Anda di halaman 1dari 42

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat – BAPPENAS

Disampaikan dalam Sosialisasi Revisi RAD-PG Provinsi Kalimantan Timur dan


Rancangan Peraturan Gubernur RAD-PG Se-Kalimantan Timur Tahun 20017
Samarinda, 01 Agustus 2017

1
I. Pendahuluan

2
Latar Belakang
1. Dunia telah mamasuki era globalisasi, penuh persaingan secara regional maupun
global.
• Tantangan SDM Indonesia adalah beban gizi ganda di semua siklus kehidupan
(“across the life course”)
• Dampak masalah pangan dan gizi pada usia dini tidak terbatas pada status gizi
saja, seperti pendek, kegemukan, dan gizi buruk, tetapi jauh lebih luas karena
terkait dengan risiko rendahnya kecerdasan, serta risiko menderita penyakit
tidak menular pada usia dewasa.
2. Untuk mengatasinya, perlu kerjasama multisektor di pusat-daerah sehingga :
 ibu hamil dan Ibu menyusui tidak kurang makan, tidak kurus, dan tidak anemia;
 Anak tidak BBLR, tidak pendek, tidak anemia; dan
 Anak dan orang dewasa tidak gemuk
3
Tujuan RAN-PG

RAN-PG bertujuan untuk :


• Mengintegrasikan dan menyelaraskan perencanaan pangan dan gizi nasional
melalui koordinasi program dan kegiatan multisektoral;
• Meningkatkan pemahaman, peran dan komitmen Pemangku Kepentingan Pangan
dan Gizi untuk mencapai Kedaulatan Pangan serta Ketahanan Pangan dan Gizi.
• Memberikan panduan bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam
melaksanakan rencana aksi Pangan dan Gizi dengan menggunakan pendekatan
multisektor; dan
• Memberikan panduan bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam
melaksanakan pemantauan dan evaluasi rencana aksi Pangan dan Gizi;

4
DASAR HUKUM

• UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Pasal 63 (ayat 3)


“Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyusun rencana aksi
Pangan dan Gizi setiap 5 (lima) tahun”.
• UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
• UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.
• Perpres No. 2 Tahun 2015 tentang RPJMN Tahun 2015-2019.
• Perpres No. 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional
Percepatan Perbaikan Gizi.
5
II. Peranan Pangan dan Gizi
Dalam Pembangunan

6
Situasi Pangan dan Gizi

1. Situasi Pangan; ditunjukkan oleh tiga indikator utama


yaitu:
1. Produksi dan impor, yang menggambarkan ketersediaan
pangan
2. Harga pangan, yang menggambarkan kondisi distribusi
dan akses pangan
3. Tingkat konsumsi pangan yang menggambarkan tingkat
pemanfaatan pangan

7
Ketersediaan Pangan
Produksi Pangan Utama Nasional 2004-2014

Sumber : BPS dan Kementerian Pertanian diolah Bappenas

• Produksi pangan utama nasional dalam 10 tahun terakhir menunjukkan tren


yang meningkat, walaupun rata – rata sekitar 2%.
• Terjadi fluktuasi produksi pangan

8
Impor Pangan
Impor Pangan Utama, 2004-2013

Sumber : BPS dan Kementerian Pertanian diolah Bappenas

• Dalam 10 tahun terakhir, impor pangan utama menunjukkan fluktuasi --


>menggambarkan kebijakan impor yang sangat situasional
• Keberdaan impor dianggap sebagai langkah terakhir ketika produksi pangan nasional
tidak mencukupi. Contoh : Tahun 2011 impor beras 2,75 juta ton; sedangkan tahun
2012 impor beras 1,7 juta ton
9
Distribusi dan Harga Pangan

