Anda di halaman 1dari 68

ASAS UMUM TOKSIKOLOGI

PENDAHULUAN
 Toksikologi  ilmu yg mempelajari efek
merugikan dari zat kimia, baik saat digunakan atau
saat berada di lingkungan, terutama dampaknya
pada manusia, baik yg masuk secara sengaja
maupun tidak sengaja.

 Ketoksikan/ Toksisitas  kapasitas suatu zat


kimia/beracun (xenobiotik) untuk dapat
menimbulkan efek toksik tertentu pada makhluk
hidup.
 PARACELCUS  BAPAK TOKSIKOLOGI
“ Yang membedakan antara obat dan racun atau zat yang bukan
racun dengan racun adalah dosisnya”
 Obat bukan racun karena penggunaan obat diberikan
berdasarkan aturan dosis tertentu sedangkan racun tidak ada
aturan dosis yang menguntungkan untuk diberikan pada
manusia.
Era modern  Toksikologi  ilmu tentang aksi berbahaya zat
kimia tas jaringan biologi (tubuh), dalam kondisi tertentu, zat
kimia dapat berinteraksi menimbulkan efek berbahaya dengan
wujud dan sifat tertentu.  memahami kondisi,
mekanisme, wujud, dan sifat efek toksik suatu
zat=mengevaluasi keberbahayaan suatu zat.
ASAS UMUM TOKSIKOLOGI
Terapi Keracunan/
Mekanisme Aksi
Terapi Antidot

EFEK TOKSIK Aneka Faktor yang


Mempengaruhi

Tolok Ukur
Keparahan
Wujud efek Toksik
Batas Aman Senyawa atau
Racun Apapun

Sifat Efek Toksik


04/03/2018 4
ASAS UMUM TOKSIKOLOGI
 Asas umum toksikologi  merupakan faktor yg
mempengaruhi timbulnya efek toksik dan bermanfaat
untuk evaluasi ketoksikan suatu zat.
 Asas umum toksikologi:
1. Kondisi efek toksik zat kimia yang mengenai manusia
2. Mekanisme efek toksik zat kimia yang mengenai
manusia
3. Wujud efek toksik zat kimia yang mengenai manusia
4. Sifat efek toksik zat kimia yang mengenai manusia
KONDISI EFEK TOKSIK
KONDISI EFEK TOKSIK

Sifat fisika kimia racun


Kondisi pemejanan
Kerentanan/kondisi m.h

keefektifan ADME

Keberadaan racun di tempat aksi

Efek TOKSIK
 Kondisi efek toksik: mempengaruhi keberadaan zat kimia
atau metabolitnya dalam sel sasaran atau tempat kerjanya
 Jumlah zat kimia atau metabolit di sel sasaran akan
mempengaruhi atau menentukan efek toksiknya.
 Ketersediaan zat kimia di sel sasaran  menetukan
efeknya, dipengaruhi oleh:
1. Kondisi paparan zat kimia, meliputi: jalur paparan, lama
dan kekerapan paparan, saat paparan, dosis paparan, dan
paparan akut atau kronis
2. Kondisi makhluk hidup, meliputi: keadaan fisiologis (BB,
umur, suhu, kec.pengosongan lambung, kec.aliran darah,
status gizi, kehamilan, dan jenis kelamin), keadaaan patologi
(peny.sal.pencernaan, kardiovaskuler, hati, dan ginjal).
1. Kondisi paparan/pemejanan
 Adalah semua faktor yang menentukan keberadaan
racun di tempat aksi tertentu di dalam tubuh, yang
berkaitan dengan pemejanannya pada diri m.h

Yang termasuk kondisi pemejanan :


