Anda di halaman 1dari 33

KELOMPOK 5

Anita Wan Azizah


Indah Ramadhani
Nurul Islammiah
Puri Kusuma Anggraini
Rinawati Darmaningsih
KELAS KATA

FRASA

KLAUSA
Berdasarkan maknanya, kata dapat
digolongkan menjadi dua:
Kata penuh adalah kata yang memiliki
makna leksikal.
Kata tugas adalah kata yang tidak memiliki
makna leksikal dan hanya memiliki makna
gramatikal.
KATA PENUH
1. Verba
Verba sering disebut juga kata kerja. Ciri-ciri verba:
• Memiliki fungsi utama sebagai predikat dalam kalimat. Misalnya:
Ibu tidak menulis novel.

• Mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau


keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
• Tidak diberi prefiks ter- yang berarti ‘paling’. Misalnya
verba mati dan suka tidak dapat menjadi *termati atau *tersuka.
• Pada umumnya tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang
menyatakan makna kesangatan seperti agak, sangat,
dan sekali karena tidak ada bentuk *agak belajar,*sangat
tidur, *duduk sekali meskipun ada bentuk seperti sangat
berbahaya, agak membanggakan, dan mengharapkan sekali.
KATA PENUH
2. Adjektiva
Adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus
tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Adjektiva
sering disebut juga kata keadaan. Ciri-ciri adjektiva:
• Adjektiva memberikan makna kualitas atau keanggotaan dalam
suatu golongan. Misalnya pohon tinggi, rumah besar.
• Adjektiva dapat berfungsi sebagai predikat dan adverbial
(keterangan) kalimat yang dapat mengacu ke suatu keadaan.
Misalnya: Ibu sedang sakit.
• Adjektiva memiliki kemungkinan untuk menyatakan tingkat kualitas
dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkannya dengan
menambahkah kata sangat,agak, lebih, atau paling di depan
adjektiva tersebut. Misalnya: sangat besar, agak
senang, lebih kecil, paling merah.
KATA PENUH
3. Adverbia
Adverbia merupakan kata yang menerangkan verba, adjektiva, atau
adverbia lain. Sementara itu, dalam tataran klausa, adverbia
merupakan kata yang menerangkan fungsi-fungsi sintaksis dalam
klausa itu. Dalam tataran kalimat, adverbia menerangkan seluruh
kalimat. Adverbia sering disebut juga kata keterangan.
Contoh:
sangat marah (menerangkan kata marah)
Aku mau makan nasi saja. (menerangkan fungsi objek
yaitu nasi)
Anaknya sudah lima (menerangkan fungsi predikat yaitu lima)
Tampaknya ia serius. (menerangkan kalimat)
KATA PENUH
4. Nomina
Dari segi semantisnya, nomina adalah kata yang mengacu
pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau
pengertian. Misalnya dosen, tikus, kursi, bahasa. Dari segi
sintaksisnya, nomina mempunyai ciri-ciri:
• Menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap.
Misalnya, ayah membelikan adikbuku.
• Dapat diingkarkan dengan kata bukan seperti bukan
buku, bukan rumah, dan tidak dapat diingkarkan dengan
kata tidak karena tidak ada bentuk *tidak buku, *tidak
rumah, dsb.
• Umumnya diikuti adjektiva, baik secara langsung
maupun diantarai kata yang.
Misalnyagadis cantik, gadis yang cantik.
KATA PENUH
5. Pronomina
Pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu kepada nomina
lain. Misalnya:
Kakakku sangat rajin. Ia selalu juara kelas.
(pronomina ia mengacu pada katakakakku)
Rumah itu mewah. Lantainya dari marmer. (pronomina -
nya mengacu pada rumah)
• Pronomina menduduki fungsi sintaksis yang umumnya diduduki
oleh nomina seperti subjek, objek, dan—dalam macam kalimat
tertentu—juga predikat. Acuan pronomina dapat berpindah-pindah
karena bergantung kepada siapa yang menjadi pembicara/penulis,
siapa yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa yang
dibicarakan. Pronomina sering disebut juga sebagai kata ganti.
Ada tiga macam pronomina dalam bahasa Indonesia yaitu:
a. Pronomina persona
Pronomina persona disebut juga kata ganti orang atau pronomina yang
dipakai untuk mengacu pada orang, baik diri sendiri (orang pertama),
orang yang diajak bicara (orang kedua), dan orang yang dibicarakan
(orang ketiga).
b. Pronomina penunjuk
Pronomina penunjuk terdiri dari tiga macam yaitu pronomina penunjuk
umum, pronomina penunjuk tempat, dan pronomina penunjuk ihwal.
Pronomina penunjuk umum ialah ini, itu, dan anu. Pronomina penunjuk
tempat ialah sini, situ, sana. Pronomina penunjuk ihwal
ialah begini, begitu, dan demikian.
c. Pronomina penanya
Pronomina penanya adalah pronomina yang dipakai sebagai pemarkah
pertanyaan. Dari segi maknanya yang ditanyakan dapat mengenai
orang (siapa), barang atau benda (apa), dan pilihan (mana).
Sebenarnya masih ada kata penanya lain meskipun bukan pronomina
