Anda di halaman 1dari 228

MESIN LISTRIK ARUS SEARAH

TEK154105

YANU PRAPTO S
TEKNIK ELEKTRO UNUD
1
SUBPOKOK BAHASAN

• Teori Umum Mesin-Mesin Listrik


- Pengertian Mesin Listrik
- Keseragaman Mesin-mesin Listrik
- Analisis Dasar dari Mesin-mesin Listrik
- Konvensi dan tanda-tanda variabel dalam mesin listrik
- Hukum Kekekalan Energi
- Konsep Dasar Mesin-mesin Listrik
- Tegangan yang dibangkitkan pada Mesin Arus Searah

2
- Daya dan Rugi-rugi daya pada mesin arus searah
- Efisiensi pada mesin Arus Searah
• Generator Arus Searah
- Prinsip kerja generator arus searah Shunt, Seri, Kompon
- Konstruksi generator arus searah
- Karakteristik operasi generator arus searah
- Perhitungan tegangan, arus, daya dan efisiensi
- Pengaturan tegangan
- Kerja Paralel generator arus searah

3
• Motor Arus Searah
- Prinsip kerja motor arus searah Shunt, Seri, Kompon
- Konstruksi motor arus searah
- Karakteristik operasi
- Perhitungan tegangan arus, daya, torsi, kecepatan
dan efisiensi motor arus searah
- Starting, pengaturan kecepatan motor arus searah
dan pengereman

4
DAFTAR PUSTAKA

1.Jimmie J. Cathey., Electric Machines : Analysis


and Design Applying MatLab, McGraw-Hill
International Education,2001.

2. Krause, P.C., Analysis of Electrical Machinery,


McGraw-Hill Book Co, New York, 1987

3. Match, L.W.,Electromagnetic and Electrical


Machine, IEP, New York, 1977.
5
Komposisi Nilai

Absensi : 15 % (dengan kehadiran


minimal 75 %)
Tugas : 20 %
MS : 30 %
UAS : 35 %

7
TEORI UMUM MESIN MESIN
LISTRIK
1. Pengertian Mesin Listrik
• Mesin listrik merupakan mesin yang bekerja berdasarkan
pada kaidah medan elektrik dan medan magnetik.
• Mesin listrik menurut gerakannya dibagi menjadi dua
kelompok, yang pertama adalah mesin listrik statis dan
yang kedua mesin listrik dinamis.
• Mesin listrik dinamik selanjutnya disebut mesin, menurut
jenis arusnya dibagi menjadi dua bagian yaitu : mesin arus
searah dan mesin arus bolak-balik.

8
• Mesin Arus Searah (MAS) dibagi dalam beberapa tipe
sesuai dengan cara penguatannya,
a. MAS penguatan terpisah/luar/bebas
b. MAS penguatan sendiri
• MAS penguatan sendiri terdiri dari
a. MAS pengutan seri
b. MAS penguatan shunt
c MAS penguatan kompon

9
• Mesin arus bolak-balik menurut sinkronisasi antara kecepatan
berputar medan jangkar dengan kecepatan berputar medan
utama dibagi dalam dua tipe :
a. Mesin Sinkron
b. Mesin Asinkron/Induksi
• Mesin-mesin tersebut diatas apabila dilihat dari masukan dan
keluaran energinya dikelompokkan dalam dua bagian,
• Bagian yang pertama adalah generator yang merupakan
alat yang mengkonversi energi mekanik menjadi energi
listrik.
• Bagian yang kedua adalah motor yang merupakan alat
yang dapat mengkonversi energi listrik menjadi energi
mekanik.

10
2. Keseragaman Mesin-mesin Listrik
A. Keseragaman dalam konstruksi dan prinsip

1. Sirkit magnetik (untuk dilalui fluksi)


2. Kumparan penguat (pembuat fluksi)
3. Kumparan Tenaga (tegangan timbul pada kumparan
tenaga karena induksi fluksi, arus mengalir dan
menimbulkan reaksi terhadap fluksi itu), dengan
demikian timbul kuat kopel dan daya mesin)
4. Hubungan-hubungan hantaran

11
B. Keseragaman lainnya, (bagi mesin-mesin listrik
dinamis)
1. Stator (bagian mesin yang diam)
2. Rotor (bagian mesin yang berputar)
3. Celah-celah udara (ruang antara stator dan
rotor)
4. Alur-alur dan gigi (tempat kumparan pada
stator dan rotor)
5. Bagian-bagian mekanis, sumbu dan bantalan

12
C. Kejadian-kejadian yang terdapat pada setiap mesin
listrik.

1. Rugi Gaya Gerak Mekanik (ggm)


2. Pembagian fluksi
3. Rugi hysterisis (terdapat dalam besi karena
adanya fluksi bolak balik)
4. Rugi arus putar (terdapat dalam tembaga karena
fluksi bolak balik)
5. Reaksi jangkar (karena adanya arus dalam
kumparan)
6. Tegangan Induksi (karena perubahan-perubahan
fluksi dan pergerakan hantaran melalui fluksi)

13
7. Aliran arus dalam kumparan
8. Pembentukan kuat kopel karena reaktansi dari arus
pada medan
9. Timbulnya Reaktansi bocor oleh arus, menyebabkan
rugi-rugi tegangan yang tidak dikehendaki.

14
3. Analisis Dasar dari Mesin-mesin Listrik.
A. Cara Analisis.
Ada tiga cara analisis yaitu :
1. Persamaan Umum untuk tegangan, arus, kopel, daya,
gerak
2. Vektor diagram yang melukiskan hubungan grafis antara
waktu dan ruangan dari macam-macam satuan listrik
3. Rangkaian Ekivalen, melukiskan hubungan/ karakteristik-
karakteristik listrik dari mesin sebenarnya, untuk
memudahkan analisis mesin-mesin listrik.

15
B. Analisis lengkap dari mesin-mesin listrik, meliputi,

16
• Ketiganya ada hubungan satu sama lain menurut Hukum-
hukum Teori Elektro magnetik yang berdasarkan 4 hukum
dasar yaitu :

• Hukum Induksi Faraday


• Hukum Medan Magnetik dari Ampere
• Hukum Rangkaian Kirchoff
• Hukum kuat hantaran dalam medan magnetik
dari Biot Savart.

17
4. Konvensi dan tanda-tanda variabel dalam mesin listrik
a. Arus : - positip bila arahnya menuju mesin
- negatip bila arahnya meninggalkan
mesin

18
b.Tegangan : - positip bila menyebabkan arus positip

c. Daya elektris = tegangan x arus


- positip : bila tegangan dan arus
positip
- negatip : bila tegangan positip
dan arus negatip atau tegangan
negatip dan arus positip

d. Putaran : - positip bila arahnya berlawanan jarum


jam
- negatip bila arahnya searah jarum jam

19
e. Torsi : - positip bila searah dengan arah
putaran positip
- negatip bila berlawanan arah dengan
putaran positip
Te + Te -

r
r

f. Fluksi : - positip bila meninggalkan rotor


- negatip bila menuju rotor 20
5. Hukum Kekekalan Energi.
• Perubahan energi listrik menjadi energi mekanik atau
sebaliknya berlangsung melalui medium medan magnet.

• Energi yang akan dirubah menjadi kedalam bentuk energi


lainnya sementara akan tersimpan pada medium medan
magnet untuk selanjutnya dilepaskan menjadi energi
lainnya. Jadi medan magnet selain berfungsi sebagai
tempat penyimpanan energi juga sebagai medium

21
energi
energi tersimpan
input dalam mesin

rugi energi
berupa panas

Gambar 1.1. Proses konvergi energi

22
Energi Input berupa
- energi elektris (Wei) : positif untuk motor
negatif untuk generator

- energi mekanis (Wmi) : positif untuk generator


negatif untuk motor
- energi yang tersimpan dalam mesin :
dalam medan magnet (Wf)
energi mekanis (WJ)
- rugi energi
– rugi elektris, Wle (I2R)
– rugi mekanis, Wlm (gesekan) 23
Persamaan energi :
Wei + Wmi = ( Wf + Wj ) + ( Wle + Wlm) (1.1)

Persamaan daya :
d d d d
Pei + Pmi = Wf + Wj + Wle + Wlm
dt dt dt dt (1.2)

dimana :
Pei dan Pmi adalah masing-masing daya input elektris dan
mekanik
d
W  Ple adalah rugi-rugi daya elektris
dt le
d adalah daya rugi-rugi mekanik
Wlm  Plm
dt
24
• Bila Pe  (Pei  Ple ) adalah daya elektro magnetic

Pm  (Pmi  Plm ) adalah daya mekanik, maka

d d
Pe + Pm = Wf + Wj (1.3)
dt dt

• Keadaan diatas hanya berlangsung pada saat proses


konversi energi sedang berlangsung, artinya berlaku pada
keadaan transien. Pada keadaan steady state oleh karena
fluksnya konstan, maka

25
d
Wf  0
dt
d
W =0
dt j

Sehingga Pe + Pm = 0 (1.4)

26
KONSEP DASAR MESIN-MESIN LISTRIK

• Hukum Induksi Faraday, e  d / dt menjelaskan secara


kuantitatif induksi tegangan yang disebabkan oleh medan
magnetik yang berubah terhadap waktu.
• Tenaga elektro magnetis berubah pada saat terjadinya
perubahan fluks yang disebabkan oleh adanya gerakan
mekanis.
• Pada saat mesin dinamis (berputar), tegangan dibangkit-
kan pada lilitan kumparan dengan memutar lilitan-lilitan
tersebut secara mekanis melalui suatu medan magnetik,
sehingga harga reluktansi berubah-ubah sesuai putaran
rotor 27
• Kumparan dimana tegangan dibangkitkan disebut sebagai
kumparan jangkar (armatur).
• Kumparan jangkar dari suatu mesin DC merupakan bagian
yang berputar (rotor).
• Walaupun tujuan utamanya adalah pembangkitan suatu
tegangan searah, tegangan yang diinduksikan pada masing-
masing kumparan jangkar adalah tegangan bolak balik oleh
karena itu harus disearahkan.
• Untuk memperoleh arus searah dari arus bolak balik salah
satunya menggunakan komutator.

28
1.3. Proses Komutasi.

• Komutasi terjadi pada waktu e = 0 atau pada waktu


sikat melalui daerah netral.

• Guna komutasi adalah untuk menyearahkan ggl.

• Terdiri dari beberapa lamel, dalam praktek lamel ini


banyak jumlahnya.

