Anda di halaman 1dari 34

SISTEM AKUSTIK DAN

NOISE

OLEH
A. A. ISTRI DEIDRE FORTUNA DEWI (1304205014)
A.A. AYU AGUNG CANDRA DEWI (1304205027)
I WAYAN ADI PRAYOGA (1304205031)
MADE RATIH KUSUMA DEWI (1304205034)
IVAN ISWARA (1304205043)
TASYA RAHMADIA GHANIY (1304205049)

UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN ARSITEKTUR
TAHUN 2015
PENGERTIAN AKUSTIK

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi


ketiga, akustik merupakan ilmu fisika yang
mempelajari suara.
 Menurut Satwiko (2004 : 124), akustik berarti ilmu
tentang bunyi.
 Dengan demikian, sistem akustik adalah ilmu yang
mempelajari tentang mutu suara dan bunyi yang
dihasilkan. Akustik sendiri berhubungan dengan
organ pendengar, suara, atau ilmu bunyi.
PENGERTIAN NOISE

 Menurut McGraw-Hill Dictionary of Scientificand


Technical Terms (Parker, 1994), noise adalah sound
which is unwanted (bunyi yang tidak dikehendaki).
 Derau atau yang biasa disebut noise adalah suatu
sinyal gangguan yang bersifat akustik (suara),
elektris, maupun elektronis yang hadir dalam suatu
sistem (rangkaian listrik/ elektronika) dalam bentuk
gangguan yang bukan merupakan sinyal yang
diinginkan
PENGERTIAN NOISE

Noise bersifat subjektif, sehingga batasan noise bagi


orang yang satu bisa saja berbeda dengan batasan
noise bagi yang lain. Sebjektivitas noise bergantung
pada :

1. Lingkungan dan keadaan


2. Sosial budaya
3. Kegemaran atau hobi
PENGERTIAN NOISE

Dalam nois dikenal istilah background noise (nois


latar belakang), noise, dan ambient noise (nois
ambien).
 Noise latar belakang
 Noise
 Noise ambien
Noise Criteria (NC)

NIlai NC yang
Fungsi Bangunan/Ruang Identik dengan kebisingan (dBA)
disarankan
Ruang konser, opera,studio rekam, dan
NC 15-NC 20 25 s.d. 30
ruang dengan tingkat akustik yang detik
Rumah sakit, dan ruang tidur/istirahat pada
rumah tiggal,apartemen, motel, hotel, dan NC 20-NC 30 30 s.d. 40
ruang lain untuk istirahat/tidur.
Auditorium multifungsi, studio
radio/televisi,ruang konferensi, dan ruang NC 20-NC 30 30 s.d. 40
lain dengan tingkat akustik yang sangat baik
Kantor,kelas, ruang baca,perpustakaan, dan
NC 30-NC 35 40 s.d. 45
ruang lain dengan tingkat akustik yang baik
Kantor dengan penggunaan ruang
bersama,kafetaria, tempat olah raga,dan NC 35-NC 40 45 s.d. 50
ruang lain degan tingkat akustik yang cukup
Lobi, koridor, ruang bengkel kerja, dan
ruang lain yang tidak membutuhkan tingkat NC 40-NC 45 50 s.d. 55
akustik yang cermat
Dapur, ruang cuci, garasi, pabrik, pertokoan NC 45-NC 55 55 s.d. 65

Tabel : Rekomendasi nilai Noise Criteria (NC) untuk fungsi tertentu


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 24
PERATURAN KEBISINGAN DI INDONESIA

Peraturan MenKes No 718/MenKes/Per/XI/87 dan


Keputusan Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular
(PPM) No. 70-I/PP.03.04.LP. Dari peraturan tersebut,
diperbolehlah bakuan tingkat kebisingan menurut
pintakat peruntukan (zone) sebagai berikut :
PERATURAN KEBISINGAN DI INDONESIA

Pintakat Peruntukan Tingkat Kebisingan (dBA)