yaitu kapan, bagaimana, berapa, dan mengapa.
KATA PENUH
6. Numeralia
Numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung
banyaknya wujud (orang, binatang, atau barang) dan
konsep.
Ada dua macam numeralia dalam bahasa Indonesia yaitu
numeralia pokok/kardinal yang dapat memberi jawab atas
pertanyaan “Berapa?” seperti satu, dua, seratus, sejuta,
dsb., dan numeralia tingkat/ordinal yang dapat memberi
jawab atas pertanyaan “Yang keberapa?” seperti ketiga,
kelima puluh, keseribu, dsb.
KATA TUGAS
Kata tugas merupakan kelas kata yang hanya
memiliki makna gramatikal dan tidak memiliki
makna leksikal. Kata tugas baru bermakna apabila
dirangkai dengan kelas kata lain.
Misalnya di rumah, aku dan kau, setelah kita
makan, dll. Kata tugas tidak dapat menjadi dasar
pembentukan kata lain. Misalnya,
nomina tani dapat diturunkan menjadi
kata bertani, petani, pertanian, dsb. Namun kata
tugas dari tidak dapat menjadi
*mendarikan (me[N]-kan + dari), *pendari (pe[N]- +
dari).
KATA TUGAS
1. Preposisi
Preposisi atau kata depan menandai hubungan
makna antara konstituen di depan preposisi
tersebut dengan konstituen di belakangnya.
Misalnya, dalam frasa tidur di kamar,
preposisi di menyatakan hubungan makna
keberadaan antara tidur dan kamar. Menurut Prof.
Drs. M. Ramlan, preposisi dalam bahasa
Indonesia berjumlah 115 kata. Contoh preposisi
antara lain: di, ke, dari, kepada, daripada, untuk,
sebab.
KATA TUGAS
b. Konjungtor
Konjungtor atau kata hubung atau kata sambung adalah
kata tugas yang menghubungkan dua satuan kebahasaan
yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau
klausa dengan klausa. Misalnya:
• aku dan kau
• kenaikan harga serta kemiskinan rakyat
• Ayah tidur tetapi ibu memasak.
• Ketika ayah tidur, ibu sedang memasak.
KATA TUGAS
c. Interjeksi
Interjeksi atau kata seru adalah kata tugas yang
mengungkapkan rasa hati pembicara. Sebenarnya, tanpa
interjeksi perasaan pembicara sudah dapat diungkapkan
dengan kalimat yang utuh. Namun, keberadaan interjeksi
akan memperkuat rasa hati tersebut. Misalnya untuk
mengungkapkan betapa indahnya sebuah pemandangan,
orang tidak hanya akan berkata, “Indah sekali
pemandangan ini”, tetapi orang biasa menggunakan
interjeksi amboi sehingga menjadi, “Amboi, indah sekali
pemandangan ini.” Dengan kata amboi di atas orang tidak
hanya mengungkapkan fakta akan keindahan
pemandangan tetapi juga rasa hatinya. Contoh interjeksi
misalnya wah, sialan, ayo, nah.
KATA TUGAS
d. Artikula
Artikula atau kata sandang adalah kata tugas yang
membatasi makna nomina. Artikula memiliki tiga
kelompok yaitu (1) yang bersifat gelar seperti
sang, sri, hang, dan dang, (2) yang mengacu ke
makna kelompok seperti para, (3) yang
menominalkan seperti si dan yang.
KATA TUGAS
e. Partikel penegas
Kategori partikel penegas meliputi kata yang tidak
tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya
berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya.
Ada empat macam pertikel penegas yaitu –kah, -
lah, -tah, dan pun.
FRASA
Frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata
atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. Misalnya:
akan datang, kemarin pagi, yang sedang menulis.
Dari batasan di atas dapatlah dikemukakan bahwa frase
mempunyai dua sifat, yaitu
• Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua
kata atau lebih.
• Frase merupakan satuan yang tidak melebihi batas
fungsi unsur klausa, maksudnya frase itu selalu terdapat
dalam satu fungsi unsur klausa yaitu: S, P, O, atau K.
Frase Endosentrik
Frase endosentrik adalah frase yang 2. Frase endosentrik yang atributif,
mempunyai distribusi yang sama yaitu frase yang terdiri dari unsur-
dengan unsurnya. Frase endosentrik unsur yang tidak setara. Karena itu,
unsur-unsurnya tidak mungkin
dapat dibedakan menjadi tiga
dihubungkan.
golongan yaitu:
Misalnya: perjalanan
1. Frase endosentrik yang koordinatif, panjang, hari libur
yaitu: frase yang terdiri dari unsur-
unsur yang setara, ini dibuktikan oleh Perjalanan, hari merupakan unsur
kemungkinan unsur-unsur itu pusat, yaitu: unsur yang secara
dihubungkan dengan kata distribusional sama dengan seluruh
penghubung. frase dan secara semantik merupakan
Misalnya: kakek-nenek , unsur terpenting, sedangkan unsur
lainnya merupakan atributif.
pembinaan dan
pengembangan, laki bini,
belajar atau bekerja
Frase Endosentrik
3. Frase endosentrik yang apositif: frase yang atributnya berupa aposisi/
keterangan tambahan.
Misalnya: Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai.