• Lebar lamel sama dengan lebar segmen komutator

• Proses Komutasi dapat diterangkan sebagai berikut,

29
20 A 20 A 20 A

A B C
a b c

40 A

Gambar 1.2 a. Proses Komutasi

Keterangan gambar
• Jangkar dinyatakan berputar kekanan.
• Pada saat ini arah arus pada kumparaan A dan B
kekanan sedang pada C kekiri 30
20 A 0 20 A

A B C
a b c

40 A

Gambar 1.2 b. Proses Komutasi

Keterangan gambar
• Arus pada kumparan B = 0, karena kumparan B
dihubungkan singkat oleh segmen komutator.
• Arah arus dari kumparan dari gulungan A dan C masih
kekanan dan kekiri. 31
20 A 20 A 20 A

A B C
a b c

40 A

Gambar 1.2 c. Proses Komutasi

Keterangan gambar
• Pada kedudukan ini arah arus pada kumparan B sudah
berbalik kekiri.
32
• Adanya perubahan arus yang berbalik arah dalam
kumparan jangkar yang berputar dalam medan magnit
akan menghasilkan tegangan induksi (ggl) dengan
bentuk gelombang seperti ditunjukkan pada gambar
1.3,

Gambar 1.3. Bentuk tegangan yang dihasilkan


dalam Proses Komutasi
33
TEGANGAN YANG DIBANGKITKAN
PADA MESIN ARUS SEARAH

– Hubungan antara sudut elektrik dengan sudut mekanik di


nyatakan oleh persamaan :
P (1.5)
e  m
2
dimana P = jumlah kutub
– Tegangan DC rata-rata antara sikat-sikat (gambar 1.3),
adalah :

1 2
Ea   N sin td(t)  N (1.6)
0 
dimana adalah : jumlah lilitan seri keseluruhan
antara ujung-ujung jangkar
34
Dengan memasukkan persamaan (1.5) kedalam
persamaan (1.6) untuk mesin dengan jumlah
kutub P, maka
PN
Ea  m (1.7)

• Bila jumlah keseluruhan konduktor pada lilitan jangkar


adalah Ca dan banyaknya lintasan paralel yang melalui
lilitan jangkar adalah m.
• Karena diperlukan dua buah sisi kumparan untuk membuat
sebuah lilitan, berarti ada 1/m dari padanya yang
dihubungkan seri, sehingga jumlah lilitan seri N = Ca/2m

35
• Dengan memasukkan harga N tsb kedalam
persamaan 1.7, diperoleh
PCa
Ea   m (1.8)
2m

PCa
• Bila Ka  merupakan besaran yang besarnya
2 m
tergantung oleh rancangan lilitan, sehingga

Ea  Ka m (1.9)

36
DAYA DAN RUGI-RUGI DAYA PADA
MESIN ARUS SEARAH.

1. Daya dan Efisiensi


• Daya input dari generator Arus Searah adalah daya
mekanik sedangkan daya output nya adalah daya listrik.
Daya input dari motor Arus Searah adalah daya listrik
sedang daya outputnya adalah daya mekanik.
• Efisiensi didefinisikan sebagai rasio antara daya output
dengan daya input, dirumuskan (1.10)
Pout Pout
η= x100% = x100% (1.10)
Pin Pout + Prugitotal

37
A. Rugi-rugi daya yang terjadi pada mesin dc adalah :

1. Rugi-rugi tembaga (rugi-rugi listrik)


a. Rugi rugi tembaga pada jangkar (30 – 40 %
dari rugi-rugi total)
Pa = Ia2 Ra (1.11)
dimana : Ia = arus jangkar
Ra = tahanan jangkar

b. Rugi-rugi tembaga pada medan (20 – 30 %


dari rugi-rugi total)
Pf = If2 Rf (1.12)

38
dimana : If = arus medan
Rf = tahanan medan

2. Rugi-rugi pada sikat


PBD = VBD Ia (1.13)

dimana : VBD = drop tegangan pada sikat


Rugi-rugi pada sikat biasanya dimasukkan pada rugi-
rugi tembaga pada jangkar.

3. Rugi-rugi inti besi, terdiri dari rugi-rugi hysterisis dan rugi-


rugi arus pusar (rugi arus eddy).
a. Rugi-rugi hysterisis
Ph  Bmaks
1.6
f
(1.14)
39
dimana : Bmaks= kerapatan fluksi maksimum
f = frekwensi perubahan magnet (= pn/60)
b. Rugi-rugi arus eddy
P  B2 f2
e maks
(1.15)

Jadi rugi-rugi inti besi adalah : Pc  Ph  Pe (20 – 30 % dari


rugi rugi total)

4. Rugi-rugi mekanis yang meliputi rugi-rugi gesekan


(friction loss) dan rugi-rugi angin (windage loss)
(10 – 20 % dari rugi-rugi total)
Pm  Km 3 (1.16)
dimana : Km = konstanta rugi-rugi mekanik
40
5. Rugi-rugi stray
Ps  KsIa22 (1.17)

dimana : Ks = konstanta rugi-rugi stray

B. Diagram aliran daya mesin dc


– Salah satu cara untuk menentukan rugi-rugi daya pada
sebuah mesin adalah dengan menggunakan diagram
aliran daya.
– Diagram aliran daya untuk generator dc ditunjukkan
pada gambar 1.4 a, sedangkan motor dc ditunjukkan
pada gambar 1.4.b.

41
Gambar 1.4.a. Diagram aliran daya generator dc
42
Gambar 1.4.b. Diagram aliran daya motor dc
43
• Dalam gambar terlihat daya input mekanik mesin dc setelah
mengalami rugi-rugi stray, rugi-rugi mekanik dan rugi-rugi
inti, daya yang tersisa selanjutnya dirubah menjadi daya
listrik Pconv.
• Daya mekanik yang dirubah dinyatakan dengan persamaan
Pconv  indm (1.18)
• Sedangkan daya listrik yang dihasilkan dinyatakan
dengan persamaan :
Pconv  EaIa (1.19)
• Daya ini bukanlah daya yang keluar dari terminal mesin.
Sebelum keluar dari terminal mesin terlebih dahulu
mengalami rugi-rugi daya listrik (I2 R) dan rugi-rugi pada
sikat.
44
C. Effisiensi maksimum
– Rugi-rugi tembaga pada jangkar merupakan variable
losses dan rugi-rugi lainnya merupakan rugi-rugi yang
tetap, Pconstan

– Arus jangkar adalah : Ia = IL + Ish (1.20)

– Oleh karena arus medan shunt sangat kecil bila


dibandingkan dengan arus jangkar, maka arus medan
jangkar dianggap sama dengan arus beban, sehingga
variable losses ,

Pa  I Ra
2
L
(1.21)

45
– Effisiensi generator,
V.IL

V.IL  Pcons tan  IL2Ra (1.22)
– Effisiensi maksimum
d  Pcons tan IL 
 
dIL  VI  V Ra   0
 L t 
Pcons tan Ra Ra P
   0 maka  cons tan
Vt IL 2
Vt Vt Vt IL2

atau
IL2R a = Pcons tan (1.23)

46
• Jika rugi-rugi pada jangkar adalah rugi-rugi yang variabel,
maka effisiensi akan maksimum bila variable losses sama
dengan rugi-rugi yang tetap.
• Arus beban pada effisiensi maksimum adalah :

Pcons tan
IL  (1.24)
Ra

47
Regulasi Tegangan
Regulasi (pengaturan tegangan adalah perubahan
tegangan ketika beban berkurang dari harga ratednya
menjadi nol.
VNL  VFL
VR 
VFL
x100% (1.25)

dimana : VNL = tegangan tanpa beban


VFL = tegangan beban penuh

48
Torsi Pada Motor DC

Gambar 1.5. Torsi pada mesin dc

• Bila jari-jari jangkar dari mesin dc adalah r, mendapat gaya


F, maka kerja yang dilakukan oleh gaya F dalam satu kali
putaran adalah :

49
W  Fxjarak
(1.26)
W  F2r

• Kerja yang dilakukan oleh gaya F dalam putaran per detik


adalah :

W  Fx2rxn  Fxrx2xxn
W  Ta 2xn  Ta m

W  Ta 2xN / 60 (1.27)
• dimana : W = kerja yang dilakukan oleh kumparan jangkar
F = gaya (Newton)
r = jari-jari jangkar
N = putaran jangkar (rpm = rotasi per-menit)

50
n = putaran jangkar (rpd = rotasi per detik)
Ta = torsi jangkar (Nm) = F x r
m = kec. putar mekanik (rpd) = 2n

• Kerja yang dilakukan oleh putaran jangkar perdetik (W)


adalah sebanding dengan daya jangkar, ditulis :
W  Pa  EaIa (1.28)
• Atau ditulis
(1.29)
EaIa  Ta 2n

1 Ea Ia
Ta  (1.30)
2 n
dimana : Ta = torsi jangkar (Nm) 51
1
Oleh karena Ea = K dΦn , maka Ta = K dΦIa

atau ditulis
Ta = kΦIa (1.31)

52
GENERATOR ARUS SEARAH.

2.1. Pengertian.
Generator dc adalah suatu peralatan yang berfungsi
mengubah energi primer putaran menjadi energi listrik
arus searah (dc).

2.2. Konstruksi.
Pada umumnya generator DC dibuat dengan menggunakan
magnet permanent dengan 4-kutub rotor, regulator tegangan
digital, proteksi terhadap beban lebih, starter eksitasi,
penyearah, bearing dan rumah generator atau casis, serta
bagian rotor.

53
Konstruksi Generator dc secara umum terdiri dari :
- Stator, yaitu bagian dari generator yang diam

- Rotor, yaitu bagian dari generator yang bergerak.

- Celah udara, yaitu bagian antara stator dan rotor.

54
• Stator, terdiri dari
1. Gandar/rumah yang terbuat dari besi tuang
2. Kutub, terdiri dari
a. Inti, terbuat dari besi lunak atau baja silicon
b. Sepatu kutub, terbuat dari besi lunak atau
baja silicon
c. Lilitan/belitan/kumparan, terbuat dari
tembaga
• Rotor (jangkar), terdiri dari
a. Inti, terbuat dari bahan yang sama dengan inti kutub
b. Belitan, terbuat dari tembaga
c. Komutator, terbuat dari tembaga
d. Sikat, terbuat dari karbon
55
Gambar 2.1. Konstruksi jangkar generator dc
56
• Macam-macam belitan jangkar :
Pada dasarnya ada dua macam belitan jangkar yaitu :
• Belitan gelung (lap winding)
• Belitan gelombang (wave winding)
• Perbedaan kedua macam belitan tersebut adalah
terletak pada hubungan ujung kumparan dengan
komutator.
• Pada belitan gelung tunggal, ujung-ujung kumparan
dihubungkan pada segmen komutator yang berdekatan,
sedang pada belitan gelombang tunggal ujung- ujung
kumparan dihubungkan pada segmen komutator
dengan jarak mendekati 3600.

