Anda di halaman 1dari 14

Kondisi Komunitas Karang Keras

Pasca Pemutihan Karang (Coral Bleaching)


di Amed Bali
Sumber : Pemulihan Komunitas Karang Keras Pasca Pemutihan Karang
di Amed Bali; Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI), Agustus 2015

Disuisun sebagai Tugas Mata Kuliah Kesehatan Ekosistem Perairan


Oleh : Merlyn Diana Manurung
Pendahuluan

 Pemutihan karang akibat peningkatan suhu menyebabkan rata-rata 16%


kerusakan terumbu karang di dunia pada tahun 1998. Beberapa daerah
mengalami kerusakan 50 – 90% (Wilkinson 2000).
 Berdasarkan piramida Marshall dan Schuttenberg (2006), pemutihan sering
mengakibatkan kematian karang sebagaimana spesies/genus karang
memiliki toleransi berbeda dalam merespons panas. Kemampuan karang
untuk mengadakan penyesuaian terhadap perubahan suhu dapat
bervariasi menurut spesies, genus, bentuk pertumbuhan, dan tempat
hidupnya (Brown & Suhar sono 1990; Siringoringo 2007 dalam Simarangkir
dkk.,2015).
 Nybakken (1992) menjelaskan bahwa hewan karang dapat pulih dari
kejadian pemutihan karang dengan merekrut kembali zooxanthella dari
lingkungan perairan ketika kondisi membaik, atau karang dapat mati jika
tetap terekspos kondisi ekstrim dalam jangka waktu yang cukup lama.
 Pemulihan dapat dilihat dari peningkatan tutupan karang keras sebagai
komponen utama pembentuk terumbu. Kembalinya tutupan karang
setelah gangguan merupakan salah satu ukuran pemulihan (Berumen &
Pratchet 2006; Golbuu et al. 2007).
Scope Pembahasan

1. Mengetahui metode pengumpulan data dan analisis data pemulihan


komunitas karang keras pasca kejadian pemutihan
2. Mengetahui kondisi komunitas karang keras di Amed Bali
3. Mengetahui upaya pengelolaan komunitas karang keras di Amed Bali
dalam rangka pemulihan
4. Mengetahui kondisi komunitas karang keras di Amed Bali pasca pemulihan
5. Saran/ Rekomendasi
1. Metode Pengambilan Data dan Analisis Data

 Metode Pengambilan Data

Survei -> metode point intercept transect (PIT) berdasarkan


modifikasi dari Obura dan Grimsditch (2009) mengenai protokol
pengambilan data resiliensi terumbu karang, dan disesuaikan
dengan ketersedian sumber daya yang ada.

Penelitian ini menggunakan titik variable substrat sebanyak 200


titik yang diperoleh dari pencatatan disetiap 25 cm dari 2 x 25
Data sekunder yang digunakan ialah data
m panjang transek.
pendukung yang diperoleh dari Reef Check
Foundation Indonesia (RCFI), yaitu data time
series terumbu karang (2009-2011).
Metode dan lokasi pengambilan data
primer sama dengan metode yang
digunakan oleh RCFI pada tahun 2009-2011
sehingga meminimalisir kemungkinan
terjadinya bias data.
 Analisis Data
Data yang diambil adalah persentase tutupan karang keras hidup dan
tutupan makroalga di tiap lokasi pengambilan data. Data persentase
tutupan karang keras dihitung dengan rumus English et al. (1994) :

% Tutupan substrat =
2. Kondisi Komunitas Karang Keras di Amed Bali

 Tutupan Karang Keras Hidup Tahun 2009-2013

Hasil • Persentase rata-rata tutupan karang keras hidup


• Tahun 2011 -> mengalami penurunan.
penelitian : • Tahun 2013 -> mengalami peningkatan

Penurunan persentase tutupan karang keras hidup pada


tahun 2011 diduga sebagai dampak pemutihan karang
tahun 2010.
Tahun 2011 tutupan karang mengalami
penurunan sebesar 3,67%.
Tahun 2013 meningkat sebesar 20,67%.