Dalam frase Susi, anak Pak Saleh secara sematik unsur yang satu, dalam hal
ini unsur anak Pak Saleh, sama dengan unsur lainnya, yaitu Susi. Karena,
unsur anak Pak Saleh dapat menggantikan unsur Susi. Perhatikan jajaran
berikut:
• Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai
• Susi, …., sangat pandai.
• …., anak Pak Saleh sangat pandai.
• Unsur Susi merupakan unsur pusat, sedangkan unsur anak Pak Saleh
merupakan aposisi (Ap).
Frase Eksosentrik
Frase eksosentrik ialah frase yang tidak mempunyai
distribusi yang sama dengan unsurnya.
Misalnya:
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di dalam kelas.

Frase di dalam kelas tidak mempunyai distribusi yang


sama dengan unsurnya. Ketidaksamaan itu dapat dilihat
dari jajaran berikut:
• Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di ….
• Siswa kelas 1A sedang bergotong royong …. Kelas
Frase Nominal, Frase Verbal, Frase
Bilangan, Frase Keterangan.
1. Frase Nominal: frase yang memiliki distributif yang sama dengan kata
nominal. Misalnya: baju baru, rumah sakit
2. Frase Verbal: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan
golongan kata verbal. Misalnya: akan berlayar
3. Frase Bilangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan
kata bilangan. Misalnya: dua butir telur, sepuluh keping
4. Frase Keterangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama
dengan kata keterangan. Misalnya: tadi pagi, besok sore
5. Frase Depan: frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda,
diikuti oleh kata atau frase sebagai aksinnya. Misalnya: di halaman
sekolah, dari desa
Frase Ambigu
Frase ambigu artinya kegandaan makna yang
menimbulkan keraguan atau mengaburkan maksud
kalimat. Makna ganda seperti itu disebut ambigu.
Misalnya: Perusahaan pakaian milik perancang busana
wanita terkenal, tempat mamaku bekerja, berbaik hati mau
melunaskan semua tunggakan sekolahku.

Frase perancang busana wanita dapat menimbulkan


pengertian ganda:
1. Perancang busana yang berjenis kelamin wanita.
2. Perancang yang menciptakan model busana untuk
wanita.
KLAUSA
Arti Klausa adalah satuan gramatik yang terdiri atas S–P baik disertai
O, PEL, dan KET maupun tidak. Dengan ringkas, klausa ialah S P (O)
(PEL) (KET). Tanda kurung menandakan bahwa yang terletak dalam
kurung itu bersifat manasuka, artinya boleh ada, boleh juga tidak ada.
Contoh:
Ketika orang-orang mulai menyukai ayam bekisar, Edwin sudah
memelihara untuk dijual di pasaran.

