Anda di halaman 1dari 16

SEMINAR PENGAUDITAN DAN PERPAJAKAN

JUDUL : Analisis dampak kualitas komite audit terhadap kualitas laporan


keuangan perusahaan dengan kualitas audit sebagai variabel moderasi.

PENULIS: Nurul Mutmainnah dan Ratna Wardhani.

Kelompok VI
1. Nurcholis Takrim 4. Yomima Sulasih
2. Sumini 5. Leni Nasir
3. Delinda Taher 6. Hasanudin
Latar Belakang dan Tujuan
Perkembangan tata Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
kelola perusahaan pengaruh kualitas komite audit yang dilihat dari
di indonesia dan keahlian anggota komite audit di bidang
akuntansi dan keuangan, jumlah anggota komite,
penegakan
dan jumlah pertemuan atau rapat komite audit
aturannya terhadap kualitas laporan keuangan perusahaan.
Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk
mengalisis pengaruh kualitas audit yang terkait
dengan auditor eksternal terhadap hubungan
Oleh sebab itu penting untuk meneliti antara kualitas komite audit dan kualitas laporan
bagaimana dampak dari komite audit yang keuangan perusahaan.
merupakan bagian yang cukup signifikan
dalam implementasi tata kelola
perusahaan dan berkaitan dengan
pelaporan keuangan perusahaan terhadap
kualitas laporan keuangan. Secara tidak
langsung penelitian ini akan memberikan
gambaran mengenai efektivitas dari
penegakan regulasi terkait tata kelola
perusahaan oleh regulator.
Landasan Teori
• Teori Keagenan
• Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa terdapat
dua mekanisme untuk mengatasi konflik keagenan yaitu
mekanisme pengikatan (bonding) dan mekanisme
pengawasan (monitoring).
• Penelitian ini memfokuskan pada mekanisme yang erat
kaitannya dengan laporan keuangan yaitu mekanisme
monitoring baik dari sisi internal yang direpresentasikan
oleh komite audit maupun secara eksternal yang
direpresentasikan oleh auditor. Hal ini dikarenakan kedua
pihak tersebut memiliki peran yang sangat besar dalam
proses pelaporan keuangan dan memiliki pemahaman yang
memadai atas laporan keuangan perusahaan.
Pengembangan Hipotesis
• Keahlian anggota komite audit di bidang akuntansi dan keuangan berpengaruh
H1 positif terhadap kualitas laporan keuangan perusahaan.

• Jumlah anggota komite audit berpengaruh positif terhadap kualitas laporan


H2 keuangan perusahaan.

• Jumlah rapat komite audit berpengaruh positif terhadap kualitas laporan


H3 keuangan perusahaan.

• Tipe auditor eksternal yang digunakan perusahaan (big four atau non big four)
memperkuat hubungan positif antara kualitas komite audit dan kualitas laporan
H4 keuangan perusahaan.

• Spesialisasi industri yang dimiliki oleh auditor eksternal memperkuat hubungan


positif antara kualitas komite audit dan kualitas laporan keuangan perusahaan.
H5
Metode Penelitian
• Data dan Sampel
 Data yang digunakan dalam penelitian merupakan data laporan tahunan
perusahaan dan laporan keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Data
laporan keuangan diperoleh dari Reuters Knowledge sedangkan data berupa
laporan tahunan perusahaan diperoleh dari situs resmi perusahaan masing-
masing, situs BEI (www.idx.co.id), serta Reuters 3000 Xtra.
 Penelitian yang dilakukan ini menggunakan metode purposive sampling dalam
pemilihan sampel penelitiannya. Adapun kriteria yang digunakan untuk
menentukan sampel yang ada yaitu:
a. Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
b. Perusahaan yang terdaftar memiliki akhir tahun fiskal 31 Desember.
c. Perusahaan tidak termasuk dalam sektor keuangan, properti, dan infrastruktur.
d. Perusahaan yang mempunyai data laporan tahunan dan laporan keuangan
lengkap terutama untuk aspek profil komite audit serta informasi keuangan.
e. Perusahaan yang mempunyai kelengkapan data keuangan dari tahun 2007-2010
untuk melakukan perhitungan variabel konservatisme yang diukur dari akrual non
operasional.
menggambarkan bahwa dengan semakin tingginya keahlian yang dimiliki
H1 oleh komite audit akan berdampak langsung kepada persistensi laba yang
dihasilkan perusahaan.

