Anda di halaman 1dari 63

SISTEM PETROLEUM

Petroleum adalah campuran dari hidrokarbon (gas, cair, dan padat) & non
hidrokarbon yg terjadi secara alamiah di alam (Magoon & Dow, 1994).

Nonhidrokarbon, terdiri dari:


NSO (nitrogen, sulfur, dan oksigen)
Logam seperti vanadium atau nikel, berasal dr klorofil
contoh adalah asphalthenes

Sistem menggambarkan unsur- unsur & proses yg menghasilkan akumulasi


hidrokarbon.

Menurut Magoon & Dow (1994), sistem petroleum adalah terdiri dari
batuan induk yg matang & semua yg berhubungan dgn minyak dan
gas yg meliputi semua unsur unsur penting serta proses yg
diperlukan utk adanya akumulasi minyak dan gas.
1
UNSUR DAN PROSES SISTEM PETROLEUM

Unsur Sistem Petroleum


Unsur penting dari sistem petroleum meliputi:
• Batuan Induk
• Batuan Reservoir
• Batuan Penutup
• Overburden rocks

Proses dalam Sistem Petroleum


Sistem Petroleum memiliki dua proses:
• Pembentukan perangkap
• Generasi-migrasi-akumulasi hidrokarbon

2
Cross Section Of A Petroleum System
(Foreland Basin Example)
Geographic Extent of Petroleum System
Extent of Play
Extent of Prospect/Field

Stratigraphic
Extent of
Petroleum
Overburden Rock
System

Sedimentary
Seal Rock

Basin Fill
Essential
Elements Reservoir Rock
of
Petroleum Source Rock
Pod of Active
System
Source Rock Underburden Rock
Petroleum Reservoir
Basement Rock
Fold-and-Thrust Belt Top Oil Window
(arrows indicate relative fault motion)
Top Gas Window

(modified from Magoon and Dow, 1994) 3


Plan Map Geographic of Petroleum System

Raven
Marginal
Teapot

Owens

A’
A

Hardy
POD OF ACTIVE
SOURCE ROCK Luky
Just Big oil

ZERO
EDGE OF
RESERVOIR
ROCK

Critical moment:250 Ma

4
SOME QUESTIONS REGARDING SOURCE
ROCK:
1. Does the sediment have enough
organic materials? (richness)
2. Is the organic material appropriate?
(type)
3. Has the organic material been mature?
(maturity)
4. Has the hydrocarbon been expelled?
(expulsion)
5
1. KEKAYAAN MATERIAL ORGANIK
BATUAN INDUK (SOURCE ROCKS)
Pengertian Batuan Induk

Batuan induk adalah batuan sedimen yang telah, sedang, dan akan menghasilkan
hidrokarbon (Tissot dan Welte, 1984 dalam Peter dan Cassa, 1994).

Menurut Waples (1985) :


Batuan induk efektif adalah batuan induk yg telah membentuk dan mengeluarkan
hidrokarbon

Batuan induk yg mungkin adalah batuan sedimen yg belum pernah dievaluasi


potensialnya, tetapi mempunyai kemungkinan membentuk dan mengeluarkan
hidrokarbon.

Batuan induk potensial adalah batuan sedimen belum matang, tetapi mempunyai
kemampuan membentuk dan mengeluarkan hidrokarbon jika kematangannya
bertambah tinggi.

6
Lingkungan pengendapan oksik (kiri) dan anoksik (kanan) secara umum
menghasilkan preservasi yang baik dan buruk dari material organik
(Demaison dan Moore, 1980 dalam Peters dkk., 2005)

Klasifikasi TOC menurut


Law (1999)
Potensi TOC TOC
Petroleu Serpih karbonat
m (%) (%)
Buruk 0,0 – 0,5 0,0–0,2

Sedang 0,5 – 1,0 0,2–0,5

Baik 1,0 – 2,0 0,5–1,0

Sangat 2,0 – 5,0 1,0–2,0


baik
Istimewa >5,0 > 2,0
7
Perbandingan rata-rata sedimentasi dan karbon
organik total di sedimen
Preservasi karbon organik tidak
terpengaruh pada rata-rata
sedimentasi di lingkungan
anoksik (atas).

