Anda di halaman 1dari 78

PARADIGMA BARU

PENYUSUNAN ANGGARAN

1
Daftar Isi

 Bab 1: Konsepsi Fungsi Penganggaran


 Bab 2: Fungsi Penganggaran Saat Ini
 Bab 3: Peningkatan Kapasitas dan Kualitas
Fungsi Penganggaran
 Bab 4: Potensi Korupsi dalam Penyelenggaraan
Fungsi Penganggaran

Daftar Isi
2
Tujuan:
1. Memahami fungsi penganggaran
yang baik.
2. Menyadari fungsi penganggaran yang
terjadi saat ini.
3. Mampu meningkatkan kapasitas diri
dan organisasi dalam melaksanakan
fungsi penganggaran

Tujuan Workshop
3
Bab 1
Konsepsi Fungsi Penganggaran

4
I. Gambaran Umum
A. Prinsip Penganggaran:
 Semua penerimaan (uang, barang, dan atau jasa)
dianggarkan dalam APBD.
 Seluruh pendapatan, belanja, dan pembiayaan
dianggarkan secara bruto.
 Jumlah pendapatan merupakan perkiraan terukur
dan dapat dicapai serta berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
 Penganggaran pengeluaran harus didukung
dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan
dalam jumlah cukup dan harus diperkuat dengan
dasar hukum yang melandasinya.
I. Gambaran Umum
B. Dasar Hukum Penyelenggaraan Keu Daerah
1. UU No.17/2003 tentang Keuangan Negara
2. UU No.25/2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional
3. UU No.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah
4. UU No.33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
5. PP No.20/2004 tentang Penyusunan RKP
6. PP No.21/2004 tentang Penyusunan RK dan Anggaran
Kementerian Negara/Kelembagaan
7. PP No.58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
8. Permendagri No.13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah
I. Gambaran Umum
B. Dasar Hukum Penyelenggaraan Keu Daerah
• SE Mendagri No.050/2020/SJ Tahun 2005 tentang
Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP dan RPJM
Daerah
• Permendagri tentang Pedoman Penyusunan APBD
• Nilai-nilai Kearifan Lokal
• Kondisi Ekonomi Makro
• Aspirasi Masyarakat
I. Gambaran Umum
C. Fungsi APBD:
• Otorisasi: dasar untuk melaksanakan pendapatan dan
belanja pada tahun yang bersangkutan.
• Perencanaan: pedoman bagi manajemn dalam
merencanakan kegiatan pada tahun yang
bersangkutan.
• Pengawasan: pedoman penilaian kegiatan
penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan
ketentuan.
• Alokasi: menciptakan lapangan kerja (mengurangi
pengangguran dan pemborosan SD) serta
meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian.
• Distribusi: kebijakan harus memperhatikan keadilan
dan kepatuhan.
• Stabilisasi: alat untuk memelihara dan mengupayakan
keseimbangan fundamental perekonomian daerah.
I. Gambaran Umum
D. Urusan Pemerintahan:
1. Urusan Wajib:
Pendidikan, Kesehatan, Pekerjaan Umum,
Perumahan, Penataan Ruang, Perencanaan
Pembangunan, Perhubungan, Lingkungan Hidup,
Pertanahan, Kependudukan dan Catatan Sipil,
Pemberdayaan Perempuan, KB dan Keluarga
Sejahtera, Sosial, Tenaga Kerja, KUKM, Penanaman
Modal, Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga,
Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri,
Pemerintahan Umum, Kepegawaian, Statistik dan
Kearsipan, Komunikasi dan Informasi
I. Gambaran Umum
2. Urusan Pilihan:
Pertanian, Kehutanan, Energi dan Sumber Daya Mineral,
Pariwisata, Kelautan dan Perikanan, Perdagangan,
Perindustrian, Transmigrasi
II. Struktur APBD (1)