Penurunan persentase tutupan karang keras


hidup pada tahun 2011 karena kondisi
lingkungan perairan tidak mendukung
kehidupan dan pertumbuhan karang.

Rata-rata persentase tutupan karang keras hidup di


Amed.

2009 -> 33,67 %

2010 -> 32,00 %

2011 -> 28,33 %

2013 -> 49,00 %


 Meningkatnya suhu muka laut dengan durasi yang cukup lama, yaitu
sekitar 2 bulan mengakibatkan beberapa genus, karang rentan tidak
dapat bertahan hidup. Namun dengan normalnya suhu disertai upaya
pengendalian oleh masyarakat di beberapa lokasi, peningkatan
persentase tutupan karang keras hidup kembali terjadi pada tahun 2013.
 Tutupan Karang Keras Hidup dan Makroalga

Tahun 2013 :
-> persentase tutupan karang meningkat
20,67%
-> persentase tutupan makroalga menurun
12,66%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa


persentase tutupan karang keras hidup dari
seluruh lokasi penelitian berbanding terbalik
dengan persentase tutupan makroalga
Perbandingan persentase rata-rata tutupan karang keras
hidup dan makroalga Peningkatan tutupan karang keras
menunjukkan terjadinya pemulihan pasca
pemutihan karang di Amed.
3. Upaya Pengelolaan Komunitas Karang Keras di
Amed Bali Dalam Rangka Pemulihan

meminimalkan tekanan
aktivitas wisata menyelam
Perilaku manusia Pemulihan
maupun snorkeling mengurangi komunitas karang
tekanan lokal keras secara alami.
Pengelolaan kawasan
dengan sistem zonasi
4. Kondisi Komunitas Karang Keras Pasca
Pemulihan

2013 :
peningkatan
persentase Pemulihan ini diduga dikarenakan komposisi genus
tutupan karang karang di Amed didominasi oleh karang rentan.
keras sebesar
20,67%.

Tkt
pertumbuhan
faktor cepat :
oseanografi 7 cm/tahun
(Nybakken
Letak Amed yang berada di ujung timur pulau Bali 1992; Veron
memungkinkan kawasan tersebut secara langsung 2000).
bersinggungan dengan Arus Lintas Indonesia (ARLINDO)
yang membantu optimalisasi kondisi suhu di terumbu.
 Pemulihan komunitas karang keras juga diperlihatkan dengan adanya
peningkatan rekrutmen karang.
 Hasil penelitian menunjukkan rekrutmen karang secara berurutan dari
tahun 2009-2013 ialah 9, 19, 8, dan 21 individu/m2.
 Peningkatan rekrutmen secara signifikan terjadi tahun 2013 sebesar 21
individu/m2 mengindikasikan terjadinya pemulihan secara alami pasca
kejadian pemutihan karang di Amed.
5. Saran/ Rekomendasi

 Kejadian pemutihan karang hingga dapat menyebabkan kematian karang,


belum/tidak dapat dicegah. Untuk itu diperlukan pengelolaan kawasan secara
terpadu dan bukan secara sektoral untuk dapat membantu karang dan
ekosistemnya mengalami pemulihan.
 Berdasarkan hasil penelitian ini, disebutkan bahwa pemulihan komunitas
karang keras secara alami di Amed terbantu oleh manusia dengan
mengurangi tekanan lokal.
 Melanjutkan pengelolaan kawasan dengan sistem zonasi dan mengurangi
tekanan yaitu dengan Mengurangi dampak kegiatan pariwisata, yakni :
 membatasi aktifitas lokal seperti menyelam dan snorkeling pasca terjadi kerusakan
akibat pemutihan,
 menyediakan informasi bagi para penyelam tentang bahaya potensial yang dapat
mereka timbulkan