Anda di halaman 1dari 31

Pembimbing : dr. Ricky Yue, Sp.

THT-KL

Penyaji : Windy Wiyono 2010-061-040


Raphael Kosasih 2010-061-042
Anatomi Laring
 Letak pada ujung atas trakea, C3-C6 (male)
 Panjang, Diameter Trans, AP = 44,43,36  male
36,41,26  Female
•Anak2 sebelum pubertas, AP laki : pr = 2 :1
•Laring infantil : corong, sempit di antara
subglotis dan trakea, lebih atas, tulang rawan
lunak.
Laring
 Disokong oleh 4 tulang rawan
 Kartilago Thyroid
 Kartilago Krikoid
 Kartilago Aritenoid
Kartilago Thyroid
 Tulang rawan terpanjang, bentuk
perisai
 Terdiri dari 2 lamina
 Membentuk takik tiroid = tiroid
notch
 Anterior membentuk prominensia
laringeal
 Melekatnya membrana krikotiroid
pada batas inferior
Kartilago Krikoid
 Cincin tulang rawan lengkap
 Berbentuk seperti cincin
meterai
 Batas2 lamina membentuk
persendian dengan aritenoid
dan kornu inferior kartilago
tiroid
Pendarahan laring
• Cabang laringeal dari arteri tiroid
superior dan inferior
• A.karotis eksterna > a.tiroid sup >
a.laringeal sup + n.laring
sup=>membrana tirohioid >
anastomose
• Cab 1 a.subclavia > trunkus tiroservikal
> a.tiroid inf > a.laringeal inf +
n.aringeal rekuren
• A. Krikotiroid melewati a.tiroid sup>
atas ligamentum krikotiroid >
anastomosis
Persyarafan
 Berasal dari nervus vagus
 N.laringeal sup, dari ganglion inf n.vagus + simpatis
cervical sup
N.laringeal rekuren,
meninggalkan n.vagus
plg terakhir
menyeberangi a.subclavia
kanan, sisi kiri
menyeberangi arkus aorta
memberi filamen cardia
 Pada garis tengah dari atas ke bawah dapat diraba : tlg
rawan hyoid, tiroid, krikoid, dan trakea.
 Pada perabaan terdapat turunan lembut antara krikoid
dan tiroid
 Daerah membrana krikotiroid, tempat dilakukannya
krikotirotomi.
Definisi
 Sebuah prosedur pembedahan untuk membuka jalan
napas melalui membran krikotiroid lalu meletakkan
sebuah tube untuk ventilasi.

 =/= TRAKEOSTOMI

 Krikotirotomi lebih dipilih dalam situasi darurat


karena relatif sederhana, cepat, dan komplikasi
perioperatif lebih rendah.
SEJARAH
 Pembedahan saluran napas atas dikenal sejak tahun 2000SM
 Dianggap sebagai kutukan, semi-slaughter (penjagalan)
 Cara penyembuhan difteri
 Istilah krikotirotomi  mulai dikenal pada tahun 1805
 th 1909, Dr. Chevalier Jackson, seorang laringologis di Jefferson
Medical School di Philadelphia, mendeskripsikan teknik bedah
krikotirotomi dan faktor penting lain yang perlu diperhatikan saat
melakukan krikotirotomi
 200 pasien stenosis subglotis  jarang dilakukan lagi
 Th 1970, dr. Brantigan dan dr. Grow melaporkan sebuah serial dari 655
pasien yang menjalani operasi elektif krikotirotomi dengan komplikasi
yang minimal, yaitu sekitar 6,1% saja. Diantara para pasien tersebut,
hanya 8 orang ( 0.01% ) yang mengalami stenosis subglotis.
Indikasi
Indikasi absolut : situasi “cant intubate, cant ventilate”
Menurut Algoritma dari The American Society of
Anesthesiologists (ASA) Difficult Airway, rekomendasi
sebagai usaha akhir pada kegagalan penanganan jalan
napas darurat.
Indikasi lain :
 penanganan jalan napas awal pada trauma fasialis (
distorsi dari wajah dan hidung),
 obstruksi saluran napas di atas glotis

Krikotirotomi >3-5 hari  resiko stenosis subglotis 


elektif trakeostomi
Kontraindikasi
 “Cant intubate, cant ventilate”  TIDAK ADA
KONTRAINDIKASI

Kontraindikasi absolut :
 Infeksi laring
 Trauma laring
 Saat intubasi endotrakeal masih dapat dilakukan dengan mudah
dan cepat tanpa kontraindikasi relatif.

