Anda di halaman 1dari 40

PRESENTASI KASUS

Abses Retrofaring

Pembimbing:
dr. Kotё Noordhianta, Sp. THT-KL, M.Kes

Disusun Oleh:
Cintyadewi W. 2012-061-013
Identitas Pasien

• Nama : Tn. ER
• Usia : 41 tahun
• Pekerjaan : wiraswasta
• Alamat : Baboucan, Kel. Sukakarya
RT 001/012, Sukabumi
• Agama : Islam
• Suku : Sunda
• Tanggal masuk : Sabtu, 8 Juni 2013
• Tanggal Pemeriksaan : Senin, 10 Juni 2013
Anamnesa

• Keluhan Utama : nyeri menelan


sejak 4 hari yang lalu
• Keluhan Tambahan : batuk (+), pilek (+),
tenggorokan gatal, rasa mengganjal di bagian
leher dan nyeri (+).
• Riwayat Penyakit Sekarang :
• Pasien datang dengan keluhan nyeri menelan sejak 4 hari
yang lalu, pasien merasakan nyeri saat menelan, terutama
saat pasien makan dan minum. Semakin hari, nyeri yang
dirasakan semakin bertambah. Nyeri ini membuat pasien
sulit menelan makanan maupun minum. Dua minggu
sebelumnya, pasien mengaku terdapat batuk berdahak
berwarna kehijauan, sakit tenggorokan, dan pilek. Pasien
mengaku demam sejak 2 hari yang lalu, namun sekarang
sudah turun. Pasien juga merasakan 2 hari yang lalu
terdapat benjolan di leher sebelah kiri dan nyeri, sehingga
pasien berobat ke rumah sakit. Pasien tidak mengeluh
adanya sesak napas dan perubahan suara. Ini merupakan
pertama kalinya pasien mengalami gejala tersebut.
• Riwayat Penyakit Dahulu :
– Riwayat infeksi tenggorokan
– Riwayat Pneumonia saat pasien berumur 7 tahun
– Riwayat sakit gigi berulang disangkal
– Riwayat tumor dan keganasan disangkal
• Riwayat penyakit dalam keluarga
– Tidak ada anggota keluarga yang memiliki gejala
yang serupa dengan pasien.
Pemeriksaan Fisik

• Keadaan Umum : tampak sakit sedang


• Kesadaran : compos mentis
• Tekanan darah : 130/90 mmHg
• Nadi : 76 kali/menit
• Pernapasan : 28 kali/menit, tidak
tampak retraksi cuping hidung maupun
penggunaan otot-otot napas tambahan
• Suhu : 360C
Pemeriksaan Fisik THT
• Auris
• Auris Dextra
• Aurikula : normal
• Canalis akustikus eksternus: Hiperemis (-), edema (-), massa (-), laserasi (-),
sekret
• (-), serumen (+)
• Membran timpani : Intak, hiperemis (-), refleks cahaya (+)

• Auris Sinistra
• Aurikula : normal
• Canalis akustikus eksternus: Hiperemis (-), edema (-), massa (-), laserasi (-),
sekret
• (-), serumen (+)
• Membran timpani : Intak, hiperemis (-), refleks cahaya (+)

• Cavum Nasi
• Cavum Nasi Dextra
• Membran mukosa : Hiperemis (-), edema (-), sekret (-
), konka inferior eutrofi,
• massa (-), laserasi (-), krusta (-)
• Pasase udara : normal
• Cavum Nasi Sinistra
• Membran mukosa: Hiperemis (-), edema (-), sekret (-),
konka inferior eutrofi,
• massa (-), laserasi (-), krusta (-)
• Pasase udara : normal
• Orofaring : Hiperemis (+), T1/T1

• Maksilofasialis: simetris, nyeri tekan (-)

