Anda di halaman 1dari 23

INFORMED CONSENT

DEFINISI
• Informed consent terdiri dari kata informed yang
berarti telah mendapatkan informasi dan consent
yang berarti persetujuan atau ijin. Yang dimaksud
dengan informed consent dalam profesi
kedokteran adalah pernyataan setuju (consent)
atau ijin dari seorang pasien yang diberikan
secara bebas, rasional dan tanpa paksaan
(voluntary) terhadap tindakan kedokteran yang
akan dilakukan terhadapnya sesudah
mendapatkan informasi yang cukup tentang
tindakan kedokteran yang dimaksud.
• Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi yang
selanjutnya disebut Tindakan Kedokteran,
adalah suatu tindakan medis berupa preventif,
diagnostik, terapeutik atau rehabilitatif yang
dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap
pasien.
• Tindakan invasif, adalah tindakan yang langsung
dapat mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh
pasien.
• Tindakan Kedokteran yang mengandung resiko
tinggi adalah tindakan medis yang berdasarkan
tingkat probabilitas tertentu, dapat
mengakibatkan kematian atau kecacatan.
Persetujuan Tindakan Kedokteran
(Bedah)

• Persetujuan Tindakan Kedokteran Bedah


digunakan pada tindakan-tindakan
Bedah/Operatif.
• Formulir ini juga merupakan suatu tanda bukti
yang akan disimpan di dalam arsip rekam
medis pasien
Persetujuan Tindakan Pembiusan
(anestesi)

• Persetujuan ini di dahului dengan assessment


pra anestesi oleh dokter spesialis anestesi,
yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian
informasi jenis anestesi yang digunakan,hasil
yang diharapkan, teknis pelaksanaan, resiko,
saran perawatan alternative, dan persiapan
yang dibutuhkan pasien.
Persetujuan Tindakan Kedokteran Dan Terapi Yang
Berisiko Tinggi
• Yang dimaksud dengan tindkan medis berisiko tinggi adalah seperti

tindakan bedah atau tindakan invasif lainnya yang berdasarkan

tingkat probabilitas tertentu, dapat mengakibatkan kematian atau

kecacatan, namun dalam hal ini RS BaliMed Karangasem

mengkhususkan persetujuan/ penolakan tindakan risiko tinggi

digunakan pada kondisi dimana pasien memerlukan terapi atau

pemeriksaan diagnostic yang termasuk pada kondisi berisiko

tinggi seperti misalnya pemeriksaan x-ray pada ibu hamil,

penggunaan kontras pada meriksaan radiologi, dan pemberian

produk terapi sitotoksik,dan radioterapi.


Persetujuan Tindakan Invasif
• Informed consent ini digunakan sebelum dilakukannya
tindakan invasif, yakni suatu prosedur memotong,
menusuk, atau memasukkan benda asing ke dalam
tubuh pasien seperti selang intravena, NGT, dower
catheter, WSD, dll.
• Berdasarkan hasil rapat komite medik, pemasangan
IVFD yang merupakan tindakan invasif tidak perlu
disertai dengan penggunaan informed consent, hanya
bukti KIE dan persetujuan di dokumentasikan di
Lembar integrasi B pada saat awal pemasangan di
IGD/VK/Perinatologi, dan bila pada saat rawat inap
menolak dipasang IVFD perawat/DPJP/MOD
mendokumentasikan di Integrasi B.
Persetujuan/ penolakan pemberian produk
darah (tranfusi)