Perkembangan Harga Pangan Bulanan, 2010-2014

Sumber : BPS, Kemendag, Kemenko Perekonomian, diolah Bappenas

• Distribusi pangan berfungsi penting untuk menyalurkan pangan kepada konsumen,


diperlukan infrastruktur, transportasi dan logistik yang baik.
• Harga pangan utama dalam 5 tahun terakhir relatif stabil kecuali untuk daging sapi. Pada
tahun 2010 sebesar Rp. 20.000 per kg menjadi Rp. 100.000 per kg pada tahun 2014
10
Konsumsi Pangan

Pola Konsumsi Pangan Tahun 2014


Kelompok Pangan 2014 (baseline) Proporsi total energi
Padi-padian 1170 59,48
Umbi-umbian 38 1,93
Pangan hewani 183 9,30
Minyak dan lemak 244 12,40
Buah/biji berminyak 38 1,93
Kacang-kacangan 57 2,90
Gula 91 4,63
Sayur dan buah 110 5,59
Lain-lain 36 1,83
Total Energi 1967 100,00
Total Protein 55,9
SKOR PPH 81,8
Sumber: Kementerian Pertanian

• Dalam 10 tahun terakhir, pengeluaran per kapita untuk pangan sekitar 50% dari pendapatan.
• Jenis pangan yang dikonsumsi masih didominasi bersumber padi-padian yaitu sekitar hampir
60%

11
2. Situasi Gizi

Prevalensi Balita dengan Status Gizi Kurang dan Gizi Buruk


(underweight), berdasarkan Riskesdas 2007, 2010, dan 2013
12
Situasi Gizi
70,0

60,0

50,0
37,2

40,0

30,0
36,8
20,0

10,0

0,

T
S
Keterangan = 2007; = 2010; dan = 2013 Sumber: Riskesdas
Persentase Anak Balita Pendek Berdasarkan Provinsi

Standar WHO :
Stunting Berat 30-39% : 14 Provinsi
Serius >40% : 15 Provinsi
13
Prevalensi Balita Stunting(TB/U)
di Prov. Kaltim Berdasarkan Kab/Kota Tahun 2016
40
37.1

35
30.8
29.8
30
27.2 27.1 27.1 26.8
24.6 24.3 24
25

20.4
20

15

10

0
Kutai Mahakam Kutai Timur Berau Panajam Paser Provinsi Kuta Barat Paser Kota Kota Kota Bontang
Kartanegara Hulu Utara Kaltim Balikpapan Samarinda

Sumber: PSG 2016


Prevalensi Balita Gizi Buruk+Kurang (BB/U)
di Prov. Kaltim Berdasarkan Kab/Kota Tahun 2016
30

25 24.3
23.6 23.4

20.5 20.3 19.9 19.8


20 19.2

16.6 16.6

15
13.2

10

0
Paser Kutai Panajam Paser Berau Kota Kuta Barat Provinsi Kutai Timur Mahakam Kota Kota Bontang
Kartanegara Utara Samarinda Kaltim Hulu Balikpapan

Sumber: PSG 2016


Prevalensi Balita Kurus (BB/TB)
di Prov. Kaltim Berdasarkan Kab/Kota Tahun 2016
16
15
14.6
14
12.3
12

9.8 9.6
10 9.2 9
8.2
8 7.7
7.1 6.8
5.9
6 5.2 5.3
4.6 4.6 4.3
4 3.9
4 3.4 3.6
2.7

0
Paser Panajam Paser Kutai Mahakam Provinsi Berau Kota Bontang Kota Kota Kutai Timur Kuta Barat
Utara Kartanegara Hulu Kaltim Samarinda Balikpapan
Kurus Gemuk

Sumber: PSG 2016


3. Analisis Kausalitas Pangan dan Gizi

Estimasi Provinsi dengan Persentase Rumah Tangga dengan Akses Sanitasi


yang Baik dan Prevalensi Stunting pada Balita

Sanitasi buruk di indonesia (13% BAB di sembarang tempat)


