Anda di halaman 1dari 28

TEKNIK dan PROSEDUR

ANALISIS RISIKO
KESEHATAN INGKUNGAN

AGUS BAMBANG IRAWAN, S.Si, M.Sc


 Risiko adalah bahaya, akibat atau
konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah
proses yang sedang berlangsung atau
kejadian yang akan datang.

 Bahaya (hazard) terdiri dari senyawa biologi,


kimia atau fisik yang berpotensi
menyebabkan gangguan kesehatan
 Risiko (risk) merupakan fungsi peluang
terjadinya gangguan kesehatan dan keparahan
(severity) gangguan kesehatan oleh karena
suatu bahaya
 Risiko lingkungan merupakan risiko
terhadap kesehatan manusia yang
disebabkan oleh karena faktor lingkungan, baik
lingkungan fisik, hayati maupun sosial-
ekonomi-budaya
 Analisis risiko (risk assessment), yaitu
karakterisasi efek-efek yang potensial
merugikan kesehatan manusia oleh pajanan
bahaya lingkungan
 Analisis risiko bisa dilakukan untuk
pemajanan yang telah lampau (past
exposure), dengan efek yang merugikan
sudah atau belum terjadi, bisa juga
untuk studi prediksi risiko pemajanan
yang akan datang (future ex-posure).
 Bahaya ǂ risiko.
 Bahaya adalah suatu potensi risiko, dan
risiko tidak akan terjadi kecuali syarat-
syarat tertentu terpenuh
TAHAPAN ANALISIS RESIKO

hazard
iden-tification

dose-respone
assessment

exposure assessment

risk characterization
PENGELOLAAN RISIKO

 Identifikasi bahaya

 Evaluasi risiko

 Pengendalian emisi dan pemajanan

 Pemantauan risiko
ARKL versus EKL
 Dalam ARKL, pajanan risk agent yang diterima setiap
individu dinyatakan sebagai intake atau asupan
 Dalam ARKL, perhitungan asupan membutuhkan
konsentrasi risk agent di dalam media lingkungan tertentu,
karakteristik antropometri (seperti berat badan dan laju
inhalasi atau pola konsumsi) dan pola aktivitas waktu
kontak dengan risk agent
 ARKL, risiko kesehatan oleh pajanan setiap risk agent
dibedakan atas efek karsinogenik dan nonkarsinogenik
dengan perhitungan yang berbeda
 Dalam EKL, efek kesehatan (kanker dan nonkanker) yang
ditentukan dengan berbagai pernyataan risiko (seperti
standardized mortality ratio) didapat dari populasi yang
dipelajari.
 Dalam ARKL, besaran risiko (dinyatakan sebagai RQ
untuk nonkarsinogenik dan ECR untuk karsinogenik) tidak
dibaca sebagai perbandingan lurus (directly proportional)
melainkan sebagai probabilitas
 Kuantitas risiko nonkarsinogenik dan karsinogenik
digunakan untuk merumuskan pengelolaan dan komunikasi
risiko secara lebih spesifik
 Epidemiologi Kesehatan Lingkungan umumnya dilakukan
atas dasar kejadian penyakit (disease oriented) atau kondisi
lingkungan yang spesifik (agent oriented), sedangkan
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan bersifat agent
specific dan site specific
 Dalam Public Health Assessment kedua studi tersebut
dapat digabungkan dengan tidak menghilangkan cirinya
masing-masing
KARAKTERISASI RISIKO
 Risiko nonkarsinogenik dinyatakan sebagai Risk
Qoutient (RQ), dihitung membagi asupan (Ink)
dengan dosis referensi (RfD atau RfC):
I
RQ 
RfD atau RfC

 Risiko karsinogenik dinyatakan sebagai Excess


Cancer Risk (ECR), dihitung dengan mengalikan
asupan (Ik) dengan CCR:
ECR = Ik (mg/kg/hari) x CCR (mg/kg/hari)1
C.R.tE fE.Dt
I 
.

Wb.tavg

I : Asupan (intake), mg/kg/hari


C : Konsentrasi risk agent, mg/m3 untuk medium udara, mg/L
untuk air minum, mg/kg untuk makanan / pangan
R : Laju asupan atau konsumsi, m3/jam untuk inhalasi, L/hari
untuk air minum, g/hari untuk makan
tE : Waktu paparan (hari)
fE : Frekuensi paparan (1/hari)
Dt : Durasi paparan, tahun (real time atau proyeksi, 30 th untuk
nilai default residensial)
Wb : Berat badan (kg)
tavg : Periode waktu rata-rata (Dt x 365 hari/th untuk zat
nonkarsinogen, 70 th x 365 hari / th untuk zat karsinogen)
ANALISIS DOSIS-RESPON