57
(a) (b)

Gambar 2.2. Belitan jangkar


(a) Belitan gelung (lap winding)
(b) Belitan gelombang (wave winding)
58
• Konstruksi generator dc selengkapnya dapat dilihat pada
gambar berikut,

Gambar 2.3. Konstruksi Generator dc


59
PRINSIP KERJA
GENERATOR ARUS SEARAH.

• Apabila suatu konduktor yang mempunyai panjang efektif l,


digerakkan tegak lurus sejauh ds memotong suatu medan
magnet yang mempunyai kerapatan fluksi B, maka
perubahan fluksi pada konduktor tersebut adalah,
dφ = Blds
• Berdasarkan hukum Induksi Faraday, maka ggl yang terjadi
adalah
e = dφ / dt
= Blds/ dt
= Blv (ds / dt = v ) (2.1)
60
• Persamaan 2.1. menyatakan bila kedalam medan magnet
diberikan energi mekanik untuk menghasilkan (kecepatan)
akan dibangkitkan suatu energi listrik.
• Jadi dasarnya adalah :
1. Harus ada konduktor (hantaran kawat)
2. Harus ada medan magnetik
3. Harus ada gerak atau perputaran dari konduktor dalam
medan atau fluksi yang berubah yang memotong
konduktor itu.
• Untuk menentukan arah daya listrik ini, berlaku kaidah
tangan kanan, dimana jempol, jari telunjuk dan jari tengah
yang saling tegak lurus menunjukkan masing-masing
perputaran (v), medan magnetik (B) atau U-S (kutub) dan
besaran galvanis (e).
61
Gambar 2.4. Kaidah tangan kanan

62
• Bila selanjutnya konduktor tersebut dihubungkan dengan
beban (berupa tahanan) akan mengalir arus yang menjauhi
kita.

• Persamaan tegangan generator dc :

Ea = k dΦn (2.2)

• dimana : kd = konstanta
 = fluks (weber)
n = putaran (rpm)

63
MACAM-MACAM PENGUATAN
PADA GENERATOR ARUS SEARAH.

• Berdasarkan cara memberikan fluksi pada kumparan


medannya, generator dc dibagi menjadi :
• Generator dc berpenguatan bebas
• Generator dc berpenguatan sendiri

A. Generator dc berpenguatan bebas


Arus penguatan untuk medan magnit dapat dibangkitkan
oleh suatu sumber arus searah tersendiri, misalnya
baterai atau jenis suplay dc yang lain dengan kecepatan
konstan.
64
Gambar 2.5. Generator dc penguatan bebas
65
• Tegangan searah yang dipasangkan pada kumparan
medan yang mempunyai tahanan medan (Rf) akan meng-
hasilkan arus medan (If) dan menimbulkan fluksi pada
kedua kutub yang selanjutnya akan membangkitkan
tegangan induksi pada generator.
• Bila generator dihubungkan dengan beban, dan Ra adalah
tahanan dalam generator, maka berlaku persamaan :
• Persamaan tegangan

Vf  IfRf (2.3)

Ea  Vt  IaRa  Vsi (2.4)

Ea  kdn (2.5)
66
• Persamaan arus :
Ia = IL (2.6)
• Persamaan daya :
Daya output, Pout = Vt IL (2.7)

• dimana : Ea = tegangan yang dibangkitkan oleh


jangkar (volt)
Vt = tegangan terminal (volt)
Ia = arus rotor (Ampere)
IL = arus beban
Vf = tegangan sumber dc untuk
penguatan (volt)
Rf = tahanan kumparan medan (Ohm)

67
If = arus medan (Ampere)
Ra = tahanan kumparan rotor (Ohm)
Vsi = rugi-rugi tegangan pada sikat (volt)
Pout = daya output (watt)
B. Generator dc berpenguatan sendiri.
Umumnya generator-generator ini dibuat sedemikian rupa
agar dapat memberikan penguatan sendiri.
Sebelum dapat bekerja dengan penguatan sendiri biasanya
kutub-kutub magnit harus diberi arus penguat untuk
mendapatkan remenensi magnit (magnit sisa) dari suatu
sumber lain.

68
Sisa magnit kecil ini membangkitkan tegangan pada jangkar
yang selanjutnya dikembalikan lagi ke belitan medan untuk
memperkuat medan magnitnya, sehingga dengan demikian
tegangan yang dibangkitkan dalam jangkar akan lebih
besar.
Demikian seterusnya sampai diperoleh tegangan yang
cukup.
Ditinjau dari cara menghubungkan lilitan-lilitan medan
dengan jangkar dan rangkaian luar atau jala-jala generator
jenis ini dibagi menjadi :
1. Generator shunt
2. Generator seri
3. Generator kompon
69
GENERATOR DC SHUNT.

Ciri utama generator shunt adalah kumparan penguat


medan dipasang paralel terhadap kumparan jangkar.

Gambar 2.6. Generator shunt 70


• Persamaan tegangan :
Vt  IshRsh  ILZL (2.8)

Ea  Vt  IaRa (2.9)

• Persamaan arus :

Ia  Ish  IL
(2.10)
Persamaan daya :

Pa  Ea Ia (2.11)

Pout  VtIL (2.12) 71


• dimana : Rsh = tahanan kumparan medan shunt
(Ohm)
Ish = arus yang mengalir pada kumparan
shunt (Ampere)
Pa = daya input (watt)

72
GENERATOR DC SERI.

Pada generator ini kumparan penguat medan dihubungkan seri


terhadap kumparan jangkar.

Gambar 2.7. Generator seri 73


• Persamaan tegangan :
Ea  Vt  IaRa  Ise Rse (2.13)

Ea  Vt  Ia (Ra  Rse )
(2.14)
• Persamaan arus :
Ia  Ise  IL (2,15)

• Persamaan daya :
(2.16)
Pout  VtIL

Pa  Ea Ia
(2.17)

dimana : Rse = kumparan medan seri (Ohm)


Ise = arus yang mengalir pada kumparan
medan seri 74
dimana : Rse = kumparan medan seri (Ohm)
Ise = arus yang mengalir pada kumparan
medan seri
• Kekurangan dari generator searah seri adalah tegangan
out put (terminal) tidak stabil karena arus beban berubah-
ubah sesuai dengan bebannya. Ini mengakibatkan fluks
magnet yang dihasilkan oleh kumparan medan seri juga
tidak stabil.

75
GENERATOR DC KOMPON.

• Adalah generator dc dimana kumparan medan magnetnya


terdiri dari kumparan medan shunt dan kumparan medan seri.
• Ada dua generator searah kompon didasarkan atas
bagaimana cara meletakkan kumparan medan serinya ;
1. Generator kompon panjang
2. Genarator kompon pendek
1. Generator kompon panjang
Pada generator kompon panjang, kumparan medan serinya
terletak pada rangkaian jangkar.

76
Gambar 2.8. Generator kompon panjang

77
• Persamaan tegangan :
Ea  Vt  IaRa  Ise Rse  Vsi (2.18)

Ea  Vt  Ia (Ra  Rse )  Vsi (2.19)


Vt  Ish Rsh (2.20)
• Persamaan arus :
Ia  Ise  Ish  IL (2.21)

• Persamaan daya
Pout  VtIL (2.22)
Pa  EaIa (2.23)

78
2. Generator kompon pendek
Generator kompon dimana kumparan medan serinya
dipasang pada rangkaian beban

Gambar 2.9. Generator kompon pendek


79
• Persamaan tegangan :
Ea  Vt  IaRa  Ise Rse  Vsi (2.24)

• Persamaan arus :
Ia  Ish  IL (2.25)
Ise  IL (2.26)

Vt  ILRse (2.27)
Ish 
Rsh

• Persamaan daya :
Pout  VtIL
(2.28)

Pa  Ea Ia (2.29)
80
MEDAN JANGKAR DAN REAKSI JANGKAR.

• Jangkar adalah suatu kumparan. Bila kumparan ini dilalui


arus, maka akan terjadi medan jangkar.
• Medan jangkar ini akan mempengaruhi medan utama,
pengaruh inilah yang disebut sebagai reaksi jangkar.
• Gambar wujud reaksi jangkar adalah sebagai ditunjukkan
pada gambar 2.10 berikut,

81
Gambar 2.10 a). Distribusi fluksi kutub utama (p)
ketika kutub utama diberi penguatan
82
Gambar 2.10 b). Distribusi fluksi jangkar (a) ketika kumparan
jangkar dilalui arus.Pada saat generator dibebani,
akan timbul arus jangkar. Arus jangkar ini akan
menyebabkan timbulnya fluksi a
83
Gambar 2.10 c.Resultante fluksi medan utama (p) dengan fluksi medan
jangkar (a) akan menghasilkan resultante yang arahnya
bergeser dari arah medan utama dengan sendirinya garis
netral juga ikut bergeser.
84
Gambar 2.10 d. Pada beban nol daerah netral magnetik tegak lurus
OB yaitu garis OA. Pada keadaan dibebani, arus
jangkar menimbulkan a searah dengan OA. res
letaknya searah dengan OC
85
• Pengaruh adanya interaksi antara medan utama dan
medan jangkar ini disebut reaksi jangkar.
• Reaksi jangkar ini mengakibatkan medan utama tidak tegak
lurus pada garis netral n, tetapi bergeser sebesar sudut α.
Dengan kata lain, garis netral akan bergeser.
• Pergeseran garis netral akan melemahkan tegangan
nominal generator.
• Makin besar beban maka makin besar pula reaksi jangkar.
• Akibat-akibat buruk reaksi jangkar :
– Terjadi distorsi medan
– Terjadi loncatan bunga api karena bertambah besarnya
tegangan antara lamel-lamel
– Terjadi “ Demagnetisasi”
– Pada tiap perubahan beban daerah netral magnetik
tergeser
86
- Timbul ggl induksi sendiri yang menentang komutasi
arus selama saat-saat hubung pendek, kumparan yang
berkomutasi.
• Untuk mengembalikan garis netral ke posisi awal,
dipasangkan medan magnet bantu (interpole atau kutub
bantu) dan kutub kompensasi,seperti ditunjukkan pada
Gambar 2.11.(a).
• Lilitan magnet bantu berupa kutub magnet yang ukuran
fisiknya lebih kecil dari kutub utama. Dengan bergesernya
garis netral, maka sikat yang diletakkan pada permukaan
komutator dan tepat terletak pada garis netral n juga akan
bergeser.