Di bawah kondisi yang oksik,


rata-rata sedimentasi yang
cepat lebih efektif untuk
menghindari penghancuran
karbon organik dari burrowing
metazoa (bawah)
(dimodifikasi dari Stein, 1986;
Pelet, 1987; dan Huc, 1988
dalam Peters dkk., 2005).

8
2. TIPE MATERIAL ORGANIK
TYPE OF ORGANIC MATERIAL
Formation of types I, II, and III kerogens
depend upon contribution of algae,
bacteria, land-plant, and plankton  also
depend upon paleoecology and
depositional environment

Methods on kerogen typing:

 Element analysis: H/C and O/C


 Pyrolysis: HI versus OI

9
B. Potential Yield (S1+S2)
Merupakan hasil dari proses pirolisis
Generation (S1+S2) (mg/g)
Potential
Poor <2
Fair 2-6
Good >6

 Green River shales


 Lower Toarcian, Paris Basin
 Silurian-Devonian, Algeria-
Libya
 Upper Cretaceous, Douala
Basin
 Others
10
Espitalie et al. (1977)
HYDROGEN INDEX
S2/TOC x 100

(HI)
S3/TOC x 100
OXYGEN INDEX (OI)

van Krevelen diagram Modified van Krevelen diagram


11
Tipe Kerogen menurut Waples (1985) :

Kerogen tipe I
Berasal dr alga danau, terbatas pada danau yg anoksik
Memiliki kandungan hidrogen yg tertinggi.
Mengandung O2 yg jauh lebih rendah dibandingkan tipe III dan IV, krn terbtk dr
material lemak yg miskin O2
Adanya kecenderungan menghasilkan oil prone

Kerogen tipe II
Berasal dr sedimen laut dgn kondisi reduksi
Berasal dr beberapa sumber yg berbeda, yaitu alga laut, polen, spora, lapisan
lilin tanaman (leaf waxes) & fosil resin, dan juga dari lemak tanaman (lipid).
Mempunyai kandungan hidrogen relatif tinggi, menghasilkan oil prone

12
Tipe Kerogen menurut Waples (1985) :

Kerogen tipe III


Berasal dari material organik darat yg hanya sedikit mengandung lemak (fatty)
atau zat lilin (waxy)
Selulosa & lignin adalah penyumbang terbesar kerogen tipe III, shg memiliki
kandungan oksigen tinggi. Memiliki kandungan hidrogen rendah, pada umumnya
menghasilkan gas prone

Kerogen tipe IV
Terdiri dr material yg teroksidasi yg berasal dr berbagai sumber, mengandung
sejumlah besar oksigen
Terdiri dari aromatik & mempunyai kandungan hidrogen rendah, biasanya tidak
menghasilkan hidrokarbon.

13
Tipe Kerogen menurut Merrill (1991)
Environment Kerogen Type Maceral Origin Hydrocarbon
Potential
Alginite Algal bodies
Structureless
I
debris of algal
Amorphous origin
Aquatic
Kerogen
Structureless, Oil
plankonic
material, primarily
of marine origin
II
Skins of spores
Exinite and pollen, Cuticle
of leaves and
herbaceous plant

Fibrous and woody Gas and some oil


Terrestrial plant fragments
III Vitrinite and structureless, Mainly Gas
colloidal humic
matter

Oxidized, recycled None


IV Inertinite woody debris 14
3. KEMATANGAN
MATERIAL ORGANIK

15
ANALISIS KEMATANGAN MATERIAL ORGANIK

A. Tmaks dan Production Index (PI) (Peters & Cassa, 1994)

Stage of Thermal Maturity for Oil Tmaks ( C) PI


(S1/S1+S2)
Immature < 435 < 0,10
Mature
Early 435 - 445 0,10 - 0,15
Peak 445 - 450 0,25 - 0,40
Late 450 - 470 > 0,40
Post Mature > 470 -

16
B. PEMANTULAN VITRINIT (RO)

Kerogen yg telah matang akan membawa perubahan pada vitrinit dan hal ini
akan diiringi dgn kemampuan partikel tersebut untuk memantulkan cahaya yg
jatuh padanya.

