Anda di halaman 1dari 15

KEJANG DEMAM

Nama Kelompok :

1. Alifa arumdari
2. Anita wulan ningrum
3. Astri hapsari
4. Desi anzriani
5. Faisal ahmad
Definisi
Kejang demam adalah kejang yang
disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari
38,4oC tanpa adanya infeksi susunan saraf
pusat atau gangguan elektrolit akut pada
anak berusia di atas 1 bulan tanpa riwayat
kejang sebelumnya (IDAI, 2009).
Klasifikasi
Berikut penjelasannya menurut
Soetomenggolo (2010)
mengenai klasifikasi kejang
demam : Kejang demam berulang
adalah kejang demam
yang timbul pada lebih
Kejang demam
sederhana ialah
dari satu episode demam.
kejang demam yang Epilepsi ialah kejang
bukan kompleks. tanpa demam yang
terjadi lebih dari satu
kejang demam kali
kompleks ialah
kejang demam yang
lebih lama dari 15
menit, fokal atau
multiple (lebih dari
1 kali kejang per
episode demam).
Etiologi
Etiologi dari kejang demam masih tidak diketahui.
Namun pada sebagian besar anak dipicu oleh tingginya
suhu tubuh bukan kecepatan peningkatan suhu tubuh.
Biasanya suhu demam diatas 38,8oC dan terjadi disaat
suhu tubuh naik dan bukan pada saat setelah
terjadinyakenaikan suhu tubuh, (Dona Wong L, 2008).

Jenis infeksi yang bersumber di luar susunan saraf


pusat yang menimbulkan demam yang dapat
menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling
sering menimbulkan kejang demam adalah infeksi
saluran pernafasan atas, otitis media akut, pneumonia,
gastroenteritis akut, bronchitis, dan infeksi saluran
kemih ( Soetomenggolo,2000).
Manifestasi klinis
• kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang
klonik atau tonik klonik bilateral. Seringkali kejang berhenti
sendiri. Setelah kejang berhenti anak tidak memberi reaksi
apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau
menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit
neurologis. Kejang berulang dalam 24 jam ditemukan pada
16% paisen (Soetomenggolo, 2000).
• Kejang yang terkait dengan kenaikan suhu yang cepat dan
biasanya berkembang bila suhu tubuh (dalam) mencapai 39°C
atau lebih. Kejang khas yang menyeluruh, tonik-klonik
beberapa detik sampai 10 menit, diikuti dengan periode
mengantuk singkat pasca-kejang. Kejang demam yang
menetap lebih lama dari 15 menit menunjukkan penyebab
organik seperti proses infeksi atau toksik yang memerlukan
pengamatan menyeluruh (Nelson, 2000).
Patofisiologi
Terjadinya infeksi di ekstrakranial seperti oma, tonsillitis dan
bronchitis dapat menyebabkan bakteri yang bersifat toksik tumbuh
dengan cepat, toksik yang dihasilkan dapat menyebar ke seluruh
tubuh melalui hematogen dan limfogen. Pada keadaan ini tubuh
mengalami inflamasi sistemik. Dan hipotalamus akan merespon
dengan menaikkan pengaturan suhu tubuh. Disaat tubuh
mengalami peningkatan suhu 1°C secara fisiologi tubuh akan
menaikkan metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen
sebesar 20%. Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak
mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang
dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu
dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron
dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion Kalium
maupun ion Natrium melalui membran tadi, dengan akibat
terjadinya lepas muatan listrik.
Komplikasi

 kejang demam berulang


 Kerusakan Neuron Otak
 Retardasi Mental
 Epilepsi
 Hemiparesis
Penatalaksanaan
1. Pengobatan fase akut : pada waktu kejang pasien
dimiringkan, dan dipasang tong spatel.
untuk mencegah aspirasi ludah atau muntah. Jalan
nafas harus bebas, agar oksigenasi terjamin. Diasepam
diberikan melalui intravena.
2. Mencari dan mengobati penyebab pemeriksaan cairan
serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis.
3. Pengobatan profilaksis.
profilaksis intermitem diberikan Diasepam oral dengan
dosis 0,3 – 0,5mg/kg BB.
(mansjoer, Arief,2000)
Pengkajian
 Aktifitas / istirahat
 Sirkulasi
 Integritas ego
 Eliminasi
 Makanan / cairan
 Neurosensori
 Nyeri
 Pernapasan
 Keamanan
 Interaksi sosial
Fokus intervensi
1. Hipertermi b.d proses penyakit / infeksi
Tujuannya : suhu tubuh dalam batas normal
Kriteria hasil :
- Suhu tubuh dalam rentang normal
- Nadi dan RR dalam rentang normal
- tidak ada perubahan warna kulit
Intervensi :
1. Monitor vital sign
2. lakukan tapid sponge
3. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
4. kompres pada bagian lipat paha dan aksila
5. berikan antipiretik
2. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak b.d gangguan
aliran darah ke otak akibat kerusakan sel neuron otak,
hipoksia dan edema serebral ditandai dengan TIK meningkat,
sakit kepala, kejang.
Kriteria Hasil :
1. tidak ada tanda2 peningkatan TIK
2. TTV dalam rentang normal
3. tidak ada hipertensi
4. tingkat kesadaran membaik
Intervensi :
1. Monitor daerah yang peka pada rangsangan
2. Monitor adanya paretese
3. Observasi kulit
4. Batasi gerak pada kepala, leher, dan punggung.
5. Kolaborasi pemberian analgetik
3. Resiko cidera b.d ketidakefektifan orientasi (kesadaran
umum) kejang
Tujuan : Mencegah terjadinya cidera
Kriteria Hasil :
1. Pasien terbebas dari cidera
2. Mampu memodifikasi gaya hidup untuk mencegah
injury
3. Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
4. Mampu mengenali perubahan status kesehatan
Intervensi :
1. Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien
2. Identifikasi kebutuhan pasien sesuai kondisi
3. Memasang side rail tempat tidur
4. Menganjurkan kluarga untuk menemani pasien
5. Batasi pengunjung
Kesimpulan
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang
terjadi pada suhu 39 C, yang disebabkan oleh
proses ekstrakranium atau akibat dari
pembesaran listrik yang tidak terkontrol dari
sel saraf korteks serebral.