Anda di halaman 1dari 17

Aperito Journal of Dermatologi

Tinea Pedis

Kepanitraan Klinik Senior


Departemen Kulit dan Kelamin
Rumah Sakit Royal Prima
Medan
Pendahuluan
Tinea Pedis sering dikenal dengan “athlete foot”
yang merupakan infeksi jamur pada kaki.
Umumnya infeksi ini disebabkan oleh dermatofita.

Tinea pedis paling sering disebabkan oleh


trychopyton rubrum dan T. Interdigitale. Estimasi
angka kejadiannya adalah 10-15% populasi dunia.
Etiologi
Tinea pedis paling sering disebabkan oleh
Trychopyton Rubrum dan T. Digitale, diikuti
Epidermophyton Floccosum. Dermatofit penyebab
lainnya termasuk T. Tonsurans, microsporum spp.

Jamur non dermatofita : Scytalidum hyalinum, S.


Dimidiatum dan Scopulariopsis brevicaulis dan
juga spesies candida dapat menyebabkan tinea
pedis.
Epidemiologi
Diestimasi bahwa 10-15% populasi dunia terinfeksi
tinea pedis. Prevalensi dewasa (17%) > anak2 (4%).
Lebih sering pada pria dibanding wanita.

Sumber infeksi : Manusia yg terinfeksi, hewan,


benda yang terkontaminasi, dan tanah. Penularan
melalui anggota keluarga paling sering terjadi.
Autoinfeksi pada bagian tubuh lain juga dapat
terjadi.
Penyebaran tinea pedis didukung oleh tempat yang
hangat, lingkungan yang lembab, dan pemakaian
sepatu yang tertutup. Umumnya terjadi pada atlet
dan pekerja buruh.

Faktor predisposisi lainnya adalah


• Imunodefisiensi
• DM
• Dermatitis atopik
• Hiperhidrosis
• Kaki yang kurang terawat
• Obesitas
Patogenesis
Organisme penyebab tinea pedis mampu
menghasilkan enzim protease yang mencerna
keratin dan keratinase yang menembus jaringan
keratin.

Hifa kemudian menyerang stratum korneum


dan keratin, lalu menyebar sentrifugal ke arah
luar. Infeksi biasanya terjadi pada kulit dan lapisan
kulit mati di stratum korneum karena jamur tidak
mampu menembus lebih dalam pada host dengan
imun yang baik.
Manifestasi
Ada 3 bentuk tinea pedis : interdigital, moccasin,
dan vesikobula.

Tipe interdigital : plak eritematosa dan maserasi


putih diantara jari kaki, terutama sela jari ke 4 dan
5. Sering ditemukan kerak dan fisur
disekelilingnya. Ada juga rasa gatal. Infeksi bakteri
sekunder pada daerah interdigital dapat
menyebabkan erosi, bau tidak sedap dan krusta.
Moccasin : halus, mempunyai plak keperakan
dengan tingkat eritema yang beragam pada bagian
tumit, telapak, dan lateral pada kaki. Bentuk ini
sering asimtomatik dan resisten terhadap terapi
yang diberikan.

Vesikobula : jarang ditemukan, akan tampak


vesikel/bula terutama pada punggung kaki dan
rasanya amat gatal.
Diagnosis
Sering dapat ditegakkan secara klinis
terutama jika terdapat lesi yang khas. Diagnosa
dapat menjadi sulit jika penderita mengkonsumsi
obat2an.

Jika diagnosis diragukan, potassium


hydroxide wet-mount dari sampel goresan kulit
pada batas lesi yang aktif atau atap vesikel
merupakan prosedur yang harus dilakukan. Satu
tetes hingga sepuluh tetes potasium hidroksida
20%, dengan atau tanpa dimetil sulfoksida,
ditambahkan pada sampel goresan kulit.
Diagnosa Banding
Diagnosa banding pada tinea pedis yaitu
• Dermatitis kontak
• Dermatitis alergi
• Dermatitis atopik
• Xerosis
• Eksim
• Dishidrotik
• Erithrasma
• Candidiasis
• Psoriasis
• Pturiasis rubra pilaris.
Komplikasi
Komplikasi dari tinea pedis yaitu infeksi bakteri
sekunder dan penyebaran dari infeksi jamur ke
bagian tubuh lainnya seperti kuku
(onychomycosis), selangkangan (tinea kruris),
wajah (tinea faciei), daerah janggut (tinea barbae)
dan tangan (tinea manuum).
Penatalaksanaan
Anti-jamur topikal yang umumnya
digunakan adalah ciclopirox, econazole,
clotrimazole, ketoconazole, butenafine, naftifine
dan terbinafine. Dari penelitian yang dilakukan
terhadap 14 jenis anti jamur topikal didapatkan
bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara ke 14
anti jamur tersebut.

Terbinafine merupakan perawatan terbaik


untuk mempertahankan status penyembuhan.
Karena jamur berkembang baik di
lingkungan lembab dan hangat, pasien harus
disarankan menggunakan sepatu yang tidak
tertutup, kaus kaki serat alami yang bersih dan
kaki dikeringkan setelah mandi. Bedak anti-jamur
dapat ditaburkan sehari-hari pada sepatu. Sepatu
dapat juga disterilkan dengan menggunakan alat
berbasis sinar ultraviolet-C (UVC).
Terapi secara sistemik diindikasikan :
• jika lesi meluas
• Kronik
• Rekuren
• Resistensi terhadap terapi anti-jamur topical
• Pasien immonocompromised
• Jika infeksi yang bersamaan pada kuku.

Obat anti-jamur oral yang digunakan pada kasus


tinea pedis adalah itraconazole, fluconazole,
ketoconazole, terbinafine, dan butenafine.
Pada meta-analisis dari 15 percobaan acak
terkontrol dari obat anti-jamur oral (n=1.438),
tidak ada perbedaan signifikan yang terdeteksi
antara terbinafine dan itraconazole, fluconazole
dan itraconazole, fluconazole dan ketoconazole.
Terbinafine ditemukan lebih efektif
dibandingkan dengan griseofulvin yang sekarang
sudah jarang digunakan. Kombinasi terapi anti-
jamur topikal dengan oral meningkatkan angka
kesembuhan.
Prognosis
Prognosis tinea pedis baik dengan pengobatan
yang tepat. Pada kasus yang tidak di obati, tinea
pedis mempunyai lesi yang menetap dan
berkembang.