 Jenis pemejanan
 Jalur
BISA MENJELASKAN???
 Lama pemejanan
 Frekuensi
 Saat dan takaran pemejanan
Jenis Pemejanan
 AKUT ATAU KRONIS dan SENGAJA ATAU TIDAK
DISENGAJA
Akut peristiwa pemejanan zat racun tunggal dimana
sejumlah racun tertentu masuk ke dalam tubuh m.h
racun terpejan dalam 1x kejadian dalam jumlah/takaran
berlebih
keberadaan racun di tempat aksi cukup u/
menimbulkan efek toksik
Ex : overdosis
Kronis  Kondisi pemejanan dengan racun yang berulang
kali sehingga menyebabkan efek toksik yang kumulatif
Ex : Akumulasi MSG
Jalur Pemejanan

 Jalurpemejanan : ekstravaskuler dan


intravaskuler

Kecepatan dan jumlah racun yang dapat


di abs
Kecepatan untuk mencapai ambang
KTM
Lama dan Kekerapan/Frekuensi Pemejanan

 Lama pemejanan : batas kurun waktu pemejanan suatu


racun terhadap m.h
 Frekuensi/kekerapan pemejanan : batas pemejanan racun
terhadap m.h setiap satuan waktu, dengan takaran atau dosis
serta melalui jalur pemejanan tertentu

 Pemejanan akut  KTM cepat tercapai bila racun dengan dosisi besar
eliminasi juga cepat beberadaan racun di tempat aksi tidak lama
 Pemejanan kronis  dosis kecil berulang-ulang  KTM lebih sulit
dan lebih lama tercapai kecepatan abs vs kecepatan eliminasi

 Ka < Ke  tidak terjadi penumpukan racun


 Ka > Ke  terjadi akumulasi racun  timbul efek toksik tak terbalikan
Saat dan Takaran/Dosis Pemejanan
 Semakin besar takaran pemejanan  semakin besar
kadar di tempat aksi  KTM cepat tercapai  terjadi
efek toksik
Terkadang ketoksikan tidak dipengaruhi takaran 
alergi/hipersentifitas

 Efek teratogenik  dipengaruhi saat dan takaran


pemejanan
 Teratogenik  cacat bawaan pada bayi akibat
pemejanan xenobiotika pada masa kehamilan  masa
organogenesis (pembentukan organ) : tri semester
pertama masa kehamilan
2. Kondisi Makhluk Hidup

 Adalah keadaan fisiologi serta patologi m.h, yang


dapat mempengaruhi ketersediaan racun pada sel
sasaran dan keefektifan antar aksinya
Keadaan Fisiologis
1. Berat Badan
BB tinggi  kadar racun cenderung kecil  dibutuhkan
takaran racun yang lebih besar untuk menimbulkan efek
toksik
BB rendah  sebaliknya.
2. Kecepatan pengosongan lambung
Semakin cepat pengosongan lambung  semakin
cepat abs xenobiotik  KTM cepat tercapai
Keadaan Fisiologis
3. Umur
Bayi  komposisi tubuh berbeda dengan individu dewasa (jumlah
dan distribusi cairan & lemak, fungsi hati dan ginjal belum
sempurna)
 keefktifan ADME lebih rendah daripada dewasa
 mempengaruhi ketersediaan racun pada sel sasaran

Usia Lanjut  masa tubuh berkurang, jaringan lemak meningkat,


kecepatan aliran darah ke organ berkurang, fungsi ginjal dan
kecepatan metabolisme berkurang  mempengaruhi
keefektifan eliminasi racun  keberadaan racun dalam tubuh
akan lebih panjang  lansia lebih rentan terhadap ketoksikan
racun
Keadaan Fisiologis

4. Kecepatan aliran darah


kecepatan aliran darah ke sel/organ sasaran
mempengaruhi ketoksikan racun
Dipengaruhi oleh beberapa faktor :
Kondisi istirahat, hipotermi, syok, gangguan
jantung
5. Jenis kelamin dan kehamilan  perbedaan dan
perubahan sistem hormon serta kapasitas
metabolisme
6. Suhu tubuh  hipotermi atau hipertermi 
mempengaruhi translokasi racun dalam tubuh
7. Status Gizi
ketidakcukupan sintesis protein  hipoalbuminemia dan mengurangi
kecepatan metabolisme xenobiotika  racun menumpuk dalam tubuh
 perubahan volume distribusi racun  fraksi racun bebas >>>