87
Gambar 2.11 Generator dengan Kutub Bantu (a) dan
Generator Kutub Utama, Kutub Bantu, Belitan
Kompensasi (b).

88
• Jika sikat dipertahankan pada posisi semula (garis netral), maka
akan timbul percikan bunga api, dan ini sangat berpotensi
menimbulkan kebakaran atau bahaya lainnya. Oleh karena itu,
sikat juga harus digeser sesuai dengan pergeseran garis netral.
Bila sikat tidak digeser maka komutasi akan jelek, sebab sikat
terhubung dengan penghantar yang mengandung tegangan.
• Medan magnet kompensasi dipasangkan pada kaki kutub utama
baik pada lilitan kutub utara maupun kutub selatan, seperti
ditunjukkan pada gambar 2.11 (a) dan (b), generator dengan
komutator dan lilitan kompensasinya.

• Kini dalam rangkaian generator DC memiliki tiga lilitan magnet,


yaitu:
• lilitan magnet utama
• lilitan magnet bantu (interpole)
• lilitan magnet kompensasi

89
KARAKTERISTIK GENERATOR DC.

• Karakteristik adalah sebuah gambar grafik yang menyatakan


hubungan antara dua nilai listrik yang menentukan sifat-sifat
mesin arus searah sebagai generator.
• Ada beberapa karakteristik yang penting dari generator dc
yaitu :
1. Karakteristik beban nol menggambarkan hubungan
antara arus medan dan emf yang dihasilkan pada
keadaan tanpa beban dan putaran konstan

E0  f(If ) (2. 30)

90
IL = 0

n = konstan

2. Karakteristik berbeban, menggambarkan hubungan antara


tegangan terminal dan arus medan pada kecepatan yang
konstan.
Vt  f(If ) (2.31)

n = konstan
beban konstan

91
3. Karakteristik luar menggambarkan hubungan antara
tegangan terminal dan arus beban pada tahanan medan
dan putaran yang konstan
Vt  f(IL ) (2.31)
Rf = konstan
n = kontan

92
KARAKTERISTIK GENERATOR DC
BERPENGUATAN BEBAS.

1. Karakteristik tanpa beban (beban nol)


• Dari persamaan Ea = knΦ, bila n = konstan, maka ggl
berbanding lurus dengan .
Grafiknya merupakan garis lurus untuk daerah sebelum
kutub magnet jenuh.
• Bila arus medan bertambah,  bertambah karenanya ggl
yang dihasilkan juga bertambah.
• Ini dinyatakan oleh garis lurus od dalam gambar b.
• Akan tetapi dengan bertambahnya fluks density kutub
menjadi saturasi (jenuh).
93
• Semakin besar arus medan If semakin besar tegangan
yang dihasilkan.

Gambar 2.12. Karakteristik beban nol pada generator dc


penguatan bebas
94
2. Karakteristik berbeban
• Grafik yang menunjukkan hubungan antara tegangan
terminal Vt dan arus medan If pada saat generator
dibebani disebut juga sebagai grafik saturasi beban.
• Grafik ini dapat diturunkan dari grafik beban nol bila harga
reaksi jangkar dan tahanan jangkar diketahui.

95
Gambar 2.13 Gambar 2.14
Karakteristik berbeban Karakteristik luar
generator dc generator dc
96
• Kurva ini memperhitungkan pengaruh demagnetisasi dari
reaksi jangkar dan drop tegangan yang praktis tidak ada pada
keadaan beban nol.
• Kurva gambar 2.12 digambarkan kembali pada gambar 2.13.
Bila generator dibebani, maka tegangan akan turun karena
pengaruh demagnetisasi dari reaksi jangkar.
Untuk memperoleh tegangan yang konstan dan ggl yang sama
seperti pada keadaan tanpa beban penguatan harus ditambah
dengan ac = bd.
• Titik d pada garis LS menyatakan hubungan antara tegangan
Ea yang dihasilkan pada keadaan berbeban dan arus
penguatan medan. Garis LS sejajar dengan garis ob.
• Tegangan terminal Vt lebih kecil dibandingkan dengan ggl
yang dihasilkan Ea, sebesar Ia Ra. Garis vertikal de = Ia Ra
97
3. Karakteristik Luar

• Bila tidak ada pengaruh reaksi jangkar dan kerugian


tegangan (drop tegangan) pada jangkar, maka tegangan
akan konstan seperti ditunjukkan pada gambar (2.14).
• Tetapi bila generator dibebani tegangan akan turun oleh
pengaruh reaksi jangkar dan penurunan tegangan.
• Jika Eo dikurangi dengan pengaruh reaksi jangkar dan
penurunan tegangan untuk beban yang berbeda akan
diperoleh harga ggl yang sebenarnya pada jangkar
pada keadaan berbeban.

98
• Kurva II yang digambar dengan cara ini disebut sebagai
karakteristik dalam. Garis lurus Oa menyatakan drop
tegangan Ia Ra untuk arus jangkar yang berbeda.

• Jika E- Ia Ra akan diperoleh harga tegangan terminal Vt.


Kurva III menyatakan karakteristik luar dan diperoleh
dengan mengurangi Oa dari kurva II.

99
KARAKTERISTIK GENERATOR DC
BERPENGUATAN SENDIRI.

A. Generator shunt
1. Karakteristik tanpa beban (beban nol)
Karakteristik tanpa beban dari generator shunt hampir
sama dengan karakteristik generator berpenguatan
bebas.
Pada generator penguatan sendiri, generator itu sendiri
lah yang membangkitkan arus penguat medan magnit,
seperti ditunjukkan pada gambar 2.15.

100
(a) (b)

Gambar 2.15 Karakteristik tanpa beban


generator shunt
101
• Besarnya arus medan diatur menggunakan tahanan
reostatik dan harganya dapat dibaca pada amper meter A.

• Mesin diputar pada kecepatan yang konstan dan ggl


keadaan tanpa beban dibangkitkan, dapat dibaca pada
voltmeter yang terhubung paralel dengan jangkar.

• Arus medan dinaikkan dan harga E naik, (hasil grafiknya


ditunjukkan gambar b).

• Menurut hukum Ohm, tahanan kumparan medan adalah :


Vt
R sh =
Ish

102
Gambar 2.16.
103
• Untuk Rsh yang konstan, maka grafik merupakan garis
lurus melalui titik O.
• Bagi Rsh yang diketahui garis OP merupakan grafik tsb.
• Pada Ish = 0, sisa magnit telah membangkitkan ggl Or. Ggl
ini menimbulkan arus medan, Ish = Oa yang menyebabkan
ggl naik lagi sampai Os.
Hal ini berlangsung sampai tercapai titik P pada
karakteristik beban nol.
2. Karakteristik berbeban.
Karakteristik berbeban generator shunt sama dengan
karakteristik berbeban generator berpenguatan terpisah.

104
3. Karakteristik luar

Gambar 2.17. Karakteristik luar generator shunt

105
• Karakteristik yang lebih atas letaknya adalah ada generator
berpenguatan terpisah. Karaktersitik pada generator shunt
lebih cepat membelok kearah bawah, karena pada generator
berpenguatan terpisah arus medannya tetap sedangkan
pada generator shunt arus medannya berkurang dengan
berkurangnya Vt. Bila tahanan rangkaian luar diperkecil
terus, maka pada saat Vt berkurang sedemikian hingga arus
medan juga berkurang dan Vt akan mengecil dan akhirnya
diperoleh titik b1.
• Dititik ini keadaan kritis, dengan tidak merubah tahanan
luarpun Vt akan turun karena arus medan kecil, sehingga
Ia = Vt/Rsh juga berkurang sehingga diperoleh harga Ia =Oa,
yang disebut sebagai arus hubung singkat.
Arus ini dibangkitkan oleh magnit remenensi. 106
B. Generator seri
1. Karakteristik tanpa beban (beban nol)
Pada generator seri arus jangkar, arus medan dan arus
beban adalah sama. Pada keadaan tanpa beban, arus
medan sama dengan nol, sehingga karakteristik tanpa
beban generator seri tidak dapat dibuat.
2. Karakteristik berbeban.
Karakteristik berbeban dari generator seri juga tidak dapat
dibuat, karena arus beban dan arus medan tidak dapat
diubah secara terpisah.
3. Karakteristik luar.
Oleh karena arus beban juga merupakan arus medan,
maka karakteristik generator seri akan serupa dengan
karakteristik beban nol.
107
• Sebagai akibat adanya reaksi jangkar dan kerugian
tegangan (drop tegangan) dalam lilitan jangkar dan lilitan
medan, karakteristik luar berada dibawah karakteristik
beban nol.
• Dalam daerah jenuh, bertambahnya ggl yang disebabkan
oleh bertambahnya arus medan tak lagi dapat mengimbangi
berkurangnya tegangan akibat reaksi jangkar dan kerugian
tegangan.
• Oleh karena itu karakteristik luar akan selalu bertambah
menyimpang dari karakteristik beban nol dan akan
membelok ke sumbu Ia .
• Gambar berikut, menggambarkan karakteristik beban nol
(dibuat pada penguatan terpisah) dan karakteristik luar dari
108
generator seri.
Gambar 2.18. Karakteristik luar generator seri

109
C. Generator Kompon.
1. Karakteristik tanpa beban (beban nol).
Karakteristik tanpa beban dari generator kompon adalah
sama dengan karakteristik tanpa beban generator shunt,
karena pada beban nol lilitan medan seri tak berarus.
Atau pada beban nol ini pada generator shunt arusnya
kecil sekali sehingga pengaruhnya pada belitan shunt
dapat diabaikan.
Jadi karakteristik tanpa beban untuk generator kompon
adalah sama seperti pada generator shunt.
2. Karakteristik berbeban.
Bentuk karakteristik berbeban generator kompon sama
dengan karakteristik generator shunt, hanya saja
letaknya lebih tinggi, karena pengaruh belitan serinya.
110
Gambar 2.19. Karakteristik berbeban generator kompon

