Anda di halaman 1dari 38

Gangguan

menelan pada
pasien stroke
Kelompok 1
definisi
 Disfagiaadalah kesulitan dalam menelan
cairan dan atau makanan yang
disebabkan karena adanya gangguan
pada proses menelan (Werner, 2005).
 Gejala gangguan menelan bervariasi dari
yang paling ringan seperti rasa tidak
nyaman di kerongkongan hingga tidak
mampu menelan makanan dan cairan.
etiologi
 akibat dari kelainan kongenital, kerusakan
struktur, dan/atau kondKuranglebih 51-73%
pasien stroke menderita disfagia. Penyebab
lain dari disfagia termasuk keganasan kepala-
leher, penyakit neurologik progresif seperti
penyakit Parkinson,multiple sclerosis, atau
amyotrophic lateral sclerosis, scleroderma,
achalasia, spasmeesofagus difus, lower
esophageal (Schatzki) ring, striktur esofagus,
dan keganasanesofagusisi medis tertentu
patofisiologi
 Disflagia diklasifikasikan menjadi 3 dalam
perjalanan penyakit ini :
 Disfagia orofaring
Disfagia orofaring timbul dari kelainan di rongga
mulut, faring, dan esofagus, dapat disebabkan oleh
stroke, penyakit Parkinson, kelainan neurologis,
oculopharyngeal muscular dystrophy, menurunnya
aliran air liur, xerostomia, masalah gigi, kelainan
mukosa oral, obstruksi mekanik (keganasan, osteofi,
meningkatnya tonus sfingter esophagus bagian atas,
radioterapi, infeksi, dan obat-obatan(sedatif,
antikejang, antihistamin).
,,,
 Disfagia esofagus
Disfagia esofagus timbul dari kelainan di korpus
esofagus, sfingter esofagus bagian bawah, atau
kardia gaster. Biasanya disebabkan oleh striktur
esofagus, keganasan esofagus, esophageal rings
and webs, akhalasia, skleroderma, kelainan motilitas
spastik termasuk spasme esofagus difus dan kelainan
motilitas esofagus nonspesifik (1). Makanan biasanya
tertahan beberapa saat setelah ditelan, dan akan
berada setinggi suprasternal notch atau di belakang
sternum sebagai lokasi obstruksi, regurgitasi oral atau
faringeal, perubahan kebiasaan makan, dan
pneumonia berulang
,,,
 Disfagia faringeal
 Fase faringeal pada proses menelan
involunter dan kesemuanya adalah reflek,
jadi tidak ada aktifitas faringeal yang terjadi
sampai reflek menelan dipicu. Reflek ini
melibatkan traktus sensorik dan motoric dari
nerfus kranialis IX (glossofaringeal) dan X (
fagus). Walaupun disfagia hamper selalu
menunjukkan malfungsi dari esophagus,
terdapat pula jenis khusus disfagia yang
meliputi ketidakmampuan penderita untuk
memulai proses menelan dengan sempurna
pathway
Pemeriksaan penunjang
Penunjang Kegunaan

1. Barium Swallow Menilai anatomi dan fs otot faring/esofagus, deteksi


(Esofagogram) sumbatan o/k tumor, striktur,web, akalasia,
divertikulum

2. CT Scan
Kelainan anatomi di kepala, leher dan dada
3. MRI
Deteksi tumor, kalainan vaskuler/stroke, degeneratif
proses diotak
1. Laringoskopi direk Menilai keadaan dan pergerakan otot laring
2. Esofagoskopi Menilai lumen esofagus, biopsi
3. Endoskopi ultrasound Menilai lesi submukosa
7. Pemeriksaan Fisik
1. Pada Pemeriksaan fisik, periksa mekanisme motoris oral dan laryngeal.
Pemeriksaan nervus V dan VII-XII penting dalam menentukan bukti fisik
dari disfagia orofaringeal.
2. Pengamatan langsung penutupan bibir, rahang, mengunyah, pergerakan
dan kekuatan lidah, elevasi palatal dan laryngeal, salivasi, dan sensitifitas
oral.
3. Periksa kesadaran dan status kognitif pasien karena dapat
mempengaruhi keamanan menelan dan kemampuan kompensasinya.
4. Dysphonia dan dysarthria adalah tanda disfungsi motoris struktur-struktur
yang terlibat pada menelan.
5. Periksa mukosa dan gigi geligi mulut
6. Periksa reflek muntah.
7. Periksa fungsi pernapasan
8. Tahap terakhir adalah pengamatan langsung aktivitas menelan. Setelah
menelan, amati pasien selama 1 menit atau lebih jika ada batuk tertunda.
Terapi disfagia
Bermacam terapi disfagia