8. Genetika
 Faktor genetika  keragaman respon tubuh terhadap ketoksikan
racun

9. Irama Sirkardian dan Diurnal


 Ritschel (1980)  jam biologis yang mengendalikan irama aneka
ragam proses hidup di dalam tubuh dibagi menjadi 2, yakni irama
sirkardian dan irama diurnal
Saat pemejanan racun : diberikan pagi dan malam hari  ketoksikan
racun berbeda perbedaan keefektifan metabolisme/ekskresi racun
 mempengaruhi ketersediaan racun di tempat aksi
Keadaan Patologis
 Penyakit saluran cerna  gangguan pada lambung, usus halus, dll
 mempengaruhi keefektifan abs dan metabolisme
 Penyakit kardiovaskuler  gangguan pada jantung 
berkurangnya aliran darah ke jaringan dan berkurangnya fungsi
jantung
 kompensasi ke organ lain (saluran cerna, hati, ginjal)
Mempengaruhi keefektifan ADME
 Penyakit hati  menyebabkan pengurangan aliran darah, disfungsi
hepatosit, perubahan kuantitas dan kualitas protein serum dan
perubahan air empedu  mempengaruhi keefektifan distribusi dan
metabolisme
 Penyakit ginjal  kemampuan membersihkan racun dari tubuh
berkurang  mempengaruhi keefektifan distribusi dan ekskresi racun
 penumpukan senyawa racun.
MEKANISME EFEK
TOKSIK
Bagaimana cara racun memberikan /
menimbulkan ketoksikan

 Secara umum :

1. Arens dan Simonis (1982) menggolongkan


mekanisme aksi efek toksik berdasarkan sifat
antaraksi antara zat toksik dan tempat aksinya
(fenomena toksikologi).
2. Galaister (1986) menggolongkannya berdasarkan
sifat dan tempat awal kejadiannya.
Penggolongan Mekanisme Efek Toksik

 Mekanisme aksi berdasarkan sifat dan tempat


kejadian
 Mekanisme aksi berdasarkan sifat antaraksi
antara racun dgn tempat aksinya
 Mekanisme aksi berdasarkan risiko penumpukan
racun dalam gudang penyimpanan tubuh
A. Mekanisme Aksi Berdasarkan SIFAT
& TEMPAT KEJADIAN
 Dibagi menjadi 2 :
# Mekanisme Luka Intrasel  mekanisme
Langsung atau Primer
# Mekanisme Luka Ekstrasel  mekanismeTak
Langsung atau Sekunder
1. Mekanisme luka intrasel/ secara langsung
Adl toksisitas yang diawali dengan interaksi secara langsung antara zat
kima atau metabolitnya dengan reseptornya.