Tingkat kematangan yg teramati dari nilai pemantulan vitrinit akan bertambah


secara teratur dgn bertambahnya kedlman.

Data kematangan menurut Peters & Cassa (1994)

Stage of Thermal Maturity for Oil Ro (%)


Immature 0,2 - 0,6
Mature
Early 0,6 - 0,65
Peak 0,65 - 0,9
Late 0,9 - 1,35
Post Mature > 1,35 17
Pengertian Kerogen, Bitumen

Material organik yg terdpt didlm batuan mengandung 90 %


kerogen dan 10% bitumen.

 Kerogen adalah komplek molekul organik yg


mengalami polimerisasi tinggi, terdapat di batuan
sedimen, yg tdk larut dlm pelarut organik biasa. Tidak
larutnya kerogen krn molekulnya berukuran besar.

 Sedangkan material organik yg larut disebut bitumen


atau extractable organic matter (EOM).

18
Bordenave, 1993

19
MIGRASI
Migrasi adalah pergerakan minyak dan gas bumi di bawah permukaan.

Migrasi primer meliputi ekspulsi hidrokarbon dari batuan


induk yg berukuran halus, memp permeabilitas rendah, ke
lapisan pembawa yg memp permeabilitas yg lebih besar.

Migrasi sekunder adalah pergerakan oil dan gas di


dlm lap pembawa ke perangkap

Primary Migration
Movement of generated hydrocarbons out of the source rock to nearby carrier bed
Secondary Migration
Movement of generated hydrocarbons to a trap/reservoir leading to an
accumulation.
Tertiary Migration
Movement of hydrocarbons after formation of an oil and gas accumulation (field
loss)

20
MIGRASI PRIMER

1. Mekanisme Migrasi Primer


Terjadi karena adanya retakan mikro yang diakibatkan adanya
overpressure.

Adanya overpressure pada batuan induk akibat dari kombinasi dari


pembentukan minyak dan gas bumi, ekspansi fluida pada suhu yang
naik, kompaksi batuan induk atau adanya pelepasan air pada
dehidrasi mineral clay.

Perubahan kerogen menjadi pettroleum berakibat pada kenaikan


volume secara signifikan, mengakibatkan kenaikan tekanan pori
pada batuan induk menghasilkan adanya retakan mikro.
Ketika tekanan ini terlepas, maka akan terjadi migrasi petroleum
keluar dari batuan induk menuju batuan penghantar (carrier beds)

Batuan induk yg mempunyai laminasi lebih mudah mengeluarkan


minyak daripada batuan yg masif. 21
2. JARAK MIGRASI PRIMER
 Pendek, sulit dan pelan krn low permeability
 Jarak migrasi antara 10 cm - 100 m
 Dlm keadaan overpressure, ekspulsi terjadi secara lateral, ke arah
atas, bawah, tgt pd bat sekitarnya ke batuan yg butirannya
berukuran kasar yang disebut sebagai carrier bed.

GOC
WOC

GOC
WOC

22
3. PENURUNAN TEKANAN DAN TEMPERATUR

 Ketika oil, gas dan condensate migrasi ke tempat


yg lebih dangkal, P dan T formasi berkurang,
menyebabkan adanya penambahan gas dari fase liquid

 Perubahan ini menyebabkan perubahan komposisi


petroleum, condensate gas ratio (CGR) and gas oil
ratio (GOR) (Mills & Larter, 1991)

23
PENGARUH KEDALAMAN TERHADAP MIGRASI PRIMER
(Cordell, 1972)

Kedalaman sampai 50 - 65 meter


Air pori-pori terperaskan kepermukaan, shg jika ada sedikit migrasi pada
kedalaman ini hidrokarbonnya akan hilang, malah kemungkinan minyak
bermigrasi sebagai droplet kecil karena penarikan kapilaritas.

