Anda di halaman 1dari 7

Anemia of Chronic

Disease (ACD)
Overview

• Gejala: Kelelahan, lemas, malaise (tidak enak badan), pallor (pucat)


• Hasil Lab / Tanda-tanda:
1. Meningkatnya hepcidin (normal: 1,23 – 36,46 ng/mL)
2. Meningkatnya ferritrin, sehingga besi yang tersimpan di dalam sel
meningkat dan produksi hemoglobin akan menurun.
3. TIBC akan menurun
4. Berkurangnya eritropoiesis
• MCV bisa rendah (<100) atau normal sehingga RBC tampak mikrositik.
MCHC akan menurun sehingga hipokromik. Namun, hanya 20-30%
orang dengan ACD memiliki RBC yg mengalami mikrositik hipokromik
selebihnya biasanya normositik normokromik.
• Namun serum Fe2+ dalam darah (sama seperti anemia defisiensi besi)
mengalami penurunan tetapi serum Feritrinnya meningkat sementara
untuk anemia defisiensi besi akan menurun
• Biasanya orang dengan penyakit ini juga memiliki riwayat penyakit
kronis seperti Lupus, Kanker (Hodgkins Lymphoma), RA, TB, Chrons
disease.
Patogenesis
• Ketika terjadi respon inflamasi oleh sistem imun maka akan menproduksi sitokin (IL 6)
yang akan meningkatkan produksi hepcidin dari hati.
• Hepcidin yang meningkat akan menghambat proses absorpsi besi dari epitel duodenum
dengan cara inhibisi ferroportin, ke sirkulasi darah dan selain itu juga akan menghambat
degradasi Fe2+ dari RBC saat daur ulang eritrosit oleh makrofag yang terjadi di hati.
• Apoferitrin yang merupakan protein fase akut seperti hepsidin akan mengikat Fe2+
sehinga menjadi Ferritrin sehingga feritrin pun meningkat.
• Karena Fe2+ darah berkurang maka transferin pun yang mengikatnya juga tidak
diperlukan banyak sehingga akan berkurang namun TIBC akan ditahan tetap rendah
sebagai respon agar besi tidak dibawa oleh transferin ke peredaran darah dan digunakan
untuk metabolisme bakteri
DD Anemia of Chronic Disease
• Diagnosis melalui MCV kurang dari nornal atau normal. Namun yang
bersifat kurang dari normal ini jarang dan DD untuk normositik sendiri
adalah anemia hemolitik dan anemia karena kehilangan darah.
• Retikulosit akan berkurang pada ACD karena mediator inflamasi
menghambat hematopoiesis sementara untuk anemia hemolitik dan
akibat kehilangan darah, retikulosit bisa meningkat karena sumsum tulang
berusaha memproduksi banyak.
• Selain itu jumlah sel darah putih tidak mengalami penurunan walaupun
ada supresi dari mediator inflamasi (supresi lebih signifikan pada RBC)
sehingga tetap normal. Jika terjadi pansitopenia maka bukan ACD dan
harus biopsi sumsum tulang.
Treatment
• Pengobatan bisa dengan mengobati penyebab utama inflamasinya
misalnya dengan steroid sehingga dapat menghilangkan respon
inflamasi dan supresi pada hematopoiesis berkurang sehingga
pembentukan RBC dapat terjadi kembali dan dengan suplemen B12
dan folat dapat membantu pembentukan RBC pula.
• Ilkovska B, Kotevska B, Trifunov G, Kanazirev B. Serum hepcidin
reference range, gender differences, menopausal dependence and
biochemical correlates in healthy subjects. J of IMAB. 2016 Apr-
Jun;22(2):1127-1131. DOI:
http://dx.doi.org/10.5272/jimab.2016222.1127.
• Spivak JL. Iron and the anemia of chronic disease. Oncology (Williston
Park). 2002 Sep;16(9 Suppl 10):25-33.
• Williams Hematology 7th ed.