• Sifatnya langsung/ primer


•Zat kimia atau metabolitnya masuk pada sel sasaran dan sebabkan
gangguan sel/ organelanya melalui pendesakan, ikatan kovalen,
substitusi, atau peroksidasi dsb
•Sebelumnya tubuh beradaptasi atau melakukan perbaikan
•Bila respon pertahanan tidak mampu eliminir gangguan, akan terjadi
efek toksik
•Wujud terjadinya perubahan adalah kekacauan biokimiawi, fungsional,
dan struktural.
Contoh zat toksik intrasel
 Tetrasiklin/ kloramfenikol mengikat ribosom sel
 Antimikroba golongan sulfa dapat menghambat sintesis asam
folat
 Radikal bebas sebabkan peroksidasi lipid/protein
 Insektisida yang mengikat enzim asetilkolinesterase sebabkan
bertumpuknya Ach dalam sinap sehingga mengakibatkan efek
kolinergik yang berlebihan
 Sianida berikatan dengan atom besi dari heme, sehingga
mengganggu pernapasan sel/ produksi energi.
Lanjutan ...
 Toksin botulisme berikatan dengan ujung akson presinaptik
kolinergik perifer sehingga menghambat pelepasan Ach,
terjadi hambatan kolinergik.
 Racun ular kobra dapat berikatan dengan postsinaptik
neuromuskuler sehingga tidak peka dengan asetilkolin
 Aflatoksin? Parasetamol? INH? CCl4? ( cari ya...!)
2. Mekanisme luka ekstrasel/ secara tidak
langsung
 Mekanisme terjadi secara tidak langsung  racun
beraksi di lingkungan luar sel sasaran  tempat kejadian
awal di lingkungan ekstrasel  dapat berpengaruh pada
sel sasaran
 Senyawa toksik mengganggu sistem metabolisme dasar &
pengaturan aktivitas sel
 Kelangsungan hidup sel bergantung pada faktor
lingkungan ekstrasel untuk memenuhi kebutuhan
metabolik basal dan pengaturan aktifitas sel
 Gangguan akan sebabkan perubahan struktur atau fungsi
sel
Kelangsungan hidup sel membutuhkan:
1. Oksigen
Kecukupan pasok oksigen tergantung:
- Fungsi alat pernapasan
- Difusi oksigen dari alveoli ke dalam darah SASARAN ZAT
BERACUN
- Jumlah eritrosit yang berfungsi
- Sistem kardiovaskuler
Misal:
Nitrit dapat merubah hemoglobin menjadi methemoglobin
kekurangan oksigen di sirkulasi darah  hipoksia  anoksia 
produksi energi sel terganggu  terjadi degenerasi sel/ kematian sel
LANJUTAN ....
2. Suplai Unsur Hara
- Agar reaksi metabolik berlangsung normal dan produksi
energi sel tercukupi
- Kecukupan unsur hara/ zat makanan tergantung pada
proses seperti ingesti, digesti, absorpsi dan transpornya ke
lingkungan sel
- Zat beracun yang menganggu proses tersebut akan
mempengaruhi produksi energi dan pertumbuhan sel.
Misal:
Gangguan tekanan osmosis, menyebabkan sel mengalami
krenasi/pembekakan
LANJUTAN ....
3. Sistem Pengaturan Aktifitas Sel (sistem saraf, sistem
hormon, dan sistem imun)
- Gangguan sistem ini dapat sebabkan kematian sel

Misal:
- Atropin pengaruhi saraf otonom, sehingga hambat sekresi
kelenjar ludah  mulut menjadi kering
- Senyawa nirsteroid methalibure dapat menekan sekresi
gonadotropin, sehingga hambat spermatogenesis dan atropi
kelenjar kelamin.
- Molekul antigenik dari bakteri, virus, proten, dan zat kimia
asing memacu reaksi alergi yang dapat sebabkan syok anafilaktik.
B. MEKANISME AKSI BERDASARKAN SIFAT
ANTARAKSI

TEMPAT SASARAN MOLEKULAR AKSI RACUN

1. Gugus Kimia Fungsi dari biopolimer

Ex : protein,
SH NH2 DNA, RNA

2. Tempat Aksi Selektif

enzim reseptor

3. Kompartemen Tubuh,
seperti : tulang dan lemak
PENYEBAB DAN CONTOH MEKANISME AKSI RACUN
YANG MENYEBABKAN LUKA KIMIA
1 Reaksi Sensitisasi Alergi

Hapten/ Protein Protein


Met. reaktif tubuh tubuh
Ikatan
kovalen
Struktur protein berubah

antibodi antibodi
Senyawa asing

Antigen Ikatan
kuinina dapat menyebabkan kovalen
alergi dengan mekanisme
seperti ini.
Ruam, alergi dan
EFEK TOKSIK hipersensitif.
32
Radiasi pengion/
Senyawa kimia/racun
sinar radio aktif