Kedalaman antara 1500 - 2850 meter dan terutama pada kedalaman 2500 -
2850 meter
Pengaliran besar-besaran dari minyakbumi parafinis.
Hal ini sesuai dengan dehidrasi yang terjadi dari mineral-mineral lempung yang
mengembang (montmorrilonit).

Kedalaman 3355 - 4575 meter


Sulit dapat membayangkan migrasi melalui penampang serpih yang begitu tebal.
Rekahan-rekahan serta sesarpun tak dpt terbuka pada kedalaman yg begitu
besar.
24
MIGRASI SEKUNDER

Pergerakannya dipengaruhi oleh buoyancy, krn densitas


HC < densitas air formasi, shg terapung

Faktor-Faktor yg Mempengaruhi Migrasi Sekunder


(England et al., 1991) :
 Gaya pengapungan (buoyancy)
 Tekanan kapiler (capillary pressure)

25
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MIGRASI

1. FAKTOR TEMPERATUR.
Menurut Levorsen (1958), panas mempunyai efek terhadap migrasi, terutama dari segi
viskositas hidrokarbon, volum, tekanan dan kelarutan.
Peningkatan temperatur akan menurunkan viskositas, peningkatan volum, tekanan dan
kelarutan.
Gradien geotermal memegang peranan penting, bukan saja dalam pembentukan
minyakbumi, tetapi juga dalam migrasi primer maupun sekunder.
Dalam cekungan sedimen dengan gradien geotermal tinggi akan terjadi akumulasi
minyakbumi yang besar dan akan terdapat lap raksasa
Contoh Cek Sum Tengah
2. FAKTOR POROSITAS DAN KEDALAMAN.

Maxwell (Klemme, 1972) menunjukkan penurunan porositas batupasir secara linier menurut
kedalamannya.

Waktu juga memegang peranan yang menentukan pengaruh kompaksi terhadap porositas.

26
KECEPATAN MIGRASI

Perhitungan yg dilakukan oleh England et al. (1991) :


 Menggunakan hukum Darcy
 Terjadi pada batupasir
 Gaya pengapungan (buoyant forces) yg mengontrol proses migrasi
 Dengan anggapan permeabilitas lapisan pembawa sampai 1 d
(Darcy)
 Maka rata-rata migrasi adalah 1000 km / m.y atau 1 cm / 1000
tahun.

27
PENGARUH MIGRASI PADA KOMPOSISI OIL DAN GAS
 Meningkatnya Api gravity
 Menurunnya NSO dan
kandungan sulfur
 Menurunnya Ni, vanadium dan
porphyrin
 Meningkatnya saturated
hydrocarbon dibandingkan
aromatik

28
TEORI AKUMULASI GUSSOW (1951)

Minyak & gas akan bergerak sepanjang bgn atas lapisan penyalur ke atas, terutama
disebabkan pelampungan.
Begitu sampai di suatu perangkap, minyak & gas akan menambah kolom gas dan
mendesak minyak ke bawah yg juga bertambah tinggi kolomnya & mendesak air ke
bawah, hal ini akan terus te-rjadi sampai batas minyak air mencapai spill point.
Penambahan minyak dan gas terus menerus akan menyebabkan perlimpahan minyak
ke atas ke struktur selanjutnya (fasa dua).
Pada fasa berikutnya, dengan penambahan gas, maka seluruh minyak didesak gas ke
bawah sehingga melimpah sampai habis, dan perangkap diisi sepenuhnya oleh gas.