111
• Bagi ggl = Or, diperlukan arus medan sebesar Oa. Untuk
mengimbangi reaksi jangkar arus medan diperkuat
(ditambah) dengan ab. Dengan adanya belitan seri, arus
medan diperkecil dengan sp, sisanya On adalah
merupakan arus shunt.
• Bila kerugian tegangan dimisalkan sama dengan pq,
maka q merupakan titik karakteristik beban.
• Dimisalkan mq tidak berubah, maka titik-titik karakteristik
lainnya dapat ditentukan dengan menggeserkan garis
mq sejajar sedemikian sehingga titik m tetap pada
karakteristik beban nol dan titik q merupakan
karakteristik titik-titik beban.
112
3. Karakteristik luar.
– Belitan seri memperkuat mesin sebanding dengan
beban. Bila jumlah belitan seri cukup untuk
mengimbangi pengaruh reaksi jangkar, ggl
bertambah sebanding dengan penurunan Ia Ra . Oleh
karena itu tegangan generator kompon hampir selalu
tetap (garis lengkung I). Generator semacam ini
disebut sebagai generator kompon rata (flat).
– Bila belitan seri cukup banyaknya, maka bila beban
bertambah tegangan jepit akan naik , (garis lengkung
II). Generator semacam ini disebut sebagai
generator kompon kelebihan (over)

113
Gambar 2.20. Karakteristik luar generator kompon

Dalam beberapa hal belitan seri dipasang berlawanan dengan


lilitan shunt. Bila beban naik, maka tegangan jepit akan turun,
(garis lengkung III). Generator demikian disebut sebagai
generator kompon kekurangan (under)
114
KERJA PARALEL GENERATOR DC

Tujuan kerja paralel.


1. Jika pemakaian bertambah (naik), untuk menjaga jangan
sampai mesin dibebani lebih.
Jadi untuk memperbesar kekuatan pembangkitan.
2. Jika suatu mesin dihentikan, misalnya akan diperbaiki
karena ada kerusakan, harus ada mesin yamg meneruskan
pekerjaan.
Jadi untuk menjamin kontinuitas penyediaan tenaga listrik.
Yang penting pada kerja paralel generator-generator adalah
bentuk karakteristik luar dari mesin itu.

115
A. Kerja paralel generator shunt

Gambar 2.21. Kerja paralel generator shunt

116
• Generator 1 terhubung paralel dengan bus-bar dan
mensuplai beberapa beban.
• Untuk memparalel generator 2 ada beberapa hal yang harus
diperhatikan.
Pertama-tama jangkar generator 2 diputar dengan
menggunakan prime mover mendekati putaran nominalnya
dan switch S2 ditutup dengan meletakkan voltmeter V paralel
dengan switch S1 yang terbuka. Eksitasi dari generator 2
diatur sampai V terbaca nol, ini berarti tegangan terminal
generator 2 sama dengan tegangan generator 1 atau
tegangan jala-jala.
• Selanjutnya switch S1 ditutup generator 2 sudah paralel
dengan jala-jala.
• Pada keadaan ini generator 2 belum memberikan arus pada
beban karena ggl yang diinduksikan sama dengan tegangan
bus-bar jadi tidak dapat mengalirkan arus pada dua bagian
yang mempunyai potensial yang sama. 117
• Bila beban jala-jala tetap, maka agar generator 2 dapat
menanggung sebagian dari beban jala-jala generator 1,
maka dengan mengecilkan tahanan pengatur shunt
generator 2 diperoleh ggl yang lebih besar, sementara itu
ggl generator1 dikecilkan dengan mengatur tahanan
pengatur shunt, sehingga arus generator 2 menjadi lebih
besar dan arus generator 1 menjadi lebih kecil.
• Jadi dengan pengatur shunt itu beban jala-jala dapat
dibagikan kepada generator-generator menurut kemauan
kita.
• Disamping dengan pengatur shunt, pengaturan dapat pula
dilakukan dengan mengatur putaran dari kedua generator
tsb. Dari persamaan E = kn bila  konstan maka E  n.
118
B. Kerja paralel generator seri

Gambar 2.22. Kerja paralel generator seri


119
• Gambar 2.22 menunjukkan dua generator yang sama
bekerja paralel.
E1 dan E2 awalnya sama, arusnya sama dan tahanan
pengatur shunt sama. Bila salah satu mengalami hambatan
sehingga E1  E2 dan I1  I2. Akibatnya medan generator 1
semakin menguat dan memper-besar E1 sedangkan
medan generator 2 semakin melemah dan memperkecil E2.
• Akibatnya generator 2 akan berubah menjadi motor yang
mengambil arus dari generator 1 dan kedua generator
akan membentuk rangkaian hubung singkat.
• Keadaan ini dapat dicegah dengan menggunakan hantaran
penyamaan (equlizer bar), sebab pada dua mesin yang
sama dimungkinan dapat mengalir-kan arus sama pada
beban, memperkecil perbedan antara kedua arus yang
membentuk rangkaian yang disebabkan oleh jangkar dan
hantaran penyamaan. 120
C. Kerja paralel generator kompon.

Gambar 2.23 Kerja paralel generator kompon


121
• Gambar diatas menunjukkan dua generator kompon yang
bekerja paralel. Dalam keadaan sempurna arus beban
dipikul sama rata antara kedua mesin yang identik itu.
• Bila terjadi suatu gangguan pada keadaan seimbang itu,
misalnya mesin 2 putarannya lebih cepat, maka terjadilah
keadaan berikut :
– Pada mesin 2, putaran naik, arus jangkar naik, fluksi naik
dan gglnya juga naik. Oleh karena tegangan jepitan
beban arus konstan, arus beban konstan, maka pada
mesin 1, ggl induksi turun, fluksi turun, arus jangkar turun
dan putaran juga turun.
– Jadi beban arus tak lagi terbagi sehingga tercapai
keadaan dimana beban arus diberikan oleh mesin 2,
sedangkan mesin 1 sama sekali tak memberi arus beban.
(arus jangkar mesin 1, Ia1 = 0).
122
– Jika keadaan ini terus berturut-turut arah arus jangkar mesin
1 (Ia1) berubah dan mesin 1 akan menjadi motor yang
mengambil daya dari mesin 2. Sebagai akibatnya bila fluksi
mesin1 menetralisir fluksi shuntnya, sehingga ggl mesin 2
menjadi nol, yang berarti mesin 1 terhubung singkat mesin
2.
– Untuk mencegah keadaan ini dipakai hantaran penyamaan
(equalizer bar) yang terhubung antara jangkar dan lilitan seri
generator.
Tahanan hantaran penyamaan mempunyai tahanan yang
sangat kecil.
– Bila generator 1 memikul beban lebih besar dari generator
1, maka arus medan seri akan semakin besar.

123
– Sekarang kenaikan arus ini sebagian melalui belitan
seri generator 1 dan sebagian lagi melalui hantaran
penyamaan (equalizer bar) terus ke belitan seri
generator 2, sehingga generator 1 tidak kelebihan
beban lagi.

124
SOAL-SOAL GENERATOR DC

1. Sebuah Generator DC penguatan terpisah mem-


punyai tegangan tanpa beban 120 V dan arus
medan 2 A, berputar dengan kecepatan 1500 rpm.
Generator beroperasi pada daerah linier.
Tentukan :
1. Arus medan magnit jika tegangan yang dibangkit-
kan 150 V.
2. Tegangan yang dibangkitkan jika putarannya
diturunkan menjadi 1200 rpm dan arus medan
naik menjadi 3 A

125
• Penyelesaian :
pada daerah Linier Ea~ If
a. Ea1  Ea 2
I f1 If2
Ea 2 I f 1 150 x 2
If2    2,5 A
Ea1 120

  3  1200  
b. Ea     120  144V
  2  1500  

126
2. Sebuah Generator DC Shunt mempunyai arus beban
195 A dan tegangan beban 250 V.
Mempunyai tahanan jangkar dan tahanan medan
masing-masing 0,02 Ohm dan 50 Ohm.
Rugi-rugi inti dan rugi-rugi gesekan adalah 900 W

Tentukan :
a. GGl pada jangkar bila rugi-rugi sikat
diabaikan
b. Rugi-rugi tembaga total
c. Daya input
d. Effisiensi
127
Penyelesaian :
a. Ea = Vt +Ia Ra +Vsi
Ia = IL + Ish
Ish = Vt/Rsh = 250V/50 Ohm = 5 A
Ia = (195 + 5) A = 200 A
Ea = (250 +200 x 0,02 + 0) = 254 V

b. Rugi-rugi tembaga pada jangkar


= Ia2 Ra = (200)2 x 0,02 = 800 W
Rugi-rugi tembaga pada medan (shunt)
= Ish2 Rsh = (5)2 x 50 = 1250 W
Rugi-rugi tembaga total = (800 + 1250) W
= 2050 W 128
c. Rugi-rugi daya total = (2050 + 900) W = 2950 W
Pout = Vt IL = (250 x 195) W = 48.750 W
Pin = Pout + Prugi total = (48.750 + 2950) W
= 51.700 W
Effisiensi

Pout
η= x100%
Pin

48.750
= x100% = 94,3%
51.700

129
3. Sebuah generator kompon panjang memberi tegangan 240 V
pada keluaran beban penuh 100 A. Tahanan dari masing-
masing belitan mesin adalah belitan jangkar 0,10 Ohm,
belitan medan seri 0,02 Ohm, belitan medan shunt 100 Ohm.
Rugi besi pada beban penuh 1000 Watt, rugi-rugi angin dan
gesekan total 500 Watt.
Tentukan effisiensi beban penuh dari generator.