Di dalam
Radikal bebas tertelan
tubuh

efek

• Karsinogenik
• Mutagenik
• Teratogenik

33
2. Sintetis Letal
Jalur Biosintetis

RACUN Metabolit alamiah

Ikatan kovalen
Gangguan
penyekata
Ex: n reaksi
RACUN enzimatik
Analog basa purin dan
dalam
pirimidin yang digabung sistem
dengan DNA dan biokimia
bereaksi sebagai
antimetabolit
Tidak Produk
berfungsi akhir

Sel
Fungsi sel Fungsi biologis berfungsi
terganggu
34
3. Penyekatan Aksi Enzim yang tak Terbalikkan

Sisi
aktif
Efek Biologis
Sisi non aktif

Enzim substrat Kompleks ES

Efek Biologis

Racun
/inhibitor Kompleks ES

Ex : HCN dapat menyekat kuat enzim yang berisi ion besi yang terlibat
dalam reaksi oksidasi-reduksi sitokhrom. Akibatnya substrat tidak
teroksidasi, ATP tidak terproduksi dan oksigen tidak diambil oleh
jaringan dari darah
35
4. Oksidasi Langsung pada
Haemoglobin O2 O2
O2

Hb Hb

O2 O2

Racun ex : nitrat, dapat menyebabkan


methemoglobinia pada bayi karena
pembentukkan kembali haemoglobin dari
methemoglobin pada bayi masih relatif
rendah
O2
Mtb Mtb

Ket :
Hb : Haemoglobin
Mtb :
36 04/03/2018 Methemoglobin
C. MEKANISME AKSI BERDASARKAN
RESIKO PENUMPUKKAN
Racun Racun Racun Racun
Racun LEMAK
Racun TULANG Racun Tdk aktif dan
Sekuestrasi fisik Racun Racun relatif aman

Dilepas perlahan

Efek toksik Sirkulasi darah

KTM
terlampau
i Tempat aksi
37 04/03/2018
WUJUD EFEK TOKSIK
 Merupakan perubahan biokimia, fungsional, atau struktural
yang terjadi dalam tubuh
 Wujud efek toksik dapat berupa gabungan dari perubahan di
atas
 Misal: perubahan struktural berakibat terjadinya perubahan
biokimia atau fungsi dari sel
 Perubahan biokimia dapat sebabkan perubahan fungsional
1. Perubahan Biokimia
 Wujud efek toksik berupa perubahan atau kekacauan
biokimia dari sel akibat adanya antaraksi zat beracun dan
tempat aksi yang sifatnya terbalikkan
 Misal terjadi penghambatan respirasi sel, perubahan
keseimbangan cairan & elektrolit, dan gangguan hormonal
 Contoh:
Sianida menghambat transport elektron, sehingga menghambat
respirasi sel dan gangguan pasok energi
2. Perubahan Fungsional
 Wujud efek toksik yang dapat mempengaruhi fungsi
homeostasis yang sifatnya terbalikkan
 Misalnya: terjadi anoksia, gangguan pernafasan, gangguan SSP,
hipo/hipertensi, hiperglikemia, perubhan kontraksi/relakssi
otot, hipo/hipertermi
 Contoh:
Insektisida organofosfat malation menyebabkan kejangnya otot-
otot pernafasan sebagai akibat penumpukan asetilkolin yang
berlebihan karena hambatan thd enzim asetilkolinesterase
3. Perubahan Struktural
 Wujud efek toksik yang berkaitan dengan perubahan
morfologi sel sehingga terwujud sebagai kekacauan struktural
(dapat reversible/irreversible)
 Terdapat 3 respon karena adanya luka sel yaitu degenerasi,
proliferasi, inflamasi
 Contoh:
Tetrasiklin dapat menyebabkan terjadinya perlemakan hati
Aflatoksin dapat sebabkan nekrosis hati
1. DEGENERASI
Adalah aneka ragam respons yang menyebabkan
perubahan progresif berupa pengecilan/pembesaran
atau pengurangan jumlah organel/sel, diantaranya :
a. Atropi
Mengecilnya sel atau berkurangnya jumlah sel yang biasanya
menyebabkan penyusutan atau pengkerutan jaringan/organ yang
terpengaruhi.
Keadaan yg membahayakan