29
POSSIBLE GUSSOW THEORY APPLICATION WITH SINGLE KITCHEN FROM SOUTH

PAGERUNGAN JS-53

OIL SPILL
SPILL POINT

EARLY CONDITION

LATE CONDITION

30
TEORI AKUMULASI KING HUBBERT (1953)

King Hubbert (1953) meninjau prinsip akumulasi minyakbumi


dari segi kedudukan energi potensial.

Dalam hal ini, minyakbumi, baik dalam bentuk tetes-tetes


maupun fasa yang menerus yang berada dalam lingkungan air,
akan selalu mencari bagian reservoir yang terisolir dan secara
lokal mempunyai potensial terendah.

Medan potensial dalam suatu reservoir yang terisi air


merupakan resultan dari dua gaya yaitu
(1) Gaya pelampungan (buoyancy); dan
(2) Gaya yang disebabkan gradien hidrodinamik.

Gradien hidrodinamik tersebut erat hubungannya dengan


permukaan potensiometri. 31
TEORI AKUMULASI KING HUBBERT

Minyak- dan gasbumi akan berakumulasi jika bidang


ekipotensial yang tegaklurus terhadap garis gaya resultan
kedua gaya tadi, menutup seluruhnya dari bawah suatu daerah
potensial rendah lokasi yang terisolir, misalnya suatu antiklin,
suatu pelengkungan ataupun struktur lainnya dimana lapisan
reservoir dan lapisan penyekat di atasnya konkav ke arah
bawah.

Dengan konsepsi di atas ini, maka suatu akumulasi dapat


terjadi serta hilang atau terusir, dengan terdapatnya suatu
gradien hidrodinamik yang pada setiap saat geologi arah serta
besarannya (vektornya) dapat berubah. Dalam keadaan itu
maka paling tidak posisi batas air-minyak atau air-gas itu
miring. Akumulasi minyak- dan gasbumi merupakan suatu
keseimbangan yang dinamis. 32
33
MIGRATION STYLE
1. Laterally Drained Petroleum Systems
 Memerlukan regional seal yg menerus secara lateral, yg terletak di atas batuan yg permeabel, dengan
tingkat deformasi struktur lemah - sedang.
 Pada umumnya mempunyai kenampakan :
• Akumulasi oil cenderung terjadi di lapisan sedimen yg belum matang, jauh dari batuan induk yg
matang
• Sesar pada seal rock sedikit. In supercharged, akumulasi heavy oil yg besar sering didapatkan
pada lapisan sedimen yg belum matang, yg terdapat pada kedlman yg dangkal
2. Vertically Drained Petroleum Systems
 Tingkat deformasi struktur sedang - kuat
 Extensional, wrench, & thrust tectonics menghasilkan
fault, berfungsi sbg jln utk migrasi
 Pada umumnya mempunyai kenampakan :
• Akumulasi petroleum terdpt di atas mature source rock. Jarak migrasi secara lateral
umumnya < 30 km
•Multiple, vertically stacked reservoir, yg mempunyai umur yg berbeda, dpt berasal dari
sumber yg sama
•In supercharged, didptkan rembesan pada permukaan

34
35
PERANGKAP HIDROKARBON

Pengertian Perangkap (Trap)

Traps adalah tempat di bawah permukaan dimana petroleum tidak dpt


melanjutkan migrasinya

SEAL ROCK
GOC
WOC

GOC
WOC
JENIS-JENIS PERANGKAP
(BIDDLE, 1994)

1. PERANGKAP STRUKTUR (STRUCTURAL TRAP)


a. Perangkap yg didominasi oleh lipatan
b. Perangkap yg didominasi oleh sesar
c. Perangkap yg berasosiasi dgn piercement features

2. PERANGKAP STRATIGRAFI (STRATIGRAPHIC TRAPS)


A. Primary or depositional stratigraphic traps
1. Adanya perubahan pengendapan secara lateral,
seperti perubahan fasies, depositional pinchout
2. Dihasilkan oleh buried depositional relief