17
4. Peran dan Dampak Pangan dan Gizi dalam
Pembangunan

Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang Akibat


Gangguan Gizi pada Masa Janin
18
Dampak Pangan dan Gizi terhadap Penyakit

PTM dan Kelebihan Gizi Riskesdas


Metode
(proporsi dan kelompok umur) 2007 2013
Stroke (per mil ≥15 tahun) 8.3 12.1 Wawancara
Hipertensi (≥18 tahun) 7.6 9.5 Wawancara
31.7 25.8 Pengukuran klinis
Diabetes (% ≥15 tahun) 1.1 2.1 Wawancara
5.7 6.9 Pengukuran klinis
Pre-diabetes (% ≥15 tahun) 10.2 36.3 Pengukuran klinis
Kolesterol tinggi(% ≥15 tahun) 35.9 Pengukuran klinis
Low High Density Lipoproteins (% ≥15 tahun) 22.9 Pengukuran klinis
High Low Density Lipoproteins (% ≥15 tahun) 15.9 Pengukuran klinis
High triglycerides (% ≥15 tahun) 11.9 Pengukuran klinis
Overweight dan obesitas (%≥18 tahun) 19.1 26.0 Pengukuran
Overweight dan obesitas (%<5 tahun) 12.2 11.9 Pengukuran
Obesitas sentral (%≥18 tahun) 18.8 26.6 Pengukuran

Tren terakhir PTM/Penyakit Kronis dan Kelebihan Gizi di Indonesia

Obesitas abdominal, dislipidemia, hipertensi, glucose intolerant


mempunyai risiko 2-3 kali lipat penyakit jantung koroner.

19
III. Rencana Aksi Multi-sektor

20
Faktor Determinan Pangan dan Gizi

• Determinan pangan dan gizi sangat kompleks dan saling berhubungan


• Intervensi spesifik, jika cakupannya 90%, hanya akan menurunkan
stunting sebanyak 30%
• 70% ditentukan oleh program sensitif yang dilaksanakan oleh
berbagai sektor
• Oleh sebab itu, pendekatan multisektor dalam perbaikan pangan dan
gizi,mutlak dilakukan

21
Outcome
RAN-PG Multi Sektor 2015-2019
Status awal Target 2019
No Indikator
(2014)
1 Produksi padi (juta ton) 70,6 82,0
2 Produksi jagung (juta ton) 19,1 24,1
3 Produksi kedelai (juta ton) 0,9 2,6
4 Produksi gula (juta ton) 2,6 3,8
5 Produksi daging sapi (ribu ton) 452,7 755,1
6 Produksi ikan (juta ton) 12, 4 18,8
7 Produksi garam (juta ton) 2.5 4,5
8 Skor PPH 81,8* 92,5
9 Tingkat konsumsi kalori (kkal/kapita/hari) 1967 Kkal 2150 Kkal
10 Konsumsi ikan (kg/kap/tahun) 38,0 54,5
11 Prevalensi anemia pada ibu hamil (%) 37,1 28
12 Persentase bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) (%) 10,2 8
13 Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif (%) 38,0 50
14 Prevalensi kekurangan gizi (underweight) pada anak balita (%) 19,6 17
15 Prevalensi kurus (wasting) pada anak balita (%) 12 9,5
16 Prevalensi pendek dan sangat pendek (stunting) pada anak baduta (%) 32,9 28
17 Prevalensi obesitas pada penduduk usia >18 tahun (%) 15,4 15,4

Ket= * 2014 23
Intervensi Gizi Spesifik pada
Target 1000 HPK
 Menunda cord  ASI eksklusif
Pelayanan prakonsepsi:  Suplementasi besi- sampai 6 bulan dan  Pemberian
 Keluarga berencana clamping
folat melanjutkan
 Menunda  Iniasiasi menyusu makan gizi
usia  Suplementasi Ca pemberian ASI seimbang
dini
kehamilan pertama  Suplementasi energi sampai 2 tahun  Suplementasi
 Memperpanjang  Pemberian vitamin
dan protein yang  Pemberian MP ASI Vit A
jarak kelahiran K
seimbang setelah usia 6 bulan  Suplementasi
 Memperhatikan  Suplementasi
 Suplementasi  Suplementasi Zn Fe
vitamin A
kondisi psikososial yodium  Suplementasi Fe
 Perawatan metode
 Berhenti merokok  Suplementasi vit A
kangguru

