Anda di halaman 1dari 32

Laras Rahma. H Ulfiana Ihda.

A
(155061101111014) (155061101111030)

Indah Sakina.P Diyana Karlina. H


(155061101111032) (155061101111040)

Miftah Hifzuddin M. Maulana Ibrahim


(155061101111022) (155061101111038)
PENGERTIAN ADSORPSI

• Proses dimana molekul-molekul fluida menyentuh dan melekat pada permukaan padatan yang
kemudian terjadi proses pemisahan.
Pengertian • Fenomena fisik yang terjadi saat molekul-molekul gas atau cair dikontakan dengan suatu permukaan
adsorpsi padatan

• Adsorpsi : Suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida terikat pada suatu padatan dan membentuk film
pada permukaan padatan tersebut
Perbedaan • Absorpsi : suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida terserap oleh fluida lainnya dan membentuk
dengan absorbsi suatu larutan

• Bila gas atau uap bersentuhan dengan permukaan padatan ,maka gas atau uap akan teradsorpsi pada
permukaan padatan tersebut. Permukaan padatan disebut sebagai adsorben, sedangkan gas atau
uap yang teradsorpsi disebut ebagai adsorbat.
Adsorben dan
adsorbat • secara komersial, adsorben biasa digunakan dalam pembentukan partikel berukuran kecil pada sistem
fixed bed
Adsorpsi dibedakan menjadi 2 berdasarkan fenomena
terbentuknya, yaitu:
Adsorpsi Fisika
Adsorpsi kimia Adsorpsi ini bersifat endoterm dan reversible yang
disebabkan adanya gaya van der Waals dan gaya
Adsorpsi ini bersifat sangat eksoterm dan tidak hidostatik. Pada adsorpsi fisika, gaya tarik menarik
irreversible dimana terjadi karena adanya interaksi antara molekul fluida dengan molekul pada permukaan
antara adsorben dengan adsorbat yang membentuk padatan (Intermolekuler) lebih kecil dari gaya tarik
ikatan kimia (kovalen / ionik) dan menghasilkan menarik antar molekul fluida, sehingga gaya tarik
lapisan monomolekuler adsorbat. menarik antara adsorbat dengan permukaan adsorben
relatif lemah. pada adsorpsi fisika, adsorbat tidak terikat
kuat dengan permukaan adsorben sehingga adsorbat
dapat bergerak dari suatu bagian permukaan ke
permukaan lainnya
Tahapan Adsorpsi

1
Cairan mengalir melewati partikel di fixed bed, kemudian zat terlarut berdifusi dari cairan bulk ke
permukaan luar partikel.

zat terlarut berdifusi dari dalam pori-pori ke permukaan pori-pori

Zat terlarut diadsorpsi pada permukaan pori


Karakteristik adsorben:
1. Memiliki permukaan yang besar
sehingga kapasitas adsorpsinya akan
semakin besar pula
2. Ketahanan struktur fisik yang tinggi
Composite 3. Mudah diperoleh, harga tidak
mahal, tidak korosif, tidak beracun,
adsorben dan mudah diregenarasi
Adsorben 4. Tidak ada perubahan volume yang
kimia berarti selama proses adsorpsi
Adsorben yang 5. Berbentuk small pellet, beads,dan
mengadsorbsi secara
fisik dan kimia
granular dengan ukuran 0,1 mm –
Adsorben Calcium cholide, metal 12 mm
hydride dan complex salts
fisik 6. Memiliki struktur pori yang banyak
dan kecil
Karbon aktif, silica gel, zeolite,
alumina
Macam – Macam Adsorben Fisik
Silika Gel
• Dibuat dengan treatment asam dari larutan sodium silicat yang kemudian dikeringkan
• Temperatur operasi maksimal 200 C
• Memiliki luas permukaan 600 – 800m²/gram dan memiliki diamter pori rata-rata 20 - 50Å
• Utamanya digunakan untuk dehidrasi gas dan liquid serta fraksionasi hidrokarbon

Karbon Aktif
• Dapat dibuat dari batu bara, kayu, atau tempurung kelapa melalui proses pirolisis atau dekomposisi
termal
• Hampir semua adsorbat diserap oleh karbon aktif kecuali air
• Merupakan adsorben terbaik dalam sistem adsorpsi, karena memiliki luas permukaan yang besar
dan daya adsorpsi yang tinggi
• Luas permukaan karbon aktif umumnya berkisar antara 300 – 3000 m²/gram
• Umumnya pada industri digunakan untuk pemucatan warna pada limbah pabrik gula,
penghilangan kontaminan sulfur, fenol, dan hidrokarbon dari limbah cair
• Adsorpsi zat cair dengan karbon aktif digunakan untuk menghilangkan bau, rasa, dan warna pada
air
• Memiliki diameter rata-rata 10 - 60Å
• Merupakan karbon yang telah diaktivasi sehingga terjadi pengembangan struktur pori yang
bergantung pada metode aktivasi yang digunakan
zeolit
•zeolit adalah kristal alluminosilicates berpori yang membentuk kisi kristal terbuka dan
mengandung pori-pori yang seragam
•Zeolit dikembangkan menjadi beberapa jenis, yaitu 4A, 5A, 10X dan 13X
•Ukuran rata – rata pori zeolit 3 - 10Å
•Digunakan untuk pengeringan, pemisahan hidrokarbon atau campuran
•Memiliki volume rongga antara 0,05 – 0,3 cmᶟ/gram