Penyelesaian :
Pout = Vt IL = (240 x 100) Watt = 24000 Watt
Ish = (240/100) A = 2,4 A
Ia = Ise = (100 + 2,4) A = 102,4 A
Belitan total pada jangkar = (0,10 + 0,02) Ohm = 0,12 Ohm
130
Rugi-rugi tembaga pada belitan jangkar
= (102,4)2 (0,12) = 1258,29 Watt
Rugi-rugi tembaga pada belitan medan
= (2,4)2 (100) = 576 Watt
Rugi-rugi besi = 1000 Watt
Rugi-rugi gesekan dan angin = 500 Watt
Rugi-rugi total = (1258.29 + 576 + 1000 + 500)
= 3334,29 Watt
Jadi Effisiensi,  = (24000)/(24000 + 3334,29) x
100 %
= 87,8 %

131
4. Sebuah generator shunt yang berputar dengan kecepatan 300
rpm, mempunyai data- data sbb,
Arus medan (A) : 0 2 3 4 5 6 7
Tegangan : 7,5 92 132 162 183 190 212
jangkar (V)
Gambarkan karakteristik beban nol (tanpa beban) pada
kecepatan 375 rpm dan tahanan medan 40 Ohm.
a. Tentukan harga tahanan yang harus ditambahkan
pada belitan medan untuk mengurangi tegangan
menjadi 200 V pada kecepatan 375 rpm
b. Tanpa menambahkan tahanan, tentukan arus beban
yang disuplai oleh generator jika tegangan terminal
200 V.
132
Abaikan pengaruh reaksi jangkar dan asumsikan kecepatan
generator konstan tahanan jangkar adalah 0,4 Ohm.
Penyelesaian :
Tegangan (emf) induksi akan bertambah sebanding
dengan perbandingan 375/300, sehingga, menjadi :
Arus medan (A) : 0 2 3 4 5 6 7
Tegangan : 9,4 115 165 202,5 228,8 248,8 265
jangkar (V)
Dengan memplot Tegangan jangkar sebagai fungsi arus
medan diatas diperoleh karakteristik beban nol sbb,

133
134
a. Dari gambar karakteristik diatas, diperoleh untuk tegangan
200 V, diperoleh arus medan 3,8 A, sehingga tahanan
medan (Rsh) dapat diperoleh :
Rsh = (200/3,8) Ohm = 52,6 Ohm
Jadi harga tahanan yang harus disisipkan adalah :
Rsisipan = (52,6 – 40) Ohm = 12,6 Ohm
b. Tanpa menambahkan tahanan, arus medan
= (200/40) A = 5 A
Tegangan (emf) pada arus medan 5 A = 228,8 V
Ea = Vt + Ia Ra
Ia Ra = (228,8 – 200) V = 28,8 V
Ia = (28,8/0,4) = 72 A
Arus beban, IL = (72 – 5) = 67 A
135
5. Dua buah generator shunt, bekerja paralel dan
memberikan arus ke beban sebesar 800 A. Kedua
generator tsb masing-masing mempunyai tahanan jangkar
0,02 Ohm dan tahanan medan 50 Ohm. Emf induksi
masing-masing 220 V dan 210 V.
Tentukan tegangan bus bar dan daya output dari masing-
masing generator tsb.

136
Penyelesaian :
Ea1 = Vt + Ia1 Ra1
Ea2 = Vt + Ia2 Ra2
Ia = IL + Ish
Ish = Vt/50

220 = Vt + (IL1+Vt/50) 0,02 (i)


210 = Vt + (IL2+Vt/50) 0,02 (ii)

137
Persamaan (i)–persamaan (ii)  10 = 0,02 (IL1 – IL2)
IL1 – IL2 = 500
IL1 + IL2 = 800
IL1 = 650 A
IL2 = 150 A

220 = Vt + (650+Vt/50) 0,02


Vt = 207 V

Jadi daya output generator G1 = Vt IL

PoutG1 = 207 x 650 = 134550 W


PoutG2 = 207 x 150 = 31050 W
138
MOTOR DC

3.1.Pengertian.

Motor Arus Searah (dc) adalah suatu peralatan yang


berfungsi merubah daya listrik menjadi daya mekanik.
Konstruksi motor arus searah dan generator arus searah
tidak ada perbedaan, jadi pada prinsipnya motor arus
searah dapat digunakan sebagai generator arus searah
demikian juga sebaliknya.

139
3.2. Prinsip Kerja.
• Kalau sebuah kawat yang sudah dialiri arus diletakkan antara
dua buah kutub magnit (utara – selatan), maka pada kawat
itu akan bekerja suatu gaya yang menggerakkan kawat itu.
• Arah gerak kawat itu dapat ditentukan dengan kaidah tangan
kiri dimana bila tangan kiri dibuka diletakkan diantara dua
kutub, sehingga gaya keluar dari kutub utara menembus
telapak tangan kiri dan arus didalam kawat mengalir searah
dengan arah jari-jari, maka kawat itu akan mendapatkan gaya
yang arahnya sesuai dengan arah ibu jari (lihat gambar 3.1.)

140
Gambar 3.1. Kaidah tangan kiri
141
• Besarnya gaya tersebut dapat ditentukan dengan
persamaan :
F = BIl Newton (3.1)
dimana : B = kerapatan flux (Weber)
I = arus listrik yang mengalir (Ampere)
l = panjang konduktor (meter)

3.3.GGL lawan.(back emf)


• Pada saat jangkar motor berputar, kawat juga berputar
memotong fluks sehingga pada kawat tsb akan
diinduksikan ggl dimana arah ggl sesuai dengan kaidah
tangan kanan. Arah ggl induksi berlawanan dengan arah
tegangan (ggl) sumber, sehingga disebut sebagai ggl
lawan.
142
Rangkaian ekivalen motor dc dapat dilihat pada gambar
berikut,

143
• Putaran jangkar akan menghasilkan ggl lawan Ea yang
berlawanan dengan tegangan sumber. Tegangan sumber
menghasilkan arus Ia yang juga berlawanan dengan Ea.
• Daya yang dihasilkan untuk menanggulangi arah yang
berlawanan adalah Ea Ia yang disebut sebagai daya
mekanik (Pm).

netvoltage Vt - E a
Ia = = (3.2)
resis tan ce Ra

dimana : Vt = tegangan sumber


Ea = ggl lawan (Kn)
Ra = tahanan jangkar
144
• Dari persamaan (3.2), maka persamaan ggl lawan dapat
diturunkan,
Ea = Vt - IaR a (3.3)

145
JENIS MOTOR DC

• Sama seperti halnya pada generator dc , motor dc Juga


dibedakan berdasarkan, arus penguatan untuk medan magnit,
yaitu
– Motor dc dengan penguat terpisah, bila arus penguat medan
magnit diperoleh dari sumber dc diluar motor.
– Motor dc dengan penguat sendiri, bila arus penguat medan
magnit berasal dari motor itu sendiri.
• Ditinjau dari cara menghubungkan lilitan-lilitan medan terhadap
lilitan jangkar motor dc dengan penguatan sendiri dibagi juga
menjadi :
– Motor shunt
– Motor seri
– Motor kompon
146
• Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa konstruksi
antara motor dan generator tidak ada perbedaannya, oleh
karena itu bentuk fisik motor dan generator akan sama.
• Letak perbedaannya adalah arah-arah arusnya, dimana
generator menghasilkan/ mengeluarkan tenaga listrik
sedang motor dimasuki tenaga listrik. Dengan adanya
perbedaan ini persamaan arus dan tegangan mengalami
perubahan.

147
MOTOR DC DENGAN PENGUATAN BEBAS

Gambar 3.3. Motor dc dengan penguatan terpisah

148
Persamaan tegangan :
Ea = Vt - IaR a - ΔVsi (3.4)

Vf = IfR f (3.5)
Persamaan arus :

Ia = IL (3.6)

149
MOTOR DC DENGAN PENGUATAN SENDIRI

1. Motor shunt

Gambar 3.3. Motor dc shunt

150
• Persamaan tegangan :
Ea = Vt - IaR a - ΔVsi (3.7)

Vsh = IshR sh (3.8)

• Persamaan arus :

IL = Ia + Ish (3.9)
• Persamaan daya :
Pa = E aIa (3.10)

Pin = VtIL (3.11)

151
2. Motor seri

Gambar 3.5 Motor Seri


152
• Persamaan tegangan :
Ea = Vt - IaR a - IseR se - ΔVsi (3.12)

Ea = Vt - Ia (R a + R se ) - ΔVsi (3.13)

• Persamaan arus :
Ia = Ise = IL (3.14)

• Persamaan daya :
Pin = Vt IL (3.15)

dimana : Rse = tahanan kumparan medan seri


Ise = arus kumparan medan seri
153
3. Motor kompon
a. Motor kompon panjang

Gambar 3.6 Motor dc Kompon Panjang


154
• Persamaan tegangan
E a  Vt - Ia (R a  R se ) - Vsi (3.16)
Vt  IshR sh
(3.17)
• Persamaan arus :
IL = Ia + Ish (3.18)

Ise = Ia (3.19)
• Persamaan daya :
Pin = Vt IL (3.20)

155
b. Kompon pendek

Gambar 3.7. Motor dc Kompon pendek


156
Persamaan tegangan :

E a  Vt - IaR a - IL R se - Vsi (3.21)


Vt  I L Rse
I sh 
Rsh
Persamaan arus
IL = Ia + Ish (3.22)

Ise = IL (3.23)

157
STARTING MOTOR DC

Ada beberapa cara untuk starting motor dc yaitu :


1. Menghubungkan langsung ke jala-jala
2. Menggunakan rheostat
1. Starting motor dc dengan menghubungkan langsung ke jala-jala.
Cara ini merupakan cara yang paling mudah dan sederhana,
tetapi cara ini memerluka arus start yang sangat besar.
Pada saat motor start, n = 0, berarti Ea juga sama dengan nol.
Oleh karena tahanan jangkar umumnya sangat kecil, maka arus
jangkar akan menjadi sangat besar dan ini dapat merusak
kumparan jangkarnya.
Cara ini hanya digunakan pada motor-motor yang sangat kecil

158
2. Menggunakan rheostat.
Rheostat digunakan untuk membatasi arus yang besar
pada saat starting. Gambar berikut menunjukkan tahanan
R yang digunakan untuk starting motor shunt

Gambar 3.8. Starting motor dc menggunakan rheostat


159
• Dari gambar terlihat bahwa tahanan R dipasang seri
dengan belitan jangkar tidak pada motor secara
keseluruhan. Belitan medan dihubungkan langsung ke
line sedemikian sehingga arus medan shunt tidak
dipengaruhi oleh tahanan R.

• Jika R dimasukkan kedalam rangkaian, arus medan


shunt Ish akan kecil pada saat starting, torsi starting
juga akan kecil (Ta  Ia)

160
Gambar 3.9. Hubungan starter motor shunt dengan
tahanan rheostart
161
• Gambar diatas menunjukkan hubungan starter motor
shunt. Untuk lebih sederhana disini menggunakan empat
kontak (empat buah tahanan).
• Jika lengan A pada posisi kontak 1, maka belitan medan
penuh dan pada waktu yang sama arus jangkar menjadi
maksimum, ditunjukkan pada persamaan : I1 =V/R1.dimana
R1 adalah tahanan jangkar dan tahanan starter (lihat
gambar 3.9 ). I1 arus jangkar maksimum pada saat start
biasanya dibatasi 1.5 kali arus beban penuh. Oleh karena
itu motor akan memerlukan torsi 1.5 kali torsi beban penuh.
• Pada saat motor mulai berputar, timbul ggl dan arus
jangkar akan berkurang seperti ditunjukkan kurva ab pada
gambar 3.10.