sel

Penyebab : luka
ekstra sel dengan
mekanisme denervasi,
kekurangan zat hara Ke tingkat dimana sel bisa
atau endokrin melangsungkan
43 kehidupannya 04/03/2018
sel
b. Akumulasi
intrasel
Dapat
extrasel intrasel
melangsungkan
kehidupannya

Seimbang Kelangsungan hidup sel


menjadi terganggu

Gangguan…!!! Mis : penumpukkan lemak, air dan aneka


ragam bahan-bahan granul padat dalam
serum

Racun Kesetimbangan cairan Kematian…!!!


Salah satu akibat
Pembengkakan
44 Penumpukan air, Na dalam sel
c. Nekrosis
• Kematian sel dalam diri makhluk hidup
• Nekrosis merupakan hasil akhir berbagai macam luka sel, baik
secara intrasel (hipoksia, sinteis letal) maupun ekstrasel (sistem
syaraf, dll.)

MEKANISME KEMATIAN SEL


1. Lisis enzimatik sel
Biasanya terjadi secara bersamaan
2. Denaturasi protein

SIFAT
• Terjadi perubahan morfologi/struktural yang sifatnya tak
terbalikkan
45 • Biasanya didahului oleh perubahan biokimia dan struktural
04/03/2018
2. PROLIFERASI.

• Peningkatan pertumbuhan
• Terjadi mulai dari tingkat melekuler
sampai pada tingkat seluler
• Mulai dari bersifat adaptif homeostatif
sampai bersifat patologis

46 04/03/2018
Proliferasi dibedakan menjadi :
a. Hipertropi (berkaitan dengan pembesaran sel)
• Perubahan ukuran sel terjadi karena sel berusaha
untuk mempertahankan kehidupannya akibat ada
ancaman oleh senyawa toksik dari luar.
• Mulai dari terjadinya proliferasi pd tingkat organel
seperti, DNA, mitokondria, retrikulum endoplasma.
Dan jika prolierasi ini terjadi secara terus menerus
maka akan terjadinya perubahan struktural yang
disebut dengan hipertropi.
b. Hiperplasia (berkaitan dengan pertambahan jumlah sel)
dibedakan lagi menjadi :
• hiperplasia nirneoplastik
• hiperplasia neoplastik

47 04/03/2018
HIPERPLASIA NIRNEOPLASTIK
1. Regenerasi adalah suatu mekanisme adaptif tanggapan
terhadap luka sel dimana terjadi penggantian sel yang
luka dengan sel yang baru
2. Metaplasia merupakan proliferasi dimana salah satu sel
yang mengalami diferensiasi diganti dengan jenis sel
lain dengan tujuan untuk menyesuaikan diri terhadap
lingkungan yang membahayakan. biasanya terjadi pd
sel permukaan epitel.
3. Displasia merupakan proliferasi nirneoplastik yang
paling kacau dan sering terjadi bersamaan dengan
proliferasi hipertropi dan metaplasia.

48 04/03/2018
HIPERPLASIA NEOPLASTIK

• Adalah proliferasi yang memperlihatkan


hilangnya sebagian atau keseluruhan
respon terhadap kendali pertumbuhan
normal dan keadaan ini disebut dengan
neoplasma.
• Hiperplasia neoplasmik ini mendasari
terjadinya reaksi teratogenik (kanker)
yang sifatnya tak terbalikkan.