Alumina teraktivasi
• Terbuat aluminium oksida terhidrasi yang diaktivasi dengan pemanasan untuk
menghilangkan air
• Umumnya digunakan untuk mengeringkan gas dan liquid
• Memiliki luas permukaan 200 – 500m²/gram dan diameter pori rata-rata 20 - 140Å

Polimer Sintetik (Resin)


• Dibuat dengan polimerisasi dari 2 tipe utama monomer
• Dapat dibuat dari aromatik seperti stiren dan difinilbenzen yang umumnya
digunakan untuk mengadsorpsi senyawa organik non polar dari larutan cair
• Untuk yang dibuat dari akrilik ester digunakan untuk mengadsorpsi zat terlarut yang
lebih polar pada larutan cair
EQUILIBRIUM RELATIONS FOR ADSORBENTS
Garis linier diekspresikan
PERSAMAAN
PERSAMAAN
FREUNDLICH
LANGMUIR
ISOTHERM
ISOTHERM
dalam
(persamaan PERSAMAAN
empiris yang HUKUM
biasanya
q=qo c/(K+c) (12.1-3)
HENDRY
pendekatan
qo merupakan : data digunakan
konstanta (Kg untuk
q=Kcadsorpsi
sistem
adsorbate/kg secara
solid) dan Kfisik (12.1-
dan
merupakan
biasanya (kg/m^3).
konstanta digunakan1) untuk cairan
dan
ASUMSI juga
K=konstanta: digunakan untuk gas
(m3/kg
1.hanya terdapat
hidrokarbon pada sejumlah
karbonsisiaktif)
aktif
adsorben)
yang tetap untuk proses (12.1-2)
q=Kc^n adsorpsi
Garis
2.hanya
K dan n initerbentuk
tidak konstanta.
adalah umum
monolayer
3.adsorpsi
digunakan berlangsung
akan secara bolak
Jika melakukan plot tetapi
log q pada
balik dan akan mencapai kondisi
daerah
terhadap
setimbang dilute dapat
loq c maka slope yang
dihasikan
digunakan
Dengan adalah
plot untuk
1/q eksponen 1/c n
pendekatan
terhadap yang
maka
Data kesetimbangan diplot sebagai isothermis
tidak
slope berdimensi. Dimensi K K/qo
adsopsi, dengan q merupakan konsentrasi solid datayang untuk dihasilkan
semua adalah
sistem
(kg adsorbate/ kg adsorbent) dan c adalah bergantung pada nilai
dan intersep adalah 1/qon.
solut dalam fluida (kg adsorbate/m^3)
adsorpsi
LANGKAH 1 : Plot Data 1/q terhadap 1/c
25
1/c 1/q
20
3,10559 6,666667
15
8,547009 8,196721

1/q
10
25,64103 10,6383
5
163,9344 16,94915
0
909,0909 22,22222 0 200 400 600 800 1000
1/c
Plotting data 1/q terhadap 1/c menghasilkan garis yang tidak lurus
sehingga tidak dapat mengikuti persamaan langmuir (12.1-3)

LANGKAH 2 : Plot Data log q terhadap log c


0 Pada plot dihasilkan nilai slope
log c log q -4 -3 -2 -1 sebesar 0,2184. karena slope
-0.2 0
-0,49214 -0,82391 -0.4 adalah n maka nilai n adalah
-0,93181 -0,91364 -0.6 0,2184. sedangkan nilai K
y = 0,2184x - 0,7183
-1,40894 -1,02687 log q
R² = 0,9941 -0.8 didapatkan dari hasil
-2,21467 -1,22915 -1 perhitungan dengan persamaan
-2,95861 -1,34679 -1.2 :
-1.4 Q=Kc^n
log c
-1.6 didapatkan nilai K sebesar
0,192121
Plotting data log q terhadap log c menghasilkan garis yang lurus sehingga Sehingga persamaan menjadi :
data equilibrium dapat mengikuti persamaan freundlich (12.1-2). Q = 0,192121 c^0,2184
Batch Adsorbtion