Remaja WUS dan Ibu Neonatal Baduta Balita


Perempuan Hamil

Pencegahan dan penanganan


penyakit
Pencegahan dan penanganan Manajemen kekurangan gizi dan gizi
penyakit buruk:
 Pencegahan malaria pada wanita  Terapi Zn untuk penderita diare
 Penanganan kecacingan pada  WASH
ibu  Pemberian makan pada diare
 Pencegahan obesitas  Pencegahan malaria
 Pengobatan kecacingan pada anak
 Pencegahan obesitas
24
Intervensi Gizi Sensitif

• Pertanian : ketersediaan pangan, distribusi pangan, konsumsi


pangan
• Jaminan Sosial Nasional : BPJS untuk menjamin akses terhadap
pelayanan kesehatan
• Pendidikan : peningkatan pengetahuan pangan dan gizi pada anak
dan remaja, UKS, Dokter Kecil, PHBS
• Pemberdayaan Perempuan : pendewasaaan usia pernikahan dan
pengetahuan pangan dan gizi
• Perlindungan Anak : tumbuh kembang, ASI Eksklusif, MP-ASI
• PU : ketersedian air bersih dan sanitasi yang layak
• BKKBN : pelayanan kesehatan reproduksi, dan pelayanan KB
• Sosial : program keluarga harapan

25
Intervensi Gizi Sensitif (2)

• Perindustrian, Perdagangan, BPOM : kebijakan terkait pelabelan,


promosi dan iklan susu formula, makanan olahan serta terkait
fortifikasi
• Kelautan dan Perikanan : produksi dan distribusi ikan
• Kemendes : akses terhadap pangan di daerah terpencil, perbatasan
dan kepulauan, penyediaan anggaran pada APBD Desa
• Ketenagakerjaan : pekerja anak, ruang laktasi di perusahaan
• Kemendagri : revitalisasi posyandu, distribusi tenaga kesehatan,
PKK
• Kemenag : pendidikan calon pengantin
26
Faktor Penguat (Enabling Factor)

• Evaluasi yang tepat : Bappenas, Bappeda, BPS


• Strategi advokasi : Kemenkoinfo dan K/L
• Koordinasi : Kemendagri, Kemenko PMK, Bappenas
• Akuntabilitas, regulasi insentif dan peraturan
perundang-undangan : Kemendagri dan K/L
• Kepemimpinan : Kemendagri dan K/L lain
• Mobilisasi sumberdaya lokal : Bappeda
• Peningkatan kapasitas : Bappenas, Bappeda
49
IV. KERANGKA PELAKSANAAN
RENCANA AKSI

28
Organisasi RAD-PG

• Diperlukan pembetukan tim di Propinsi dan


Kabupaten/Kota.
• Tim RAD-PG Provinsi terdiri dari Tim Pengarah
dan Tim Teknis dan berasal dari multisektor.
• Tim berperan mulai dari penyusunan,
pelaksanaan, monitoring dan evaluasi

29
TIM PENGARAH

 Tim Pengarah terdiri dari Pimpinan Daerah dan Pimpinan Perangkat


Daerah  memberikan arahan penyusunan, pelaksanaan, dan M&E.
 Susunan tim pengarah terdiri :
• Penanggung Jawab : Gubernur
• Ketua : Sekretaris Daerah
• Sekretaris : Kepala Bappeda
• Anggota :Kepala Dinas teknis/Kepala Instansi
menangani : kesehatan, pertanian, ketahanan pangan, kelautan dan
perikanan, pendidikan, perindustrian, perdagangan, sosial, agama,
komunikasi dan informasi, PU dan PR, Desa dan PDT dan
Transimigrasi, ketenagakerjaan, Kemenpora, PP dan PA, BKKBN,
BPOM.

