Anda di halaman 1dari 15

KELOMPOK II :

1. ASEP NUGRAHA
2. DUROTUN NAFISAH
3. LOLY HERAWATI
4. NENGRATWATI
5. SITIARA
Definisi Gout Arthritis
Arthritis piral (Gout ) adalah suatu proses inflamasi
yang terjadi karena deposisi kristal asam urat
pada jaringan sekitar sendi.

Gout adalah peradangan akibat adanya endapan


kristal asam urat pada sendi dan jarim urat pada
jaringan sekitar sendi.
Etiologi
 Serangan akut dapat dipicu oleh : trauma,konsumsi alcohol,diet
yang salah,obat-obatan,stress bedah atau keadaan sakit.

 Serangan mendadak terjadi : pada malam hari dan pasien


terbangun dari tidur karena nyeri hebat,kemerahan,bengkak,rasa
hangat pada sendi yang sakit.

 Serangan dini cenderung sembuh spontan dalam waktu 3-10


hari,walaupun tanpa terapi.Diikuti tanpa gejala : stadium
interkritikal,serangan bisa terjadi lebih sering dan berlangsung
lebih lama lagi.

 Tofus ditemukan pertama kali pada tempo rata-rata 10 tahun


sesudah awitan serangan gout,50% pasien berobat tidak
memadai,akhirnya akan mengalami endapan tofeseus. Tofus
biasanya disertai episode inflamasi lebih sering dan berat,kadar
asam urat yang tinggi dalam serum akan berkaitan dengan
pembentukan tofus yang lebih luas
Patofisiologi
Hiperuricemia ( konsentrasi asam urat dalam serum > 7,0
mg/dl ) menyebabkan penumpukan kristal monosodium urat.
Serangan gout berhubungan dengan peningkatan atau
penurunan mendadak kadar asam urat serum. Bila kristal
urat mengendap dalam sebuah sendi,respon inflamasi akan
terjadi dan serangan gout dimulai. Dengan serangan
berulang maka penumpukan kristal natrium urat (tofus)
akan mengendap dibagian perifer tubuh seperti ibu jari
kaki,tangan dan telinga.

Gambaran kristal urat dalam cairan senovial sendi yang


asimtomatik menunjukkan bahwa faktor non kristal mungkin
berhubungan dengan reaksi inflamasi. Kristal monosodium
urat yang ditemukan tersalut dengan immunoglobulin yang
terutama berupa IgG. IgG akan meningkatkan fagositosis
kristal dan dengan demikian memperlihatkan aktivitas
imunologi.
Gambaran Klinis

 Gout akut biasanya terjadi pada pria sesudah


lewat masa pubertas
 pada wanita sesudah menopause
 paling banyak ditemui pada usia 50-60 tahun
 rasa sakit yang hebat dan peradangan local
 demam dan jumlah sel darah putih meningkat.
 rasa nyeri,kaku dan pegal.
Faktor resiko
a. Diet tinggi purin, karena asam urat dibentuk dari
puri.
b. Kelaparan dan intake etil alcohol yang berlebih.
c. Penggunaan obat diuritik,anti hipertensi,salisilat
dosis rendah.
6. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi akibat gout arthritis
antara lain :
a. Deformitasi pada parsendian yang terserang
b. Urolitiasis akibat deposit Kristal urat pada
saluran kemih
c. Nephrophaty akibat deposit Kristal urat dalam
interstisial ginjal
7. Pemeriksaan dignostik
 Laboratorium : darah lengkap dan LED, kimia
darah, asam urat, kreatinin,
 Atrisentesis (aspirasi cairan synovial dengan
jarum)
 Sinar X
 Atrografi ; deteksi kelainan jaringan ikat.
 Skening sendi
 Biopsi otot, arteri dan kulit
8. Penatalaksanaan
a.penatalaksanaan non medic

1. Diet rendah purin


Hindarkan alcohol dan makanan tinggi purin
(hati, ginjal, ikan sarden, daging kambing) serta
banyak minum.

2. Tirah baring
Merukapan suatu keharusan dan di teruskan
sampai 24 jam setelah serangan menghilang. Gout
dapat kambuh bila terlalu cepat bergerak.
b. Penatalaksanaan medic.