Perangkap pada facies change dan depositional


pinchout umumnya memerlukan regional dip
B. Perangkap strat berasosiasi dgn ketidakselarasan
1. Perangkap dibawah bidang ketidakselarasan
Subunconformity truncation + regional tilt
Subunconformity truncation + incised valleys Buried
erosional relief (buried hills)

2. Perangkap diatas bidang ketidakselarasan


Onlap onto regional unconformity
Reservoir deposition within incised valleys

C. Secondary or diagenetic stratigraphic traps


1. Perangkap yg dihasilkan oleh postdepositional
updip porosity occlusion
2. Perangkap yg dihasilkan oleh postdepositional
porosity and permeability enhancement
3. COMBINATION OF STRUCTURAL AND STRATIGRAPHIC
A. Intersection of a fault with an updip depositional
edge of porous and permeable section
B. Folding of an updip depositional pinchout of
reservoir section
1. PERANGKAP STRUKTUR (STRUCTURAL TRAP)
a. Perangkap yg didominasi oleh lipatan
b. Perangkap yg didominasi oleh sesar
c. Perangkap yg berasosiasi dgn piercement features

Oil Traps - Salt


2. PERANGKAP STRATIGRAFI (STRATIGRAPHIC TRAPS)
A. Primary or depositional stratigraphic traps
1. Adanya perubahan pengendapan secara lateral, seperti perubahan fasies,
depositional pinchout
2. Dihasilkan oleh buried depositional relief

Perangkap pada facies change dan depositional pinchout umumnya memerlukan


regional dip
MUDA SHALE
TERUMBU
GAS WATER CONRACT KARBONAT

ARANG FORMATION
2. B. PERANGKAP STRAT BERASOSIASI DGN KETIDAKSELARASAN
1. Perangkap dibawah bidang ketidakselarasan
Subunconformity truncation + regional tilt
Subunconformity truncation + incised valleys Buried erosional relief

2. Perangkap diatas bidang ketidakselarasan


Onlap onto regional unconformity
Reservoir deposition within incised valleys
2. C. SECONDARY OR DIAGENETIC STRATIGRAPHIC TRAPS

1. Perangkap yg dihasilkan oleh postdepositional updip porosity occlusion

2. Perangkap yg dihasilkan oleh postdepositional porosity and permeability


enhancement
3. COMBINATION OF STRUCTURAL AND STRATIGRAPHIC
A. Intersection of a fault with an updip depositional edge of porous and
permeable section
B. Folding of an updip depositional pinchout of reservoir section

COMBINATION OF STRUCTURAL AND STRATIGRAPHIC


GAS

MINYAK
Fault and Other Traps
SEAL ROCK (BATUAN TUDUNG)

Seal rock adalah batuan yg mempunyai pori-pori yg kecil &


tidak berhubungan, shg tdk dpt dilalui hidrokarbon

Batuan seal akan efektif apabila tekanan kapiler > buoyancy


pressure

Tekanan kapiler dikontrol oleh besarnya pori dlm batuan


Buoyancy pressure dikontrol oleh densitas & tingginya
(banyaknya) hidrokarbon.

Formasi Cisubuh mrpkan regional seal di NW Java


Pada batulempung yg terdpt di formasi ini didptkan sedikit oil
show, menunjukkan batuan ini bertindak sebagai batuan seal
yg sangat baik
EVALUASI SEAL ROCK (SKALA MIKRO)

Tekanan kapiler (Pd) adalah fungsi dari tegangan permukaan,


wettability, dan jari-jari pori yg berhubungan yg terbesar
(Purcell, 1949).

Pd = 2  cos  / R

Pd = Tekanan kapiler
 = Tegangan permukaan air
 = Wettability
R = Jari-jari pori yg berhubungan yg terbesar

Pd nilainya semakin meningkat apabila :


• R, nilainya semakin mengecil
• , nilainya semakin mengecil
• , nilainya semakin membesar
EVALUASI SEAL ROCK (SKALA MAKRO)

1. LITOLOGI
Syarat batuan dpt bertindak sbg batuan seal adalah tekanan
kapiler hrs lebih besar daripada buoyancy pressure

Ciri–ciri batuan seal yg efektif


• Tekanan kapiler besar
• Penyebaran lateral menerus
• Batuannya bersifat ductile
• Mengisi cekungan dgn jumlah yg cukup berarti.