• Sebelum diberikan tranfusi produk darah DPJP


menjelaskan tentang diagnosis,indikasi
dilakukan tranfusi, jenis darah, jumlah yang
akan diberikan resiko, alternatif dan jumlah
dan biaya yang diperlukan.
Persetujuan / Penolakan ICU
• Sebelum dipindahkan ke ICU pasien ataupun
keluarga dijelaskan terlebih dahulu indikasi
pasien untuk dirawat di ICU sampai biaya yang
mungkin dikeluarkan selama pasien dirawat.
Jika pasien/ keluarga setuju dan membuat
penyataan barulah pasien di pindahkan.
Persetujuan Umum (General Consent)
Memuat tentang : Melalui dokumen ini, pasien
• Hak dan Kewajiban Pasien menegaskan kembali bahwa pasien
• Persetujuan Pelayanan Kesehatan mempercayakan kepada semua tenaga
• Akses Informasi Kesehatan kesehatan rumah sakit u/
• Rahasia Medis memberikan perawatan, diagnostik dan
• Privasi terapi kepada pasien rawat inap atau rawat
• Barang Pribadi jalan atau (IGD),untuk pengobatan dan
• Pengajuan Keluhan tindakan yang aman.
• Kewajiban Pembayaran
RUANG LINGKUP
Suatu persetujuan dianggap sah apabila:
1. Pasien telah diberi penjelasan/ informasi
2. Pasien atau yang sah mewakilinya dalam
keadaan cakap (kompeten) untuk
memberikan keputusan/persetujuan.
3. Persetujuan harus diberikan secara sukarela.
Pihak yang Berhak Memberikan
Persetujuan
• Pasien sendiri, yaitu apabila telah berumur 21
tahun atau dibawah 21 tahun yang telah
menikah.
• Sedangkan anak-anak yang berusia 16 tahun
atau lebih tetapi belum berusia 18 tahun
dapat membuat persetujuan tindakan
kedokteran tertentu yang tidak berisiko tinggi
,apabila mereka dapat menunjukkan
kompetensinya dalam membuat keputusan
Continue……….
• Bagi Pasien dibawah umur 21 tahun, persetujuan (informed
consent) atau Penolakan Tindakan Medis diberikan oleh
mereka menurut urutan hak sebagai berikut :
1. Ayah/ Ibu Kandung
2. Saudara – saudara kandung
• Bagi pasien dibawah umur 21 tahun dan tidak mempunyai
orang tua atau orang tuanya berhalangan hadir, persetujuan
(Informed Consent) atau Penolakan Tindakan medis diberikan
oleh mereka menurut hak sebagai berikut :
1. Ayah/IbuAdopsi
2. Saudara – saudara Kandung
3. Induk Semang (orang yang berkewajiban untuk mangawasi serta
ikut bertangung jawab terhadap pribadi orang lain, seperti pemimpin
asrama dari anak perantauan atau kepala rumah tangga dari seorang
pembantu rumah tangga yang belum dewasa.)
Continue……
• Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental,
1. Ayah/Ibu kandung
2. Wali yang sah
3. Saudara – Saudara Kandung
• Bagi pasien dewasa yang berada dibawah pengampunan
/curatelle (seseorang yang sudah dewasa karena keadaan mental
dan fisiknya dianggap tidak atau kurang sempurna, diberi kedudukan
yang sama dengan seorang anak yang belum dewasa)
1. Wali
2. Curator
Continue……
• Bagi Pasien dewasa yang telah menikah/
orang tua, persetujuan atau penolakan
tindakan medik diberikan oleh mereka
menurut urutan hal tersebut.
1. Suami/ Istri
2. Ayah/ Ibu Kandung
3. Anak- anak Kandung
4. Saudara – saudara Kandung
• Sebagai ganti tanda tangan, pasien atau
keluarganya yang buta huruf harus
membubuhkan cap jempol ibu jari tangan
kanan.
PEMBATALAN PERSETUJUAN YANG
TELAH DIBERIKAN
• Pembatalan tersebut sebaiknya dilakukan
sebelum tindakan dimulai.
• Selain itu, pasien harus diberitahu bahwa pasien
bertanggungjawab atas akibat dari pembatalan
persetujuan tindakan. Oleh karena itu, pasien
harus kompeten untuk dapat membatalkan
persetujuan.
• Dalam hal tindakan sudah berlangsung
sebagaimana di atas, maka penghentian tindakan
hanya bisa dilakukan apabila tidak akan
mengakibatkan hal yang membahayakan pasien
TATA LAKSANA