A. Struktur APBD (Umum)


 Klasifikasi Belanja menurut urusan
pemerintahan daerah (wajib dan pilihan),
organisasi, program, kegiatan, kelompok, jenis,
objek, dan rincian objek belanja.
 Pemisahan kebutuhan belanja antara aparatur
dan pelayanan publik tercermin dalam program
dan kegiatan.
 Belanja dikelompokkan dalam kelompok
belanja langsung dan belanja tidak langsung
untuk mendorong tercitanya efisiensi.
 Restrukturisasi jenis belanja
II. Struktur APBD (2)
B. Struktur APBD
PENDAPATAN:
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
 Pajak Daerah
 Retribusi daerah
 Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
 Lain-lain PAD yang sah
Dana Perimbangan
 Dana Bagi Hasil
 Dana Alokasi Umum (DAU)
Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah
 Hibah
 Dana Darurat
 Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemda lainnya
 Dana Penyesuaian dan Dana OTSUS
 Bantuan keuangan dari Provinsi atau Pemda lainnya
II. Struktur APBD (3)
BELANJA
Belanja Tidak Langsung
 Belanja Pegawai
 Belanja Subsidi
 Belanja Hibah
 Belanja Bantuan Sosial
 Belanja Bagi Hasil
 Belanja Bantuan Keuangan
 Belanja Tak Terduga
Belanja Langsung
 Belanja Pegawai
 Belanja Barang & Jasa
 Belanja Modal
II. Struktur APBD (4)
PEMBIAYAAN
Penerimaan Pembiayaan:
 Selisih lebih perhitungan (SILPA) anggaran tahun
sebelumnya
 Pencarian dana cadangan
 Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan
 Penerimaan pinjaman daerah
 Penerimaan kembali pemberian pinjaman
 Penerimaan piutang daerah
Pengeluaran Pembiayaan :
 Pembentukan dana cadangan
 Penyertaan modal pemda
 Pembayaran pokok utang
 Pemberian pinjaman
III. Perencanaan & Penganggaran Daerah (1)

A. Umum
 Disusun sesuai dengan kewenangan daerah

sebagai satu kesatuan dalam sistem


perencanaan nasional.
 Jangka Panjang, Jangka Menengah, dan

Jangka Pendek (Tahunan)


 Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara

perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan,


evaluasi, dan pengendalian.
III. Perencanaan & Penganggaran Daerah (2)
B. Alur Perencanaan & Penganggaran
III. Perencanaan & Penganggaran Daerah (3)
C. Fungsi Perencanaan
RPJP-D berfungsi:
 Pedoman penyusunan Visi, Misi, dan Program Prioritas para
Calon Kepala Daerah.
 Pedoman dalam penyusunan RPJM Daerah
 RPJP-D Provinsi menjadi acuan penyusunan RPJP-D
Kabupaten/Kota

RPJM-D berfungsi:
 Pedoman bagi Kepala SKPD untuk menyempurnakan
Rancangan Renstra SKPD menjadi Renstra SKPD.
 Bahan utama penyusunan RKP Daerah
 Dasar evaluasi dan laporan pelaksanaan atas kerja KDH
 RPJM-D Provinsi merupakan bahan masukan dalam
penyusunan RPJM-D Kabupaten/Kota
III. Perencanaan & Penganggaran Daerah (3)

RKP-D digunakan sebagai:


 Pedoman penyempurnaan rancangan Renja SKPD
 Pedoman dalam penyusunan KUA dan PPAS dalam rangka
penyusunan APBD tahun berjalan.
IV. Penyusunan KUA dan PPAS (1)

A. KU – APBD
Sinkronisasi penyusunan rancangan APBD
dan APBN
(UU No.17/2003, UU No.25/2004, UU No.32/2004 dan
UU No.33/2004)
IV. Penyusunan KUA dan PPAS (2)
Renstra SKPD RPJMD RPJM

Renja SKPD RKPD RKP

KUA PPAS

Nota Kesepakatan Dibahas Bersama DPRD


Pimp. DPRD dan KDH

Pedoman Penyusunan
RKA-SKPD RKA-SKPP

TAPD Bagan
Penyusunan
RAPERDA APBD KUA dan PPAS
IV. Penyusunan KUA dan PPAS (3)
Kebijakan Pemb Nas Kerangka Ekonomi Makro dan Prioritas Pembangunan
dan Keu Da
RPJMD Evaluasi Kinerja Masa Lalu
Jaring Asmara
Musrenbang
RKPD
DPRD
KUA & PPAS
Renstra SKPD
PAN ANGGR
PEMDA
Klarifikasi
Renja SKPD Per. KDH Pedoman RAPBD
SKPD
Penyusunan RKA-SKPD
Konsultasi
Publik
RKA-SKPD TAPD

Persetujuan
Tahapan Penyusunan RAPBD Pengajuan RAPBD Raperda APBD
dan Penetapan Perda
Evaluasi
APBD PERDA APBD Raperda APBD
IV. Penyusunan KUA dan PPAS (4)

1. Pengertian KUA

Kebijakan Umum Anggaran (KUA):


Sasaran dan kebijakan daerah dalam satu tahun
anggaran yang menjadi petunjuk dan ketentuan
umum yang disepakati sebagai pedoman
penyusunan RAPBD dan RP APBD
IV. Penyusunan KUA dan PPAS (5)