49 04/03/2018
INFLAMASI DAN PERBAIKKAN

Merupakan respon ekstrasel untuk menahan dan


mengambil zat penyebab luka dan memperbaiki
jaringan yang rusak

Inflamasi
Dibagi menjadi 2, yaitu akut dan kronis

Perbaikkan (proses yang dinamis)


terdiri dari 2 proses, yakni regenerasi (penggantian dengan sel-
sel yang baru) dan fibrosis (pembentukkan jaringan
fibrin/parut yang tidak mempunyai fungsi)

50 04/03/2018
WUJUD EFEK TOKSIK BERDASARKAN
PERUBAHAN STRUKTURAL
1. Perlemakan dan Nekrosis …….. (terutama di hati)
a. Perlemakan disebabkan oleh ketidakseimbangan :

Produksi lemak

Penumpukan lemak
Mobilisasi lemak (trigliserida) dalam
sitoplasma

Penggunaan lemak
dalam sel

51 04/03/2018
Contoh :
Tetrasiklin dapat menyebabkan peningkatan perlemakkan
hati dengan cara berikatan dengan t-RNA sehingga akan
menghambat sintetis lipoprotein dari lemak,
meningkatkan pembentukkan trigliserida dan
pengambilan asam lemak oleh hati, selain itu juga
mengurangi oksidasi asam lemak di mitokondria sehingga
terjadi perlemakan hati

52 04/03/2018
Perlemakan sel hati akan menghalangi proses transport
trigliserida ke luar sel hati

Lemak menumpuk di
bagian dalam membran

Trigliserida

Sel hati

53 04/03/2018
2. KARSINOGENESIS
Tdk terkendali
Proliferasi TUMOR/KANKER
Xenobiotika/racun/senyawa
kimia (sebagian besar)
sel Genetika
radikal bebas
mutasi
Induksi kanker melibatkan 2 buah peristiwa :
1. Inisiasi : yaitu antaraksi xenobiotika.racun dengan makromolekul
biopolimer informational seperti asam-asam nukleat seperti : dengan
O6 basa guanin (G)
2. Promosi : Proliferasi sel dan replikasi DNA 04/03/2018
54
SASARAN KIMIA SENYAWA
KARSINOGEN :

1. DNA
2. RNA
3. Enzim polimerase DNA, RNA
4. Sintetis protein

55 04/03/2018
56 04/03/2018
MUTAGENESIS
Adalah jenis perubahan struktural akibat mutasi yang timbul pada
genotip sel, sehingga menyebabkan perubahan informasi sel
(informasi genetik molekul heliks pada rangkap dua)

Kode genetik (dalam molekul DNA)


Berupa pasangan basa yang tersusun dalam bentuk triplet.
Pasangan basa meliputi : Contoh :

A : adenin
AG C T A C G
G : guanin Mengkode satu
asam amino
Basa purin Basa T : timin T G C
pirimidin
C : sitosin
Kodon

Mutasi adalah penambahan atau penghilangan dan transformasi


57
basa DNA 04/03/2018
Kode genetik dlm DNA menentukan keberadaan asam amino
tertentu dalam protein dimana gem ttt bertanggung jawab, atau
mungkin menetukan suatu instruksi, misalnya : perintah untuk
memulai atau mnghentikan translasi kode genetik yang berakibat
pada penghentian atau pemacuan pembelahan sel

Janin : cacat bawaan


Mutasi
Sel-sel somatik : tumor/cancer

Karsinogen
Mutagen
Teratogen

Mutagen Jaringan Kerusakan


embrionik pertumbuhan dan
janin differensiasi sel
Sawar plasenta
dan ketuban
CACAT
58
KELAHIRAN 04/03/2018
TERATOGENESIS