Digunakan dalam proses adsorbsi solut


dari liquid

Digunakan untuk kuantitas yang sedikit

Diperlukan equibrilium realtion


(Freundlich/Langmuir isotherms)

Biasanya digunakan untuk industri


farmasi
Batch Adsorbtion

Persamaan neraca massa

Diamana :
qF = initial concentration of the solute
adsobed on the solid
Q = final equilibrium value
cF = initial feed concentration
c = final equilibrium concentration
M = amount of adsorbent (kg)
S = volume of feed solution (m3)
Hasil plotting q vs c
menghasilkan grafik linear

Plotting equilibrium
isotherm pada grafik yang
sama

Perpotongan 2 grafik
menghasilkan final
equilibrium values of q and c

Equilibrium data (Table 12.1-


1)
Subsitusi kepersamaan

Sehingga,
0 (1,4) + 0,21 (1) = q (1,4) + c (1)
0 + 0,21 = 1,4q + c
C = 0,21 – 14q
Plot grafik dari persamaan garis lurus dan isoterm sehingga perpotongan dari kedua
garis tersebut menghasilkan nilai q dan c
Q = 0,106 kg phenol/kg carbon
C = 0,062 kg phenol/m3

Persen feenol yang terextract:


% extracted = {(cF – c)/ cF}100
= {(0,21 – 0,062)/0,21}100 = 70,5
CONCENTRATION PROFILES FOR ADSORPTION IN A FIXED BED
Start time Konsentrasi fluida berkesetimbahan dengan konsentrasi solid

Fluid concentration

Feed concentration

Asumsi:
Pada inlet bed, solid tidak mengandung solute
Sebagian besar transfer massa dan adsorpsi terjadi pada saat fluida pertama kali berkontak pada inlet bed
Saat fluida melewati bed, konsentrasinya menurun dengan cepat seiiring dengan bertambahnya jarak
tempuh sebelum mencapai akhir bed
Mendekati nilai 1 atau Co
0.01-0.05 Cb/Co

Tower outlet time

Breakthrough curve merupakan kurva yang menggambarkan


suatu rentang kondisi terjadinya peningkatan drastis jumlah
adsorbat yang teradsorpsi oleh adsorben, sebelum proses
adsorpsi mendekati kesetimbangan adsorpsi
Capacity of column and Scale-up design method

Lebar dari daerah transfer massa tergantung pada rate transfer massa, flowrate dan bentuk
kurva kesetimbangan. Adsorber biasanya discale-up dari tes laboratorium dengan diameter
bed yang kecil dan unit yang besar didesain untuk ukuran partikel dan kecepatan superficial
yang sama.

Ketika melakukan scaling-up pada adsorber parameter utama yang harus diperhatikan adalah
panjang dari bed. Dimana panjang total dari bed akan dibagi menjadi “required lenght” dan
“unused bed” hal ini dapat dilakukan dengan metode breakthrough curve
Saat t1 dan t2, nilai C/Co = 0
Saat tb, nilai C/Co = 0,05-0,1 (Cb)
Saat td, nilai C/Co = mendekati nilai 1 (Cd)
Daerah antara kurva dan garis c/c0 = 1 adalah sebanding dengan total solut yang teradsorbsi jika seluruh bed setimbang dengan feed. Jumlah yang
teradsorbsi sebanding dengan daerah yang terarsir di sebelah kiri garis putus-putus pada tb, dapat dikatakan sebagai waktu adsorbsi ideal untuk kurva
breakthrough vertikal.

Waktu yang dibutuhkan agar bed menjadi benar-benar jenuh diperoleh dengan meintrgalkan seiring berjalannya waktu hingga tak terhingga

Waktu total solute yang terserap :

Untuk menghitung waktu di mana konsentrasi efluen mencapai tingkat maksimum yang diperbolehkan atau Waktu total solute yang terserap sampai
breakpoint :
Dimana nillai tu ini akan mendekati nilai tb

Rasio nilai tu/tt adalah fraksi dari total kapasitas bed atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapi break point. Kemudian untuk scale up sendiri, yang
perlu dihitung adalah nilai “Hused atau Hb” dan “Hunused atau Hunb”. Dan Ht merupakan total lenght
Penyelesaian
Diketahui :
Penyelesaian
Diamter kolom : 4 cm
Ditanya :
Panjang total kolom : 14 cm
A. (Break-point time) fraction of total capacity used up to the
Massa : 79,2 gram karbon
break point (tu/tt) and lenght of unused bed (Hunb)
Konsentrasi gas inlet (Co) : 600 ppm
Densitas gas : 0,00115 g/cm^3
B. Jika tb 6,0 h, berapa nilai Ht yang baru
Flow rate gas : 754 Cm^3/s
Break point at C/Co : 0,01