30
TIM TEKNIS

Tim teknis terdiri dari Perangkat Daerah dan unit pelaksana teknis
yang terkait dalam proses RAD-PG, yaitu :
• Ketua : Kepala Bappeda
• Sekretaris : Ka. Dinkes dan Ka. Instansi Ketahanan Pangan
• Anggota : Kepala dinas teknis/kepala instansi terdiri :
kesehatan, pertanian, ketahanan pangan, kelautan dan
perikanan, pendidikan, perindustrian, perdagangan, sosial,
agama, komunikasi dan informasi, PU dan PR, Desa dan PDT dan
Transimigrasi, ketenagakerjaan, Kemenpora, PP dan PA, BKKBN,
BPOM.
31
Anggota Tim Pengarah dan Tim
Teknis dapat disesuaikan dengan
situasi dan kebutuhan daerah.

32
TUGAS TIM RAD-PG PROVINSI

Tim Pengarah :
1. Memberikan arahan dalam penyusunan RAD-PG antara lain koordinasi
penyusunan, kebijakan yang perlu dimasukkan dalam RAD-PG, serta
kegiatan prioritas yang diperlukan;
2. Menyampaikan laporan penyusunan RAD-PG kepada Menteri PPN/Kepala
Bappenas;
3. Memberikan arahan dalam pelaksanaan RAD-PG termasuk kebijakan
pelaksanaan dan strategi melaksanakan kegiatan prioritas;
4. Memberikan arahan kebijakan pemantauan dan evaluasi;
5. Menyampaikan laporan hasil evaluasi kepada Menteri PPN/Kepala
Bappenas;
33
Tim Teknis :
1. Bertanggung jawab terhadap kegiatan penyusunan RAD-PG;
2. Melakukan penyusunan RAD-PG mulai dari membuat jadwal sampai draft untuk
disampaikan kepada Tim Pengarah.
3. Menyampaikan draft RAD-PG kepada tim pengarah untuk proses lebih lanjut.
4. Mensosialisasi RAD-PG kepada seluruh pemangku kepentingan
5. Mengordinasikan dan melakukan pelaksanaan RAD-PG.
6. Menjalankan strategi untuk peningkatan efektifitas pelaksanaan sesuai masukan
Tim Pengarah.
7. Mengordinasikan dan melaksanakan pemantauan dan evaluasi
8. Menyiapkan laporan hasil pemantauan dan evaluasi

34
Peran Sektor Swasta dan
Lembaga Masyarakat:

• Perguruan Tinggi,
• Lembaga profesi,
• Lembaga swadaya masyarakat,
• Pelaku usaha,
• Organisasi PBB (UN system),
• Donor,
• Masyarakat madani, dan
• Media

35
RENCANA INTERVENSI GIZI
TERINTEGRASI DI INDONESIA

36
Rencana Intervensi Terintegrasi di Indonesia
 Rencana integrasi yang akan dilakukan berupa integrasi K/L, lokasi, dan intervensi.
 Tim Teknis/Tim Kecil telah terbentuk untuk menyusun rencana kerja yang terdiri dari Pejabat Eselon II dan Eselon III sebagai tindak lanjut dari
Pertukaran Pengalaman di Peru.

