Anda di halaman 1dari 51

Pembimbing :

dr. Sofia Yuniati Rita Wulandari, Sp.M

Presented by :
Soraya Nur Faida
FK Unissula
IDENTITAS PASIEN
◦ Nama : Tn. S
◦ Umur : 71 tahun
◦ Jenis Kelamin : Laki-laki
◦ Alamat : Mangunharjo 1/1 Tugu,
Semarang
◦ Status Menikah : Menikah
◦ Tanggal Pemeriksaan : 31 Januari 2018
ANAMNESIS
 Keluhan Utama
Penglihatan kabur pada saat melihat jauh maupun dekat.
 RPS
Pasien datang ke poli mata dengan keluhan
penglihatannya kabur pada saat melihat jauh maupun
dekat. Keluhan ini sudah dirasakan sejak usianya 35 tahun.
Keluhan ini berkurang jika pasien memakai kacamata.
Saat ini pasien merasa kacamatanya sudah tidak nyaman
dan ingin ganti kacamata. Pasien juga memiliki riwayat
penyakit katarak yang sudah diobati dengan obat tetes
mata, namun saat ini penyakit tersebut masih ada.
Keluhan pusing (-), mual & muntah (-), mata merah (-),
gatal (-), berair (-).
◦ RPD
◦ Sebelumnya pasien tidak pernah sakit seperti ini
◦ Riwayat Hipertensi diakui
◦ Riwayat Diabetes Mellitus disangkal
◦ Riwayat asma diakui
◦ Sudah pernah memakai kacamata sebelumnya
◦ RPK
◦ Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini.
◦ Rsosek
◦ Pasien saat ini sudah tidak bekerja. Pasien tinggal dirumah
Bersama istri, anak dan cucunya. Kesan ekonomi cukup.
PEMERIKSAAN FISIK
◦ Vital Sign
◦ TD : 150/83 mmHg
◦ Nadi : 60 x/menit
◦ RR : 22 x/menit

◦ Status Umum
◦ Kesadaran : Composmentis
◦ Keadaan umum : Baik
◦ Kepala : Normocephal, rambut berwarna hitam.
◦ Hidung : Bentuk normal, sekret(-),deviasi septum(-)
◦ Telinga : Normooti, discharge (-/-)
◦ Mulut : Lidah tidak ada kelainan, uvula di tengah,
faring tidak hiperemis
◦ Thorax :
◦ Jantung : tidak dilakukan
◦ Paru : tidak dilakukan
◦ Extremitas :
Superior Inferior
◦ Oedem -/- -/-
◦ Akral Dingin -/- -/-
Status Ophthalmicus

◦ Keterangan : Terlihat arcus sneli pada kedua


mata
PEMERIKSAAN PENUNJANG

◦Usulan pemeriksaan :
◦Oftalmoskopi
◦Usg mata
RESUME
◦ Pasien datang ke poli mata dengan keluhan
penglihatannya kabur pada saat melihat jauh maupun
dekat. Keluhan ini sudah dirasakan sejak usianya 35 tahun.
Keluhan ini berkurang jika pasien memakai kacamata.
Saat ini pasien merasa kacamatanya sudah tidak nyaman
dan ingin ganti kacamata. Pasien juga memiliki riwayat
penyakit katarak yang sudah diobati dengan obat tetes
mata, namun saat ini penyakit tersebut masih ada. Pasien
memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan asma.
◦ Visus OD 6/60 S+2,00 Add S+3,00 & OS 6/60 S+2,00 Add
S+3,00 . COA dangkal, lensa keruh dan shadow test (+)
pada OD dan OS.
INITIAL PLAN

◦ DIAGNOSA KERJA
◦ ODS Hipermetropia,
◦ ODS Presbiopia,
◦ ODS Katarak Senilis Imatur
◦ TATALAKSANA
◦ Medikamentosa
◦ Topikal
◦ R/ Cendo catarlent ED No. I
S 1 dd gtt I ODS
◦ Usulan Operasi katarak dengan EKEK + IOL
◦ Non medikamentosa  resep kacamata
◦ Hipermetropia
◦ OD : S + 2,00
◦ OS : S + 2,00
◦ Presbiopia
◦ ODS : add S + 3,00
EDUKASI

◦ Menjelaskan kepada pasien agar menggunakan


kacamata untuk membantu penglihatan karena
visus turun.
◦ Menjaga pola hidup yang sehat dengan minum
obat dan kontrol secara teratur karena pasien
memiliki penyakit hipertensi.
PROGNOSIS
HIPERMETROPIA
DEFINISI
 Hipermetropia juga dikenal dengan istilah hyperopia
atau rabun dekat. Hipermetropia adalah keadaan
mata yang tidak berakomodasi dan memfokuskan
bayangan di belakang retina.
 Pasien dengan hipermetropia mendapat kesukaran
untuk melihat dekat akibat sukarnya berakomodasi.
Keluhan akan bertambah seiring dengan
bertambahnya umur yang diakibatkan melemahnya
otot siliar untuk akomodasi dan berkurangnya
kekenyalan lensa.
ETIOLOGI
◦ Hipermetropia sumbu atau hipermetropia aksial
merupakan kelainan refraksi akibat bola mata pendek
atau sumbu anteroposterior yang pendek.
◦ Hipermetropia kurvatur, dimana kelengkungan kornea
atau lensa kurang sehingga bayangan difokuskan di
belakang retina.
◦ Hipermetropia indeks refraktif, dimana terdapat indeks bias
yang kurang pada sistem optik mata, misalnya pada usia
lanjut lensa mempunyai indeks refraksi lensa yang
berkurang.
KLASIFIKASI