menunjukkan bahwa perusahaan dengan jumlah komite audit


H2 yang besar yang dapat memiliki kualitas laporan keuangan
yang baik.
Hasil
menyatakan bahwa rapat komite audit berpengaruh secara
Penelitian H3 positif terhadap kualitas laporan keuangan.

menunjukkan bahwa auditor big four maupun non big four tidak
H4 dapat menambah pengetahuan atau keahlian komite audit dalam
meningkatkan kualitas laporan keuangan.

menunjukkan bahwa auditor terspesialisasi dapat meningkatkan


H5 pengaruh keahlian komite audit terhadap persistensi laba.
Kesimpulan
• Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas komite audit
berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan. Keahlian komite
audit di bidang keuangan secara signifikan meningkatkan
persistensi dan prediktabilitas dari laba. Ukuran komite audit
secara signifikan berpengaruh positif terhadap persistensi dan
berpengaruh negatif terhadap prediktabilitas laba dan
konservatisme. Jumlah rapat anggota komite audit juga secara
signifikan berpengaruh positif terhadap persistensi, prediktabilitas
laba, dan konservatisme. Penelitian ini menemukan bukti yang
berbaur atas efek moderasi dari kualitas audit terhadap hubungan
antara kualitas komite audit dan kualitas pelaporan keuangan.
Keterbatasan Penelitian
• Penelitian ini menggunakan tiga ukuran kualitas laporan keuangan yaitu
persistensi, prediktabilitas, dan konservatisme akuntansi. Sebenarnya
masih banyak pengukuran kualitas laporan keuangan lain yang bisa
digunakan.Oleh karena itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat lebih
komprehensif dalam menggunakan ukuran kualitas laporan keuangan.
• Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan pada tahun 2008 dan
2009 dengan jumlah observasi sebanyak 204 perusahaan. Saran bagi
penelitian selanjutnya adalah memperbanyak jumlah tahun observasi yang
dilakukan sehingga data yang ditampilkan akan lebih representatif dalam
menampilkan kondisi komite audit perusahaan di Indonesia dalam tren
yang lebih panjang.
• Penelitian ini tidak mempertimbangkan bahwa adanya kemungkinan
pengaruh endogen dalam variabel kualitas audit dimana dimungkinkan
kualitas audit dipengaruhi oleh variabel lain, diantaranya misalkan kualitas
komite audit.
SEMINAR PENGAUDITAN DAN PERPAJAKAN

JUDUL : Preferensi manajemen laba akrual atau manajemen laba riil dalam aktivitas
tax shelter

PENULIS: Ira geraldina

Kelompok VI
1. Nurcholis Takrim 4. Sumini
2. Delinda Taher 5. Leni Nasir
3. Yomima Sulasih 6. Hasanudin
Latar Belakang dan Tujuan
• Aktivitas tax shelter diklaim merupakan salah satu bentuk biaya
keagenan karena aktivitas tersebut dapat mendorong inefisiensi
organisasi yang diakibatkan oleh beragam masalah insentif
perusahaan (manajer) yang melakukan tax shelter.Oleh karena itu,
penelitian ini diharapkan dapat diperoleh bukti empiris mengenai
sifat penggunaan manajemen laba akrual dan manajemen laba riil,
apakah bersifat substitusi atau komplementer dalam menjelaskan
kemungkinan perusahaan terlibat dalam aktivitas tax shelter.
• Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh manajemen laba
akrual atau manajemen laba riil terhadap kemungkinan
perusahaan terlibat dalam aktivitas tax shelter dengan
menggunakan sanksi pajak berdasarkan Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar (SKPKB) untuk mengidentifikasi perusahaan yang
terindikasi melakukan aktivitas tax shelter.
Pengembangan Hipotesis

• Manajemen laba akrual berpengaruh positif terhadap kemungkinan


peru-sahaan melakukan aggressive tax sheltering.
H1
Manajemen laba riil melalui arus kas operasi berpengaruh positif terhadap
kemungkinan perusahaan melakukan aggressive tax sheltering.
H2a
• Manajemen laba riil melalui biaya produksi berpengaruh positif
terhadap kemungkinan perusahaan me-lakukan aggressive tax
H2b sheltering.