• Leher: tampak benjolan pada daerah
submandibula kiri, berbentuk bulat, dengan
diameter ± 4 cm, konsistensi kenyal,
permukaan rata, hiperemis (+), nyeri tekan
(+), fluktuasi (+)
Pemeriksaan Penunjang
• Darah Rutin
• 8 Juni 2013 di IGD
• Hemoglobin : 13.7 gr/dL
• Hematokrit : 41.6 %
• Leukosit : 16.800 /uL
• Trombosit : 236.000 /uL
Diagnosis

• Odinofagia e.c suspek Abses Retrofaring


Diagnosis Banding
• Abses submandibula
• Abses Parafaring
Saran Pemeriksaan
• Soft tissue leher (STL) AP/lateral
Tatalaksana

• Infus RL 20 tpm
• Bioxon 1x2 gr IV
• Metronidazole 3x1 IV
• Rativol 2x1 gr IV
• Akran 2x1 gr IV
Resume
• Pasien laki-laki, 41 tahun, datang dengan keluhan
odinofagia, oedema di daerah colli sinistra, nyeri bila
disentuh. Odinofagia baik makanan padat maupun cair
pada fase awal menelan. Pasien mengaku terdapat batuk,
pilek, radang tenggorokan, dan demam. Keluhan serupa
sebelumnya disangkal.
• Pada pemeriksaan tanda – tanda vital ditemukan telinga
dan hidung dalam batas normal. Pada pemeriksaan
orofaring, tampak hiperemis. Pada pemeriksaan leher
didapatkan benjolan di region submandibula sinistra,
diameter ± 4 cm, konsistensi kenyal, permukaan rata,
hiperemis, nyeri tekan, dan fluktuatif. Dari pemeriksaan
laboratorium didapatkan jumlah leukosit tinggi yaitu
16.800/uL.
Prognosis
• Ad vitam : bonam
• Ad fungsionam : dubia at bonam
• Ad sanationam : dubia at bonam
Follow Up
• 11 Juni 2013
• Keluhan : nyeri menelan sudah berkurang. Batuk
masih ada, berdahak berwarna kehijauan. Pilek (-
). Demam (-). Konsumsi makan bubur.
• Keadaan Umum : tampak sakit sedang
• Tekanan darah : 125/70 mmHg
• Nadi : 80 kali/menit
• Pernapasan : 20 kali/menit
• Suhu : 35.50C
• ADS : Normal/Normal
• CAE : hiperemis -/-, sekret -/-, massa -/-,
laserasi -/-, serumen +/+
• MT : intak / intak, refleks cahaya +/+
• CN : hiperemis -/-, sekret -/-, massa -/-, laserasi -
/-, konka inferior hipertrofi/eutrofi, septum nasi
di tengah
• NPOP : hiperemis (-), T1/T1
• MF : simetris, nyeri tekan (-)
• KGB : pembesaran (-)
STL AP/ Lateral
Tatalaksana
• Infus RL 20 tpm
• Bioxon 1x2 gr IV
• Metronidazole 3x1 IV
• Rativol 2x1 gr IV
• Akran 2x1 gr IV
• Vectrine 3xcth II
• Pro cek Lab I
• 12 Juni 2013
• Keluhan : Nyeri menelan (-). Masih terdapat
batuk dengan dahak kehijauan dan tenggorokan
terasa gatal. Konsumsi makan bubur.
• Keadaan Umum : tampak sakit ringan
• Tekanan darah : 120/80 mmHg
• Nadi : 64 kali/menit
• Pernapasan : 24 kali/menit
• Suhu : 360C
• ADS : Normal/Normal
• CAE : hiperemis -/-, sekret -/-, massa -/-,
laserasi -/-, serumen +/+
• CN : hiperemis -/-, sekret -/-, massa -/-, laserasi -
/-, konka inferior eutrofi/eutrofi, septum nasi di
tengah
• MT : intak / intak, refleks cahaya +/+
• NPOP : hiperemis (-), T1/T1
• MF : simetris, nyeri tekan (-)
• KGB : pembesaran (-)
• Pemeriksaan Penunjang:
• 12 Juni 2013
• Laboratorium darah
• Hb : 13.3
• Leukosit : 7.000
• Ht : 40.2
• Trombosit : 267.000
Tatalaksana