Pembagian hipermetropia:
1. Hipermetropia laten
2. Hipermetropia manifes
 Hipermetropia manifest fakultativ
 Hipermetropia manifest absolut
3. Hipermetropia total
HIPERMETROPIA LATEN

 Hipermetropia yang ditutupi oleh daya akomodasi.


Penderita mengeluh sering sakit kepala oleh karena
akomodasi terus menerus.
 Hipermetropia laten dapat ditemukan/diukur bila spasme
m.ciliaris dihilangkan dengan melumpuhkan otot tersebut.
Jadi bila diberi sikloplegik (pelumpuh m.ciliaris), bagian
yang laten menjadi manifes, bagian yang manifes
bertambah.
 Setelah itu baru diukur derajat hipermetropianya dengan
lensa coba.
HIPERMETROPIA MANIFES

◦ Hipermetropia yang didapatkan pada pemeriksaan.


Penderita mengeluh penglihatannya kabur.
◦ Hipermetropia Manifes Fakultatif
Hipermetropia pada orang muda dimana daya
akomodasinya masih kuat. Disini hipermetropia masih
dapat dikompensasi oleh daya akomodasi.
◦ Hipermetropia Manifes Absolut
Hipermetropia pada orang tua/dewasa dimana daya
akomodasinya sudah berkurang sehingga tidak dapat
mengkompensasi hipermetropianya.
HIPERMETROPIA TOTAL
 Hipermetropia yang didapatkan bila
lensa tidak dapat berakomodasi, misal
karena tua atau karena dilumpuhkan
dengan sikloplegia.
 Hipermetropiatotal = Hipermetropia
manifes + Hipermetropia laten
GEJALA HIPERMETROPIA

◦ Keluhan mata yang harus berakomodasi


terus untuk dapat melihat jelas adalah:
◦ Mata lelah
◦ Sakit kepala
◦ Penglihatan kabur saat melihat dekat
◦ Pada usia lanjut seluruh titik fokus akan
berada di belakang retina karena
berkurangnya daya akomodasi mata dan
penglihatan akan berkurang.
PENATALAKSANAAN

◦Diberikan kacamata dengan lensa


sferis positif.
◦LASIK.
PRESBIOPIA
DEFINISI
◦ Makin berkurangnya kemampuan
akomodasi mata sesuai dengan makin
meningkatnya umur. Kelainan presbiopia
ini terjadi pada mata normal berupa
gangguan perubahan kecembungan
lensa yang dapat berkurang akibat
berkurangnya elastisitas lensa sehingga
terjadi gangguan akomodasi.
ETIOLOGI