• Manajemen laba riil melalui beban diskresioner berpengaruh positif


terhadap kemungkinan perusahaan me-lakukan aggressive tax
H2c sheltering.
Metodologi Penelitian
• Data dan Sampel Penelitian
Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa
laporan keuangan tahunan publikasi yang diperoleh dari
Pusat Data Ekonomi dan Bisnis FEUI. Populasi pada penelitian
ini adalah perusahaan manufaktur yang tercatat pada Bursa
Efek Indonesia periode 2001-2010. Sampel final yang
diperoleh berdasarkan metode purposive sampling adalah
108 pengamatan (firm years) setelah mengeluarkan outliers.
 Model Penelitian
Berikut model penelitian untuk menjawab permasalahan
penelitian sekaligus menguji hipotesis 1 dan 2a-2c
dengan penyesuaian pada variabel terikatnya dan
penambahan dua variabel kontrol yaitu leverage dan ROA.
Hasil Penelitian
hasil penelitian tidak mendukung hipotesis penelitian 1 (H1) yang menyatakan bahwa
H1 diskresi manajemen laba akrual meningkatkan kemungkinan perusahaan terlibat
dalam aktivitas aggressive tax shelter.

menunjukkan bahwa semakin rendah nilai arus kas operasi diskresioner


abnormal, semakin tinggi manajemen laba riil melalui arus kas operasi
H2a
diskresioner, sehingga menaikkan kemungkinan perusahaan melakukan
aggressive tax sheltering.

menunjukkan bahwa dari ketiga teknik manajemen riil, teknik arus kas operasi
H2b abnormal dan biaya produksi abnormal yang digunakan perusahaan dalam
aktivitas aggressive tax shelter, sedangkan beban abnormal diskresioner tidak
berpengaruh.

H2c yang menyatakan bahwa diskresi beban abnormal berpengaruh negatif terhadap
kemungkinan perusahaan melakukan aggressive tax shelter ditolak.
Kesimpulan

• Perusahaan cenderung menggunakan manajemen


laba akrual untuk menurunkan kemungkinan
perusahaan terlibat dalam kegiatan tax shelter.
Temuan tersebut tidak sesuai dengan dugaan
penelitian. Temuan yang sesuai dengan dugaan
penelitian adalah manajemen laba riil melalui
diskresi arus kas operasi dan biaya produksi
menaikkan kemungkinan perusahaan terlibat dalam
kegiatan tax shelter. Studi ini juga menemukan
bahwa penggunaan manajemen laba akrual atau riil
dalam aktivitas tax shelter dapat saling bersubstitusi.
Keterbatasan Penelitian

1. proksi yang digunakan untuk mengidentifikasi tax shelter


firms tidak dianalisis terlebih dahulu apakah memiliki
karakteristik yang sama dengan sampel tax shelter firms.
2. penelitian tersebut menggunakan data internal dari
regulator untuk mengidentifikasi perusahaan yang terlibat
dalam aktivitas tax shelter, yaitu perusahaan yang
melakukan kategori transaksi ilegal menurut ketentuan
perpajakan. Data tersebut bersifat rahasia di Indonesia.
3. tidak dilakukan pengujian analisis sensitivitas untuk ukuran
manajemen laba akrual dengan ukuran lain. Penelitian ini
memilih menggunakan Modified Jones untuk mengukur
manajemen laba akrual karena ukuran ini yang paling sering
digunakan untuk menguji hubungan manajemen laba dan
manajemen pajak
Saran untuk Penelitian selanjutnya

• Selain mempertimbangkan keterbatasan penelitian yang dipaparkan,


mengidentifikasi komponen pembentuk perbedaan laba akuntansi dan
pajak pada perusahaan yang terlibat dalam aktivitas tax shelter agar
memperkaya analisis hasil penelitian. Penelitian ini juga dapat
dilakukan dengan menggunakan pendekatan metodologi
eksperimental guna mengkonfirmasi ulang hasil temuan pada
penelitian ini yang menemukan kecenderungan perilaku perusahaan
melakukan manajemen laba dalam aktivitas tax shelter- nya.