauhkan dari
benda yang keras atau tajam
 Palingkan kepala ke salah satu sisi sehingga saliva (ludah) atau
muntah dapat mengalir keluar darimulut
 Jangan menaruh apapun di mulut pasien. Anak anda tidak akan
menelan lidahnya sendiri.
 Hubungi dokter anak anda
 Tenang, ini merupakan prisip utama dalam menangani kasus2
kegawatan. Jangan memegang anak untuk melawan kejang