Maksimum di dalam Bangunan
Dianjurkan Diperbolehkan
A Laboratorium,rumah sakit, 35 45
panti perawatan

B Rumah, sekolah, tempat 45 55


rekreasi

C Kantor,pertokoan 50 60
D Industri, terminal, stasiun 60 70
KA
Gambar : Pintakan Peruntukan (Peraturan Menkes No 718/MenKes/Per/XI/87, dalam Lutfi,1995)
Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 28
SUMBER KEBISINGAN POTENSIAL

 Kebisingan industri pabrik


 Kebisingan kereta api
 Kebisingan pesawat terbang
 Kebisingan Jalan Raya
KEBISINGAN DI JALAN RAYA

Faktor penentu :
 Jumlah atau volume kendaraan
 Rasio kendaraan berkapasitas besar
 Rasio kendaraan beroda dua bermesin dua langkah
 Laju kendaraan
 Karakteristik jalan
 Kemiringan jalan
 Adanya pengaturan lalu lintas
 Muka bangunan yang berhadap hadapan dan saling
membentuk koridor
 Pemanfaatan trotoar
Karakteristik Jalan

N Kelas Jalan Spesifikasi


o
1 Jalan Arteri Melayani angkutan umum denganciri perjalanan jarak jauh,
kecepatan tinggi, dan jalan masuk dibatasi secara efisien

2 Jalan Kolektor Melayani angkutan umum dengan ciri perjalanan jarak sedang,
kecepatan rendah, dengan jumlah jalan masuk dibatasi

3 Jalan Lokal Melayani angkutan umum dengan ciri perjalanan dekat,kecepatan


rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi

Tabel : Kelas jalan menurut fungsi


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 39
Karakteristik Jalan

No Kelas Spesifikasi Jalan dan Kendaraan

1 I Jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatannya dengan lebar
maksimum 2,5 m, panjang maksimum 18m dan muatannya dengan sumbu terberat >
10 ton

2 II Jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatannya dengan lebar
maksimum 2,5 m, panjang maksimum 18m dan muatannya dengan sumbu terberat
maksimum 10 ton

3 III Jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
muatannya dengan lebar maksimum 2,5 m, panjang maksimum 18m dan muatannya
dengan sumbu terberat maksimum 8 ton

4 IV Jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatannya dengan
lebar maksimum 2,5 m, panjang maksimum 12m dan muatannya dengan sumbu
terberat maksimum 8 ton

5 V Jalan lokal yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatannya dengan lebar
maksimum 2,1 m, panjang maksimum 9m dan muatannya dengan sumbu terberat
maksimum 8 ton

Tabel : Kelas jalan menurut PP no 43/1993


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 39
KEBISINGAN PADA BANGUNAN DAN
ASAS PENANGGULANGANNYA
Perambatan Kebisingan ke Dalam
Bangunan

 Airborne sound
 Structureborne sound
Asas Penanggulangan Perambatan
Kebisingan ke Dalam Bangunan

 Refleksi
Pada keadaan tertentu, memantulkan (merefleksikan)
kembali gelombang bunyi yang mengenai objek dapat
mengurangi penyebaran kebisingan ke balik objek
tersebut.
Asas Penanggulangan Perambatan
Kebisingan ke Dalam Bangunan

 Absorpsi
Prinsip penerapan absorpsi juga dapat dipakai untuk
menganggulangi penyebaran kebisingan. Namun
karena penyerapan sesungguhnya hanya terjadi secara
efektif pada permukaan objek saja, maka cara ini
umumnya kurang efektif untuk menahan kebisingan
dari bunyi berfrekuensi rendah dengan kekuatan getar
yang hebat.
Asas Penanggulangan Perambatan
Kebisingan ke Dalam Bangunan

 Insulasi
Prinsip ini merupakan penggabungan dari refleksi,
absorpsi, dan peredaman getaran yang mengikuti
kebisingan.
Insulasi