Latihan/terapi otot atau kelompok Terapi gabungan (meliputi latihan dan cara
otot kompensasi
Latihan motorik oral Modifikasi diet dan latihan
Manuver masako Stimulasi suhu +menelan supraglotik
Latihan angkat kepala Latihan mendorong bolus
Manuver Mendelsohn Modifikasi diet +latihan+konseling
Manuver menelan paksa Mosifikasi diet + latihan motorik oral+tehnik
menelan+penempatan posisi
Penatalaksanaan
 salah satu pengujian dengan, laryngoscopy
serat optik, yang memungkinkan dokter untuk
melihat kedalam tenggorokan. Pemeriksaan
lain, termasuk video fluoroscopy, yang
mengambil video rekaman pasien dalam
menelan dan ultrasound, yang menghasikan
gambaran organ dalam tubuh, dapat secara
bebas nyeri memperlihakab tahapan-
tahapan dalam menelan.
,,,
1. Modifikasi diet  bubur. Ketika disfagia tertangani berubah menjadi makanan
semi padat sampai pada konsistensi yang normal

2. Suplai Nutrisi eksternal di berikan untuk mencegah terjadinya malnutrisi 


Bahan-bahan pengental, minuman yang diperkuat, bubur instan yang diperkuat,
suplemen cair oral. Jika asupan nutrisi oral tidak adekuat, pikirkan pemberian
parenteral.

1. Hidrasi
Disfagia dapat menyebabkan dehidrasi. Pemeriksaan berkala keadaan hidrasi
pasien sangat penting dan cairan intravena diberikan jika terapat dehidrasi

1. Pembedahan

1. Pembedahan gastrostomy. Pemasangan secara operasi suatu selang


gastrostomy memerlukan laparotomy dengan anestesi umum ataupun lokal.

2. Cricofaringeal myotomy. Cricofaringeal myotomy (CPM) adalah prosedur


yang dilakukan unutk mengurangi tekanan pada sphicter faringoesophageal (PES)
dengan mengincisi komponen otot utama dari PES..Injeksi botulinum toxin kedalam
PES telah diperkenalkan sebagai ganti dari CPM.
10. Komplikasi

 Aspirasi
Pada penderita stroke kadang keadaan aspirasi tidak tampak menunjukkan
tanda dan gejala (Silent Aspirasi), maka perlu suatu pemeriksaan FEES.

 Pnemonia Aspirasi
Keadaan infeksi paru-paru oleh karena aspirasi. Kejadian kebanyakan pada usia
diatas 65 tahun, stroke dengan gangguan bicara, kelumpuhan yang parah,
gangguan kognitif, dan gangguan menelan.17 Manifestasi klinisnya berupa :
Panas, produksi secret yang berlebihan atau suara ronchi, sesak nafas sampai
dengan gangguan irama nafas, Kualitas Analisa Gas Darah yang jelek,
penurunan kesadaran. Diagnosa dapat ditegakkan dengan x-ray pada thorax
dan sputum kultur untuk penentuan antibiotic yang tepat.

 Malnutrisi
 Dehidrasi
Asuhan keperawanan
 1. Pengkajian

a) Riwayat keperawatan:
1) Riwayat kejadian awal stroke, saat aktivitas atau
istirahat.
2) Faktor penyebab dan resiko stroke seperti hipertensi,
perokok hiperkolesterol, DM, obesitas, anemia.
b) Pola fungsi kesehatan difokuskan pada:
1. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan

 Untuk mengetahui tingkat pengetahuan pasien dan keluarga terhadap penatalaksanaan stroke secara
umum, khususnya gangguan menelan.
2. Pola nutrisi/ metabolic:

3. Pola makan dan minum sehari-hari sebelum sakit dan apakah ada gangguan sebelumnya ? apakah memakai NGT atau
PEG tube.

4. Pola makan dan minum sekarang, esesmen menelan dilakukan sedini mungkin sebelum pasien mendapatkan
pemasukan oral.

5. Pola eliminasi

 Pada gangguan menelan, pengkajian pola eliminasi ini digunakan untuk menggambarkan kecukupan
pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan sebelumnya.
6. Pola aktifitas dan latihan:

 Pada aktifitas makan sehari-hari sebelum sakit apakah dilakukan sendiri (mandiri) atau dibantu oleh
orang lain (disuapi). Nilai:
 0: mandiri, 1: alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain dan alat, 4: tergantung total.
7. Pola persepsual (penglihatan, pendengaran, pengecap, sensasi):

 Adaakah gangguan pengecapan dan gangguan sensasi rasa dan makan.


2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko aspirasi berhubungan dengan keterbatasan
menelan
b. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan disfagia, kesulitan menelan, dan menurunnya
nafsu makan.
c. Gangguan menelan berhubungan dengan hilangnya
fungsi motorik.
d. Gangguan komunikasi verbal/ non verbal berhubungan
dengan afasia, disatria, perubahan proses pikir.
e. Koping individu yang tidak efektif berhubungan dengan
menurunnya kesehatan.
f. Gangguan konsep diri: gambaran tubuh, harga diri,
peran, identitas berhubungan dengan menurunnya
fungsi tubuh, perubahan fisik, peran, dan
ketergantungan.
Gangguan menelan berhubungan dengan hilangnya fungsi motorik.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan kepada pasien selama ....X24 jam diharapkan gangguan menelan dapat teratasi.
Kriteria hasil:
•Mendemostrasikan metode makan tepat untuk situasi individual dengan aspirasi tercegah.
•Mempertahankan berat badan yang diinginkan.
Intervensi

Rencana Tindakan Rasional


Tinjau ulang patologi/ kemampuan menelan Intervensi nutrisi/ pilihan rute makan
pasien secara individual. ditentukan oleh faktor-faktor ini.
Letakkkan pasien dalam posisi duduk/ tegak Menggunakan gravitasi memudahkan proses
selama dan setelah makan. menelan dan menurunkan resiko terjadinya
aspirasi.
Anjurkan pasien menggunakan sedotan untuk Menguatkan otot fasial dan otot menelan dan
meminum cairan. menurunkan resiko terjadinya aspirasi.
Anjurkan pasien untuk berpatisipasi dalam Meningkatkan pelepasan endorphin dalam
program latihan/ kegiatan. otak yang meningkatkan perasaan senang dan
meningkatkan nafsu makan.
Berikan cairan melalui intra vena/ makanan Memberikan makanan pengganti dan juga
memalui selang. makanan jika pasien tidak mampu untuk
memasukan segala sesuatu melalui mulut.
1.Gangguan komunikasi verbal/ non verbal berhubungan dengan afasia, disarhria, perubahan proses pikir.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan kepada pasien selama ....X24 jam diharapkan gangguan komunikasi
verbal/ non verbal dapat teratasi.
Kriteria hasil:
• Mampu menggunakan metode komunikasi yang efektif baik verbal maupun non verbal.
• Terhindar dari tanda-tanda frustasi.
• Mampu mengkomunikasikan kebutuhan dasar.
• Mampu mengekpresikan diri dan memahami yang lain.
• Intervensi

Rencana Tindakan Rasional


Kaji kemampuan komunukasi adanya gangguan Mengidentifikasi masalah komunikasi
bahasa dan bicara. karena gangguan bicara atau gangguan
bahasa.
Ciptakan lingkungan penerimaan dan privasi. Membantu menciptakan komunikasi yang
efektif.
Gunakan kata-kata sederhana secara bertahap dan Memudahkan penerimaan pasien.
dengan bahasa tubuh.
Ajarkan teknik untuk memperbaiki bicara. Dengan membaiknya bicara, percaya diri
akan meningkat dan meningkatkan motivasi
untuk memperbaiki bicara.

Berikan respon terhadap perilaku non verbal. Menunjukkan adanya respon dan rasa
empati terhadap gangguan bicara pasien.