2. Ruang Lingkup dan Sistematika KUA

Bab I Pendahuluan
 Kondisi/prestasi yang dicapai pada tahun sebelumnya, tahun
berjalan, dan perkiraan pencapaian tahun anggaran yad
 Perkiraan pencapaian tahun yad
 Identifikasi masalah/hambatan dan tantangan tahun berjalan
dan tahun yad
IV. Penyusunan KUA dan PPAS (6)
Bab II Gambaran Umum RKPD
 Prioritas pembangunan daerah yang diamanatkan dalam RKPD
untuk menyelesaikan masalah dan tantangan dalam upaya
mewujudkan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam
RPJMD

Bab III Kerangka ekonomi makro dan implikasi


terhadap sumber pendanaan
 Uraian kebijakan penganggaran sesuai dengan kebijakan
pemerintah.
 Kondisi yang berbeda akan menghasilkan target/ sasaran yang
berbeda
 Perkiraan penerimaan untuk mendanai seluruh pengeluaran
pada tahun yad

Bab IV Penutup
IV. Penyusunan KUA dan PPAS (6)

B. PPAS

1. Pengertian PPAS
Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS):
Program prioritas dan patokan batas maksimal
anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk
setiap program dan kegiatan sebagai acuan
dalam penyusunan RKA – SKPD
IV. Penyusunan KUA dan PPAS (7)

KUA

Tentukan skala prioritas dalam


urusan wajib dan urusan pilihan

Tentukan urutan program dalam


masing-masing urusan pemerintahan
(wajib dan pilihan)

Menyusun plafon anggaran sementara


untuk masing-masing program
(berdasarkan prioritas kegiatan)

Langkah-langkah dalam Pembahasan PPAS


IV. Penyusunan KUA dan PPAS (7)

2. Ruang Lingkup dan Sistematika PPAS

Bab I Pendahuluan
Kondisi/prestasi yang telah dicapai perkiraan pencapaian tahun
yad dan identifikasi masalah dan tantangan

Bab II Kebijakan Umum APBD


Gambaran singkat target pencapaian kinerja setiap urusan
berdasarkan proyeksi anggaran
IV. Penyusunan KUA dan PPAS (8)
Bab III Proyeksi Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan Daerah
 Asumsi makro ekonomi yang disepakati terhadap implikasi
kemampuan fiskal daerah
 Kebijakan yang ditempuh dalam upaya peningkatan pendapatan
daerah
 Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak terjadinya peningkatan
belanja daerah
 Kebijakan pemerintah daerah di bidang pembiayaan daerah
tahun anggaran berkenaan
Bab IV Prioritas Program dan Plafon Anggaran
Uraian tentang prioritas program dan plafon anggaran yang
disepakati:
 Capaian Program
 Dasar pertimbangan penentuan besaran pagu indikatif untuk
mencapai sasaran program
 Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian SKPD dalam
menjabarkan program lebih lanjut ke dalam masing-masing
kegiatan
Bab V Penutup
PROSES EVALUASI PERDA APBD PROVINSI &
PERATURAN GUBERNUR TTG PENJABARAN APBD
(Ps 185 & 187 UU 32/2004)

Membuat
RAPERGUB GUBERNUR
RAPERDA Sebesar Pengesahan
menetapkan
APBD Tidak Setuju Pagu APBD MDN
(30 Hari) PER-GUB
Tahun Lalu
(15 hari)

Dibahas bersama
DPRD DPRD & Pemda
GUBERNUR
menetapkan
Penyempurnaan
(7 Hari)
PERDA &
Melewati PER-GUB
Setuju Batas waktu Tdk Sesuai
Evaluasi Dgn UU
Tdk
Disempurnakan
RAPERGUB
Penyampaian
PENJABARAN APBD RAPERDA APBD &
Hasil
RAPERGUB MDN Evaluasi MDN membatalkan
APBD (15 hari) Berlaku Pagu APBD
(3 hari) Sebelumnya

Sesuai
dgn UU
PROSES EVALUASI PERDA APBD KAB/KOT &
PERATURAN BUP/WAL TTG PENJABARAN APBD
(Ps 186 & 187 UU 32/2004)

Membuat
RAPERBUP/WAL Bupati/Walikota
RAPERDA Sebesar Pengesahan
menetapkan
APBD Tidak Setuju Pagu APBD Gubernur
(30 Hari) PER-BUP/WAL
Tahun Lalu
(15 hari)

Dibahas bersama
DPRD DPRD & Pemda
Bupati/Walikota
menetapkan
Penyempurnaan
(7 Hari)
PERDA &
Melewati PER-BUP/WAL
Setuju Batas waktu Tdk Sesuai
Evaluasi Dgn UU
Tdk
Disempurnakan
RAPERBUP/WAL
Penyampaian
PENJABARAN APBD RAPERDA APBD &
Hasil
RAPERBUP/WAL GUBERNUR Evaluasi GUB membatalkan
APBD (15 hari) Berlaku Pagu APBD
(3 hari) Sebelumnya