 Menetapkan kuantitas toksisitas risk agent untuk


setiap spesi kimianya
 Toksisitas dinyatakan sebagai:
• Dosis referensi (RfD atau RfC) untuk efek-efek
nonkarsinogenik
NOAEL atau LOAEL
RfD atau RfC 
(UF1  UF2  UF3  UF4  MF )

• Cancer Slope Factor (CSF) untuk efek-efek non


karsinogenik dan Cancer Unit Risk (CCR) untuk efek
karsinogenik
Kurva Teoretis Dosis-Respon
Respon
Nonkarsinogenik

LOAEL
NOAEL

Dosis
 RfD = human dose, NOAEL atau LOAEL =
experimental dose
 No Observed Adverse Effect Level: dosis
tertinggi toksisitas kronik yang secara
statistik atau biologik tidak memperlihatkan
efek merugikan
 Lowest Observed Adverse Effect Level:
dosis terendah toksisitas kronik yang secara
statistik atau biologik memperlihatkan efek
merugikan
Uncertainty Factor (UF)
 Faktor-faktor kelipatan 10 untuk
menurunkan RfD dari data eksperimen
hewan uji atau studi epidemiologi
 Digunakan untuk menampung
ketidakpastian:
UF1 = 1-10 untuk variasi sensitivitas manusia;
UF2 = 1-10 untuk ekstrapolasi hewan ke manusia
UF3 = 1-10 untuk NOAEL uji subkronik (bukan
kronik)
UF4 = 1-10 bila digunakan LOAEL (bukan NOAEL)
Modifying Factor (MF)
 Faktor yang digunakan untuk menurunkan RfD
dari data eksperimen hewan uji atau studi
epidemiologi, dengan nilai numerik 0<MF<10
 Menggambarkan ketidakpastian ilmiah yang
tidak tertampung dalam UF (misal, ketidak-
lengkapan data dasar dan spesies hewan uji)
 Nilainya ditetapkan dengan professional
judgment
 Nilai default MF = 1
Contoh Pernyataan Dosis-Respon
RfD, RfC CSF
Risk Agent Efek Kritis & Sumber Data
mg/kg/hari (mg/kg/hari)-1

Hiperpigmentasi, keratosis &


As, kemungkinan komplikasi vaskular
3E-4 1,5E+0
anorganaik pajanan oral (Tseng 1977; Tseng et al
1968)

Cd6+ 5E-4 - Proteinuria (EPA 1985)

Kelainan neuropsikologis
MeHg 1E-4 - perkembangan (Grandjean et al
1997; Budz-Jergensen et al 1999)

CHBr3 2E-2 7,9E-3 Lesi hepatik (tikus) (NTP 1989)


r
SLOPE FACTOR 
d

Kurva Teoretis Dosis-Respon Karsinogenik

Respon
a b c

r
Ekstrapolasi linier
(linearized model)
Dosis
d
r
SLOPE FACTOR 
d
ANALISIS PAJANAN

 Mengenali jalur-jalur pajanan risk agent


(inhalasi, ingesi, absorbsi);
 Mengenali karakteristik antropometri dan
pola aktivitas segmen-segmen populasi
berisiko
 Menghitung asupan (intake) risk agent
yang diterima setiap segmen populasi
berisiko
CRt E f E Dt
Perhitungan Asupan (Intake) I
Wbtavg

I= intake (asupan), jumlah risk agent yang diterima individu per


berat badan per hari (mg/kg/hari)
C= konsentrasi risk agent, mg/M3 (udara), mg/L (air minum), mg/kg
(makanan)
R= laju (rate) asupan, 20 M3/hari (udara), 2 L/hari (air minum?)
tE = waktu pajanan harian, jam/hari
fE = frekuensi pajanan tahunan, hari/tahun
Dt = durasi pajanan, real time atau 30 tahun proyeksi
Wb = berat badan, kg
tavg = perioda waktu rata-rata, 30 tahun  365 hari/tahun (non
karsinogen) atau 70 tahun  365 hari/tahun (karsinogen )
US-EPA Default Exposure Factors
Exposure Exposure Exposure
Land Use Daily Intake Body Weight
Pathway Frequency Duration
Residensial Air Minum 2 L (dewasa) 350 hari/tahun 30 tahun 70 kg (dewasa)
1 L (anak)
Tanah & 200 mg (anak) 350 hari/tahun 6 tahun 15 kg (anak)
debu 100 mg (dewasa) 24 tahun 70 kg (dewasa)
Inhalasi 20 M3 (dewasa)
350 hari/tahun 30 tahun 70 kg (dewasa)
kontaminan 12 M3 (anak)

Industri & Air minum 1L 250 hari/tahun 25 tahun 70 kg (dewasa)


