Anda di halaman 1dari 13

BAB 2

PENALARAN (REASONING)
T E O R I A K U N TA N S I
KELOMPOK 3

N A M A A N G G O TA :
C L A U D Y N A D YA BCA 11 5 173
CYNTHIA SEPTERIDA SALOH BCA 11 5 083
D E S S Y N ATA L L I A BCA 11 5 275
ERLIN CHRISTIANI BCA 11 5 193
H E N D R Y W I R A N ATA BCA 11 5 147
KRISTIAN SIMBER BCA 11 5 166
PEBRA PERDANA RIO BCA 11 5 172
R AT N A M U T I A D E W I BCA 11 5 153
R E K A FAD T I L A H BCA 11 5 264
SITI HUMAIRAH BCA 11 5 157
S U R A N TA F N G I N T I N G BCA 11 5 099
YOSIA BCA 11 5 197
PENGERTIAN, UNSUR DAN
STRUKTUR PENALARAN
Penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan
mengevaluasi suatu keyakinan (belief) terhadap suatu pernyataan atau asersi
(assertion). Penalaran melibatkan inferensi yaitu proses penurunan
konsekuensi logis dan melibatkan pula proses penarikan simpulan/konklusi
dari serangkaian pernyataan atau asersi.

Struktur dan proses penalaran penalaran dibangun atas dasar tiga konsep
penting yaitu:
1. Asersi (assertion), yaitu suatu pernyataan (biasanya positif) yang
menegaskan bahwa sesuatu (misalnya teori) adalah benar.
2. Keyakinan (belief), yaitu tingkat kebersediaan (willingness) untuk
menerima bahwa suatu pernyataan atau teori (penjelasan mengenai suatu
fenomena atau gejala (alam atau social) adalah benar.
3. Argumen, adalah serangkaian asersi beserta keterkaitan (artikulasi) dan
inferensi atau penyimpulan yang digunakan untuk mendukung suatu
keyakinan.
ASERSI

Asersi (pernyataan) memuat penegasan tentang seseuatu atau realitas.


Pada umumnya asersi dinyatakan dalam bentuk kalimat. Berikut
beberapa contoh asersi dalam akuntansi:
1. Partisipasi mempengaruhi kinerja.
2. Perusahaan besar akan memilih metode MPKP.
3. Informasi sumber daya manusia harus dicantumkan di neraca.
Beberapa asersi mengandung pengkuantifikasi yaitu semua (all), tidak
ada (no) dan beberapa (some)
ASERSI
1. INTERPRETASI ASERSI 2. ASERSI UNTUK EVALUASI ISTILAH

Kesalahan interpretasi dapat terjadi Representasi asersi dalam bentuk diagram


karena dua bentuk asersi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi
berbeda dapat bearti dua hal yang ketepatan makna suatu istilah. Contoh:
sama atau dua hal yang sangat Manakah istilah yang tepat antara
berbeda. Contoh: bersertifikat akuntan publik (BAP) dan
1) Semua A adalah B akuntan publik bersertifikat (APB) sebagai
2) Semua B adalah A padan kata certified public accountant (CPA).
3) Tidak satu pun A adalah B Bersertifikat akuntan publik bermakna
Asersi (1) jelas berbeda arti dengan himpunan (set) orang-orang yang
asersi (3). Demikian juga, asersi (1) bersertifikat dan salah satu subhimpunannya
jelas berbeda dengan asersi (2). adalah akuntan publik. Sesuai dengan makna
Kesalahan menginterpretasi asersi (1) aslinya, akuntan publik bersertifikat
sama dengan asersi (2) disebut bermakna sebagai subhimpunan akuntan
dengan kesalahan konversi premis publik dan akuntan publik merupakan
(premise conversion error) subhimpunan akuntan.
ASERSI
3. JENIS ASERSI