Sesuai
dgn UU
Laporan kpd
MDN
V. Perubahan APBD (1)
1. Umum
 Secara umum, setelah diketahui secara pasti Sisa
Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA)
 Pengeluaran yang dilakukan sebelum diketahui
SILPA secara pasti maka ditampung dalam
Perubahan APBD
 Pengeluaran yang dilakukan setelah Perubahan
APBD ditetapkan dan dilaporkan melalui Laporan
Realisasi Anggaran
V. Perubahan APBD (2)
2. Alasan Perubahan APBD
 Perkembangan yang tidak sesuai dengan esensi KUA

 Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan

pergeseran anggaran antar-unit organisasi, antar-


kegiatan, dan antar-jenis belanja.
 Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih

tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun


berjalan
 Keadaan darurat

 Keadaan luar biasa


V. Perubahan APBD (3)

3. Pengertian Perubahan APBD


Perubahan APBD merupakan penyesuaian
capaian target kinerja dan/atau prakiraan/rencana
keuangan tahunan pemerintahan daerah yang
telah ditetapkan sebelumnya untuk dibahas dan
disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah dan
DPRD serta ditetapkan dengan Perda.
V. Perubahan APBD (4)
4. Rancangan Kebijakan Umum Perubahan Anggaran
(KUPA) dan PPAS Perubahan APBD
 Perbedaan asumsi dengan KUA yang ditetapkan
 Program dan kegiatan yang dapat diusulkan harus
mempertimbangkan sisa waktu pelaksanaan APBD
 Capaian kinerja program dan kegiatan yang harus
dikurangi dalam perubahan APBD bila asumsi KUA
tidak tercapai
 Capaian target kinerja program dan kegiatan yang
harus ditingkatkan dalam Perubahan APBD bila
melampaui asumsi KUA
V. Perubahan APBD (5)

5. Kebijakan Umum dan PPAS Perubahan APBD


Perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi
KUA:
 asumsi ekonomi makro yang telah disepakati

terhadap kemampuan fiskal daerah, pelampauan


atau tidak tercapainya proyeksi pendapatan daerah
 faktor-faktor peyebab peningkatan belanja daerah

 kebijakan di bidang pembiayaan diformulasikan

dalam rancangan KUPA dan PPAS P-APD


V. Perubahan APBD (6)
6. Rancangan Ancangan KUPA dan PPAS P-APBD
Disampaikan kepada DPRD untuk dituangkan dalam Nota
Kesepakatan yang kemudian dibuatkan SE-KDH yang memuat:
 PPA-P APBD yang dialokasikan untuk program dan kegiatan
baru serta kriteria DPA-SKPD yang dapat diubah pada setiap
SKPD berikut rencana pendapatan dan belanja serta
pembiayaan.
 Sinkronisasi program dan kegiatan SKPD dengan Program
Nasional dan antar-Program SKPD sesuai dengan SPM yang
ditetapkan.
 Hal-hal lain yang terkait dengan prinsip efisiensi, efektifitas,
transparansi dan akuntabiltas dalam rangka pencapaian
prestasi kerja.
 Dokumen lampiran meliputi KUPA, PPA-PAPBD, format RKA-
SKPD dan DPPA-SKPD, analisis standar biaya, dan standar
satuan harga serta kode rekening.
V. Perubahan APBD (7)
7. Penggunaan SILPA
 Membayar bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah
yang melampaui anggaran yang tersedia sebelum perubahan
APBD DPPA – SKPD.
 Melunasi seluruh kewajiban bunga dan pokok utang  DPPA-
SKPD.
 Melunasi kenaikan gaji dan tunjangan PNS akibat adanya
kebijakan pemerintah  DPPA – SKPD.
 Mendanai program dan kegiatan baru yang harus diselesaikan
pembayarannya pada tahun berjalan  RKA – SKPD.
 Mendanai kegiatan lanjutan  Dokumen Pelaksanaan Anggaran
Lanjutan (DPAL) – SKPD
 Mendanai kegiatan yang capaian target kinerjanya ditingkatkan
dari yang ditetapkan dalam DokumenPelaksanaan Anggaran
(DPA) – SKPD Dokumen Perubahan Pelaksanaan Anggaran
(DPPA) - SKPD
V. Perubahan APBD (8)
8. Penetapan PERDA & Perubahan APBD
 Materi dalam Perda tentang P-APBD dan Perkada

tentang Penjabaran P-APBD terdiri dari pendapatan,


belanja, dan pembiayaan yang berubah dan yang tidak
berubah.
 Perda P-APBD terdiri dari batang tubuh dan lampiran

yang terdiri dari:


• Ringkasan P-APBD
• Ringkasan P-APBD menurut urusan pemerintahan (wajib &
pilihan), organisasi, pendapatan, belanja, dan pembiayaan.
• Rekapitulasi perubahan belanja aerah untuk keselarasan
dan keterpaduan urusan pemerintahan dan fungsi dalam
kerangka pengelolaan keuangan negara
V. Perubahan APBD (9)
8. Penetapan PERDA & Perubahan APBD (lanjutan)

• Daftar perubahan jumlah PNS per golongan dan per


jabatan.
• Laporan Keuangan Pemda yang telah ditetapkan dengan
Perda.
• Daftar kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum
diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun
anggaran ini.
• Daftar pinjaman daerah
Bab 2
Fungsi Penganggaran Saat Ini

40
Penyusunan KUA
1. Upaya jaring asmara yang dilakukan belum efektif

 DPRD dan Pemerintah Daerah tidak


mengetahui kebutuhan rakyat.
 KUA tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat.

Fungsi Penganggaran Saat Ini


41
Penyusunan KUA (2)

1. Adanya kepentingan individu, kelompok, dan


golongan dalam proses perumusan KUA.

 Kebutuhan rakyat kurang terakomodir.

Fungsi Penganggaran Saat Ini


42
Penyusunan KUA (3)

1. RPJMD dan Renstra-SKPD:


 Belum banyak pemerintah daerah yang
mampu menyusun RPJMD dan Renstra-
SKPD dengan baik.

Arah pembangunan tidak jelas:


 Kesinambungan pembangunan sulit dicapai.
 KUA tidak mencerminkan kebutuhan rakyat.

Fungsi Penganggaran Saat Ini


43
Penyusunan KUA (4)

1. Kurangnya kapasitas anggota DPRD dan


pemerintah daerah dalam merumuskan KUA.

 KUA tidak sesuai dengan masukan rakyat


(hasil jaring asmara).
 KUA tidak sesuai dengan RPJMD, Renstra-
SKPD, dan RKPD (tidak sejalan dengan
arah pembangunan daerah).

Fungsi Penganggaran Saat Ini


44
Penyusunan PPAS

1. Mark up nilai anggaran.


2. Kurangnya data pendukung.
3. Kurangnya kapasitas SDM DPRD dan Pemda
dalam menyusun prioritas urusan dan program.
4. Adanya kepentingan individu, kelompok, dan
golongan.
5. Prioritas tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat.

Fungsi Penganggaran Saat Ini


45
Raperda APBD

 Sosialisasi RAPBD:
Kurangnya upaya untuk mensosialisasikan
RAPBD kepada rakyat.

 Rakyat tidak/kurang mengetahui RAPBD.


 Rakyat tidak dapat memberi masukan atau
mengoreksi jika RAPBD tidak sesuai
dengan kebutuhan mereka.

Fungsi Penganggaran Saat Ini


46
Raperda APBD (2)

 Pembahasan oleh DPRD dan Pemda:


a. Pembahasan terlalu detail: DPRD
membahas RKA-SKPD yang memuat
program, kegiatan, dan anggaran tiap satuan
kerja.
b. Kesesuaian antara RAPBD dengan KUA dan
prioritas program kurang mendapat
perhatian.
c. Kurang memadainya data pendukung.
d. Kurang jelasnya pengaturan pembagian
tugas dan kerjasama antara Panitia
Anggaran dan Komisi.

Fungsi Penganggaran Saat Ini


47
Raperda APBD (3)

a. Kapasitas SDM tidak memadai:


 Kurangnya pemahaman terhadap fungsi
penganggaran.
 Kurangnya pengetahuan teknis yang
terkait dengan penyusunan anggaran.
b. Staf ahli (jika ada) tidak dimanfaatkan secara
optimal.
c. Adanya kepentingan individu, kelompok, dan
golongan.

Fungsi Penganggaran Saat Ini


48
Raperda APBD (4)

Akibat:
1. APBD terlambat ditetapkan.
2. Fungsi alokasi, distribusi, dan stabilisasi tidak
terwujud.
3. APBD kurang berperan sebagai pendorong
pertumbuhan ekonomi.

Fungsi Penganggaran Saat Ini


49
Raperda APBD (5)

 Persetujuan terhadap Raperda APBD:


Umumnya persetujuan DPRD diberikan terlambat
(melebihi batas waktu yang ditetapkan, yaitu paling
lambat 1 bulan sebelum TA ybs. dilaksanakan)

 Perda APBD terlambat ditetapkan.


 Pelaksanaan proyek terlambat dilaksanakan.
 Mendorong terjadinya penyelewengan dana.