• Pasien boleh pulang


• Prolit 2x300mg
• Prednisone 2x1
• Pariet 2x1
Fasia servikalis :
Fasia servikalis superfisialis
Fasia servikalis profunda :
Lapisan superfisial
Lapisan media :
divisi muskular
divisi viscera
Lapisan profunda :
divisi alar
divisi prevertebra
Abses Retrofaring
• adalah suatu peradangan yang disertai
pembentukan pus pada daerah retrofaring
• umumnya sumber infeksi pada ruang
retrofaring berasal dari proses infeksi di
hidung, adenoid, nasofaring dan sinus
paranasal, yang menyebar ke kelenjar limfe
retrofaring.
• RUANG RETROFARING
• Ruang retrofaring terdapat pada bagian
posterior dari faring, yang dibatasi oleh:
• anterior : fasia buccofaringeal ( divisi viscera
lapisan media fasia servikalis profunda ) yang
mengelilingi faring, trakea, esofagus dan tiroid
• posterior : divisi alar lapisan profunda fasia servikalis
profunda
• lateral : selubung karotis ( carotid sheath ) dan
daerah parafaring.
• ETIOLOGI
• Secara umum abses retrofaring terbagi 2 jenis yaitu :
• 1. Akut.
• Sering terjadi pada anak-anak berumur dibawah 4 – 5
tahun. Keadaan ini terjadi akibat infeksi pada saluran nafas
atas seperti pada adenoid, nasofaring, rongga hidung, sinus
paranasal dan tonsil yang meluas ke kelenjar limfe
retrofaring (limfadenitis) sehingga menyebabkan supurasi
pada daerah tersebut. Sedangkan pada orang dewasa
terjadi akibat infeksi langsung oleh karena trauma akibat
penggunaan instrumen (intubasi endotrakea, endoskopi,
sewaktu adenoidektomi) atau benda asing.
• 2. Kronis.
• Biasanya terjadi pada orang dewasa atau anak-anak yang lebih tua.
Keadaan ini terjadi akibat infeksi tuberkulosis (TBC) pada vertebra
servikalis dimana pus secara langsung menyebar melalui
ligamentum longitudinal anterior. Selain itu abses dapat terjadi
akibat infeksi TBC pada kelenjar limfe retrofaring yang menyebar
dari kelenjar limfe servikal.
• Pada banyak kasus sering dijumpai adanya kuman aerob dan
anaerob secara bersamaan. Beberapa organisme yang dapat
menyebabkan abses retrofaring adalah :
• 1. Kuman aerob : Streptococcus beta hemolyticus group A
(paling sering), Streptococcus pneumoniae, Streptococcus non –
hemolyticus, Staphylococcus aureus , Haemophilus sp
• 2. Kuman anaerob : Bacteroides sp, Veillonella,
Peptostreptococcus, Fusobacteria
 GEJALA DAN TANDA KLINIS
Dari anamnesis biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas atas. Gejala dan
tanda klinis yang sering dijumpai pada anak :
1. demam
2. sukar dan nyeri menelan
3. suara sengau
4. dinding posterior faring membengkak (bulging) dan hiperemis pada satu sisi.
5. pada palpasi teraba massa yang lunak, berfluktuasi dan nyeri tekan
6. pembesaran kelenjar limfe leher (biasanya unilateral).
Pada keadaan lanjut keadaan umum anak menjadi lebih buruk, dan biasa
dijumpai adanya :
1. kekakuan otot leher (neck stiffness) disertai nyeri pada pergerakan
2. air liur menetes (drooling)
3. obstruksi saluran nafas seperti mengorok, stridor, dispnea
Gejala yang timbul pada orang dewasa pada umumnya tidak begitu berat bila
dibandingkan pada anak. Dari anamnesis biasanya didahului riwayat tertusuk benda