Merupakan proses yang mencakup perkembangan normal embrio


atau janin dalam uterin, yang mengakibatkan kelainan/cacat
bawaan pada bayi, baik secara makroskopik atau mikroskopik
Keadaan ini mencakup perubahan struktural maupun fungsional

plasenta Janin
ketuban

Xenobiotika /
Efek toksik
racun
kematian (embriotoksik)
kelainan bawaan/cacat bawaan (teratogenik)
Perlambatan pertumbuhan
59 Gangguan fungsional 04/03/2018
Jenis efek toksik yang mungkin terjadi ditentukan oleh
faktor waktu, kapan suatu racun/xenobiotika
dipejankan dan mempengaruhi embrio/janin.
Efek embriotoksik yang mengakibatkan kematian bayi
disebabkan karena efek obat/racun pada awal atau akhir
perkembangan janin atau kehamilan (setelah fase organogenesis),
tanpa bukti adanya kelainan atau cacat bawaan

Perlambatan pertumbuhan dan gangguan fungsional terjadi pada


saat racun mempengaruhi embrio diawal masa perkembangan
janin

Sedangkan kelainan/cacat bawaan terjadi jika racun/xenobiotika


mempengaruhi janin pada saat proses organogenesis (dalam
trisemester pertama kehamilan / minggu ke-3 sampai minggu ke-8
kehamilan)
60 04/03/2018
Kematian janin/embriotoksik mungkin disebabkan :
Efek xenobiotika pada awal perkembangan janin akan
mengakibatkan kerusakan yang besar pada sel-sel yang tidak
terdifferensiasi
Efek xenobiotika pada akhir perkembangan janin,
mengakibatkan gangguan fisiologi tertentu.

ORGANOGENESIS

Adalah perkembangan zigot sampai terbentuknya organ


(umumnya terjadi pada minggu ke-3 samapai minggu ke-8)

Sel telur + Sperma Embrio Janin


Zigote
(uterus)

61
Organogenesis 04/03/2018
BEBERAPA KEMUNGKINAN MEKANISME
TERATOGENIK

Mutasi genetik Kekurangan pasok energi


Penyimpangan kromosomal Hambatan enzim
Gangguan mitotik Perubahan osmolaritas
Gangguan asam-asam Perubahan permeabelitas
nukleat membran
Kekurangan hara

Akan tetapi mekanisme teratogenik pada umumnya adalah


disebabkan oleh adanya gangguan dalam sintetis protein, baik
ditingkat DNA, RNA maupun ditingkat ribosom atau melalui
keseimbangan hormonal, misalnya : hormon kelamin

63 04/03/2018
SIFAT EFEK TOKSIK
A. EFEK TOKSIK
TERBALIKKAN / rEVERSIBLE

Ciri Efek Toksik Terbalikkan :


 Kadar racun habis, reseptor kembali normal
 Efek toksik cepat hilang bila racun habis & cepat
kembali normal
 Ketoksikan zat beracun tergantung takaran /
dosis

65 04/03/2018
B. EFEK TAK TERBALIKKAN /
IRREVERSIBLE

Ciri Efek Toksik Irreversible :


 Kerusakan menetap
 Penumpukan efek toksik
 Pemejanan takaran kecil jangka panjang akan
memberikan efek yang sama dengan pemejanan
takaran besar jangka pendek.
 Ex : minum 15 gr Parasetamol ~ 500 mg Pct
selama 90 kali  nekrosis hati
66 04/03/2018
Hubungan antar asas
umum toksikologi
Ketoksikan Zat Beracun

Kondisi Mekanisme aksi Wujud Sifat

Pemejanan • Intrasel (langsung) Perubahan • Terbalikkan


Subyek • Ekstrasel (Tak • Fungsional • Tak terbalikkan
langsung) • Biokimia
• Struktural
Keefektifan
Translokasi

Keberadaan zat
beracun dalam sel
sasaran

Hubungan Antara Asas UmumToksikologi