Fungsi Penganggaran Saat Ini


50
Penetapan Perda dan PerGub APBD
TA 2005
PENETAPAN PERDA PENETAPAN PERGUB
NO PROVINSI
NOMOR TANGGAL NOMOR TANGGAL
1 JATIM 10 TAHUN 2004 24/12/2004 49 TAHUN 2004 24/12/2004
2 JATENG 17 TAHUN 2004 23/12/2004 69 TAHUN 2004 23/12/2004
3 BALI 10 TAHUN 2004 31/12/2004 1 TAHUN 2005 03/01/2005
4 DKI JAKARTA 1 TAHUN 2005 06/01/2005 1 TAHUN 2005 06/01/2005
5 JABAR 1 TAHUN 2005 25/01/2005 2 TAHUN 2005 25/01/2005
6 KALTIM 2 TAHUN 2005 23/03/2005 13 TAHUN 2005 23/03/2005
7 BANTEN 1 TAHUN 2005 01/03/2005 1 TAHUN 2005 07/03/2005
8 NTT 1 TAHUN 2005 21/03/2005 6 TAHUN 2005 21/03/2005
9 KALBAR 3 TAHUN 2005 28/03/2005 78 TAHUN 2005 30/03/2005
10 KALSEL 2 TAHUN 2005 28/03/2005 4 TAHUN 2005 28/03/2005
11 D.I. YOGYAKARTA 2 TAHUN 2005 06/06/2005 12 TAHUN 2005 07/06/2005
12 NTB 2 TAHUN 2005 07/07/2005 14 TAHUN 2005 09/07/2005
13 BENGKULU 4 TAHUN 2004 30/12/2004 422 TAHUN 2004 31/12/2004
14 SUMATERA SELATAN 1 TAHUN 2005 24/01/2005 2 TAHUN 2005 26/01/2005
16 BANGKA BELITUNG 1 TAHUN 2004 05/02/2005 1 TAHUN 2005 05/02/2005

Fungsi Penganggaran Saat Ini


51
Penetapan Perda dan PerGub APBD
TA 2005
PENETAPAN PERDA PENETAPAN PERGUB
NO PROVINSI
NOMOR TANGGAL NOMOR TANGGAL
19 RIAU 1 TAHUN 2005 03/02/2005 4 TAHUN 2005 03/02/2005
20 LAMPUNG 1 TAHUN 2005 22/02/2005 08 TAHUN 2005 22/02/2005
21 SUMATERA BARAT 2 TAHUN 2005 21/03/2005 31 TAHUN 2005 21/03/2005
22 NAD 2 TAHUN 2005 25/04/2005 5 TAHUN 2005 28/04/2005
23 KALIMANTAN TENGAH 1 TAHUN 2005 22/02/2005 1 TAHUN 2005 22/02/2005
24 SULAWESI BARAT 2 TAHUN 2005 07/04/2005
25 IRIAN JAYA BARAT 01 TAHUN 2005 21/06/2005 01 TAHUN 2005 21/06/2005
26 SULAWESI SELATAN 2 TAHUN 2005 28/02/2005 3 TAHUN 2005 28/02/2005
27 GORONTALO 9 TAHUN 2004 20/12/2004
28 SULAWESI UTARA 1 TAHUN 2005 28/02/2005 1 TAHUN 2005 28/02/2005
29 MALUKU UTARA 1 TAHUN 2005 03/01/2005 1 TAHUN 2005 04/01/2005
30 MALUKU 8 TAHUN 2005 09/05/2005 09 TAHUN 2005 16/05/2005
31 SULAWESI TENGGARA 2 TAHUN 2005 09/04/2005 16 TAHUN 2005 01/01/2005
33 SULAWESI TENGAH 03 TAHUN 2005 09/03/2005 903/38/Ro.Keu-G.ST/2005 09/03/2005

Fungsi Penganggaran Saat Ini


52
Sosialisasi Perda APBD

1. Kurangnya upaya Pemda dan DPRD dalam


mensosialisasikan Perda APBD.
2. Sosialisasi Perda APBD kurang efektif.

 Rakyat banyak yang tidak mengetahui Perda


APBD.
 Rakyat tidak dapat turut mengawasi
pelaksanaan Perda APBD.

Fungsi Penganggaran Saat Ini


53
Bab 3
Peningkatan Kapasitas dan Kualitas
Fungsi Penganggaran

54
Best practices – 13 DPRD

No. DPRD Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3 Tahap 4b Tahap 4c Tahap 4d Tahap 8


1 Gorontalo *** ** ** *** ** * **
2 Bandung * * * ** * * **
3 Purwakarta ** * * * **
4 Solok ** * * ** * *
5 Jembrana *
6 Gianyar * *
7 Sawahlunto * * * * *
8 Kab. 50 Kota * * * * *
9 Cilegon * ** ** *
10 Samarinda ** *** * ** *** *
11 Kendari ** ** * * * *
12 Pasuruan ** ** * ** * *
13 DKI Jakarta * * * * *

