Anda di halaman 1dari 12

RESUME

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR


MATERI 3
Disusun Oleh:
Kelompok 3
Muhammad Ronny H. 201310340311005
Fendy Widagdo 201410340311009
Achmad Dafik Idris 201410340311016
Ita Shelvly Miyanti 201410340311023
Ahmad Zamroni Ande 201410340311024
Hendra Purbaya 201410340311038
Sari Putri Amanda 201410340311042
PSDA MATERI 3

DESKRIPSI WILAYAH BRANTAS

Wilayah Sungai Brantas merupakan wilayah sungai strategis nasional dan


menjadi kewenangan Pemerintah Pusat berdasarkan Permen PU No. 11A
Tahun 2006. WS Kali Brantas merupakan WS terbesar kedua di Pulau Jawa,
terletak di Propinsi Jawa Timur pada 110°30' BT sampai 112°55' BT dan 7°01'
LS sampai 8°15' LS. Sungai Kali Brantas mempunyai panjang ± 320 km dan
memiliki luas cathment area ± 14.103 km2 yang mencakup ± 25% luas
Propinsi Jawa Timur atau ± 9% luas Pulau Jawa. WS Brantas terdiri dari DAS
Brantas seluas 11.988 km2 dan lebih dari 100 DAS kecil yang mengalir ke
pantai selatan P. Jawa antara lain DAS Kali Tengah dengan luas 596 km2,
DAS Ringin Bandulan dengan luas 595 km2, DAS Kondang Merak 924 km2.
PSDA MATERI 3

DESKRIPSI WILAYAH BRANTAS

Dengan luas WS Brantas sedemikian besar maka dibutuhkan pola untuk


mengatur pengelolaan sumber daya air. Pola pengelolaan sumber daya air
merupakan kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau
dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan
sumber daya air dan pengendalian daya rusak air pada WS.Brantas dengan
prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah.
PSDA MATERI 3

MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dan tujuan penyusunan pola pengelolaan SDA WS Brantas adalah


menyusun kerangka dasar/awal pengelolaan SDA yang ada di WS Brantas
dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah serta
keseimbangan antara upaya konservasi SDA dan pendayagunaan SDA,
sehingga dapat menjamin terselenggaranya pengelolaan SDA secara terpadu,
terkoordinasi dan berkesinambungan dalam kurun waktu tertentu (sampai
tahun 2030).
PSDA MATERI 3

SASARAN

1. Memberikan arahan kebijakan yang menyangkut tata guna air, tata guna
sumber daya alam, tata guna tanah serta kebijakan penataan ruang.

2. Memberikan arahan terjaminnya ketersediaan air untuk kepentingan masa


kini dan masa yang akan datang.

3. Memberikan arahan pengembangan kawasan pembangunan yang


berkaitan dengan SDA antara lain kawasan budidaya, pusat-pusat
perkembangan pemukiman, sistem sarana dan prasarana wilayah.
PSDA MATERI 3

ALUR PIKIR POLA PSDA


PSDA MATERI 3

DASAR HUKUM TERKAIT

1. Undang-Undang Dasar 1945

2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup

5. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolan Sumber


Daya Air.

6. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi.

7. DLL.
PSDA MATERI 3

Pengendalian Daya Rusak Air

1. Prinsip Pengendalian Banjir

a. Pengendalian banjir di WS Brantas dilakukan dengan prinsip pengendalian


secara terpadu.

b. Pengendalian dimulai dari hulu dengan mengoperasikan waduk-waduk


untuk pengendalian banjir. Waduk di WS Brantas yang mempunyai
kemampuan untuk menampung limpasan air (banjir) adalah waduk dengan
pola operasi tahunan seperti Bendungan Karangkates, Lahor, Selorejo,
Wonorejo dan Bening.
PSDA MATERI 3

Pengendalian Daya Rusak Air

1. Prinsip Pengendalian Banjir

c. Pengaturan tinggi muka air dan debit yang mengalir di sungai akibat
pembendungan dilakukan dengan mengatur operasi pintu air di bendungan
atau bendung secara berantai (berurutan mulai Bendungan Wlingi dan
Lodoyo, terus ke hilir menuju Bendung Gerak Mrican, Bendung Karet
Jatimlerek hingga Bendung Karet Menturus).

d. Di hilir, aliran banjir di sungai dilewatkan melalui sungai Kali Porong


menuju ke laut dengan pengoperasian Bendung Lengkong Baru dan
apabila debit sungai Kali Surabaya di stasiun Perning > 150 m3/detik,
maka Pintu Air Mlirip ditutup.
PSDA MATERI 3

Pengendalian Daya Rusak Air

2. Teknik Pengendalian Banjir

Pengendalian banjir melibatkan upaya langsung maupun tidak langsung.


Pengendalian secara langsung dilaksanakan dengan memanfaatkan prasarana
pengairan, baik melalui pengoperasian waduk, pemanfaatan penampang sungai
maupun pelepasan debit melalui saluran pengelak banjir. Sedangkan
pengendalian dengan upaya tidak langsung lebih ditekankan kepada pengelolaan
resiko (management of risk).