Objek yang bertugas sebagai insulator harus


memenuhi persyaratan sebagai berikut
 Berat
 Keutuhan material
 Elastisitas
 Prinsip isolasi
Insulasi

Ketika sebuah objek dipasang untuk menjadi


insulator, maka untuk mengukur tingkat
kemampuannya sebagai insulator, dipakai kriteria
yang disebut Sound Reduction Index (SRI). SRI akan
menunjukkan tingkat kebisingan yang dapat diredam
oleh objek tersebut. Adapun nilai SRI dari beberapa
material disajikan sebagai berikut :
Insulasi

Berat nominal
Konstruksi Rerata SRI 500 Hz (dB)
permukaan (kg/m2)
Dinding :

215 mm bata berat (batako) diplester 425 50

102,5 mm bata berat diplester 215 45


100 mm beton berat 230 45
300 mm beton ringan 190 42
50 mm beton berat 115 40
12 mm plasterboard 12 25
Jendela :
Ganda, rongga 150-200 mm, diperkuat
Maks 40
sealant*
Tunggal, tebal 12mm dengan sealant 30 30
Tunggal, tebal 6 mm dengan sealant 15 25
Tunggal, tidak dengan sealant 20
Model apa saja, terbuka 12
*) Sealant adalah karet penutup celah antara daun jendela dengan kusen dan antara panil pengisi daun dengan
daun jendela
Gambar : Nilai SRI beberapa material bangunan
Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 53
Akustika Luar Ruangan
Reduksi Kebisingan Secara Alamiah

Tanpa perlakuan khusus, misalnya dengan menempatkan elemen elemen


buatan, sebenarnya fenomena alam yang terjadi di sekitar kita mampu
mengurangi tingkat kebisingan. Meskipun nilai reduksi kebisingan akibat
kondisi di sekitar bangunan tidak terlampau signifikan, ada baiknya kita
mempelajari hal tersebut untuk selanjutnya berusaha mencapai nilai
maksimal. Adapun faktor-faktor alami yang memungkinkan reduksi
kebisingan adalah :
Reduksi Kebisingan Secara Alamiah

 Jarak
𝑃
𝐼=
4𝜋𝑟 2
Reduksi Kebisingan Secara Alamiah

 Serapan udara
Udara di sekitar kita yang menjadi medium
perambatan gelombang bunyi, sesungguhnya mampu
menyerap sebagian kecil gelombang bunyi yang
melewatinya.Kemampuan serapan udara tersebut
tergantung pada suhu dan kelembabannya. Selain
karena suhu dan kelembaban, tingkat serapan juga
berbeda-beda tergantung pada frekuensi bunyi yang
merambat
Reduksi Kebisingan Secara Alamiah

 Angin

Perkiraan reduksi bunyi setiap 30,5 m pada


Frekuensi
kecepatan angin 16 km/jam (4,4m /det)
125 Hz 0.3 dB
250 Hz 0.5 dB
500 Hz 1.3 dB
1000 Hz 2,8 dB
2000 Hz 2,3 dB
4000 Hz 2,5 dB

Gambar : Pengaruh angin terhadap reduksi bunyi


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 61
 Permukaan tanah

Gambar : Kondisi permukaan bumi yang rata atau berbukit yang memungkinkan terjadinya reduksi
oleh penghalang secara alamiah (Egan, 1976)
Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 61
Reduksi Kebisingan Secara Buatan

 Menata Lay Out Bangunan


 Penghalang Buatan, faktor yang harus diperhatikan:
 Posisi atau perletakan
 Dimensi
 Material
Setelah posisi dan dimensi barrier ditentukan, maka untuk menghitung hasil hitungan yang
telah diperoleh perlu kiranya diperhitungkan berat material sebagai berikut (Freeborn dan
Turner, 1998/1999). :
Untuk mendukung reduksi 0-10 dBA, diperlukan bahan dengan berat minimal 5kg/m2
Untuk mendukung reduksi 11-15 dBA, diperlukan bahan dengan berat minimal 10kg/m2
Untuk mendukung reduksi 16-20 dBA, diperlukan bahan dengan berat minimal 15kg/m2