Pada batuan seal yg tdk mempunyai sesar, litologi adalah


faktor yg paling penting
2. DUCTILITY (KELENTURAN)
Carbonate mudstone mempunyai tekanan kapiler yg besar, tetapi
pada kondisi deformasi, lebih mudah hancur drpd salt, anhydrite,
clay shale, dan batuan yg kaya organik

Batuan evaporit dpt menjadi batuan seal yg baik, apabila ketebalan


overburden rocks besar, tetapi lebih mudah hancur pada kedlman yg
dangkal.

Ductility Lithology
Most Salt
Anhydrite
Kerogen rich shales
Silty shales
Carbonate mudstone
Least Cherts
3. KETEBALAN
Batulempung yg mempunyai ketebalan beberapa cm &
penyebarannya menerus, secara teori mampu memerangkap
hidrokarbon dlm jumlah yg besar.

Batuan serpih dgn ukuran butir 10 –4 mm, memp tekanan kapiler ±


600 psi, secara teori mampu menahan ketebalan oil column 3000 ft
(915 m). Dgn catatan, batuan seal tsb menerus, tidak patah &
mempunyai keseragaman batuan (Hubert, 1953),

Apabila di dlm perangkap terdpt offset sesar, maka ketebalan


batuan seal menjadi penting, krn dpt mempengaruhi banyaknya
petroleum yg dpt diperangkap.

Seal rock tidak perlu terlalu tebal, kemenerusan adalah lebih


penting.
Batuan penutup (seal rocks) :

1. Regional seal
2. Intra formational seal
OVERBURDEN ROCKS

Overburden rock adalah batuan sedimen yg terletak di


atas batuan induk, seal dan reservoir

Overburden rocks mrpkan 1 dari 4 unsur penting dari


petroleum system, dan apabila ditinjau dari volumenya,
mrpkn bagian yg terbesar

Karena adanya penimbunan batuan maka :


Batuan induk dpt menghasilkan petroleum,
Batuan reservoar mengalami proses kompaksi
Batuan seal menjadi penghalang yg lebih baik
Gradien Geotermal

Temperatur meningkat dgn meningkatnya kedalaman, dan


rata-rata perubahan temperatur tsb dikenal sebagai gradien
geotermal

Rata-rata gradien geotermal di dunia diperkirakan 5-30C /


km, menurut Yardley (1989), dpt mencapai 5 - 60 C / km

Pada daerah stabil, mempunyai gradien geotermal lebih


rendah daripada di zona orogen yg aktif, pengecualian daerah
arc trench gaps pada active margins mempunyai gradien
geotermal 10C km –1

Faktor yg mempengaruhi gradien geotermal adalah heat flow,


thermal conductivity
Heat Flow
Heat flow adalah banyaknya panas (dalam kalori) yg mengalir
melalui unit area (cm2) pada wkt ttt (detik).
Heat flow digbrkan dlm (cal cm –2 d –1)

Hukum Fourier ttg heat conduction adalah : q = kg


Dimana : q adalah heat flow (HFU atau heat flow unit)
k adalah thermal conductivity
g adalah gradien geotermal

Rata-rata heat flow didunia 1,5 HFU (heat flow units = 10-6
cal/cm2 .Sec.