Asersi harus didukung oleh bukti dan


fakta. Bila dikaitkan dengan fakta
pendukung, asersi dapat diklasifikasi 4. FUNGSI ASERSI
menjadi 3, yaitu:
1. Asumsi (assumption), asersi yang Ketiga jenis asersi tersebut dapat
diyakini benar meskipun orang tidak berfungsi sebagai premis dalam suatu
dapat mengajukan bukti tentang argument. Dalam hal ini prisip yang
kebenarannya. harus dipegang adalah kredibilitas
2. Hipotesis (hypothesis), asersi yang konklusi tidak dapat melebihi
kebenarannya belum atau tidak kredibilitas terendah premis-premis
diketahui tapi diyakini bahwa asersi yang digunakan untuk menurunkan
tersebut dapat diuji kebenarannya. konklusi..
3. Fakta (statement of fact), asersi yang
bukti tentang kebenarannya diyakini
sangat kuat atau bahkan tidak dapat
diubah.
KEYAKINAN (Properitas Keyakinan)
1. Keadabenaran
Keadabenaran atau olausibilitas (plausibility) suatu asersi bergantung pada apa yang
diketahui tentang isi asersi atau pengetahuan yang mendasari (the underlying
knowledge) dan pada sumber asersi (the source).
2. Bukan pendapat
Pendapat atau opini adalah asersi yang tidak dapat ditentukan benar atau salah karena
berkaitan dengan kesukaan atau selera. Pendapat tidak dapat ditentukan, artinya apa
yang benar bagi seseorang dapat salah bagi yang lain.
3. Bertingkat
Tingkat keyakinan ditentukan oleh kuantitas dan kualitas bukti untuk mendukung
asersi. Orang yang berpikir logis tentunya akan bersedia untuk mengubah tingkat
keyakinan manakala bukti baru mengenai plausibilitas suatu asersi diperoleh.
4. Berbias
Pada umumnya bila orang mempunyai kepentingan, sangat sulit baginya untuk
bersikap objektif. Dengan bukti objektif yang sama, suatu asersi akan dianggap sangan
meyakinkan oleh orang yang mempunyai kepentingan pribadi yang besar dan hanya
dianggap kurang meyakinkan oleh orang yang netral.
KEYAKINAN (Properitas Keyakinan)

5. Bermuatan nilai
Nilai keyakinan bagi seseorang akan tinggi apabila perubahan keyakinan
mempunyai implikasi serius terhadap filosofi, system nilai, martabat,
pendapatan potensial dan perilaku orang tersebut.
6. Berkekuatan
Kekuatan keyakinan adalah tingkat kepercayaan yang dilekatkan seseorang
pada kebenaran suatu asersi. Dapat dikatakan bahwa semua properitas
keyakinan merupakan faktor yang menentukan tingkat kekuatan keyakinan
seseorang.
7. Veridikal
Veridikalitas (veridicality) adalah tingkat kesesuaian keyakinan dengan
realitas. Veridikalitas adalah mudah tidaknya fakta ditemukan dan
ditunjukkan untuk mendukung keyakinan.
8. Berketertempaan
Ketertempaan (malleability) atau kelentukan keyakinan berkaitan dengan
mudah-tidaknya keyakinan tersebut diubah dengan adanya informasi yang
relevan.
ARGUMEN
1. Anatomi Argumen
Argumen terdiri atas serangkaian asersi. Asersi berkaitan dengan yang lain
dalam bentuk inferensi atau penyimpulan. Asersi dapat berfungsi sebagai
premis atau konklusi yang merupakan komponen argumen.

2. Jenis Argumen
a. Argumen Deduktif
Argumen deduktif adalah suatu proses penyimpulan yang berawal dari
suatu pernyataan umum yang disepakati (premis) ke pernyataan khusus
sebagai simpulan (konklusi).
Tujuan utama mengevaluasi argumen adalah untuk menentukan apakah
konklusi argumen benar dan meyakinkan. Kriteria kebenaran argumen
deduktif, yaitu :
• Kelengkapan
• Kejelasan
• Kesahihan
• Keterpercayaian
b. Argumen Induktif
Argumen induktif lebih bersifat sebagai argumen ada benarnya.
Argumen induktif merupakan salah satu jenis penalaran nondeduktif.
1) Argumen dengan Analogi
Penalaran dengan analogi adalah penalaran yang menurunkan
konklusi atas dasar kesamaan atau kemiripan karakteristik, pola,
fungsi atau hubungan unsur suatu objek yang disebutkan dalan suatu
asersi.
2) Argumen Sebab-Akibat
Kriteria penyebaban, yaitu: (1) hubungan sebab-akibat hanya terjadi
jika ada perubahan baik faktor sebab maupun faktor akibat, (2)
menuntut adanya pengaruh satu faktor terhadap faktor yang lain
dalam selang waktu tertentu, dan (3) tidak ada faktor lain selain
faktor sebab yang diidentifikasi.
3) Penalaran Induktif dalam Akuntansi
Digunakan untuk menghasilkan pernyataan umum yang menjadi
penjelasan (teori) terhadap gejala akuntansi tertentu.
KECOHAN (Fallacy)