asing pada dinding posterior faring, pasca tindakan endoskopi atau adanya riwayat
batuk kronis. Gejala yang dapat dijumpai adalah :
1. demam
2. sukar dan nyeri menelan
3. rasa sakit di leher ( neck pain )
4. keterbatasan gerak leher
5. dispnea
DIAGNOSIS
• Anamnesis
• Pemeriksaan klinis
• Laboratorium :
• darah rutin : lekositosis
• kultur spesimen ( hasil aspirasi )
• Radiologis :
• Foto jaringan lunak leher lateral
• Dijumpai penebalan jaringan lunak retrofaring ( prevertebra ) :
– setinggi C2 : > 7 mm ( normal 1 - 7 mm ) pada anak-anak dan dewasa
– setinggi C6 : > 14 mm ( anak-anak , N : 5 – 14 mm ) dan > 22 mm ( dewasa, N : 9 – 22 mm )
• Pembuatan foto dilakukan dengan posisi kepala hiperekstensi dan selama inspirasi.
Kadang-kadang dijumpai udara dalam jaringan lunak prevertebra dan erosi korpus
vertebra yang terlibat.
• CT Scan
• MRI
• PENATALAKSANAAN
• Mempertahankan jalan nafas yang adekuat :
– posisi pasien supine dengan leher ekstensi
– pemberian O2
– intubasi endotrakea dengan visualisasi langsung /
intubasi fiber optik
– trakeostomi / krikotirotomi
• Medikamentosa
• Antibiotik ( parenteral )
• Pemberian antibiotik secara parenteral sebaiknya diberikan secepatnya tanpa
menunggu hasil kultur pus. Antibiotik yang diberikan harus mencakup terhadap
kuman aerob dan anaerob, gram positip dan gram negatif. Dahulu diberikan
kombinasi Penisilin G dan Metronidazole sebagai terapi utama, tetapi sejak
dijumpainya peningkatan kuman yang menghasilkan B– laktamase kombinasi obat
ini sudah banyak ditinggalkan. Pilihan utama adalah clindamycin yang dapat
diberikan tersendiri atau dikombinasikan dengan sefalosporin generasi kedua,
seperti cefuroxime atau beta – lactamase – resistant penicillin seperti ticarcillin /
clavulanate, piperacillin / tazobactam, ampicillin / sulbactam. Pemberian antibiotik
biasanya dilakukan selama lebih kurang 10 hari.
• Simptomatis
• Bila terdapat dehidrasi, diberikan cairan untuk memperbaiki keseimbangan cairan
elektrolit.
• Pada infeksi Tuberkulosis diberikan obat tuberkulostatika.
Operatif:
• Aspirasi pus ( needle aspiration )
• Insisi dan drainase
KOMPLIKASI

1. Massa itu sendiri : obstruksi jalan nafas


2. Ruptur abses : asfiksia, aspirasi pneumoni, abses paru
3. Penyebaran infeksi ke daerah sekitarnya :
a. inferior : edema laring , mediastinitis, pleuritis, empiema, abses
mediastinum
b. lateral : trombosis vena jugularis, ruptur arteri karotis, abses parafaring
c. posterior : osteomielitis dan erosi kollumna spinalis
4. Infeksi itu sendiri : necrotizing fasciitis, sepsis dan kematian.
PROGNOSIS

• Pada umumnya prognosis abses retrofaring baik


apabila dapat didiagnosis secara dini dengan
penanganan yang tepat dan komplikasi tidak
terjadi. Pada fase awal dimana abses masih kecil
maka tindakan insisi dan pemberian antibiotika
yang tepat dan adekuat menghasilkan
penyembuhan yang sempurna. Apabila telah
terjadi mediastinitis, angka mortalitas mencapai
40 - 50% walaupun dengan pemberian antibiotik.
Ruptur arteri karotis mempunyai angka mortalitas
20 – 40% sedangkan trombosis vena jugularis
mempunyai angka mortalitas 60%.