Anda di halaman 1dari 18

Percobaan bunuh diri

Fathya auliannisa
1310211065
Pendahuluan
• Berasal dari bahasa Latin “suicidium”, dengan
“sui” yang berarti sendiri dan “cidium” yang
berarti pembunuhan.
• Schneidman : bunuh diri sbg sebuah perilaku
pemusnahan secara sadar yang ditujukan
pada diri sendiri oleh seorang individu yang
memandang bunuh diri sebagai solusi terbaik
dari sebuah isu.
• Dia mendeskripsikan : keadaan mental individu yang
cenderung melakukan bunuh diri telah mengalami rasa sakit
psikologis dan perasaan frustasi yang bertahan lama sehingga
individu melihat bunuh diri sebagai satu-satunya penyelesaian
untuk masalah yang dihadapi yang bisa menghentikan rasa
sakit yang dirasakan
• Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat dikatakan bahwa
bunuh diri secara umum adalah perilaku membunuh diri
sendiri dengan intensi mati sebagai penyelesaian atas suatu
masalah.
• Hal tersebut dikarenakan adanya interaksi dan komorbid
antara etiologi kedua perilaku tersebut. Di samping itu,
kebanyakan pelaku bunuh diri melakukan beberapa
percobaan bunuh diri sebelum akhirnya berhasil bunuh diri.

• Beck (dalam Salkovskis, 1998) mendefinisikan percobaan


bunuh diri sebagai sebuah situasi dimana seseorang telah
melakukan sebuah perilaku yang sebenarnya atau
kelihatannya mengancam hidup dengan intensi menghabisi
hidupnya, atau memperlihatkan intensi demikian, tetapi
belum berakibat pada kematian
• Dengan demikian, yang dimaksud dengan
percobaan bunuh diri adalah upaya untuk
membunuh diri sendiri dengan intensi mati
tetapi belum berakibat pada kematian
Metode bunuh diri
• obat (memakan padatan, cairan, gas, atau
uap)
• menggantung diri (mencekik dan
menyesakkan nafas)
• senjata api dan peledak
• menenggelamkan diri
• melompat
• memotong (menyayat dan menusuk)
Faktor bunuh diri
• Major-depressive illness, affective disorder
• Penyalahgunaan obat-obatan (sebanyak 50% korban percobaan
bunuh memiliki level alkohol dalam darah yang positif)
• Memiliki pikiran bunuh diri, berbicara dan mempersiapkan bunuh
diri
• Sejarah percobaan bunuh diri
• Sejarah bunuh diri dalam keluarga
• Isolasi, hidup sendiri, kehilangan dukungan, penolakan
• Hopelessness dan cognitive rigidity
• Stresor atau kejadian hidup yang negatif (masalah pekerjaan,
pernikahan, seksual, patologi keluarga, konflik interpersonal,
kehilangan, berhubungan dengan kelompok teman yang suicidal)
Faktor bunuh diri
• Kemarahan, agresi, dan impulsivitas
• Rendahnya tingkat 5-HIAA
• Key symptoms (anhedonia, impulsivitas, kecemasan /
panik, insomnia global, halusinasi perintah)
• Suicidality (frekuensi, intensitas, durasi, rencana dan
perilaku persiapan bunuh diri)
• Akses pada media untuk melukai diri sendiri
• Penyakit fisik dan komplikasinya
• Repetisi dan komorbid antara faktor-faktor di atas
Pikiran bunuh diri
• Pikiran bunuh diri adalah pikiran untuk
membunuh diri sendiri tanpa melakukan
bunuh diri secara eksplisit.
• Suicide ideators adalah orang yang
memikirkan atau membentuk intensi untuk
bunuh diri yang bervariasi derajat
keseriusannya tetapi tidak melakukan
percobaan bunuh diri secara eksplisit atau
bunuh diri (Maris dkk.,2000).
• Pikiran bunuh diri bervariasi mulai dari yang
non-spesifik (“Hidup ini tidak berarti”), yang
spesifik (“Saya berharap saya mati”), pikiran
dengan intensi (“Saya akan membunuh diri
saya”), sampai pikiran yang berisi rencana
(“Saya akan membunuh diri saya sendiri
dengan pistol”).
Karakteristik pikiran bunuh diri
• Executive Functioning: Cognitive Rigidity,
Dichotomous thinking, dan Deficient Problem-
Solving
• Hopelessness
• Alasan untuk hidup
• Perfectionism
• Konsep diri
• Ruminative Response Style
• Autobiographical Memory
Diagnosis
• Bunuh diri biasanya dikaitkan dengan depresi
berat
• Diagnosa depresi mayor ditegakkan dengan
kriteria diagnosa DSM-IV TR dan depresi berat
(severe depression) ditegakkan dengan kriteria
diagnosa PPDGJ III
Pencegahan
• Mengurangi faktor risiko melakukan bunuh diri.
Penanganan yang efektif terhadap gangguan psikiatri,
terutama gangguan mood sangat dibuthkan.
• Memodifikasi kondisi sosial, ekonomi dan biologis,
seperti menurunkan angka kemiskinan, kekerasan,
perceraian, dan promosi pola hidup yang sehat
• Dokter dapat mempromosikan faktor-faktor protektif,
seperti kesehatan fisik, latihan yang tepat, pola makan
yang tepat dan tidur yang cukup
• Pencegahan sekunder merujuk pada deteksi
dini dan memberi penanganan yang tepat
pada individu yang memiliki keinginan bunuh
diri.2,9 Tujuan dari pencegahan sekunder ini
adalah menurunkan kemungkinan percobaan
bunuh diri pada pasien dengan risiko tinggi.
• Pencegahan tersier peningkatan edukasi terhadap tenaga
kesehatan profesional tentang cara menilai dan menangani
pasien dengan risiko bunuh diri dapat membantu deteksi
secara cepat dan membatasi kerusakan yang ditimbulkan.
Intervensi yang dapat dilakukan pada tahap ini adalah menilai
anggota keluarga siapa sajakah yang mungkin terpengaruh
tindakan bunuh diri tersebut sehingga diapun ingin
membunuh dirinya sendiri.
• Cara pencegahan lainnya adalah
hospitalization atau rawat inap di rumah sakit.
Kaitan percobaan bunuh diri dengan
kedokteran forensik
• Pd kasus percobaan bunuh diri : Dokter mencari tahu
penyebab dari seseorang yang ingin melakukan
percobaan bunuh diri, mencari solusi dari
permasalahanya misal merujuk ke dokter jiwa atau
pun ke psikiater
• Pada kasus bunuh diri : disini sebagai dokter menjadi
saksi ahli dalam melakukan visum atas penyebab
kematian seseorang.