Tim Teknis

Pemerintah

Kemko PMK Bappenas Kemkes Kemendesa Kemsos Kemkeu Kemendagri Kemendikbud BKKBN BPS

didukung

Non-
Pemerintah

Organisasi
Mitra
Dunia Usaha Pakar Masyarakat
Pembangunan
Madani
Tujuan Intervensi Terintegrasi

Tujuan implementasi intervensi terintegrasi antara lain:


1) Mengintegrasikan seluruh intervensi kesehatan (spesifik) dan non-kesehatan (sensitif)
2) Mengimplementasikan pendekatan HITS (holistik, integratif, tematik, dan spasial) dan
money follow program percepatan perbaikan gizi

 Telah terbentuk Tim Teknis implementasi intervensi gizi terintegrasi dan akan dilaksanakan
secara bertahap dari tahun 2017 sampai 2019 serta melibatkan K/L kunci
Peran K/L Kunci (1)

Intervensi Gizi Spesifik Intervensi Gizi Sensitif

Kementerian Kesehatan: Kementerian Pendidikan & Kebudayaan:


• Pemberian Tablet Tambah Darah untuk remaja putri, calon • PAUD dengan muatan pendidikan gizi dan kesehatan
pengantin, ibu hamil • Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan gizi untuk anak
• Promosi ASI Eksklusif sekolah dan Remaja
• Promosi Makanan Pendamping-ASI
• Promosi makanan berfortifikasi termasuk garam beryodium Kementerian PU-PR:
• Promosi dan kampanye Tablet Tambah Darah • Sarana air bersih dan sanitasi
• Suplemen gizi mikro (Taburia)
• Suplemen gizi makro (PMT) Kementerian Perindustrian:
• Kelas Ibu Hamil • Pembinaan iodidasi industri garam rakyat
• Promosi dan kampanye gizi seimbang dan perubahan • Pengawasan fortifikasi garam beryodium
perilaku
• Pemberian obat cacing Kementerian Sosial:
• Tata Laksana Gizi Kurang/Buruk • Bantuan Pangan Non-Tunai dengan sumber protein
• Suplementasi vitamin A (telur)
• Jaminan Kesehatan Nasional • PKH, pemanfaatan fasilitator untuk pendidikan gizi dan
pemantauan kepatuhan layanan kesehatan
Peran K/L Kunci (2)

Intervensi Gizi Sensitif


Intervensi Gizi Sensitif
Kementerian Dalam Negeri:
• Nomor Induk Kependudukan BKKBN:
• Akta kelahiran • Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk Remaja
• Fasilitasi program dan kegiatan gizi dalam APBD termasuk madrasah dan pondok pesantren
• Bina Keluarga Balita untuk peningkatan pengetahuan
Kementerian Desa: dan keterampilan orang tua dan anggota kelurga lain
• Pengangaran Dana Desa untuk kegiatan gizi dalam pembinaan tumbuh kembang anak sejak dalam
kandungan
Kementerian Keuangan:
• Dana Insentif Daerah Kementerian Agama:
• Pendidikan gizi dan kesehatan kepada calon pengantin
Kementerian Pertanian: melalui KUA
• Ketahanan pangan • Pendidikan Kesehatan dan gizi untuk di madrasah dan
• Pemanfaatan Pekarangan Rumah Tangga pondok pesantren
• Mendorong peran serta ulama untuk pendidikan gizi dan
BPOM: kesehatan
• Keamanan pangan
• Monitoring pangan terfortifikasi di lapangan secara
berkala
Rencana Fokus Lokasi Intervensi Terintegrasi

RPJMN 2015-2019 RPJMN 2020-2024

2017 2018 2019 Pasca 2019

• 4 kab/kota • Scale-up • Perluasan • Seluruh


dengan intervensi cakupan kab/kota
kriteria I*) terintegrasi kab/kota dengan
• 4 kab/kota di 84 ekspansi
dengan kab/kota program
kriteria II**) terintegrasi
(Program
Nasional)

*) Prevalensi stunting tinggi, keberadaan program PKH, Pamsimas, GSC, PAUD-GCD, PKGBM, STBM, serta keterwakilan wilayah/geografis
**) Komitmen tinggi dari Pemerintah Daerah serta daerah yang memiliki best practices & keberhasilan intervensi
TERIMA KASIH

42