◦Kelemahan otot akomodasi


◦Lensa mata yang tidak kenyal
atau berkurang elastisitasnya
akibat sklerosis lensa
PATOFISIOLOGI
◦ Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi
peningkatan daya refraksi mata karena adanya
perubahan keseimbangan antara elastisitas
matriks lensa dan kapsul sehingga lensa menjadi
cembung. Dengan meningkatnya umur maka
lensa menjadi lebih keras (sklerosis) dan
kehilangan elastisitasnya untuk menjadi
cembung, dengan demikian kemampuan
melihat dekat makin berkurang.
GEJALA KLINIS
 Akibat gangguan akomodasi ini maka pada pasien
berusia lebih dari 40 tahun, akan memberikan keluhan
setelah membaca yaitu berupa mata lelah, berair dan
sering terasa pedas.
 Karena daya akomodasi berkurang maka titik dekat mata
makin menjauh dan pada awalnya akan kesulitan pada
waktu membaca dekat huruf dengan cetakan kecil.
 Dalam upayanya untuk membaca lebih jelas maka
penderita cenderung menegakkan punggungnya atau
menjauhkan obyek yang dibacanya sehingga mencapai
titik dekatnya dengan demikian obyek dapat dibaca
lebih jelas.
PENATALAKSANAAN
◦ Diberikan penambahan lensa sferis positif sesuai pedoman
umur yaitu umur 40 tahun (umur rata – rata) diberikan
tambahan sferis + 1.00 dan setiap 5 tahun diatasnya
ditambahkan lagi sferis + 0.50
◦ Hubungan lensa adisi dan umur biasanya :
◦ 40 sampai 45 tahun – 1.0 dioptri
◦ 45 sampai 50 tahun – 1.5 dioptri
◦ 50 sampai 55 tahun – 2.0 dioptri
◦ 55 sampai 60 tahun – 2.5 dioptri
◦ > 60 tahun – 3.0 dioptri
◦ Lensa sferis (+) yang ditambahkan dapat
diberikan dalam berbagai cara:
1. Kacamata baca untuk melihat dekat saja
2. Kacamata bifokal untuk sekaligus
mengoreksi kelainan yang lain
3. Kacamata trifokus mengoreksi penglihatan
jauh di segmen atas, penglihatan sedang di
segmen tengah, dan penglihatan dekat di
segmen bawah
4. Kacamata progresif mengoreksi penglihatan
dekat, sedang, dan jauh, tetapi dengan
perubahan daya lensa yang progresif dan
bukan bertingkat.
KATARAK SENILIS
IMATUR
KATARAK
Definisi:
Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana
penglihatan seperti tertutup air terjun.katarak
adalah kekeruhan lensa yang mengarah kepada
penurunan ketajaman visual dan/atau cacat
fungsional yang dirasakan oleh pasien. Katarak
senile adalah semua kekeruhan lensa yang
terdapat pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50
tahun.
Klasifikasi Katarak:
◦ Katarak Senilis: kekeruhan lensa yg terjadi
pada usia lanjut. Diatas 50 tahun.
◦ Katarak komplikata: kekeruhan lensa yang
terjadi akibat penyakit mata lain, penyakit
sistemik endokrin atau keracunan obat.
◦ Katarak Traumatika: kekeruhan lensa yang
terjadi akibat trauma tumpul atau trauma
tajam yang mengenai lensa.
Katarak senilis terdiri dari 4
stadium:
1. Stadium Insipiens
2. Stadium Immatur
3. Stadium Matur
4. Stadium Hipermatur
◦ Stadium Insipiens
Kekeruhan lensa mata masih sangat minimal, bahkan
tidak terlihat tanpa menggunakan alat periksa. Pada saat
ini seringkali penderitanya tidak merasakan keluhan
atau gangguan pada penglihatannya, sehingga
cenderung diabaikan.
◦ Stadium Immatur
Sebagian lensa keruh atau katarak. Merupakan katarak
yang belum mengenai seluruh lapis lensa.Volume lensa
bertambah akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan
degeneratif lensa. Pada keadaan lensa mencembung akan
dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi
glaukoma sekunder .
◦ Stadium Matur
Kekeruhan telah mengenai seluruh lensa. Bilik mata
depan berukuran dengan kedalaman normal kembali,
tidak terdapat bayangan iris pada shadow test, atau
disebut negatif.
◦ Stadium Hipermatur
Katarak yang telah mengalami proses degenerasi lanjut,
dapat menjadi keras, lembek dan mencair Massa lensa yang
berdegenerasi keluar dari kapsul lensa, sehingga lensa
menjadi kecil, berwarna kuning dan kering.
Insipien Imatur Matur Hiperatur

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif

Cairan lensa Normal Bertambah (air Normal Berkurang


masuk) (air+masa lensa
keluar)

Iris Normal Terdorong Normal Tremulans

Bilik mata depan Normal Dangkal Normal Dalam

Sudut bilik mata Normal Sempit Normal Terbuka

Shadow test Negatif Positif Negatif Pseudopos

Penyulit - Glaukoma - Uveitis +


glaukoma
Diagnosis

Katarak biasanya didiagnosis melalui pemeriksaan rutin


mata. Sebagian besar katarak tidak dapat dilihat oleh
pengamat awam sampai menjadi cukup padat (matur atau
hipermatur) dan menimbulkan kebutaan. Namun, katarak,
pada stadium perkembangannya yang paling dini, dapat
diketahui melalui pupil yang dilatasi maksimum dengan
ophtalmoskop, kaca pembesar, atau slitlamp.
 Fundus okuli menjadi semakin sulit dilihat seiring dengan
semakin padatnya kekeruhan lensa, sampai reaksi fundus
sama sekali hilang. Pada stadium ini katarak biasanya
telah matang dan pupil mungkin tampak putih.
◦ Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien katarak
adalah pemeriksaan sinar celah (slit-lamp),
funduskopi pada kedua mata bila mungkin,
tonometer selain daripada pemeriksaan prabedah
yang diperlukan lainnya seperti adanya infeksi
pada kelopak mata, konjungtiva, karena dapat
penyulit yang berat berupa panoftalmitis pasca
bedah dan fisik umum.
Penatalaksanaan

Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur


operasi. Akan tetapi jika gejala katarak tidak
mengganggu, tindakan operasi tidak
diperlukan.
 Ada 4 teknik operasi ekstraksi katarak:
1. EKEK (Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsuler)
Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi
lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa
lensa dan kortek lensa dapat keluar melalui robekan.
2. EKIK (Ekstraksi Katarak Intra Kapsular)
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul.
3. Phakoemulsifikasi
4. SICS
Teknik operasi Small Incision Cataract Surgery (SICS) yang merupakan
teknik pembedahan kecil, teknik ini dipandang lebih menguntungkan karena
lebih cepat sembuh dan murah .
Prognosis

Keberhasilan tanpa komplikasi pada


pembedahan dengan ECCE atau
fakoemulsifikasi menjanjikan prognosis dalam
penglihatan dapat meningkat hingga 2 garis pada
pemeriksaan dengan menggunakan snellen chart.