1. Fase akut.
Obat yang digunakan :
2. Colchicine (0,6 mg)
3. Indometasin ( 50 mg 3 x sehari selama 4-7 hari)
4. Fenilbutazon
2. Pengobatan jangka panjang terhadap
hyperuricemia untuk mencegah komplikasi.
a.Golongan urikosurik
b. Inhibitor xantin ( alopurinol )
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
A.Identitas
Meliputi nama, jenis kelamin ( lebih sering pada pria dari pada
wanita ) usia ( terutama pada usia 30 – 40 ).
B. Keluhan utama
Pada umumnya klien merasakan nyeri yang luar biasa pada sendi
ibu jari kaki( sendi lain)
C. Riwayat penyakit.
Kaji penyebab nyeri.
Kaji seberapa sering nyeri yang diraskan klien.
Kaji bagian persendian yang terasa nyeri.
D. Riwayat penyakit dahulu.
Tanyakan pada klien apakah menderita penyakit ginjal.
E. Riwayat penyakit keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga klien yang menderita
penyakit yang sama seperti klien.
F. Pengkajian psikososial dan spiritual.
Psikososial : apakah klien mengalami peningkkatan stress.
Sosial : cenderung menarik diri dari li8ngkungan.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
A. Diagnosa I

Nyeri sendi b.d peradangan sendi, penimbunan Kristal pada membrane synovial, Tulang rawan
artikuklar, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dari pembentukan panus.

Tujuan Keperawatan :
Nyeri yang dirasakan klien berkurang.

Kriteria hasil : Klien menunjukan perilaku yang lebih rileks, skala nyeri berkurang dari 0 – 1
atau teratasi.

Intervensi :
1. Kaji lokasi, intensitas,tipe nyeri.Observasi kemajuan nyeri ke daerah yang baru.
2. Kaji nyeri dengan skala 0 – 4, 2.Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor pencetus.
3. Jelaskan dan bantu klien tgerkait dengan tindakan pereda nyeri non-farmakologi dan non-
invasif.
4. Ajarkan relaksasi: teknik terkait ketegangan otot rangka yang dapat mengurangi intensitas
nyeri.
5. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.

6. Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab nyeri dan hubungan dengan berapa lama nyeri akan
ber langsung.
7. Hindarkan klien meminum alcohol, kafein dan obat diuretic.
8. Kolaburasidengan tim medis untuk pemberian aluperinol.
B. Diagnosa II : Gangguan peningkatan suhu tubuh
berhubungan dengan proses inflamasi

Tujuan keperawatan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan panas berkurang

Kriteria hasil : suhu 36 oc- 37 oc, klien bebas demam

Intervensi :
1. Kaji saat timbulnya demam
2. Obsertasi tanda-tanda vital : suhu, nadi, tekanan darah,
respiratory rate setiap 3 jam
3. Anjurkan klien untuk minum banyak + 2,5 liter/hari
4. Berikan kompres dingin dan anjurkan memakai pakaian tipis
5. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antipiretik
C. Diagnosa III : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
proliferasi synovial

Tujuan Keperawatan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien mampu melaksanakan
aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya.

Kriteria hasil :
Kekuatan otot bertambah,tidak mengalami kontraktur sendi.

Intervensi :
1. Kaji mobilitas yang ada dan observasi adanya peningkatan
kerusakan
2. Ajarkan klien melakukan latihan gerak pada ekstremitas yang
tidak sakit
3. Bantu klien melakukan latihan ROM
4. Pantau kemajuan dan perkembangan kemampuan klien dalam
melakukan aktivitas
5. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien
D. Diagnosa IV :
Gangguan citra diri berhubungan dengan perubahan bentuk
tubuh,tulang dan sendi

Tujuan Keperawatan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat meningkatkan
rasa percaya diri dan mulai menerima keadaan patologisnya

Kriteria Hasil :
Klien menyatakan penerimaan diri dalam situasi,bekerja sama dalam
perubahan konsep diri tanpa pandangan negative harga diri

Intervensi :
1. Kaji respon klien terhadap penyakit yang dialami
2. Bersikap realistis dan positif selama pengobatan dan pada
penyuluhan kesehatan
3. Berikan harapan dalam parameter situasi individu,jangan
memberikan keyakinan yang salah
4. Berikan penguatan positif terhadap kemajuan dan dorong usaha
untuk mengikuti tujuan rehabilitasi
5. Dorong interaksi keluarga dan dengan tim rehabilitasi