1. Stratagem
Stratagem adalah pendekatan atau cara-cara untuk mempengaruhi kayakinan
orang dengan cara selain mengajukan argumen yang valid atau masuk akal.
a. Persuasi Tak Langsung :stratagem untuk meyakinkan seseorang akan
kebenaran suatu pernyataan buka langsung melalui argumen atau penalaran
melainkan melalui cara-cara yang sama sekali tidak berkaitan dengan
valididtas argumen.
b. Membidik Orangnya : gigunakan untuk melemahkan atau menjatuhkan suatu
posisi atau pernyataan dengan cara menghubungkan pernyataan atau argumen
yang diajukan seseorang dengan pribadi orang tersebut.
c. Menyampingkan Masalah : mengajukan argumen yang tidka bertumpu pada
masalah pokok atau dengan cara mengalihkan masalah ke masalah yang lain
yang tidak bertautan.
d. Misrepresentasi : untuk menyanggah atau menjatuhkan posisi lawan dengan
cara memutarbalikkan atau menyembuntikan fakta baik secara halus maupun
terang-terangan.
e. Imbauan Cacah : untuk mendukung suatu posisi dengan menunjukkan
bahwa banyak orang melakukan apa yang dikandung posisi tersebut.
f. Imbauan Autoritas : berusaha meningkatkan daya bujuk suatu posisi
dengan menunjukkan bahwa posisi tersebut dipegang oleh orang yang
mempunyai otoritas delam masalah bersangkutan tanpa menunjukkan
bagaimana autoritas bernalar.
g. Imbauan Tradisi : maksud baik dari tradisi tidak merupakan alasan
yang kuat untuk mempertahankannya atau untuk menolak
mempertimbangkna bukti baru kalau memang terdapat bukti kuat baru
bahwa maksud tersebut tidak valid lagi.
h. Dilema Semu : taktik seseorang untuk mengaburkan argumen dengan
cara menyajikan gagasannya dan satu alternatif lain kemudian
mengkarakterisasi alternatif lain sangat jelek, merugikan atau
mengerikan sehingga tidak ada cara lain kecuali menerima apa yang
diusulkan.
i. Imbauan Emosi : salah satu bentuknya yaitu membidik orangnya atau
imbauan autoritas.
KECOHAN (Fallacy)

2. Salah Nalar
Salah nalar merupakan suatu bentuk kesalahan penyimpulan
lantaran penalarannya mengandung cacat sehingga kesimpulan
tidak valid atau tidak dapat diterima.
a. Menegaskan Konsekuen
b. Menyangkal Anteseden
c. Pentaksaan
d. Perampatan-Lebih
e. Parsilitas
f. Pembuktian dengan Analogi
g. Merancukan Urutan Kejadian dengan Penyebaban
h. Menarik Simpulan Pasangan
KECOHAN (Fallacy)

3. Aspek Manusia dalam Penalaran


a. Penjelasan Sederhana : penjelasan sesuai dengan fakta.
b. Kepentingan Mengalahkan Nalar
c. Sindroma Tes Klinis : menggambarkan seseorang yang merasa
(yakin) bahwa terdapat ketidakberesan dalam tubunya dan dia
juga tahu benar apa yang terjadi karena pengetahuannya tentang
suatu penyakit.
d. Mentalitas Djoko Tingkir
e. Merasionalkan daripada Menalar
f. Persintesi : berteguh terhadap keyakinannya meskipun terdapat
argumen yang kuat bahwa argumen tersebut sebenarnya salah
sehingga dia seharusnya melepaskan keyakinan tersebut.