162
Gambar 3.10. Arus maksimum dan minimum pada waktu start
163
• Kalau arus jangkar jangkar sudah mencapai harga tertentu
IS, lengan A akan berpindah ke kontak ke 2. Harga ggl
lawan pada saat meninggalkan kontak 1 adalah Ea1, maka
arus
I2 = (Vt – Ea1)/R1 (3.24)

• Pada saat lengan A menyentuh kontak 2 arus akan naik


lagi ke harga I1. Oleh karena kecepatan tidak berubah,
maka ggl lawan juga sama seperti sebelumnya.
I1 = (Vt – Ea1)/R2 (3.25)
• Dari persamaan (3.24) dan (3.25),diperoleh
I1 R1
I2
=
R2
(3.26)

164
• Ketika lengan A bertahan beberapa saat pada kontak 2,
kecepatan karenanya juga ggl lawan naik ke harga Ea2,
menyebabkan arus turun ke harga sebelumnya yaitu I2,
sehingga
I2 = (Vt – Ea2)/R2 (3.27)
• Demikian juga ketika pertama kali lengan A menyentuh
kontak 3, arusnya
I1 = (Vt – Ea2)/R3 (3.28)
• Dari persamaan (3.27) dan (3.28), diperoleh :
I1 R2
= (3.29)
I2 R3

165
• Ketika lengan A bertahan beberapa saat pada kontak 3,
kecepatan dan juga ggl lawan naik ke harga Ea3, arus akan
turun ke harga sebelumnya yaitu I2. sehingga
I2 = (Vt – Ea3)/R3 (3.30)
• Pada saat lengan menyentuh kontak 4 arus naik menjadi I1
yang besarnya
I1 = (Vt – Ea3)/Ra (3.31)
• Dari persamaan (3.30) dan (3.31), diperoleh :

I1 R3
= (3.32)
I2 Ra

166
• Dari persamaan (3.26), (3.29) dan (3.32), diperoleh
I1 R1 R 2 R 3
= = = =K (anggap), maka
I2 R 2 R 3 R a

R 3 = KR a ;R 2 = KR 3 = K 2R a (3.33)

R1 = KR3 = K.K 2R a = K 3R a (3.34)


R1  K n 1Ra
• Biasanya, bila banyaknya titikRsambung
/ R  K
antara
n 1 tahanan yang
a
berdekatan, maka banyaknya 1tahanan adalah (n-1).
n 1
 I1  R1
  
I  Ra atau
 2 

atau 167
• Variasi lainnya adalah :

a. n-1 R1 V dan
K = =
Ra I1R a

b. n V I1 V
K = . =
I1R a I2 I2R a

• Oleh karena R1 = V/I1 dan Ra biasanya diketahui dan K


diketahui dari harga arus maksimum dan minimum
(tergantung dari beban waktu start), maka harga n dapat
ditentukan.
168
KARAKTERISTIK MOTOR DC

• Ada tiga karakteristik utama dari motor dc yaitu :


1. Karakteristik torsi – arus jangkar
2. Karakteristik kecepatan – arus jangkar
3. Karakteristik kecepatan - torsi

• Hubungan torsi dan arus dari motor dc dinyatakan dengan


persamaan (1.31) yaitu Ta = kIa (Ta ≈ Ia) dan hubungan antara
putaran dengan  dinyatakan dengan persamaan (1.9) yaitu
Ea = kn (n=Ea/)

169
KARAKTERISTIK MOTOR DC SHUNT

1. Karakteristik torsi – arus jangkar


Pada motor shunt, bila tegangan terminal Vt konstan, maka
arus medan (Ish) konstan sehingga  juga konstan, sehingga
T  Ia. Karakteristiknya merupakan garis lurus
2. Karakteristik kecepatan – arus jangkar
Oleh karena  konstan, maka n  Ea.
Ea juga praktis konstan sehingga n juga konstan .

3. Karakteristik kecepatan – torsi


Karakteristik ini dapat diturunkan dari karakteristik 1 dan 2.

170
a b c
Gambar 3.11. Karakteristik motor shunt

171
KARAKTERISTIK MOTOR DC SERI

1. Karakteristik torsi – arus jangkar


Pada motor seri, oleh karena Ia = Ish , maka   Ia,
sehingga T  Ia2
Pada beban yang ringan, Ia dan juga  kecil (berada pada
daerah tak jenuh), tetapi bila Ia bertambah Ta juga
bertambah sebanyak kwadrat arus jangkar.
Oleh karena itu karaktersitik berbentuk para bola seperti
ditunjukkan pada gambar (a).

172
2. Karakteristik kecepatan – arus jangkar
Perubahan Ea terhadap arus beban sangat kecil sehingga
dapat diabaikan. Jika Beban bertambah (Ia bertambah),  juga
bertambah, oleh karenanya kecepatan berbanding terbalik
dengan arus jangkar ditunjukkan gambar (b). Jika bebannya
berat, Ia besar, kecepatan rendah, Ea akan turun. Tetapi bila
arus beban dan berarti pula arus jangkar kecil, maka
putarannya akan menjadi sangat besar (tak terhingga), ini
sangat membahayakan. Oleh karena itu motor seri dalam
operasinya harus selalu dikopel dengan beban.

3. Karakteristik kecepatan-torsi
Karakterisk ini diperoleh dari kenyataan bahwa bila kecepatan-
nya besar, maka torsinya kecil, dapat dilihat pada gambar c

173
a b c
Gambar. 3.12. Karaktersitik motor seri
174
KARAKTERISTIK MOTOR DC KOMPON

Motor ini mempunyai dua belitan yaitu belitan medan seri dan
medan shunt.
Bila belitan medan serinya memperkuat medan shunt disebut
sebagai kompon komulatif dan juga belitan seri berlawanan
dengan medan shunt disebut sebagai kompon differensial.
Karakteristik motor ini berada diantara motor shunt dan motor
seri

175
Gambar 3.13. Karakteristik motor kompon
176
PENGEREMAN LISTRIK MOTOR DC

Sebenarnya motor listrik dapat berhenti karena adanya gesekan,


tetapi hal ini tentu saja membutuhkan waktu yang relatif lama.
Untuk dapat menghentikan putaran motor dalam waktu yang
relatif cepat dilakukan pengereman.
Ada tiga cara pengereman motor dc yaitu :
1. Pengereman regeneratif (regnerative braking)
2. Pengereman dinamik (dynamic braking)
3. Pengeraman mendadak (plugging atau counter
current braking)

177
Representasi empat kwadran dari mesin-mesin listrik

Gambar 3.14. Diagram 4 kwadran dari representasi kurva


kecepatan-torsi dari mesin-mesin listrik
178
A. Pengereman motor shunt.
1. Pengereman regeneratif (regnerative
braking)
Adalah pengereman yang dilakukan dengan cara
mengembalikan energi yang ke jala-jala.
Bila oleh karena bebannya, kecepatan motor naik melebihi
putaran motor pada keadaan tanpa beban, maka Ea  Vt.
Ia akan menjadi negatip mengalir ke jala-jala.
Jadi motor akan bekerja sebagai generator yang bekerja
paralel dengan jala-jala.
Hal ini mengakibatkan daya dikembalikan ke jala- jala
kecepatan motor akan menurun.

179
Gambar 3.15. Pengereman regeneratif pada motor shunt
180
2. Pengereman dinamik.
Pengereman ini dilakukan dengan mengganti tegangan
terminal Vt ((jangkar ) dengan sebuah tahanan R variabel.
Selanjutnya tegangan yang dihasilkan diubah menjadi
panas, dalam hal ini motor sekarang berfungsi sebagai
generator dengan penguat terpisah.
Dengan mengubah-ubah tahanan variabel akhirnya motor
akan berhenti berputar.

181
Gambar 3.16. Pengereman dinamik pada motor shunt
182
3. Pengereman mendadak.
Pengereman mendadak adalah pengereman motor dalam
waktu yang sangat cepat dan tiba-tiba, dilakukan dengan
cara membalik polaritas motor.
Hal ini akan meyebabkan tegangan jangkar akan terbalik
polaritasnya sehingga arahnya sama dengan tegangan
terminal.
Untuk mencegah arus jangkar besar pada saat pengereman
biasanya disisipkan suatu tahanan yang besarnya kira-kira
dua kali tahanan pada waktu starting.
Selama proses pengereman Ea akan turun, untuk menjaga
penurunan torsi yang konstan, tahanan Re harus diturunkan.
Bila kecepatannya sudah turun sampai nol, maka hubungan
jangkar harus dibuka (dilepaskan dengan jala-jala) karena
kalau tidak motor berputar terbalik.

183
Gambar 3.17. Pengereman mendadak pada motor shunt
184
B. Pengereman motor seri
1.Pengereman regeneratif (regnerative
braking)
Cara pengereman ini tidak dapat dilakukan pada motor seri,
sebab dengan membaliknya arus jangkar (Ia), berarti juga
akan membalikkan arus medan dan juga Ea.
(Jadi tidak mungkin diperoleh keadaan Ea  Vt)
2.Pengereman dinamik.
Hubungan suplai dengan motor dilepas, hubungan medan
menjadi terbalik dan motor dihubungkan seri dengan
tahanan variabel R seperti terlihat pada gambar 3.18.
Sekarang mesin berputar sebagai generator.
Karena hubungan medan terbalik, akan menyebabkan arus
yang mengalir pada belitan medan dengan arah yang sama
seperti arah sebelumnya.(dari M ke N). Disini tahanan
variabel selain digunakan untuk pengereman juga digunakan
pada waktu starting. 185
Gambar 3.18 Pengereman dinamik pada motor seri

186
3. Pengereman mendadak
Sama seperti halnya pada motor shunt, hubungan jangkar
juga dibalik dan tahanan variabel dipasang seri dengan
belitan jangkar.
Bila kecepatannya sudah turun sampai nol, maka
hubungan jangkar harus dibuka (dilepaskan dengan jala-
jala) karena kalau tidak motor berputar terbalik.