Kontraindikasi relatif :
open surgical krikotirotomi : anak – anak usia kurang dari 10-12
tahun,
trauma pada leher yang parah  landmark hilang
hematoma luas pada leher
penyakit laring / keganasan pada daerah subglotis.2
Peralatan
 Blade No. 15

 Crile forceps atau hemostat

 Endotracheal tube ukuran kecil


(No. 5) atau tracheostomy tube
No. 4 cuffed

 Krikoid hook (single curved hook)

 Gunting

 Tracheal dilator
Prosedur
 Open surgical cricothyrotomy
 Needle Cricothyrotomy
Open Surgical Cricothyrotomy
1. Posisikan pasien supine atau dekubitus.
2. Antiseptik leher  betadine. Anestesi lokal bila
memungkinkan.
3. Identifikasi landmark : sternal notch, kartilago
tiroid, dan kartilago krikoid.
4. Menstabilisasi kartilago tiroid  laring terfiksasi
ditengah.
5. Insisi kulit midline diatas membran krikotiroid.
6. Palpasi membran krikotiroid melalui insisi
tersebut, lalu insisi membran krikotiroid secara
horizontal pada tepi bawah ruang krikotiroid, hati –
hati jangan sampai mengganggu kartilago tiroid dan
kartilago krikoid.
7. Melebarkan lubang tersebut secara horizontal
sampai mencapai ukuran yang sesuai sambil
diangkat untuk mengekspos lubang.

(krikoid hook pada tepi


bawah kartilago tiroid untuk
membantu mengangkat
dan melebarkan lubang)
(krikoid hook pada tepi bawah kartilago tiroid untuk
membantu mengangkat dan melebarkan lubang)
8. Masukkan tracheostomy tube atau endotracheal
tube ke dalam lubang krikotiroid.
9. Kembangkan balon untuk memfiksasi dan berikan
ventilasi dengan bag
10. Konfirmasi posisi intratrakeal (min 2) :
detektor carbondioksida, auskultasi, gerakan
pengembangan dada, atau detektor end tidal CO2.
9. Observasi pergerakan dada dan auskultasi dada.
10. Amankan dan fiksasi tube.
11. Sesuaikan fiksasi dengan indikasi pasien.
Rapid Five-Step Technique
1. Identifikasi landmarks dan stabilisasi jalan napas.
2. Insisi kulit secara vertikal.
3. Insisi membran krikotiroid secara horizontal.
4. Masukkan clamp untuk membuka dan mengangkat
jalan napas.
5. Masukkan trakeostomi tube atau endotrakeal tube
ukuran kecil.
Needle Cricothyrotomy
1. Posisikan pasien supine , leher hiperekstensi
2. Posisikan operator di ujung kepala sebelah kiri
3. Antiseptik leher  betadine. Anestesi lokal bila
memungkinkan.
4. Identifikasi landmark : sternal notch, kartilago
tiroid, dan kartilago krikoid.
5. Fiksasi laring dan kartilago thyroid
6. Dengan jarum suntik berisi normal saline atau
lidokain, tusukkan kateter dan jarum dengan sudut
45° dari arah kaudal, sampai udara masuk
7. Cabut jarum sambil mendorong kateter ke dalam
8. Berikan ventilasi sementara dengan resuscitation
bag, lalu sambungkan dengan sumber ventilasi
9. Konfirmasi posisi intratrakeal (min 2) :
detektor carbondioksida, auskultasi, gerakan
pengembangan dada, atau detektor end tidal CO2.
9. Observasi pergerakan dada dan auskultasi dada.
10. Amankan dan fiksasi tube
11. Sesuaikan fiksasi dengan indikasi pasien
Komplikasi
 Insidens : 3 – 39%

Di bawah ini adalah beberapa komplikasi yang dilaporkan :


 Pembentukan jalan napas yang salah, tube terpasang di
mediastinum
 Trauma pita suara
 Subglotic stenosis, laryngeal stenosis
 Pendarahan
 Laserasi esofagus
 Laserasi trakea
 Emfisema mediastinum
 Pneumothorax
 Aspirasi
 Infeksi
TERIMA KASIH