Kalimat di atas terdiri dari empat klausa, yaitu:


1. (ketika) orang-orang mulai (S–P);
2. menyukai ayam bekisar (P–O);
3. Edwin sudah memelihara (S–P); dan
4. untuk dijual di pasaran (P–Ket.).
Klausa Berdasarkan Kategori
Kata atau Frasa
Contoh:
Toni belum sempat mengunjungi kakeknya kemarin.
Klausa kalimat tersebut jika dianalisis secara fungsional,
hasilnya sebagai berikut.
Klausa Berdasarkan Struktur
1. Klausa Berdasarkan Struktur Intern
Unsur inti klausa ialah S dan P. Namun demikian, S sering
kali dihilangkan dalam kalimat luas sebagai akibat
penggabungan klausa dan dalam kalimat jawaban. Klausa
yang terdiri atas S dan P disebut klausa lengkap,
sedangkan klausa yang tidak ber-S disebut klausa tidak
lengkap.
Contoh:
Din tidak masuk sekolah karena din sakit.
Subjek din dalam anak kalimat dapat dihilangkan akibat
penggabungan klausa din tidak masuk sekolah dan din
sakit.
• Klausa lengkap susun biasa

• Klausa lengkap susun balik


Klausa Berdasarkan Struktur
2. Klausa Berdasarkan Ada b. Klausa Negatif
Tidaknya Kata Negatif yang
secara Gramatik Menegatifkan Klausa negatif ialah klausa
P yang memiliki kata-kata
a. Klausa Positif negatif yang secara
Klausa positif ialah klausa yang gramatik menegatifkan P.
tidak memiliki kata negatif yang Kata-katanegatif itu ialah
secara gramatik menegatifkan P. tiada, tak, bukan, belum,
Contoh: dan jangan.
- Mereka diliputi oleh perasaan
Contoh:
senang.
- Mertua itu sudah dianggap - Orang tuanya sudah tiada.
sebagai ibunya. - Yang dicari bukan dia.
Klausa Berdasarkan Struktur
3. Penggolongan Klausa Berdasarkan Kategori Kata
atau Frasa yang Menduduki Fungsi P
P mungkin terdiri atas kata atau frasa golongan N,
V, Bil, dan FD. Berdasarkan golongan atau kategori kata
atau frasa yang menduduki fungsi P, klausa dapat
digolongkan menjadi empat golongan.
a. Klausa Nominal
Klausa nominal ialah klausa yang P-nya terdiri atas kata atau frasa
golongan N.
Contoh:
- Ia guru.
- Yang dibeli orang itu sepeda.

Kata golongan N ialah kata-kata yang secara gramatik mempunyai


perilaku sebagai berikut.
- Pada tataran klausa dapat menduduki fungsi S, P, dan O.
- Pada tataran frasa tidak dapat dinegatifkan dengan kata tidak,
melainkan dengan kata bukan, dapat diikuti kata itu sebagai atributnya,
dan dapat mengikuti kata depan di atau pada sebagai aksisnya.
b. Klausa Verbal
Klausa verbal ialah klausa yang P-nya terdiri atas kata atau
frasa golongan V.
Contoh:
- Petani mengerjakan sawahnya dengan tekun.
- Dengan rajin, bapak guru memeriksa karangan murid.
Kata golongan V ialah kata yang pada tataran klausa
cenderung menduduki fungsi P dan pada tataran frasa dapat
dinegatifkan dengan kata tidak. Misalnya kata-kata berdiri, gugup,
menoleh, berhati-hati, membaca, tidur, dan kurus.
Berdasarkan golongan kata verbal itu, klausa verbal dapat
digolongkan sebagai berikut.
1) Klausa verbal adjektif
2) Klausa verbal intransitif
3) Klausa verbal aktif
4) Klausa verbal pasif
5) Klausa verbal yang refleksif
6) Klausa verbal yang resiprokal
c. Klausa Bilangan
Klausa bilangan atau klausa numeral ialah klausa yang P-nya terdiri
atas kata atau frasa golongan bilangan.
Contoh:
- Roda truk itu ada enam.
- Kerbau petani itu hanya dua ekor.

Kata bilangan ialah kata-kata yang dapat diikuti oleh kata penyukat.
rang, ekor, batang, keping, buah, kodi, helai, dan masih banyak lagi.
Misalnya kata satu, dua, dan seterusnya; kedua, ketiga, dan
seterusnya; beberapa, setiap, dan sebagainya; sedangkan frasa
bilangan ialah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan
kata bilangan, misalnya dua ekor, tiga batang, lima buah, setiap
jengkal, beberapa butir, dan sebagainya.
Klausa Depan
Klausa depan atau klausa preposisional ialah klausa yang
Pnya terdiri atas frasa depan, yaitu frasa yang diawali oleh
kata depan sebagai penanda.
Contoh:
a. Kredit itu untuk para pengusaha lemah.
b. Pegawai itu ke kantor setiap hari.
Dalam kalimat tertentu, klausa memiliki dua bagian, yakni
klausa induk (induk kalimat) dan klausa subordinatif (anak
kalimat). Keberadaan klausa induk dan klausa anak ini
mensyaratkan konstruksi tataran sintaksis yang lebih
besar.
TERIMA KASIH