Komersial
Tanah & 50 mg
debu
Inhalasi 20 M3 (hari kerja)
Pertanian Konsumsi 42 g (bebuahan) 350 hari/tahun 30 tahun 70 kg (dewasa)
tanaman 80 g (sayuran)
Rekreasi Konsumsi 54 g 350 hari/tahun 30 tahun 70 kg (dewasa)
ikan lokal
Variabel Perhitungan Asupan

Jalur Pajanan Variabel


Inhalasi (udara) C (mg/M3), R (M3/jam),
tE (jam/hari), fE (hari/tahun),
Dt (tahun), Wb (kg)
Inggesi (air minuman/ C (mg/L), fE (hari/tahun),
makanan) Dt (tahun), Wb (kg)
Absorbsi (kontak kulit/ C (mg/L), tE (jam/hari),
permukaan tubuh) fE (hari/tahun), Dt (tahun),
Wb (kg)
Contoh Tabel Faktor Pemajanan Antropometri &
Pola Aktivitas

Tabel 1. Antropometri Pedagang Kaki Lima (R = 0,83 M3/jam) di Terminal


Terboyo, Semarang, 2003, untuk menghitung intake inhalasi SO2 (35,6 g/M3),
NO2 (49,7 g/M3), TSP (322,6 g/M3) dan Pb (0,04 g/M3).

No. Lama Pajanan Frek. Pajanan Lama Mukim Berat Badan


Resp (tE) jam (fE) hari/tahun (Dt) tahun (Wb) kg
1 10 350 14 73
2 14 350 14 45
3 19 350 14 56
4 8 350 15 85
5 14 350 8 62
dst
I SO 2

Contoh 1: Perhitungan Intake NO2 dan RQ


(data dari Tabel 1)
NO2= 49,7 g/M3 (arithmetic mean)
RfC-NO2 = 0,02 mg/kg/hari (US-EPA, 1990)

mg M3 jam hari
0,0497 3  0,83 14  350 14 tahun
M jam hari tahun
I (NO2)   0,0057 mg/kg/hari
hari
45 kg  30 tahun  365
tahun
0,0057
RQNO2   0,285
0,02

Karena RQ<1, pajanan 49,7 g NO2 /M3 udara selama 14 tahun untuk
orang dengan berat badan 45 kg aman bagi kesehatan, jika pola
pajanannya 14 jam per hari selama 350 hari per tahun.
Contoh 2: Analisis & Manajemen Risiko Arsen di
Desa Buyat, Sulawesi Utara
 Konsentrasi As dalam air sumur 0,04-0,1
mg/L (BTKL Manado 2005)
 Estimasi risiko dengan konsentrasi As
maksimum (0,1 mg/L)
(1) Perhitungan asupan:
0,1 mg/L  2 L/hari  350 hari/tahun  30 tahun
I nk   3,49E  3 mg/kg/hari
55 kg  365 hari/tahun  30 tahun

0,1 mg/L  2 L/hari  350 hari/tahun  30 tahun


Ik   1,49E - 3 mg/kg/hari
55 kg  365 hari/tahun  70 tahun
(2) Perhitungan risiko:
0,00349 mg/kg/hari
RQ   11,63
0,0003 mg/kg/hari

ECR = 1,49103 mg/kg/hari  1,5 (mg/kg/hari) = 2,23E-3

Interpretasi:
Air sumur yang mengandung As 0,1 mg/L sangat
tidak aman (nonkarsinogenik & Karsinogenik) bila
diminum 2 L/hari selama 350 hari/tahun dalam
jangka 30 tahun oleh orang dengan berat badan
55 kg atau kurang.
Strategi Survey EKL
 Batas aman menurut durasi pajanan bisa menentukan
kapan gejala gangguan As (maksimum) bisa ditemukan
 Durasi dihitung dengan mengganti I dengan RfD
RfD  Wb  tavg
Dt  (tahun)
C  R  fE
0,0003 mg/kg/hari  55 kg  365 hari/tahun  30 tahun
Dt   2,58 tahun
0,1 mg/L  2 L/hari  350 hari/tahun

Interpretasi:
Efek toksik As diramal bisa ditemukan pada orang dewasa 55
kg yang telah mengonsumsi air minum mengandung As 0,1
mg/L selama  3 tahun dengan laju konsumsi 2 L/hari selama
350 hari/tahun.
(Baku) Anjuran Kesehatan
(Health Advisories) Arsen
 Memakai RfD sebagai dosis harian aman
 Air minum bukan satu-satu sumber, paling
banyak 80% (EPA 1990)
 Perhitungan:

0,0003 mg/kg/hari  55 kg
DWEL   0,00715 mg/L
2 L/hari

MCLG = 0,80,00715 mg/L = 0,0057 mg/L  0,006 mg/L


 Padahal, baku mutu As menurut
KepMenKes 907/2002 adalah 0,01 mg/L
sehingga nilai itu kurang cocok untuk
orang Indonesia;
 Jadi, berapa seharusnya baku mutu As
untuk air minum orang Indonesia?