• Cara pasien menyatakan persetujuan dapat dilakukan


secara terucap (oral consent), tersurat (written
consent), atau tersirat (implied consent). Setiap
tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi
harus memperolehpersetujuan tertulis yang
ditandatangani oleh yang berhak memberikan
persetujuan
• Persetujuan secara lisan diperlukan pada tindakan
kedokteran yang tidak mengandung risiko tinggi. Dalam
hal persetujuan lisan yang diberikan dianggap
meragukan, maka dapat dimintakan persetujuan
tertulis.
Dalam menetapkan dan Persetujuan Tindakan Kedokteran harus
memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
1. Memperoleh Informasi dan penjelasan
2. Pelaksanaan Persetujuan Tindakan kedokteran dianggap
benar jika memenuhi persyaratan dibawah ini :
a. Diberikan untuk tindakan kedokteran yang dinyatakan
secara spesifik
b.diberikan tanpa paksaan (Voluntary)
c. diberikan oleh seseorang (pasien) yang sehat mental dan
yang memang berhak memberikannya dari segi hukum
d.setelah diberikan cukup (adekuat) informasi dan penjelasan
yang diperlukan tentang perlunya tindakan kedokteran
dilakukan.
• Informasi dan penjelasan dianggap cukup (adekuat) jika sekurang-
kurangnya mencakup :
– Diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran (contemplated medical
procedure);
– Tujuan tindakan kedokteran yang dilakukan;
– Alternatif tindakan lain, dan risikonya (alternative medical procedures
and risk);
– Risiko (risk inherent in such medical procedures) dan komplikasi yang
mungkin terjadi;
– Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan (prognosis with and without
medical procedures;
– Risiko atau akibat pasti jika tindakan kedokteran yang direncanakan
tidak dilakukan;
– Informasi dan penjelasan tentang tujuan dan prospek keberhasilan
tindakan kedokteran yang dilakukan (purpose of medical procedure);
– Informasi akibat ikutan yang biasanya terjadi sesudah tindakan
kedokteran.
• Kewajiban memberikan informasi dan penjelasan.
Penolakan Tindakan Kedokteran
• Penolakan tindakan kedokteran dapat dilakukan oleh pasien dan/atau
keluarga terdekatnya setelah menerima penjelasan tentang tindakan
kedokteran yang akan dilakukan.
• Jika orang yang berhak memberikan persetujuan menolak menerima
informasi dan kemudian menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan
dokter atau dokter gigi maka orang tersebut dianggap telah
menyetujui kebijakan medis apapun yang akan dilakukan dokter atau
dokter gigi.
• Apabila yang bersangkutan, sesudah menerima informasi, menolak
untuk memberikan persetujuannya maka penolakan tindakan
kedokteran tersebut harus dilakukan secara tertulis. Akibat penolakan
tindakan kedokteran tersebut menjadi tanggung jawab pasien
• Penolakan tindakan kedokteran tidak memutuskan hubungan dokter
pasien.
• Penarikan kembali (pencabutan) persetujuan tindakan kedokteran
harus diberikan secara tertulis dengan menandatangani format yang
disediakan
Pengecualian terhadap keharusan pemberian
informasi sebelum dimintakan persetujuan tindakan
kedokteran adalah:
• Dalam keadaan gawat darurat ( emergensi ),
dimana dokter harus segera bertindak untuk
menyelamatkan jiwa.
• Keadaan emosi pasien yang sangat labil sehingga ia
tidak bisa menghadapi situasi dirinya.
Hal Ini tercantum dalam PerMenKes no
290/Menkes/Per/III/2008.
DOKUMENTASI
– Seluruh dokumen mengenai persetujuan tindakan
kedokteran harus disimpan bersama-sama rekam
medis.
– Format persetujuan tindakan kedokteran atau
penolakan tindakan kedokteran,menggunakan formulir
dengan ketentuan sebagai berikut :
• Diketahui dan ditandatangani oleh dua orang saksi. Tenaga
keperawatan bertindak sebagai salah satu saksi;
• Formulir asli harus disimpan dalam berkas rekam medis
pasien;
• Formulir harus sudah mulai diisi dan ditandatangani 24 jam
sebelum tindakan kedokteran;
• Dokter atau dokter gigi yang memberikan penjelaan harus
ikut membubuhkan tanda tangan sebagai bukti bahwa telah
memberikan informasi dan penjelasan secukupnya;
• Sebagai tanda tangan, pasien atau keluarganya yang buta
huruf harus membubuhkan cap jempol jari kanan.