Jawab
1) Melakukan plot grafik sumbu xnya adalah time (h) dan sumbu ynya adalah nilai C/Co dari tabel 12.3-1.
2) Untuk mencari nilai tb, dapat dengan memplotkan pada grafik atau dengan cara interpolasi dari dua data yang diketahui
3) Menentukan nilai td, dimana niali td ini merupakan nilai saat C/Co mendekati 1, jadi nilai td dianggap sekitar 6,95 h

0,03−0,01 4−𝑥
= 4−3,5
0,03−0,002

Maka nilai x : 3,642


Atau ketika diplotkan grafik nilai tb : 3,65
4) Mencari nilai tt, dimana nilai tt ini dicari dengan cara menentukan luas dengan metode integral

5) Mencari nilai tu, dimana nilai tdu ini juga dicari dengan menentukan luas dengan metode integral
6) Mencari nilai fraction of total capacity used up to the break point ( tu/tt)
𝟑,𝟔𝟓
tu/tt = 𝟓,𝟏𝟔 = 0,707

7) Mencari nilai lenght of used bed (Hb)

Hb = 0,707 x 14 = 9,9 cm
8) Mencari nilai lenght of unused bed (Hunb)

For part B
Untuk nilai tb = 6
1) Mencari nilai Hb yang baru dengan cara mengalikann nilai Hb yang lama dengan rasio break point ttime

𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊 𝒕𝒃 𝒃𝒂𝒓𝒖
Hb (New) = 𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊 𝒕𝒃 𝒍𝒂𝒎𝒂 × 𝐍𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐇𝐛 𝐥𝐚𝐦𝐚

2) Mencari nilai Ht
Saturation capacity of carbon

Pada perbesaran skala dimungkinkan tidak hanya mengubah Tipe dari sistem gas adsorbsi menggunakan fixed bed yang tinggi 0,3
berat kolom, tetapi juga masuknya cairan yang sebenarnya bisa m-1,5 m, adalah :
saja berbeda dari yang digunakan dalam percobaan pada unit • Untuk gas, laju alir superficianya : 15-50 Cm/s
laboratorium, karna laju alir harus konstan untuk perbesaran • Ukuran partikael absorbent : 4-50 mesh
skala, diameter dari bed disesuaikan untuk menjaganya agar • Perbedaan tekanan kecil dan hanya beberapa inci air/ft per bed.
tetap konstan. • Waktu adsorbsi : 5- 8 jam
• Untuk cairan laju alir superficial : 0,3- 0,7 cm/s
Adsorbsi dalam fixed bed merupakan metode yang paling penting yang digunakan untuk
proses ini. Sebuah fixed atau packed bed terdiri dari pipa silinder vertikal yang diisi atau
packed oleh partikel adsorban

Pada bagian ini, persamaan dasar digunakan untuk menjelaskan adsorbsi isotermal
sehingga dasar-dasar yang berhubungan / berkaitan dengan proses ini dapat lebih mudah
dimengerti.

ε = Friksi void eksternal dari bed


Material balance dari suatu larutan unsteady state dalam fluida, dimana bagian dz adalah panjang dari bed.
V= Kecepatan superficial pada
bed
yang kosong (m/s)

Ρp = Densitas dari partikel


(kg/m )

E= Koefisien dispersi aksial (m


/s)
Pressure-Swing Cycle
Temperature-swing
Regenerasi adsorben
Regenerasi adsorben
menggunakan perbedaan
menggunakan panas
tekanan

Processing
Variables &
Adsorption
Cycles

Displacement-purge cycle Inert-purge gas stripping


Memberi senyawa lain Memberi gas
(Pesaing) tekanan partial inerttekanan partial
turunregenerasi turunregenerasi
Tipe 1. Fixed or stationary bed
Sistem 2. Moving bed
adsorpsi
3. Fluidized bed
Fixed or stationary bed

Terdiri dari satu atau dua adsorbent Kedalaman bed 12


(1=on stream adsorbing, 2=regeneration).

Dual adsorber system dapat dioperasikan


36 inchi
secara simultan
moving bed

Continuous regeneration

Waktu regenerasi untuk


setiap segmen bed pendek
sehingga tidak memerlukan
bed yang panjang

Compac system dan mampu


reduce pressure drop

Kerugian maintaining seal


pada moving parts
FLUIDIZED bed

Resirkulasi kontinyumelalui adsorption

Regeneration cycle

Velocity udarasekitar 240 fpm

Counter current movement meningkatkan


efektivita spenggunaan karbon, lebih
banyak solvent yang dapat

direcovery dibandingkan dengan stationary


atau rotary bed sistem
Reaktor adsorpsi