Heat flow pada kraton yg stabil dan tua pada kerak bumi
cenderung rendah, sedangkan pada daerah orogenik muda &
daerah pemekaran yg aktif cenderung tinggi (Lee and Uyeda,
1965)
Menurut Luttrel (1974) :

Area Heat Flow (HFU)


Cratonic Basins 1,4  0,3
Paleozoic Orogens 1,2  0,4
Younger Orogens 1,9  0,5
Rift Zones 2,5  0,5
Geothermal Areas >4
Trenches 1,0  0,6
Deep Ocean Basins 1,3  0,5
Mid Ocean Ridges 2,0  1,5

Adanya variasi pada heat flow disebabkan oleh :


 Aliran panas dari mantle ke bagian bawah kerak
 Panas hasil peluruhan radioaktif (di kerak benua lebih tinggi
daripada di kerak samudra)
 Panas yg dibawa oleh magma yg naik
 Penyerapan panas oleh end sedimen pada cekungan
THERMAL CONDUCTIVITY
Thermal conductivity dipengaruhi oleh :
Komposisi mineral
Porositas
Permeabilitas
Apakah pori dijenuhi oleh air atau gas.

Batuan yg mempunyai konduktivitas panas yg kurang baik, bertindak sbg


penghalang bagi heat flow, shg menyebabkan tingginya temperatur daerah
tsb bila dibandingkan dgn daerah lainnya

Batuan salt adalah konduktor panas yg sangat baik, mempunyai nilai 11-14,
shg panas dgn mudah diteruskan ke permukaan.

Shales adalah konduktor panas yg relatif kurang baik, yg mempunyai nilai


3-7, shg energi panas tidak dpt diteruskan ke permukaan.

Adanya peningkatan temperatur (gradien geotermal) yg lebih besar


dicirikan dengan heat flow yg tinggi dan thermal conductivities yg rendah
Menghitung temperatur bawah permukaan

Rumus yg digunakan : T = To + (GG x z)

T adalah temperatur bawah permukaan


To adalah rata-rata temperatur permukaan
GG = gradien geotermal
z adalah ketebalan overburden.

Temperatur permukaan
Di onshore (daratan) = 80F
Di offshore (di lepas pantai kedalaman > 500 feet) = 65F
Menghitung gradien geotermal Gradien geotermal (F /100 ‘) =
Temperatur bawah permukaan yg tercatat = 191F
Kedalaman temperatur yg tercatat = 5.934 ft Temp bawah perm yg tercatat. – temp
Tinggi K.B.+ water depth = 283 ft permukaan x 100
Kedalaman temp yg tercatat – (tinggi KB +
Temperatur permukaan = 80F
water depth)

= (191-80) /
(5.934 – 283) x 100

= 1,96 F /100’
Di daerah onshore
Temp bawah permukaan yg tercatat = 164F
Kedalaman temperatur yg tercatat = 4.480 ft
Tinggi K.B. = 25 ft

Hitung gradien geotermal dalam C/100m

Daerah onshore : Daerah offshore


Temp bawah perm yang tercatat = 191F
T = To + (GG x z)
Kedalaman temp yang tercatat = 5934 feet
164F = 80F + (GG x (4480 – 25)) Kedalaman air + KB = 283 feet
GG = ((164 – 80) / 4455) x 100 Temp permukaan = 80F

GG = 1,89F/ 100 feet


1. Hitung gradien geotermal dalam
164F = 5/9 x (164 – 32) = 73,3 C C/100m
80F = 5/9 x (80 – 32) = 26,67 C 2. Tentukan pada kedalaman berapa
minyak terbentuk, dihitung dari KB
4455 feet = 4455 / 3.281 = 1357, 82 meter (dalam m)

GG = (73,3 – 26,67)/ 1357,82 ) x 100


GG = 3,43 C / 100 meter
1. Mencari gradien geotermal
GG = (191 – 80) / (5934 – 283) x 100
GG = 1,96F / 100 feet atau 3,6C / 100 meter

2. Menentukan kedalaman minyak terbentuk


T = To + (GG x z)
65,6C = 26,7C + (3,6/100 x z)
0,036 z = 65,6 – 26,7
z = 1080,6 m
Kedalaman minyak terbentuk = 1080 m + 86.3 m