187
Gambar 3.19 Representasi 4 kwadran motor seri
pada saat pengereman mendadak
188
PENGATURAN KECEPATAN MOTOR DC

Sebagai mana pada tiap-tiap alat penggerak lainnya, juga


motor dc selalu diperlukan pengaturan dengan sempurna
Kecepatan motor dc dapat diturunkan dari persamaan :

Vt IaR a (3.36)
n=

Dari persamaan diatas kecepatan motor dc dapat diatur
dengan :
– mengatur tahanan jangkar, Ra
– mengatur fluksi magnit ()
– mengatur tegangan jepit (Vt)

189
A. Pengaturan kecepatan motor shunt
1. Pengaturan kecepatan motor dengan mengatur tahanan
jangkar (Ra)
Dilakukan dengan menyisipkan suatu tahanan variabel
yang dipasang seri dengan tahanan jangkar.
Dengan mengatur tahanan variabel, tahanan jangkar juga
akan turut diatur berarti pula kecepatan motor dapat diatur.

190
Gambar 3.20. Pengaturan tahanan jangkar dan  pada
motor shunt
191
2. Pengaturan kecepatan motor dengan mengatur fluks.
Dilakukan dengan memasang suatu tahanan variabel yang
dipasangkan seri dengan kumparan medan shunt atau paralel
dengan medan jangkar.
Dengan mengubah-ubah tahanan variabel akan mengakibat-
kan perubahan arus medan sekaligus merubah  (gambar
3.20)

3. Pengaturan kecepatan motor dengan mengatur tegangan


terminal
Cara ini disebut dengan sistem Ward Leonard

192
Gambar 3.21. Pengaturan tegangan terminal dengan
sistem ward leonard
193
Penggerak mula (motor induksi) digunakanmenggerakkan
generator G pada suatu kecepatan yang konstan.
Perubahan tahanan medan Rg (tahanan pengatur medan
generator G) akan merubah tegangan jepit Vt yang diberikan
pada motor yang diatur kecepatannya (M). Kadang-kadang
pengaturan Vt ini juga dibarengi dengan fluksi medan motor,
yaitu dengan mengatur tahanan medan RM.
Cara ini menghasilkan suatu pengaturan kecepatan yang
sangat halus, tetapi biayanya sangat mahal.

194
B. Pengaturan kecepatan motor seri
1. Mengatur .
a. Menggunakan divertor medan
Divertor dipasang paralel dengan tahanan medan seri.
Dengan mengubah-ubah divertor akan mengakibatkan
perubahan arus medan seri sekaligus mengubah .
b. Menggunakan divertor jangkar.
Divertor dipasang paralel dengan jangkar, dapat digunakan
untuk menurunkan kecepatan dari kecepatan normalnya.
Untuk menghasilkan torsi beban yang konstan, bila Ia harus
dikurangi dengan mengatur divertor yang berarti  harus
dinaikkan. (jadi Ta   Ia).
Ini akan menghasilkan kenaikan arus suplai (yang berarti
menaikkan ) dan akan menurunkan kecepatan (n  I/).
Jadi kecepatan dapat diatur dengan mengatur tahanan
divertor. 195
Gambar 3.22. Divertor medan
196
Gambar 3.23. Divertor jangkar

197
2. Tahanan variabel dipasang seri dengan motor.
Dengan menambahkan tahanan yang seri terhadap jangkar,
maka tegangan jangkar terminal dapat diturunkan.
Dengan mengurangi tegangan jangkar, maka kecepatan
motor juga akan berkurang.

198
Gambar 3.24. Tahanan variabel yang dipasang seri
dengan jangkar
199
SOAL-SOAL MOTOR DC

1. Sebuah Motor DC Shunt, mempunyai tahanan jangkar


0,2 Ohm, mengambil arus 120 A dari tegangan jala-jala
440 V dan berputar pada 800 rpm. Bila momen putar
total yang ditimbulkan tidak berubah, tentukan
kecepatan dan arus jangkar jika medan magnet
dikurangi 60 % dari harga semula.

200
Penyelesaian
N2 E b 2 φ 1
= x
N1 E b1 φ 2

• Momen putar yang timbul sama, maka φ1Ia1 = φ 2Ia2


φ 1x120 = 0,6φ 1I a 2
• Ia2 = 120/0,6 = 200 A
• Ea1 = 440 – (120 x 0,2) = 416 V
• Ea2 = 440 – (200 x 0,2) = 400 V
N2 400 φ1
= x
800 416 0,6φ1
800x 400
N2 = = 1281rpm
416x0,6
201
2. Sebuah motor seri 50 hp, 500 V, berputar dengan
kecepatan 750 rpm pada beban penuh dan efisiensi 90 %.
Bila torsi beban 350 N-m, tahanan sebesar 5 Ohm dipasang
seri dengan mesin, tentukan putaran mesin. (anggap
rangkaian medan berada pada daerah tidak saturasi) dengan
belitan jangkar dan belitan mesin = 0.5 Ohm

202
Penyelesaian :
Karena rug-rugi diabaikan, Pout = Pin
Pout = Pin = 50 x 746 = 37300 W
Torsi yg terjadi pada beban penuh = T x 2π N = 37300 W
Torsi beban,T1 = (37300/2 (750/60) = 474.6 N-m
Arus input jangkar, Ia1 = 37300/0,9 x 500 = 82.9 A
T2 = 350 N-m , Ia2 = ?
Pada daerah tidak saturasi, untuk motor seri   Ia sehingga
T  Ia2
(Ia2/Ia1)2 = (T2/T1),
(Ia2/82.9)2 = (350/474,6), dari sini diproleh
Ia2 = 82,9 x  (350/474,6) = 71.2 A
203
Ea1 = 500 – 82,9(5 + 0.5) = 44.05 V
Ea2 = 500 – 71.2 (5 + 0,5) = 108.4 V
(N2/N1) = (Ea2/Ea1) x (Ia1/Ia2)
(N2/750) = (108.4/44.05) x (82.9/71.2),
diperoleh N2 = 2150 rpm.

204
3. Sebuah motor shunt 200 V, menghasilkan daya output 17.158
kW jika daya inputnya adalah 20.2 kW. Tahanan belitan
medan dan jangkar masing-masing 50 Ohm dan 0.06 Ohm.
Tentukan effisiensi dan daya input jika daya output-nya adalah
7.46 kW

205
Penyelesaian :
Kasus I
Poutput = 17158 W
Pin = 20200 W
Rugi-rugi total, Prugi = 20200 – 17158 = 3042 W
Arus input, IL = 20200/200 = 101 A
Arus pada medan shunt, Ish = 200/50 = 4 A
Ia = 101 – 4 = 97 A
Rugi-rugi tembaga pada jangkar = (97)2 0.06
= 564.5 W
Rugi-rugi yang tetap = 3042 – 564.5 =2477.5 W

206
Kasus II
Bila arus jangkar Ia, maka arus input, IL = (Ia + 4)
Daya input, Pin = Pout + Ia2 Ra + rugi-rugi yang tetap
200 (Ia + 4) = 7460 + 0.06 Ia2 + 2478
Atau 0.06 Ia2 –200 Ia + 9138 = 0,
dengan menggunakan rumus abc, diperoleh
Ia1 = 3283.3 A
Ia2 = 46 A
Dengan menggunakan arus yang besar akan dapat
menyebabkan keadaan tidak stabil pada motor, maka
digunakan arus = 46 A
207
IL = Ia + Ish = 46 + 4 = 50 A
Pin = (200 x 50)/1000 = 10 kW
 = (7460/10000) x 100 % = 74.6 %

208
4. Sebuah motor kompon panjang, 20 Hp, 440 V, mempunyai
tahanan belitan jangkar, belitan shunt dan belitan seri
masing-masing 0.05, 200 dan 0.8 Ohm.
Rugi tegangan pada sikat 2 V. Tentukan ggl lawan yang
dihasilkan bila effisiensi motor 80 %.

209
Penyelesaian :

Ea = Vt – Ia Ra – Ia Rse - Vsi
Pout = 20 x 746 = 14920 Watt
Pin = (Pout/) = (14920/0.8) = 18650 Watt
Ish = (440/200) = 2.2 A
IL = (18650/440) = 42.39 A
Ia = IL – Ish = (42.39 – 2.2) = 40.19 A
Ea = 440 – 40.19 (0.8 + 0.05) – 2 = 403.84 V

210
5. Sebuah Motor DC Seri 500 V, mempunyai tahanan 0,2
Ohm, berputar pada 400 rpm bila menarik arus dari
jala-jala 60 A
Tentukan : kecepatannya bila motor tersebut menarik
arus 30 A dengan fluksi 35 % lebih kecil dari fluksi
untuk arus 60 A

211
5. Sebuah Motor DC Seri 500 V, mempunyai tahanan 0,2
Ohm, berputar pada 400 rpm bila menarik arus dari
jala-jala 60 A
Tentukan : kecepatannya bila motor tersebut menarik
arus 30 A dengan fluksi 35 % lebih kecil dari fluksi
untuk arus 60 A

212
Penyelesaian
Ea1 = Vt – Ia1 ( Ra + Rse)
= 500 – 60(0,2)
= 488 V
Ea2 = Vt – Ia2 ( Ra + Rse)
= 500 – 30(0,2)
= 494 V
N2 Eb2 φ1
= x
N1 E b1 φ 2

N2 494 φ1 400x 494


= x N2 = = 622rpm
400 488 0,65φ1 488x0,65
213
214
215
Sebuah generator seri memberi tegangan 240 V pada
keluaran beban penuh 100 A. Tahanan dari masing-
masing belitan mesin adalah belitan jangkar 0,10 Ohm dan
belitan medan seri 0,02 Ohm.
Rugi besi pada beban penuh 1000 Watt, rugi-rugi angin dan
gesekan total 500 Watt.
Tentukan effisiensi beban penuh dari generator.

216
Penyelesaian :
Pout = Vt IL = (240 x 100) Watt = 24000 Watt
Ia = Ise = 100 A
Belitan total pada jangkar = (0,10 + 0,02) Ohm = 0,12 Ohm
Rugi-rugi tembaga pada belitan jangkar
= (100)2 (0,12) = 1200 Watt
Rugi-rugi besi = 1000 Watt
Rugi-rugi gesekan dan angin = 500 Watt
Rugi-rugi total = (1200 + 1000 + 500)
= 2700 Watt

217
Jadi Effisiensi,  = (24000)/(24000 + 2700) x
100 %
= 89,88 %

218
219
220
221
222
223
224
225
226
227
228
229

Anda mungkin juga menyukai