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 55
Penyusunan KUA

 Penyusunan KUA harus mempertimbangkan/


berpedoman pada hal-hal berikut:
 Kebutuhan rakyat (diketahui melalui jaring
asmara), bukan kepentingan individu,
kelompok, atau golongan  Lihat modul
fungsi perwakilan.
 RPJMD, Renstra-SKPD, dan RKPD.
 Kinerja tahun lalu.
 Kesinambungan pembangunan daerah.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 56
Penyusunan KUA (2)

Best Practices

**
DPRD Kota Gorontalo, Kota Samarinda, dan
Kabupaten Purwakarta mampu menyusun KUA
dengan baik.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 57
Penyusunan KUA (3)

***
Pimpinan DPRD Kota Gorontalo menugaskan
Anggota Dewan untuk melakukan jaring asmara ke
seluruh daerah pemilihan (tingkat desa):
 Tim I melakukan kunjungan di 11 kelurahan
 Tim II melakukan kunjungan di 10 kelurahan
 Tim III melakukan kunjungan di 14 kelurahan
 Tim IV melakukan kunjungan di 11 kelurahan

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 58
Penyusunan PPAS

 Pembahasan rancangan PPAS harus didukung


oleh data yang memadai, misalnya:

1. KUA yang baik (mencerminkan kebutuhan


rakyat dan sesuai dengan RKPD).
2. Konfirmasi kepada rakyat mengenai
urutan prioritas kebutuhan rakyat.
3. Multiyears project  menjaga
kesinambungan pembangunan.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 59
Raperda APBD

 Sosialisasi Raperda APBD:

DPRD harus aktif mensosialisasikan Raperda


APBD sebelum pembahasan:
a. Memilih metode sosialisasi yang paling tepat.
b. Membuka saluran komunikasi yang efektif
untuk menerima masukan rakyat, misalnya:
i. Menyediakan telepon bebas pulsa
ii. Membuka kotak pos khusus
iii. Membuka alamat email

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 60
Raperda APBD (2)

Best practices ***

 DPRD Kota Gorontalo melakukan sosialisasi


RAPBD melalui rapat paripurna terbuka dengan
mengundang tokoh masyarakat, tenaga ahli,
LSM, eksekutif, media elektronik dan cetak.

 RAPBD 2005 dipublikasikan di Harian Gorontalo


Post pada tanggal 2 Des. 2004. Dewan memberi
waktu 3 hari kepada masyarakat untuk
mengoreksi RAPBD tersebut.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 61
Raperda APBD (3)

 Pembahasan Raperda APBD:

1. Evaluasi oleh DPRD jangan terlalu detail.


Evaluasi detail diserahkan pada staf ahli.

1. Pembahasan dengan eksekutif difokuskan pada:


a. Sinkronisasi antara RAPBD dengan KUA dan
prioritas program/kegiatan.
b. Sinkronisasi antara RAPBD dengan program
pemerintah pusat.
c. Kelayakan besaran anggaran dengan
mempertimbangkan kondisi keuangan daerah.
Peningkatan Kapasitas dan
Kualitas Fungsi Penganggaran 62
Raperda APBD (4)

Best practices ***

 Atas rekomendasi DPRD, Pemkot Samarinda


membentuk klinik anggaran yang bertugas
untuk memverifikasi rancangan program dari
tiap satuan kerja.

 Dengan adanya klinik anggaran ini


pembahasan RASK oleh DPRD tidak
memakan waktu lama.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 63
Raperda APBD (5)

1. Pembahasan harus didukung oleh informasi yang


lengkap dan akurat.

1. Menyusun SOP mengenai proses penyusunan


anggaran. SOP ini sekaligus berfungsi untuk
mengatur pembagian tugas antara Panitia
Anggaran dan Komisi.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 64
Raperda APBD (6)

Best practices **

Panitia Anggaran DPRD Kota Cilegon dibagi dalam


3 (tiga) kelompok, yaitu:
 Kel. 1 : Membahas pendapatan.
 Kel. 2 : Membahas belanja aparatur dan publik.
 Kel. 3 : Membahas pembiayaan.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 65
Raperda APBD (7)

 Persetujuan DPRD terhadap Raperda RAPBD

Agar persetujuan DPRD dapat diberikan tepat


waktu, maka DPRD dan Pemda harus
memperbaiki sistem penyusunan anggaran.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 66
Sosialisasi Perda APBD

1. DPRD harus mendorong Pemda untuk


mensosialisaikan Perda APBD melalui cara yang
efektif.
2. DPRD turut melakukan sosialisasi Perda APBD di
daerah pemilihannya.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 67
Sosialisasi Perda APBD (2)

