Anda di halaman 1dari 29

Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya - RSUD Syamsuddin SH, Sukabumi

Chinese Journal of Cancer

Nasopharyngeal carcinoma in Indonesia:


epidemiology, incindence, signs, symptoms at
presentation
Marlinda Adham, Antonius N. Kurniawan, Arina Ika Muhtadi, Averdi
Roezin, Bambang Hermani, Soehartati Gondhowiardjo, I Bing Tan, and
Jaap M. Middeldorp

Supervised by: dr. Kote N, Sp.THT-KL, M.Kes.

Presented by: Gladys Riany 2014-061-076


Background
9.7/ 100.000
15/ 100.000

7.5/ 100.000

7/ 100.000

7/ 100.000

1. Cervical cancer
2. Breast cancer
3. Skin cancer
4. Nasopharyngeal cancer

6.2/ 100.000
 NPC  100% berkaitan dengan EBV (Epstein-Barr Virus)
 NPC tipe undifferentiated (WHO tipe 3)

  100% anak < 5 tahun terinfeksi EBV dan menjadi


karier laten virus.

 EBV biasanya asimptomatik atau hanya bermanifestasi sebagai


infeksi saluran nafas atas yang ringan.
Case definition & Historical Analysis
Data didapatkan dari arsip-arsip
RSCM Jakarta

1995 - 2005
1121 kasus NPC
Sampel pemeriksaan
histologi didapatkan dari
hasil biopsi dan klasifikasi
stadium berdasarkan kriteria
histUICC tahun 2002

213 pasien  pemeriksaan lebih lanjut


Results
NPC incidence
 Departmen THT RSCM Jakarta  6000 kasus kanker
kepala-leher  1121 kasus NPC

Males  789 kasus (70.4%) Female  332 kasus (29.6%)


Age distribution
Regional NPC incidence
Ethnic origin

Tahun 2007 – 2011:

Javanese 32% Betawi 7.6%


Sundanese 19,2% Lampung 2.9%
Chinese 10.6% Minangkabau 2.4%
Batak 9.5%
Histopathology
WHO criteria
Type 1 (12.7%) Differentiated squamous cell carcinoma
Type 2 (2.3%) Nonkeratinizing carcinoma
Type 3 (85%) Undifferentiated carcinoma
Etiology
 Infeksi EBV (usia muda) + reaktivasi virus kronik pada epitel
nasofaring!

 Metilasi gen (?)  lokus 4p15.1-q12 dan 3p21.3, 5p13-15


Clinical signs and symptoms at presentation
Kesulitan mendiagnosa stage awal
NPC (letaknya tersembunyi) Nasoendoscopy (+ Biopsy)

Pengetahuan masyarakat yg Terhambatnya diagnosis


rendah tentang NPC

Denial

Kesulitan ekonomi Terhambatnya pemberian


tatalaksana
Misdiagnosis akibat gejala yg
tidak spesifik

Kesadaran masyarakat masih


kurang tentang NPC
80.8% 
unilateral
Discussion
Insiden pasien dengan karsinoma nasofaring pada tahun 1995 – 2005
dari 1121 pasien (dengan 213 pasien dengan pemeriksaan tambahan 
biomarker).

 Penelitian Soeripto (1998)  6/100.000

 Insidensi NPC di Indonesia masih belum luas dieksplor  meningat


ada sekitar 12.000 kasus baru per tahunnya (terutama insidensi tinggi
di Denpasar, Malang, Surabaya, Bandung)

 Masyarakat Indonesia kelas atas kebanyakan malah mencari jalan


keluar ke negara lain seperti Singapur, Malaysia, dan Cina.

 NPC  Multietnik.
 Kejadian NPC di Indonesia berbeda dalam segi usia
dibandingkan Cina dan Afrika Utara.

 Serupa dengan Singapura: penelitian Loh et al.  usia 41-50


dengan usia puncak 50-60.
  insidensi NPC meningkat drastis semenjak usia 20
tahun, dan plateau selama usia 40-60.

  pada early adolescence sampai usia 45 tahun, insidensi


meningkat.
17 – 21%  <30 tahun
 3 faktor penting dalam kejadian NPC (dilihat dari studi
epidemiologi):
1. Kerentanan genetik
2. Terpapar karsinogen pada usia muda
3. Infeksi laten EBV
Karsinogen
 Makanan
1. Hati
2. Ikan asin
3. Daging awetan
4. Telur asin
5. Makanan yang diawetkan dengan formalin
6. Pewarna tekstil
 Zat inhalan
1. Asap dari makanan yang dimasak dengan arang/ bahan bakar
fosil
2. Asap kayu bakar
3. Merokok
Protektif
Konsumsi reguler buah-buahan dan sayuran  terutama
mengandung vitamin C.

Vitamin C  inhibisi aktivasi EBV in vitro (oleh TPA 12-0


tetradecangyl phorbol-13-acetate)
Biomarker
 Gold standard  EBER-RISH in-situ hybridation. (untuk
mendeteksi EBV laten pada jaringan.

 Selain itu, baik juga untuk menyingkirkan mononukleosis


infeksiosa, lymphoma Hodgkin, lymphoma non-Hodgkin.

 Kekurangan: mahal
Biopsi
 Sakit
 Prosedur invasif

Lain-lain
 Penelitian  deteksi EBV-DNA dari darah, plasma, atau
nasopharyngeal brushing.
 EBV-IgA mungkin bisa menjadi identifikasi awal.
Kesimpulan
 Di Indonesia, NPC merupakan kanker tersering yang ke-4 terutama pada lelaki,
dan biasanya datang sudah dalam keadaan stadium lanjut.

 Tatalaksana NPC kompleks, memerlukan biaya cukup besar, ditambah dengan


keadaan sosioekonomik.

 Deteksi dini dengan teknik yang simpel dan harga terjangkau nasopharyngeal
brush dan pemeriksaan darah, EBV-IgA, EBV-DNA  menghindari misdiagnosis
dan downstaging

 NPC masih dianggap membingungkan dan sering dimisdiagnosis dikarenakan


gejala yang tidak spesifik pada awal stadium  perhatian untuk dokter untuk
meningkatkan awareness.
References