Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEPERAWATAN PALIATIF

PADA PASIEN AIDS

Kelompok 3
Anggota :
1. Kuza Alista
2. Narita Ayustina
3. Moh. Ilzamul H.
4. Ennas panjalu R.
AIDS singkatan Acquired Immune Defeciency
Syndrome. Acquired berarti diperoleh karena orang
hanya menderita bila terinfeksi HIV dari orang lain
yang sudah terinfeksi. Immuno berarti system
kekebalan tubuh, Defenciency berarti kekurangan
yang menyebabkan rusaknya system kekebalan tubuh
DEFINISI dan syndrome berarti kumpulan gejala atau tanda
yang sering muncul berama tetapi mungkin
disebabkan oleh satu penyakit atau mungkin juga
tidak yang sebelum penyebabnya infeksi HIV
ditemukan.Jadi, AIDS adalah kumpulan gejala akibat
kekurangan atau kelemahan system kekebalan tubuh
yang disebabkan oleh virus yang disebut
HIV.(Gallant. J 2010)
ETIOLOGI

Menurut Hudak dan Gallo Menurut Long (1996)


(1996), penyebab dari AIDS penyebab AIDS adalah
adalah suatu agen viral (HIV) Retrovirus yang telah terisolasi
dari kelompok virus yang cairan tubuh orang yang sudah
dikenal dengan retrovirus terinfeksi yaitu darah semen,
yang ditularkan oleh darah sekresi vagina, ludah, air mata,
melalui hubungan seksual air susu ibu (ASI), cairan otak
dan mempunyai aktivitas (cerebrospinal fluid), cairan
yang kuat terhadap limfosit T amnion, dan urin.
CARA PENULARAN

Menurut Martono BKKBN (2007) menegaskan


(2006) virus HIV bahwa HIV/AIDS tidak dapat
dapat ditularkan menular melalui aktifitas
melalui beberapa seperti :
Empat prinsip
cara yaitu : 1. Berjabat tangan
dasar penularan
1. Hubungan 2. Makan bersama
HIV/AIDS
seksual 3. Menggunakan telepon
(KPAD, 2010)
2. Tranfusi darah bergantian
adalah :
yang tercemar 4. Bergantian pakaian
1. Exit
HIV 5. Tinggal serumah dengan
2. Survival
3. Tertusuk atau ODHA
3. Suffient
tubuh tergores 6. Mandi bersama di kolam
4. Enter
oleh alat yang renang
tercemar HIV 7. Gigitan nyamuk
4. Ibu hamil yang 8. Batuk/bersin
menderita HIV(+) 9. Ciuman
10. Duduk bersama
WOC
penurunann
MANIFESTASI KLINIS

Pasien AIDS secara khas Dan disaat fase supresi imun simptomatik
punya riwayat gejala dan (3 tahun) pasien akan mengalami demam,
tanda penyakit. Pada keringat dimalam hari, penurunan berat
infeksi Human badan, diare, neuropati, keletihan ruam
Immunodeficiency Virus kulit, limpanodenopathy, pertambahan
(HIV) primer akut yang kognitif, dan lesi oral.
lamanya 1 – 2 minggu
pasien akan merasakan
sakit seperti flu.

Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)


menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi
AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling umum
adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang
disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk meningitis,
kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial atipikal
PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK

 Dalam pemeriksaan penunjang dicari jumlah limfosit total,


antibodi HIV, dan pemeriksaan Rontgen.

Bila hasil pemeriksaan antibodi positif maka dilakukan


pemeriksaan jumlah CD4, protein purufied derivative (PPD),
serologi toksoplasma, serologi sitomegalovirus, serologi PMS,
hepatitis, dan pap smear.
Berdasarkan data-data hasil penilaian komplikasi
yang mungkin terjadi mencakup : Infeksi
oportunistik, Kerusakan pernapasan atau kegagalan
respirasi Syndrome dan gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit.
KOMPLIKASI
Dapat dikategorikan sebagai berikut:
1. Oral Lesi
2. Neurologik
3. Gastrointestinal
4. Respirasi
5. Dermatologik
6. Sensorik
PENATALAKSANAAN

Umum : Khusus :
Penanganan pasien Penanganan pada wasting syndrom mencakup
HV/AIDS meliputi penanganan penyebab yang mendasari infeksi
penanganan umum dengan oportunistik sistemik maupun gastrointestinal.
istirahat yang cukup, Diet seimbang merupakan terapi nutrisi yang
dukungan nutrisi, terapi esensial bagi pasien HIV/AIDS. Tujuannya adalah
psikososial dengan untuk mempertahankan berat badan ideal pasien
konseling serta penanganan dan jika bisa menaikkan berat badannya (Brunner
khusus pada pasien and Suddarth, 2002).
HIV/AIDS
Prinsip dasar penanganan pasien HIV/AIDS adalah
menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat
AIDS, memperbaiki/meningkatkan kualitas hidup
pasien, mempertahankan serta memulihkan sistem
kekebalan tubuh pasien, menekan dan menghambat
pembelahan virus.
KASUS

Ny. T 25 th. MRS di RS. Kandou dengan febris intermiten, sakit kepala
sejak 2 bulan, diare berat sudah 1 bulan, BB menurun sejak 2 bulan
yang lalu, sesak pada dada dan 6 bulan lalu MRS didiagnosis TB paru
dan HIV positif. Dari riwayat pasien didapatkan bahwa pasien bekerja
sebagai PSK. Pasien dipulangkan dengan terapi OAT dan ARV ( AZT +
3TC + efavirenz ). Pasien sempat kontrol sekali seminggu KRS di
praktek dengan keadaan umum baik, terapi diteruskan, diberi konseling
tentang kepatuhan. Setelah itu pasien tidak pernah kontrol lagi walau
dihubungi Lewat telepon. Alasan putus obat : efek samping ARV
pusing, sakit kepala, mual. Pasien pindah ke kota kandou karena
merasa malu dengan tetangga mengenai kondisi penyakit yang
dialaminya.