Best practices

***
- DPRD Kabupaten Sumedang membuat poster
APBD yang ditempelkan di tempat-tempat strategis.

**
- DPRD Kota Gorontalo memberikan rekomendasi
kepada Pemda agar pelaksanaan proyek-proyek
APBD tahun 2005 diawali dengan pemberitahuan
kepada lurah-lurah setempat dan disosialisasikan
kepada masyarakat.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 68
Summary

Kondisi Saat Ini Rekomendasi

Penyusunan KUA:
1. Jaring asmara belum efektif Penyusunan KUA harus
2. Adanya kepentingan individu, berpedoman pada:
kelompok, dan golongan. a. Kebutuhan rakyat.
3. Belum banyak pemerintah daerah b. RPJMD, Renstra-SKPD dan
yang mampu menyusun RPJMD RKPD.
dan Renstra-SKPD dengan baik. c. Kinerja tahun lalu.
4. Kurangnya kapasitas anggota d. Kesinambungan
DPRD dan pemerintah daerah pembangunan daerah.
dalam merumuskan KUA.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 69
Summary (2)

Kondisi Saat Ini Rekomendasi

Penyusunan PPAS:
1. Mark up nilai anggaran.
2. Kurangnya data pendukung. Dukungan data yang memadai,
3. Kurangnya kapasitas SDM. misalnya:
4. Adanya kepentingan individu, a. KUA yang baik.
kelompok, dan golongan. b. Konfirmasi kepada rakyat.
5. Prioritas program tidak sesuai c. Multiyears project  menjaga
dengan kebutuhan rakyat. kesinambungan pembangunan.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 70
Summary (3)

Kondisi Saat Ini Rekomendasi

Sosialisasi RAPBD:
Kurangnya upaya untuk DPRD harus aktif mensosialisasikan
mensosialisasikan RAPBD kepada RAPBD:
masyarakat.
a. Pilih cara yang paling tepat.
b. Membuka jalur komunikasi yang
efektif.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 71
Summary (4)

Kondisi Saat Ini Rekomendasi

Pembahasan RAPBD:
1. Pembahasan terlalu detail a. Evaluasi oleh DPRD jangan
2. Kurang memadainya data terlalu detail. Evaluasi detail
pendukung. yang bersifat teknis diserahkan
pada staf ahli.
3. Kapasitas SMD kurang
memadai. b. Dukungan data yang memadai.
4. Staf ahli tidak dimanfaatkan
secara optimal.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 72
Summary (5)

Kondisi Saat Ini Rekomendasi

1. Kesesuaian antara RAPBD Pembahasan dengan eksekutif


dengan KUA dan prioritas difokuskan pada:
program kurang diperhatikan.
a. Sinkronisasi RAPBD dengan
2. Adanya kepentingan individu, KUA dan prioritas program.
kelompok, dan golongan.
b. Kelayakan besaran anggaran.

1. Kurang jelasnya pengaturan Menyusun SOP mengenai proses


pembagian tugas dan kerjasama penyusunan anggaran.
antara Panitia Anggaran dan
Komisi.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 73
Summary (6)

Kondisi Saat Ini Rekomendasi

Persetujuan Raperda APBD:


Persetujuan DPRD terhadap Raperda Memperbaiki sistem penyusunan
APBD diberikan terlambat. APBD.

Peningkatan Kapasitas dan


Kualitas Fungsi Penganggaran 74
Summary (7)

Kondisi Saat Ini Rekomendasi

Sosialisasi Perda APBD:


1. Kurangnya upaya Pemda dan a. DPRD harus mendorong Pemda
DPRD dalam mensosialisasikan untuk mensosialisaikan Perda
Perda APBD. APBD melalui cara yang efektif.
2. Sosialisasi Perda APBD kurang b. DPRD turut melakukan
efektif. sosialisasi Perda APBD di
daerah pemilihannya.

75
Bab 4
Potensi Korupsi dalam Penyelenggaraan
Fungsi Anggaran

76
Modus Korupsi dalam Fungsi Anggaran
 Menitipkan anggaran demi kepentingan kelompok
tertentu dengan memperoleh sejumlah imbalan tertentu
 Meminta imbalan untuk menetapkan plafon anggaran
SKPD dalam PPA
 Menjadi sponsor untuk pelaksanaan anggaran
(berujung pada rekayasa lelang)
 Menitipkan anggaran untuk kepentingan DPRD pada
program dan kegiatan SKPD
 Memaksa SKPD untuk mengubah renstra karena ada
titipan anggaran
 Memanipulasi kebutuhan masyarakat untuk meminta
anggaran tertentu merubah renstra/RPJMD sebagai
pembenaran penambahan alokasi anggaran
 Kolusi dengan SKPD dalam penetapan target dan
realisasi pendapatan daerah
77
Terima Kasih

78