 Estetika
 Penggunaan material insulasi kombinasi
AKUSTIKA DALAM RUANGAN
Refleksi

Refleksi atau pemantulan buni oleh suatu objek


penghalang atau bidang batas disebabkan oleh
karakteristik penghalang yang memungkinkan
terjadinya pemantulan.
Pemantulan yang umumnya terjadi dapat
digambarkan sebagai:
 Near field
 Reverberant field
 Free field
Reverberation

Terjadinya perpanjangan bunyi ini disebut reverberation


(dengung). Pengukuran tingkat reverberation dalam sebuah ruangan
dilakukan dengan menggunakan waktu dengung (reverberation time).
Waktu dengung pada sebuah ruangan akan bergantung pada; volume
ruangan, luas permukaan bidang-bidang pembentuk ruangan, tingkat
penyerapan permukaan bidang, dan frekuensi bunyi yang muncul dalam
ruangan. Melalui waktu dengung, kualitas akustik suatu ruangan dapat
ditentukan.setiap ruangan dengan fungsi tertentu memiliki waktu
dengung ideal, sesuai dengan aktivitas yang diwadahinya.
Pengontrolan Echo dan Reverberation

Kadang-kadang, terjadi situasi dimana kita mengharapkan munculnya reverberation, namun yang
muncul justru echo. Demikian pula, ketika diharapkan sebuah ruangan tidak memiliki pemantulan sama
sekali, reverberation maih saja terjadi. Pada keadaan semacam ini, ketika volume ruangan tidak berubah,
satu-satunya yang dapat dilakukan untuk dapat memecahkan masalah ini adalah mengubah material
permukaan bidang batas pembentuk ruang, yaitu dengan mengubah material dari yang memiliki tingkat
pemantulan tinggi menjadi material dengan tingkat pemantulan rendah, atau dari material yang dapat
memantulkan menjadi material yang sama sekali tidak memantulkan (material dengan tingkat pnyerapan
tinggi).

Gambar : Pelapis Akustik dengan pori-pori kecil


Sumber : Akustika Bangunan, Prinsip Prinsip dan Penerapannya di Indonesia hal 83
Absorpsi

Sesuai dengan karakteristik materialnya, sebuah bidang batas selain dapat memantulkan kembali
gelombang bunyi yang datang, juga dapat menyerap gelombang bunyi. Penerapan ini akan
mengakibatkan berkurang atau menurunnya energy bunyi yang menimpa bidang batas tersebut. Adapun
jenis-jenis absorber yang umumnya dijumpai adalah:
CONTOH PENERAPAN AKUSTIKA PADA
BANGUNAN
AKUSTIKA PADA BANGUNAN STUDIO
Pengendalian kebisingan adalah kunci utama dari keberhasilan ruang studio. Pengendalian ditinjau dari
dua hal , yaitu menahan masuknya kebisingan dari luar dan menahan keluarnya kebisingan dari dalam,
terutama pada studio studio yang menghasilkan kebisingan tinggi seperti studio untuk musik.
Pengendalian dapat dilakukan dengan
 Usaha usaha untuk menjauhkan bangunan studi dari sumber kebisingan(pada bangunan yang
memiliki lahan cukup luas)
 Bila kebisingan dari jalan telah sedemikian tinggi ,
disarankan untuk membangun barrier atau penghalang
yang tidak mengganggu fasad bangunan secara
keseluruhan
 material dengan tingkat insulasi tinggi.
 Lantai studio sebaiknya dirancang dengan model lantai
ganda (raised floor). Sistem lantai ini idealnya dibuat dari
bahan yang berbeda agar getaran tidak mudah diteruskan
 konstruksi plafon studio diusahakan untuk dipasang tidak
menempel dengan rangka atap, namun dipasang
menggantung