Konsul dengan terapi wicara. Penanganan lebih lanjut dengan teknik


khusus.
Asuhan keperawatan kasus
gangguan menelan
A. Pengkajian

1. Identitas pasien
Klien merupakan seorang perempuan berusia 57 tahun. Dirawat dibangsal neurologi dengan diagnose stroke iskemik.
Yang menjaga klien dirumah sakit adalah keluarga klien.

2. Riwayat kesehatan klien


a. Keluhan utama
Hasil pengkajian didapatkan klien mampu membuka mata saat dipanggil, mampu mengangkat tangan kirinya saat
diperintah,bicara pelo, (GCS: E4M6Vdisatria). Saat ditanyakan keluhanya klien menangis dan menanyakan
mengapa dirinya bisa seperti sekarang. Tangan dan kaki kanan tidak bisa digerakan dan mulut mencong ke kanan.
Klien mengatakan beberapa kali mengompol dan tidak terasa kalau mau BAK. Klien mengatakan susah menghisap
minum dan kalau minum tidak tertelan.
,,,
b. Riwayat kesehatan sekarang
Dari hasil pengkajian fisik, perawat mendapatkan: TD 160/100 mmHg, nadi
90x/menit, frekuensi nafas 20x/menit, suhu 37,5C. mulut mencong ke kanan,tampak
air liur mengalir dari sudut mulut. Saat diminta menghisap dan menelan minuman
klien tampak batuk-batuk (tampak gerakan esophagus). Klien sudah menjalani CT-
Scan yang hasilnya didapatkan iskemik area frontal dan parietal hemisfer kiri. GDS:
378mg/dl, trigliserida: 305 mg/dl, foto thorax: hipertropi ventrikel: CTR: 60%.

c. Riwayat kesehatan sebelumnya


Klien menderita diabetes mellitus sejak 7 tahun yang lalu dan hipertensi 2 tahun
terakhir. Klien tidak teratur minum obat. Hanya jika ada keluhan saja ia ke puskesmas.
Klien juga tidak pantang terhadap makanan tertentu.
1. Pengkajian pola fungsional
a. Pola nutrisi
 Meski menderita DM dan hipertensi, klien mengatakan tidak pantang terhadap makanan tertentu. Karena itu
gula darah klien tidak terkontrol. Sehingga besar kemungkinan menjadi factor yang menyebabkan gula darah
klien tinggi. Perawatan dirumah sakit klien diberikan terapi diit cait sebanyak 1500 kkal, insulin 3 x 10 unit,
captopril 25 mg: 2 x 1 tab.
b. Pola eliminasi
 Klien mengatakan beberapa kali mengompol, namun tidak merasakan dan tidak tau kapan BAK.
c. Pola aktivitas dan latihan
 Klien menangis,menanyakan mengapa dirinya seperti ini?, badan bagian kananya terasa berat. Klien
mengalami hemipharese pada bagian kanan (tangan dan kaki tidak dapat digerakan). Dan mulut mencong ke
kanan.
d. Pola istirahat tidur
e. Pola persepsi sensori dan kognitif
Validasi data

Data subjektif Data objektif


•Validasi Data
- Klien mengatakan “mengapa diri saya bisa seperti - Tanda-tanda vital:
ini?, kapan bisa sembuh? Duh gusti dosa apa saya - TD: 160/100 mmHG
ini?” - N: 90x/menit
- Klien mengatakan “beberapa kali - SUHU: 37,5 C
mengompol,tidak terasa kalau mau BAK. - RR: 20x/menit
- Klien mengatakan “susah menghisap minum,kok - Mulut mencong kekanan
minumnya tidak tertelan” - Terlihat air liur mengalir dari sudut mulut.
- Klien mengatakan “badan bagian kanan terasa - Tampak batuk-batuk ketika diminta menghisap
berat” dan menelan
- Klien mengatakan “tangan dan kaki kanan tidak - Tak tampak gerakan esophagus saat diminta
bisa digerakkan” menelan
- Pengukuran kesadaran kuantitatif didapatkan
membuka mata saat dipanggil,mampu
mengangkat tangan kiri saat diperintah,bicara pelo
(disatria).
Hasil pemeriksaan penunjang:
- CT Scan: iskemik frontal & parietal hemisfer kiri
- Foto thoraks: hipertropi ventrikel: CTR: 60%
- GDS: 378 mg/dl
- Trigliserida: 305 mg/dl
Kelar jugaa …
ALHAMDULILLAH ,,,